25 Oktober (Tragedi Beruntun dalam Cinta)

Gerimis dan hujan rintik-rintik menghiasi langkahku sore ini. Aku berjalan menyusuri tepian sungai yang mulai becek karena gerimis. Kupercepat langkahku sambil meletakkan tas rangselku di atas kepala untuk mencegah air hujan membasahi tubuhku, walau sebagian bajuku sudah basah. Matahari pun mulai mengurangi cahayanya, suara kodok pun bersahut-sahutan gembira karena gerimis. Tak sempat aku menikmati irama merdunya, aku dihadapkan dengan seorang lelaki berbadan tegap yang berdiri menghadang langkahku. Aku terhenti dan menunduk.
“Zha!! Kemana aja kok baru pulang?”
Suaranya menggelegar memecahkan irama kodok yang sedang bernyanyi. Lelaki itupun meraih tanganku dan menarikku menuju sebuah rumah di pinggir jalan, ya itulah rumahku. Dan lelaki itu adalah abangku, Edo.
“habis maen ke rumah temen bang” jawabku menyesal.
“Bunda sudah menunggumu dari tadi siang Zha” ucapnya sambil terus menarikku.”lain kali kalau memang ada yang mau kau kerjakan setelah pulang sekolah, ijin dulu!” lanjutnya “bisa telfon kan? Apa nggak ada wartel atau telfon rumah di rumah temenmu?”
“maaf” hanya kata itu yang mampu kuucapkan. Aku berusaha menjajari langkah abangku yang terlalu cepat sambil tetap meletakkan tas rangselku di atas kepala.
Sesampainya di rumah, aku bergegas mandi dan membersihkan diri. Tentunya sesudah aku bersalaman dengan Bunda dan meletakan tasku di kamar. Setelah selesai membersihkan diri, aku pun mengurung diri di kamar. Hujan masih mengguyur kota jember hingga saat ini. Aku menerawang jendela kamarku melihat air hujan yang jatuh membasahi bumi. Kulihat tanggalan digital pemberian Ria di meja belajarku. 25 oktober 2008.
Tepat setahun yang lalu dihari yang sama. Semuanya membayangiku, kenangan tentang Gerimis dan hujan rintik seperti saat ini.

~Flash Back~

Gerimis dan hujan rintik-rintik menghiasi langkahku sore ini. Aku berjalan menyusuri tepian sungai yang mulai becek karena gerimis. Kupercepat langkahku sambil meletakkan tas rangselku di atas kepalaku untuk mencegah air hujan membasahi tubuhku, walau sebagian bajuku sudah basah. Matahari pun mulai mengurangi cahayanya, suara kodok pun bersahut-sahutan gembira karena gerimis. Tak sempat aku menikmati irama merdunya, aku dihadapkan dengan seorang lelaki berbadan tegap yang berdiri menghadang langkahku. Aku terhenti dan menunduk.
“Zha!! Kemana aja kok baru pulang?”
Suaranya lembut, sambil meraih tanganku ia mengecup keningku. Aku tersenyum dan bejalan menjajari langkahnya yang santai. Aku memandang wajahnya lekat-lekat.
“maaf tadi masih ada ekskul”
“bukanya kau bisa telefon ke hp aku?”tanyanya.”jadi kau tidak membuatku khawatir” lanjutnya sambil memelukku.
“Zhy…” aku memanggilnya
“apa?” ia menoleh ke aharhku sambil tetap merangkulku, kemudian ia kembali memalingkan mukanya.
“hmm… jangan pernah tinggalin Zha ya!”
“hum…” ia mengangguk.
“nanti malem kan malam minggu, Zhy nggak kemana-mana kan?” tanyaku lagi “aku mau ke rumahmu… udah lama nggak keliatan Awa” ujarku sambil menanti jawabannya. Awa adalah adik perempuan semata wayang Zhy.
“Perlu aku yang menjemput?”tanyanya mengartikan, aku boleh kerumahnya nanti malam.
Sekitar jam setengah tujuh malam aku menelfon Zhy untuk memintanya menjemputku, seperti katanya tadi sore. Sekitar setengah jam aku menunggu, Zhy Tak kunjung datang, sejam dua jam hingga jam 10 malam aku masih menantinya. Mataku sudah tak kuat untuk tetap menantinya dan akhirnya aku terlelap di ruang tamu dalam kondisi terduduk.
Sekitar tengah malam aku terjaga, kulihat jam dinding, setengah duabelas malam. Ah, kenapa Zhy masih belum menjemputku?. Aku hanya membatin, mungkin lupa. Aku menenangkan diri.
“udah malem kayak gini kok belom tidur sih?” sebuah suara mengagetkanku. “udah tidur sana gih!!” ternyata Bang Edo yang masih menonton televisi di ruang tengah masih belum tidur.
Aku tak menjawab dan langsung menuju ke kamar karena udah ngantuk berat. Belum lama waktu berselang bunyi telefon rumahku memekakkan telinga. Aku juag tak mengiraukan suara telefon rumahku itu. Biarlah Abangku aja yang angkat, lagian aku kan juga ngantuk berat. Lagian siapa sih yang iseng telfon malam-malam begini?. Batinku kesal. Belum sempat aku merebahkan diri di kasur Bang Edo memanggil ku kayak orang kesetanan.
“Zha ada telefon buat kamu”ujarnya tergesah.
“Dari siapa sih?” aku mengernyitkan dahi.
“rumah sakit” jawanya singkat membuatku semakin heran.
“halo..”
“benar ini mbak Zahra?” kata seorang wanita yang sepertinya seorang perawat.
“iya ada apa?” tanyaku masih tak mengerti
“saudara Zhy berada dirumah sakit kami karena kecelakaan….” Perawat itu membawa kabar yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dan kalimat-kalimat selanjutnya tak bisa lagi kudengar. Air mataku langsung membasahi pipiku.
Sekitar setengah jam kemudian aku sudah berada di rumah sakit tempat Zhy berada. Setelah sekian lama menunggu di luar ruang UGD seorang pria berjas putih kueluar dari ruangan tersebut, ia hanya menunduk. Segera aku, abangku, dan keluarga Zhy berdiri serempak tanpa dikomando kemudian langsung menghampiri dokter tersebut. Dan berita yang mungkin seharusnya ku dengar dua-tiga puluh tahun kedepan akhirnya harus kudengar lebih cepat dari yang seharusnya.
“maaf kami sudah berusaha sebisanya” ucap sang dokter menyesal.
Air mata pun langsung membanjiri seluruh kerabat dan keluarganya. Suara tangis menghiasi malam sunyi ini. Aku masih nggak bisa menerima kenyataan bahwa sekarang Zhy yang tadi berjanji tidak akan meninggalkanku harus pergi. Aku menangis di samping jasad lelaki yang menjadi pujaan hatiku.
End of Flash back~
Hujan masih saja belum reda seperti saat setahun yang lalu, aku membuka album foto saat aku dan Zhy masih bersama. Ku cermati wajahnya lekat-lekat, sakit rasanya mengingat peristiwa itu. Akhirnya kantuk pun menyerangku dan aku terlelap sambil memeluk album foto aku dengan dirinya.
Sekitar tengah malam aku kembali terjaga seperti tahun lalu. Perasaanku tak nyaman, segera aku melihat ke kamar bunda. Syukurlah Bunda masih terlelap. Kemudian aku berjalan menuju kamar Bang Edo, aku melihat pintu kamarnya terbuka.” Dasar ceroboh!” Ujarku kesal.
“Zha..!” tegur abangku “ngapain malem-malem gini kamu belom tidur?” tanyanya menyelidik.
“Ku nggak bisa tidur bang…”jawabku asal.
“dah tidur sana! Ntar sakit gak ada yang urus”tukas abangku
“ia…”
Setengah jam berusaha memajamkan mata tapi nihil yang kudapatkan. Hatiku semakin gelisah tak menentu, akhirnya aku bak setrika yang mondar-mandir di dalam kamar. Tiba-tiba aku mendengar bunyi benda jatuh disertai erangan seseorang. Aku ragu untuk keluar kamar,lima belas menit tak mendengar suara gaduh lagi kuputuskan untuk tidur.
****
Cahaya Matahari menembus kamarku, mau tidak mau aku harus bangun karna hari ini aku harus berangkat ke sekolah. Setelah membersihkan kamar aku bergegas mandi.
“Arrghh……” pekikku. Tubuh yang kukenal tergeletak begitu saja di salah satu sudut dapur.”Bang Edo…” Tangisku. Hal yang sama harus kembali kualami.

Setahun kemudian~ 25 oktober 2009

Gerimis dan hujan rintik-rintik menghiasi langkahku sore ini. Aku berjalan menyusuri tepian sungai yang mulai becek karena gerimis. Kupercepat langkahku sambil meletakan tas rangselku di atas kepalaku untuk mencegah air hujan membasahi tubuhku, walau sebagian bajuku sudah basah. Matahari pun mulai mengurangi cahayanya, suara kodok pun bersahut-sahutan gembira karena gerimis. Tapi kali ini berbeda dengan dua tahun berturut-turut belakangan ini. Kali ini aku lebih menikmati irama merdu kodok yang sedang berdendang. Dan aku memutuskan untuk duduk di tepian sungai sambil bermain air. Aku merasa ada yang berdiri di belakangku dan aku pun reflek menoleh. Deg… jantungku berdetak kencang, tubuhku lemas akhirnya aku tergeletak begitu saja di tepian sungai.
Dua lelaki yang kukenal berdiri di hadapanku, mereka tersenyum kepadaku manis sekali. Zhipy dan Bang Edo dua lelaki yang kusayangi. Mereka tampak lebih rapi dan bersih serta bersinar. Mereka mengulurkan tangan mereka kepadaku sambil tersenyum sejurus kemudian tanganku meraih uluran tangan mereka tapi tiba-tiba saja aku kembali tersadar sebelum sempat aku meraih uluran tangan mereka.
Sempat kudengar “Belum saatnya buat dia” aku tak mengerti maksudnya, tapi apa peduliku. Segera aku bergegas pulang karena hari mulai gelap. Kulambaikan tanganku ke arah tempat di mana Zhipy dan bang Edo menghalang langkahku. Kuucapkan “Selamat Tinggal”
The End~

25 ocT 2009, Jember By : ZhaRa ( Zha )
BuaT : Zhipy ( Zhy )

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

mnax?

70

dikasih satu spasi dong...

maaf komen standar, tapi penting lho

60

memberi nilai sendiri skali kali boleh donk

hmm...
aq agak susah menjelaskannya
saya sebagai pengarang ceritanya pun juga ragu untuk menuliskan kejadian penyebab kematian kakaknya...
sebab saya sendiri juga belum menemukan alasan yang pas untuk menemukan penyebabnya..
juju walau cerpen ini pendek saya menuliskannya sebulan baru selesai...

karna saya sendiri agak kaku menemukan alur cerita

60

sebenernya saya suka cerpenmu, cuma typo-nya dibenerin ya, kalo kata pertama sebuah kalimat pake huruf besar, nama tempat juga pake huruf besar. Mungkin ini sepele, tapi penting, biar enak dibaca.
~Flash Back~ dan End of Flash back~ menurut saya ko mengganggu ya, mending ga usah ditulis.
Kematian kakaknya, itu kenapa yah, ko enggak ada penjelasan apa apa, hanya tahu kalau ada suara sesuatu jatuh?

sudah lama nggak post cerita desene
akhirnyaaa bisa kirim" crita lagi
K.Com banyak berubah sekarang

mohon komentar nya
nilai juga^^