Bentang Langit (Bagian 2)

Semenjak memasuki jalan layang, Astika tidak pernah menurunkan laju sepeda motor yang ia tunggangi. Selalu ia jaga di atas 100 km per jam. Bahkan, meski ia melihat barikade polisi. Dua mobil polisi melintang di jalan. Sebuah papan pemberitahuan juga berdiri di depan barikade itu.

“Yang benar saja? Jalur 4 dialihkan ke Jalur 5? Aku bisa lebih terlambat.”

Tidak ingin itu terjadi, kecepatan sepeda motornya naik mencapai 175 km per jam.

Beberapa polisi yang bertugas di barikade mulai curiga dengan kedatangan sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi. Melalui sistem radio yang wajib terpasang di tiap kendaraan, mereka meminta Astika untuk menurunkan kecepatannya.

“Maaf, aku sedang buru-buru.” jawaban dari Astika membuat seorang polisi berseragam hitam, dengan rambut panjangnya yang tergerai, turun dari mobil. Kakinya dipancang tegap di depan barikade, tangan kanannya mengepal di samping pinggang, dan telapak tangan kirinya teracung tepat ke arah Astika.

Gadis itu terkesiap mendapati sepeda motornya tiba-tiba oleng. Kecepatannya sontak menurun.

“Apa yang kalian lakukan terhadap sepeda motorku?” sambar Astika.

“Kami akan menghentikan siapa pun yang ingin menerobos barikade!” sahut polisi yang berdiri tersebut. Astika merasai sepeda motornya kian berat.

“Takkan mudah...!” Seluruh tubuh dan sepeda motor Astika tiba-tiba diliputi cahaya lecutan listrik. Ia berhasil mematahkan jurus tak terlihat polisi itu, serta membuatnya terdorong mundur dengan telapak tangan yang tiba-tiba turut memercikkan lecutan listrik.

Dengan sepeda motor yang tidak lagi oleng, Astika kembali melesat dengan kecepatan tinggi. Lecutan-lecutan listrik kian banyak berlompatan dari tubuh dan sepeda motornya. Polisi yang semula ingin mencegatnya pun, kini malah menepi dan bersandar di tepi jalan. Seluruh telapak tangan kirinya terasa kaku.

Tepat di hadapannya, Astika tiba-tiba berubah menjadi lecutan cahaya biru terang. Cahaya itu menerobos barikade dan terus meluncur hingga beberapa meter dan akhirnya berubah kembali ke wujud semula.

Polisi itu justru tersenyum mendapat lambaian tangan dari Astika yang kian menjauh. Ia kemudian menghampiri seorang rekannya yang masih berdiam di mobil.

“Kau lepaskan bocah itu?” sambut rekannya dengan tampang tak percaya.

“Olah tenaga dalamnya tidak bisa dianggap remeh,” polisi itu terus memegangi pergelangan tangannya yang mati rasa. “Tapi itu tidak menjamin ia bisa bebas dari sanksi.”

Rekannya itu menjentikkan jari, “Tepat sekali. Dari nomor kendaraan sepeda motor dan spektrum suaranya di radio, bocah itu bernama Astika Sertabayu. Dan ia memiliki rekening bank yang masih aktif.” Sebuah monitor LCD sepuluh inci, menempel di dasbor mobil, menampilkan informasi milik Astika.

***

Lima puluh meter melewati barikade polisi, Astika memasuki terowongan. Dari jauh, ia sudah bisa melihat beberapa mobil polisi, ambulans, dan mobil pemadam kebakaran berkumpul di tengah terowongan. Sebuah mobil trailer juga tampak terbalik melintang menghalangi jalan. Tampaknya, itulah alasan polisi memasang barikade.

Kali ini, Astika tidak memilih ajian Lompat Petir yang tadi ia pakai untuk menerobos barikade. Dengan keahlian bersepeda motor yang ia miliki, ia membuat sepeda motornya melaju di langit-langit terowongan. Ia pun melintasi kumpulan mobil itu dengan sukses.

***

“Dinda Astika?” Suara yang Astika kenal segera menyapa begitu panggilan ponsel diangkat. Pada saat itu, Astika mungkin baru seratus meter meninggalkan terowongan, dan masih melaju di jalan layang.

“Oh, Yunda?” Itu Kakaknya, Maharani. Astika sendiri memakai earphone, sehingga tidak mengetahui siapa yang menelepon sebelum diangkat. “Ada apa?”

“Kau baru saja menerobos barikade polisi?”

“Eh?” Kakaknya yang kini bekerja di Museum Kota membuat Astika terkaget. “Bagaimana Yunda bisa tahu?”

“Itu gunanya jika kau punya teman di kepolisian.”

“Restu? Ah, dasar orang yang tidak setia kawan. Ia mengadukanku mungkin ada maunya dengan Yunda.” Astika menyebut nama rekan sepermainannya sejak kecil. Meski pun tugas pemuda itu tidak di lapangan, ia bisa mengakses dengan mudah berbagai informasi dalam jaringan kepolisian, termasuk Astika yang terkena denda.

“Jangan mengalihkan topik! Kau lagi-lagi menerobos barikade, dendamu lagi-lagi mengurangi saldo rekeningmu di bank.”

“Aku berjanji ini yang terakhir. Aku terpaksa menerobos barikade karena diburu waktu. Aku ada janji dengan anak-anak panti asuhan. Aku akan membantu mereka pindah ke gedung yang baru. Waktuku sudah banyak dimakan oleh macet sebelum masuk tol. Jika ikut pemindahan jalur, bisa-bisa aku terlambat setengah jam. Anak-anak bisa kecewa.”

“Aku harap, ini terakhir kalinya kau berbuat seenaknya. Ini akan menjadi contoh tidak baik bagi anak-anak jika beritanya sampai ditayangkan.”

“Aku tahu, Yunda. Uangku di bank tidak mungkin selamanya untuk membayar sanksi.”

“Syukurlah kau sadar. Jaga dirimu.”

“Yunda juga.”

Komunikasi diputus.

***

Sekitar pukul delapan lewat sepuluh menit, Astika akhirnya memarkir sepeda motor di depan sebuah gedung tiga lantai. Sebuah bangunan milik panti asuhan kenalan Astika. Bergegas ia masuk.

“Selamat pagi semua,” sapanya kepada beberapa anak yang tampak berberes. Beberapa perabot memang tampak berserakan. “Maaf, aku terlambat. Kalian sudah mulai pindah, ya?”

Tanpa menunggu sahutan, Astika terus masuk ke dalam. Ia menjumpai dua pengurus panti. Seorangnya tampak terluka. Pergelangan tangan kirinya sedang diolesi antiseptik oleh Tirtalaras. Keduanya duduk di sisi lorong.

Seketika, Astika sadar. Sepasang bola matanya mulai menerawang ke sekeliling. Keadaan di dalam panti jauh lebih kacau dibanding di pintu depan. Ia memang tiba untuk bantu berberes, mengemas barang untuk pindah rumah. Tetapi bukannya mengemasi rumah yang seolah habis dilanda topan badai. Kaca-kaca pecah, pintu-pintu hancur, serakan perabot di mana-mana.

“Kinarsih, kau terluka?” Astika turut berimpuh di samping Tirtalaras. “Dan..., apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa panti bisa berantakan seperti ini?”

Kinarsih tertunduk, bibirnya gemetar.

“Sartam. Dia datang kemari,” Tirtalaras mengambil cerita. Mendengar nama itu disebut, tak keruan air muka Astika beriak. Tak disangkanya bisa mendengar nama tak berperi itu setelah berbulan-bulan.

“Galah Sartam maksudmu?” Astika tidak ingin salah maksud. Ia ingin kepastian dari Tirtalaras.

“Siapa lagi kalau bukan laki-laki yang tak tahu adat itu?” ujar Tirtalaras geram. “Tiba-tiba ia datang kemari mengacak-acak panti, lalu membawa kabur Galuh. Sekarang, Loka Serayu menguntit mereka, dan Paman Ahmad menelepon polisi dari telepon umum. Sartam punya ajian sakti, mampu melumpuhkan perabot elektronik di sini. Kaca-kaca pecah juga karena ajian itu. Kami hendak menghubungimu, tetapi tidak bisa.”

“Bagaimana Galah Sartam bisa lolos dari Palung Tengkorak?” Astika menduga-duga sesuatu. Mungkinkah Galah Sartam menipu para sipir penjara? Tapi Galah Sartam terlalu bodoh untuk pekerjaan menipu. Ia lebih senang memeras dan menghajar orang. Kalaupun ia menghancurkan penjara terkuat itu, rasanya sungguh mengada-ada.

“Kami juga dibuat heran oleh hal serupa. Yang sempat kami dengar darinya, bahwa penjara Palung Tengkorak tidak akan bisa lagi mengekang dirinya.” Antiseptik telah usai dioles, kini saatnya membalut pergelangan Kinarsih dengan perban.

“Aku akan membawa pulang Galuh!” Astika bergegas keluar dari panti. Jaket dan helm-nya ia kaitkan begitu saja di setang sepeda motor. Ia berlari, dan tiba-tiba menghilang.

Bersambung....

Read previous post:  
142
points
(673 words) posted by dirgita 10 years 30 weeks ago
83.5294
Tags: Cerita | Novel | drama | silat
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer icchan-chan
icchan-chan at Bentang Langit (Bagian 2) (9 years 29 weeks ago)
100

cerita gokil, huehehehe. jadi inget Dragon and Tiger heroes.

Writer DeMEter
DeMEter at Bentang Langit (Bagian 2) (9 years 41 weeks ago)

duh.... dirgitaa...
sory gak bisa komen sekarang... titip poin dulu aja yaa!! boleh kan??

Writer dirgita
dirgita at Bentang Langit (Bagian 2) (9 years 41 weeks ago)

Titipannya nggak gigit, kan?^^
Silakan....

Writer ikan biroe
ikan biroe at Bentang Langit (Bagian 2) (9 years 49 weeks ago)
100

baru pertama nemu yg beginian *ato sayanya aja yg ga gaul kali ya :P
asik...asik..

Writer cilang
cilang at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 1 week ago)
100

aku mau komen dikit. Tapi perlu diingat, aku gak tahu apa itu cersil, cerbung dkk. Emang aku gak mau tahu.

Aku bakalan makin asik baca kalau ada penjelasan ilmiah detail menyangkut mistikusnya. Cuma request sih...

Writer dirgita
dirgita at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 1 week ago)

Cersil itu cerita silat, Kakak. Nah, kalo cerbung adalah cerita bersambung. Yup, rekuesnya diusahakan^^

Writer dewisun
dewisun at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 17 weeks ago)
100

aku suka cersil, jadi ditungguu lanjutannya...udah nonton legion X, kynya perlu tuh buat tambahan imajinasi, sejiwa sama cerita kamu soalnya....^_^ salam

Writer dirgita
dirgita at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 17 weeks ago)

Oh, Legion X? Lum kayaknya. Trims infonya^^

Writer Chie_chan
Chie_chan at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 17 weeks ago)
80

hmmm... cersil gak termasuk top ten selera chie sih. wkwkwk...

Writer dirgita
dirgita at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 17 weeks ago)

Oh, ndak apa-apa.
Yang penting,ninggalin nilai^^

Writer dirgita
dirgita at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 17 weeks ago)
100

Dan sebagai penghargaan bagi diriku yang nekad nabrak tradisi cerita silat, aku kasih poin tambahan 10^^

Writer Chie_chan
Chie_chan at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 17 weeks ago)

=____________________="
ckckck

Writer Penguin
Penguin at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 17 weeks ago)
100

wuseet,,,, kok aku jadi mudeng ngebaca ceritanya.... tapi asli keren, git. kisah silat tempo doeloe di blender dengan teknologi masa entar, di bumbui dengan aksi, benar-benar keyen....

Writer fay el shirazy
fay el shirazy at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 17 weeks ago)


ganbatte dirgita senpai!!!

fill,
bring another sweet memories fo me^^

Writer dirgita
dirgita at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 17 weeks ago)

Eh, sweet memories bagaimana? Pernah bikin cersil juga?^^

Writer fay el shirazy
fay el shirazy at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 17 weeks ago)

dulu waktu aku masih

sewaktu pulang sekolah selalu standby buat nonton
wiro-sableng ama si buta dari gua hantu^^
trus suka baca2 dongeng klasik lokal di perpus SD(tau layak pa engga di bilang perpus hayhay :p)

sampai sekarang aku pengen banget nulis sekuel dari
buku "Langit Jingga di Galuh Pakuan"

dan sekarang buku itu ilang

Writer dirgita
dirgita at Bentang Langit (Bagian 2) (10 years 17 weeks ago)

Ahai, sama^^
Jangan bersedih.... Nggak bisa nyambung yang lain, bikin yang baru^^