Jingga Masikah Kau Cinta Senja

JINGGA, MASIHKAH MENCINTA SENJA

Jadi, aku tak bisa tidur. Teringat gadis yang mencintai senja. Teringat gadis yang pernah ku temui 20 tahun lalu…
Dari balik kaca café jelas terlihat mata cekungnya. Bibir yang membiru dan baju yang basah kuyup oleh hujan. Sambil terisak ia menatapku tapi Sherin wanita yang sedang berkencan denganku tak peduli.
.“Gadis yang cantik” ucapku. Tak acuh Sherin menoleh kearah gadis kecil itu.
“Kotor” timpalnya angkuh. Aku tersenyum masam lantas keluar kuberikan jaketku dan beberapa lembar uang pada gadis kecil itu. Isaknya terhenti, redup bola mata itu menatapku.
“Namaku Jingga. Ibuku seorang pelacur, ayahku aku tak pernah mengenalnya. Tak seorangpun peduli padaku.” begitu seakan tatapan itu bicara.
“Pulanglah, ganti bajumu.” Suruhku tapi ia tak bergerak sedikitpun. Kurangkul tubuh kecilnya menghindari hujan. “Dimana rumahmu?” sambil berjongkok ku tanyai gadis yang hanya diam itu. Takutkah padaku hingga tak mau menjawab pertanyaanku atau bisukah ia? Kulirik Sherin menatap protes dari balik jendela ketika aku berharap ia mau membantu bicara dengan gadis kecil itu. “Kau pasti belum makan” lanjutku sambil membawanya masuk ke dalam café, tapi tangan kurusnya menolak dengan diam dan tatapan yang sama. Kemudian di pegangnya tanganku menaruh jaket dan beberapa lembar uang yang ku berikan padanya tadi. Menatapku tajam kemudian berlari menembus hujan.
Gadis kecil yang selalu terpikir dan hadir dalam mimpiku. Sudah besarlah dia sekarang. Secantik apa? Entah kekuatan darimana tapi seakan aku tahu semua tentang riwayatnya.
Seakan aku pernah mengenalnya sebelumnya.
Ternyata takdir mempertemukan aku denganya lagi, di suatu senja. Ia duduk di bawah pohon asem di pinggir sungai sebelah timur kota. Mungkin ia tinggal di perkampungan kumuh yang tak jauh dari sana. Dari jauh lama aku memperhatikanya, gadis kecil 20 tahun lalu itu, telah berubah seindah bidadari. Terlalu cantik bagiku. Entah bagaimana aku merasa seakan ia bicara padaku.
“Aku suka senja karena sunyi sepertiku, Karena senja itu Jingga seperti namaku.”
Hari-hari berikutnya aku masih menemukanya disana. Memunguti buah-buah asem. Sebuah keinginan untuk mengenalnya membuatku dihadapan nya saat itu. Gadis itu tersentak lantas berlari dan sebuah keinginan timbul untuk mengejarnya tapi kaki itu terlalu lincah, aku tak sanggup mengejarnya.
Ia terus berlari dan tertawa mengejeku. Nampaknya ia tengah menggodaku, Nafasku habis jadi ku jatuhkan saja tubuhku di tanah berumput itu. Ia terus berlari mundur kebelakang dengan sorot mata yang tak lepas menatapku, seakan mengatakan;
“Ayo kejar aku, kejarlah….”
Gadis itu magis bagiku. Seperti maghnet, kekuatan besar membuatku benar-benar tertarik padanya dan sepertinya ia tahu itu. Langkahnya pun terhenti, mendekati ku sambil menjulurkan lidahnya. Kemudian menatapku nakal.
“Matamu nakal Jingga” begitu hati ku lirih bicara hingga muncul keinginan untuk menarik tanganya dan membelai rambut hitamnya yang indah. Tapi ia gesit, dapat mengelak dan berlari. Aku mengejarnya dan ia melempariku dengan buah-buah asem yang di kumpulkanya seharian. Dia… gadis kecil bermata cekung itu, yang pernah kutemui 20 tahun lalu adalah Jingga. Aku yakin ia masih mengenalku. Dia yang pandai menarik hatiku.

***
Sejak saat itu, Senja hari aku sering menemuinya di bawah pohon asem di pinggir sungai dan seperti biasa ia sudah lebih dulu berada disana. Kami menghabiskan senja berdua disana, menatap kilau penghabisan surya di permukaan riak sungai, merasakan silir angin dan wangi rumput-rumput liar. Disinilah tempat dimana cinta lahir dan tumbuh berkembang.
Disinilah aku mendengarkan ia bercerita kisah hidupnya dari sorot mata itu.
“Aku selalu disini, menanti teman-teman sepulang mengaji. Mereka selalu menyanyikan pujian indah untuk Tuhan dan Rasulnya. Aku suka melihat mereka bercanda sambil menyebrangi jembatan, suara tawa yang tak henti-henti dan suara anak perempuan yang bersahut-sahutan. Aku selalu berharap ada satu dari mereka yang mau berteman denganku tapi tak ada. Mereka mengejeku. Karena ibuku seorang pelacur.”
Air mata menetes di pipinya karena itu erat ku genggam tangannya. Sunyi menyelubungi dan dari sela-sela daun asem kulihat Purnama mengintip saat ku cium tanganya. Cepat sekali malam hadir, pikirku.
“Setelah aku dewasa, masih saja tak ada yang berteman denganku. Gadis seumuranku mendendam ku tapi semua anak laki-laki yang pernah mengejeku bertekuk lutut padaku” lanjutnya dan aku mengerti akan hal itu. “Karena merekalah aku berlari dalam hujan dan mendapatkanmu di café waktu itu. Aku marah, karena itu aku berlari.”
Kali ini kami bertatapan,
“Kenapa kau menatapku sepereti itu dulu”
“Aku hanya merindukan sosok ayah dan ibu dan aku menemukan kalian ”
“……….” Aku diam
“Wanita itu, apakah pacarmu?”
“………..” masih diam.
“Kau menyukainya?”
“Tidak. Kami hanya berkencan”
“Lalu… kenapa mengencaninya?”
“……………”aku diam lagi.
“Kau sama seperti laki-laki yang pulang dengan ibuku”
“Tentu tidak”
“ Lalu bagamana kabarnya sekarang?”
“………….” Aku diam lagi.
“ Kau sudah menikah?”
“…………” Aku diam dan ia pergi meninggalkanku. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Aku mencintainya tapi….
Entahlah aku tak tahu, benarkah cinta? Sudah sering aku mencampakan perasaan wanita, seperti Sherin, Bella, Diba, Olga, Dentya dan teman-teman sekantor hingga membuatku sulit mengartikan cinta. Aku tahu itu jahat untuk mereka. Aku tak ingin menyakiti hati perempuan-perempuan itu tapi kisah cintaku selalu tak pernah berhasil. Karena itulah aku diam, mengertikah kau Jingga? Ah…. Tapi kenapa kau pergi begitu saja. Itu artinya kau tak mengerti dan entah kenapa aku tak mengejarmu. Aku kaku oleh ke tololanku. Aku kaku karena meragukanmu pantaskah untuk anak-anaku nanti. Aku ragu padamu Jingga…
Setelah malam itu aku tak pernah menemukanya lagi. Kemana perginya. Kemana Jingga ku pergi.
***

Ku tinggalkan tempat tidurku malam ini, tidak seperti malam sebelumnya dimana aku dapat mengusir sepi. Aku benar-benar kehilangan separuh nyawaku. Patah hati membuatku benar-benar kacau, jadi ku telfon temanku malam ini. Ia menjemputku dan membawaku ke sebuah tempat di mana aku dapat mendapatkan semua wanita yang aku inginkan. Sebenarnya kami sering kesana, tapi aku masih perjaka. Karena aku tak tertarik dengan wanita-wanita disana. Karena kujunjung tinggi arti pernikahan yang suci.
Tapi malam ini berbeda, hatiku meluap meledak antara cinta, kemarahan, rindu, kekecewaan dan dendam. Ku putuskan memesan satu kamar dan wanita. “Tidak, aku tak akan melakukanya” begitu awalnya tapi entah kenapa kakiku terus menelurusi lorong mengikuti seorang pelayan tua, penunjuk jalan disana. Hingga aku berhenti di sebuah kamar.
Pintu terbuka, aku dapat melihat seorang wanita tengah duduk di atas ranjang.
“Masih suci tuan” kata pelayan tua itu lantas meninggalkan kami.
Pintu masih terbuka, tak ada kekuatan untuk menutupnya. Kuperhatikan wanita itu, aku tak asing dengan sorot matanya. Sorot mata yang dapat bicara dengan hatiku itu, kali ini bicara dengan jelas.
“ Nama ku Jingga, Ibuku seorang pelacur dan aku dijual untuk melunasi hutangnya”
Aku menangis, ada sesak paling dalam menimpa sukmaku lantas ku dekati gadis yang kucintai itu. Inilah takdir kita, aku tak akan ragu lagi tentangmu.
“Tahukah… aku datang untuk menikahimu. Menikahlah denganku”
Pintu masih terbuka, dan ku bawa Jinggaku pulang ke rumah barunya. Kerumahku. Lantas…Apakah masih kau cinta senja, Jingga? Tidakah kau ingat malam akan datang dan pagi menjelang… Aku akan memberi warna lain untuk senjamu itu. Agar lebih indah dari senja-senja sebelumnya yang pernah kau lihat.

THE END

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer iin_blue_girlz
iin_blue_girlz at Jingga Masikah Kau Cinta Senja (12 years 14 weeks ago)
90

ending yang indah...

Writer ardyanamrullah
ardyanamrullah at Jingga Masikah Kau Cinta Senja (12 years 15 weeks ago)
100

lupa memberi rating. haha

Writer ardyanamrullah
ardyanamrullah at Jingga Masikah Kau Cinta Senja (12 years 15 weeks ago)

ceritanya bagus. tapi aku agak riber karena terlalu antara paragraf g da spasinya....

salam.

Writer Shafiqah
Shafiqah at Jingga Masikah Kau Cinta Senja (12 years 15 weeks ago)

^_^

mengharukan ,,,

Writer Fany Ijo
Fany Ijo at Jingga Masikah Kau Cinta Senja (12 years 15 weeks ago)
80

bagus..
endingnya jg bagus..

Writer geneveva_hani
geneveva_hani at Jingga Masikah Kau Cinta Senja (12 years 15 weeks ago)
70

Aku suka bagian ini:
“Aku suka senja karena sunyi sepertiku, Karena senja itu Jingga seperti namaku.”