DALAM (MALAMMALAMNYA) NURBAYA

NURBAYA

Dan hanya tinggal malam-malam yang parah ketika kuamati parasku dalam cermin. Ada gadis 18 tahun yang terluka di sana. Lama. Hingga aku berfikir. Aku bukan Cinderela yang sering mereka katakan… Aku Siti Nurbaya yang hanya pasrah menghadapi takdir. Dan mengertikah sayang… Entah mengapa kekosongan ini terus mendesaku…. tuk segera ke tiang gantungan.

Aku di jodohkan….
Entah bagaimana awalnya, yang kuingat satu minggu lagi adalah hari pertunanganku denganya. Aku merasa kembali ke era 20 an. Dimana Nurbaya harus menikah dengan Datuk Maringgih. Dan… hal itu terjadi padaku. Aku tak ingin hidup seperti itu . Tak ingin hidup menderita dan mati konyol seperti Nurbaya. Aku tak ingin tolol dan pasrah hidup tersiksa. Jika aku masih dijodohkan, sia-sialah kartini berjuang. Aku akan memberontak!
Jika tak ada jalan maka kematian lah akhirnya….
“Cha… Aldi datang tuh. Disuruh keluar mama.” Teriak Deo, adiku satu-satunya.
“Okelah…”Kataku tertawa renyah, aku terbiasa melakukanya. Ya… berpura –pura bahagia membuatku bahagia. Aku turun menemui Aldi. Pria itu memang mirip Datuk Maringgih… Menjijikan bagiku.
Selang beberapa menit aku sudah dapat menguasai keadaan, membuatnya tertawa itu mudah. Tapi menit kemudian aku tak dapat melakukanya lagi. Kebencian itu mulai timbul dan meradang. Aku diam dan dia kebingungan. Inilah awalnya…. Aku akan mulai dengan seperti ini.
“Cha… kenapa?” tanyanya. “Cha…” ia terus membujuku dan aku meneruskan aksiku. Huhhh… Ngomong sama tangan! pikirku. Emang enak di cuekin.
“Aku pusing, pulang sana” usirku dan dia menolak. Beberapa menit kami berdebat dan dia pulang tanpa aku tahu bahwa akhirnya mama memarahiku… Papa juga… Nenek yang serumah dengan kami ikut-ikutan. Kenapa dengan mereka? Jahat sekali terhadapku. Hanya Deo yang diam, apa itu pembelaan? Atau dia juga sepertiku yang tak berani berbicara, atau takut kualat. Kualat??? Kata –kata itu mengingatkanku pada Guru Mengaji Deo.Aku masih ingat waktu Deo bertanya…
“Anak durhaka itu yang bagaimana Ustad?.”
“Anak durhaka itu…yang menyakiti orang tuanya.” Jawab Ustad tersenyum.
“Kalau durhaka bisa kualat Ustad?”
“Allah memberi pahala untuk anak yang patuh, dan menghukum anak yang durhaka”
“ Kualat seperti Malin Kundang???” Tanya Deo lagi ustad tersenyum dan mengangguk.
“Bisa juga seperti itu”
Dan sekarang apakah aku memang mirip Malin Kundang, Kaku bisu, mematung sepeti batu.
***
Bunyi klakson terdengar, aku tahu Aldi jelmaan Datuk Maringgih itu sudah menjemputku. Aku menatapnya dari balik tirai dan berfikir mobilnya jauh lebih tampan dari sosoknya.
Kata tetangga, Aku adalah Cinderela… dapat pangeran kaya dari desa seberang. Kaya, pendidikan tinggi, mapan, ganteng. Ah masak… Aku heran… dengan pemikiran mereka. Semua mulai berbisik menggosip tentangku. Sekolah gempar dengan gossip pertunanganku. Aku mulai down, dan keluar dari beberapa organisasi yang aku sukai. Beberapa temanku mulai menjauh, mereka benci dengan ketidaksetiaanku pada organisasi yang dulu aku geluti, tapi aku tak acuh. Lucunya, sebagian iri denganku. Aku tak tahu apa yang mereka irikan dari kehidupan Nurbaya. Katanya aku beruntung. Beruntung? Benarkah… Aku bukan Cinderela seperti yang mereka katakan, aku Nurbaya yang hanya pasrah menghadapi takdir. Tak satu orangpun membelaku. Kecuali Guru Ngaji itu. Ya… aku belum bertanya padanya, apa salah jika menentang orang tua yang salah, menurutku.
Aku segera keluar lewat jendela.. dan menyusup keluar dari gerbang belakang. Tak kuhiraukan teriakan mama mengedor pintu kamarku. Aku tak menyangka suara mama akan terdengar nyaring sampai sejauh ini. Parahh… seperti nenek lampir. Hehe..
“Echa,,, bolos sekolah?” begitu Ustad bertanya padaku lembut setelah aku menemukanya di masjid. Aku tak berani menatap matanya, hanya menjawab lirih.
“Iya, Ustad…”
“Ada yang dapat Ustad bantu?” Tanya nya lembut lagi, Tuhan… betapa ia baik bertanya padaku seperti itu. Dan saat itulah hatiku bergetar, sebenarnya sudah lama aku menyukainya. Ku tarik nafasku.. Dadaku sedikit sesak. Aku gemetar. “Echa…” Panggil Ustad dan aku merinding mendengarnya. Kutatap wajahnya sekilas. Dialah Samsul Bahriku, harusnya aku berjodoh denganya.
“Saya di jodohkan Ustad…” aku mulai bercerita. Ustad mendengarkanku dalam diamnya. Dan aku terpukau oleh ekspresinya… Sungguh Tuhan… diam itu memukauku. Aku tersentak Ustad memperhatikanku bingung. “Saya di jodohkan…”lanjutku agak gelagapan. “Di jodohkan orang tua… apa itu bagus?” Ustad terdiam dan nampak berfikir, dahinya berkerut. “Echa.. tidak suka! Echa kan masih 18 tahun Ustad… masih muda, masih suka ke Mall, main layangan eh main boneka, pokoknya gak pengen hamil dulu… Kan masih Es Em A” Cerita ku menggebu, kemudian melirik Ustad sedikit. Hatiku berdebar… Menunggu bagaimana komentar yang keluar dari bibirnya yang selalu basah dengan dzikir. Tuhan… jika harus hidup miskin denganya aku rela, Asal dengan dia. Ustad yang aku cintai setelah Engkau, Nabi dan Rasulmu.. setelah orang tuaku juga tentunya.
“Dijodohkan, belum tentu sesuatu yang tidak baik bagi kita. Terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu baik untuk kita, Yang menurut kita buruk belum tentu buruk pula untuk kita. Hanya Allah yang tahu. Usia bukan masalah, Aisyah lebih muda dari mu saat menikah dengan Rasul.” Jawabnya berhati-hati.
“Aku ingin seberuntung Aisyah, andai saja.”
“Echa merasa tidak beruntung sekarang?” Tanya Ustad, mata kami bertemu.
“Apa ini masalah syukur pada Allah? Saya akan bahagia jika menikah dengan orang yang saya cintai”
“ Ada yang Echa kasihi?”
“Iya Ustad… lebih dari kasih, ini cinta.” Ustad memperhatikanku dengan seksama… dan aku berkata lagi, “ Saya cinta….” Ucapanku terputus, aku tersedak.
“Cinta…” Ustad penasaran dan aku kacau. Haruskah aku mengatakanya? Aku belum pernah menembak seorang pria, Apalagi pria dewasa seperti Ustad. Bagaimana ini..? Ku gigit bibirku dan Ustad terlihat cemas melihatku. Dadaku panas dingin.
“Echa… Echa, baik-baik saja?”
“Lapar Ustad…”jawabku spontan. Bodoh!!! Apa yang barusan ku katakan. Ustad tertawa.. gigi putihnya terlihat, Duhhh… Gusti, Kereennn.
“ Lapar ya, Sarapan bareng Ustad aja..” masih dalam senyumnya, ustad berdiri mengajaku.
“Benar, Ustad?”
“Iya..”
Wahh,, ini baru hidup. Inilah kenyamanan.. aku berjalan disisi Ustad. Kami serasi biar terpaut 15 tahun. Jika seperti ini, ceritanya pasti berubah…seperti, Ya Aisyah dan Nabi Muhammad. Itu cerita yang cocok. Aku tersenyum sendiri, tanpa tahu Ustad memperhatikanku. Bukankah ini mirip kencan? Makan berdua? Ya, mungkin Ustad juga mencintaiku. Duhhh… Samsul Bachri ku.

***
Prangg!!! Mama membanting vas ke arah ku. Kakiku gemetar dan aku mulai menangis, Papa tak membelaku.
“Mulai berani sekarang! Mau mempermalukan keluarga?!!” Teriak mama sambil memukulku dengan tanganya, kemudian memutar telingaku. Aku berteriak kesakitan dan menangis. “Sudah berani bolos ya… Mau jadi apa? Merasa hebat?” bentak mama lagi, sambil terus menyakitiku? “Kenapa diam… Jawab. Kalau sudah tidak nurut keluar dari rumah.” Begitu terakhir yang ku dengar.. setelah itu aku tak sadarkan diri.
Saat kubuka mataku, diluar tampak gelap. Aku bercermin… Aku tampak kusut, haruskan anak seusiaku menanggung ini? Aku mohon, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku hanya gadis 18 tahun yang takut akan sakit.. Aku mohon, Lindungi aku. Saat itulah aku teringat Ustad. Kuraih ponselku. Kulihat jam dinding. Pukul 21.00, lama sekali aku pingsan. Ku hubungi nomor Ustad, namun ku urungkan. Mungkin Ustad masih di Masjid, Ustad terbiasa mengaji hingga larut. Ku ambil semua pakaianku dan kabur lewat jendela. Tapi sial ada anjing di pintu gerbang belakang. Sejak kapan ada anjing… Ah, entahlah aku berjalan mengendap agar tak membangunkanya. Tapi…
“Guk!” Tamat sudah riwayatku, pikirku, “Guk GukGuk!!! GukGuk!!!”
Kulihat ada yang memeriksa, aku segera bersembunyi dalam semak.. kemudian berlari ke pintu depan, aku memanjat dan berhasil meloloskan diri. Aku berlari kencang menuju masjid tapi ku hentikan langkahku, masih ada beberapa orang disana. Tak mungkin aku menemui Ustad jika ada orang selain dia. Ku balikan langkahku menuju jalan sempit yang gelap, sengaja aku menghindari jalan utama, takut terlihat orang.
Ini hal yang menakutkan dalam hidupku, aku tak bisa membayangkan mendapat keberanian duduk di tempat lembab yang gelap. Aku menangis. Inilah malam terparah yang pernah ada….
“Astaghfirullahalandzim… Echa.” Suara Ustad menyadarkanku.
“Echa kabur…” isak ku.
“Kenapa…”
“Karena Echa gak mau di jodohkan seperti siti Nurbaya..” kataku setengah teriak dan akhirnya tangisku meledak. “ Echa… Echa… benci..”
“Echa….Echa… berdiri, ayo Ustad antar pulang.”
“Gak mau Ustad! Echa mau pergi… Ustad… Ustad suka sama Echa..?”
“Echa… Echa bicara apa?”
“Ustad… Ustad suka? Jawab Ustad, Ustad mau jadi suami Echa…”
“Echa…” Ustad menatapku bingung. Menghapus airmataku tanpa berkata sepatah kata pun. Aku memeluknya dan dia terkejut. Hangat.. ini pertama kalinya tubuhku bersentuhan dengan pria.
“Echa mau jadi istri Ustad…”
“Echa… tidak boleh seperti ini?” kata Ustad sambil melepaskan tanganku dari tubuh nya. “Echa tidak boleh seperti ini, Ustad antar Echa pulang.” Bujuknya dan aku menatapnya marah. Ada kebencian melintas.
“Ustad tidak suka Echa bukan?” tanyaku, mataku perih.
“Bukan begitu Echa, Ustad berjanji menolong Echa. Tapi pulang dulu ya…” Bujuknya lagi, matanya teduh memandangku dan entah mengapa aku hanya mengangguk SETUJU.
***

Hanya ada hari-hari yang menyakitkan, sejak kejadian malam itu aku tak pernah lagi keluar kamar. Mereka mengunciku disini. Tak ada keinginan untuk kabur. Tak ada yang peduli denganku, termasuk Ustad. Aku membencinya juga. Begitu awalnya, hingga aku suka mengamati wajahku sendiri di cermin. Hampa merasuk pelan… kosong… kemudian tawar. Tak ada benci, cinta atau keputus asaan. Hanya tawar. Aku mulai menyukai diriku sendiri, Aku mencintai wajahku yang ada di cermin. Aku suka tertawa dengan wajahku di cermin, Lepas dan merasa bebas. Tapi beberapa saat wajah di cermin memantulkan bayangan Samsul Bahri, saat itulah aku menangis. Dan bila bayangan itu menjadi Datuk Maringgih aku berteriak marah. Begitulah yang aku lakukan setiap hari.
Pagi ini aku bernyanyi dengan diriku di cermin, liriku menceritakan tentang kepedihan dan kegetiran hidup. Ini hari pertunanganku. Di bawah ku dengar datuk maringgih datang. Aku ketakutan dan mencari Samsul di cermin, tapi hanya ada parasku. Aku makin takut dan saat itulah aku berteriak keras lagi, datuk Maringgih ada di dalam cermin. Ku pukul tubuhnya dan
PRANGGG!!!…. Pecahan- pecahan kaca berserakan di sekelilingku.
Ku jatuhkan tubuhku di lantai. Mengamati tanganku yang basah oleh darah, tapi tak kurasakan sakit. Ku lihat pecahan kaca yang berserakan… semua memantulkan wajah datuk maringgih. Hanya satu yang memantulkan wajah Ustad, Samsul bachriku. Aku meraih keeping kaca itu meski harus tergores pecahan yang lain. Dan entah kekuatan dari mana kugunakan pecahan kaca itu untuk memotong urat nadi tanganku. Saat itu insaflah aku, di luar gelap. Di masjid terdengar suara Ustad mengaji. Ponselku masih diatas kasur.
Apa yang sebenarnya terjadi, Samar ingatanku berputar, aku keluar lewat jendela dan papa menangkapku sewaktu anjing di pintu gerbang belakang menyalak. Aku tak sempat bersembunyi di semak. Aku tak sempat nenemui ustad. Lantas Papa mengunciku di dalam kamar dan aku menemukan wajahku di cermin. Aku bermain denganya. Setelah itu aku tak ingat apa yang terjadi.
Darah semakin banyak keluar… Alunan Ayat suci yang terdengar benar-benar menyadarkanku. Tapi aku tak sempat teriak, tubuhku telah lemah. Ku rebahkan tubuhku di atas pecahan kaca dan dengan darahku kutulis nama Ustad di lantai. Ini pernyataan cintaku untuknya. Aku cinta Ustad, begitu kutulis dengan darah. He.. aku tersenyum ternyata aku lebih tolol dari Nurbaya.
Kutatap langit-langit, besok saat mama membuka pintu kamarku, Ia akan melihatku sudah tak bernafas lagi. Airmataku menetes. Aku ingin hidup dan melihat Ustad besuk. Tapi bisakah. Ku tutup mataku pelan dan berharap ini mimpi. Tuhan, jika ku minta hidupku kembali… bisakah???
Bisu… Nafasku kian sesak dan aku menyesal………..
Tuhan pasti akan menghukumku.

|

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer anggra_t
anggra_t at DALAM (MALAMMALAMNYA) NURBAYA (12 years 9 weeks ago)
70

wew.. bikin penasaran tapi endingnya serem..
coba dikasih spasi jadi enak bacanya.

Writer ima mawarti
ima mawarti at DALAM (MALAMMALAMNYA) NURBAYA (12 years 8 weeks ago)

SEREMMM...aku nangis pas bikinya...