KOIN

KOIN

Setiap Pagi di kolam Sekolah…
Seratus, Dua ratus, Tiga ratus…
Cring!cring!
Demi cinta,
ku korbankan koin-koin kesayanganku ini.
PLUNG…
Ritual yang tak pernah terlewatkan olehku.

***

“Sssstttttt…… Rahasia!!!”
“Rahasia???” tanya ku heran.
Begitulah awalnya, Nefa melempar telunjuknya ke bibirku. Tanda darurat. Lantas kemudian ini menjadi rahasia kami “ Lemparkan koin kesayanganmu di kolam belakang sekolah dan Tuhan akan mengabulkan keinginanmu”
“Menyogok Tuhan?”
“Bukan….”
“Lalu???”
“Ini persembahan untuk Tuhan”
“Ternyata Tuhan juga suka uang ya..” Kuambil kesimpulan sambil tersenyum manis ke arah Nefa yang bingung dengan kebodohanku.
Sejak itu kami mengadakan ritual melempar koin. Berangkat lebih pagi dari teman-teman yang lain. Berdiri menghadap matahari di bibir kolam, memejamkan mata, mengucapkan keinginan dan melemparkan koin persembahan. Kami melakukanya secara diam-diam dan tersembunyi.
Ritual yang mengingatkanku pada pelajaran Sejarah Budaya tentang nenek moyang yang dulu katanya hidup di gua-gua, percaya pada semua benda mati yang punya nilai magis dan roh-roh halus. Mungkin koin-koin yang ku lempar ke kolam ini punya daya magis pula atau mungkin kolam ini lah penyebabnya. Entahlah.
Ku ungkapkan hal itu pada sahabat karibku Nefa, ia menjawab dari sumber yang entah dapat di percaya atau tidak “ Malam setelah kita melempar koin-koin ini Tuhan akan turun dan mengabulkan doa kita”.
“Tuhan akan turun…”
“Iya”
“Dari langit…”
“Tentu”
Setengah percaya, tapi keajaiban itu datang. Hanya dalam jangka waktu tiga hari keinginan Nefa terkabul. Mulai dari kucing Persia yang selama ini ia inginkan sampai dengan keinginanya agar Angki cowok terkeren di kelas sebelah putus dengan pacarnya. Hebat bukan.
Akhirnya, Nefa semakin rajin melempar koin, ia mendapat apa saja yang di inginkan dan aku ikut-ikutan. Ku lakukan ritual itu selama berminggu-minggu dengan harapan Tuhan menggantikanya dengan pria terkaya di jagad raya. Ya, aku ingin Tuhan mengganti koin-koin ku dengan pria keturunan Ningrat.
“Jadi modalnya balik he.. he” kataku dan Nefa nyengir.

***

Ini adalah ritual ke seratus tiga belas. Sudah banyak koin yang ku korbankan untuk Tuhan. Tapi do’aku yang hanya satu itu tak terkabul juga. Tak ada perubahan sama sekali. Galeh, Arman, Galang dan beberapa pria yang katanya berdarah biru di sekolah tak ada yang mendekatiku.
“Kamu harus yakin…” Nefa berusaha menyakinkanku pagi ini. Aku tersenyum kecil.
“Aku sudah yakin… ”
“Kalau begitu bersabarlah”
“…….” aku manyun.
Lama kupandangi tiga keping koin di tanganku. Ada beban menimpa. Mungkin inilah penyebab Tuhan lama mengabulkan do’aku. Tangan ku kaku jika harus melemparkan logam-logam berkilau ini ke dasar kolam. Kulirik Nefa. “Apa do’amu?”
Nefa masih memejamkan matanya, menit kemudian dia menjawab “Aku ingin Angki” kemudian membuka matanya, disusul lemparan dahsyat dari tanganya.
Siiiiuuuuuuttttt…..plung, plung, plung, plung, plung…….plungg! kurang lebih begitu bunyinya. Semakin banyak koin yang di lempar semakin cepat do’a terkabul. Begitu terakhir yang kudengar dari Nefa. Manis ia memandangku kemudian berlari pergi. Menerjang angin yang tengah bergurau. Tanganku masih kaku. Ranting-ranting kering bersorak mengoyak jiwaku. Ada tanya merambati hati, Mungkinkah Tuhan lupa atau terlalu sibuk hingga tak sempat turun dan mengambil koinku?
Kuamati perut kolam sesekali kulihat ikan koi menyembul keatas. Tak adil jika hanya permintaan Nefa saja yang di kabulkan. Akan ku tuntut Tuhan. Aku harus menanti disini, menunggu Tuhan turun dan cepat ku lemparkan koinku ke perut kolam. Aku ingin punya pacar. Itu permohonanku.
Satu lagi, yang ningrat.

***

Semakin sore, Di kejauhan samar masih terdengar teriakan anak-anak basket. Selain itu hanya gerisik angin dan daun-daun di pucuk pohon sana, bergosip tentang ranting-ranting kering yang tak lagi berbuah. Sedang aku masih duduk di pinggir kolam, sudah ku putuskan menanti Tuhan disini. Nanti jika gelap sudah tiba aku akan bersembunyi di balik semak, jadi Tuhan tak perlu malu saat mengambil persembahan koin-koinku.
Betapa bangganya jika aku dapat menceritakan pertemuanku dengan Tuhan pada yang lainya. Mereka pasti akan iri padaku. Tapi bagaimana jika Tuhan tidak turun. Tentu do’a ku tertunda lagi. Lalu kapan aku punya pacar ningrat?
Ah… ada sesuatu yang mengusik ketika senja benar-benar turun. Tak terdengar lagi teriakan anak-anak basket itu. Sudah pulang tentunya.
Whuzz..
“Dingin…” bisiku dan betapa tersentaknya aku, seperti ada yang menjawab “iya”. Tapi siapa.. Tak ada siapa-siapa. Aku sedang berhalusinasi atau mungkin perasaanku saja.
Bulu kuduku berdiri, sebenarnya aku takut juga. Aku pernah dengar cerita tentang Hantu yang suka menetap di sekolah, muncul tiba-tiba di toilet atau di ruang laborat. Lalu, bagaimana jika tiba-tiba ia cekikikan di atas pepohonan itu.
Aku ingin pulang saja. Tapi bagaimana dengan permohonanku. Betapa aku memang menginginkan pria ningrat itu. Tuhan…. Cepatlah turun. Aku mohon Tuhan, Ako mohon. Ah.. lama sekali Tuhan.
Ku kuatkan saja hatiku, aku tak boleh menyerah. Aku harus tetap bertahan di sini. Demi cinta. Demi pria ningrat. Untuk itu, ku bayangkan berapa banyak koin yang ada di dasar kolam itu. Apakah nanti koin-koin itu akan berubah menjadi sesosok pria keturunan ningrat yang muncul begitu saja dari dasar kolam? Atau Tuhan sudah membungkus dalam kado dan menaruhnya di kamarku? Seperti ketika Nefa mendapat kucing Persia yang tiba-tiba terbungkus rapi di depan pintu rumahnya.
Aku sudah tak sabar menunggu Ku amati permukaan air kolam yang berkilat tersorot purnama. Ah… Purnama, aku dengar hantu juga suka malam purnama. Hiihhh aku teringat hantu lagi. Lupakan, lupakan, tak ada hantu disini. Hantu hanya ada di Toilet dan ruang Laborat.
Satu jam kemudian…
Plok!
“Sial…” gumamku, aku berhasil membunuh seekor nyamuk. Bersembunyi di balik semak, berarti jadi prasmanan untuk drakula-drakula kecil itu. Tuhan tak datang juga. Jika Tuhan sibuk, mengapa tak mengirim malaikat saja. Apa sedang ada pesta di langit? Tuhan… datanglah. Kirim malaikatmu tak apa.
Aku mulai bosan, takut dan marah. Aku merasa Tuhan mengabaikanku atau mungkin Tuhan sedang menghukumku? Aku merasa tak melakukan dosa. Aku hanya ingin koin-koin ku di ganti dengan pria ningrat itu saja. Tapi kenapa lama sekali. Sudah berhari-hari aku memohon Tuhan… apa itu berat.
Tiba-tiba aku teringat dengan pengemis di samping gedung sekolah. Pagi tadi ia menghampiriku, katanya anaknya sakit tapi aku tak memberinya sekeping pun. Apa itu dosa Tuhan? Tapi itu kulakukan karena aku ingin mempersembahkan koin-koin itu untuk Mu. Lalu apa masalahnya Tuhan, bukankah aku sudah rela mengorbankan koinku.
Lama aku menunggu. Tak ada yang bisa kulakukan selain menyalahkan Nasib, kenapa aku terlahir matre. Kenapa aku bisa sakit hanya karena kehilangan sekeping koin. Kenapa aku…..blablabla. Seiring itu ku cium wewangian asing. Buluku bergidik lagi. Kali ini kakiku ikut bergetar, ada sesuatu yang bergerak dari balik semak yang satu ke semak yang lain, semakin lama semakin dekat.
Ya. Ada yang bergerak di semak-semak. Tuhankah? Tuhan sudah datang… Ya aku yakin pasti Tuhan. Ku pertajam mata, telinga dan batinku. Aku harus benar-benar konsentrasi pada detik-detik pertemuanku dengan Tuhan. Ini akan menjadi moment yang tak terlupakan.
Ah… akhirnya aku akan dapat pria ningrat juga. Tapi… benarkah yang di balik semak itu Tuhan? Ragu. Benarkah yang di sana itu Tuhan???
Aku mundur tiga langkah dengan sangat hati-hati. Keraguan membuatku bergidik takut. Kali ini, aku benar-benar menyesal telah menunggu Tuhan disini. Bagaimana jika Hantu Toilet atau Laborat yang di balik semak itu? Bagaimana jika Hantu… Tentu ia akan memakanku.
Lupakan, mungkin saja anak basket yang belum pulang atau penjaga sekolah yang sedang keliling. Atau mungkin memang Hantu itu… Bagaimana jika Tuhan? Lalu… bagaimana jika hantu???
Aku tak bisa lagi menunggu Tuhan disini.
Jadi kuputuskan,
….. untuk mengambil langkah dua ribu.
Tapi benar malang tak bisa di tolak. Hantu itu berhasil menarik lenganku.
Aku meronta berteriak, tapi percuma makhluk itu benar-benar kuat. Tapi tunggu.. Lihat, kakinya menyentuh tanah. Dia… bukan hantu tapi Pak Eji. Guru muda di sekolahku. Ia yang melatih anak-anak bermain basket.
“Sedang apa?” tanyanya masih tetap mencengkramku yang berusaha kabur.
“Kasih makan ikan, pak”
Pak Eji tajam menatapku, jurus kebohonganku tak mempan rupanya.
“Liat kesana.” Katanya menunjuk kolam ikan yang berjarak lima meter dari kami. Tidak mungkin bukan memberi makan ikan dari jarak sejauh ini. Begitu ku artikan sorot matanya “apa yang kau lakukan?”
“#$%^???” rumit, aku tak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Pacaran?”
“Apa?”
“Kamu janji pacaran di sekolah malam-malam?”
“ih.. yang benar saja bapak”
“Ceritakan !” bentaknya.
Tak bisa berkelit, minggu-minggu ini gossip pacaran di sekolah malam hari tengah menduduki rangking pertama. Ah Tuhan, kenapa aku jadi sial begini.
Aku diam, tak bisa menjawab. Pak Eji diam juga. Aku gemetar. Pak Eji menyorot ku garang. Jadi aku menangis saja. Pak Eji bingung kelihatanya.

***

Bukanya prihatin, Pak Eji malah tertawa. Guru yang aneh, aku rasa tak ada bagian yang lucu saat ku ceritakan masalah ritual itu. Ada yang tidak beres dengan sistem di kepalanya. Aku yakin itu.
“Jadi hanya kau dan Nefa yang melakukan hal itu.”
Aku hanya menganggukan kepala.
“Langit, Bumi, Seluruh alam semesta dan isinya. Siapa yang menciptakan”
Aku menunduk saja. Ia mulai bicara serius rupanya.
“Tuhan tidak perlu koin-koin mu.” Lanjutnya.
Aku semakin menunduk. Menyesal??? Entahlah.
“Ada banyak cara setan, untuk menyesatkan manusia. Salah satunya adalah ritual yang kau lakukan.” Meliriku yang semakin terbenam dalam perasaan bersalah, malu, berdosa dan perasaan tolol lainya. Kemudian lanjutnya lagi “bla…bla…bla… bla….” Aku sudah tak mengerti apa yang Pak Eji katakana. Larut dalam pemikiranku sendiri, bagaimana mungkin aku melakukan tindakan tolol menunggu Tuhan turun. Mustahil! Dan ritual bodoh itu. Dasar abnormal. Mungkin saja Nefa sedang mengerjaiku saja. Tentu ia merasa menang sekarang. Lalu permintaanya? 100 persen aku yakin itu kebetulan saja.
Aku benar-benar menyesal. Malu tertangkap basah oleh guru tampan di sekolah. Lalu bagaimana dengan pria ningrat itu. Duh… Kutarik nafas panjang. Biarlah. Lupakan saja pria ningrat itu, Tuhan aku tak memintanya lagi pada Mu. Itu sebagai permohonan maafku, Tuhan.
Ku pandang Pak Eji. Lumayan Keren. Hehe. Tapi itu tak penting sekarang. Yang penting adalah aku harus mengambil koin-koin ku lagi. Jadi tanpa tandang aling-aling, aku langsung melesat dan mencebur ke dalam kolam. Berebut tempat dengan ikan-ikan koi itu, memunguti koin-koin kesayanganku satu-persatu.
Pak Eji bingung dengan apa yang ku lakukan, tapi kuabaikan saja ia, dan tak lama kemudian.
“Lihat…” kutunjukan tangan ku yang penuh dengan koin padanya. Ia mengerutkan keningnya. “Akan ku berikan untuk pengemis di samping sekolah” kataku manis. Ia tersenyum.
“Hem… menarik, kau ambil persembahanmu lagi?”
“Ya, untuk sesuatu yang berguna”
“Aku tahu kau butuh bantuan” Kata Pak Eji melepas sepatunya dan ikut terjun bersamaku. Semilir angin terasa, terang purnama tepat menimpa kami. Seperti kisah dua ekor angsa yang memadu cinta. Duh.. romantisnya. Beberapa saat aku memperhatikanya, lucu sekali melihatnya meraba-raba dasar kolam mencari koin. Sampai akhirnya ia sadar akan sesuatu.
“Dapat!” teriaknya girang sambil menunjukan sekeping koin ke arahku. Kemudian tajam menatapku “katakana bagaimana bisa tanganmu penuh dengan koin tadi”
“Hehe.. dari saku Pak” jawabku, lantas ia terbahak sadar dengan kekonyolanya. Bagaimana mungkin seseorang dengan mudah menemukan koin di kolam sebesar itu.
“Lalu.. apa permintaanmu”
“Hemp!” Aku terkejut, tak menyangka Pak Guru tampan bertanya tentang permohonanku pada Tuhan dan tidak mungkin kukatakan aku ingin koin-koin itu di ganti Pria ningrat. Jadi aku berbohong lagi “ Aku ingin….”
“Ingin… makan di restoran jepang” jawabku sekenanya mengingat perutku yang belum terisi dari siang tadi.
Pak Eji menatapku lembut “Boleh” jawabnya.
“Apa?”
“Iya, kita makan di restoran Jepang sekarang, Bapak yang bayar”
Aku segera melompat girang, naik ke luar kolam. Ke tempat yang agak kering. Tuhan… lihatlah, ia mengajak makan malam. Hehe. Tuhan sedang tersenyum mungkin.
“Bapak..”
“Ya…”
“Sekalian anterin pulang ya” pintaku manja.
Tak ada jawaban, Pak Eji hanya diam saja dan saat itu ku cium wangi-wangian asing itu lagi. Hantu Toilet…
Bukan !
Bukan wangi hantu Toilet, tapi wangi tubuh Pak Eji. Ia merangkulku dan jelas kudengar dia menjawab “Boleh”. Aku tersenyum, apa maksudnya dia merangkulku. Hehe. Entahlah.. Sekarang yang kutahu, ini adalah awal yang indah.
Gerisik rerantingan terdengar lagi, Tuhan… jika ku minta Pak Eji bolehkan…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dewisun
dewisun at KOIN (12 years 14 weeks ago)
90

oooh...koin
lewat dirimu kutitip kata
kirimkankan dia pada yang Kuasa
bahwa ada asa yang masih tersisa

Writer ima mawarti
ima mawarti at KOIN (12 years 13 weeks ago)

HEHEHE....wahhh... makasi udah mau koment. sering@ yahhhh.... smile

Writer Aussey
Aussey at KOIN (12 years 14 weeks ago)
2550

jd inget crita lizzie mcguire. hihihi

Writer ima mawarti
ima mawarti at KOIN (12 years 13 weeks ago)

masa' tah.... mau mirip begitu yah... salam kenal yah...

Writer thasayua
thasayua at KOIN (12 years 14 weeks ago)
80

hihi
lucu

udah lama gak baca dan bikin cerita teenlit yang lucu-lucu gini,

Writer Aussey
Aussey at KOIN (12 years 14 weeks ago)

bikin yuk dhit. . wkwkwk

Writer ima mawarti
ima mawarti at KOIN (12 years 14 weeks ago)

yuk ber haha hihi sama-sama.... makasi komentnya. hahahihihihikkkkk

Writer rez axis
rez axis at KOIN (12 years 14 weeks ago)
80

hehehe... jadinya dapet pacar juga...
salam kenal

Writer ima mawarti
ima mawarti at KOIN (12 years 14 weeks ago)

hehe... iya belum jadi pacar...,salam kenal juga. makasi commentnya...

dadun at KOIN (12 years 14 weeks ago)
80

simpel
menarik.
plung... (efek suaranya harus ditulis ya?) hehe.
saya suka frasa "tanpa tandang aling-aling" ;-)