Bagian 1: Tragedi Istana Kristal (Negeri yang Mati)

Ini memang rahasia. Rahasia yang tak akan pernah terbongkar kepada orang sembarangan apalagi orang berbahaya. Rahasia tentang sebuah negeri menakjubkan di bawah tanah tempat Manusia-Permukaan-Tanah menapakkan kaki mereka di atas tanah yang keras. Negeri yang hanya segelintir Manusia-Permukaan-Tanah yang boleh mengetahui hal ini.

Banyak kerajaan bersatu membentuk Alam-Bawah-Tanah. Kerajaan-kerajaan itu diperintah oleh masing-masing Raja atau Ratu yang telah dididik menjadi pemimpin yang bijak, anggun, dan memiliki wibawa penuh sehingga tak ada yang berani melawan perintahnya. Dan di bawah perintah para Raja atau Ratu itulah, negeri-negeri di bawah tanah menjadi negeri yang menarik untuk dikunjungi jika para Manusia-Bawah-Tanah menyadari hal ini.

Alam-Bawah-Tanah dibangun oleh berbagai macam ras makhluk dan manusia adalah pemimpin utama. Ada sekelompok Wong di setiap kerajaan. Mereka adalah makhluk-makhluk cenayang yang senantiasa melindungi setiap negeri mereka dari bahaya. Tapi bukan berarti jika kau tinggal di sana, kau bisa bebas dari bahaya apapun karena setiap orang telah ditakdirkan untuk mengalami bencana. Ras Wong memiliki tubuh yang sedikit lebih tinggi dari manusia, sekitar satu hasta di atas manusia normal. Mereka memiliki sepasang mata yang terang yang membantu mereka untuk melihat dalam keadaan gelap. Meskipun di sana tak segelap yang kau bayangkan. Wajah mereka dipenuhi keriput karena usia tua yang terus menambah jumlah kerutan di setiap kulit mereka. Kalian tahu, Wong adalah Ras tertua dan hanya hidup sekali dalam satu penciptaan sehingga mereka tidak diciptakan untuk berkembang biak seperti makhluk hidup lainnya. Mereka tak bisa meninggal akibat sakit tapi kematian tetap mengintai mereka.

Di bawah Ras Wong, manusia menempati Ras kedua. Ras yang paling mengerikan jika ambisi telah menguasai mereka. Ada dua jenis manusia di Alam-Bawah-Tanah. Pertama, jenis manusia agung, manusia yang terlahir dengan nasib baik dan akan hidup dengan cukup tanpa kekurangan karena pada jenis ini mereka kebanyakan bangsawan ataupun keluarga kerajaan. Para golongan atas telah biasa hidup dalam kemewahan dan takkan tahan melihat sesuatu yang buruk, kotor, ataupun kumuh. Sementara itu, jenis manusia lain disebut sebagai para golongan bawah. Mereka adalah manusia yang selalu berada dalam kesedihan dan kemalangan. Meskipun pihak kerajaan telah mencukupi kebutuhan mereka, masih ada garis pemisah yang melarang terjadinya pernikahan antara para golongan atas dengan para golongan bawah. Peraturan ini ditetapkan oleh Raja Zariban, Raja pertama di Kerajaan Lana pada akhir Kappa I dan peraturan ini berlaku di seluruh negeri, tak hanya di Kerajaan Lana.

Ras Kurcaci juga menghuni negeri ini. Tugas mereka adalah menjaga setiap sudut negeri dari serangan asing dan menjaga berjalannya Roda Waktu yang merupakan sumber kehidupan di sana. Roda Waktu adalah sejenis mesin waktu dan komunikasi yang diciptakan dari suatu logam cair sebelum munculnya kehidupan di Alam-Bawah-Tanah. Benda itu tersebar di setiap negeri yang telah diciptakan dan hanya terdapat satu pada masing-masing negeri. Rahasia terbesar dari Roda Waktu adalah bisa membunuh suatu negeri jika benda berhenti.

Semua orang membayangkan bahwa di bawah tanah penuh dengan kegelapan. Bisa jadi mereka salah jika berada di Alam-Bawah-Tanah karena banyak makhluk-makhluk kecil yang menerangi setiap sudut kota. Mereka layaknya seperti kunang-kunang. Mereka adalah para peri kecil yang berwarna-warni. Peri-peri menyenangkan yang akan menyambutmu dengan senyum lebar menawan. Wajah mereka cantik dengan sayap-sayap terbentang yang menghasilkan cahaya indah. Sebenarnya mereka sangat bersahabat dengan manusia. Karena tugas mereka yang cukup berat yaitu menerangi negeri sehingga mereka sangat jarang bertegur sapa dengan manusia.

Lalu ada juga Ras Cantio. Mereka adalah Ras yang paling usil dan menyebalkan di seluruh negeri. Tugas mereka layaknya hantu di permukaan tanah. Dengan kulit hijau menjijikan dan sayap aneh seperti sayap capung, mereka terbang untuk menakut-nakuti anak kecil yang nakal.

Jangan membayangkan Alam-Bawah-Tanah dengan dinding-dinding batu dan lorong-lorong gelap di dalamnya. Karena sesungguhnya berbeda sama sekali. Kalian akan menemukan sebuah kota dengan hiasan batu-batu mulia yang akan membuat kalian sangat berhasrat untuk memilikinya. Kota yang menyatu dengan dinding batu dan membentuk tumpukkan kota dan lumut-lumut yang membentuk pepohonan dengan rindangnya. Serta jamur-jamur raksasa yang menaungi setiap tempat dari mencairnya es-es dari stalaktit yang menjulang jauh tinggi sekali. Langit-langitnya tak akan pernah kelihatan saking jauhnya. Tapi tak perlu cemas, karena kau tak perlu memperhatikan langit-langitnya (takkan ada langit, bintang, bulan atau matahari) untuk menikmati kota bawah tanah. Terlalu banyak hal menarik yang akan kalian perhatikan. Hewan-hewan menakjubkan, kendaraan-kendaraan istimewa dan hal-hal asing yang akan membuatmu tercengang.

***

“Batu ini bukanlah batu biasa. Ini Kelereng Penolak Petaka, Nak. Harta warisan yang paling berharga, Sayangku. Jagalah ini dalam lemari kaca kamar pribadi Raja,” pesan Ratu Quilina di hari penobatan puterinya, Puteri Qindara sambil memberikan sebuah batu berbentuk lingkaran yang berwarna-warni seperti kelereng kecil. Puteri Qindara menatap mata ibunya yang berkaca-kaca, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kelereng yang kini berada di telapak tangannya dan menggenggamnya. “Kau akan menjadi Ratu, Sayang.” Ratu mengelus wajah puterinya sambil menatap mata cokelat cemerlang anak kesayangannya. Qindara menyimpan kelereng itu di dalam kantungnya yang tak terlihat karena tertutup oleh lipitan di bagian pinggangnya.

Puteri Qindara menangis haru. Kini ia harus menjadi panutan seluruh rakyat di negerinya. Ia telah menjadi seorang wanita dewasa yang luar biasa cantik dan baru saja menikah dengan seorang pangeran dari Kerajaan Agate di utara. Sebenarnya ia dijodohkan dengan Pangeran Elgo karena jasanya menyelamatkan Kerajaan Agate dari serangan bangsa Len, bangsa dari golongan bawah yang selalu memberontak dan membuat onar di Agate. Qindara tak menolak ketika ia tahu dijodohkan dengan Pangeran Elgo karena ia pun tidak memungkiri ketampanan pangeran dari utara itu.

Ia menghela napas panjang dan berdiri, mencium tangan ibunya. “Berkahilah anakmu, Yang Mulia.”

Ratu menuntunnya ke arah cermin dan menghapus air mata haru puterinya. “Lihat dirimu.” Qindara menatap bayangan dirinya dan ibunya melalui cermin besar. Matanya yang bersinar memancarkan harapan. Hidung mancungnya memperindah wajahnya. Bibir ranum yang mengikat mengulum senyum simpul. Wajah Qindara sangat sempurna ditambah dengan tatanan rambut keperakannya yang digelung anggun dan anting dari mutiara yang memberi kesan keanggunan di telinganya. Ia sangat bersyukur melihat wajahnya yang cantik, mengenakan pakaian indah dari sutera perak yang dijahit oleh penjahit terbaik. Mahkota emas yang masih dikenakan ibunya akan segera menjadi miliknya. Kursi tahta telah menantinya. “Dan lihat ruangan ini. Ini akan menjadi milikmu.” Puteri memandang sekelilingnya. Ranjang Raja dan Ratu yang antik terbuat dari marmer terbaik dengan kayu pengangga dari tiang marmer berulir serta kelambu sutera dari kualitas terbaik sehingga belum tampak kusutnya, kasur terempuk yang pernah ada di seluruh negeri, lemari-lemari batu dengan kaca-kaca patri berbias indah, rak-rak ajaib yang bisa menyimpan apa saja, karpet tebal dan lantai keramik yang berkilau... Ruangan yang belum pernah dimasukinya kini akan menjadi miliknya.

Ratu berjalan ke arah lemari kaca patri terbesar berbias warna pelangi di sudut lain ruang, meninggalkan Qindara yang terpaku di depan cermin. “Di lemari inilah leluhur kita Zerfaos yang mulia menyimpan Kelereng itu. Kau tahu, Anakku? Kelereng itu didapatkan Zerfaos yang Mulia dari sahabatnya, seorang golongan bawah.” Qindara berjengit dan wajahnya berubah suram seketika mendengar itu. “Oh, maafkan aku. Tak seharusnya aku menyebutkan hal itu.” Ratu tersenyum dan ia menatap Qindara dengan penuh kasih-sayang. “Saatnya penobatan, Nak.”

Suasana ramai luar biasa memenuhi halaman luas Istana Kristal menjelang penobatan sang Ratu Baru. Pengamanan diperketat dengan menambah personil prajurit dan para kurcaci. Tentu saja, tak ada satu pun golongan bawah yang diperbolehkan menonton penobatan Ratu. Para Peri di sekitar balkon utama Istana Kristal membiaskan cahaya indah dengan tarian mereka menyambut iring-iringan Ratu keluar dari Aula ke balkon. Kristal-kristal yang memenuhi dinding istana tampak lebih bersinar dari biasanya. Segalanya terlihat sangat luar biasa.

Begitu Ratu Quilina keluar dari Aula sambil menuntun anggun puterinya, seluruh rakyat yang menonton bersorak-sorai. Meriuhkan suasana. Para peri mempertunjukkan akrobat membentuk kalimat Hidup Yang Mulia dengan spektakuler. Hati Qindara sangat berdebar-debar menjelang penobatannya.

“Para golongan atas, Rakyat Lana yang damai, terima kasih atas sambutan meriah untuk Sang Ratu dan Sang Puteri,” kata sang Altair, Guru Besar Ratu yang berbicara dengan suara wibawanya. Membuat suasana riuh menjadi hening sesaat. “Pada saat ini, hari terakhir yang ke 3838 Yang Mulia Bhre Quilina memimpin, akan tergantikan oleh Ratu baru kita. Menjelang pergantian Kappa II yang beralih ke Kappa III lima ratus hari lagi, inilah perayaan terbesar Kerajaan Lana.” Suara riuh kembali menggema.

Semilir angin dingin menggelitik leher Qindara yang wajahnya langsung berubah tegang. Ia berada cukup tinggi saat ini, sekitar 200 hasta dari lantai batu tempat para rakyatnya berpijak, namun ia mampu melihat seseorang dengan cukup jelas. Seseorang yang tak mungkin berada di sana. Seseorang yang luar biasa menarik namun sangat mengerikan. Dan seseorang itu terus menatap ke arahnya dengan pandangan jahat.

“Kita ke Aula, Puteriku,” bisik Ratu Quilina tanpa pernah melepaskan tuntunannya. Qindara tersadar. Seseorang yang tadi dilihatnya menghilang di telah kerumunan orang. Dan ia mengangguk canggung ke arah ibundanya.

Iring-iringan Ratu telah masuk kembali ke Aula. Namun suasana masih ramai di halaman istana. Dan seseorang misterius itupun menghilang dengan mudahnya.

Di Ruang Tahta, telah berbaris para Petinggi Kerajaan dan Tamu Undangan ‘Wakil*’ untuk memberikan penyambutan kepada Ratu baru mereka. Di depan sekursi tahta yang tinggi, Pangeran Elgo tersenyum menyambut istrinya dan ada sebuah kotak kaca besar seperti mimbar dengan penyangga tipis—berisi Kitab Kerajaan dan mahkota permata—di dekat Pangeran. Sepasang hulu-balang dan sepasang prajurit berpedang panjang mengawal Qindara yang kini harus berjalan tanpa ditemani ibundanya. Sang Ibunda meninggalkannya di pintu besar Ruang Tahta untuk mengikutinya setelah Qindara tiba di kursi tahta. Ada dua anak kurcaci yang terpilih memegangi ekor gaun sutera sang Puteri yang sangat panjang. Qindara berjalan dengan anggun.

Musik yang dimainkan oleh para pemusik istana mengiringi jalannya Qindara menuju kursi tahta dan berhenti secara serentak ketika ia berhenti, lalu memutar tubuhnya untuk menghadap para hadirin. Ia melemparkan seulas senyum kepada suaminya. Kemudian musik dimainkan kembali dan Ratu beserta hulu-balang pengawal dan prajurit berjalan ke arah kursi tahta didampingi oleh Sang Altair. Musik kembali berhenti begitu Ratu menghentikan langkahnya tepat di hadapan kotak kaca.

Sang Altair mengibaskan jubah panjangnya dan mulai berkata, “Atas nama Sang Pencipta, penobatan ini akan dilakukan dengan penyerahan mahkota Sang Bhre Quilina yang Arif dan pemindahan Kitab Kerajaan dari masa Sang Bhre Quilina kepada masa yang baru.” Sang Altair mengangkat tangan kanannya ke udara tepat di atas meja kaca. Meja itu bercahaya dalam seketika dan kacanya terbuka dengan sendirinya, membuat semua orang di sekeliling takjub dengan kekuatan Kitab yang ada di dalamnya. Lalu Sang Altair mengangkat Kitab itu dan menyerahkannya kepada Qindara. Qindara menerima Kitab itu dengan takjub. Kedua tangannya bergetar namun ia berusaha untuk mengendalikannya. “Dan Sang Bhre Quilina yang Arif menjadi Ibu Kerajaan yang Mulia.” Ratu menundukkan kepalanya agar sang Altair mudah mengambil mahkota emas dan memindahkannya ke kepala Qindara.

“Semoga Kerajaan Lana semakin berjaya dalam kepemimpinanmu, Sang Bhre Qindara yang Anggun.” Kini mahkota emas telah menghiasi kepala Qindara dan resmilah ia menjadi seorang Ratu. Tepuk tangan riuh mengisi suasana haru. Ibu Kerajaan yang baru kini memeluk tubuh anaknya. Mereka menangis haru. Sementara kristal-kristal lembut berjatuhan bagaikan salju dan membiaskan cahaya-cahaya indah. “Dan Sang Bhre Qindara yang Anggun akan didampingi oleh Raja Elgo dari Utara yang Perkasa.” Sang Altair juga memberikan mahkota permata dan memakaikannya di kepala Elgo. Lalu Sang Altair menuntun Ibu Quilina ke kursi tahta di sebelah sisi dari kursi tahta utama.

“Hidup Yang Mulia!” sorak seisi Ruang Tahta.

“Hidup Kerajaan Lana!”

***

Masa pemerintahan Ratu Qindara telah berjalan selama lebih dari dua puluh tahun. Di usia matang ini, Ratu tak tampak tua sedikitpun. Pemerintahan semakin berjalan baik. Masa kejayaan ibunya seperti akan terulang kembali. Ia pun telah melahirkan anak-anaknya dalam jumlah yang menakjubkan. Tiga belas putera dan puteri. Dua anak terakhirnya adalah kembar laki-laki dan perempuan.

Di antara sekian banyak anak-anaknya yang telah disekolahkan ke Sekolah Pemerintahan Kuarsa Emas, hanya Tuirira dan Tolluma yang belum disekolahkan. Mungkin karena Tuirira adalah puteri kesayangan Ratu, dan Tolluma adalah putera kesayangan Raja.

Suatu hari, tanpa ada yang tahu, Ratu Qindara mengajak si kecil Tuirira yang berusia tiga tahun ke kamar pribadinya. Para pengawal kamarnya pun tak tahu karena sang Ratu menyembunyikan Tuirira di balik gaunnya yang tebal dan berlapis-lapis (karena tidak ada siapapun yang boleh memasuki kamar pribadi Ratu, bahkan Raja pun harus mendapat izin dari Ratu sebelum memasukinya). Hanya lemparan senyum ramah Ratu dan para pengawal pun takkan bertanya apapun. Ratu masuk ruangan, lalu menutup pintu marmer tanpa menguncinya karena ia yakin, takkan ada yang masuk ruangannya.

“Bunda yang Mulia,” kata suara mungil Tuirira sambil keluar dari dalam gaun berlapis ibunya, “ada apa?” Sang Ratu membantu anaknya keluar dari lapisan-lapisan sutera yang merepotkan. Lalu ia berlutut dan kedua tangannya menyentuh pundak Tuirira yang masih sangat kecil.

“Anakku, aku ingin kau selalu selamat, tak terjerat oleh bencana apapun.” Lalu Ratu bangkit dan berjalan menuju lemari kaca patri besar berbias warna pelangi tempat menyimpan Kelereng Penolak Petaka. Mengambil sekumpulan kunci yang ia simpan di dalam kantung beludru yang selalu ia kantongi di saku rahasianya, lalu mengambil kunci lemari kaca tanpa kerepotan jika tertukar karena kunci lemari kaca adalah kunci terkecil di antara semua kunci. Ia pun memutar kunci itu tanpa kesulitan.

Tuirira kecil hanya menelengkan kepalanya, memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh ibundanya. Lalu terperangah melihat benda kecil seperti kelereng yang berwarna-warni indah. Ia mendekati ibunya agar bisa melihat lebih jelas.

Ratu memang telah merencanakan hal ini sejak ulang tahun Tuirira yang kedua. Ia ingin memakaikan kelereng Penolak Petaka itu di leher Tuirira agar anaknya, beserta saudara-saudaranya dan seluruh rakyatnya selamat dari musibah apapun. Sehingga, setelah pesta perayaan ulang tahun kedua Tuirira, Ratu membuat bandul kalung dari kelereng itu dan penggantungnya dari benang perak terkuat yang didapatnya dari penjahit kerajaan terbaik.

Ratu memakaikan kalung itu ke leher Tuirira dan menyimpul talinya dengan simpul mati.

“Apa ini, Bunda?” Tuirira menatap bandulnya dengan takjub.

“Bandulnya bernama Kelereng Penolak Petaka dan akan melindungimu dan semua orang dari berbagai macam petaka. Itu untuk hadiah ulang tahunmu, Sayang. Jangan sampai ada orang lain yang tahu, Anakku.” Ratu menyembunyikan Kelereng itu di balik kerah Tuirira yang sangat tebal. Tuirira tersenyum dan memandang wajah ibunya.

“Terima kasih, Bunda yang Mulia.”

Mereka keluar dari kamar pribadi Ratu secara sembunyi-sembunyi pula. Mengantarkan anaknya ke kamarnya, setelah itu kembali ke ruang tahta. Begitu ia kembali ke ruang tahta, ia mendapati kursi Ibu Suri kosong sementara semua yang berada di sana menghormat kepadanya.

“Di mana Ibu Suri?” tanyanya begitu ia duduk di kursi tahta sambil melirik sekilas ke arah meja kaca berisi Kitab Pemerintahan.

Raja Elgo di hadapannya hanya menundukkan kepala dengan sedih. Ia berbisik ke hulu balang yang berdiri di dekatnya, menyuruhnya agar memberi tahu sang Ratu.

“Ampuni hamba, Yang Mulia Bhre,” Hulu balang itu menunduk. “Sang Bhre Ibu Suri sakit secara tiba-tiba ketika Yang Mulia Bhre pergi. Saat ini, Sang Bhre Ibu Suri tengah berbaring di kamarnya ditemani oleh para tabib kerajaan.”

Mata Ratu Qindara terbelalak mendengarnya. “Altair, Suamiku, apa yang terjadi pada Ibunda?”

Raja Elgo dan Sang Altair saling pandang, lalu Sang Altair mengangguk sopan. “Ehm, Ratuku, kami di sini tak tahu penyebabnya, tiba-tiba saja Bhre Ibu Suri pingsan dan terkulai lemas sekali hingga jatuh dari kursinya. Para tabib tengah memeriksanya saat ini.”

“Astaga.”

Ratu tak tahu harus berkata apa. Rasa cemas yang teramat sangat menyelubungi benaknya. Ia segera bangkit dari duduknya. “Tak perlu kau kawal aku,” kata Ratu untuk yang kedua kalinya kepada para pengawal yang hendak mengawalnya. Ia harus mengunjungi ibunya secepatnya.

“Istriku!” Sang Raja mengikuti Ratu, “Tak perlu kawalan!”

Ibu Suri, Bhre Quilina telah memiliki kamar yang berbeda dari kamar sebelumnya, yaitu kamar pribadi raja dan ratu. Kini ia telah memiliki kamar khusus ibu suri yang tak kalah mewah dan indah dibandingkan dengan kamar raja dan ratu. Ratu Qindara dan Raja Elgo segera menuju kamar Ibu Suri untuk mengetahui keadaannya.

Begitu mereka memasuki kamar, tiga tabib dan dua hulu balang menoleh dan segera menghormat kepada raja dan ratu mereka. Tampak lemah, Ibu Tiri terbaring lemah di atas ranjangnya yang luas. Ratu tak kuasa menahan air matanya dan menghambur ke tepi ranjang, diikuti oleh Raja Elgo yang berdiri di sisinya. Ia menyentuh tangan ibundanya. Terasa dingin. Para tabib tampak menunduk. “Bagaimana keadaan Bhre Ibu Suri?” tuntut Ratu tidak sabar.

Para tabib segera berlutut. “Ampuni kami, Bhre Yang Mulia, Bhre Ibu Suri telah meninggal dunia,” kata tabib tertua hati-hati.

Ratu Qindara kaget bukan kepalang mendengarnya. Air matanya menetes semakin deras. “Bagaimana bisa terjadi? Sakit apa yang diderita ibuku?” Raja Elgo menggenggam tangan kiri Ratu untuk menguatkan hatinya. Sementara tangan kanan Ratu masih menggenggam tangan Ibu Suri Quilina yang bibirnya sudah sangat biru kini.

“Ampuni hamba, Bhre Yang Mulia. Sepertinya ada suatu penyakit yang diderita Yang Mulia Ibu Suri dan kambuh secara mendadak tanpa bisa tertolong,” tabib kedua berusaha untuk menjelaskannya.

“Ibuku tidak menderita apapun!” jerit Ratu. Ia tak siap menerima musibah yang mendadak ini. Kemudian ia sadar, bahwa setiap orang memang ditakdirkan untuk mati. Tapi ia bertanya dalam hati, mengapa kematian Ibu Suri begitu cepat tanpa sakit dan tanda-tanda?

“Tenanglah, Istriku. Mungkin tabib benar. Dan ini sudah takdir untuk Bhre Ibu Suri. Tegarlah,” bisik sang Raja berusaha untuk menenangkan.

Ratu Qindara menatap wajah ibundanya yang kini sangat pucat dan dingin. Ada raut kesakitan di wajahnya ketika Ratu mengamatinya dengan seksama. Ia melepaskan genggaman tangan suaminya, lalu membelai lembut rambut ibunya. Ia menangis sambil memeluk ibundanya. Dalam seketika, suasana duka menyebar ke seluruh kerajaan.

Ratu Qindara menangis tersedu-sedu di atas singgasananya dan suasana belasungkawa masih menyelimuti istana kristal di tengah kota Kalimaya sejak kematian Ibu Suri yang sangat mendadak di alam-bawah-tanah yang rahasia. Ia menghapus air matanya dengan sapu tangan sutera kristal. Sementara Raja Elgo, suaminya menggenggam lembut tangan kiri sang Ratu, memberi sedikit ketenangan. Dan tidak ada satu orang pun di Ruang Rehat istana itu berkata. Bahkan, sang Penasihat sekaligus Guru Besar Ratu, Sang Altair membungkam mulutnya untuk menikmati kesedihan yang mendalam atas tragedi pecahnya dinding penahan air di Opal yang terjadi seusai upacara pemakaman kerajaan. Lima kelompok penyelamat yang dikirim sang Ratu pun tak mampu menolong para korban. Ia seperti mengirim rakyatnya sendiri ke lembah kematian. Musibah itu telah menelan ribuan warga Opal.

Bantuan belum berdatangan dari Kerajaan tetangga karena bencana air bah tersebut baru terjadi satu jam yang lalu dan para kurir kerajaan baru menyebarkan kabar duka itu ke penjuru negeri. Di tengah kesenduan itu, salah seorang hulubalang membungkuk masuk Ruang Rehat. Ia berjalan tergopoh-gopoh dengan wajah panik dan suram. ”Yang Mulia Bhre... izinkan hamba untuk menyampaikan sebuah kabar.”

Ratu berusaha untuk mengembalikan kewibawaannya dengan menatap si hulubalang dengan kedua mata yang sembab.

”Katakanlah, wahai Lonu!” perintah sang Raja tegas.

Hulubalang Lonu tak segera menjawab. Ia tampak enggan mengatakan apa yang tengah terjadi.

”Katakan!” Raja Elgo menghardik tak sabar. Suasana yang tercipta membuatnya lebih emosional.

”Ampun, Yang Mulia Bhre, Adinda Tuirira...” Lonu tercekat.

”Apa yang terjadi?” Sang Ratu bertambah was-was dan air mata bergulir lembut di pipi kirinya.

”Para prajurit berusaha untuk mengumpulkan para putera-puteri Yang Mulia Bhre agar mereka selamat dari marabahaya. Namun Adinda Tuirira menghilang, Yang Mulia. Ampuni kami. Panglima Hunna telah mencari ke semua pelosok Kalimaya, namun belum juga ditemukan. Ampun, Yang Mulia Bhre,” jelas Lonu yang terbata-bata, suaranya terdengar bergetar penuh ketakutan.

Ratu Qindara tak mampu lagi menahan emosinya. Ia bangkit dari singgasananya dan wajahnya murka. “Astaga! Kerahkan seluruh pasukan untuk mencari anakku ke seluruh pelosok negeri!”

Sebelum Lonu menjawab, terdengar suara-suara yang sangat ribut dari arah luar Ruang Rehat. Dan suara-suara itu terjawab ketika seseorang meledakkan pintu marmer utama tempat masuk Lonu. Kabut debu berhamburan menutupi pintu yang telah berubah menjadi bongkahan batu. Jeritan para pengawal, prajurit dan hulubalang menambah keributan dan membuat suasana semakin kacau balau. Sang Altair bangun dari duduknya sementara lima prajurit yang berjaga di ruang itu bersiap diri, menyiapkan tombak dan panah. Setelah suara ribut itu mereda, muncullah sosok hitam berjubah tinggi. Luno berlari menuju sudut ruangan yang sepi dari kursi-kursi tinggi para bangsawan yang kosong dan meringkuk di situ.

”Orang Asing! Jangan mendekat!” perintah Raja Elgo. Lonu membungkuk penuh ketakutan sementara Ratu menggenggam erat tangan Raja Elgo.

”Tak perlu mencari Tuirira hingga sejauh itu,” kata sosok itu sambil terus berjalan tanpa mematuhi perintah. Dan para prajurit yang belum sempat menembakkan panas terhempas begitu saja ke dinding batu di sisi kanan dan kiri. “Ratuku, Yang Mulia, mungkin Anda masih mengingatku, Ksatria Jurxes yang perkasa, bukan?”

Ratu Qindara mencengkeram tangan sang Raja semakin kencang. Ketakutan yang tak biasa merasuki seluruh tubuhnya. Tubuhnya bergetar seketika. Namun ia berusaha untuk mengalahkan rasa ketakutan tak wajar itu.

Sang Altair maju menghalau orang asing itu. “Apa keinginanmu?”

Namun Jurxes tetap berjalan di samping sang Altair dan tak menghiraukannya. “Tuirira ada bersamaku dan aman, Ratuku.”

Raja Elgo yang tak mengerti siapa orang asing itu hanya bergeming dan berusaha melindungi sang Ratu dari segala macam kemungkinan.

Jurxes berhenti tepat di hadapan Raja Elgo. Tangan kanan Raja dan Ratu masih saling menggenggam erat. “Jadi, kau yang dari Utara, merebut Qindara dari diriku, hah?”

“Apa maumu?” tantang Raja Elgo yang tak suka dengan orang asing itu.

“Baik!” Jurxes membuka tudung hitam yang menutupi hampir semua wajahnya.

Ratu Qindara terperangah melihat wajah itu. Wajah yang sangat berbeda dari yang pernah dilihatnya. Wajah yang sangat buruk dan mengerikan. Penuh dengan kerutan-kerutan pada dahinya dan berwarna kebiruan kelam. Pada kedua pipinya penuh dengan luka goresan yang hampir memenuhi semua pipinya. Hidungnya bertembah bengkok dari yang terakhir kali Ratu melihatnya. Kedua matanya berubah menjadi merah dan sangat menyeramkan. ”Masih mengingatku?”

”Kau...” Ratu tak mampu berkata-kata.

Jurxes tak menghiraukannya. Ia mengalihkan matanya ke wajah Raja Elgo. “Akankah kau mengizinkanku untuk menyentuh istrimu?” Pandangan matanya yang sangat tajam tak membuat Raja Elgo takut.

”Tidak! Bahkan untuk mendekatinya!”

”Oh!” Jurxes mendengus dan Ratu mampu mencium bau busuk dari napasnya. “Padahal, jika istrimu menyentuh tanganku, aku akan membuat segalanya membaik. aku mampu menghidupkan rakyatmu yang mati di Opal. Meskipun leluhur dan istrimu juga para bangsawan, sangat sombong dan menganggap rendah kaumku!” Ratu Qindara tertarik pada rayuan konyol itu. “Bahkan,” tambah Jurxes, “merupakan suatu hal yang mudah untuk mengembalikan Tuirira ke sini.”

”Bagaimana kau melakukannya?” gertak Ratu Qindara.

”Dia berbohong Ratuku,” kata Sang Altair.

”Tidak!” Jurxes berkilah cepat. “Berminat, Ratuku? Sentuhlah tanganku.” Jurxes mengulurkan tangan kirinya dan kulitnya tampak sangat pucat dengan kuku-kuku panjang dan hitam tak terawat.

”Jangan sentuh dia!” cegah Raja Elgo tanpa melepaskan pandangannya dari Jurxes.

”Jangan egois, Rajaku. Apa kau membiarkan rakyatmu mati sia-sia? Dan membiarkan istrimu menangisi anakmu yang sebenarnya baik-baik saja?”

”Kau belum menjawabku! Bagaimana kau melakukannya?” jerit Ratu frustasi. Kedua matanya mulai mengalirkan air matanya lagi.

”Kau tahu? Semenjak kehilanganmu, aku mempelajari ilmu yang menakjubkan. Dan ilmu itulah yang membuat wajahku berubah. Tapi bukan ilmu hitam! Sentuhlah. Kau pasti tak ingin terjadi apapun pada anakmu, bukan?”

Ratu Qindara mulai merenggangkan cengkeramannya pada tangan Raja Elgo. “Bagaimana aku bisa menjamin kebenaran dari ucapanmu?”

Dalam sekejap, Jurxes menarik tangan kanan Ratu yang bebas dan segalanya berubah. Ratu tercekat tak percaya, namun ia tak bisa melakukan apapun. Dimulai dari kedua telapak kakinya, Ratu merasakan kekakuan yang terus menjalar dengan cepat hingga ke ubun-ubunnya. Tak hanya Ratu, seluruh rakyat Lana mengalaminya. Efek sihir yang dilakukan Jurxes tak main-main. Ia mematikan Roda Waktu yang berjalan di tengah-tengah kehidupan Bawah Tanah. Kerajaan Lana mati dan hanya Jurxes yang mampu bertahan. Setelah matinya waktu, segala bangunan dan keindahan Kerajaan Lana luluh-lantak hanya dalam sekejap. Jurxes dan golongannya mulai berkuasa di atas reruntuhan Kerajaan Lana.

Read previous post:  
Read next post:  
50

oom bosen dhek, itu muter muter kalimatnya. Rapi sih hooh, tapi bikin oom gregetan. Maksudnya apa sih ini. lagipula itu istikah yang di partialin pakek "-" ndak indah dipandang mata dhek,
mana itu nama-namamu ndak pas gaungnya dhek, kesinambungan bekgrond cerita dunia baru atau bahasa kerennya alter universe itu terletak di nama dhek,
fantasi sih fantasi, tapi jangan asal templokin nama di dunia nyata toh nama jadi identitas ya toh?
saran oom sih baikin aja itu istilah istilah macem Manusia-Bawah-Tanah
lebih bagus kalo dirimu punya istilah laen yang ngena. btw kau ambil setting cerita sewarna apa to? mid-era macemnya LOTR gitu?

90

Wah... Enak bacanya :) Penuturannya keren!! Pengen belajar nih...

90

...Ini mengingatkanku tentang adegan awal dari sebuah game Dragon Quest. Tapi narasimu luar biasa rapih dan deskripsi dunianya beneran bagus. Paling masalahnya cuma ada di beberapa pemenggalan kalimat dan paragraf. Tapi soal itu kayaknya bisa kamu perbaiki sendiri.

Soal plotnya sendiri, ada beberapa adegan yang terkesan kurang alami. Tapi kenyataan kau bisa menuliskannya saja sudah hebat kok.

Akan kubaca lanjutannya.

60

hai, salam kenal. untuk sementara komen saya begini:

kalimat-kalimatmu rapi, namun fiksi menuntut lebih dari sekadar rapi karena sesuatu yang hanya teratur cenderung kaku serta membosankan. tambahkan gaya bahasa, seperti majas, metafora, dan kawan-kawannya, maka karyamu akan lebih kriuk kriuk.

kedua, katamu kisah ini berlatar Indonesia. namun, saya tidak merasakan percikan lokalitas di dalamnya. misalnya, dalam hal pemilihan nama untuk tokoh-tokohmu.

trim's banget ya, miss worm
salam kenal bdw

ya, saya akan belajar lebih keras lagi rupanya, hehehe

kalau tentang nama tokoh-tokoh saya, unsur indonesianya mulai terasa setelah keluar dari Alam-Bawah-Tanahnya. tunggu ya, nanti komenin lagi, biar bisa belajar lebih banyak. ;)

80

Hampir 4000 kata... yah cukup membuat keder pembaca (apalagi bacanya di depan kompi).
-
Untuk bagian pembuka, masih sedikit dangkal, tapi karena istilah yg digunakan sudah umum (peri... kurcaci...) mungkin bisa dibilang lumayan menjelaskan keadaan di bawah tanah.
-
Lalu untuk ceritanya... entah kenapa menurutku bagian pertama (pengangkatan ratu) dan bagian kedua (konflik) agak lepas.
-
Dan penggunaan istilah baru... mungkin gak ada salahnya dikasih catatan kaki

terima kasih kritiknya, membuat saya kembali bersemangat.
ya, sebenarnya ada beberapa makhluk ciptaan saya, saya cuma bingung kasih namanya, he...
ada istilah yang di draft saya ada catatan kaki sebenarnya, tapi saya nggak tahu gimana caranya supaya di k.com ada catatan kakinya, ada sarankah?
salam kenal anyway
:)

70

panjang banget dan hmm.. agak terlalu bertele2 karena kebanyakan narasinya. tapi idenya keren dan cukup detail :)
keep writing! kalo udah ada lanjutannya, kasih kabar ya :)

makasih, kawan baru.
ya, ada lanjutannya kok, sedang digarap, heu..
saya harus banyak belajar! semangat!

70

oke, cerita ini berakhir di sini, tentu saja tidak, pastinya akan berlanjut. semoga kelanjutannya lebih baik
by the way ada salah tulis tuh kayaknya

================
Puteri Qindara menangis haru. Kini ia harus menjadi panutan seluruh rakyat di negerinya. Ia telah menjadi seorang wanita dewasa yang luar biasa cantik dan baru saja menikah dengan seorang pangeran dari Kerajaan Agate di utara. Sebenarnya ia dijodohkan dengan Pangeran Elgo karena jasanya menyelamatkan Kerajaan Agate dari serangan bangsa Len/, bangsa dari golongan bawah yang selalu memberontak dan membuat onar di Agate. Qindara tak menolak ketika ia tahu dijodohkan dengan Pangeran Elgo karena ia pun tidak memungkiri ketampanan pangeran dari utara itu
=============
si pangeran nyelametin kerajaan lana atw kerajaan agate yang diselametin sebenernya

ceritanya berjalan lama banget. trus tiba2 konfliknya keluar memang sih jadinya bikin kaget dan penasaran tapi mau baca awalnya itu loh bikin boring

sebagai referensi kalo bikin cerita fantasi yang ada dunia sendirinya coba baca opening Lord of the ring, karya Tolkien. makasih

hehehe, saya cuma bisa nyengir, karena saya memang awan banget dalam nulis deskripsi-narasi, tapi makasih lho, sarannya membangun saya. saya juga penasaran dengan opening Lord of The Ring tapi saya nggak punya waktu buat cari di toko buku (jadwal kuliah saya padat dari pagi sampai malam).
kamu tahu nggak link buat download ebook LOTR? makasih ya. ;)

70

oke, cerita ini berakhir di sini, tentu saja tidak, pastinya akan berlanjut. semoga kelanjutannya lebih baik
by the way ada salah tulis tuh kayaknya

================
Puteri Qindara menangis haru. Kini ia harus menjadi panutan seluruh rakyat di negerinya. Ia telah menjadi seorang wanita dewasa yang luar biasa cantik dan baru saja menikah dengan seorang pangeran dari Kerajaan Agate di utara. Sebenarnya ia dijodohkan dengan Pangeran Elgo karena jasanya menyelamatkan Kerajaan Agate dari serangan bangsa Len/, bangsa dari golongan bawah yang selalu memberontak dan membuat onar di Agate. Qindara tak menolak ketika ia tahu dijodohkan dengan Pangeran Elgo karena ia pun tidak memungkiri ketampanan pangeran dari utara itu
=============
si pangeran nyelametin kerajaan lana atw kerajaan agate yang diselametin sebenernya

ceritanya berjalan lama banget. trus tiba2 konfliknya keluar memang sih jadinya bikin kaget dan penasaran tapi mau baca awalnya itu loh bikin boring

sebagai referensi kalo bikin cerita fantasi yang ada dunia sendirinya coba baca opening Lord of the ring, karya Tolkien. makasih