CHAPTER 4: ANIMAL KINGDOM

Duro Yakub, adalah seekor gorilla yang sangat tampan bagi mereka yang memikirkannya dengan seksama. Kuliah di Universitas Hatama menjadi pertanda bagi kecerdasannya yang berkembang dengan baik, mengambil Jurusan Kejuruteraan dengan konsentrasi material. Namun seperti mahasiswa umumnya, ia lebih senang tidur dirumah daripada mengikuti kuliah dipagi hari. Duro lebih muda umurnya dibandingkan Uepai dan Penuko, tapi dengan mudah ia membaur dalam tata-krama, sebuah sifat dominan dalam ras yang turun kepadanya melalui hubungan keluarga.

“oh!!!, Dinosaurus. Tema yang menarik untuk sebuah percakapan sebelum makan siang” kata duro.

Uepai tersenyum, ada harapannya teman gorilla-nya ini dapat memberikan bantuan terhadap masalah yang dialaminya. Tapi sebenarnya percuma, karena duro lebih senang membicarakan hal yang menarik perhatiannya dibanding membicarakan hal yang benar-benar penting untuk diselesaikan, sebuah ketidak mampuan menentukan prioritas dan karena alasan itulah gelarnya sarjananya menunggu hingga semester ke-14.

“ saya sepakat kepadamu mengenai diri pai, apakah hak dari binatang lain untuk menentukan siapa engkau. Coba kau lihat para manusia itu, seenaknya saja menentukan struktur pemerintahan dalam dunia kita sebagai sebuah monarki dan singa menjadi sang raja. Padahal sebenarnya kita dinaungi oleh aliansi sukarela diatas toleransi yang yang irasional. Lihat yudi si singa, menerkam anak rektorku dua hari yang lalu tapi mereka hari ini justru duduk semeja di seminar pemanasan global? Ingatkah kalian noke si penguin, datang dari kutub membawa aspirasi para paus pembunuh ? dan kalian tahu sendiri bagaimana perilaku para paus itu pada penguin?”

Penuko mengangguk penuh pengertian, Uepai diam mencoba mencerna semua kalimat teman barunya itu. Penuko lalu menambahkan persetujuannya.
“ ya, kamu benar. Manusia memang memiliki tabiat yang buruk”

Uepai akhirnya mengerti tema pembicaraan kali ini.
“ tidak seperti itu Nuko” bantah Uepai
“ manusia hanya lambat mengerti dan terlalu cepat yakin. Ingatkah kalian ketika mereka membunuh si tua Galileo?”
“ oh ya, karena sebuah teori yang terbukti benar bukan?” Penuko menjawab sinis.
“ya, tetapi pada dasarnya kini mereka menyadari kesalahan itu. terlepas dari pembantaian yang mereka lakukan pada burung dodo di masa lalu, mereka masih dalam sebuah proses pembelajaran yang sangat panjang.” Uepai menjelaskan.
“cukup panjang untuk membinasakan seluruh bumi “ komentar Penuko sinis.

Sependapat dengan Penuko, Duro pun menambahkan lagi.

“ Pai, coba kau perhatikan kenaikan suhu akhir-akhir ini. coba kau dengarkan keluhan teman-teman kita di artik dan antartika mengenai pemanasan global. Dan coba kau tebak, diantara seluruh penghuni bumi siapakah kira-kira diantara kita yang cukup bodoh untuk memproduksi karbon monoksida berlebih demi tuntutan gaya hidup?”

Uepai terdiam sejenak, memikirkan kalimat apakah kiranya yang tepat untuk kedua sahabatnya yang terpelajar ini. Tak lama kemudian ditemukannya lalu berkata dengan lembut.

“ Duro, Nuko. Seperti kukatakan sebelumnya Manusia itu lambat mengerti, lebih lambat dariku yang buta huruf ini. logika mereka sederhana dan terkadang egois. Mereka pikir hujan di Fiji tak ada hubungannya dengan terik dialaska, sedangkan kau tahu sendiri bumi ini bulat dan satu.oleh karena itu, mereka sibuk dengan urusannya sendiri, domestik maksudnya. Sibuk dan lupa bahwasanya batas-batas teritorial itu hanyalah asumsi kecil dan tak berdaya dihadapan semesta. Mereka masih berusaha untuk menjadi lebih baik, belajar untuk menemukan posisi dirinya dalam semesta yang bertumbuh, dan sebagai sebuah golongan yang yang lebih toleran. seharusnya kalian dan aku bisa menunggu hingga hal itu tiba.”

“ ya, kamu ada betulnya. Tapi tetap saja ada kebencianku terhadap kebodohan mereka itu.” kata duro
Lalu pembicaraan itu ditutup Penuko dengan mengutip sebuah kata bijak.
“ kebencian tak seharusnya mencegah para terpelajar untuk berlaku adil.”
Lalu dilanjutkannya lagi” Aku membacanya disebuah buku, namun sulit untuk benar-benar mengerti maksudnya”

Semuanya terdiam, pelan-pelan mencoba meresapi kalimat itu dengan caranya masing-masing. Penuko termenung, Uepai tertawa dan Duro menerima telepon dengan tangan kanannya.

“ Maaf kawan” kata Duro

“ ada urusanku yang mendadak, sepertinya pembicaraan menyenangkan ini harus diakhiri. Lalu mengenai kaum-mu pai, cobalah kalian pergi keujung Jalan Homedai. Seekor Kuskus tinggal disana, kalau tak salah pernah sekali waktu kudengar ia berbicara mengenai hal ini, lagipula dikota ini dapatlah kau katakan dia punya kebijaksanaan yang berbanding lurus dengan umurnya, walau sebenarnya lebih tepat jika kau mencari Anthony si kukang, hanya sayangnya dia adalah seekor yang Nocturnal”

Uepai dan Penuko merasa bahagia sekaligus sedih. Teman barunya ini telah memberikan bantuan yang cukup berharga, kini seperti koboi ia meninggalkan mereka setelahnya. Uepai lalu memetik setangkai mawar dikebun kucing, menyelipkannya di telinga sahabat barunya sang gorilla. Penuko disana siang itu, dengan mata dikepalanya mecoba menahan air mata sebisanya. Karena ia tahu, tak ada yang tahu pasti apakah mereka akan tetap hidup untuk selalu bertemu, bahkan jika panjang umur, takkan pernah sama perasaan hari ini dengan hari esok.

“ Adios Amigos” ucap Penuko lirih.

Read previous post:  
6
points
(552 words) posted by erul 11 years 25 weeks ago
30
Tags: Cerita | dongeng | bebas
Read next post:  
Writer Nine
Nine at CHAPTER 4: ANIMAL KINGDOM (6 years 24 weeks ago)
100

Bro, keren sekali ceritamu bro!!

Masih banyak itu penulisan EyD mu yang salah, tapi kalau di nilai dari substansi cerita, ini ceritamu keren abisszz broo!! (Y)

Ngomong-ngomong saya dari Kendari. Keren juga bisa ketemu temen sesama kemudianers yang se-provinsi. (Y)

Keep writing!!

Writer casprin
casprin at CHAPTER 4: ANIMAL KINGDOM (11 years 11 weeks ago)
50

menarik juga kalau ternyata para binatang benar-benar mempunyai pikiran seperti itu.....

Writer gilang
gilang at CHAPTER 4: ANIMAL KINGDOM (11 years 25 weeks ago)
100

kira mue doraemon kh kingdom??????????
hhahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha

makkie at CHAPTER 4: ANIMAL KINGDOM (11 years 25 weeks ago)
70

ternyata...dongeng yang penuh dengan kritikan terhadap manusia..jempol..jempol...