DAN YANG TERPATAH

DAN YANG TERPATAH

(Dan senja itu, sisakan perih. Tahukah dia? Betapa berat luka terasa…Aku hanya terisak menatap matanya lekat. Kakak, ini diluar rencanaku. )

Namanya NOE, Pria tampan ketua karate di Kampus. Ditengah kesibukan menyelesaikan skripsi, ia selalu meluangkan waktu untuk menemuiku. Gosip telah beredar, kami adalah pasangan serasi. Yach,aku menyukainya dan dia…aku rasa begitu.
Siang itu angin berjalan aneh sekali, aku merasa sesuatu yang buruk akan menimpaku. Aku terdiam pahami hati, berhubungan dengan apakah? Ku benarkan letak dudukku, dari sekretariat ku lihat Noe berjalan kearahku. Kali ini ia bersama tiga orang kawanya. Noe tak sendirian seperti biasanya.
“Lamakah tuan putri menunggu?”goda Noe sambil duduk disampingku.
“Tentu.” jawabku seadanya.
“Berdosalah saya, membuat bidadari menunggu terlalu lama, bagaimana dapat aku menebusnya…” tambahnya berakting dan aku berpura-pura tak mengidahkanya.
“Bagaimana dengan bumi dan isinya” godanya datar “ataukah nyawa ini….”
“HUSHH!!!” aku memotong perkataanya, aku tidak suka jika ia mengakhiri kalimatnya dengan kematian. Melihat ekspresi wajahku Noe tertawa terbahak begitu juga dengan ketiga kawanya dan detik itu juga tanganku mencubit lengan Noe.
“Mereka?”tanyaku mengarah pada teman-teman Noe sejenak setelah merseka berhenti tertawa.
“Oh iya kenalkan Itu Dimas, Hendra dan…..” Noe diam sejenak dengan mimik wajah seolah berfikir ”dan….Teddy” lanjutnya. Kami saling berjabat tangan dan aku hanya tersenyum.
“Lela Ayu” jawabku.
Angin tadi tiba lagi, jalanya kian tergoppoh dan jantungku kian berdebar tak menyenangkan. Kutatap wajah Noe…sesekali ia tertawa mendengar ocehan temanya dan aku terdiam.Tak tahukah ia?aku merasa terbuang. Noe tak pernah seperti ini terhadapku. Hari telah begitu siang dan dia tak menawariku ke kantin. Ini bukan Noe.
“Aduh! Tamatlah! Bukankah aku harus menemui Dosen Pembimbing sekarang?” teriak Dimas dengan lagak di buat-buat.
“YEACH!!! Itu benar” timpal hendra tak kalah gila. Mereka berdua berdiri, begitu juga dengan Noe.
“Kakak…”panggilku pelan.
“Aku antar mereka, adeku yang manies baek-baek disini yach.” Jawab Noe seakan mengerti aksi protesku. “Pangeran Teddy akan tetap disini bukan? Jangan sampai suatu kejahatan apapun menimpa gadis kecilku. Mengerti?” katanya tersenyum “Ini Perintah!” lanjutnya memasang wajah berkuasa, kemudian tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya untuk Teddy.
“Laksanakan yang Mulia” ujar Teddy sambil membalas kedipan mata itu.
Saat itu juga terasa aroma aneh, menusuk jantungku. Semua seakan sudah teratur sedemikian rupa. Sebersit kesal tiba begitu saja. Dia bukan Noe, Noe tak pernah meninggalkanku seperti ini. Aku tahu akulah yang terpenting dalam hidupnya. Noe…teganya meninggalkan ku dengan pria asing.
“Ke Kantin yuk?” ajak Teddy, membuyarkan lamunanku.
“Nanti aja, bareng Kak Noe.” jawabku malas dan saat itu kudapatkan aura aneh dari tubuhnya, matanya dan sikapnya…..DUG!!! Kutatap wajah Teddy, benarkah ia….tidak ini tidak boleh terjadi. Mungkin aku terlalu percaya diri, tapi hatiku mengatakan Teddy menyukaiku. Kupalingkan wajahku, aku mulai merasa tak nyaman. Aku benci suasana seperti ini. Kakak, tolonglah… tegakah melihatku hampir menangis disini?
Waktu berjalan lambat sekali. Teddy terus saja bercerita. Tak kuhiraukan dia. Aku tak mengerti apa yang ia ceritakan, semua terdengar seperti bahasa planet lain. Ya mungkin dia salah satu umat yang datang dari sana. Mungkin saja aku memang tersesat di Mars. Terakhir yang kutangkap pria itu bertanya “Apa Dek Lela merasa terganggu ?” Aku tak mengacuhkanya, mataku lurus menatap kedepan. Apa aku terlalu kekanakan? Hingga bersikap seperti ini terhadap teman Noe? Entahlah, Kupejamkan mataku dan angin itu kembali tiba mengerang payah berbalut debu.

Kurasakan lain pada belaian angin. Bukan belai kesejukan tetapi tamparan gundah. Kutatap wajah Hendra dan Dimas bergantian. Huhhhh….aku teringat padanya lagi. Lela Ayu. Gadis manis yang aku cintai dan…kurasa dia juga. Aku merasa bersalah membohonginya dan meninggalkanya bersama Teddy. Apa dia akan menangis? Dia mudah sekali menangis, itulah mengapa aku begitu menyukainya.
Gelisah. Aku tak bisa terlalu lama meninggalkanya. Dek Lela Ayu, terlukakah dirinya. Betapa kejam diriku, tak mengacuhkanya. Tak mengajaknya ke kantin padahal hari sudah siang, dia pasti lapar. Bodoh!tentu sekarang Teddy sudah bersamanya di kantin. Tidak. Aku harus kembali.
“Mo kemana?” tanya Hendra ketika aku berdiri dari dudukku, seakan mengerti jalan pikirku hendra berkata lagi. ”Ingat! Jalan terbaik adalah membiarkan Teddy bersamanya. NOE SETYO AJI kau tak boleh menyukainya”
Aku hanya terdiam dan Dimas mengangguk setuju. Ya, Hendra benar aku tak boleh menyukainya. Ku urungkan niatku, kusandarkan tubuhku di sebatang pohon. Hendra menghampiriku kemudian menepuk bahuku, seakan tahu hati ini terjepit luka.
“Ini memang berat, tapi terkadang cinta tak harus memiliki”katanya lirih
“Ya, satu yang harus kau tahu bahkan orang yang kita nikahi belum tentu jodoh kita. Jika jodoh garam di gunung asam di lautan pun akhirnya bertemu juga di belanga.”tambah Dimas. Hendra terdiam mengangguk-angguk mendengar ucapan temanya Dimas, tapi selang detik kemudian ia menatap bodoh wajah Dimas. Ia merasa ada sebuah kejanggalan yang harus di luruskan begitu pikirnya.
“Rasa dirasa ada yang janggal” ujar Hendra.
“Apanya?”Dimas yang ditanya balik bertanya.
“Rasanya”
“Iya rasanya itu apa?”
“Ya, Rasanya itu…rasa janggal!”
“Rasa janggal? Emang tadi kamu makan apaan?”tanya Dimas lagi.
“ Makan apa ya?” pikir Hendra bodoh. “Eh, Garem!”teriaknya tiba-tiba seakan mengingat sesuatu yang penting.
“ Makan Garam?Kamu makanya garam?
“Bukan…kebalik garamnya…”ujar hendra kesal ” GARAMNYA ITU LOOH! Garamnya ITU di laut!Asamnya di GUNUNG..trus KETEMUnya di belanga, itu baru benar!” protesnya.
Dimas melongo, pria yang tidak suka di protes itu, kontan saja menimpali “LHAAH!!! Yang ngomong aku terserah dumk mo garam di gunung dimana-mana juga suka-suka gua !”
Wajah Hendra masih dalam mimik bodoh kemudian lirih terdengar dari mulutnya ”Ya Emang suka –suka kamu lhah emang eyang kamu yang buat pribahasa.” Mendengar itu Dimas hanya menekuk wajahnya kemudian mereka berdua saling berpandangan, bersamaan menatapku dan berpandangan lagi. Aku hanya mematung dan Angin kian membiusku dalam kepedihan.
Bagaimana harus ku katakan pada gadis manis itu, Bagaimana harus kukatakan padanya.
***

Aku adalah mahasiswa yang di incar seluruh mahasiswi kampus. Tentu saja wajah tampan dan tubuh yang atletis membuat mereka bertekuk lutut padaku. Jangan tanyakan cinta padaku. Karena aku hidup hanya untuk mempermainkan wanita. Yak! Membuat mereka menyukaiku kemudian mematahkah hati mereka. Bukankah itu permainan menyenangkan?
Aku SUNARYO TEDDY. Pria tampan yang tak mengenal cinta. Begitu pemikiranku selama bertahun-tahun yang tanpa kuduga semua pemikiran itu harus kubuang jauh. Saat ku dapatkan wajah manis nya.
Ketika itu, siang baru saja melepas hangat jubahnya. Kulangkahkan kakiku cepat menghindari kerumunan pengaggumku. Aku bermaksud mengunjungi klub karate tapi langkah ku terhenti kala mataku menatap seorang hawa di taman kampus. Gadis itu, siapakah gerangan dirinya? Terdiam menatap pohon kakawate yang belum berbunga. Untuk beberapa detik aku tersihir olehnya. Jantungku kurasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Cintakah ini? Ia memang tak secantik Olga atau se sexy Diana, tapi gadis itu…..manis. Terlalu manis.
Sejak itu aku sering mengintainya tanpa ia sadar akan hal itu. Hingga aku tahu semua tentangnya, namanya LELA AYU anak tunggal dari keluarga Hartoyo. Lahir di Kudus tahun 1989 mahasiswa semester 2, dia menghabiskan waktunya dengan menyendiri di taman kampus. Satu berita yang aku benci perihal kedekatanya dengan Noe. Noe ia merampas jabatan yang seharusnya jatuh ketanganku sebagai ketua karate dan sekarang ia menjadi ancaman tentang kelanjutan kisahku.
Tapi ternyata dunia memihaku. Sebuah tragedy yang akhirnya membuat Noe tak bisa bersatu dengan dek Lela ayu calon kekasihku itu. Betapa beruntungnya aku karena tiba-tiba saja saudara sepupuku hamil diluar nikah. Siapa ayahnya? ayah nya adalah kakak Noe.
Memang tak ada hubunganya dengan kerusakan hubungan Noe dan dek Lela manisku. Tapi dengar baik-baik berita terakhir. Andi, kakak Noe meninggal dalam kecelakaan motor seminggu setelah ia mengetahui kekasihnya hamil. Hal ini menjadi rahasia terbesar diantara keluarga kami. Akhirnya Noe harus menggantikan posisi kakaknya. Menikahi wanita yang mengandung bayi kakaknya. Bukankah kisah cinta mereka memang telah berakhir.
Betapa malang nasibnya dan Keberuntungan ada ditanganku. Segera kuatur rencana kutawarkan bantuan pada Noe bagaimana cara untuk membuat Dek lela menjauhinya tanpa sedikitpun terluka. Yaitu membuat Dek Lela menyukaiku. Ide Cermelang! Silahkan beri applaus untuk pria seberuntung aku.
Sekarang aku sedang bersama Dek Lela, aku menceritakan tentang diriku, pengagumku dan kekayaan keluargaku. Aku yakin dia pasti tertarik dengan semua ini. Ya, wanita mana yang tak suka harta, pria tampan dan kekuasaan. Aku punya segalanya. Dek Lela mulai tergoda pikirku. Ia terdiam, mungkin sedang berfikir berapa banyak kekayaan yang akan ia peroleh jika menikah denganku. Aku tahu itu dan aku pura-pura bertanya.
“Apa Dek Lela merasa terganggu?” Tak ada jawaban matanya lurus memandang kedepan. Hah! jual mahal ternyata. Mungkin ia berfikir dengan bersikap seperti itu akan membuatku penasaran terhadapnya. Ya, aku suka gadis seperti ini. Tunggulah saatnya, waktu akan tunjukan akulah pria yang namanya tercantum dalam undangan pernikahan nya

***
Malam kedua belas dimana Noe tak pernah menghubungiku lagi. Kutatap wajahku di cermin, aku benci pada diriku sendiri. Aku mulai sangsi apa Noe juga menyukaiku. Pernah suatu hari kami bertemu tapi dia tak mengacuhkanku. Aku sudah tak tahan dengan semua ini. Ku raih ponselku tapi kemudian ku letakan kembali. Tidak bisa dihubungi, dia sengaja menjauhiku.
Ponsel ku berdering. Kak Noe kah? Bukan tapi Teddy.
“Halo”
“Malam Dek Lela…keluar yuk. Ni kak Teddy dah di depan rumah.”
Kusingkap tirai jendela kamarku. Dibawah kulihat Teddy melambaikan tanganya kearahku. Segera kututup tirai kembali tanpa membalas lambaianya. Akhir-akhir ini aku sering keluar dengan Teddy. Apa itu masalahnya? Ya mungkin saja Noe menjauh karna itu. Atau mungkin … ku buang pikirku yang terakhir. Aku yakin Noe menyukaiku. Tapi benarkah? Ragu.
Aku kembali ke depan cermin, disana ketemukan sebuah wajah tenggelam dalam tangis. Segera kupanggil Mbok Nah, ku katakan malam ini aku kurang sehat jadi tidak dapat menemui Teddy. Mbok Nah segera kebawah, beberapa saat kemudian ia kembali.
“Anu mbak Lela, itu…katanya gak papa lah yang penting besok mbak mau ikut ke pernikahan saudaranya.”
Aku tak merespon apapun, langsung saja kututup pintu kamarku. Kepernikahan? Besuk? Tidak! Aku punya rencana sendiri. Besuk aku ingin menemui Noe di klub karate. Bukankah dia selalu hadir latihan? Aku harus selalu disisinya. Selalu bersama Noe, itu rencanaku.
***

Tidak ada. Tak kutemukan parasnya. Klub Karate, Taman, Sekretariat, Perpustakaan dan semua tempat dikampus sudah ku datangi. Percuma! Tak ada Noe. Dimanakah Noe? Aku teringat saat saat bersamanya. Kekantin, menemaninya latihan, Pulang bersama, menghabiskan waktu berdua. Terlalu indah. Kulihat keatas. Kakawate…Noe suka sekali bunga itu.
“Kapan berbunga?”dulu aku bertanya seperti itu.
“Akhir juli.” Katanya.
“Apa bagusnya?”tanyaku lagi.
“Tidak ada. Tapi aku suka.”
“Kenapa suka?”
“Entahlah”jawabnya tersenyum. “Kalau berbunga kakak ingin melihatnya sama dek Lela.” Lanjutnya dan aku hanya tersipu.
Juli telah berakhir tapi kakawate belum juga berbunga. Kulangkahkan kakiku pulang dan kulihat pink diantara hijau daun kakawate.
“Berbunga!”teriaku lirih. Tapi baru sedikit,pikirku. Aku harus menemui Noe. Paling tidak ini bisa jadi alasan. Tunggu. Apa tidak memalukan? Childish. Hanya masalah bunga.
“HAI!!!” sebuah suara mengagetkanku, aku tersentak. Dua wanita cantik yang tak kukenal namanya, biarpun kami sering satu kelas. Aku tersenyum.“Sendirian? Tidak bersama Noe?”lanjutnya menggoda, sambil tersenyum hingga mata sipitnya membentuk garis lurus.
“Hush! Gosipnya sekarang ma Teddy, benarkan?” timpal temanya sambil mengibaskan rambut lurusnya, aku ingin menjelaskan hal sebenarnya tapi mereka terus saja berbicara. Cerewet sekali, pikirku.
“Wah beruntung ya, yang suka cowok-cowok cakep padahal wajah pas-pasan” guraunya. “Pilih yang mana, Noe pa Teddy?” lanjutnya.
“Ya, Teddy lah! Noe kan sudah menikah? Kata cewek berambut lurus.
“APAA???”
SHOCK!!! Aku shock! Tidak mungkin. NoE… TIDAK!!! Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku, ku lihat mereka dan sebelum aku mengekspresikan keterkejutanku. Si sipit mendahuluiku.
“APA??!!! Menikah? Yang bener aja?”
”Ya gak taulah, kan Gosip kabarnya lagi pengantin wanitanya hamil 5 bulan.”
“HAH?!!Hamil? Beneran?”
“Nah, katanya lagi……bla….bla…bla…”
Tidak percaya! tubuhku lemas. Bagaimana mungkin berita terburuk dapat menimpa Noe. Tidak mungkin. Ku tinggalkan dua makhluk cantik yang menakutkan itu, mereka terus saja berdebat tanpa tahu kepergianku. Aku tak dapat berfikir lagi,setengah jiwaku seakan hilang. Aku tidak percaya ini tapi berita itu membuatku tak dapat melakukan apapun. Aku benar-benar tak tahu harus bertindak bagaimana, haruskah aku terdiam dan duduk lemas disini.
Entah sudah berapa lama, hari telah senja segera aku memasuki mobil dan berfikir pulang. Pelan kujalankan mobilku tapi kemudian aku berbalik arah menuju rumah Noe.
Sesampinya disana, aku keluar dari mobil segera. Hatiku berdegup kencang. Banyak bunga… Tidak seperti biasanya. Janur kuning dan alunan gending jawa. Ada tamu dan ada Teddy disana. Ia berusaha menghampiriku dan aku menghindar. Heran… Sedang apa dia disini?
Ini rumah Noe, pria yang aku sukai. Nampaknya pesta telah usai. Lambat kulangkahkan kakiku dan kutemukan paras Noe dihadapanku. Aku tidak tahu kenapa tersenyum melihatnya. Ia tampak begitu tampan, senja itu. Mungkin karena pakaianya, aku tak pernah melihatnya berpakaian seperti itu. Noe tampan sekali, pikirku.
“Dari tadi pagi aku mencari kakak, ternyata disini” ujarku lirih dan tersenyum. Dadaku sesak, aku ingin sekali menangis. Noe terdiam menatapku lekat dan aku mencoba menahan tangisku. “Kakak tahu, bunganya…”
Tes! Air mataku jatuh, aku tak dapat menahanya, dengan terisak aku melanjutkan perkataanku “Sudah berbunga, kakak berjanji melihatnya denganku…” Aku masih mencoba menahan isak tangis ku. Beberapa tamu menatap kami heran. Dan Noe masih menatapku lekat, ku lihat kaca luka dimatanya. Ia menangis, Noe pria yang selama ini aku sukai menangis di hari pernikahanya. Ia…menikah.
Kupalingkan wajahku, seorang wanita dengan perut besarnya menatap kami gundah, kemudian mendekat.
“Noe…”panggilnya cemas, Noe bungkam.

Ku perhatikan wajahnya. HIK! Aku menangis lagi. Inikah sebabnya kenapa Noe menjauhiku. Wanita itu?Apa bagusnya wanita seperti itu! Bodoh! dilihat dari manapun aku lebih cantik dari dia. Noe Bodoh! Bahkan ia tak mengucapkan sepatah kata untuku.. Pecundang! Aku benci Noe.
“Aku benci kakak” kataku pada Noe.
“Kakak juga.”katanya. ” Benci dek Lela yang manja dan kekanakan, cengeng dan tak bisa berbuat apa-apa” lanjutnya. Aku terkejut Noe tak penah sekasar itu terhadapku.“Kakak gak pernah suka dek Lela, tapi dek Lela ke-GR an. Merepotkan!. Cewek Jelek tapi sok Cantik” katanya lagi. Aku menatapnya benci dan segera kuraih pisau buah diatas meja dan mengarahkanya ke dada Noe. Noe terkejut. Semua orang histeris. Aku benar-benar akan membunuhnya. Ada Teddy mendekat.
“Aku juga sudah berbaik hati, mengenalkan Teddy, apa itu kurang?” lanjutnya. Hatiku memanas, dia bukan Noe. Teddy membujuku untuk meletakan pisauku dan beberapa orang masih histeris. Tak kuhiraukan.
“Aku bisa berbuat sesuatu yang kakak tidak bisa melakukanya.”kataku lirih. “Katakan kakak menyukaiku” lanjutku.
“Tidak..”jawabnya dengan ekspresi yang tak dapat ku pahami. Ku arahkan ujung mata pisau lebih dekat kedadanya. “Noe… kamu akan menyesal” bisiku dan JREEBBB!!! Darah…
Kulihat darah mengalir ketanganku…. Semua berteriak histeris kemudian hening. Dan aku…menangis, aku takut… dan kemudian terjatuh setelah menusukan pisau ke jantungku sendiri. Hanya teriakan Noe memanggil namaku jelas masih terdengar, untuk terakhir kalinya aku ingin Noe mengatakan suka padaku. Tapi hanya kudapat tangisnya.
Dan yang terpatah… tahukah Noe, aku yang terpatah. Lalu bagaimana denganya. Tak ada jawab… bahkan angin tak menyapaku senja ini, hanya airmata Noe yang terus jatuh di pipiku. Aku yakin Tuhan akan menghukumku. Nafas ku kian sesak dan lambat laun semua menjadi gelap. Aku tak dapat melihat apapun kecuali tubuhku yang terbujur kaku. Tuhan… akankah Kau menghukumku?
***

Ada aroma mawar yang pekat menusuk hidungku. Aku ingin muntah. Ku tutup hidungku, ada bunga kecil merah muda jatuh bergerombolan… semakin lama semakin banyak… anyir… ini bukan wangi mawar… Aku tak suka wangi ini. Aku berusaha menghindari wangi ini tapi ku dengar teriakan Noe…
“De’ Lela suka wangi ini?” begitu samar kudengar. “Lihatlah ini bunga yang cantik.” Semakin jelas tapi tak ku temukan sosoknya. Aku terjebak di ruang putih penuh kabut. Dan beberapa menit setelah aku kebingungan, ku lihat tubuh seorang gadis terbujur kaku di ranjang. Pucatt… dan mirip denganku. Banyak bunga kecil merah muda bertebaran di sana. “De’ Lela tak ingin melihat bunganya?”aku mendengar suara Noe lagi dan sekejab ia berada di samping gadis itu.
“Noe…aku disini…” panggilku tapi ia tak mendengarnya. “Noe…”aku mendekat dan mnyentuh tanganya. Ia tersentak begitupun aku. Ia melihat kearahku tapi seprti tak melihatku. Aku menyentuhnya lagi.. dan sadarlah aku. Aku tak dapat menyentuhnya. Kakiku tak menyentuh tanah. Dan….
Kreeekk… Itu suara pintu terbuka.
Suara pintu terbuka. Aku melihat pintu dan sebuah ruangan yang tiba-tiba muncul seperti sebelumnya. Seorang pria berpakaian putih masuk dari sana… berjalan beberapa meter menghampiri Noe.
“ Ini kakawate,” katanya pada pria itu. Pria itu tersenyum beberapa saat memeriksaku dan berkata,
“Koma”
Angin berhembus… dan Noe masih memainkan bunga-bunga itu di wajahku. “Kakak suka dek Lela..” bisiknya parau. Suaranya kembali terdengar sayup… Kuperhatikan air mata yang meleleh dipipinya. Tak kudengar lagi bisiknya dan ruang aneh itu nampak semakin samar… semua mengecil…samar dan hilang. Tinggal putih dan hembusan dingin angin. Terlambat Noe….
Dan belai angin kembali berhembus, seakan lirih bertanya, Dan yang terpatah, siapakah…Bisu.. Tak ada suara lagi terdengar. Aku…. dan ruang aneh ini membisu. Noe…. Apa kau juga terpatah….sepertiku….Yang kutahu ini tak sesuai dengan rencanaku… Aku yang terpatah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sutidjah
sutidjah at DAN YANG TERPATAH (12 years 13 weeks ago)
100

Pamer kekayaan?
Pamer yang lain aja bos!!

Writer me_everywhere
me_everywhere at DAN YANG TERPATAH (12 years 13 weeks ago)
60

Kalau tokohnya tidak terlalu stereotip mungkin cerita ini akan lebih menarik. Kalau dirapikan seidkit, bagian komedi di tengahnya itu juga sebetulnya bisa jadi lebih lucu.
Salam. :)