calamus

Selamat datang di pantai plastik. Nikmati liburan Anda, renang bersama kemasan-kemasan minuman botol. Pikirku sinis. Tidak terpikir olehku, dulu, di satu malam aku pernah membenamkan kakiku ke dalam pasir dingin pantai ini.

Saat itu aku masih menggenggam tangannya. Muka kami memang sudah beraroma garam, tapi kami bisa bertahan sampai matari terbit. Dan terus mengenggam tangan sampai baterai MP3-ku habis meski yang kami dengar hanya playlist pantai yang aku rangkai.

Belum terlalu lama, sekitar sepuluh tahun lalu. Tapi sejak aku dan dia terpisah tujuh tahun, aku tidak berani datang lagi ke pantai ini. Aku memutuskan untuk pindah ke sebuah desa nelayan di mana setiap pagi bisa kupandang matari muncul dari laut yang emas dari jendelaku.

Ya, aku memang pindah ke pantai, tapi bukan pantai ini. Walau sebenarnya aku memutuskan untuk pindah ke desa nelayan itu untuk sekadar membingkai kenanganku akan pantai ini. Karena sejujurnya, tidak ada tempat di dunia ini yang ingin kukunjungi selain tempat ini.

Menemuinya.

Namanya Daning. Kami bertemu ketika kata-kata kami berpaut saling memagut di situs pertemanan. Baru kali itu aku begitu terpesona pada seorang gadis karena tutur kata yang muncul hanya lewat layar monitor.

Kami bertemu di pantai itu beberapa kali sambil menyeruput bergelas-gelas Cointreau dan terus bertukar kata di email sampai satu hari dia menulis:

Aku lelah menunggu.
Aku ingin menjadi aroma di setiap nafas yang kau hela.
Aku ingin kau membawaku pergi.

Tiga kalimat singkat yang dia tulis lewat email itu menyadarkan aku bahwa aku tidak perlu menunggu terlalu lama lagi, karena permainan menunggu itu memang mengikis kesabaranku juga.

Di sebuah klab penuh asap, semua bergerak dengan lambat. Bahkan lagu dengan BPM 140 terdengar seperti Svefn-G-Englar di kupingku.

Sejak itu setiap aku menghela nafas, aku hanya mencium Calamus yang langsung menusuk syaraf relaksasi dan membuatku merasa seluruh sudut di dunia ini adalah tempat yang nyaman.

Klab yang penuh dengan orang dan keringat tua terasa lega buatku. Aku mengecup matanya yang langsung terpejam. Lalu merengkuh tubuhnya, bersatu dengan tubuhku.

Tapi tiga tahun kemudian kami harus berpisah. Karena semua terlalu indah dan selalu ada bagian dari cinta yang tidak bisa dimengerti. Calamus ternyata tidak bisa sepenuhnya menggantikan 02. Bahkan ketika paru-paruku dipenuhi cintaku pada Daning. Aku menjadi sesak.

Aku rasa dia juga merasakan itu.

Kalau dada kami sedang sesak, kami hanya ingin saling menyakiti. Aku akan berteriak kata-kata yang memekakan telinganya dan dia akan membalasnya dengan menyingkap segala kekuranganku.

Kami memutuskan, kalau kami memang bisa bersama lagi, kami akan datang ke pantai ini di hari yang tidak ditentukan.

Hari ini aku datang. Tidak ada Daning. Hanya plastik berserak, seperti hatiku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Syair_putih_ahbian
Syair_putih_ahbian at calamus (11 years 5 weeks ago)

Slm kenal
. . .
aksaraku. . .

Writer adrian.achyar
adrian.achyar at calamus (11 years 40 weeks ago)
70

Dah lama ga baca cerita elo bro, dan ciri khas elo masih berasa kok. Seneng baca cerita elo lagi :)

Writer noir
noir at calamus (11 years 40 weeks ago)
70

Kangeeeen ceritanya Om Edo nih.
Tapi rasanya cerita ini kurang menggigit. Masih khas Edo tapi di mana rasa yang biasanya mengalir begitu dalam itu? Anyway, senang membaca ceritamu lagi ^^

Writer sutidjah
sutidjah at calamus (11 years 41 weeks ago)
100

Penantian

Writer Rijon
Rijon at calamus (11 years 41 weeks ago)
80

NICE. Cara pemaparanmu sudah cukup rapi.
Mungkin yang kamu perlukan adalah kematangan konsep. Sebaiknya kalau ada ide cerita (prosa) diendapkan dulu (atau dibikin kerangka dulu), kalau menurut kamu sudah benar-benar matang baru disajikan.
Salam. Mampir ya.