Guru Tercinta Guru Tertindas

"Maafin bapak ya kemarin. Karena bapak sudah marahin kamu. Lain kali kamu jangan melakukan hal itu lagi ya." Bisikku kepada Michael, seraya menepuk bahunya dua kali waktu aku menemukannya sedang berjalan sendirian ke kantin. Iapun tersenyum dan memaafkanku.

Namaku adalah Fernando Gianto S.Pd. Umurku masih dua puluh lima tahun. Seperti baru saja kemarin aku mendapatkan sarjana ilmu pendidikan dalam bidang matematika. Ya, aku adalah seorang guru matematika yang sudah mendapatkan pekerjaan di sekolah SMA negeri 73 yang hampir setahun.

Boleh aku deskripsikan sedikit rasanya pertama kali mengajar di dunia nyata.
Hmm... Rasanya, senang dan bahagia. Itu sudah pasti. Karena menjadi seorang guru adalah cita - citaku. Apalagi dengan kelakuan mereka semua yang manis - manis. Itu membuatku menjadi semangat untuk mengajari mereka. Ya, itu hanya untuk pertama kali. Hahaha... Aku kan juga pernah SMA. Masa - masa perkenalan itu berlangsung cepat, dan anak - anak akan menjadi diri mereka sendiri yang liar jika tak ada pengendalian yang pas. Itu menyebalkan.

14 Febuari 2009. Aku sebutkan saja contohnya pada tanggal tersebut.Waktu itu aku bersama salah seorang anak muridku, Tiana dalam kantor. Ia adalah ketua kelas dari sebelas ipa. Aku juga adalah wali mereka. kelas Saat itu sedang ada acara menghias kelas dengan tema cinta dan perdamaian.

"Bagaimana Tiana? Sudah selesai membuat ide hiasanya bersama teman - temanmu?" Tanyaku.

"Tentu saja sudah pak. Tapi kami butuh bantuan bapak." Jawabnya. Aku senang kalau anakku meminta bantuan kepadaku.

"Bantuannya seperti apa?"

"Langsung saja ya pak. Kami butuh dua juta rupiah untuk mengecat ulang tembok kelas, membeli papan tulis baru, jam baru, gorden baru...."

"Apa?! Mengapa sampai sebanyak itu?! Memangnya uang kas kalian tak cukup banyak untuk membeli hal yang sederhana saja, ketimbang mewah - mewah seperti itu?!"

"Sudahlah... Kami tahu kalau uang sedikit seperti itu tak jadi masalah untuk bapak." Darimana mereka tahu kalau aku termasuk orang yang sangat berkecukupan yah?! Oh tidak! Sewaktu masa - masa perkenalan, aku telah menyebutkan pekerjaan orang tuaku. "Kami hanya melakukan yang terbaik yang kami bisa pak. Boleh yah..." Akhirnya aku pasrah.

"Baiklah kalau begitu. Bapak akan membantu dana kalian."

"Bapak akan membantu dana kalian." Itu adalah kata - kata yang paling aku benci. Kata - kata yang membuat situasiku menjadi tambah kacau. Waktu itu memang kelasku menang dengan hiasan penuh dengan penghijauan dan barang - barang baru. Tapi ternyata aku telah di bohongi. Hanya satu juta yang mereka butuhkan, sisanya aku sudah tak peduli lagi. Aku benar - benar kebingungan. Aku seperti melupakan semua yang sudah diajarkan sewaktu aku masih kuliah. Mengapa aku tak mengikuti ajakan orang tuaku untuk menjadi doktor seperti mereka? Oh Tuhan... Bantu aku.

...
...
...

(Bersambung)

Read previous post:  
Read next post:  
Writer elqorni
elqorni at Guru Tercinta Guru Tertindas (10 years 47 weeks ago)

lurus..dan terus semangat untuk melanjutkan ceritanya

Writer mid.cool
mid.cool at Guru Tercinta Guru Tertindas (11 years 2 days ago)
70

Mmm. Apa yah hubungan paragraf pertama dengan cerita selanjutnya??
Apa untuk menjelaskan bahwa cerita itu flashback??
Hemmm,

Writer antonsuryadi
antonsuryadi at Guru Tercinta Guru Tertindas (11 years 2 days ago)

mungkin hahaha

Writer sutidjah
sutidjah at Guru Tercinta Guru Tertindas (11 years 6 days ago)
100

Hidup guru gaul

Writer neeyachan
neeyachan at Guru Tercinta Guru Tertindas (11 years 1 week ago)

wah bersambung..

Writer antonsuryadi
antonsuryadi at Guru Tercinta Guru Tertindas (11 years 1 week ago)
100

@pak rijon : maksud ambigu tu spt ap yh? sya gx ngerti. hehe.. dan tuk tokoh aku? sya gx ngerti jg. Dan ksh tw dnks, tnda bca yg slah yg mna? lalu susunan yg kurang korelatif tu spt ap y? maaf, sya bnr2 gx tw. tp pngen tw. makasi..
Tuk yg lainy makasi tas komen-ny. kamu yg di bwah sya, ksh skor dnks. ΛΛ

Writer Rijon
Rijon at Guru Tercinta Guru Tertindas (11 years 1 week ago)

Saya cuma bisa jawab:
Banyak-banyak baca novel/cerpen dari "penulis bagus". Mungkin, kalau mau murahnya, baca aja cerpen-cerpen di KOMPAS, Suara Merdeka, atau koran minggu lainnya. Pelajari cara mereka memaparkan. Menulis. Menyajikan.

Writer antonsuryadi
antonsuryadi at Guru Tercinta Guru Tertindas (11 years 2 days ago)

malesss banget... hehehehe... tapi tengkyu yohh..

Writer eraindrop
eraindrop at Guru Tercinta Guru Tertindas (11 years 1 week ago)

salam kenal nih.. anggota baru..
wow.. cerita yang menarik... sangat mudah diikuti dan percakapannya terasa sekali, seakan - akan aku mendengar sendiri percakapan itu.

sayang nya bersambung ya cerita nya?
*cerita yang bagian atas belum selesai dan rasanya janggal kalau dibawa ke cerita lain tanpa ada dijelasin maksud sepenggal paragraf pertama (cuma saran)
hehe..

Writer Rijon
Rijon at Guru Tercinta Guru Tertindas (11 years 1 week ago)
60

# Kalimat ini kurasa ambigu kalau dikaitkan dengan kalimat sebelumnya:

Quote:
Aku sungguh tak biasa.

Yang janggal itu bukannya tindakannya/perkataannya si tokoh "aku" kan? Bukan "aku" (tokohny) sendiri, kan?
# Kurasa penulisan kata ulang yang benar itu begini:
manis-manis
cita-citaku
# Perhatikan lagi tanda bacanya ya.
# Perhatikan juga komposisi kata dan logika kalimat yang kamu bangun. Masih ada susunan kalimat yang kurasa kurang korelatif dalam paragraf.
Salam.