Gadis Itu Bernama Jingga (Part 2)

Ini hanya mimpi tapi jika ini Kenyataan haruskah kuterima bahwa gadis yang mulai mengusik hati ku seorang pelacur, langkahku pelan menyusuri lorong-lorong yang kulalui saat mengikuti jingga, namun kali ini dengan perasaan yang bercampur.

Begitu sampai di parkiran aku terdiam sejenak inikah jawaban dari Jingga atas jawabanku tadi, kucoba menutup mata dan sedikit mengambil napas saat kaca mobilku di ketuk dari luar, dan betapa kagetnya aku saat melihat Jingga sedang menunggu dengan cemas ,

” Apa yang kau lakukan di sini?”

tanpa banyak bicara Jingga menarikku masuk kedalam mobil dan memintaku untuk pergi dari sini,aku menuruti permintaannya , terselip rasa senang saat gadis yang kupuja itu ada di sampingku.

Dia masih diam sambil mengatur nafasnya, ada kecemasan yang kutangkap, tapi tidak akan kutanya nanti saja saat dia sudah tenang, cukup lama kami berdua diam, saat dia memintaku untuk menyembunyikan dia dari kejaran orang-orang yang akan menjualnya.

Aku terperanjat dengan kalimat yang keluar mulutnya, dengan kecepatan yang stabil ku lajukan mobil menerobos malam yang telah ramai berpacu dengan waktu di antara kebingungan atas apa yang terjadi, kupalingkan wajah ku saat melihat Jingga terlelap .

Kuputuskan membawanya kerumah karena di sana akan aman, aku tahu mungkin tetangga akan bertanya sapa Jingga tapi semua itu akan ku urus setidaknya dia tidak takut lagi akan sesuatu yang telah mengejarnya . “Jingga bangun sudah sampai” wajahnya tampak kusut mungkin kelelahan akibat perjalanan tadi
“di mana ini?”

“ini rumahku, kamu tidak usah takut”

Dengan langkah yang gontai dia masuk ke dalam rumah , rumah yang ku beli dengan kerja kerasku

Aku menuju ke dapur dan mengambilkan minum untuknya “minumlah, pasti kamu haus?”
Setelah dia minum, ku tawari untuk makan tapi dia masih canggung .

“ikutlah denganku kamu akan tidur di kamar tamu, jangan takut karena aku tidak akan berbuat macam-macam percayalah”

Jingga mengikuti dari belakang pintu kamar itu kubuka dan mempersilahkan jingga masuk aku melihat dia sudah bisa beradaptasi .

“Kalau perlu sesuatu aku ada di kamar sebelah, jangan lupa pintu kamar kamu kunci”
“Iya, terima kasih atas pertolongannya”

Obrolan kecil itupun berhenti ku putuskan untuk mandi dan beristirahat di tempat tidur sambil membayangkan apa yang terjadi tadi sore saat Jingga ikut denganku. Aku tidak sadar bahwa mata ini butuh istirahat saat rasa ngantuk menyerang aku tertidur dengan pulas.

“ Pagi, maaf sarapan hanya ala kadarnya, ini ungkapan rasa terima kasih atas pertolongan kemarin”
Pagi ini terasa beda karena ada Jingga dan dia menyiapkan sarapan buatku, Seandainya aku bisa meraihmu maka tak akan kulepas
“ ok, kamu jangan sungkan ya anggap rumah sendiri kebetulan yang tinggal di sini cuma aku sendiri”
Jingga terperanjat mendengar penjelasan dari aku, mimik mukanya sempat berubah seperti takut.

“kamu tidak perlu takut, aku tidak akan berbuat macam-macam” kucoba meyakinkan dia, Jingga gadis bermata indah itu yang kukagumi ada di depanku dengan rambut yang terurai entah pagi ini apakah senyum akan terpancar dari wajah manisnya.

Dia melangkah meninggalkan meja makan dengan sedikit keraguan dan tanpa tolehan kakinya melangkah ke kamar , Jingga adakah sedikit ruang yang dapat kumasuki hanya untuk mendengar keluh kesahmu saat engkau menunggu hujan, dan ketika kamu datang meminta tolong ada apa Jingga?

“Maafkan atas sikapku tadi”

“Tidak masalah, mungkin kamu agak risih karena di rumah ini ada aku dan kamu “

Jingga menganggukkan kepalanya, dia tersenyum kecil dan sangat manis tak pernah kulihat Jingga semanis itu. Saat suasana mencair kuberanikan diri bertanya tentang masalahnya, mungkin bukan waktu yang tepat, tapi rasa penasaran muncul dengan sendirinya.

“Jingga, mengapa kamu selalu menunggu hujan di saat senja?”

Wajahnya berpaling dan sekarang mata kami beradu pandang entah mengapa isyarat matanya dapat kutangkap bahwa hujan telah menorehkan kisah yang begitu dalam buatnya, dan senja hanya menemani kesepiannya dalam waktu yang sangat panjang .

“Hujan, dulu sangat kukagumi saat dia turun ku ucapkan permintaan dan mengadu padanya , banyak hal yang telah kuceritakan pada hujan, senja jadi teman yang paling setia buatku.”

“Lalu mengapa kamu menunggu dia dengan begitu sabar ?”

“Hujan membawa pesan terakhirku buat seseorang yang sangat kuharapkan datang untuk membawa diriku menjauh dari dunia yang akan kumasuki. Dunia yang mengubah banyak wanita menjadi hina di mata sebagian orang , tapi tahukah mereka bahwa apa yang dilakukan para wanita itu tuntutan dari hidup dan takdir.”

Mata Jingga mulai berkaca-kaca menceritakan yang dia alami, ternyata pikiranku saat itu salah Jinggaku bukan wanita penghibur, dia adalah gadis manis yang setia menanti hujan menyampaikan balasan akan pesan yang dia titipkan padanya, namuh hujan tak pernah datang untuk Jingga.

(Bersambung)

Read previous post:  
45
points
(605 words) posted by iin_blue_girlz 10 years 24 weeks ago
64.2857
Tags: Cerita | kehidupan | cerita | pertama
Read next post:  
100

baguuss >.<

Mkasih

Writer anggra_t
anggra_t at Gadis Itu Bernama Jingga (Part 2) (10 years 24 weeks ago)
80

masih ada sedikit tanda baca yang salah, tapi yang penting mataku tak pusing. hehehe..
lanjut!

heheheheh...maih perlu banyak belajar maksih

80

bagusm tapi kurang panjang ceritanya.