Rei

Aku Rei. Nama lengkapku Reiza Zulfikar Sidiq. Umurku 9 tahun. Aku sekarang kelas 4 SD. Aku tinggal berempat bersama Mama, Mbok Rah dan Mang Jalum. Aku belum pernah bertemu dengan ayahku. Ah, aku tidak akan pernah bertemu dengannya. Papa meninggal saat aku masih ada di perut Mama. Kata Mama, Papa kecelakaan gara-gara ingin cepat melihatku. Papa bodoh. Mama bilang begitu.

Tapi Mama selalu bercerita tentang Papa padaku. Aku bisa mengingat wajah Papa walaupun aku tidak pernah bertemu langsung. Mama punya banyak sekali foto Papa. Satu foto yang aku suka, foto saat Papa sedang mengelusku yang masih ada di perut Mama. Aku masih bisa merasakan hangatnya tangan Papa sampai sekarang.

Kata Mama, Papa cowok paling ganteng sedunia. Nanti kalau sudah besar, Mama bilang aku akan jadi saingan Papa. Mata Papa yang berwarna biru dalam diturunkan padaku. Walaupun bentuk mataku sama dengan Mama, kata Mama pandanganku ‘tajam’, seperti pandangan Papa. Waktu aku tanya ‘tajam’ itu apa, Mama malah bengong terus akhirnya malah jawab ‘pokonya ganteng!’ sambil nyengir. Mama memang suka aneh. Membuat jenis-jenis ‘pandangan’ sendiri. Hangat, dingin, dan masih banyak lagi. Dasar Mama.

Aku sayang Papa. Sayang sekali. Dari cerita-cerita Mama, aku tau kalau Papa juga begitu menyayangiku. Papa selalu mengelusku, mengajakku bicara walau aku belum bisa menjawab, membacakan surat Al-Qur’an untukku... Walau aku belum ada di dunia, Papa sudah sebegitu sayangnya padaku. Kalau Papa masih ada sampai sekarang, pasti Papa lebih sayang lagi. Dan aku, Mama dan Papa, akan sangat sangat sangat bahagia.

Ah, sekarang pun aku sudah bahagia. Mama sangat sayang padaku. Aku juga sangat sangat sayang pada Mama. Mama selalu menjagaku. Mama memang tidak selalu memberi mainan yang aku minta, tapi Mama selalu memberi kejutan lain yang lebih menyenangkan. Mama selalu mendukungku. Saat aku dapat nilai bagus, ataupun nilai jelek.

Saat aku ingin belajar karate seperti yang aku lihat di TV, Mama mendukungku. Mama mengajakku ke tempat latihan karate, menungguku saat latihan pertama, mengobati lukaku setelah jatuh saat latihan... Sampai pernah Mama memarahiku dan melarangku ikut karate karena aku terkilir, hampir patah tangan. Tapi aku tidak mau berhenti. Aku mau jadi jago karate. Aku ingin bisa melindungi Mama. Aku ingin bisa menggantikan posisi Papa untuk menjaga Mama. Maaf ya Ma, Mama jadi harus selalu siap dengan kotak P3K saat aku pulang latihan karate.

Walau aku sudah jago karate, entah kenapa aku masih takut kalau malam-malam hujan deras dan banyak petir. Aku selalu berakhir mengetuk pintu kamar Mama sambil membawa selimutku. Menangis juga. Ah, aku payah. Tapi sungguh, aku sangat takut pada suara petir saat malam. Suara itu seperti hentakan kaki raksasa yang mau memakanku. Untunglah Mama selalu membukakan pintu untukku, lalu menggendongku walau aku pun tau aku sudah berat.

Pernah suatu malam, turun hujan deras sekali. Banyak suara petir. Aku berusaha untuk berani, tapi aku tidak bisa. Tengah malam aku mengetuk pintu kamar Mama. Mama langsung membukanya. Ia tersenyum lalu menggendongku untuk tidur dengannya. Mama lalu bercerita tentang Papa, cerita yang paling aku suka sebelum tidur. Daripada dongeng, aku lebih suka Mama bercerita tentang Papa.

Saat itu, Mama cerita saat pertama kali Mama dan Papa merayakan ‘hari pernikahan’. Kata Mama, hari pernikahan adalah hari pada tanggal yang sama saat mereka menikah. Tepat satu tahun setelah menikah, Papa menyanyikan sebuah lagu untuk Mama sambil memainkan piano. Judulnya ‘Lagu Rindu’. Aku tidak pernah mendengar lagu itu di TV. Kata Mama, itu lagu yang Mama suka, lagu sekitar dua puluh tahun yang lalu. Haaah... Aku belum ada di perut Mama saat itu. Saat aku minta Mama untuk menyanyikannya, Mama bilang sudah lupa karena sudah 10 tahun tidak ada yang menyanyikannya untuk Mama. Sudah 10 tahun Papa tidak menyanyikannya untuk Mama.

Mata Mama berkaca-kaca saat mengatakan itu. Ah, Mama, jangan menangis. Aku tidak ingin melihat Mama menangis. Mama harus selalu merasa senang. Mama tidak boleh merasa sedih. Papa pasti marah kalau aku membiarkan Mama merasa sedih. Aku pun segera memeluk Mama, menguatkan Mama. Tenang Ma, aku akan jadi Papa untuk Mama.

Aku tidak tau Mama masih ingat atau tidak percakapan kita malam itu. Tapi aku masih ingat. Dan aku ingin menggantikan posisi Papa tahun ini. Mama menyimpan satu undangan pernikahannya di album pernikahan. Aku pernah melihatnya. Aku kembali mengobrak-abrik album foto. Untunglah aku menemukannya. Aku melihat tanggal yang tertulis. 20 November 2006. Haaah... Itu tepat 20 tahun yang lalu.. Lama sekali... Dan sekarang sudah bulan Oktober, hari pernikahannya akan datang beberapa minggu lagi.

Aku mencari data lagu itu di komputer rumah. Aku harap Mama menyimpannya di suatu tempat. Ah, untunglah ada. Aku mencoba memutarnya saat Mama tidak ada. Hmm...

'Bintang malam, katakan padanya. Aku ingin melukis sinarmu di hatinya.'

Wah, lagunya aneh. Tidak seperti lagu-lagu sekarang yang suka muncul di TV. Tapi bagus. Liriknya tidak begitu banyak, bisa aku hapalkan dengan mudah. Aku segera meng-copy data lagu itu ke dalam i-pod ku. Oke, selesai. Semoga Mama tidak tau. Sekarang, aku harus belajar bermain piano. Bagaimana caranya? Kalaupun tiba-tiba les piano sekarang, pasti aneh. Ah, bagaimana ini?

Tiba-tiba aku teringat pada temanku. Ibunya pandai sekali bermain piano. Umurnya pun sepertinya sama dengan umur Mama. Mungkin tau lagu ini. Aku pun segera menelepon temanku itu. Ia bilang Ibunya setuju untuk mengajarkanku bermain piano ‘Lagu Rindu’ dalam 2 minggu. Aku senang sekali.

Aku berlatih tanpa sepengetahuan Mama. Saat ditanya mau kemana, aku hanya bilang mau bermain PlayStation5 di rumah teman. Untunglah Mama selalu percaya. Selama aku tidak pulang terlalu malam, Mama percaya padaku.

Bermain piano itu tidak semudah yang aku bayangkan. Aku kira menekan tuts-tuts itu tidak ada tekniknya. Ternyata susah. Sudah hampir 2 minggu tapi aku belum juga lancar. Aku berlatih terus, tanpa piano. Aku membayangkan sedang menekan tuts, sambil berbisik bernyanyi. Saat Mama tidak ada, aku diam-diam masuk ke ruang kerja Papa. Ada sebuah grand piano di sana. Sudah sangat berdebu. Aku membersihkannya lalu mencoba memainkannya. Untung suaranya masih bagus.

Hhh... Besok tanggal 20 November. Aku masih berlatih sampai larut malam. Aku juga sudah menyelipkan sebuah notes di tas kerja Mama. ‘pulangnya ke ruang kerja Papa terus nyalain lampu’. Semoga Mama membacanya dan tidak lupa.
Setelah salat Isya aku langsung bersiap di ruang kerja Papa. Lengkap dengan pakaian trademark Papa. Mama bilang, Papa orangnya simpel, selalu memakai kemeja putih dengan lengan yang digulung dan celana jeans biru gelap. Karena aku tidak punya kemeja putih, aku pakai saja seragam hari Senin yang berlengan panjang. Ah, ada bet sekolahnya. Biarlah. Agar lebih mirip Papa, aku memakai kaca mata Papa yang masih Mama simpan. Sedikit pusing, kebesaran juga. Tapi saat aku melihat diri di cermin, aku sendiri merasa aku melihat Papa.

Sekarang, aku masih menunggu dalam gelap.

Setelah menunggu satu jam, aku mendengar suara knop pintu berputar. Ada cahaya yang masuk dari luar. Lalu, terdengar bunyi saklar lampu ditekan. Ruang kerja Papa pun terang benderang. Aku menoleh ke arah pintu.

Mama berdiri disana, masih menenteng jas dokter dan tas kerjanya. Terlihat kaget dan bingung. Aku segera menekan tuts piano.

‘Bintang malam katakan padanya, aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya, biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya.’

Mama terlihat tidak percaya. Matanya berkaca-kaca. Ah, jangan menangis!

‘Bintang malam sampaikan padanya, aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya, biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya.

Taukah engkau wahai langit? Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah, hanya untuk dirinya.

Lagu rindu ini ku ciptakan hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana, izinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan.’

Aku kembali menoleh ke arah Mama. Sekarang air mata Mama menitik satu-persatu. Kenapa Mama malah menangis?

‘Taukah engkau wahai langit? Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah, hanya untuk dirinya.

Lagu rindu ini ku ciptakan hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana, izinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan.’

Pipi Mama basah sekarang. Mama menangis. Papa pasti marah karena aku membuat Mama menangis. Maafin aku, Pa. Aku udah bikin Mama nangis.

‘Izinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan...’

Aku diam. Aku bingung aku harus gimana. Baru sekarang aku ngeliat Mama nangis. Mama belum pernah menangis di depanku sebelumnya. Walaupun aku nakal, ga mau makan, mecahin vas di ruang tamu, atau hujan-hujanan dan ngotorin seluruh rumah, Mama ga pernah sampai nangis. Tapi sekarang, aku hanya menyanyi dan bermain piano, Mama menangis? Kenapa?
Akhirnya aku mendekati Mama. Aku melepas kaca mata Papa lalu menyimpannya di saku kemeja seragam. Mama masih berdiri di depan pintu, menangis tanpa bilang sesuatu.

Aku menarik bagian bawah kemeja Mama. Mama menatapku dengan mata yang basah.

“Ma, kenapa malah menangis?”
“Oh, Rei....”

Mama menjatuhkan tas dan jas dokternya. Ia berlutut lalu memelukku.

Dan Mama menangis semakin keras.

Aku semakin bingung dan mulai panik. Apa yang harus aku lakukan? Mama menangis sampai senggukan. Badannya berguncang dan bertumpu padaku. Semakin lama semakin berat. Mama tidak apa-apa kan? Aku ikut berkaca-kaca.

Apa yang akan Papa lakukan pada saat seperti ini???

Jangan menangis.
Tidak, aku tidak akan menangis.

Peluk Mama.
Aku pun balas memeluk Mama. Seerat yang aku bisa. Aku harap Mama segera berhenti menangis. Entah kenapa aku merasa khawatir jika Mama menangis. Aku tidak suka Mama menangis.
Setelah beberapa saat, tangisan Mama mulai mereda. Aku merasa sedikit lebih tenang. Namun Mama masih senggukan.

Bicara sesuatu.
Bicara apa??
Apa saja.
Apa???

Tidak ada jawaban.

Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan. Aku harus bicara apa? Biasanya aku bisa langsung mengeluarkan kata-kata jika mengobrol dengan Mama, tapi sekarang aku tidak bisa menemukan satu kata pun untuk diucapkan. Apa aku harus cerita kalau tadi aku salah beberapa nada? Apa aku harus tanya suaraku tadi bagus atau tidak? Apa aku harus bilang kalau game Final Fantasy XXIV sudah keluar dan aku ingin Mama membelikannya untukku? Tidak, bukan itu. Apa aku harus mengucapkan ‘selamat hari pernikahan’? Jangan, nanti Mama malah menangis lagi. Lalu apa?

Mama gak apa-apa?
“Mama gak apa-apa?”

Mama menggeleng pelan. Ok, Mama merespon. Selanjutnya apa?

Udahan dong Ma, berat nih.
“Udahan dong Ma, berat nih,”

Hah? Apa yang aku bilang tadi?

Mama langsung melepas pelukannya. Matanya sembab, tapi sudah tidak menangis lagi. Ia berkacak pinggang, dengah wajah cemberut yang baru pertama kali aku lihat. Tidak, Mama tidak terlihat kesal. Mama terlihat... cemberut. Hanya cemberut.

“Kamu ini ya. Bener-bener deh. Mirip Papa kamu,”

Aku nyengir. Akhirnya Mama pun tertawa. Tapi, biar bibirnya tersenyum, air matanya kembali menitik. Ah Mama, kenapa masih nangis juga?

“Makasih banyak, Rei-ku sayang…” ujar Mama, menatapku dengan tatapan yang membuatku tenang. Sekarang aku mengerti apa yang dimaksud dengan tatapan yang ‘hangat’. Aku pun tersenyum. Kami berpelukan sekali lagi. “Mama tadi mampir beli cheesecake tadi. Kebetulan ada yang chocolate-cheesecake…,”

Aku langsung bersorak. Benar kan, Mama selalu punya kejutan untukku. Aku paling suka chocolate-cheesecake. Ditambah lagi aku merasa sangat lapar karena tegang tadi. Mama pun berdiri, mengambil tas dan jas dokternya lalu menggandengku ke dapur.

“Ah, sebentar ya, Mama mau nyimpen tas dulu,” Mama mengecup keningku lalu berjalan ke kamarnya. Aku mengangguk lalu memperhatikan Mama berlari-lari kecil, sesekali melompat. Hihihi... Aku tidak menyangka Mama bisa seperti itu. Sepertinya aku mengingatkannya tentang Papa, dan Mama merasa sangat senang.

Ya, aku akan menggantikan posisi Papa. Aku akan jadi seperti Papa. Aku akan menjadi Papa untuk Mama.

Jangan.
Eh? Kenapa? Kenapa aku gak boleh jadi sepetertimu, Papa?

Jangan. Jadilah dirimu sendiri. Papa bukan seseorang yang pantas untuk kau ikuti. Kau tidak harus menjadi Papa untuk bisa menjaga Mama. Kau tidak harus menjadi Papa untuk bisa membuat Mama berhenti menangis. Kau bisa lebih baik dari Papa. Papa tau kamu bisa. Karena kamu Reiza Zulfikar Sidiq.

Reiza Zulfikar Sidiq?

Ya, karena kamu Rei yang sangat Papa cintai...

____________________________

haha, so randomly.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
hers at Rei (10 years 17 weeks ago)
90

Pagi-pagi dengan cerita yang menyentuh *ternyata komennya sama
Benar-benar terbawa alur...hihi.
.
Salloom!

Writer dewisun
dewisun at Rei (11 years 23 weeks ago)
90

judulnya sama dengan nama anakku...hehehe, cerita yang menyentuh..^_^ salam

Writer f_zaliya
f_zaliya at Rei (11 years 23 weeks ago)

hehe, itu juga nama 'anak'ku, makanya ku pake. thanks comment-nya... salam juga~ :)

Writer lyricist egi poet
lyricist egi poet at Rei (11 years 23 weeks ago)
100

ceritanya sangat menyentuh tapi saya kok baru denger playstation5 ya? apa gak salah ketik? ditunggu kunjungannya di cerita saya

Writer f_zaliya
f_zaliya at Rei (11 years 23 weeks ago)

settingnya kan masa mendatang. mungkin sekitar 20 taun lagi udah nyampe ps5... haha... same as ff XXIV (sungguh mengarang bebas, haha)
thanks komennya~ :)