SURAT UNTUK GURU

Setelah melihat film 3 Idiots dan tertawa, terharu serta terinspirasi darinya, aku teringat kisah lamaku..

Awal dari kebencianku pada matematika saat kelas IV SD. bukan, bukan karena nilaiku jelek atau apa, aku selalu dapat nilai bagus, selalu ranking satu bahkan akulah peraih NEM tertinggi di SD-ku. aku tidak suka dengan guru matematika-ku, panggil saja Pak X.

Pak X adalah pria bertubuh gemuk, berkulit cerah, tinggi besar, berkumis tebal dan selalu memakai kopiah (peci). Ia akan menaiki tangga menuju kelas kami di lanai 2 dengan perlahan dan terengah-engah. sambil memasuki kelas, Ia akan mengusap wajahnya yg penuh keringat dengan saputangan kemudian baru berkata “Assalamu’alaikum!” yg akan kami jawab serentak. seperti biasa, Ia akan menyuruh kami membuka buku matematika dan menerangkan bla bla bla. jika kondisi udara semakin memanas, Ia akan terlihat gerah dan bosan dan memulai rutinitas ini. ia akan menuliskan beberapa soal di papan tulis dan menyuruh kami maju ke depan untuk menyelesaikan soal. biasanya anak-anak cewek selalu maju duluan (karena kami, girls, jauh lebih rajin dan teliti dalam mengerjakan soal). saat sudah terlalu banyak anak yg mengerjakan soal dengan benar, Pak X akan terlihat lebih bosan lagi. kemudian Ia akan memanggil anak-anak cowok dan menyuruh mereka ke depan, terutama anak-anak yg terkenal “nakal” di sekolah. ketika satu persatu dari mereka gagal mengerjakan soal, Ia akan memarahi, mencaci maki dan menyuruh mereka semua agar lebih rajin belajar. terkadang namaku disebut , “Kalian harus rajin belajar seperti Nabila!” ujarnya sambil menunjukku (jujur, aku gag merasa nyaman ditunjuk seperti itu). namun favorit Pak X adalah seorang kawanku bernama Hasyim.

Hasyim adalah tipikal anak bertubuh tinggi dan sangat kurus, berkulit hitam legam dengan rambut cepak ikal dan wajah yang terkesan “memberontak”. Pak X akan tersenyum memanggilnya, merangkulnya dan menyuruh dia mengerjakan soal di depan. saat Hasyim mulai mencoba menulis, Pak X akan mulai membuat ragu dia, dengan berkata misalnya “Oh, benarkah itu? jadi rumusnya apa seperti itu?” dan sebagainya. saat Hasyim lagi-lagi gagal mengerjakan soal dengan benar, Pak X akan tersenyum dan berkata “Makanya, belajar yg rajin! jangan main saja! jangan suka mengelas besi seperti bapakmu itu! hahahaha..!” setelah puas mencaci maki dan menghina Hasyim, Pak X akan menyuruhnya kembali duduk. Entah apa ada dendam antara Pak X dengan Ayah Hasyim, yang pasti Pak X selalu menghina pekerjaan Ayah Hasyim sebagai tukang las besi. selalu seperti itu. seperti sebuah rutinitas.

Suatu hari, Pak X sedang dalam kondisi mood yang buruk. Ia hampir berteriak saat menyuruh kami mengumpulkan buku PR di depannya. kemudian Ia membaca satu persatu hasil PR kami sampai Ia berhenti pada suatu nama. “HASYIM! kenapa kamu hanya mengerjakan 3 soal?!” bentak Pak X. Hasyim menjawab dengan takut “Maaf Pak, saya cuma bisa mengerjakan 3 soal saja, yg lainnya saya tidak bisa..”. Dari 10 soal yg diberikan, Hasyim hanya menjawab 3 soal saja. Pak X mengamuk. Ia berlari menuju Hasyim dan menyeretnya ke depan kelas dengan menjewer telinga Hasyim hingga kemerahan. Lalu Ia berteriak “Kan sudah bapak ajarkan, gimana sih kamu? apa sih kerjaanmu? dasar GOBLOK!” Hasyim menundukkan kepala ..”OTAKMU itu seperti besi tua, karatan, tumpul! harus di-las dulu oleh bapakmu biar bisa dipakai!” badan Hasyim mulai bergetar ..“Sudah, kamu TIDAK USAH SEKOLAH SAJA, karena nanti juga ujung-ujungnya kamu cuma akan jadi TUKANG LAS sama seperti BUAPAKMUU!”. hening sekelas. dan aku melihat pemandangan yang takkan kulupakan.

Hasyim berdiri di depan kelas dengan bercucuran air mata. kedua tangannya yang kurus mencoba menghapus air terjun yg keluar dari kedua bola matanya. badannya bergetar hebat menarah amarah dan wajahnya kemerahan menahan sakit hati dan rasa malu. sementara Pak X mencaci maki dia banci-lah, cengeng-lah dan lainnya tanpa henti. tiba-tiba Hasyim berlari keluar ruangan kelas dan menuruni tangga. Pak X berteriak-teriak memanggil namun percuma. sejak saat itu, Hasyim tidak pernah datang di kelas matematika. tidak pernah ada Hasyim lagi di kelas kami. hingga dia terancam tidak naik kelas.

sungguh, aku merasa malu, aku merasa sedih, kenapa aku tidak bisa melakukan apapun saat itu? kenapa aku dan 35 anak lainnya hanya bisa terdiam melihat harga diri seorang Hasyim dihancurkan di depan mata? kalau kuingat sekarang, seharusnya dulu aku langsung berteriak ke Pak X, “STOP! jangan hina teman kami lagi! tidak ada yg tertawa di kelas ini, cuma bapak! kalau Hasyim tidak bisa mengerjakan soal, itu berarti cara mengajar bapak yang jelek! bukan salah dia! lalu kenapa kalau orang tua dia hanya tukang las? bisa saja nanti dia menjadi Presiden, Milyuner atau orang hebat lainnya, yg pasti Hasyim tidak akan pernah menjadi GURU JAHAT seperti bapak!” dan akan membuat Pak X berhenti menghinanya.

Namun, aku dulu hanya anak kecil yg selalu menurut saja dengan apa yg dikatakan guruku, baik atau buruk. Hasyim, dimanapun kau berada, aku sungguh minta maaf karena dulu tidak bisa membelamu, tidak bisa menahan tangismu, tidak bisa berbuat apapun. maaf sekali.. dan semoga kamu sekarang berbahagia dan sukses, amin..

Doa saya, semoga tidak akan ada lagi GURU yg masih menggunakan metode mencaci, menghina, mempermalukan anak, hingga menghukum dengan hukuman fisik. itu bukan GURU, itu cara seorang penjahat!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yarra
yarra at SURAT UNTUK GURU (10 years 46 weeks ago)
100

Ceritanya sedih banget! Aku harap guru seperti itu ga bakal muncul lagi di dunia ini... Atau dunia manapun...

Writer himalinova
himalinova at SURAT UNTUK GURU (10 years 47 weeks ago)
40

iyah, sayang ga diolah..

Padahal idenya dah bagus..
Tetep semangat!

Writer sekar88
sekar88 at SURAT UNTUK GURU (10 years 48 weeks ago)
80

selain deskripsi detil yang agak menggaggu saya, selebihnya ceritanya terasa menyentuh (setidaknya menurut saya)

Writer Chie_chan
Chie_chan at SURAT UNTUK GURU (10 years 48 weeks ago)
70

kritik buat para guru. :)
.
saia suka tema dan alurnya, tapi dari segi penulisan masih jauhhhh bisa lebih dikembangkan lagi.
.
oh yaaa, omong-omong. menurut saia ini bisa dikatakan sebagai cerpen/sebuah cerita kok. anda punya pesan yg ingin anda sampaikan, dan menurut saia selain beberapa kekurangan dalam masalah penulisannya, anda menyampaikannya dengan cara yang BERSENI. kalau orang bilang ini kurang nyeni, itu mungkin lebih karena gak bisa melihat dimana letak alurnya. :p
.
ya itu pendapat saia saja. salam. :)

Writer Arzariandarzarianda
Arzariandarzarianda at SURAT UNTUK GURU (10 years 48 weeks ago)
70

Ya amplop...
Ujung ceritanya begitu toh? Kirain si Hasyim nurunin tangga buat ngambil balok kayu trus ngehajar si Mr.X. Dan bakal ada alur cerita yang bikin pembaca terhanyut gitu. Saya kira. Ah, ternyata tidak. Ini bukan cerpen.

Mm, mba' nabila..
alangkah menariknya kalau pesan yg ingin mba' nabila sampaikan itu terbalut seni (dalam hal ini, dgn ber-cerpen) dan biar pembaca sendiri yg "membuka bungkus" itu.

It's just an advice ;)
salam...

Writer kemalbarca
kemalbarca at SURAT UNTUK GURU (10 years 48 weeks ago)
60

pak X, apakah dia pak X-Men?
hmmm, emang ini curhat habis, tapi gak apalah, toh postinganku juga curhatan semua
cuma, jangan kasih rating 10 buat cerita sendiri! itu nepotisme!

Writer Qruki
Qruki at SURAT UNTUK GURU (10 years 48 weeks ago)
10

lbh bgus lagi dijadiin cerpen.
penuh inspiratif.............

Writer anggra_t
anggra_t at SURAT UNTUK GURU (10 years 48 weeks ago)

amin. tapi ini sih 100% curhat bukan cerpen.

Writer prince-adi
prince-adi at SURAT UNTUK GURU (10 years 48 weeks ago)

curhat

Writer bellabelle
bellabelle at SURAT UNTUK GURU (10 years 48 weeks ago)
100

Semoga tidak akan ada lagi Guru seperti Pak X,
amin..