Guru Tercinta Guru Tertindas (Ending)

Menjadi guru matematika adalah impianku sejak aku duduk di bangku SMA. Aku selalu bermimpi mengajari anak-anak tentang asiknya belajar matematika. Tentang asiknya mencari sebuah angka(jawaban) seperti mencari harta karun. Seperti mencari penyelesaian dalam kehidupan ini. Padahal guru matematikaku dahulu adalah seorang guru yang sangat malas mengajari kami. Masuk saja jarang, tapi ia memang tetap mengajar. Namun untunglah, saat itu ada kelompok pecinta matematika. Sehingga kami dapat saling membantu untuk belajar. Dan sekarang aku akan memperlihatkan bagaimana cara menjadi guru matematika dengan baik dan benar!!

Hahaha.... Tapi kenyataan berkata lain. Aku memang sering masuk kelas dengan tak terlambat selama delapan bulan ini. Akupun sangat semangat saat mengajar. Namun apa daya.... Kalau aku sudah dikalahkan oleh sifat anak-anak yang seperti setan tersebut. Mereka telah menguasaiku.

"Melamun saja pak?!" Tiba-tiba Pak Hotmian(seniorku) menegurku, saat aku sedang melamun di dalam kantor yang dingin ini. Sekarang sedang jam pertama istirahat. Aku cuma bisa menunggu, sebelum masuk kembali dalam kelas dimana aku adalah wali kelas dari kelas itu. Ya di kelas sebelas ipa.

"Iya nih pak.... Bingung mengatasi anak-anak zaman sekarang."

"Hmmm.... Saya memang sudah sering melihat Bapak mengajar. Dan memang sangat bermasalah juga sih."

"Saya sangat bingung sekali pak. Apakah saya harus mengajar seperti bapak? Dimana anak-anak diperlakukan sangat tegas. Tapi dapat membuat anak-anak itu menurut sama Bapak." Pak Hotmian ini memang seorang guru Kimia yang sangat tegas. Salah satu anak yang lupa membawa catatan saja, bisa dipukul dahinya dengan pulpen, baik itu perempuan atau laki-laki. Semua sama dimatanya.

"Hahaha...." tawanya. Terdengar logat bataknya yang mentok itu sekarang. Membuat banyak orang sering tertawa saat mendengarnya. "Tak apa jika Bapak ingin anak-anak Bapak terus berani seperti setan. Saya juga pernah merasakan hal tersebut. Tapi Bapak harus ingat sekali lagi. Sekolah kita itu termasuk dalam sekolah favorit. Jika Bapak seperti ini terus, bisa-bisa Bapak dipecat loh!"

Aku menjadi melotot dan menelan ludahku saat ia berkata seperti itu. Aku takut sekali jika dipecat. Itu akan membuat orang tuaku menjadi menertawakanku karena pilihanku sendiri. Jangan sampai deh...!!

"Betul itu Pak Fernando!" diperkuat oleh Ibu Hermi sebagai guru kesenian yang berada jauh dari tempatku duduk, dan sedang berjalan untuk membuang bungkusan nasi campurnya ke tong sampah dekat pintu. Para rekan guruku saat ini memang sedang makan. Hhh.... Suara Pak Hotmian sangat tinggi. Kedengaran deh....

"Bapak harus berusaha untuk membuat anak-anak Bapak menjadi takut dengan Bapak. Itu kelas Bapak loh.... Ingat-ingat...." Lanjut Ibu Ully(Guru Bahasa Indonesia) yang sudah menyelesaikan makanannya juga.

"Nah, sekarang pilihan Bapak deh...." Lanjut lagi Pak Hotmian dalam memberikanku arahan.

Sepuluh menit lagi, waktu istirahat akan segera selesai. Aku menjadi dilema dengan hal ini. Aku takut anak-anakku akan membenciku jika mengambil pilihan mengajar mereka dengan tegas. Tapi?! Bukankah mereka sudah mempermainkanku?! Oh Tuhan.... Bagaimana mengajar dengan menyeimbangkan tegas dan kebaikan?? Aku sangat kebingungan!!

"TENG TONG TANG...!!" Akhirnya suara neraka itu keluar juga. Semua guru sedang bersiap-siap untuk ke kelas mereka masing-masing. Aku juga harus mempersiapkan segala hal untuk masuk ke dalam lubang ular tersebut.

Sekarang aku sudah berada di depan kelasku. Terdengar suara anak-anak yang sedang bercanda dengan keras. Akupun dapat melihat salah seorang anak sedang main coret-coretan pulpen. Dan ada juga yang sedang mengerjai seorang anak laki-laki, dengan terus memberikan kata-kata yang dapat membuatnya sakit hati. Tapi dapat membuat banyak teman-temannya menjadi tertawa terbahak-bahak. Hhh.... Masa-masa SMA yang gila.

"Bapak tidak masuk??" Aku terkaget saat Jenny, salah satu anak muridku yang ada di kelas sebelas ipa menegurku begitu saja, sambil membawa aqua gelas di tangan kanannya. Kurang ngajar!

"Bapak hanya sedang.... Mmmhh.... Ya sudah deh. Ayo masuk!"

"Hehehe.... Saya kira Bapak tidak mau mengajar dahulu. Kan bagus." Aku terdiam saat mendengar kata "bagus" dari mulutnya.

"Mengapa bagus??"

"Kami sedang ingin menambah istirahat kami Pak. Capek banget soalnya tadi habis olahraga. Kalau Bapak benar-benar baik hati sesuai pikiran kami semua, pasti Bapak ingin memberikan kami waktu istirahat sebentar lagi." Akupun pernah merasakan hal yang sama sepertinya. Tapi.... Hey! Aku beda dengan guruku dahulu!!

"Hmmm.... Tidak! Ayo kamu masuk duluan sekarang!!" Tegurku. Mukaku tak membalas senyumannya sekarang. Dan kurasa itu bagus. Raut mukanyapun berubah menjadi kesal. Hahaha.... Apa peduliku sekarang?? Aku benar-benar sudah melaksanakan ketegasan sepertinya.

Saat Jenny sudah masuk. Sekarang giliranku untuk masuk. Dan hal yang biasa terjadipun terjadi lagi. Anak-anak itu masih tetap melakukan kegiatan mereka masing-masing. Aku menjadi kesal menatapi mereka hingga sampai di mejaku.

"Bersiap, memberi salam!" Seru sang ketua kelas, Tiana. Aku dapat melihatnya malas dalam memberikan perintah tersebut.

"Selamat pagi Pak!!" Jawab mereka dengan tak menginginkannya. Malah ada yang masih mengobrol dan tak berdiri sama sekali. Oh, anak-anak.... Apa kalian tak pernah melihat serigala memakan kucing-kucing kecil tak lucu seperti kalian, hah?!

"Ulang lagi!! Kali ini semua berdiri dan serius!!"

"Malas pak..." Kata Michael, anak yang selalu dikerjai oleh anak-anak lainnya. Tapi dirinya sendiripun kurang ajar.

"Bapak tak peduli. Ulang lagi SEKARANG!!" Tegasku sekali lagi dengan marah dan sedikit membesarkan suaraku yang berat ini. Semua anak-anak terdiam dengan raut muka kesal yang diperlihatkan secara serentak ke aku. Memangnya aku bisa kalah dengan mereka!!

"SELAMAT PAGI PAK!!" Teriak mereka dengan kesal. Aku tak peduli dengan hal ini. Tapi tiba-tiba....

"Puas Pak sekarang?!" Kata Michael dengan nyolot sekali lagi.

Semuanya berubah menjadi seperti gelap sekarang. Aku tak sadar dengan apa yang sudah kulakukan. Amarah telah menguasaiku, dan perbuatan yang selalu kubenci telah kulakukan begitu saja. Tapi, kali ini dengan sangat kasar.

"Puas Pak sekarang...?!" Katanya sambil menitikkan air mata. Lalu ia berlari keluar dari kelas. Aku terdiam dengan air muka penuh penyesalan di sebelah kursi Michael. Tapi anak-anak yang lain sekarang menjadi penuh dengan ketakutan. Mereka juga terdiam sepertiku.

***

Di dalam kamar tempat kosku, aku hanya bisa duduk terdiam di atas kasurku, dengan tatapan mata yang kosong. Apakah kejadian tadi itu hanyalah sebuah mimpi buruk yang tak pernah terjadi?! Apakah ini kelakuan yang harus dimiliki oleh seorang guru?!

Ohh.... Aku menjadi ingat dengan kejadian semasa kecilku. Ada guru yang telah memperlakukanku sama seperti yang aku lakukan pada Michael Pagi tadi. Seorang guru perempuan yang mengajar olahraga telah menamparku, karena aku sulit diajarinya. Padahal aku memang tak bisa olahraga saat itu. Tubuhku yang kurus, dan teman-temanku yang seperti setan telah menjadikanku anak yang lemah dahulu. Tapi.... Hhhh.... Apakah aku harus melakukan hal-hal yang semua guruku lakukan padaku semasa kecil. Yaitu tak adanya pengertian dan tindakan-tindakan kasar lainnya karena aku bodoh?!

Malam ini adalah malam penuh dengan pertanyaan dalam hidupku. Sama seperti saat aku pertama kali mengerjakan soal algoritma yang penuh dengan rumus-rumus yang banyak dan sulit untuk dihafalkan. Walau sekarang sih aku sudah berhasil menghafalnya. Dan akhirnya banyak menyelesaikan soal-soal Matematika dengan mudah sampai sekarang. Waktu itu juga banyak sekali teman-teman yang menyukaiku karena kepintaranku. Hahaha.... Itu masa-masa kejayaanku waktu SMA. Akupun sangat senang....

?!

Oh tidak?! Apa yang sudah kulakukan?! Sialan!! Besok aku harus membereskannya!

***

20 Mei 2010

Aku kembali berjalan ke dalam kelasku lagi seperti biasanya. Dengan kaget, aku telah melihat suatu hal seperti meteor atau gerhana matahari pagi ini. Anak-anakku berubah menjadi diam, dan sopan dalam memberi salam begitu saja. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka hari ini. Apa yang telah terjadi?!

Aku tak menanyakan mereka apa-apa, aku hanya melakukan pekerjaanku, walau sedikit risih sih karena perubahan ini. Tapi ini membuatku terus tersenyum saat sedang menulis tanggal dan rumus-rumus di papan tulis putih ini dengan spidol hitamku. Lalu aku mengajari mereka pelajaran hari ini dengan senyuman. Mereka semua mencatat, dan malah ada yang bertanya dengan mengangkat tangan mereka. Ohh.... Kejadian yang aneh tapi nyata!!

Rasa senang mengelilingiku. Akupun memutuskan untuk menanyai mereka saat melihat jam di atas papan tulis ini, tepat sepuluh menit lagi sebelum istirahat pertama kembali terjadi.

"Hey, ada apa dengan kalian sih??" Tanyaku tersenyum melihat mereka.

"Kenapa Pak? Bapak tidak senang dengan sikap kami yang sekarang?!" Jawab Tiana.

"Hahaha.... Tidak apa-apa. Bapak hanya senang dengan kelakuan kalian sekarang. Begitu penurut...." Selesai ucapanku, Tiana berdiri dan menjelaskan apa yang sudah terjadi.

"Begini loh Pak. Kemarin kami sudah mendiskusikan hal ini saat pulang sekolah. Waktu kami sudah melihat amarah Bapak meledak, kamipun memutuskan untuk berlaku seperti perlakukan kami pada guru-guru yang lain. Jadi, sekarang Bapak boleh menegaskan kami jika kami salah. Seperti robot yang bodoh!!"

"Robot?? Mengapa kamu bilang seperti itu?! Bapak tak ingin memperlakukan kalian seperti robot, kalau kalian ingin tahu!"

"Mungkin sekarang Bapak bisa bilang seperti itu, tapi lihat ke depan. Bapak akan seperti kebanyakan guru-guru. Ohh.... Apakah aku harus jujur pada Bapak??" Sekarang aku melihat raut mukanya yang seperti anak kecil. Teman-temannya hanya bisa diam dan mengiyakan tiap yang ia katakan.

"Kamu katakan saja semua yang ada dalam hati kamu Tiana...."

"Sebenarnya kami senang saat Bapak masuk ke sekolah kami. Kami merasa bebas seperti burung saat itu. Tapi memang terlalu lebay juga sih. Jadi kami ingin mengatakan kepada Bapak kalau kami sangat menyesali perbuatan kami."

"Maafkan kami Pak!!" Semua anak serentak meminta maaf padaku. Kejadian yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. O, aku ingin sekali menangis.... Tapi tak boleh!!

"Maafkan Bapak juga ya karena ini memang hal yang baru untuk Bapak. Tapi, Bapak tak pernah setuju kalau banyak guru yang mengajari kalian seperti robot. Mereka semua itu adalah orang yang baik. Bapak sangat mengenal mereka. Cuma keadaan kadang memaksa mereka untuk menjadi seperti itu. Hey! Mengapa kalian tak jujur saja juga pada guru yang lain?? Bapak rasa itu hal yang baik...."

Kami menjadi terus mengobrol tak henti-hentinya hingga bunyi bel mengganggu kami. Merekapun memutuskan untuk menambah sepuluh menit lagi. Lalu aku menyuruh mereka makan.

Bukan hanya Tiana yang berbicara kali ini, tapi Jenny dan anak-anak lainnya mengungkapkan isi hatinya padaku. Mereka bertanya-tanya, dan aku menjawab. Begitu juga sebaliknya.... Aku senang sekali, tapi aku melupakan sesuatu....

"Maafin bapak ya kemarin. Karena bapak sudah marahin kamu. Lain kali kamu jangan melakukan hal itu lagi ya." Bisikku kepada Michael, seraya menepuk bahunya dua kali waktu aku menemukannya sedang berjalan sendirian ke kantin. Iapun tersenyum dan memaafkanku.

Ohh.... Aku seperti melihat diriku yang dulu dari sosok Michael ini. Memang tak sesulit dari apa yang kualami dahulu. Tapi aku telah menaruh hatiku untuknya. Dan mungkin aku akan belajar menjadi guru BP juga. Hahaha....

Dengan keberanian kali ini, aku berterima kasih pada semua guru-guru semasa kecilku yang telah memberikanku hati yang berterus terang, dalam hal mengajar. Aku menjadi kangen dengan mereka....

Read previous post:  
33
points
(423 words) posted by antonsuryadi 11 years 1 week ago
55
Tags: Cerita | kehidupan | guru
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

:).
Sudut pandangnya seorang guru ya?
Emmmm...
Judulnya kurang sreg niy...

akhirnya ada yang baca juga.. haha... hmmm... bingung nih jadinya... kata yang lain malah judulnya unixx... tapi ya thanks deh... kita kan tak harus melihat kacamata dari satu pihak ajah.. ya kan mas?? hehe thankss