Bagian 4: Wilayah Syaman yang Gelap (Negeri yang Mati)

Sayangnya, buku itu terlalu kuat sehingga Murni terpental dan jatuh tersungkur. Luka akibat goresan dinding yang tajam terasa lebih perih. Ia meringis kesakitan, kemudian berdiri untuk melihat kondisi buku tadi. Rasa penasaran terhadap buku itu jauh lebih kuat sehingga ia melupakan Danang dan meraba-raba tanah, siapa tahu buku itu berada di dekatnya. Namun tidak ada. Ia segera menyadari keanehan yang terjadi begitu mendengar suara-suara yang sangat ramai, namun ia mendapati dirinya sendirian. Di antara pepohonan pendek yang berkilauan, mengeluarkan cahaya ungu dan merah bergantian dari dedaunannya yang lebar dan transparan. Ia berada di sekitar tanaman aneh berbatang seperti bilah keris berwarna pucat dan kasar yang berdaun lebar seperti daun talas yang lebat. Ia bisa melihat di dekat sepuluh kumpulan pohon aneh tapi indah itu ada dinding terjal, seperti dinding batu yang kokoh. Ia mendongakkan kepalanya dan tidak menemukan cahaya apapun. Tunggu, di mana ia sekarang?

“Danang?” desis Murni yang baru ingat. Kini ia sadar bahwa dirinya sudah tidak berada di dalam gua lagi bersama dengan Danang. Ia seperti terjebak. Dinding-dinding sisik ikan yang terselip buku aneh itu kini hilang. Tidak! Ini tidak mungkin. “Danang! Di mana kau?”

Ketika Murni berteriak memanggil Danang suasana yang awalnya terdengar sangat ramai mulai berkurang. Seperti ada sebagian makhluk yang berhenti bicara. Murni lagi-lagi menyadari perubahan itu. Namun ia kembali memperhatikan sesuatu kalau ada orang di dekatnya... atau makhluk apapun itu. Ia bisa merasakan kedua kakinya yang terasa panas menyentuh lantai namun hawa di sekitar kepalanya terasa dingin. Tapi lantainya adalah batu. Seketika, Murni langsung menyentuh hidungnya karena ia mencium bau busuk di sekitar pepohonan aneh itu. Dan suara... seperti ada sesuatu yang bersembunyi di sekitar rimbunnya daun berkelap-kelip.

“Lainina?”

Murni kaget setengah mati ketika seorang bocah yang lebih pendek dari dirinya menyeruak begitu saja dari rimbunnya dedaunan berkelap-kelip. Bocah itu berpakaian sangat aneh dan tidak lazim. Kedua bola matanya tampak berwarna merah cerah dan kulit bocah itu sangat pucat mengerikan. Ia memiliki rambut lurus di atas kepalanya namun ikal di bagian bawahnya, berwarna hitam berminyak dan agak panjang untuk ukuran anak laki-laki. Meskipun sebenarnya wajah anak itu tampak baik dan berhidung pesek namun manis. Ekspresi wajah anak itu berubah begitu saja ketika melihat Murni.

“Siapa kau?” Ia mengamati penampilan Murni yang tampak asing dan saat itu juga, wajahnya berubah menjadi sangat dingin.

“Eh...” Murni sedikit gugup dan bingung, haruskah ia menyebutkan siapa dirinya.

“Orang asing.” Anak itu menyimpulkan. “Persiapkan dirimu. Aku akan memanggil orang-orang untuk membunuhmu!” Nadanya terdengar tidak mengancam, sambil menyipitkan mata dan menyeringai jahat, ia segera pergi.

Murni tahu hal itu akan membahayakan dirinya sehingga ia segera mengejar anak itu dan menahan tangan kanan anak itu. Tanpa diduga, anak itu melepaskan tangan Murni dengan kasar dan wajahnya tampak marah. Murni terkejut. “Tunggu. Jujur, aku tidak tahu aku berada di mana. Aku tiba di sini begitu saja. Tolonglah... Kau harus membantuku.”

“Aku tak punya waktu,” balasnya jahat. Lalu ia berjalan menjauh. Murni kembali menghalanginya.

“Baik! Namaku Murni.”

Anak itu terpaku, menatap Murni sangat tajam, seolah mata merah cerah itu menembus ke dalam matanya dan membaca pikiran Murni yang sebenarnya agak kesal dengan anak itu. Tidak, anak itu menerawang.

“Kenapa?” Suasana menjadi senyap untuk sementara di antara mereka, tapi suara-suara orang ramai masih terdengar. Murni menyadari hal ini. “Omong-omong, kenapa di sini ramai sekali? Bukankah hanya ada kita?”

Anak itu mendesah panjang, sadar kembali. “Aku bukan orang baik. Siapapun kau, kau harus pergi dari sini. Dan di sini, bukan hanya ada kita. Aku benar-benar tak punya waktu.”

“Masalahnya, aku sungguh tak tahu bagaimana bisa aku berada di sini. Jadi aku tak tahu bagaimana caranya kembali. Kau pikir aku senang berada di sini? Tidak! Tak ada orang yang kukenal. Kau harus membantuku keluar dari sini. Oh ya, kau belum menyebutkan nama.”

Anak itu tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia membentak, “Sudah kubilang, aku tak punya waktu! Pergi! Sebelum orang-orang melihat!” Murni mundur selangkah, tak menyangka respon anak itu akan meledak seperti ini. Seperti anjing manis yang tiba-tiba menyalak galak dan mengancam.

“Apa masalahmu? Mungkin aku bisa membantumu. Setelah itu, aku bisa...”

“Tidak! Lainina!” Anak itu bergegas menuju salah satu terowongan di dinding batu, meninggalkan pepohonan berbentuk keris.

Murni mengejarnya dan penasaran. “Siapa dia? Mungkin aku bisa membantumu mencarinya.”

“Adikku.” Langkah kedua kaki anak itu semakin lebar dan cepat. Mereka mulai memasuki terowongan.

Terowongan itu benar-benar luas dan tinggi sekali, di kanan dan kiri dinding terdiri dari pintu-pintu yang berlambang seperti bentuk bunga tulip yang miring dan cekung pada dinding batu yang luas itu. Uniknya, ada api yang melayang di setiap atas pintu dan memiliki warna yang berbeda pada setiap pintu. Sayangnya, terowongan itu tidak terlalu panjang karena ada simpang dua di depan. Dinding-dinding batu di kanan-kiri itu sangat unik, penuh dengan ukiran-ukiran spiral bergerak. Murni tercengang melihatnya, tetapi hidungnya mencium aroma yang sangat memuakkan sehingga ia harus memencet cuping hidungnya.

“Eh, memangnya kenapa dengan adikmu?” Murni melepas cuping hidungnya dan mengendus-endus, berharap bau itu sudah hilang. Sayangnya, aroma menjijikkan itu masih tercium. Ia kembali menutup hidungnya dengan kedua jari tangannya. Sebenarnya ia ingin bertanya pada anak itu tentang bau yang diciumnya, namun ia lebih penasaran dengan adik anak itu.

“Dia hilang begitu saja. Aku tak tahu ke mana dia pergi. Dia memang sering begini. Padahal upacara Pamalian sebentar lagi akan dimulai. Ayah akan membunuhku jika tahu Lainina belum ditemukan.” Sepertinya anak itu tidak sadar apa yang dibicarakannya.

“Hei, Yupio! Dengan siapa kau berjalan? Persiapkan dirimu! Pamalian akan segera dimulai!”

Suara itu terdengar sangat jelas di antara suara ramai yang kini terdengar dekat sekali. Murni mendongakkan kepala dan ia mencari tahu siapa yang berbicara. Betapa kagetnya ketika ia melihat seseorang berdiri di dalam dinding batu, dinding batu itu seperti kaca padahal berwarna cokelat pucat. Dan seketika, orang-orang dari dalam dinding batu mulai memperhatikan Murni dan bocah itu. Dinding batu tampak seperti lapisan kaca yang berwarna cokelat gelap.

“Gawat,” desis anak itu. Ia melirik sinis ke arah Murni, lalu mendongak, membalas sapaan seorang pria yang sepertinya berdiri di lantai kedua di dalam dinding batu itu.

“Ya, Dujo! Aku akan bergegas!” Secepat kilat Yupio menarik tangan Murni―yang sedang menyimpulkan bahwa dinding batu itu adalah kumpulan rumah bagi orang-orang di tempat itu―dengan kasar menuju simpang dua yang lain. Sementara Murni agak terkejut karena tenaga Yupio ternyata sangat besar dan timbul banyak pertanyaan di dalam benaknya.

“Jadi, namamu Yupio?” Yupio melepaskan tangannya dengan kasar, membuat Murni nyaris terpeleset. Ia sangat kesal sekali dengan perlakuan Yupio yang kasar dan tidak sopan. Tapi perasaan itu segera menghilang begitu ia melihat pemandangan di sekelilingnya. Ia melihat langit-langit yang terang-benderang, dipenuhi oleh akar yang berpendar indah oleh umbi-umbian, akar obat dan berbagai bahan makanan. Sementara di dasarnya, ada pepohonan kecil yang lebih tinggi dari sekedar rumput yang dihinggapi oleh ribuan kunang-kunang yang ukurannya lebih besar dari kunang-kunang di dunia Murni.

“Kau tuli atau tolol, hah?” bentak Yupio kasar dan kedua matanya penuh dengan pancaran kemarahan. “Kau mengaku tiba begitu saja di Pepohonan Keris dan kau berani masuk ke pemukiman kami! Pengkhianat! Akuilah kalau kau adalah seorang Golongan Atas dan kemari untuk mengintai kami!”

“Apa yang kaubicarakan?” Murni mulai terpancing emosi. Suaranya terdengar bergetar.

“Perlu kauketahui, aku sudah menyinggung tentang Pamalian, bukan? Kau dan golonganmu akan kami musnahkan! Kami, memang Golongan Bawah, tapi kami akan berkuasa...”

“Dengar! Aku tidak mengerti apa yang kaukatakan sama sekali. Aku bukan Golongan Atas! Aku hanya seorang anak buangan. Kau mengerti? Dan aku bukan pengkhianat.” Murni memelankan suaranya. Ia menghembuskan napas pasrah.

“Maksudmu, kau bukan rakyat Lana?”

“Aku berasal dari Desa Kawali dan aku juga kehilangan temanku.”

Yupio menyeringai. “Kau tidak bisa membuktikannya. Jadi, tunggulah kebinasaan golonganmu. Pangeran kami akan menggulingkan kekuasaan Ratu, akan membuat kami jauh lebih terhormat dari golonganmu dan menjadikan negeri ini menjadi lebih baik. Lihat, apa gunanya cahaya-cahaya itu?” Yupio menunjuk kunang-kunang. “Kami jauh lebih baik dalam kegelapan.”

“Tega sekali. Mengapa kalian lakukan itu? Dan siapa Ratu yang kalian maksud?”

“Kau hanya memilih, menunggu mati di sini sampai Pangeran kami berhasil melumpuhkan Kerajaan atau mengikutiku terus sampai orang-orang yang akan membunuhmu.” Lalu Yupio pergi begitu saja. Tanpa senyum. Tanpa salam. Jelas sekali bahwa ia tidak main-main. Layaknya tersangkut di jaring laba-laba, Murni tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan pasrah.

-to be continued

Read previous post:  
14
points
(1565 words) posted by miss.jade 11 years 17 weeks ago
46.6667
Tags: Cerita | Novel | fanfic | fantasi | misteri | petualangan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

belum ada lanjutannya kak???

btw salam kenal kak aku kika masih baru disini mohon bantuannya :)

Ayo kak jade... Mana nih lanjutannya?? ^^

70

Ada dua hal di sini. Satu, pemenggalan kalimatmu agak lebih berantakan dibandingkan sebelumnya. Jadi ada baiknya bagian ini kamu baca ulang dan edit lagi. Dua, kamu mesti nyoba memposisikan dirimu di posisi Yupio buat bikin ceritanya lebih berkesan wajar. Aku setuju ama pendapatnya si Smith, soalnya hubungan sebab akibat antara adegan di bab ini dengan di bab sebelumnya kurang terbangun. Kalo kamu coba deskripsiin lebih lanjut gimana perasaan Murni waktu dia ngalamin semua itu, mungkin itu juga bakal lebih ngebantu.

Sori.

ok, kak alfare
akan saya perbaiki. tapi maksud pemenggalan kalimatku yang masih berantakan yg mana ya? (ga nyadar banget ya?) hehehe...

o ya, ka, haruskah kulanjutkan?

maksudnya titk koma aman penempatan di alinea. yea, lanjutin aja. ada beberapa hal yang cuma bakal kau ngertiin kalo udah ngelanjutin.

70

Errr okey, saia agak bingung..
Yupio pertama liat murni langsung ngancem bunuh(dikira kalangan atas) trus murni cuma bilang, namanya murni, Yupio ga jadi manggil orang buat bunuh?

Eh ini cerita perjalan dunia paralel yak?
miss, mampir jugak dong ke cerita saya. Hahaha..jadi promo

well... (bingung ngelesnya, hehehe)
sebenernya begini, saya berusaha menggambarkan Yupio berwatak keras dan jahat tapi pada situasi pertama dia dikeluarkan, dia sedang dalam kepanikan mencari adiknya, makanya, dia baru bisa ngancam aja. begitu, bro...
yap, tepat sekali kalo ini cerita ttg dunia paralel.
silakan disimak juga cerita sebelumnya^^
tengs buat komennya dan saya akan meluncur ke tempat anda, tapi... jadi peer dulu ya.
besok saya komeninnya, hehehehe...
(insya Allah)

Pertamax! Simak dulu yaa