Sang Terpilih - Bagian 2 : Kelebatan Hitam dan Malam

Malam begitu tenang dan dingin. Angin mendayu-dayu dengan melodinya yang khas. Di pusat kota, mungkin jam delapan malam masih dianggap sore dan roda kehidupan masih terus berputar. Tapi di tepi yang jauh dari pusat, hanya sedikit orang yang beraktifitas di luar rumah pada jam-jam seperti ini. Kebanyakan dari mereka tidur atau menonton televisi di rumah. Menyerahkan urusan di lingkungan luar pada polisi yang berjaga.

Sebuah bus mini berhenti di halte yang cukup sepi, hanya terlihat satu orang disana. Lampu halte yang menyala redup menyinari Reed yang baru turun dari bus sementara seorang pria yang tadi duduk di halte kini bergegas masuk ke dalam bus. Reed meyegarkan dirinya dengan menghirup udara malam selagi bus berlalu pergi di belakangnya dengan suara mesin yang menderu. Reed mengambil sebotol minuman jus dari ranselnya sebelum menggantungkannya kembali ke punggungnya. Reed melangkah pulang sambil meminum sebotol minumannya.

Jalanan sepi. Diterangi deretan temaram lampu jalan dan sedikit sorotan dari lampu di teras rumah-rumah. Jendela yang menyala tertimpa cahaya lampu di dalam rumah dan kadang terlihat bayangan orang yang bergerak di dalam. Reed berjalan santai. Seolah jalan ini adalah miliknya. Sesekali ia bertemu penduduk sekitar yang berpapasan dengannya. Reed merasakan angin malam menerpa wajahnya. Udara kota ini selalu mengandung uap air, yang Reed yakin uap ini merupakan pengaruh dari iklim laut, mengingat kondisi geografisnya yang terletak di tepi laut. Kemejanya sengaja tidak dikancingkan sehingga kaos dalamnya terlihat.

Derap sepatu Reed melintasi taman yang berangsur sepi. Taman ini hanyalah taman kota biasa yang tidak terlalu besar. Semua halamannya ditumbuhi rumput hijau yang terawat disamping pepohonan yang jika siang memberi keteduhan di setiap kursi klasik yang sengaja diletakkan di beberapa bagian taman. Lampu-lampu taman yang berbentuk bundar menyala temaram di sekeliling air mancur yang masih mengalir, memantulkan butiran-butiran cahaya kecil berkedip. Biasanya jika pagi menjelang siang tempat ini dikunjungi penduduk sekitar dan anak-anak kecil yang bermain gembira. Sungguh kontras dengan malam ini yang sepi. Hanya ada semak terawat yang terlihat seperti bayangan hitam.

Entah kenapa Reed merasa tidak ingin pulang dulu. Kakinya berbelok memijak rerumputan dan menuju ke salah satu kursi yang kosong di bawah naungan pohon besar, yang sekarang tak lebih dari jaring hitam besar yang ujungnya bergerak perlahan tertiup angin dengan latar bulan tak penuh. Ia kemudian mendudukkan dirinya ke salah satu kursi taman dan meletakkan tas ransel disampingnnya. Terdengar suara gesekan dedaunan yang tertiup angin, disamping gemericik air mancur selagi Reed diam meratapi langit malam. Tampak bulan dan jutaan bintang bertabur indah. Menyapa dari keterjebakan mereka pada tirai langit yang sunyi.

Reed merentangkan tangannya yang terasa kaku ke udara. Berdiam diri cukup lama membuat pikiran Reed melayang ke gadis yang ia lihat siang tadi. Ia mengingat-ingat bagaimana cantiknya gadis itu dulu, dengan mata biru tenang dan postur tubuh yang ramping.

Reed mengalihkan pikirannya ke hal lain. Ia mengingat kejadian tadi sore di rumah Fik. Rasanya senang mempunyai teman yang baik. Reed tertawa kecil teringat Aster. Ia dan Fik terus-menerus bertengkar tentang kue Fik yang mendadak berkurang sendiri ketika ditinggal ke belakang.

“Orang itu ke arah sini,”

Terdengar suara seorang pria disertai derap kaki yang terburu-buru. Suara itu semakin mendekat. Hingga terlihatlah dua orang polisi berseragam biru gelap melintas di depan Reed dengan napas memburu. Salah satu polisi itu berhenti dan menghampiri Reed.

“Selamat malam, apakah Saudara melihat seseorang yang mencurigakan di sekitar sini?” tanya polisi itu dengan sopan.

Reed memalingkan wajah ke arah seorang polisi di depannya. Polisi itu mungkin masih muda dan hanya selisih beberapa tahun dengan Reed. Reed dapat melihat bintik keringat di wajahnya. Topinya terpasang rapi dan tampaknya ia membawa pistol yang tersembunyi di pinggangnya. Reed menggeleng perlahan seraya membenarkan posisi duduknya yang menurutnya kurang sopan, “Maaf, sejak tadi aku tidak melihat siapapun,”

Polisi itu mengagguk dan mengucapkan terima kasih lalu berlalu pergi dengan langkah yang seperti berlari. Suara derap sepatunya berangsur menjauh. Reed kembali terdiam. Merenung seorang diri di tengah sepinya taman.

Bosan. Reed meraih ranselnya dan berdiri. Ia melangkah kembali ke trotoar. Namun baru beberapa langkah ia berhenti, mendengar. Di antara gemerisik alam, ada suara jeritan kesakitan, sepertinya dari polisi yang menanyainya tadi. Suara itu sayup-sayup menghilang dan terganti rintihan kesakitan. Entah karena penasaran atau apa, Reed memutar tubuhnya dan timbul keinginan untuk memeriksa. Awalnya ia bergulat dengan keputusan ini, tapi kenyataannya kakinya berjalan juga ke arah suara tadi. Berasal dari balik belokan di seberang taman. Reed memperlambat langkahnya dan berhenti beberapa kaki dari belokan. Pagar besi rapat dan semen kokoh di sekitar gedung bangunan menghalangi pandangannya sehingga Reed tak bisa melihat apa yang terjadi di belokan itu. Ia mengintip untuk memastikan. Kepalanya menongol perlahan dari balik pagar bangunan. Terlihat satu orang berdiri angkuh dan satu orang gemetaran, yang lain lagi mendesah-desah di trotoar

Butuh waktu cukup lama sampai Reed dapat mengerti apa yang terjadi. Ada noda cairan di lantai aspal. Reed segera tersentak mundur, kakinya gemetar. Ia menempelkan punggungnya ke pagar besi yang sekarang terasa begitu dingin, matanya masih mengintip sedikit. Di belokan itu, ia melihat sesosok aneh berjubah sedang menusukkan pedang ke polisi tadi. Darah berceceran dimana-mana. Polisi yang satunya tampak gemetar mencoba meraih pistol yang tergantung di pinggangnya.

“S-siapa kau?” dari suaranya terdengar polisi itu berteriak dengan suara yang dibuat berani dengan susah payah. Ia menodongkan pistol ke arah sosok berjubah didepannya. Setidaknya acungan pistolnya sedikit lebih baik dari gertakan suaranya.

Sosok berjubah itu mencabut pedangnya dari tubuh polisi tadi, darah mengalir dari mata pedangnya dan menetes di lantai aspal jalanan kota. Ia menatap polisi lainnya itu dengan tajam. Derap kakinya bergema di jalanan aspal ini dan jubah hitamnya melambai di belakang. Tampak tidak takut dengan tembakan atau apapun, dan ia beruntung, tak ada siapapun di jalan ini yang melihatnya – mungkin kecuali Reed yang sedang bersusah payah menggerakan kakinya yang juga gemetar untuk melarikan diri dari tempat ini, lebih-lebih ia tak punya senjata apapun. Sosok berjubah itu mendekati polisi yang bergerak mundur dengan kaki gemetar itu.

“J-jangan mendekat a-atau k-kutem...bak...”

Pistol berperedam memuntahkan sebutir peluru dengan suara yang diminimalkan. Tercium bau mesiu dan asap tipis. Tapi tampaknya tak terlalu berguna. Dua logam terdengar berbenturan keras dan melengking saat peluru kembali terpental ke belakang melewati samping penembaknya yang terperangah. Sang sosok berjubah menurunkan pedangnya yang telah menebas lebih cepat melebihi tembakan sekalipun.

Lalu semua terjadi begitu cepat saat bilah pidang yang mengkilap tertimpa cahaya berayun di udara dalam sekejap mata, yang Reed lihat adalah kepala polisi itu telah terpisah dari badannya. Tampaknya tak satupun tembakan kedua sempat dilepaskannya. Darah yang terciprat telah mengubah cat pagar yang putih menjadi merah darah. Tubuh polisi itupun roboh ke tanah. Menggelempar dan jari-jarinya masih menggenggam pistol. Kepalanya yang tanpa badan terjatuh ke tanah dan menggelinding seperti bola. Matanya melotot seakan tak menyangka kematian akan menghampirinya begitu cepat. Bau anyir berterbangan.

Nadi Reed Zhivian mengalir cepat. Degup jantungnya tidak teratur. Darah. Ya, darah yang tercecer ini membawanya kepada kenangan masa kecilnya. Pagar-pagar rapat di pinggir trotoar ini serasa rubuh menimpanya dan menyumbat pernapasannya. Pikirannya seperti terlepas dan melayang jauh, jauh sekali. Hingga pikirannya berhenti pada suatu kenangan bertahun-tahun silam. Ia kembali terbayang ruangan penuh darah, dimana terlihat banyak anak kecil terbaring mati dengan kondisi tercabik-cabik. Tidak bergerak. Reed merasa kepalanya berat sekali, seperti ditimpa beban berton-ton.

Suara cabikan masih terdengar diiringi seperti suara cairan yang tertumpah di tanah. Sepertinya sosok berjubah itu belum puas dengan pembunuhan yang baru saja ia lakukan. Reed mencoba menguasai pikirannya. Ia tak ingin sosok itu menyadari keberadaannya. Ia mengangkat kakinya untuk berlari. Dan kemudian tubuhnya berlari secepat mungkin. Ia merasa lelah tapi ia tahan sebisa mungkin. Lari. Ia tak berani menoleh kebelakang.

Bayangan hitam pohon-pohon kecil di tepi jalan menjadi sangat menakutkan, seolah akan bangun dan mencekik Reed. Tas ransel sangat memberatinya. Kakinya yang terbungkus sepatu putih terus bergerak hingga terasa panas dan gerah. Reed meleawati satu perempatan dan tinggal jarak yang tidak jauh. Tapi seseorang – atau mungkin sesuatu – membuat pemuda itu menahan langkahnya. Kaki Reed berhenti tanpa sadar dan menimbulkan suara gesekan di aspal. Wajahnya pucat dan merinding. Puluhan balok es khayalan ditempelkan ke sekujur tubuhnya, terasa dingin yang tak ada hubungannya dengan angin. Jari-jarinya mati rasa, jantungnya jatuh ke perut dan terus terkubur ke dalam pusat bumi, meninggalkannya berdiri sendiri dengan mata tanpa bisa berkedip. Sekitar enam belas kaki dari tempat Reed terpaku, terlihat bayangan gelap bergerak ke arahnya seperti hantu. Lebih terlihat seperti kelebatan kain lebar yang melayang. Entah muncul darimana, padahal jalan itu sedari tadi sepi.

Reed menyeret kakinya dengan paksa ke belakang. Ia berharap pandangannya menipu, ia tak menyangka akan bertemu hantu. Keningnya terasa panas terbakar tapi kalah dengan rasa takut. Bayangan itu melewati lampu jalan dan tampak jelas sesosok bertudung hitam dengan gagang pedang mencuat dari balik punggungnya. Wajahnya gelap, hanya terlihat dua bulatan merah menyala yang seperti mata. Reed merasa seluruh daya kehidupannya menguap, balok es fiktif itu terus menggencetnya hingga dingin merasuk ke ulu hati. Reed menggigil ketakutan. Sosok gelap itu hanya berjarak sembilan kaki. Reed memutar tubuh dan berlari menembus malam.

Tak terdengar derap kaki mengikuti. Dengan keberanian yang tersisa Reed menoleh kebelakang, tak terlihat bayangan hitam itu lagi. Reed memicingkan mata dan cukup jelas, terlihat satu titik perak berkilau di udara setinggi kepalanya. Suara mendesing yang semakin keras dan titik berkilau itu ternyata adalah sebilah pedang yang melayang mengincar kepala Reed. Kepala Reed berdenyut-denyut bercampur takut. Napasnya tertahan. Tanpa sadar ia menggoyangkan tubuhnya ke kiri, tepat saat pedang itu melintas beberapa senti dari pipinya. Tercium aroma kematian dan hawa dingin yang lebih dingin dari es sekalipun. Pedang itu menancap dalam di tembok pagar dengan gema yang mengerikan. Dengan sesuatu yang tak bisa dijelaskan logika manusia, sebilah pedang tipis tanpa gagang itu pecah berkeping-keping seperti kaca, menjadi letupan api kecil yang lalu menghilang seperti sihir. Reed bernapas kembali.

Kematian nyaris saja menyentuh Reed. Rasa dingin terasa menggores pipi Reed. Perasaan lega bercampur ngeri mendominasi. Tapi semua segera lenyap seperti napas memburu nan ketakutan yang terus berhembus. Mulut Reed membuka tapi segera mengatup lagi. Sekujur tubuhnya kaku ketika ia memandang ke depan. Bilah pedang katana bersinar kemerahan di genggaman jari-jari kurus yang terbungkus jubah hitam gelap dan tua. Semua yang ada di sekitar menghilang dan terganti dengan kegelapan. Suara-suara lenyap seketika bersama suara kelebatan jubah sosok yang entah sejak kapan muncul di depan Reed.

Aura mistis bercampur supranatural. Reed mengangkat kakinya kebelakang tapi malah tersandung dan jatuh terduduk. Katana terangkat ke udara tanpa keraguan. Keheningan menyelimuti dan terus menekan, Reed dapat mendengar irama ketakutan detak jantungnya sendiri. Bulu kuduk Reed berdiri seperti ingin berlari meninggalkan tubuh pemiliknya. Tak mengerti kenapa semua tiba-tiba terjadi dan siapa sosok ini. Reed tak berdaya melawan. Nyalinya hilang, lenyap seketika meninggalkan ketakutan yang luar biasa. Setan, iblis, hantu, atau apapun namanya, telah berdiri di hadapan Reed dan siap mencabut nyawanya. Kelopak mata Reed tertutup, biarkan saja ia merasakan rasa sakit yang tak pernah dibayangkannya tanpa harus melihatnya.

Sekian detik yang cukup lama berlalu. Desiran angin berkelebat didepannya. Reed tak merasakan sakit atau apapun menyentuhnya. Juga tak terasa darah yang seharusnya mengucur keluar. Merasa aneh, Reed membuka matanya perlahan. Sosok berjubah hitam itu masih disana tapi tak terlihat jelas dan terhalang, ada sosok lain yang memisahkannya dengan Reed ; manusia, seorang pria. Pria itu membelakangi Reed, berdiri berhadapan dengan hantu itu. Ia terlihat sudah berumur dan mengenakan mantel berpergian yang kotor. Rambut hitamnya menyala tersiram cahaya lampu jalan.

Pria itu menoleh kepada Reed, ia merintih kesulitan, berusaha mengucapkan satu kata : “Lari!”

Reed berdiri dengan bantuan topangan kedua tangannya. Tampaklah jelas sekarang, pria itu sedang berusaha menghentikan laju pedang yang akan memenggal Reed dengan menggenggam bilahnya, darah mengucur dari sela-sela jarinya dan menetes di bawahnya dengan suara tetesan yang menakutkan. Sedangkan telapak tangan kanannya terbuka lebar di arahkan ke dada sosok berjubah. Siapapun itu, Reed patut berterima kasih kepadanya.

“LARI!!” pria itu berteriak kepada Reed. Suaranya bergetar. Matanya yang pucat memerintah Reed selagi sosok berjubah di depannya mendengus marah berusaha menarik pedangnya.

Reed tak perlu diperintah untuk ketiga kalinya. Ia mengangkat kakinya yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Sekilas ia melihat tangan kanan pria itu menyala putih, tapi ia tak sempat memperhatikan lebih seksama lagi. Tubuhnya telah meninggalkan hawa kematian di belakangnya. Ia terus mengucapkan terima kasih dalam hati untuk pria tua misterius yang telah menyelamatkan hidupnya. Dari belakang terdengar suara desingan dan beberapa kali letupan, tapi Reed terus berlari meninggalkan semua itu.

Satu perempatan lagi terlewat. Ia terus memperhatikan sekitar, cemas jika tiba-tiba muncul setan berjubah lagi di sampingnya. Sesekali menoleh kebelakang dan berharap tak terjadi apa-apa pada pria pemberani tadi, tapi pandangannya tak menjangkau apapun selain kegelapan dan jalan yang sepi. Satu perempatan lagi ia tapaki dan berbelok ke kiri dengan tergesa-gesa. Menuju rumah kecil dengan nomor kode sebelas. Begitu sampai di rumah ia membuka pintu dengan kasar, beberapa kali kunci gagal ia masukkan lubangnya. Pintu terbuka dan terlihat ruangan yang berantakan, namun Reed tak terpikir untuk merapikannya. Tangan kanannya yang masih memegang gagang pintu langsung menutupnya lagi dengan suara benturan yang keras.

Read previous post:  
31
points
(1674 words) posted by Sang Terpilih 11 years 4 weeks ago
62
Tags: Cerita | drama | awal | sahabat | ulang tahun
Read next post:  
100

whoa, awesome...

80

menegangkan!
tapi deskripsinya detail sekali, terlalu detail sampai saya merasa tempo ceritanya jadi melambat.
ah, mungkin itu hanya perasaan saya saja ^^
lanjut~

100

CERITANYA BAGUS

Trims.

90

kereenn.....
keren... (ga bisa ngomong)