bermain sampai mati I

Aku tersenyum konyol, kemudian menertawakan onggokan daging yang berusaha meraih kaki mungilku. Matanya mengutukku. Bibirnya mengucapkan kata-kata kasar yang rumit dan panjang. Seluruh tubuhnya berwarna merah menakjubkan. Kuambil kotak musikku yang tak jauh dan menyalakannya, kemudian lompat dan duduk di dada remaja laki-laki yang sedang meregang nyawa ini.

Lagi-lagi dia berteriak keras. Pantaskah laki-laki menjerit seperti ini? batinku dongkol. Lalu kuhentikan jeritan itu dengan menegakkan pisau ke tenggorokannya. Pisau itu menancap dalam, menembus sampai terdengar bunyi ‘tek’ di lantai. Darah memuncrat kemana-mana. Matanya langsung terbelalak lebar, dan dari mulutnya tidak lagi keluar suara bising itu. Hanya batuk-batuk yang disertai percikan darah. Kuelus-elus wajahnya yang dingin dan mulai kaku. Nada-nada tenang yang mengerikan mengalun dari kotak musik, mengantar kematiannya yang mengenaskan. Aku hanya cekikikan di atas mayatnya.

“Apa ini?”

Aku menoleh ke belakang. Seorang laki-laki muda masuk dan menutup pintu, kemudian dia menyalakan lilin. Ia berjalan mendekatiku. Tangan kanannya menggenggam sebilah golok dengan darah yang telah mengering.

“Tuan,” aku mendengus kesal, “Tidak bisakah mengetuk pintu dulu sebelum masuk?”

“Tidak,” katanya cuek. Ia menutup kotak musikku, lalu bergumam, “Seperti biasa..”

“Ya,” sahutku datar.

“Pisau di kaki-tangan kiri dan kanan, dua di tubuh, dan satu menancap di leher. Serta kau yang duduk di dada korban. Inikah metode favoritmu?”

“Ya.”

“Sekali-kali kau harus mencoba mutilasi.” Ia menaruh tangannya di kepalaku. Tangannya berat sekali, rasanya kepalaku hampir lepas.

“Mau apa kau ke sini?” tanyaku, tak menggubris perkataannya.

Ia berjongkok, supaya bisa melihat mataku. “Menemuimu. Apa lagi?” lalu matanya menyorot mayat yang kududuki. “Mau kau apakan dia?”

Aku angkat bahu, “Belum kupikirkan.”

“Sebaiknya kau bersihkan dirimu.” Ia bangkit dan melangkah keluar, “Aku ingin tidur. Jangan bangunkan aku kalau tidak ada sesuatu yang penting.”

Pintu dibanting. Dasar, ia memang tak mengerti adab. “Ya, selamat tidur!” teriakku.

Kuambil kotak musikku dan berdiri, lalu berjalan menginjak wajah laki-laki yang mati itu. Aku tidak segera mandi, aku malas mandi. Berlumuran darah seperti ini jauh lebih menyenangkan. Ya, apa enaknya bersih-bersih? Tapi, tuan akan memarahiku bila tidak bersih.

Burung kukuk memberi tahu kalau sudah pukul 01.00. Jam ding-dong berdentang satu kali. Jarum jam dinding membentuk sudut 30’ ke arah utara-timur laut. Jam-jam yang lain juga melapor kalau sudah pukul 01.00. Terlalu banyak jam disini. Mudah-mudahan mereka semua bisa menyadarkan orang gila yang memencet bel rumah dari tadi. Aku tidak langsung membukakan pintu, atau mengecek siapa yang datang. Rumah kami ada di pinggir hutan, jauh dari kota, jadi kalau ada tamu jam segini, pastilah orang tersesat.

Aku keluar dari ruangan ini, pergi ke kamar tuan. Tak enak untuk membangunkannya, tapi, tak mungkin juga aku sendiri yang membukakan pintu. Tamu itu bisa menjerit-jerit, atau malah pingsan.

Pintu kamar tuan tidak terkunci, tapi aku menendangnya agar bisa terbuka. Lalu aku naik ke ranjang tidur dan menendang-nendang wajahnya.

“Ann, kalau kau melakukan itu lagi, kau akan kumasukkan ke tempat sampah!” bentaknya dengan mata terpejam.

Aku menghentikan tendanganku, “Maaf, tapi ada orang yang memencet bel.”

Ia membuka matanya, lalu menatap wajahku dan agak terkejut, mungkin karena wajahku yang terlalu seram, “Siapa?”

“Orang gila,” jawabku asal. Tapi, dia mengeluarkan tatapan yang tak enak. Aku tersenyum konyol dan angkat bahu, “tidak tahu.”

Ia duduk terdiam sebentar. Tiba-tiba ia mengambil kaki kiriku dan mengangkatku terbalik. Aku berontak mati-matian, tapi tak ada gunanya. Kemudian ia membawa dan menaruhku di rak dinding tertinggi di ruang tamu.

“Kau tunggu disini. Diam dan jangan melakukan apa-apa. Jadilah boneka pajangan yang manis,” katanya lalu pergi.

Ya, ini tidak enaknya menjadi boneka.

Tuan menyalakan lampu dan berjalan keluar rumah. Kemudian dia kembali dengan seorang pria dan wanita paruh baya, serta gadis kecil yang berusia kurang lebih enam tahun. Nampaknya mereka satu keluarga. Di luar hujan, aku tahu dari suara derasnya, pakaian mereka yang basah, dan suara petir yang menggelegar.

“Silahkan duduk,” kata tuan dengan keramahan yang dibuat-buat.

“Terima kasih,” sahut si pria, kemudian mereka duduk. Mata anak kecil itu berkeliling di ruang tamu ini.

“Maaf mengganggu anda malam-malam,” kata si wanita. “kami mencari anak kami yang hilang,” kemudian ia mengambil foto dan memperlihatkannya, “namanya Rozan, 15 tahun. Kami sudah mencarinya di seluruh kota, tapi tidak ada. Mudah-mudahan dia ada di pinggir kota.”

Aku berusaha menahan tawa setelah melihat foto itu—dari jauh. Anak yang dicari mereka, tak lain adalah anak yang kubunuh barusan. Sepertinya tuan juga menahan senyumannya.

“Hmm.. maaf, tapi aku tidak pernah melihatnya. Di sini sepi, jarang ada orang,” kata tuan dengan wajah penuh penyesalan, menyesal karena tidak bisa membantu.

“Ooh..” Wanita itu menutup matanya dengan kedua tangannya, agaknya ia menangis. Kemudian si pria memeluknya.

“Dia hilang dari subuh tadi,” kata si pria.

“Sudah telepon polisi?”

“Ya, tapi polisi belum berbuat apa-apa,” jawab si wanita.

“Boleh kami bertemu orang tuamu?”

“Saya tinggal sendirian,” jawab tuan. “Omong-omong hari sudah gelap dan di luar hujan. Sebaiknya anda semua istirahat dulu di sini.”

“Terima kasih,” sahut si pria.

“Jangan!” tiba-tiba anak itu menyela, “aku ingin pulang saja. Ma, Pa, ayo pulang!”

“Tapi sayang, di luar hujan lebat. Sebaiknya kita beristirahat untuk mencari kakak besok,” ujar si pria.

Anak itu terdiam sejenak. Kemudian matanya menatapku tajam. Hei..

“Aku tidak mau disini!” katanya setengah menjerit. Lalu ia memeluk dirinya sendiri. Orang tuanya memandang heran. Apa aku melakukan sesuatu yang mencurigakan?

“Kalian harus istirahat disini,” ujar tuan tiba-tiba.

“Ya, terima kasih,” sahut si pria lagi, kemudian tuan mengantar mereka ke kamar kosong, bekas kamar orang tuanya, dan ia melupakanku di sini. Dan ia membiarkanku duduk diam di rak setinggi dua meter ini.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Ao-Chan
Ao-Chan at bermain sampai mati I (5 years 32 weeks ago)
100

Whaa,, menegangkan juga
genre yang ku suka,, ga sangka bisa baca di sini
^^

Writer dede
dede at bermain sampai mati I (9 years 49 weeks ago)
80

awal yang menegangkan.....
saya sering baca-baca di k.com ini, tp baru hari ini jadi member. salam kenal yah

Writer baru_aja_belajar
baru_aja_belajar at bermain sampai mati I (9 years 51 weeks ago)
70

ap maksud tuan ann td yah, kita liad di episode 2

Writer redscreen
redscreen at bermain sampai mati I (10 years 1 week ago)
80

Ann itu boneka? 0,o

Writer raven_hill
raven_hill at bermain sampai mati I (10 years 7 weeks ago)
70

sadisss..genre kesukaanku!! ayo bkin yg lbih kejaamm!! hwahahahahahahaha!! *psiko mode : on*

Writer aphrodite
aphrodite at bermain sampai mati I (10 years 7 weeks ago)
80

seremnyaaa >.<
tandingannya boneka chucky nih.
btw, saya kok jadi penasaran komentar guru bahasa indonesia-mu setelah baca cerita ini ^^
salam kenal yaa :)

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at bermain sampai mati I (10 years 7 weeks ago)

dy gk bilang apa2.. ^^a
ahay makasih ya, salam kenal juga. ;)

Writer Chie_chan
Chie_chan at bermain sampai mati I (10 years 7 weeks ago)
80

keren lho. aku terhanyut. cuma percakapannya agak kurang rapi aja. :D

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at bermain sampai mati I (10 years 7 weeks ago)

wah, ketauan dh kelemahanku.. ^^a

makasih y kak chie. >w<

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at bermain sampai mati I (10 years 7 weeks ago)
80

Wah cerita tentang boneka setan? Kayanya km senang mengeksplorasi tema ini. Pemakaian sudut pandang tokoh jahatnya saya rasa sangat menarik. Lebih menariknya lagi, bagaimana kamu bisa menampilkan keseraman dari mata si pembunuh, dan bukan dari mata si korban. Next part 2.

Writer neko-man
neko-man at bermain sampai mati I (10 years 8 weeks ago)
80

sereemmm

Writer cliffhanger
cliffhanger at bermain sampai mati I (10 years 8 weeks ago)
80

Mantap...

Writer lidra_violet
lidra_violet at bermain sampai mati I (10 years 8 weeks ago)
50

Ku suka percakapanx. . .

Writer bianca
bianca at bermain sampai mati I (10 years 8 weeks ago)
90

Bagus. Penuturannya pas. Gak berlebihan. Ngena ^^ masuk favoritku.

Writer layya16
layya16 at bermain sampai mati I (10 years 8 weeks ago)
70

seru ...

kirim kabar kalau sudah ada kelanjutannya

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at bermain sampai mati I (10 years 8 weeks ago)

mkasih.. :D
sudah ada, silahkan di cek.. ^^a

Writer Goldwizard
Goldwizard at bermain sampai mati I (10 years 8 weeks ago)
50

Wow! deg-deg an banget pas baca @o@

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at bermain sampai mati I (10 years 8 weeks ago)

gk ketawa ? O_O
pdahal aku mw buat crita lucu.. ==a

Writer Goldwizard
Goldwizard at bermain sampai mati I (10 years 8 weeks ago)

ahaha..maaf..beneran nggak tahu kl mau buat cerita lucu. deg2an banget pas baca tadi. udah serem aja mau tidur, niat mau nyeret si pus biar tidur bareng ^^a

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at bermain sampai mati I (10 years 8 weeks ago)

bcanda kok. saya berharap bisa menyamakan cerita horor dg cerita humor.. XD
*halah, gaje*
wew, hati2 pus nya nyakar. X3
makasih dah baca y teman !