Last Bouquet

Genre: Romance/sad
Note: this is a real fiction. Bagi kesamaan nama dan sifat itu merupakan ketidaksengajaan semata.
1st pots: Apr 30, '08 7:49 AM (mechiru.multiply.com)
Repost: July 14, '10 (kemudian.com)
---------------------------------------------------------------

Tertanggal 28 April, untuk kesekian kalinya, ia menempati kamar nomor 201. Bagi gadis mungil berambut panjang itu, kehidupan Rumah sakit sudahlah tak asing lagi. Sebagian besar hidupnya ia habiskan di kamar itu. Ia sudah pasrah dan berhenti berharap, hingga semua orang, bahkan keluarganya, enggan bertemu dengannya.

Dokter Shun menganjurkan agar ia dirawat inap untuk menganalisa sejauh mana penyakitnya berkembang. Ia tampak tak bersahabat dengan siapa pun. Menutup dirinya agar tak merasakan sakit. Seperti yang sering ia alami selama ini.

Terdengar suara ketukan pelan di pintu kamarnya. Ia hanya berasandar lemah di kasurnya. Lalu seorang suster masuk dengan membawa nampan.

“Permisi, saya membawakan makan siang Anda.”

Masih tak ada jawaban. Suster itu menghampiri buffet dekat kasurnya dan menaruh nampan berisi menu lengkap rumah sakit.

“Jangan lupa dimakan, Nona.”

Suster itu menghela nafas dan pergi dengan membiarkan pintu kamar itu sedikit membuka. Gadis yang terbaring di kasurnya hanya manatap kosong ruangan itu.
Tak lama terdengar suara gaduh dari balik pintu, yang membuat gadis itu terusik. Ketika ia membuka pintu untuk menegur orang yang membuat gaduh itu, ia melihat beberapa orang sedang bertikai.

Gadis itu terpaku pada salah satu dari mereka. Pandangan mereka pun bertemu, suasana menjadi hening seketika. Tanpa sadar sang gadis pun menutup pintu kamarnya. Dan yang lainnya tersadar.

Sedetik kemudian, terdengar seseorang mengetuk pintu.

“Hey, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja, kan?”

Gadis itu tak menjawab. Namun, saat itu ia terduduk dibalik pintu. Mukanya memerah dan terasa panas. Ia takkan menyangka akan bertemu kembali dengan cinta pertamanya di rumah sakit ini. Dia menunduk lebih dalam dan menyembunyikan wajahnya.

###

Keesokan harinya, anak laki-laki itu datang dan memperkenalkan dirinya pada Hime.

“Pagi. Maaf kalo aku mengganggu mu.” Sambil menaruh bunga di vas. “Oia, kita belum kenalan. Nama ku Shige. Kemarin aku terjebak tauran dan dibawa ke sini… kemarin aku meyakinkan ortu ku bahwa aku tak terlibat. Tapi percuma saja.” Ia tertawa garing.

Hime hanya menatap lengan kiri Shige yg diberi gips. Shige pun menyadarinya.

“Kata dokter, tangan ku sedikit retak, jadi selama seminggu kita tetanggaan. Mohon kerjasamanya. Mari kita buat hari-hari kita menyenangkan.”

Lagi-lagi Hime terdiam. Shige menuju sofa terdekat sambil mengambil catatan pasien. Duduk dengan senyum lebar.

“Jadi nama mu Hime? Nama yang bagus.”

Seketika ada bantal melayang ke arah Shige. Shige terkejut dan segera melihat ke arah bantal itu berasal. Muka Hime lagi-lagi memerah. Dan serangan bantal kedua pun dilakukan.

“KELUAR!! NGGAK SOPAN!! CEPAT KELUAR!!!”

Shige memungut bantal itu dan menaruhnya diujung ranjang. Serta menaruh catatan pasien milik Hime pada tempatnya. Lalu ia keluar dengan lunglai.

###

Shige tetap menjenguk Hime stiap hari. Bahkan menghabiskan harinya bersama Hime. Hari-hari mereka diisi dengan saling diam atau bertengkar. Suatu ketika, ia melihat Hime memandang sedih ke luar jendela. Ia pun mensejajarkan pandangannya.

Ia kaget. Di sana terlihat bianglala yang berkilauan di kala itu. Walau kecil, tapi tetap terlihat. Lalu ia berlutut dan berkata...

“Suatu saat nanti, maukah Hime pergi bersama ku ke sana?”

Hime memanadang Shige. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia memukul pelan tangan yang terulur untuknya. Dan dengan sigap, Shige menarik tangan Hime dan mendekapnya. Terdengar suara Hime meng-iya-kan ajakannya.

Meskipun perasaan mereka saat itu berbeda. Tapi mereka menemukan apa yang mereka cari selama ini. Kebersamaan. Kehangatan. Serta kasih sayang.

###

Keesokan harinya Shige diperbolehkan pulang dengan masih memakai gips di lengannya. Ia merasa enggan meninggalkan Hime sendirian, tapi ia harus kembali ke aktifitasnya semula.

Ia mengecup kening Hime sambil membisikan bahwa ia akan menjenguknya.
Tanpa terasa, sebulan berlalu sejak Shige berpamitan. Shige sudah melakukan aktifitasnya seperti seblumnya. Lagi-lagi Hime merasa kesepian. Ia mulai tenggelam kedalam pikirannya…

'Andai aku sejak awal tidak usah menghiraukan dia. Aku takkan merasa sepi dan tersakiti. Dan aku takkan pernah berharap…'

###

8 juni, hari yang tenang. Hime memutuskan untuk jalan-jalan di halaman rumah sakit. Sedikit dingin tapi Hime tak peduli. Karena batas Hime dapat bertahan tak lama lagi.

Ia duduk di bawah pohon sakura yang tak pernah berkembang. Kau bernasib sama denganku. Takkan ada yang pernah peduli, batinya.

Hime memandang berkeliling. Di sana tidak terlalu banyak yang bisa dilihat. Hanya sebatas daun-daun yang menumpuk, berterbangan tertiup angin.

Hime tersentak ketika seseorang memeluknya dari belakang. Terengah-engah, seakan habis berlari beratus kilometer. Lalu membisikkan, “Kau bisa masuk angin loh…”

Hime termangu. Tiba-tiba ia bergetar, dan isakan mulai mengisi suasana siang itu. Ia tersadar, ia rindu suara ini, wangi badan ini, pelukan ini. Ia rindu sekali. Air mata pun tak berhenti mengalir.

Shige hanya memandangnya. Panik dan coba menghentikan tangisan gadis itu. Dia putus asa dan akhirnya mendekap erat Hime yang menangis tersedu-sedu.

###

Setelah hanya tersisa isakan kecil, Shige memakaikan jaketnya keapada Hime. Ia membelikan sekaleng minuman hangat tuk Hime.

Ketika tak sengaja hime merogoh kantong jaket Shige, ia menemukan sesuatu. Ia melihat ke arah Shige yang tersenyum.

“Coba lihat.” Bisiknya.
Hime mengeluarkan dua tiket gold ke taman ria.
“Ini…”

Shige tersenyum lebar. Menggenggam tangan Hime. Dan berkata…
“Ke taman ria yuk? Mumpung kamu udah di luar.. gimana klo sekarang?”

Ia berdiri dan menarik tangan Hime. Mereka naik subway ke taman ria. Engga terlalu ramai, karena masih jam kerja. Dan keduanya terseynum renyah mengingat tindakan gila mereka kali ini…

###

Sesampainya di taman ria, mereka mulai berkeliling. Hime yang memilih wahana apa yang akan mereka nikmati. Pertama ke rumah kaca, rumah hantu, starwars, mereka terlihat senang sekali.

Shige melihat jam tangannya. Waktunya Hime minum obat. Mereka memesan burger untuk makan siang. Dan bercerita banyak hal. Shige merasa senang, akhirnya bisa melihat Hime tertawa lepas. Dan tiba-tiba ‘click’ suara seseorang memotret.

Bukan paparazzi tapi Shige lah yang mengabadikan moment itu. Hime terlihat kaget tapi tertawa lagi.

Tanpa terasa hari sudah sore. Mataharipun sudah malas berlama-lama menggantung di langit.
“Ah, sudah sore~ kita pulang yuk?” ajak Hime.

“Engga papa pulang sekarang? Engga mau naik itu dulu?” Tanya Shige sambil menunjuk bianglala di hadapannya.

“Tapi… sekarang di rumah sakit sedang ribut…” ia ingin sekali naik bianglala, tapi ia merasa harus segera kembali.

“Daijoubu dakara,” sambil narik tangan Hime, “Yuk?”

Akhirnya mereka menghampiri langit yang memerah. Lagi-lagi Shige mengabadikan moment itu. Hime terlihat bahagia. Senyum Hime begitu lembut seperti anak kecil. Muka Hime yang terbias merahnya mentari begitu imut.

“HUAH~ sankyu na~ kono kimochi wa…”

Ucapan Hime terhenti. Shige mendekap dengan erat dan menciumnya mesra. Hime terkejut tapi cukup menikmatinya.

“Terimakasih untuk hari ini” ujar Hime. Kichuuu~

###

Keesokan harinya, Shige dimintai keterangan tentang kepergian Hime. Hime hanya tersenyum melihat shige yang panik menenangkan para suster. Memang semenjak ada Shige, hubungan Hime dengan para suster membaik.

Kali ini Shige membawa bouquet mawar yang cantik. Ia tampak lelah tapi tetap tersenyum. Ia menyapa Hime tiga hari seminggu di sela-sela kesibukannya.

###

8 july, Entah sejak kapan, Hime merasa ada yang aneh pada dirinya. Nafsu makannya bekurang. Daya pandangnya juga kurang focus dari biasanya. Terkadang ia sulit mendengar.

“Hime? Ada apa?” Tanya Shige khawatir.
“Iie, Daijoubu.” Jawab Hime tersenyum.
“Besok aku mulai ujian akhir semester. Mungkin aku akan jarang datang kemari. Gomen.”
“Blajarlah. Jangan khawatirkan aku. Raihlah impian mu. Aku akan selalu mendukung mu.” Ujar Hime sambil menggenggam tangan Shige.

Pintu berdecit pelan. Muncul wajah suster yang ramah.
“Maaf tuan, waktu jenguk pasien sudah habis.” Ujar salah satu suster.
“Maaf. Saatnya pulang.”

Shige tersenyum dan memberikan ciuman singkat yang dalam. Ia bangkit dari ranjang, memandang Hime lemah.
“Jya matta ne”

Hime memberikan senyuman terlembutnya untuk Shige. shige pun menghilang di balik pintu.Setelah merasa Shige pergi jauh, air mata terakhir menetes. Hime merasakan dingin yang luar biasa. Pandangannya pun perlahan meredup.

###

Shige menutup pintu dibelakangnya pelan. Tapi ia tak kunjung beranjak dari sana. Ia terkulai lemas. Air mata pun mulai bercucuran. Ia merintih seakan ada luka besar dalam dadanya. Ia sedih dan merasa kesal, karena tak bisa melakukan apapun demi yang terkasihi.

======END======

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer angel16
angel16 at Last Bouquet (12 years 22 hours ago)
80

Wah bagus XDDD
Idenya bagus XD dan kesannya manis.
Kalo bisa bahasa jepangnya dikurangi ' 'a entah knapa saya merasa agak terganggu oTL
Tapi overall keren XD

Writer fay_az
fay_az at Last Bouquet (12 years 3 weeks ago)
70

keren....tpi lbih kren lgi klo crta cnta prtama x d jlaskan sdkit

Writer herjuno
herjuno at Last Bouquet (12 years 5 weeks ago)
60

Haha, cerita tentang penyakit! Saya suka tipe cerita seperti ini. Great, great, haha.

Temanya bagus, hanya saja sepertinya kurang dielaborasi. Oh, ya, saya merasa agak ganjil dengan kalimat ini:

Keesokan harinya, anak laki-laki itu datang dan memperkenalkan dirinya pada Hime

Yang pertama, kamu tidak pernah menyebut anak laki-laki sebelumnya. Apakah dia orang yang sama dengan orang yang bertengkar itu? Kalaupun iya, kamu menyebutnya dengan sebutan seseorang, kan? Selain itu, kalaupun iya juga, peran Shige sebagai "Cinta pertama Hime" kok rasanya tidak kelihatan, ya? Tidak ada adegan yang menyokong hal itu.

Kemudian,nama karakter. Nama karakternya muncul secara tiba-tiba, padahal sejak aawal kamu memperkenalkannya dengan sebutan ia/gadis itu. Akan kebih baik kalau sejak awal, kamu sudah sebut nama saja.

Sebagai saran, elaborasi background karakter. Semisal apa penyakitnya, hubungannya terdahulu dengan sang cinta pertamanya, dsb.

Masuk ke babak ketiga yang ada adegan romantisnya. Kata "menjenguk" itu rasanya kurang terpat, karena Shige dan Hime sama-saam dirawat. Akan lebih enak kalau diganti dengan kata "menemui".

Perkembangan hubungan cinta mereka rasanya juga agak ganjil. Maksudnya pada awalnya kan diceritakan bahwa "Hari-hari mereka diisi dengan saling diam atau bertengkar". Menurutku, aneh saja kalau tiba-tiba Shige memeluk dan mencium kening Hime. Perlu elaborasi di sini.

Kemudian,kalimat ini:

Quote:
Hime tersentak ketika seseorang memeluknya dari belakang. Terengah-engah, seakan habis berlari beratus kilometer.

Agak rancu katena terlalu tiba-tiba. Mungkin bisa kamu kasih penjelasan dari mana Shige datang. Oh, ya, sepertinya kamu nggak perlu ganti babak di sini.

Kemudian, penggunaan kata engga dalam "Engga terlalu ramai, karena masih jam kerja" itu terkesan aneh, karena kata tak baku itu nyempil di tengah deretan kata baku, hehe.

Langsung loncat ke ending saja, ya. Endingnya, kalau menurutku pribadi, kurang memuaskan, nih. Seharusnya kamu bisa menggali lagi tentang "cinta pertama" itu, haha. Tapi saya menghargai pilihanmu menggunakan ending menggantung, kok, jadi meski saya bertanya-tanya bagaimana nasih Hime selanjutnya,saya masih bisa menerima :)

Overall, kamu perlu banyak mengelaborasi kalimat karena rasanya kalimat per paragrafnya masih banyak yang terlalu sedikit.

Oke, thanks ^^

Writer ruuan
ruuan at Last Bouquet (12 years 5 weeks ago)

ba-banyak *plak*
ah, terimakasiih x33
elaborate words n sentences ya~
sepertinya memang saya harus banyak baca kembali untuk menambah diksi (_ _)

terimakasih sudah baca dan memberi masukan (_ _)

Writer aphrodite
aphrodite at Last Bouquet (12 years 5 weeks ago)
80

hai ruuan, salam kenal ya :)
ceritanya sebenarnya tragis tapi sayang, temponya terlalu cepat jadi saya kurang bisa menghayati, maap T___T
kalimat ini: Walau dokter Shun menganjurkan agar ia dirawat inap untuk menganalisa sejauh mana penyakitnya berkembang. lebih pas kalo ga pakai Walau
terus juga ada beberapa typo, dicek lagi yaa :)

Writer ruuan
ruuan at Last Bouquet (12 years 5 weeks ago)

ah, ya...
salam kenal n makasii masukannya (_ _)

Writer kurohime
kurohime at Last Bouquet (12 years 5 weeks ago)
50

hah.. tamat segitu aja tuh.

Writer ruuan
ruuan at Last Bouquet (12 years 5 weeks ago)

iyah..
saya memang suka cerita-cerita yang sedikit menggantung di akhirnya ^^
jadi mohon maaf jika kurang berkenan (_ _)