The Owl II: Silent Warrior (Episode 2A: Finding Kirov is Not Easy)

Langkah kaki Rufe terus berlari tiada henti. Ia datang dengan satu tujuan: Membawa keluar Kirov dari hutan Vientine Utara. Berbekal insting yang ia asah sejak di pelatihan, setiap gerakan yang dituju pasti tak pernah salah. Pada akhirnya, Rufe menangkap dari matanya dua orang tentara berpakaian mirip petani negara tropis, namun memakai topi cap dan rompi. Ia segera bersembunyi dibalik pohon yang bercabang dan segera ia ambil binocularnya. Matanya terpusat pada pergerakan dua orang itu. Rufe kembali mengaktifkan walkie-talkienya untuk melaporkan situasi.

"Owl ke major. Aku melihat dua orang tentara yang sedang berpatroli..." lapor Rufe kepada mayornya.

"Mereka pasti dari North Vientine Army. Dikirim untuk melindungi Kirov"

Rufe mendekatkan penglihatannya dengan meng-zoomkan binocularnya. Terlihat jelas jenis senapan yang dibawa oleh kedua orang itu.

"PPSh-41... dan granat stik..."

"Aku hanya menjelaskan sedikit kepadamu, Owl. Jika kehadiranmu diketahui oleh mereka saja sudah disebut pelanggaran internasional. Dan kita tidak mau terlibat dalam kasus ini. Satu-satunya cara untuk melawan mereka adalah melumpuhkannya"

"Melumpuhkan ya...?"

"Kamu telah dipersenjatai khusus dari Official Secret Agency (OSA), yakni pistol revolver modifikasi dari mereka. Pistol itu berjenis Colt Pythoon, dengan berisikan delapan butir peluru bius. Pistol ini setara dengan tranquilizer gun."

"Oh, mainan baru... sepertinya menarik. Kembali melanjutkan misi. Owl keluar..."

Rufe mulai berjalan dengan amat perlahan dan senyap. Ketika dirinya mendapati sebuah kayu gelondongan yang berlubang ditenganhnya. Alhasil, ia langsung masuk kesana sambil menunggu mangsanya. Tak lama kemudian, satu orang tentara NVA terlihat di mata Rufe. Satu orang? Tunggu dulu. Bukankah harusnya ada dua orang? Kemanakah satu orang yang selanjutnya?

Rufe tahu kalau ada satu orang lagi yang seharusnya bersama orang itu, namun Rufe keluar dari sarang persembunyiannya. Perlahan bergerak membuntuti tentara NVA yang sedang berpatroli itu. Ia sempat melihat ke belakang, dan tak ada siapa-siapa. Aman.

SRREEEPP....

Langsung saja, tangan Rufe mengalungi leher orang itu dan membawanya ke sebuah pohon yang rindang yang tak jauh letaknya dari sini. Dengan menodongkan pistol revolver bius ke leher orang itu, Rufe sedikit menginterogasinya.

"Ugh!! Siapa kau? Mau apa kau disini?" bentak tentara itu yang mulutnya dibekap dengan mulut Rufe.

"Shh.... minim suara, tapi banyak informasi. Sekarang beritahu aku dimana Alexandr Kirov..."

"Argh... aku takkan... tidak. Aku takkan membertahukan padamu... kamu bukanlah apa-apa untuk mengetahui keberadaan orang itu..."

"Ouh... mungkin teman kecilku bisa merayumu untuk memberitahukannya..." Rufe menodongkan revolver biusnya semakin dalam. Tangannya sudah siap menekan pelatuk, sementara tentara yang "dipelukan" Rufe mulai berkeringat dingin. Aura ketakutan mulai keluar.

"Oke-oke... Kirov berada di sebuah pabik bekas pengolahan tembakau. Lokasinya ada di bagian timur, dan tak jauh dari sini. Hanya perlu berjalan sedikit lagi, dan kau akan menemukannya. Puas?"

"Sangat..." jawab Rufe dingin yang kemudian menekan pelatuk revolver biusnya.

Pria itu langsung terkulai lemas. Ternyata reaksi biusnya cepat sekali bekerja. Rufe merasakan ada sesuatu yang bergerak dari kejauhan melalui instingnya. Suara gesekan antara kaki dengan semak-semak semakin keras volumenya. Pria berusia 31 tahun dan berambut silver ini segera bersembunyi dibalik padatnya ilalang hijau. Dia merasakan gerakan itu makin lama makin mendekatinya. Kemungkinan gerakan itu adalah salah satu tentara musuh yang berpatroli. Tepat dugaan Rufe, gerakan kaki itu hampir mendekatinya. Rufe tak punya banyak cara untuk menghindar kecuali menyergapnya.

Dengan menumpukan kekuatan pada kakinya, Rufe mementalkan tubuhnya ke arah asal gerakan itu bagaikan leopard menerkam mangsanya. Gerakan menerkam Rufe sempat mengagetkan tentara itu. Benar dugaan Rufe, ternayata dia adalah tentara NVA yang sedang berpatroli. Sambil mulut orang itu ditutup dengan tangan Rufe, ia ambil pisau tempur yang tajam sekali di sarung pisau yang menempel di rompinya. Lantas, pisau itu ia arahkan tepat di sekitar leher musuh lalu memainkannya dengan cepat. Cepat sekali temponya hingga tak kasat dimata. Tangannya sangat cepat, sehingga terlihat hanya melayang-layangkan tangan. Padahal sesungguhnya sedang melayangkan pisau di leher orang itu.

Seketika Rufe menghentikannya setelah dirasa cukup melakukannya dua kali. Rufe menatap orang itu dengan andangan kosong. Terlihat jelas pupil orang itu menaik perlahan hingga matanya putih keseluruhan. Tangan Rufe diangkat perlahan, dan ia mendapati orang itu menjulurkan lidahnya. Di mulutnya terdapat banyak darah yang kemudian mengembul keluar seperti gunung berapi yang meletus. Darah itu hampir saja mengenai wajah Rufe, namun hanya mengotori sebagian bajunya. Dengan tatapan kosong, Rufe hanya berdiri dan berjalan ke tempat yang ditujunya.

"Itu yang kumaksud melumpuhkan..." ucap Rufe dalam hati.

Oh ya, teknik membunuh senyap yang dilakukan Rufe tadi disebut Short-time kill. Teknik yang mengutamakan kecepatan itu sangatlah sulit dipelajari, bahkan oleh pasukan khusus sekalipun. Diantara beberapa passus dan badan intel yang tersebar di Avionic World, hanya World Assembly Peacekeeper Intel dan Specnaz Stoklomolvi yang mampu menerapkan teknik itu.

Kembali melanjutkan perjalanannya, Rufe akhirnya menemukan tempat yang ia tuju tanpa kesulitan. Sebuah bangunan tua yang kondisinya hampir roboh. Warna cat merahnya sudah kusam, bata-bata yang mengkokohkan bangunan itu mulai lapuk, besi fondasi bangunan itu sudah bengkok dan berkarat. Sepertinya dari kondisi tersebut bangunan itu sudah tak terawat sejak lama. Rufe kembali mendapati dua hingga tiga orang tentara NVA berjalan mengelilingi. Ditambah satu lagi sesosok aneh dengan pakaian yang ditumbuhi banyak dedaunan. Sosok itu hanya berdiri di atas bangunan tua itu sambil mengamati lingkungan sekitar.

Dibalik sebuah tembok kayu yang ada, Rufe meraih binocular dari rompinya dan memantau pergerakan tiga patroli itu. Walkie-talkienya kembali dinyalakan dan melaporkan status.

"Mayor, aku sudah berada di tempat dimana Kirov bersembunyi..."

"Bagus. Laporkan situasi di lapangan, Owl"

"Baik. Ada tiga tentara musuh yang berpatroli, plus sniper... ini semakin seru saja..." jelas Rufe secara singkat

"Oh, kau benar. Penjagaan disana lebih ketat rupanya. Oke, Owl. Cobalah untuk melumpuhkan mereka dengan senyap. Semoga berhasil, Owl. Mayor keluar..."

Rufe sudah memiliki rencana untuk masuk ke dalam bangunan itu. Sambil matanya memantau pergerakan tiap pergerakan musuh, Rufe terfokus pada sniper diatas bangunan itu. Tangan kanannya meraih senapan runduk andalannya dari belakang, dan langsung membidik kepala sniper itu. Hanya perlu satu hentakan jari Rufe untuk menghilangkan satu nyawa.

****

Meski telah diberi peredam, namun suara yang ditimbulkan oleh senapan M104 Putin ternyata lumayan keras dan bergema. Hal itu mengagetkan ketiga tentara NVA yang berpatroli. Mereka melapor ke markasnya, dan kemudian berpencar mencari asal suara. Rufe tetapi tidak panik, dalam kondisi seperti ini yang harus dilakukannya adalah membunuh secara senyap. Kembali ia gotong senapannya ke belakang, dan mengambil pisaunya. Ketika salah satu penjaga itu melewati tembok kayu dimana Rufe bersembunyi, langsung saja ia menyergap orang itu sambil melancarkan Short-time kill. Ia layangkan dengan cepat pisau itu di sekujur tubuh orang itu. Sekejap tentara itu tewas tanpa suara.

Lagi-lagi ada dua penjaga yang tersisa. Dengan santai, Rufe mengambil kembali senapan runduknya dan membidik kedua tentara yang berpatroli ke arah yang berlawanan. Rufe langsung mengetahui pola pencarian mereka, satu orang akan berpapasan dengan satunya. Rufe kembali membidik diantara pergerakan dua tentara itu. Ketika mereka berpapasan, langsung saja ia menghentakan pelatuknya. Suara menggelegar dari senapan Rufe memecah kesunyian, sekaligus memecah dua kepala musuh sekaligus. Teknik ini baru dikuasai Rufe, namun penerapannya sudah sempurna.

Merasa tak ada makhluk hidup lagi, Rufe melangkah maju hingga ke dalam bangunan itu. Benar-benar sepi, lembab, dan berantakan. Hanya itu suasana yang tergambarkan dari visualisasi Rufe. Secara kebetulan ia mendapati sebuah pintu besi yang masih kokoh tertutup. Rufe mendekat ke pintu itu. Pisau serta revolver biusnya siaga, ia dengan amat perlahan membuka pintu itu. Apa yang dicarinya kini sudah ada.

Ia melihat sesosok agak tua dengan rambut tipis berjongkok di dekat perapian. Ia memegang sebuah kertas yang entah apa isinya diantara tumpukan kertas, dokumen, dan beberapa buku. Ia melihatnya sesaat, dan kemudian membuangnya di antara api yang membara. Tak salah lagi, orang inilah yang dicari Rufe.

"Kamu pasti Profesor Kirov...?" kata Rufe datar.

Pertanyaan Rufe sempat mengagetkan orang itu.

"Dan... apakah kamu dari orang-orang Chekov?" tanya Kirov dengan bahasa Stoklomolvi yang fasih.

Ia mengambil semua tumpukan kertas, dokumen, dan buku itu lantas membuang semuanya ke perapian. Ia kini bergerak menutupi perapian.

"Kamu takkan mendapatkannya dariku" tukasnya.

"Tidak. Aku dari World Assembly..." jawab Rufe sambil memasukkan kembali dua senjatanya ke sakunya.

"Oh... aku paham. Maaf, aku terlalu paranoid dengan Chekov. Bila pertanyaanku tidak mengganggumu, siapa kamu? Apa kamu adalah intelijen? Aku berjanji takkan kubeberkan ke siapapun..." tanya Kirov.

Mengetahui identitasnya hampir terkuak, Rufe hanya mampu menjawab pertanyaan itu. Toh, dia sudah berjanji takkan membeberkannya ke khalayak ramai.

"Namaku Rufe, boneka terakhir dari Rozen Maiden..."

"Rozen... Maiden?"

"Tepatnya kawan lamamu yang telah menyelamakan dirimu dari kejaran pasukan Stoklomolvi"

"Maksudmu... Mayor Maiden?"

"Tepat..."

"Ugh... aku tak mengerti apa yang kau maksud 'boneka terakhir', tapi kita harus keluar dari sini secepatnya sebelum orang-orang Chekov datang kemari" Kirov mulai panik, mengintip jendela pecah untuk memastikan orang yang ditakutinya itu tak hadir.

"Jangan panik... tapi siapa itu Chekov...?" tanya Rufe penasaran.

"Kau tidak tahu Chekov?"

Rufe menggeleng.

"Ilyushin Chekov adalah tangan kanan yang paling dipercaya di badan intelijen Stoklomolvi bernama BRU. Berkat kehebatannya memata-matai, dia di barat dikenal sebagai 'Madcat'!" jelas Kirov.

"Madcat? Belum pernah kudengar..." kata Rufe.

Lalu, Kirov mulai menjelaskan siapa itu Chekov.

"Dia adalah salah satu dari agen intel terhebat di negara kami (Stoklomolvi). Setelah Perang Avionik Kedua, ia langsung bergabung ke dalam BRU untuk mencari-cari proyek rahasia pasca rezim Nazi Grandenburg. Hampir semua proyek rahasia berhasil ia gasak, salah satunya pesawat pembom atom jumbo, dengan kode T-21. Tak sampai disitu, ia berhasil memata-matai kondisi politik United States. Ketika kondisi tersebut sudah pas, maka terjadilah peristiwa tragis di Semmeria..."

"Pembunuhan presiden Alfred F. Kennedy?" sela Rufe.

"Betul. Dialah yang sesungguhnya dalang dibalik pembunuhan presiden itu... dia beraksi di balik layar... dibalik panasnya Perang Vientine, dia tetap beraksi"

Kirov menghela nafasnya karena capek menjelaskan. Lalu kemudian ia lanjutkan kembali.

"Intel kami mengatakan, bahwa pergerakan Chekov sudah berada di Sangoi, ibukota Vientine Utara. Dengan mudahnya ia bergaul dan merangkuli semua golongan, termasuk NVA dan gerilyawan Vien Cong. Jika ia berhasil menangkapku, maka aku akan digiring ke Moskwa dan dieksekusi. Mengingat di sana sedang gencar penghabisan beberapa ilmuwan roket sepertiku..."

"Jadi kumohon siapa pun kamu, bawa aku keluar dari sini. Aku benci dengan tempat ini..." pinta Kirov.

Dengan tatapan yang meyakinkan, Rufe mengangguk pelan. Ia berbalik memandu Kirov ke depan pintu.

"Ngomong-ngomong... bahasa Stoklomolvimu lancar sekali. Siapa yang mengajarinya?" tanya Kirov.

"Hmm... aku belajar otodidak..." jawab Rufe dingin.

"Oh... kreatif. Kreatif sekali..."

****

Langkah kaki Rufe bergerak amat perlahan keluar dari tempat Kirov, sementara sang profesor mengikuti Rufe dengan penuh harap ia bisa dilindungi. Nampaknya ia memang paranoid dengan tempat ini, sehingga setiap langkah kakinya selalu gemetar. Rufe sudah mengingatkan untuk jangan panik, namun dasar paranoid susah untuk diatur. Ketika mereka berada diantara boks-boks yang menumpuk, Rufe merasakan aura yang mencekam. Ia merasa sedang dibuntuti dari belakang. Dan tak lama kemudian...

"FREEZE!!"

Bersambung...

Read previous post:  
56
points
(2285 words) posted by Tom_Hirata 10 years 32 weeks ago
70
Tags: Cerita | Novel | petualangan
Read next post:  
70

Kayaknya ada beberapa kalimat yang pemenggalannya perlu diperhatiin lagi. Itu minor sih. Buatku yang agak mengganggu itu seperti yang Heinz bilang. Narasinya terkesan kayak belum sungguh-sungguh, meski secara pribadi aku ngerasa hal itu bakal diperbaiki dengan sendirina semakin sering kau menulis.
.
Soal isi ceritanya sendiri... um, aku agak bermasalah sama definisi 'melumpuhkan' Rufe. Tapi ini enggak buruk kok.
.
Berjuanglah.

*ngelanjutin baca
.
komennya idem ama kak heinz, keburu ditutup bukunya ~~a . dulu , sebelum k.com crash down untuk yg ketiga kalinya, saya jg sempet baca cerita tom. tapi 2 chapter baca, saya udah pusing, gak kuat ama istilahnya T_T
.
tapi selebihnya menjanjikan kok, kecuali bagian yang kamu buat terlalu mirip sama sejarah aslinya. saya shock pas penembakan kennedy juga dimasukin
.
say yes to constructive critics, say no to offensive one
.

Ehm... emangnya ga boleh ya masukin event asli ke dunia alternatif?
.
Trims

Bukannya ga boleh si Tom, tapi rasanya kurang originalitasnya.
Soalnya ketika pembaca membaca suatu fanfic, mereka mengharapkan sesuatu yang berbeda dari realita yang ada
.
Mungkin boleh juga kamu masukin penembakan kennedy,
tapi namanya di usahakan sangat disamarkan, diganti total gitu :D jadi gak ada unsur kennedynya lagi, supaya pembaca ga langsung nge-spot ke sejarah aslinya
.
Sekian maap kalau kebanyakan protes :D

Oya, huruf 'A' di judul itu apa sih? Kupikir ada bagian B-nya tapi gada. Trus judul bab ini juga sepertinya kurang sesuai karena ternyata Finding Kirov is not too hard.

Oh, kalo itu sih kode setting negara dimana cerita itu berlangsung. Misalkan kyk sekarang, A berarti di Vientine Utara. Lalu untuk B, C, D, dsb saya rahasiakan. hihi...

Oh ya ya.
Kirain ntar ada versi B-nya. Hehe.

70

keinget splinter cell tom!
gaya ceritamu seakan2 kita sedang main game nih.
ubah dong, yang lebih 'aku' gitu!

Ya, udah jadi rada kebiasaan kak aku nulisnya kyk gitu di setiap cerita fiksi. Tapi saya akan berusaha...
Trims

60

Hm, gimana ya....Ada cukup banyak yang gak sreg. Beberapa di antaranya:
1. Masalah info colt python tranquilizer yang kurang nge-blend lagi.
2. Kenapa setiap kali ada musuh wajib lapor mulu ama si mayor? Kesannya jadi seperti tutorial.
3. Somehow penamaan short-time kill-nya kurang bergaung. Oya, dengan ngiris leher kaya gitu face to face, harusnya sih darahnya bakal muncrat kena Rufe.

Cukup segitu saja.

1. Umm..... kyknya yg menjadi masalah aku adalah cara mendeskripsikan sesuatu secara detil. Aku juga rada bingung mau gimana? ntar aku coba bahas di kners.
.
2. Inget ga heinz-kun kalo di dunia militer, setiap mau engage musuh harus lapor ama atasan? Jadi menurutku masih logis karna kita harus tanya apa boleh nge-engage musuh. Gitu...
.
3. Kurang bergaung? maksudnya? Oh, aku mungkip lupa dengan adegan ambahan darah muncrat seperti itu.
.
Terima kasih. kalo ada salah, CMIIW

1. Bukan masalah detilnya. Tapi masalah nyatunya, dan masalah penting-ga pentingnya.
2. Iya ya? Abis nonton Rambo gak ada. James Bond juga gak. MGS juga cuma awal-awalnya doang. Kupikir kalo misinya cover-ops gak melulu harus lapor.

Hm, aku akan mencoba menjelaskan sedikit deskripsi yang blend itu berdasarkan pengalaman dan kritik yang kuterima selama ini. Kita ambil contoh kasar dengan asumsi budaya Jepang belum merambah Indonesia:
==> Miku pergi ke Hoka Bento mengenakan kimono merah. Kimono adalah pakaian tradisional Jepang yang sudah digunakan sejak dulu kala. Setibanya di Hoka Bento, Miku langsung memesan udon. Udon adalah mie khas Jepang yang berukuran lebih besar dari mie biasa.
See? Banyak info di sana, yaitu kimono dan udon, yang kesannya seperti pengumuman.
Coba bandingin dengan yang ini:
==> Miku pergi ke Hoka Bento dengan memakai kimono merah. Setibanya di Hoka Bento, gadis berpakaian khas Jepang itu langsung memesan udon.
Kalo menurutku sih yang seperti ini lebih blend, di mana kita ga perlu nerangin secara khusus kimono itu apa. Bahkan udon pun ga dijelasin khusus dan cukup di-italic saja karena dianggap istilah Jepang yang sudah cukup umum.
Ato teknik lainnya kalo banyak istilah jargon ya menggunakan footnote ato glossarium. Meski sebisa mungkin jargon kaya begini dihindari. Walau kita memang ingin memberi atau mengenalkan suatu informasi pada pembaca, tapi kita tetep harus menghargai pembaca. Kalo saking banyaknya jargon yang bingung, mungkin pada satu titik si pembaca bakal berpikir 'walah, gue bodo banget ya? Buku ini ketinggian, ga kuat aku. Udah ah.' Tutup buku, dan itu kan gag bagus. Tapi bukan berarti jargon ga boleh ya, cuma ya diukur kadarnya.
Let's see your work:
1. Tranquilizer. Jelas ini jargon yang gag semua orang tau. Cuma menurutku mungkin lebih baik ditulis seperti ini (contoh kasar): Rufe membidik sejenak dan menembak prajurit itu dengan pistol tranquilizer-nya. Hanya beberapa detik saja si prajurit ambruk. Kemudian Rufe segera mengisi ulang peluru pistolnya itu.
Bandingkan dengan: "tranquilizer adalah pistol bius yang sanggup melumpuhkan lawan hanya dalam 3 detik. Tapi hati-hati cuma terisi satu peluru saja," kata Mayor.
Silakan dibandingkan. Tapi ya sekali lagi ini cuma share pengalamanku saja.
2. Tentang yang buka parasut pada ketinggian 1500 kaki. Padahal udah bagus, bro tulis yang kira-kira senada gini: pada ketinggian kira-kira 1500 kaki, Rufe menarik tali parasutnya. Jadi ga perlu dobel information. Informasi 1500 kaki yang sebelumnya bisa dihilangkan.

Semoga membantu. Dan semoga gag merasa ter-bully.

Oh, okay deh..
Thanks heinz atas pengetahuannya dan sedikit kritiknya. Aku jadi terasa sedikit terbantu nih ^^