Lelaki Terkutuk

CERPEN Wana Sedayu

MEREKA menyebutku anjing ketika ejakulasi. Jelas bukan sebuah umpatan. Para lelaki itu kerap mengumpat usai meracau ketika koitus berlangsung. Dan aku merasa nikmat juga.

Ingin rasanya aku memiliki nama yang bagus. Mungkin Praputra, mungkin Yuda, mungkin Kahfi, tapi jelas orang tuaku tak memiliki selera yang bagus. Mereka kampungan dan tolol.

Mereka menamaiku Durmin. Jelas aku tak suka. Padahal mukaku bukan muka lama. Sebagian mengatakanku si wajah bayi, tapi lebih sering mereka mengataiku cantik –padahal aku lelaki. Aku tak peduli. Sejauh itu membikin senang mereka, aku melangkah meski tidak pasti. Kau tahu? Perjalananku tak pernah mulus.

Aku tak pernah tahu rasanya mengenakan seragam putih abu. (Setidaknya pernah sekali, saat seorang lelaki dewasa memaksaku memakan seragam SMA sebelum bersetubuh). Maksudku, aku tak pernah mengecap pendidikan sampai SMP. Orang tuaku miskin –dan bodoh. Mereka menjual tanah mereka untuk bersekutu dengan jin. Oleh seorang dukun mereka dijanjikan: uang akan dilipatgandakan.

Tapi si dukun pergi membawa jutaan rupiah. Membuat bapakku bunuh diri dengan mencemplungkan diri ke dalam septic tank. Ibuku pun begitu –bodoh. Dia menjual anak perempuannya –kakak perempuanku satu-satunya. Tapi konon kakakku juga menikmatinya. Ia tak merasa terpaksa ketika dikawinkan dengan cukong jelek, gendut dan berwajah babi.

Kakak sudah kaya, begitupun Ibu. Tapi aku minggat sejak Ibu menggermokan anaknya. Aku tak mau dijual, meski mungkin tak ada yang mau. Jauh sebelum aku sampai ke sini, aku tak tahu kalau para lelaki bisa juga bernafsu dengan lelaki. Makanya ketika ada seorang lelaki dewasa menghampiriku saat aku melamun di depan etalase mal, aku mulai tahu. Terlebih saat ia mengajakku dan aku mau juga.

Di hotel aku digerayangi. Kelaminku ia recap dan diemutnya laksana kembang gula. Ia isap putingku, lalu berlanjut mencium bibirku. Awalnya aku menolak karena jijik. Tapi aku diiming-iminginya uang. Jadi kenapa tidak. Aku toh sempat-sempatnya bersyukur pada Tuhan. Ia mungkin memberiku kemiskinan, tapi wajah dan perawakan ini bisa mendatangkan untung besar –sekaligus marabahaya. Entahlah, aku tak tahu.

Aku sebenarnya tak percaya adanya tuhan. Alam semesta tercipta karena proses alamiah, bukan karena siapa-siapa dan apa-apa. Tapi orang-orang harus berpikir dan mencari pegangan, maka terciptalah keyakinan yang muncul dari sejarah-sejarah peradaban. Aku pun tahu apa nama agamaku di KTP. Tapi aku melakukan berbagai ibadah itu bagai tak lebih dari senggama yang biasa aku lakukan: rutinitas. Tidakkah aku begitu terkutuk? Jadi tentu pantas jika mereka menyebutku anjing dalam keadaan tak sedang ejakulasi.

…………………………………………..

AKU punya bakat menulis. Tulisanmu bagus, kata seorang Om. Dan dia menyanggamaiku saat aku sedang tengkurap menulis di laptop. Kenapa tak dikirimkan? Tanya seorang mahasiswa sebelum memapahku ke kamar mandi untuk bersetubuh. Kontolmu begitu besar, apa pakai obat? Pertanyaan itu datang dari bocah bodoh yang menyewaku. Jelas cerpen itu tidak tentang membicarakan diriku. Meski kelaminku agak besar seperti yang ia tebak.

Aku ingin bersekolah. Aku tabungkan uangku untuk biaya masuk. Setahun kemudian aku dapat. Aku menjadi murid berkat pertolongan seorang Om –yang lain. Di Jakarta, sambil berkos, di samping masih melacur sampai karatan, sampai pada suatu waktu guru merazia tasku. Ada banyak kondom di sana. Tapi tampangku terlalu polos. Mana mungkin aku bejad? Begitu pikir mereka. Jadi aku bilang kalau seseorang memasukkannya ke dalam tas. Mereka pun iba, terlebih karena aku mengaku yatim piatu. Tak ada Ibu –apakah aku berdosa?

Aku ingin berhenti. Tapi rasanya susah. Bukan karena aku kegilaan birahi. Tapi karena uang. Om yang membantuku tak lagi membantu setelah aku berselingkuh. Aku tahu ini harga yang pantas. Tapi uang yang ia berikan sangatlah tidak cukup. Aku juga perlu pakaian, celana, gadget, atau sekedar pulsa. Maka aku pun masih nyambi, jadi kucing –meski kata orang aku anjing. Bahkan sesekal aku mencuri pandang seorang kakak kelas.

Pengalaman membawaku tahu siapa yang sakit dan siapa yang tidak. Lalu kami berpacaran setelah aku mengisapnya sampai keluar –di toilet. Aku pun diperbolehkan tinggal di rumahnya –sampai ia tahu kalau aku seorang kucing –dan menyebarkannya ke sekolah sampai aku dikeluarkan. Dari sanalah sebutan anjing itu muncul. Aku berhenti padahal mau lulus. Aku tak tahan dengan selentingan dan sejenisnya. Mereka itu.. apakah mereka tak pernah salah sedikit pun?

Aku ingin pindah sekolah, tapi aku tak tahu caranya. Tak ada uang, hanya hujatan, dan aku tak mau kembali pada Ibu, atau kakak. Mereka berdua pelacur murahan –sama sepertiku. Di titik ini aku benar-benar jatuh, tak berguna, cemburu, marah, sedih, semua bercampur bagai tahi dengan tahi lain. Aku menangis di kamar kos, tapi apa gunanya? Aku menyilet nadiku dengan silet, tapi apa ada yang sedih dengan kepergianku? Lalu aku menangis lagi, sampai mengikik seperti kuda. Apa yang terjadi? Tiba-tiba aku ingat Tuhan. Apakah dia ada? Tolong tunjukkan, mohonku. Tapi ia tak menunjukkan. Konon Tuhan itu abstrak, Ia hanya ada dalam keyakinan: hati. Aku pun tertidur, dan mendapati Bu Kos mengusirku karena sudah menunggak uang kos sekian bulan.

Aku merasa menderita. Hanya laptop dalam tas, yang tak mungkin aku jual untuk sekedar makan. Jadi aku jajakan diriku di bawah harga standar. Banyak yang mau. Meski sakit, meski duburku sakit, ketika seorang Arag menghujamkan anunya keras-keras dalam anusku sampai berdarah. Maka uangnya aku gunakan untuk biaya klinik. Lalu luntang-lantung, bagai gembel, dengan baterai laptop yang habis. Apakah harus kujual?

……………………………..

Aku ingin Tuhan mencabut nyawaku kalau Ia benar-benar ada. Atau aku yang harus membuatnya? Melintas tiba-tiba ke tengah jalan raya, membuat tubuhku tertabrak sendiri oleh kendara. Dan mereka tak tahu aku siapa –dan aku menderita. Barangkali juga kau. Aku dan kalian berlaku atas kepentingan masing-masing. Kepedulian itu.. seperti hanya dipertujukan untuk orang yang berhak. Dan apakah aku.. hamba yang hina ini? Ha-ha.

Aku tertawa.. Dan pada suatu malam, saat aku kembali tidur di tepi jalan seperti tukang becak dan para tunawisma, seseorang menyeretku ke sebuah gang. Ia mengambil barangku. Tapi aku menolak. Aku katakan saja kalau ia perlu membunuhku terlebih dulu sebelum ambil laptopku. Ia tertawa lalu menunjukkan pisaunya yang bersinar di tengah kelam. Aku tak takut, kataku. Aku bahkan berharap mati. Tusuk saja! Seruku, sambil mendekat. Dan sebaiknya kau pakai sarung tangan karena aku sudah positif HIV dasar anjing! Dan dia kabur ketakutan. Aku pun tertawa di tengah keheningan jalan raya. Lalu tersungkur di situ dan lelap sampai pagi.

“Dur..”

Aku bangun. “Siapa kamu?”

“Saya Lambang dari Dinas Sosial. Sebelum satpol PP itu menangkapmu, ayo ikut saya.”

Laki-laki itu berwajah bersih dan wangi. Tak lama saya ikut dia ke tempat yang ia maksud. Dan di sana aku mendapatkan apa yang saya inginkan, tempat tinggal, makan, dan baterai laptop yang penuh. Betapa aku sangat bahagia. Belakangan aku tahu, Lambang mengetahui keberadaanku dari seorang kawan. Konon namaku terkenal –aku baru tahu. Dan ia menjadikanku narasumbernya untuk skripsi yang dia bikin.

“Kalau boleh tahu bagaimana tes HIV-mu?”

“Aku bersih. Aku selalu pakai kondom. Beruntung tak bocor.”
Dia tersenyum, lalu kembali mengajakku jalan-jalan. Dan bahagia. Betapa ia sangat baik.

Kami menonton bioskop, surfing internet di areal hotspot sebuah foodcourt, main di Game Zone, beli pakaian baru. Sampai pada suatu malam kami tidur dan aku membiarkan ia melucuti pakaianku. Aku tak tahu ia begitu juga tapi akan aku lakukan kalau ia ingin. Sebab aku juga ingin, bukan sudah lama, tapi karena aku –mungkin – cinta. Dan kami pun bercinta –tanpa kondom.

…………………………………………

DI surga, konon tak ada bidadara. Tapi aku berhasil sampai dan menemukan banyak bidadari cantik yang telanjang dan menggoda. Buah dada itu kencang, pinggul itu melekuk, tapi aku tak birahi. Aku mencari bidadara. Disitulah aku bernafsu. Sadar akan keinginanku, tuhan pun mendatangkanku. Ia memang adil. Di kamar, tujuh bidadara itu datang dengan telanjang. Batang kemaluan mereka tegak seperti pisang teracung –padahal belum aku lumat dan kuhisap. Mereka pun menggerayangiku seperti semut pada gula. Tapi aku hanya ingin satu –tak ingin orgy. Lalu kupilih yang paling tampan. Di sanalah aku bercinta.

Dia begitu kuat dan mengerti. Tahu kapan sampai dan tahu kapan untuk sejenak tertahan. Dan kami pun bergiliran. Ia bergairah juga, katanya. Sampai keenam bidadara yang mengintip meracap sendiri sampai keluar. Lalu aku yang masih jantan mengangkang dan membiarkan mereka masuk. Meneroboslah satu persatu. Tanpa lelah, tanpa mengenal puas.

………………………………………………

DI ranjang pesakitan ia menderita. Aku hanya tertawa. Aku pun menderita. Tapi ia tak marah. Justru aku merasa bersalah. Aku tak menipunya. Tapi entah kenapa pada suatu hari aku dinyatakan positif. Ia pun kena. Dan kami berada di kamar yang sama, menunggu ajal –sambil sesekali mengisap kejantanan masing-masing.

Sungguh terkutuk?

14:21 16/07/10

Read previous post:  
71
points
(88 words) posted by pikanisa 13 years 6 weeks ago
71
Tags: Puisi | alam | cinta Pikanisa lagi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Alfare
Alfare at Lelaki Terkutuk (11 years 19 weeks ago)
90

Hoo, penulisannya bagus. Aku enggak begitu tau banyak soal tema-tema kayak gini, tapi menurutku cerita ini beneran ditulis dengan baik. Kayak kamu sepenuhnya memahami perasaan dan apa yang dilalui tokoh utama. Sensasi memuakkannya buatku lumayan kerasa.

Writer nashir_12january@yahoo.com
nashir_12januar... at Lelaki Terkutuk (11 years 19 weeks ago)

menggembirakan ketika melihat judul & puas setelah membaca ceritanya.....