Kisah Seseorang yang Mencari Ridho Illahi

Hari terakhir dari hari-hari pembalasan (judgement day/lauful hisab)…

Saat yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya tiba. Pintu besar itu berderak keras, dan cahaya dari ruangan yang ada di dalamnya pun memancar keluar. Pintu surga telah terbuka.

Ratusan ribu orang yang berada di depan firdaus pun segera berdiri dari duduknya. Mereka menangis. Menangis karena mencium bau surga yang semerbak harumnya. Dan menangis karena dari trilyunan manusia yang hidup sepanjang zaman, hanya mereka yang berhak memasuki gerbang nirwana. Sungguh manusia sangat berdosa.

Mereka yang berada di dasar jembatan penghitungan (siratal mustaqim) menjerit-jerit. Mereka menangis ketakutan karena segera akan diangkut ke neraka. Tangisan yang menyayat hati. Karena jelas sekali terdengar, sebab tak ada pembatas antara calon penghuni surga dan calon penghuni neraka. Kecuali sebuah jembatan sebesar sehelai rambut manusia dibagi tujuh. Api dibesarkan untuk melelehkan tubuh para pendosa, meredam tangis para durjana.

Terdengarlah suara Tuhan (Allah SWT).

“Masuklah, wahai hamba-Ku yang beriman. Segala dosamu telah terbalaskan. Kini kau akan tinggal di surga-Ku selamanya.” Mereka yang berada di paling dekat dengan pintu surga dapat melihat sebuah tirai raksasa di ujung surga. Itulah hijab (pembatas Tuhan dan manusia). Segera, hijab itu akan terbuka, dan manusia dapat bertemu dengan Tuhan mereka. “Masuklah, wahai hamba-Ku yang beriman. Segera setelah itu pintu surga akan kututup selamanya. Hingga mereka yang ada di dalam akan merasakan nikmat yang abadi, dan mereka yang ada di luar akan kekal di dalam neraka.” Para bidadari pun mulai memainkan musiknya. Kontras dengan suara jeritan para manusia durhaka yang ada di lembah siksa pembalasan.

Orang-orang itu pun mulai masuk ke surga melalui celah-celah yang disediakan. Pedagang yang jujur melalui celah berkah kejujuran yang ditaburi intan berlian. Para mujahid melalui celah syahid yang dijaga oleh peri-peri dengan vagina mereka yang terus perawan. Setiap manusia mempunyai celah pintu surganya sendiri. Kecuali Abu Bakar yang dipanggil dari segala penjuru.

Kerumunan di depan pintu surga itu pun menipis dengan cepat karena orang-orang berlarian memasuki tanah yang dijanjikan. Mereka ingin segera bermandikan sungai susu, dan mengendarai kuda yang terbuat dari Zamrud. Bilal ingin segera mengenakan sepatu surga yang telah dijanjikan. Dan Umar ingin segera bertemu dengan istri-bidadarinya yang bermata sendu.

Para penghuni surga berlari. Berlari. Masuk ke dalam surga. Sampai akhirnya tersisa satu orang yang terdiam memegangi pintu surga. Wajahnya yang sudah tanpa dosa menunduk sedih. Ia akan segera memulai kisah seseorang yang mencari ridho Illahi.

“Wahai hamba-Ku.” Suara dari balik hijab menyapanya. Orang itu mendongakkan kepala menatap ke kain sutra yang memisahkan dirinya dengan wajah Tuhan-Nya. Air matanya berlinang karena Tuhan telah secara pribadi memanggil dirinya. “Mengapa engkau tidak masuk?” Tanya Tuhan.

Anak dan istri dari si hamba segera menghampiri pria itu. Mereka menarik-narik suami dan ayah mereka. Tapi pria itu bergeming. Ia tetap berpegangan pada pintu surga.

“Ada apa gerangan, wahai hamba-Ku?” Tuhan kembali bersuara. “Ceritakanlah pada-Ku masalahmu.”

Sang hamba masih terus menangis. Ia amat menikmati suara merdu Tuhan-Nya. Tapi perlahan-lahan tangisnya mereda. Kemudian ia mengumpulkan keberaniannya. Dan akhirnya berbicara.

“Aku tak mau masuk surga, Tuhan-Ku.” Jawabnya dengan mantab.

“Apa?” Jawab Tuhan lembut. “Apa alasanmu, kekasihku? Tentu kau tahu jika kau tak masuk sekarang, maka kau tak akan pernah masuk surga-Ku. Pintu surga akan kukunci selamanya.”

Para malaikat terbang menghampirinya. Menyuruh sang Hamba melupakan kebodohannya dan segera masuk. Keluarga sang hamba menangis panik dan makin keras mencoba menarik suami dan ayah mereka.

Setelah keributan kecil itu mereda, sang hamba kembali menghadap ke hijab Tuhan-Nya. Ia kembali berbicara. “Tuhan, demi Allah, aku bukanlah hamba yang takabur. Tetapi semenjak aku hidup di dunia, aku telah bertekad untuk tidak masuk surga. Demi ridho-Mu.”

“Wahai hamba-Ku, kekasih-Ku. Aku telah ridho jika engkau masuk surga-Ku. Maka jika ada hal yang membuatmu menolak ridho-Ku, ceritakanlah sekarang.” Tuhan berfirman.

“Ya, ada apa? Ceritakanlah? Kenapa kau tak mau masuk surga?” Orang-orang dan malaikat-malaikat di sekitar hamba itu melemparkan pertanyaan yang tumpang-tindih kepadanya. “Ceritakanlah! Ceritakanlah!”

Akhirnya hamba itu kembali membuka mulutnya. Ia tak mengindahkan orang-orang dan malaikat di sekitarnya. “Wahai Tuhan, tahukah kamu apa arti ‘Mencari Ridho-Mu’?”

“Tentu, kekasih-Ku. Mencari ridho-Ku artinya kau melakukan segala hal karena-Ku. Karena cinta-Mu pada-Ku. Bukan karena kau mengharapkan pujian. Atau niat meraih imbalan lainnya.” Tuhan menjawab dengan mesra. “Dan kau telah melakukan hal itu, hamba-Ku.”

“Benarkah itu, Tuhan-ku?” Tanya sang hamba.

“Benar.”

Malaikat Raqib dan Atid (malaikat yang mencatat amal baik-buruk manusia) pun terbang menghampiri sang hamba. “Kau adalah contoh sempurna dari hamba yang mencari ridho-Nya.” Kata mereka. “Sejak kecil, kau membagi ilmu-mu pada teman-temanmu karena kau tahu Tuhan menyukai orang yang membagikan ilmu yang bermanfaat. Saat dewasa, kau menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang miskin karena kau ingin menjalankan sunnah Rasul untuk ‘memberi kail, dan bukan ikan’. Saat tua kau meninggalkan kekayaanmu, dan menjadi penjaga masjid. Solat dan berzikir tiap hari. Tapi, anak-anakmu tetap merasakan warisan hartamu dan hidup baik. Bahkan kau pulang seminggu dua kali untuk menjalankan kewajibanmu memberikan nafkah batin bagi istrimu. Dan semua kau lakukan karena kau mencari ridho-Nya.”

Hamba itu masih bertanya hanya pada Tuhan. “Benarkah aku telah melakukan semua itu karena mencari ridho-Mu?”

Tuhan berkata dengan suara yang penuh cinta. “Benar, hamba-Ku. Aku Tuhan-mu. Aku dapat mendengar isi hatimu yang paling dalam. Dan aku benar-benar mendengar keikhlasanmu untuk mencapai ridho-Ku.”

“Benarkah aku melakukan semua itu, hanya demi ridho-Mu, Tuhan?!” Suara sang hamba mulai bergetar.

“Benar, kekasih-Ku.”

“Benar, kah?!?” Suara sang hamba makin terdengar berat.

“Benar, hamba-Ku. Kekasih-Ku. Benar, wahai, ikhsan (orang yang ikhlas).”

“LALU KENAPA KAU GANJAR AKU DENGAN SURGA-MU?!?” Hamba itu berteriak, kemudian menangis tersedu-sedu. Sang hamba bersimpuh dan menangis hingga bahunya yang indah terguncang-guncang dan wajahnya yang putih berkilatan karena air mata memantulkan cahaya surga.

Semuanya terdiam. Manusia. Malaikat. Tuhan. Diam. Yang terdengar hanyalah suara tangis sang Hamba.

Nabi Muhammad berlari ke depan sang hamba. “Wahai Ridho bin Syamsi bin Samawi.” Muhammad memanggil nama sang Hamba. “Janganlah engkau berlebih-lebihan dalam beramal.”

Muhammad menyentuh pundak sang Hamba. Sang hamba kemudian menjawab dengan berbisik, tapi semua orang dapat mendengarnya. “Apakah aku berlebihan jika aku tak menginginkan yang lain... kecuali ridho-Nya?”

Tuhan bertanya, “kau tak menginginkan surga-Ku?”

“Tidak.”

Tuhan terdiam. Kemudian berkata, “Baiklah.” Semua mahluk yang ada di sana terhenyak mendengarnya. “Lalu apa yang engkau inginkan?”

Dibantu oleh Muhammad, sang hamba berdiri. “Wahai, Tuhan-Ku, kekasih-Ku. Aku tak menginginkan surga-Mu. Aku juga telah mendapatkan pembalasan-Ku. Maka hanya satu hal yang dapat Kau lakukan.” Sang Hamba menunjuk ke kawanan binatang yang juga telah mendapatkan pembalasan. “Dalam hadits Qudsi-Mu yang indah, Kau mengatakan bahwa binatang tidak akan masuk surga. Setelah mendapatkan pembalasan atas tindakannya, mereka akan Kau ubah jadi abu. Selesai menjalani tugas mereka sebagai ciptaan-Mu.”

Istri sang hamba yang menyadari arah pembicaraan suaminya, langsung mendekap tubuh sang hamba dan menangis tersedu-sedu. Sang hamba meneruskan ucapannya. “Jadikanlah aku abu. Karena semua kebaikan yang kulakukan adalah untuk mendapat ridho-Mu, dan bukan surga-Mu.”

Anak gadis sang hamba yang paling besar menyuruh sang hamba menatap matanya, dan mengatakan bahwa sang hamba tidak serius. Adik-adik sang gadis mendekap tubuh ayah mereka, karena takut menghadapi kenyataan bahwa mungkin mereka akan berpisah selamanya.

“Jadi kau menolak surga-Ku?” Tanya Tuhan.

“Demi Allah, tidak. Saya hanya merasa bahwa dengan menerima bayaran dari kebaikanku, maka nikmat ridho-Mu akan berkurang.”

“Baiklah. Jika itu yang kau inginkan.”

Maka sang Hamba pergi menjauhi pintu surga. Ia berikan cangkir yang berisi air danau Hijjaz (air pereda dahaga bagi orang beriman yang telah menjalani pembalasan) kepada istrinya, “wahai istriku, ambillah cangkir ini sebagai kenangan atas diriku. Aku pun tak meminum air ini walau pun aku haus sekali. Aku merasa jika aku menghilangkan dahagaku, artinya aku tidak total mencari ridho Tuhan-Ku.” Istri sang Hamba tak berani melangkah keluar dari garis surga. Sang Hamba terus pergi menjauh.

Setelah berada bersama para hewan, sang hamba kembali menghadap surga.

“Adakah keinginan-mu yang mau dikabulkan?” Tanya Tuhan.

“Ya. Aku ingin melihat wajah-Mu, Tuhan-Ku.” Sang hamba menjawab dengan penuh harap.

“Kau harus kecewa hamba-Ku. Karena Aku hanya akan membuka hijab-Ku setelah pintu surga ditutup. Kau tak akan pernah melihat wajah Tuhan-Mu.”

Sang hamba menunduk lesu mendengar jawaban ini. Tetapi ia ridho. Demi ridho-Nya.

“Sesungguhnya kalian menyaksikan bahwa aku bukanlah hamba yang pamrih.” Sang Hamba berkata sebelum tubuhnya meledak menjadi jutaan kepingan debu.

Rabiah Al-Adawiyah (seorang sufi) membisikkan puisinya, “Wahai Tuhan, ku tak layak ke surga-Mu...”

Tuhan pun menutup pintu surga-Nya.

************************************************************************
Selasa, 9 Juni 2010

Utk Said Hawwa yg amat sangat kucintai :')

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
50

...Apa kamu enggak merasa cara penuturan kamu agak terlalu vulgar? Kupikir enggak semestinya kau dengan segampang itu membuat cerita dengan tema seperti ini.

vulgar gmn, cin? namanya jg fiksi. masa ga blh berfantasi?

Cara penyampaiannya bang! Cara penyampaiannya! Trus ini kaitannya sama agama woi! Jadi meski ini fiksi ato fantasi sekalipun, tetep aja mesti ati-ati kan? Kalo ada orang yang timbul pemahaman yang salah abis baca ini, konsekuensinya gede loh.
.
Yah, berjuanglah.

gak ngerti aku

@herjuno : thanks :)

tp gw sedikit kecewa, sih. soalnya gambaran itu "njiplak" hadist-hadist said hawwa. klo bikin sendiri, pasti ga terlalu menyentuh :(

70

Haha, visualisasi percakapan antara Tuhan dan Ridho keren. Begitu pula gambaran tentang Lauful Hisab-nya ^^, terutama ini:

Quote:
Kerumunan di depan pintu surga itu pun menipis dengan cepat karena orang-orang berlarian memasuki tanah yang dijanjikan. Mereka ingin segera bermandikan sungai susu, dan mengendarai kuda yang terbuat dari Zamrud. Bilal ingin segera mengenakan sepatu surga yang telah dijanjikan. Dan Umar ingin segera bertemu dengan istri-bidadarinya yang bermata sendu

Saya jadi ingat Robohnya Surau Kami kalau membaca ini.

Kritiknya, mending jangan kebanyakan menggunakan tanda kurung gunakan koma (,) atau tanda pisah (--) aja, oke?

@arudoshirogane : hahaha... daripada pengetahuan hadist gw ga kepake :D

@getas : maacih :D

70

wew, dah lm ga liat after life story ^^

90

jos banget boss