The Owl II: Silent Warrior (Episode 4A: Midnight Raid)

****

25 jam sebelum misi dimulai...

Di sebuah ruangan yang gelap, dan hanya ada satu bohlam lampu di tengah meja bundar dengan dua kursi, terdapat seorang manusia yang memulai taklimatnya kepada seseorang.

"Owl, kamu baik-baik saja?" tanya sang mayor saat melihat agennya tertunduk lesu.

"Hmm... aku baik-baik saja, terima kasih..." jawab Rufe datar.

"Kelihatannya kamu sedikit lelah setelah berkelahi dengan Rosario, bukan?"

Rufe menggelengkan kepalanya. Maka mayor pun melanjutkan perbincangannya.

"Inilah situasinya, kita telah membawa keluar Kirov dari kawasan Vientine Utara. Kerja bagus, Owl. Namun, ternyata misi pelarian kita telah membawa suatu masalah lain. Dimana Kolonel Chekov, sang pemimpin BRU telah menginjakan kakinya di tanah Vientine Utara. Jika dia berada di sana...."

Rufe menyambung sedikit, "Maka dia dengan cepat mengirim bantuan logistik dan persenjataan untuk pihak NVA dan Vien Cong... itu adalah masalah besar bagi Semmeria..."

"Betul! Selain itu, kemungkinan beberapa kaki tangannya juga ikut bersama Chekov. Tugas kamu bersama Steve Barret sebenarnya sederhana, cari dimana pun Chekov berada hidup atau mati. Setelah itu, kita giring Kolonel Chekov ke Mahkamah Internasional untuk di adili atas pembunuhan presiden Semmeria..."

"Menarik..."

****

Sebuah guncangan kecil telah membangunkan Rufe dari alam mimpinya. Ia melihat sekelilingnya, gelap gulita, dan rembulan purnama pun menerangi malam itu. Ia baru sadar sekarang, bahwa ia berada di atas ranting besar sebuah pohon. Pandangannya menangkap Steve Barret, teman seperjuangannya baru saja membangunkan raganya.

"Hey, Owl... bangunlah... kita sudah seharian di pohon ini..." tukasnya.

Rufe mencoba membuka matanya yang terasa berat itu. Meskipun berhasil, namun terkadang kelopak matanya enggan untuk terbuka. Tangan Rufe pun digunakan untuk mengucek matanya yang hampir dipenuhi kotoran mata itu.

"Hmmhh...." erangnya.

"Ambil senapan rundukmu, Owl. Target kita sudah datang..."

Rufe segera menyesuaikan posisi tubuhnya. Di atas ranting besar, ia duduk menghadap sebuah heliport yang kecil. Matanya mengintai seseorang yang keluar dari kokpit depan sebuah helikopter serang.

"Hind A..." desis Rufe.

"Yang kita butuhkan hanya helikopter itu... ada ide lain, Barret?" tambahnya.

"Yeah... biarkan aku turun..." jawab Barret mantap.

"Huh? Apa kamu yakin?"

"Heh... aku sudah berpengalaman 15 tahun di Ranger. Sekarang juga, biarkan aku turun dari pohon..."

"Roger"

Barret telah memutuskan untuk turun dari pohon besar ini. Perlahan tapi pasti, ia telah menginjak tanah dari atas sana. Ia kemudian memberi aba-aba untuk Rufe dengan walkie-talkienya.

"Owl, jika kamu melihat ledakan di tempat itu, artinya kamu harus memberiku tembakan dukungan dari senapan rundukmu. Mengerti?" perintah Barret dengan suara kecil.

Rufe menjawab pelan sambil mengangguk, "Yah..."

Langkah kaki Barret bergerak perlahan dan senyap menuju sebuah semak-semak yang lebat. Sementara di atas ranting besar, Rufe mewaspadakan dirinya untuk mengenali sinyal yang telah di instruksikan oleh temannya. Bagai burung hantu, matanya berekspedisi kesana kemari di sekitar heliport. Tak peduli dinginnya malam menusuk tulang belakangnya, serta rentetan gigitan nyamuk yang gatal.

Hingga pada waktu yang telah ditunggu...

DUAAARR!!

Ledakan tangki gas raksasa telah memecah kesunyian malam di sebuah hutan Vientine Utara. Semua tentara musuh dikagetkan dengan ledakan itu plus serangan senapan mesin ringan senyap dari Barret. Rentetan senapan serbu pun menggelegar, namun terlihat Barret maju tidak gentar menghadapi lawannya, segerombol tentara NVA, VC, dan beberapa Tentara Merah.

Dengan sangat sigap, Rufe mengambil posisinya. Ia membidik salah satu tentara musuh yang mulai mengejar temannya. Ia tak segan menembak targetnya. Sekejap orang yang di bidikannya itu pun ambruk. Ia pun melakukan hal yang sama pada salah seorang tentara VC yang mulai menyergap temannya. Dan orang itu pun tewas juga. Di tengah dinginnya malam, Rufe terus menekan pelatuk senapan runduknya terhadap tentara musuh yang menyerang Barret. Tembakan demi tembakan ia hanturkan, tak terasa ia kehabisan peluru di senapannya. Ia cepat-cepat merogoh tas selempang yang biasa dipakai untuk menyimpan amunisi. Peluru berkaliber .50 BMG pun telah diambilnya, dan Rufe segera memasukkan benda itu satu per satu ke dalam feeding system senapannya. Lima peluru sudah, dan ia kembali membidik dan menembak.

****

Waktu demi waktu terulur sudah, semua tentara musuh yang ada di tempat itu telah habis dibabat oleh dua agen WA ini. Jumlah musuh memang tak begitu banyak, tapi cukup kerepotan bagi Rufe dan Barret. Mereka duduk berisitrahat di dekat satu helikopter Mi-24 Hind A yang terparkir rapi di helipad

"Fyuuh.... selesai juga... repot juga menembaki satu per satu tentara musuh..." komentar Rufe di sebelah Barret.

"Aku juga demikian. Tapi, yang paling melelahkan adalah menembaki segerombol VC dan NVA dengan senjata ini..." Barret memamerkan seapan mesin ringan M60 nya di hadapan Rufe. Tapi Rufe tak bergeming.

"Kita harus berangkat sekarang..." Rufe langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati kokpit helikopter itu.

"Oh! Hampir saja aku lupa... baiklah, Owl. Kamu di belakang dan aku di depan..."

Mereka membuka pintu kokpitnya, dan masuk kedalam helikopter serang berkursi ganda tersebut. Ketika di dalam, Rufe merasakan sesuatu yang aneh.

"Ugh... sesak sekali... dan terlalu kaku untuk dilihat..." keluh Rufe.

"Tapi begitulah helikopter Stoklomolvi... ayo jalan, Barret..." tambahnya.

Sobat pertempuran Rufe pun mulai menyalakan mesin helikopter. Tiap tombol yang berhubungan dengan mesin ditekan, seperti tombol throttle. Suara nyaring dari baling-baling langsung terdengar hingga ke kokpit. Tak lama kemudian, helikopter itu pun terangkat ke udara.

"Barret, pastikan helikopter ini masih mengaktifkan IFF Angkatan Udara Vientine Utara" perintah Rufe.

Sebuah sistem untuk mengindikasikan teman atau musush pun dinyalakan. IFF-nya telah diatur oleh Barret untuk meyakinkan musuh bahwa helikopter ini "teman" mereka. Helikopter ini pun melayang, membawa mereka menuju teritorial NVA.

"NVA territory insight. ETA 1 minute..."

Dengan segala aba-aba Rufe, helikopter ini dikendalikan dengan hati-hati supaya tidak dicurigai. Mereka sudah memasuki wilayah NVA ternyata, dan dihadapan Barret sebuah desa kecil di dekat tepian sungai pun terlihat.

"Desa musuh..."

"Apa kita harus mendekatinya, Owl?" tanya Barret.

"Yeah... arahkan ke sana dengan perlahan..."

Helikopter diarahkan mendekati desa tersebut. Di mata Rufe, desa itu telah "di sulap" menjadi depot suplai persediaan amunisi tentara NVA dan VC. Tapi, masyarakat desa itu tidak risih dengan kehadiran helikopter ini. Rufe mengetahui apa yang harus diperbuatnya. Maka, ia tekan tombol merah di joystick kokpit belakangnya.

Roket pun meluncur cepat menghantam gubuk desa, ditambah iringan rentetan senapan mesin di moncong helikopter itu kontan membuat kacau suasana. Beberapa roket menghantam bangunan pengisian bahan bakar, sehingga terjadi ledakan besar yang memecah keheningan malam. Rufe terus meluluh lantahkan desa itu dengan armamen berat helikopter ini, sementara Barret terkesima melihat tingkah temannya yang silent but deadly

"Owl... apa yang..."

"Misi kita adalah mencari Chekov, ingat?"

"Oh... baiklah kalau begitu"

Setelah sekian lama mengacau, Rufe kini memerintahkan Barret untuk menelusuri alur sungai.

"Dia tidak disini..." desisnya.

Helikopter bergerak gesit menghindari serangan flak gun milik Vien Cong. Barret begitu lihai mengendalikan helikopter ini, sehingga dengan mudahnya melewati tiap muntahan peluru flak gun. Pada desa yang kedua, Rufe kini dihadang oleh sebuah helikopter sejenis. Dari kokpit helikopter itu, seorang pilot berkebangsaan Vientine memperingatkan helikopter Barret dengan bahasanya.

"Berhenti!! Kalian telah menghancurkan desa Sui Pek dengan helikopter Mi-24 Hind A milik Angkatan Udara Vientine Utara. Turun dari helikopter itu sekarang juga atau kami akan menembak di tempat!"

"Dia masih berpikir kita adalah NVAF?" Barret terheran.

Tapi, Rufe tidak menunjukkan ketakutan di raut wajahnya. Mukanya masih "dingin", dan tetap fokus pada layar indikator menus armamen di kokpitnya. Segera saja, ia temakan senapan mesin secara brutal ke arah helikopter itu. Meskipun helikopter sejenis membalas perlawanan Rufe, namun sebuah luncuran roket dari helikopter Rufe berhasil mengenai kokpit utama helikopter musuh. Tak lama kemudian, helikopter itu berputar tak terkendali dan akhirnya jatuh meledak.

"Selanjutnya... apa itu?!" tanya Rufe terkejut.

Bukan main, baik Barret maupun Rufe melihat sebuah benda melayang raksasa dengan baling-baling besar di atasnya. Lima bilah baling-baling besar itu terdiri dari dua tingkat. Warna kelabunya yang kontras dengan gelapnya malam. Sebuah lambang bintang merah merekah menempel di samping kiri dan kanan tubuh helikopter itu.

"Ya Tuhan.....!!" seru Barret.

"Mil Mi-16, codename: Horny A"

Ukuran helikopter itu jika dibandingkan secara grafis lebih mendekati balon udara Hidenburg. Saking besarnya, helikopter yang dikendalikan Barret hanya terlihat hampir secuil, mungkin kira-kira setengah badan dari helikopter itu.

Ketiga kokpit berukuran cukup besar itu terlihat seperti mata serangga. Helikopter serang berjulukan "Bug" itu membalikan tubunya ke arah helikopter Barret. Tangan Rufe dirasakan sedikit gemetar, namun Rufe berupaya untuk tidak gentar dengan kondisi seperti ini.

Tak diduga, rentetan roket pun menyergapi helikopter yang dikendalikan Barret. Spontan tangan Barret membelokkan joysticknya, sehingga helikopternya berbelok ke samping secara cepat. Mereka akhirnya terhindar dari serangan sang kumbang, namun pertempuran belum usai. Retetan roket pun terus menggilai helikopter Barret, sementara Rufe sedang mencari titik lemah helikopter tersebut. Ketika ia mencoba menembaki seluruh badan helikopter itu. Tetapi benda terbang tersebut tak bergeming meskipun meninggalkan sisa ledakan dan penyok.

Sekian beberapa lama dengan keadaan dikejar roket, akhirnya Rufe mendapatkan ide.

"Barret! Aku dapat ide!" seru Rufe.

"Huh?!"

"Jika roket dan senapan mesin helikopter ini tak mampu menembus badan helikopter itu, siapa tahu rket dan senapan mesin kita bisa merusak rotor baling-balingnya!"

"Baiklah, jadi kamu memintaku untuk terbang tinggi diatas baling-balin itu?!"

"Tepat!!"

Barret paham sekarang, ia langsung menaikkan throtometer helikopter itu dan meninggikan ketinggiannya. Meskipun helikopter lawannya berada di bawah, namun helikopter Barret selalu disergap oleh beberapa roket dari badan helikopter itu, meskipun bisa lolos. Akhirnya, sebuah bilah baling-baling besi nampak di hadapan Rufe.

"Ini dia..." desis Rufe tenang sambil menekan tombol peluncur roket.

Sebuah benda oval lonjong dengan warna merah di ujungnya pun meluncur cepat menghantam rotor baling-baling. Tak cukup sekali, Rufe malah meluncurkannya berkali-kali hingga habis. Sebuah ledakan besar pun menggelegar di rotor itu. Bilah-bilah baling-baling terpental kesana kemari, dan hampir saja mengenai helikopter Barret. Benda raksasa itu berputar-putar tak terkendali. Perlahan-lahan, helikopter raksasa itu jatuh menghantam sebuah desa di dekatnya dan meledak sangat besar. Sangat besar ledakannya sehingga satu desa hancur olehnya. Rufe dan Barret tersenyum lega melihat hasil akhir dari pertarungannya tadi.

"Yah... selesailah pertempuran ini" ucap Barret lega.

Rufe tak bisa berbicara panjang lebar, kecuali hanya mengumbar senyum tipis sebagai tanda kelegaan dirinya.

****

Tapi, kesenangan mereka ternyata terusik oleh beberapa titik merah yang mulai endekati helikopter mereka.

"Apa yang terjadi?" tanya Barret.

Tiba-tiba, mereka terguncang keras. Sebuah ledakan kecil di belakang helikopter membuatnya oleng. Berputar dan terus berputar dan di iringi oleh beberapa ledakan kecil di buntut.

"Oh tidak! Kita diserang!" teriak Barret panik.

"Ready for impaaaaccctt!!" seru Rufe.

GUBRAAKK!

Bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
70

...Heli segede sharivan itu nongol dari manaaa?! Kok perkembangan ceritanya jadi berubah kayak schmup gini sih? (tapi karena seru akan kubaca lanjutannya)

Oh iya, hampir lupa ngejelasin datang darimana heli raksasa itu. Thanks udah ngingetin
.
Oh, kalo soal ceritaku yg mirip shoot em up (ini kan maksudmu?), aku dapet inspirasinya dari suatu game yg bakal rilis bulan 11 :D

70

lanjut deh...

60

Owl to Solid Snake. Copy Snake. Owl is hunting at night and sleep all day.

Spam bukan ya??

wah... ini bner pak Andry Chang yang bikin Fireheart?

ew... iye. www.fireheart.tk. unduh free game aja dari sana.

ew gue gak bermaksud nge-spam kok. gue emang suka bikin parodi dan komentar yg lucu2.

Tapi setidaknya sisipkan juga semacam kritik, atau kalo ada hal yg aneh bisa dimasukin disini. Supaya kesannya lebih berbobot.
.
Jujur, komen kamu yg dulu (maap) terlihat tidak berbobot. Mau tak mau ya kita harus ikutin budaya komen yg baik di k.com, bukan?

Fire on the whole! XD

spam = mati

GUA BUNUH JUGA LO!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

SPAAAAAAM!! -lol-
jangan keburu napsu, anak muda... itung2 pembaca baru

Writer's note: Inilah Mi-24 Hind A
.