28 Days + 1 Second = The Lost Day

Maafkan aku
Manusia begitu mudah melupakan
Tapi aku takkan pernah lupa
Satu hari yang hilang selama 3 tahun...

Aku hanya menatapmu dari jauh. Aku memang pengecut. Padahal kita satu kelas. Padahal tempat dudukmu hanya berjarak dua bangku dari mejaku.

”Pagi, Lucky” sapamu.

”Pagi” jawabku. Dan kau pun berlalu kemudian bergabung dengan teman-temanmu yang ceria.

Melissa Saptaruna adalah dewiku. Aku menyebutnya Runa dalam hatiku, meskipun dalam kenyataannya aku tetap memanggilnya Melissa. Gadis berambut hitam lebat itu memang sangat cantik. Dia sudah punya pacar, seorang pria yang memiliki semua kelebihan yang kuinginkan.

Aku menatapnya sekali lagi. Ia dengan gembira bercerita pada teman-temannya. Tentu saja pasti tentang pria itu. Pria itu, kakakku, aku sangat membencinya!

~_~_~_~_~

Waktu itu rasanya aku ingin berlari sejauh mungkin darinya. Ini tak nyata. Tak mungkin Runa datang mendekatiku. Aku tak bisa bergerak. Tubuhku membatu. Kakiku berat. Jantungku seakan bisa meledak. Ini mimpi. Ini mimpi.

”Lucky, kamu sehat?” Sial, Runa pasti melihatku gugup.

”Aku baik-baik saja” aku berusaha untuk tak melihat matanya.

”Benarkah?” suara merdunya menadakan kekhawatiran.

”Aku tak apa-apa” tegasku. Aku benar-benar tak ingin melihatnya khawatir.

”Ehm, begini. Nicholas Putraditya kakakmu kan? Aku pacar Nicky” seharusnya aku tak terkejut mendengarnya. tapi aku tak pernah menyangka akan mendengar hal itu dari bibirnya.

”Oh, ya?” jawabku pura-pura terkejut. “Lalu?”

“Jadi menurutku tak ada salahnya kita mengakrabkan diri” senyumnya bagaikan cahaya mentari bagiku.

~_~_~_~_~

Sejak saat itu semuanya jadi begitu wajar. Sejak saat itu aku menjadi sahabatnya, aku menjaganya, mendengarnya bercerita, menyayanginya seolah ia milikku. Tentu saja dia masih jadi pacar Nick, tapi aku tak peduli selama aku masih bisa bersamanya walau hanya sebagai temannya.

”Selamat ulang tahun, Melissa” kataku menyerahkan seikat mawar merah dan sekotak kecil hadiah padanya hari Minggu itu.

”Terima kasih Lucky” ia tampak bahagia. ”Walaupun agak terlambat” katanya setengah tertawa.

”Terlambat? Ulang tahunmu hari ini kan? Tanggal 1 maret.” tanyaku memastikan. Aku ingat tahun lalu ia merayakan ulang tahunnya tanggal 1 Maret di sekolah.

”Tahun lalu ultahku memang 1 maret, tapi tidak tahun ini” katanya membuatku bingung. ”Sebenarnya ulang tahunku tanggal 29 Febuari. Maaf aku lupa memberitahumu”

”Wedew, jadi ultahmu kemarin? Bukan hari ini?”

”Bukan” tawanya. Aku jadi ikut tertawa malu. Pantas saja kemarin ia tak masuk sekolah. Mungkin ia merayakannya dengan keluarganya.

”Hari ulang tahun yang langka ya” komentarku.

”Yup, hari yang hanya muncul 4 tahun sekali. Tapi itu menjadikannya hari yang sangat spesial, terutama untukku”

”Maaf, aku melewatkan hari spesial itu” sesalku.

”Tak apa-apa. Setidaknya kau tidak melupakan ulang tahunku. Oh ya, ini apa?” tanyanya menunjuk kotak kecil hadiahku. ”Buka saja” jawabku.

Ia tampak tak sabar tapi tetap membuka kotak itu perlahan. Isinya adalah kalung emas berhiaskan sepasang lumba-lumba dan berlian di tengahnya. Aku tahu sejak dulu Runa sangat menginginkan kalung itu. Seperti dugaanku ia sangat senang menerimanya, tapi kemudian kebahagiaan di wajahnya memudar.

”Lucky, aku... aku sangat berterima kasih. Aku memang menginginkan kalung ini. Dan aku akan sangat senang kalau aku bisa memakainya. Tapi maaf, aku tak bisa memakainya.”

”Kenapa?” aku segera sadar apa maksudnya. Sebuah kalung lain telah melingkar di lehernya.

"Ini hadiah dari Nicky, aku tak bisa melepaskannya“ jelasnya menyentuh mata rantainya yang tampak seperti sebuah liontin.

"Hahaha, tak apa-apa. Aku mengerti. Kau simpan saja kalung dariku. Tak kau pakai pun tak apa-apa” aku berusaha tersenyum, tapi hanya senyum pahit yang bisa muncul.

”Terima kasih, Lucky. Kau memang baik. Kalung ini akan kusimpan baik-baik”

Sial! Sial!! Lagi-lagi Nick sialan mendahuluiku!

~_~_~_~_~

Aku terkejut melihatnya di sana sore itu. Ia selalu muncul seperti sebuah keajaiban yang mengagumkan.

”Hai Lucky” sapanya riang.

”Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku masih tak percaya.

”Seperti yang biasa kau lakukan, menatap keindahan alam” senyumannya telah melebihi keindahan alam bagiku. ”Kau benar, dari sini laut dan langit jadi terlihat sangat menakjubkan, walaupun untuk bisa naik kesini butuh perjuangan yang melelahkan”

Tempat itu adalah sebuah mercusuar. Sebuah mercusuar lama yang sudah tak bersinar lagi. Tempat itu selalu menjadi tempatku menyendiri dan merenungkan masalahku. Aku selalu kesini setiap kali aku merasa sedih atau lelah, dan tempat ini selalu berhasil menyembuhkan hatiku.

Pemandangan laut dari sini memang menakjubkan. Aku selalu terpana setiap kali aku melihat laut dan langit yang memerah saat mentari terbenam dari sini. Dan ketika akhirnya matahari tenggelam, seolah-olah semua kesedihan dan penderitaanku lenyap digantikan kegembiraan saat aku melihat bintang-bintang yang tersebar di atas selimut laut malam bagaikan permata. Terkadang aku sangat menikmati kesunyian yang damai di tempat itu sampai matahari pagi kembali menyinari mercusuar tua itu.

3 hari yang lalu setelah pulang sekolah aku menunjukkan tempat istimewa ini pada Runa. Tak kusangka ia benar-benar datang sore ini. Seandainya waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya bersama Runa menatap senja ini disini.

”Melissa, ada apa?” aku baru menyadari, Runa memang tersenyum, tapi ia tampaknya tak bahagia. ”Kau punya masalah?” tebakku.

”Mengapa kau bilang begitu? Aku baik-baik saja kok” Aku bisa melihat senyumnya itu palsu.

”Kemarin aku bilang padamu bahwa aku selalu kesini bila aku punya masalah. Jadi kupikir mungkin kau kesini juga karena alasan yang sama.” aku benar-benar ingin tahu apa yang diresahkannya.

”Sudah kubilang aku tak apa-apa” senyum palsu itu muncul lagi ”Lucky sendiri punya masalah?” ia balik menanyaiku.

”Yah, begitulah” jawabku jujur

”Masalah apa? Masalah sekolah? Keluarga? Cinta? Ceritakan padaku, mungkin saja aku bisa membantumu” aku tersenyum geli mendengarnya. masalahku sekarang adalah gadis yang kucintai punya masalah yang tak kuketahui.

”Masalah cinta. Tapi takkan kuceritakan padamu. Aku hanya mau menceritakan masalahku pada tuan mercusuar saja.” candaku.

”Eeeh?! Ceritakan dong Lucky! Ada cewek yang kamu sukai ya? Siapa? Ku pasti bantuin kamu kok.” rengeknya.

”Rahasia” jawabku menggodanya.

”Lucky jahat! Pelit! Kok rahasia sih?” aku tertawa saat ia memukul-mukul lenganku.

”Ssst... dengar” kataku membuatnya berhenti memukulku.

”Apa? Hantu?” ia malah ketakutan, padahal aku tak bermaksud demikian.

”Dengar, ada kicauan burung” kataku membuatnya menajamkan pendengarannya. “Aku tak mendengar apa-apa kok” protesnya

”Memang tak ada suara apapun, bayangkan saja” kataku menutup mataku, dan tiba-tiba bunyi kicauan burung bergema merdu di kepalaku

”Iya, kedengaran” Runa sedang menutup matanya saat kubuka mataku.

Warna senja meronakan wajahnya. Kurasakan setiap hembus angin yang melewati helai rambutnya. Kudekati wajahnya dan memperhatikan kelembutannya. Dan kemudian kilauan kalungnya menyadarkanku. aku bisa melihat foto si sialan itu pada liontinnya. Emosiku kembali memuncak. Aku menatap laut. Aneh, kali ini laut tak bisa menenangkanku. Lalu kurasakan seseorang menggenggam tanganku.

”Lucky?” mengagumkan, suara Runa berhasil mendamaikan hatiku.

"Kita nikmati saja pemandangannya“ balasku tersenyum padanya. Ku genggam tangannya erat.

”Ya” senyumnya mengakhiri detik-detik terindah dalam hidupku.

~_~_~_~_~

Beberapa minggu kemudian sebuah kejadian mengerikan menimpa Runa. Ia mengunjungi si iblis itu di lab universitasnya. Nick memang mahasiswa farmasi semester 7. Si iblis bersama beberapa mahasiswi sedang membuat beberapa bahan kimia yang memang sangat berbahaya. Kemudian salah seorang mahasiswi, yang kukenal sebagai mantan pacar si iblis, ‘tak sengaja’ menumpahkan cairan kimia berbahaya itu ke wajah Runa!

Kejadian itu menyebabkan wajah Runa rusak dan terluka sangat parah sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Tak ada yang bisa menuntut mahasiswi yang melakukan hal itu karena semua orang mengakui kejadian itu sebagai ‘kecelakaan’, termasuk si iblis itu!

“Saya mohon, tante. Ijinkan saya mengunjungi Melissa. Saya sahabatnya, dan saya ingin tahu bagaimana keadaannya.” pintaku pada ibu Runa.

”Maaf, Nak Lucky. Melissa tak ingin bertemu dengan siapapun” kupandangi ibu Runa dengan rasa iba. Matanya yang menghitam membuktikan seberapa banyak air mata yang telah ditumpahkannya.

Aku meninggalkan rumah sakit dengan rasa kecewa yang dalam.
Sial! Siaaalll!!! Semua ini salah Nicholas! Semua penderitaan Runa adalah kesalahan si iblis itu!

Aku melihat si iblis sedang bersiap-siap untuk keluar. Aku tahu hari ini dia tak kuliah. Dia pasti ingin pergi ke tempat lain.

”Kau akan mengunjungi Melissa kan?” aku akhirnya berusaha bicara pada kakak kandungku itu. ”Tolong sampaikan salamku padanya”

”Aku tak akan kesana. Aku punya acara lain” jawabnya sambil lalu

”Acara lain? Kau keluar bersama gadis lain?” tanyaku curiga

“Tentu saja. Aku dan Melissa sudah putus.” katanya beranjak pergi

”Tunggu... jangan bercanda! Kau mencampakkannya?!” aku segera menghalanginya di depan pintu

“Aku hanya memutuskan hubungan yang tak sehat. Dia sudah bilang dia akan mengoperasi wajahnya agar aku tak meninggalkannya. tapi dia hanya akan semakin terobsesi padaku. aku tak butuh hubungan yang merepotkan seperti itu.”

Aku sudah tak bisa mengendalikan diriku lagi. Aku memukulnya berkali-kali, dengan keras. Untunglah ibu datang menyelamatkannya. Aku benci dia! Aku akan membunuhnya!!

~_~_~_~_~

”Tante, bagaimana keadaan Melissa?” aku kembali bertanya pada ibu Runa. Aku tetap mengunjungi Runa meskipun aku tak pernah diijinkan untuk menemuinya.

”Dia sedang tidur. Kami baru saja mengganti perbannya” jawab ibu Runa.
Aku berpikir. Tak bisakah aku melihatnya saat dia tidur? Aku mengurungkan niatku untuk menanyakan itu pada ibu Runa.

”Tante sangat berterima kasih atas perhatianmu pada Melissa, nak. Tante tahu Melissa sangat senang mendengarmu datang, tapi dia hanya malu untuk mengakuinya” jelas ibu Runa padaku. ”Oh, iya...”

”Kenapa, tante?” aku kaget

”Tante ingat Melissa menitipkan sesuatu untukmu. Tunggu biar tante ambil di kamarnya” jawabnya

Aku menanti ibu Runa kembali dengan penasaran. Ibu Runa datang membawa sebuah surat dan kotak kecil yang sangat kukenali. Aku menerima kotak kecil itu dengan bimbang. Apa maksudnya ini?

Aku membaca surat Runa terlebih dahulu saat sampai di rumah. Ternyata benar dugaanku, ia mengembalikan kalung pemberianku. Runa minta maaf dan berterima kasih. Bohong! Dia bilang akan menyimpan kalungku dengan baik. Aku benar-benar kecewa. Kubuka kotak itu. Isinya benar-benar di luar dugaanku. Ternyata isinya adalah kalung liontin pemberian si iblis!

~_~_~_~_~

Aku kembali ke mercusuar itu dengan membawa kebimbangan hatiku bersama liontin yang tak pernah kubuka itu. Seperti biasa aku menapaki tiap anak tangganya sambil memikirkan masalahku. Entah kenapa aku terpikir tentang liontin ini. Yang paling mungkin terjadi adalah Runa salah memasukkan liontin ini ke kotak itu. Atau mungkin yang salah adalah ibu Runa. Berarti kalung pemberianku masih disimpan Runa. Atau mungkinkah ia sedang memakainya saat ini? Tanpa sadar aku memakai linontin itu ke leherku. Ketika akhirnya aku sampai di puncak menara itu, aku menemukan dia.

Lagi-lagi kupikir aku berhalusinasi, atau aku melihat suatu keajaiban.

”Melissa?” tanyaku memastikan sosok yang berdiri menatap senja dari jendela mercusuar yang terbuka tanpa kaca.

”Sudah kuduga kau akan datang” suara Merdu runa keluar dari balik perban yang membungkus wajahnya.

”Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku mengawasinya.

”Seperti yang biasa kau lakukan, menatap keindahan alam” jawabnya persis seperti saat itu, hanya saja aku tak bisa melihat senyumnya.

”Maaf, kehadiranku pasti merusak keindahan alam yang ingin kau lihat”

”Itu tak benar. Apapun yang terjadi padamu. Sejauh apapun kau berubah. Kau tetap Melissa yang kukenal, Melissa yang kusayangi. Aku tak pernah melihatmu dari keadaan fisikmu. Bagiku kau tetap Melissa yang sama, aku selalu menantikan kehadiranmu disini.” aku tak tahu apakah jawabanku itu telah menjelaskan maksudku atau tidak. Aku terlalu gembira karena aku bisa bertemu Runa lagi disini.

”Terima kasih, Lucky memang sangat baik” aku tahu ia tersenyum walaupun keremangan senja dan perban itu menyembunyikannya.

”Seandainya Nicky sama sepertimu...”

”Lupakan saja dia!” potongku. ”Dia tak pantas bagimu. Dia telah membuatmu menderita seperti ini... aku tak bisa memaafkannya!”

“Kau salah, Lucky. Akulah yang tak pantas baginya!” suaranya menyiratkan penderitaan. “Aku memang menyedihkan, aku sungguh tak berguna”

“Jangan berkata seperti itu!” untuk pertama kalinya aku marah padanya. ”Tak berguna katamu? Tak ada manusia yang tak berguna di dunia ini. Bagiku kau sangat berarti melebihi apapun di dunia ini. Aku mencintaimu Melissa”

”Apa?”

”Aku mencintaimu Melissa” ulangku berusaha meyakinkannya. ”Sejak awal, dari dulu, aku mencintaimu.”

”Bohong... Bohong! Kau akan membenciku seperti Nicky. Kau akan membenciku setelah melihat wajah ini” jeritnya menusuk hatiku.

”Aku akan tetap mencintaimu” tegasku.

”Akan kubuka perban ini. Kita lihat apakah kau masih akan tetap menyukaiku setelah ini” Runa mengancamku. Tapi setelah melihatku tak bergeming, ia mulai membuka perbannya. Ia melepas tiap lilitan dengan perlahan. Sampai akhirnya semua perbannya terlepas.

Aku menatapnya. Sebenarnya, aku tak melihat apapun. Langit telah begitu gelap sehingga aku tak bisa melihat setiap detil lukanya. Kupejamkan mataku sejenak. Dan ketika kubuka mataku, disanalah dia. Runa dengan segala kecantikannya seperti biasanya. Runa memang sebuah keajaiban bagiku. Di mataku, kecantikannya memancarkan keindahan yang menyatu dengan langit senja, laut, dan semua keindahan alam, dan itu pemandangan yang sangat menakjubkan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku terpana untuk beberapa saat.

”Bagaimana? Sekarang kau jijik padaku?” suara Runa menyadarkanku.

”Sudah kubilang, aku akan tetap mencintaimu. Dan ternyata, aku memang tetap mencintaimu.” aku mendekatinya. Kuelus wajahnya yang tak mulus dengan penuh kasih.

”Benarkah? Kau pasti hanya merasa kasihan padaku” kilauan air mata turun dari matanya.

Aku menggelengkan kepalaku, ”Aku menyayangimu sepenuh hatiku”

Kuhapus air matanya dan kucium bibirnya lembut...

”Terima kasih, Lucky. Aku sangat bahagia” katanya sambil memelukku. Bau obat dan bahan kimia tak bisa mengalahkan wangi tubuhnya yang sangat kurindukan.

”Kau mencintaiku?” tanyanya.

”Aku mencintaimu” jawabku.

”Maaf, aku tak bisa mencintaimu” perkataannya itu benar-benar mengejutkanku.

”Kau tahu, aku sangat mencintai Nicky” katanya melepas pelukannya. Aku merasa sesuatu terlepas dariku. Mungkin kebahagiaanku telah melepaskan diri dariku.

”Aku benar-benar minta maaf. Dan aku benar-benar berterima kasih atas ketulusanmu” katanya sambil memakai sesuatu di lehernya. Liontin itu, ia telah melepas liontin itu dariku. Bisa kulihat ia juga memakai kalungku di lehernya.

Runa membuka liontin itu. Menatapnya... Mengecupnya...

”Selamat tinggal, Lucky” Runa berlari dan melompat ke jendela mercusuar yang tak berkaca itu.
Dan dengan bodohnya aku terlambat mencegahnya. Terlalu terlambat untuk menyadari bahwa gadis yang kucintai itu telah bunuh diri.

~_~_~_~_~

Aku kembali berada disini 3 tahun kemudian. Kuhirup setiap kenangan bersamanya. Setidaknya dinginnya malam bisa membekukan lukaku. Hari ini tanggal 28 febuari. 40 detik sebelum tengah malam.

Tik tik tik tik tik tik...

Jam dinding yang kugantung di menara itu menemaniku dalam penantianku.

Tik tik tik tik tik tik...

Kuikuti jarum detik itu dengan sabar.

Tik tik tik tik tik tik...

Kupejamkan mataku...

TIK...

"Apa yang kau lakukan di atas sana?“ Lucy menatapku curiga.

”Tak ada. Aku hanya menikmati satu detik dari hari yang hilang” kuterima sweater yang ditawarkannya.

”Hari yang hilang?” sepupuku itu mengerutkan keningnya.

”Kalau kau ingin tahu kenapa kau tidak ikut aku ke atas?” senyumku.

”Untuk apa? Aku tak suka bersusah payah naik tangga hanya untuk sesuatu yang konyol. Lagipula pasti tak ada yang menarik di atas sana, ini cuma menara tua yang kotor dan mengerikan.” aku ingin membantah jawabannya tapi kuurungkan niatku.

”Kenapa kau bisa tahu aku ada disini?”

”Nicky yang memberitahuku tempat rahasiamu ini. Ibumu mengkhawatirkan keadaanmu, jadi ia memintaku untuk mencarimu.” jawab Lucy

”Aku baik-baik saja” kupandangi lagi mercusuar tua itu.

”Kau tak mau pulang?” Lucy seakan-akan bisa membaca hatiku.

”Aku tak mau membuat ibu khawatir. Kau juga telah bersusah payah menjemputku kesini. Urusanku juga telah selesai. Aku akan pulang” akhirnya aku melangkah menjauhi menara itu bersama Lucy.

Tahun depan kita akan bertemu lagi, Runa.

~_~_~_~_~

Sial! Siaaalll! Besok tanggal 29 febuari, tapi kenapa aku malah terbaring disini?!

”Lucky, kau sudah sadar?” pandanganku masih kabur, aku hanya mendengar suara Lucy.

”Apa yang terjadi?” tanyaku ketika akhirnya aku bisa melihat wajah khawatirnya dengan jelas.

”Kau pingsan. Kata dokter kondisi tubuhmu memburuk. bagaimana perasaanmu sekarang? Masih ada yang sakit?“ katanya berusaha menggenggam tanganku.

"Aku baik-baik saja.“ Aku berusaha bangun "Aku ingin pulang“

"Tak boleh! Kata dokter kau harus menginap disini“ Lucy memaksaku tidur kembali.

"Aku panggil ibu dulu ya. Jangan bergerak, kau tidur saja.“ Perintahnya sambil menghilang dibalik pintu.

Aku akan kesana malam ini. bagaimanapun juga aku harus kesana. Aku tak bisa melewatkan hari istimewa runa lagi, tidak lagi. Akhirnya hari yang hilang itu telah kembali. Aku pasti kesana.

”Lucky, bagaimana keadaanmu, nak?” ibu datang dan langsung memelukku.

”Aku baik-baik saja, bu. Kupikir aku tak perlu menginap disini.” jawabku berusaha meyakinkan ibuku.

”Bohong amat. Tampangmu aja pucat gitu.” Rita, istri Nick, memotong kata-kataku. Nick hanya tersenyum geli menanggapi perkataannya.

”Kak Rita bilang begitu, tapi kak Rita juga khawatir pada Lucky kan?” Lucy menggoda calon kakak iparnya itu. ”Tumben kali ini kak Rita mengunjungi Lucky. Biasanya juga kakak dan kak Nicky sibuk sama pekerjaan kalian” lanjut Lucy.

”Siapa yang khawatir? Kebetulan saja aku baru selesai menandatangani kontrak di dekat sini. Nicko bilang si lemah Lucky ada disini jadi tak ada salahnya aku mampir.” jelasnya sambil mengambil dan memakan apel yang seharusnya untukku. Ibu mengambil apel lainnya dan mulai mengupas kulitnya untukku.

”Kali ini apa kerjaanmu? Lokasinya di menara tua itu?” Nick bertanya pada istrinya.

”Ya, ya. Ada klien yang mau membangun rumah disitu. Karena itu kami harus meruntuhkan mercusuar itu dulu.” jawab Rita membuatku terkejut.

”Mercusuar?” tanpa sadar aku bertanya padanya.

“Ah! Mercusuar tempat rahasia Lucky itu ya?” Lucy melengkapi pertanyaanku.

”Tempat rahasia?” Rita malah balik bertanya. Tapi Nick mengiyakan, ”Benar, mercusuar yang itu”

”Apa?!” suaraku mengagetkan seisi ruangan itu.

”Kak Rita... mereka akan menghancurkan mercusuar itu? Ka, kapan?” suaraku bergetar menahan rasa amarah.

”Besok siang. Menara itu sudah sangat tua. Tinggal diledakkan saja dan POOF!!” jawab Rita tanpa perasaan.

“Jangan! Jangan mercusuar itu. Tak bisakah mereka membangun rumah di tempat lain saja?!” kataku seakan memohon pada kakak iparku itu.

”Tak bisa. Aku sudah menyelesaikan kontraknya. Aku tak bisa membatalkannya.” kak Rita tampaknya jadi takut.

”Lucky...” Lucy dan ibu berusaha menenangkanku.

”Jangan bersikap kekanak-kanakan, Lucky. Menara itu sudah sepantasnya diruntuhkan. Tak ada gunanya kau mempertahankannya hanya karena itu tempat bermainmu.” kata Nick membela istrinya.

”Bukan begitu! Kalian takkan mengerti!” aku tak bisa menerima kenyataan ini sama seperti aku menolak untuk percaya bahwa Runa sudah meninggal.

”Ibu, kak Rita, kak Nicky, sebaiknya kita meninggalkan Lucky sendirian. Dia butuh istirahat” Lucy berusaha menjernihkan suasana.

”Kau benar” ibu mengiyakan.” tenangkan dirimu, nak. Istirahatlah.” ibu mengelus kepalaku sebentar dan keluar bersama Nick, Lucy dan Rita.

Keadaan disini jadi tenang. Tapi tentu saja hatiku tak bisa tenang. Mereka akan menghancurkannya. Tempat istimewa di hari istimewa itu. Bagiku itu sama saja dengan mereka membunuh Runa untuk kedua kalinya. Aku harus pergi kesana untuk menyelamatkan Runa.

~_~_~_~_~

Seperti mengulangi kebodohanku saat itu, aku tertidur malam itu. Mereka pasti telah mencampur obat tidur dalam makan malamku. Untungnya aku terbangun sebelum tengah malam. Aku memastikan waktu dari jam tangan Lucy, masih ada waktu 56 menit sebelum jam 12. aku harus pergi sekarang sementara Lucy tertidur. Aku bergerak sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara. Aku berhasil. Aku membuka pintu dengan perasaan gembira. Tapi...

”Apa yang kau lakukan?” Sial! Kenapa Nick?! Kenapa dia bisa ada di depan pintu?

”Kau sendiri sedang apa di depan kamarku? Aku ingin ke toilet” kataku pura-pura tak terkejut.

”Kau ingin kesana kan? Ke tempat Melissa meninggal.” tak pernah kuduga si iblis akan berkata seperti itu.

”Kau benar. Jadi biarkan aku kesana.” aku berusaha melewatinya tapi ia menghalangiku jalanku.

”Aku sangat menyesal dengan apa yang terjadi pada melissa. Aku juga menyesal atas apa yang akan terjadi dengan menara itu. Tapi kau harus melupakan masa lalu itu. Kesedihan masa lalu itu hanya akan menghancurkan masa depanmu.” si iblis sekarang berusaha menasihatiku seperti kakak yang baik. Benar-benar memuakkan.

”Apapun yang kau katakan, aku akan tetap kesana...” kalimatku terpotong oleh suara gaduh dari dalam kamar.

”Lucky! Lucky!” Lucy muncul dengan wajah panik.

”Lucy, tunanganmu berusaha kabur. Kau jagalah dia” si iblis Nick pergi dengan senyum kemenangan

”Siap kak” jawab Lucy patuh. ”Apa yang kau lakukan, Lucky. Kembalilah tidur” perintahnya sambil menyeretku ke tempat tidur.

Aku membaringkan tubuhku dengan pasrah. Sialll!!!

”Lucky, aku sudah dengar dari kak Nicky” kata Lucy tiba-tiba.

”Dengar apa?” tanyaku kesal.

”Tentang mantan pacar kak Nicky. Aku sudah dengar tentang kecelakaan itu. Dia bunuh diri di menara itu, kan?” Lucy menatapku iba.

“Lalu?” aku merasa tak ingin membahas cerita itu bersama gadis ini.

“Kudengar kau ada disana saat gadis itu bunuh diri. Kau juga selalu ke menara itu setiap saat. Apa benar, kau mencintai gadis itu?” pertanyaannya kali ini berhasil membuatku memperhatikannya.

“Apa maksudmu?” aku mengalihkan wajahku lagi.

”Jangan bohong. Sebagai tunanganmu aku ingin kau memberitahuku”

Tunangan? Aku tertawa dalam hati. Itu hanya perjodohan yang diatur oleh orang tua kita.

”Benar. Lalu kau mau apa?” tanyaku menantangnya.

”Ternyata benar” Lucy mulai menangis. “Aku takkan memintamu untuk melupakannya. Tapi ingatlah Lucky, aku akan tetap berada disisimu. Aku akan membantu menyembuhkan luka hatimu.” katanya menggenggam tanganku erat.

”Terima kasih, Lucy” hanya itu yang bisa kukatakan padanya. Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan Runa saat itu.

~_~_~_~_~

Karena aku berhasil berpura-pura tidur, Lucy telah tertidur lagi dengan nyenyaknya di samping tempat tidurku. Tapi kali ini ia menggenggam tanganku erat agar aku tak melarikan diri lagi. Kupandangi jam tangan Lucy sekali lagi. Jam 11:58. aku ingin pergi. Aku ingin bertemu Runa. Aku ingin kembali ke sana. Sekarang juga.

Aku menutup mataku dengan bimbang. Kubayangkan mercusuar itu. Terasa Hembusan angin sore. Samar-samar terdengar kicauan burung yang hilang sejak peristiwa itu. Aku merasakan keindahan. Keindahan itu kembali padaku bersama hari yang hilang. Kubuka mataku, dan kutemukan ia di sini.

Runa adalah keajaibanku. Keajaibannya berhasil membawaku kembali ke mercusuar itu. Runa tertidur dengan damai disampingku. Angin malam yang dingin mengusik tidurnya. Kemudian ia membuka matanya yang indah.

”Lucky?... Jam berapa sekarang?” suara merdunya kembali mengisi telingaku.

”Sudah pagi” jawabku. Sebenarnya aku juga tak tahu. Jam yang kugantungkan di menara itu telah berhenti tepat jam 12, bagaikan satu detik kebahagiaan yang selalu kunantikan di hari yang hilang.

”Lihatlah, matahari terbit” kataku menunjuk lautan.

”Lucky, kita tak bisa melihat matahari terbit dari sini. Mercusuar ini menghadap ke barat” tawa Runa.

“Bayangkan saja” aku ikut tertawa. ”Dan tentu saja kita bisa melihatnya”

Matahari benar-benar muncul dari lautan. Sinarnya menyelimuti kami dengan kehangatannya.

”Selamat datang kembali, Melissa” kataku tersenyum sangat bahagia.

”Selamat datang, Lucky. Kau tahu, aku selalu menunggumu disini...” senyuman Runa mengalahkan segala keajaiban.

”Aku tahu. Aku juga selalu menunggumu disini. Dan sekarang akhirnya kita bisa bertemu lagi di hari spesialmu ini”

”Hari spesial kita” kata Runa melengkapi. ”Sekarang kita bisa bersama selamanya, dalam ketiadaan”

”Aku mencintaimu, Lucky.”

”Aku mencintaimu, Melissa.”

~_~_~_~_~

Mereka pasti terkejut menemukan mayatku di mercusuar itu beberapa jam kemudian. Mayatku pasti jadi mayat pertama yang mereka lihat tertidur dengan damai dan bahagia. Dan beberapa jam kemudian mereka akan tetap meledakkan mercusuar itu. Aku sudah tak peduli, karena sekarang aku telah bersama Runa.

Selamat tinggal...
Aku dan Runa telah pergi bersama hari yang hilang.
Mungkin kami akan kembali lagi, 4 tahun kemudian...

End...

Read previous post:  
31
points
(1748 words) posted by redscreen 11 years 3 weeks ago
62
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | komedi | misteri | persahabatan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer 145
145 at 28 Days + 1 Second = The Lost Day (11 years 3 weeks ago)
90

Hmm ini saya lagi.
-
Seperti biasa gaya penceritaanmu bagus.
-
Hanya saja... secara pribdai saya tak terlalu suka dengan cerita semacam ini. Agak sedikit 'cengeng'. Pake acara bunuh diri segala lagi.
-
Kasihan deh si Lucy :( Jangan-jangan dia bakalan bunuh diri juga he he he
-
Hmm jadi boleh tahu alasan si Lucky mencintai Runa?

Writer redscreen
redscreen at 28 Days + 1 Second = The Lost Day (11 years 3 weeks ago)

ini cerita cinta yg sengaja dibikin romantis dan mengharukan sih kak >v<
Lucy baik2 saja kok, hanya tidak beruntung saja ^v^
eeh, mungkin karena runa cantik xD

Writer 145
145 at 28 Days + 1 Second = The Lost Day (11 years 3 weeks ago)

... kalau cuma karena kecantikannya, berarti sama dengan si kakak dunk

Writer redscreen
redscreen at 28 Days + 1 Second = The Lost Day (11 years 3 weeks ago)

eeh, berarti lebih kak, mungkin dia berpikir runa itu belahan jiwanya (lebay) xD
ku g tlalu ngerti perasaan cowo sih, maap >v<

Writer Maximus
Maximus at 28 Days + 1 Second = The Lost Day (11 years 6 weeks ago)
90

Speechless saya XD XD , gak salah aku jadi fansmu :D

Writer redscreen
redscreen at 28 Days + 1 Second = The Lost Day (11 years 6 weeks ago)

terima kasih kak maximus :D
ohya, bagaimana caranya jadi fans? >v<

70

kerenNN!!!

Writer redscreen
redscreen at 28 Days + 1 Second = The Lost Day (11 years 6 weeks ago)

terima kasih :D

sijojoz at 28 Days + 1 Second = The Lost Day (11 years 6 weeks ago)

Bagus kok, deskripsi bisa dikembangin lagi. Apalagi saat Lucky sadar dia merasakan apa yang Runa rasakan.

Writer redscreen
redscreen at 28 Days + 1 Second = The Lost Day (11 years 6 weeks ago)

maaf kalau cerita2ku selalu kurang deskripsi >v<
terima kasih atas kritiknya :D

sijojoz at 28 Days + 1 Second = The Lost Day (11 years 4 weeks ago)

Kita senasib XD

wah..bagus ceritanya.

Writer redscreen
redscreen at 28 Days + 1 Second = The Lost Day (11 years 6 weeks ago)

terima kasih ^v^