Maaf, Bila Jawabanku Adalah Tidak

"Kenapa jawabannya tidak?" tanya dia yang masih belum sepenuhnya percaya akan jawabanku.
"Karena kamu hanya memintaku sebagai pacar,"jawabku mantap.
"Kamu mau minta apa lagi, aku akan penuhi!"teriaknya yakin.
"Saya minta kamu berhenti meminta saya jadi pacar kamu,"ucapku baik-baik sebelum pergi meninggalkannya. Tapi bukan Aldwin namanya bila ia berhenti mengejar apa yang dia inginkan.Dari dulu Aldwin terkenal ambisius.
"Kenapa? kamu nggak mau pacaran? atau...nggak bisa pacaran?"tanyanya sambil mencengkram tanganku erat. Kucoba untuk menepis tangannya namun sia-sia. Genggamannya terlalu kuat.
"Ya, saya tidak bisa dan tidak ingin. Kamu puas?" kesabaranku mulai mendekati batas.
"Dar...kamu jangan keberatan sama jilbab kamu laah, di luar sana masih banyak yang pake jilbab tapi berani pacaran. Kamu tuh jangan terlalu kolot berpegang pada agama. Emang agama kamu bisa bikin bahagia apa?!"teriaknya skeptis.
"Bukan, bukan karena jilbab. Lagipula, dari omongan kamu tadi, saya sudah bisa menilai kalau kita tidak cocok. Saya nggak bisa jadi seperti yang kamu inginkan, dan saya rasa kamu bukanlah orang yang ditakdirkan Tuhan untuk saya..."
"Hahahah, sok tau kamu. Emang tadi Tuhan kirim sms ke kamu kalau aku nggak cocok jadi pacar kamu apa?"
"Kalau Tuhan bilang secara tersirat pacaran itu haram gimana?"tanyaku sekaligus jawabku.
"HAHAHAHHA" Tawa Aldwin meledak.
"Ya Ampun Tuhaan, Hahahaa...Eh Dar, aku janji deh pas pacaran nanti aku nggak bakal macem-macem. Nggak bakal cium-cium, nggak bakal pegang-pegang deh janji!" Aldwin mengacungkan dua jarinya tanda bersumpah.
"Pacaran itu bukan haram karena masalah pegangan tangan atau semacamnya..."kataku yang berhasil menghentikan tawa Aldwin.
"Terus karena apa?"pancingnya. senyumnya berkembang menandakan kepercayaan dirinya yang merekah.
"Karena orang-orang yang pacaran itu berani menjalin hubungan di luar pernikahan yang sah."

Aldwin terdiam.

"Aku belum siap jadi suami. Apalagi jadi suami kamu, seorang kamu yang hebat..."tiba-tiba intensitas suaranya menurun.
"Terserah kamu. Maaf, bila jawabanku adalah tidak..."

Aku berjalan meninggalkan Aldwin yang terpekur sendirian di gerbang fakultasku ketika suara derap langkah kaki di belakangku mengintimidasiku.
"Aku boleh jadi suamimu?"tanyanya. Nafasnya menderu terengah-engah, seolah berlomba dengan detik jam tanganku.
"Ya..."jawabku.Aldwin bersorak. Seluruh mata tiba-tiba tertuju padanya.
"Kalau Ayahku bilang iya,"sambungku.
Aldwin berhenti bersorak.
"Kalau tidak?"tanyanya lemas.
"Keputusannya adalah keputusanku,"ucapku sambil berjalan meninggalkan Aldwin. Kali ini Aldwin berhenti mengejarku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rans
rans at Maaf, Bila Jawabanku Adalah Tidak (9 years 49 weeks ago)

pendek tapi mengena

Writer chilla
chilla at Maaf, Bila Jawabanku Adalah Tidak (9 years 50 weeks ago)
70

lanjuuuut

Writer Shinichi
Shinichi at Maaf, Bila Jawabanku Adalah Tidak (9 years 51 weeks ago)
50

deskripsinya kurang, niy. sejatinya, ada spasi lho setelah kutip penutup pada kalimat langsung.

kip nulis

ahak hak hak

Writer tauf_nd
tauf_nd at Maaf, Bila Jawabanku Adalah Tidak (9 years 51 weeks ago)
70

sippppppp

Writer vinneam
vinneam at Maaf, Bila Jawabanku Adalah Tidak (9 years 51 weeks ago)
50

lumayan lah :D

Writer LetsJoin
LetsJoin at Maaf, Bila Jawabanku Adalah Tidak (9 years 51 weeks ago)
70

whhohoho,
gitu itu harusnya orang2 yg bragama islam. . ,hha

Writer szasza
szasza at Maaf, Bila Jawabanku Adalah Tidak (9 years 51 weeks ago)
90

wuapiiikkkkk

Writer redscreen
redscreen at Maaf, Bila Jawabanku Adalah Tidak (9 years 51 weeks ago)
80

hehehe,
lucu kak :D
cerita cinta religius yg menarik ^v^