nyanyian putri duyung

"Ujian hari ini adalah bernyanyi."

Ibu Guru Farida mengangkat dagunya dan tersenyum kepada murid-murid. Di sebelahnya--tepat di depan kelas--berdiri Joko dengan keyboard kuno milik sekolah, siap mengiringi lagu wajib yang akan diujikan para siswa.

Ibu Farida mengangkat buku absennya, lalu mulai memanggil absen satu untuk menyanyi di depan, yaitu siswi bernama Abelia Putri. Aku.

Tanpa ragu, aku maju ke depan. Langkahku biasa saja dan tubuhku tidak gemetaran. Aku sudah menyiapkan semuanya, terlebih menyanyi adalah hobiku. Lagu yang akan kunyanyikan adalah Selendang Sutra.

Dan sesuai dugaanku, semua murid menyambut baik suaraku. Bu Farida terus memuji, dan Joko mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aku dapat tepuk tangan yang cukup keras dan senyum lebar dari teman-teman.

Aku hanya tersenyum kecil dan berterimakasih, lalu kembali ke tempat dudukku. Kulihat Tiara, teman sebangkuku, sangat gugup. Wajahnya pucat seperti orang mau muntah. Kugenggam kedua tangannya yang dingin dan kaku.

"Abel, aku mau muntah," bisiknya.

Temanku yang satu ini paling payah kalau disuruh nyanyi. Kalau bicara, suaranya biasa saja, tapi kalau bernyanyi suaranya seperti pintu berderit. Bukan maksudku menjelekkan temen baikku ini, tapi semua orang yang pernah mendengar ia menyanyi berpikir begitu.

"Aku takut, Bel. Bagaimana ini, sebentar lagi giliranku..."

Yah, bukannya menghapal lagu wajibnya dan mengatur teknik bernyanyinya, Tiara malah berdoa komat-kamit supaya nanti tidak diejek dan ditertawakan..

"Ayolah, ini mudah kok," kataku memberi semangat. Tapi ia masih saja keringat dingin. Sementara Septi sudah selesai menyanyi di depan sana dan diberi tepuk tangan.

"Tiara Widi," seru Bu Farida memanggil namanya. Tiara hampir lompat dari bangku.

"Tuh, Ti. Kamu pasti bisa," ujarku padanya.

Tiara bangkit dari bangku dan berjalan ke depan dengan gemetar. Sampai aku bisa mendengar suara dagdigdug jantungnya.

"S,s,s,sa,saya akan menyanyikan lagu wajib ta, Tanah Air.." katanya gagap di depan kelas.

Tiba-tiba seorang murid laki-laki berdiri dari bangkunya, Raut wajahnya tidak enak dan alisnya berkerut jadi satu. "Bu! Dia tidak usah disuruh menyanyi. Balik saja ke tempat duduknya!"

"Kenapa Yanto?" tanya Bu Farida.

"Ibu sendiri juga tahu," kata murid bernama Yanto itu lantang, "Dia itu putri duyung!"

Setelah Yanto menyelesaikan kalimatnya, kelas menjadi ricuh. Semua murid membicarakan tentang putri duyung. Itulah yang Tiara takutkan dari tadi.

Di desa kami beradar isu tentang putri duyung, kupikir karena tempatnya di pesisir, dekat laut.

Jadi pada malam-malam tak tentu, terdengar suara nyanyian dari arah laut. Nyanyian itu buruk, lebih terdengar seperti lolongan dan raungan perempuan--banyak perempuan. Banyak warga yang mengaku pernah mendengar nyanyian itu. Dan hari setelah nyanyian itu terdengar, terjadi badai kecil sampai badai besar, badai yang menenggelamkan semua kapal nelayan yang melaut. Nelayan-nelayan yang selamat mengaku melihat sosok monster ikan yang menyeramkan dan bayangan wanita-wanita cantik dalam gulungan ombak besar sebelum kapal mereka ditenggelamkan. Dan tentu saja, dalam keadaan terombang-ambing ombak, nyanyian setan itu terdengar.

Parahnya, biasanya badai terjadi setelah Tiara bernyanyi. Dulu, Tiara mengaku paling suka bernyanyi walau ia tahu suaranya buruk. Kurang lebih satu tahun yang lalu, ketika ia murid baru di sekolah kami, Tiara disuruh bernyanyi saat perkenalan. Mereka tertawa saat itu, namun malamnya badai yang sangat besar menenggelamkan belasan kapal nelayan dan menelan korban jiwa yang tak sedikit.

Mulanya itu dianggap kebetulan dan wajar.

Namun, ketika Tiara ikut paduan suara untuk mengisi upacara sekolah, badai kembali datang. Di hari-hari berikutnya, orang-orang mengaku mendengar Tiara menyanyi. Meskipun mereka menutup telinga, badai itu kembali terjadi. Sejak itulah Tiara dijuluki putri duyung. Dan karena tudingan-tudingan yang terus menghujamnya, Tiara sampai hampir mempercayai kalau dia adalah putri duyung.

Aku, si siswi baru yang datang setelahnya merasa harus dan wajib membelanya. Aku sendiri tidak percaya takhayul tentang putri duyung, kalaupun ada badai, itu datangnya dari alam, bukan dari nyanyian. Kasihan Tiara, hanya karena suaranya buruk ia dianggap putri duyung. Sampai rumahnya pernah didatangi warga yang berapi-api, warga yang keluarganya mati karena badai. Untunglah masih ada orang waras yang menyadarkan warga dan menolong gadis malang itu.

Sekarang Tiara jadi takut menyanyi. Dan ia hampir menangis di depan kelas.

"Putri duyung itu tidak ada!" belaku dengan suara keras. "Badai itu dari alam, bukan dari nyanyian. Apalagi dari putri duyung! Kalian sekolah, kalian kepintaran dan ketuaan buat percaya takhayul itu."

Sejenak kelas jadi hening. Anak-anak yang tadi menuding tentang putri duyung langsung bungkam dan kembali duduk. Bu Farida yang dari tadi berusaha menenangkan--tapi gagal--langsung kembali ke depan kelas dan berbicara dengan Tiara yang membeku kaku.
"Silahkan dilanjutkan, Tiara," kata Bu Farida.

Aku tersenyum pada Tiara dan dia membalas. Dengan senyum dan percaya diri yang mulai tumbuh sedikit-sedikit, gadis berkerudung itu menyanyikan lagunya.

". . ."

Lagu itu belum selesai, tapi semua siswa sudah menjerit dan menutup kuping. Bu Farida segera menyuruh Tiara berhenti dengan berkata, "Tiara, kamu lulus,"

***

Malamnya, aku melihat Tiara di tepi pantai. Ia memakai baju terusan panjang berwarna hijau pucat dan kerudung berwarna putih. Gadis itu duduk menghadap laut sambil memeluk dirinya. Bagian bawah bajunya basah tersapu ombak yang sedang pasang.

"Hai, Ti. Sendirian aja?" sapaku seraya menyentuh pundaknya. Ia yang tiba-tiba saja menyadari keberadaanku langsung tersentak.

"Eh, eh, kau Abel.." ia menatap wajahku dan tersenyum, "aku pikir siapa tengah malam begini, hehehe.."

"Ya, tidak ada siapa-siapa selain kita berdua di sini," kataku membalas senyumannya. Namun Tiara kembali menatap laut dan memeluk diri. Aku yang kebingungan langsung duduk di sampingnya.

"Kamu ngapain Ti? Tengah malam begini di laut," ujarku padanya.

"Aku mau dengar suara putri duyung," katanya terkekeh, "kedengaran tidak ya.."

Dia tertawa kecil, tapi aku tau itu palsu. Aku mengikutinya menatap laut dan menajamkan pendengaran supaya bisa dengar nyanyian legenda itu. Tapi aku hanya bisa melihat dan mendengar gulungan ombak setinggi tiga meter yang menyapu bagian bawah tubuh kami.

"Kanapa kamu menolongku tadi?" ujarnya tiba-tiba tanpa menoleh ke arahku. Aku mengerutkan kening dan menatapnya heran.
"Kenapa? Emang tidak boleh?" jawabku sambil menyelipkan rambut panjangku yang berkibar-kibar karena angin.

"Bu, bukan itu maksudku," katanya gagap. Ia menoleh dan menatap mataku lekat-lekat. "Kau ini.. pintar, cantik, suaramu juga bagus... Kau juga populer di kalangan cewek atau cowok... Kalau kamu berteman denganku mereka jadi menjauhimu kan.."

Dia ini...

Kenapa sih dia selalu rendah diri begitu. Apa dia tidak tahu kalau rendah diri adalah sifat yang menyebalkan...

"Ya sudah, jangan dipikirkan,"kataku menghela nafas. Kemudian aku terkekeh padanya, "Kita lihat saja, kita buktikan kalau mereka salah. Malam ini tidak akan ada badai dan mereka akan tahu kalau kau bukan putri duyung."

Aku mengacungkan jempol padanya. Tiara tersenyum sebentar, lalu menatap laut lagi.

Tiara itu sebenarnya cantik, apalagi kalau senyum. Wajahnya kebarat-baratan, tapi sehari-hari ia pakai kerudung dan baju lengan panjang. Namun begitu, ia masih tetap anggun dan manis... kalau saja suaranya tidak seperti pintu berderit.

"Bu Farida tadi bilang lulus," bisik Tiara, mungkin pada dirinya sendiri. "Tapi sebenarnya aku tidak lulus kan?"

Sejenak kami terdiam setelah perkataannya. Ketika debur ombak yang besar menghempas setengah tubuh kami, aku mendengar ia terisak.

Tiara menenggelamkan kepala dalam pelukan dirinya. Suara isaknya makin kedengaran, dia menangis sesegukan. Aku hampiri tubuhnya dan kupeluk. Tapi, ketika ia mengangkat wajah, aku tidak melihat setetespun air mata. Di wajahnya hanya ada air laut dan pasir..

Tiara..
Itu nama yang diberikan padamu.
Karena kulitmu seputih dan sebening mutiara.
Matamu sebiru lautan dan begitu dalam.
Jika kau tersenyum, seolah menggambarkan laut yang cerah dengan banyak ikan di dalamnya.
Namun jangan menyanyi, karena terdengar lebih buruk dari suara burung malam yang terjebak badai.

Kami menghabiskan malam itu di tepi pantai. Berpelukan, tertawa, dan bernyanyi bersama. Kami melupakan masalah-masalah sampai matahari terbit.

"Lihat!" kataku menunjuk matahari yang mulai menampakkan diri dari laut, "Tidak ada badai malam ini, kita udah buktiin kalau mereka salah!"

Tiara akhirnya tersenyum lebar setelah lama murung dan merenung. Kemudian ia berdiri dan menarik tanganku.

"Ayo kita pulang dan bersiap. Kita harus ke sekolah," katanya ceria.

Aku mengikutinya berdiri sambil tertawa kecil. Lalu kami berlari ke rumah kami masing-masing.

Namun kami tidak jadi ke sekolah, tidak bisa tepatnya. Hujan lebat sekaligus angin dan petir yang besar menghalangi jalan kami. Tak ada satupun dari kami yang pergi, termasuk guru-guru. Kami semua berlindung ketakutan dalam rumah. Bahkan terdengar kabar kalau sekolah kami mau roboh dan gentingnya sudah beterbangan.

Badai itu mengurung kami sampai matahari hampir tenggelam. Aku baru boleh keluar rumah ketika sudah gelap, dan tentu saja tempat yang kukunjungi pertama adalah rumah Tiara.

"Tiara, Tiara!" seruku seraya mengetuk pintu bambu rumahnya.

Tapi tidak ada jawaban dari rumah anyam mungil itu. Palingan semilir angin hangat yang berhembus dari dalam. Angin itu membawa bau aneh dan firasat buruk. Maka aku berputar, hendak masuk lewat pintu belakang.

Tapi pintu belakang itu jebol, sedikit hitam dan banyak asap yang mengepul dari dalam. Selain itu ada beberapa pria dewasa dan remaja yang keluar masuk dari dalam rumah.

"Eh, nak Abel.."

Aku berbalik. Seorang wanita paruh baya berdiri menatapku, beserta anak gadis yang sama-sama berkulit cokelat di gandenganya. Mereka berdua tesenyum ke arahku.

Senyum mereka tidak mengenakkan, aku punya firasat buruk dan panik seketika.

"Bu Wati, Tiara mana bu? Tiara mana?" tanyaku cepat sambil mengguncang-guncang lengan ibu itu.

"Dia sudah mati, nduk," jawabnya. "Bersama dengan berakhirnya badai yang menelan keluarga kami."

Jawaban itu membuatku marah, aku sempat meremas tangannya. Tapi, segera kulepas tangan keriput berlapis kebaya tipis itu, lalu aku segera berlari masuk ke dalam rumah Tiara.

"Tiara, Tiara!" panggilku sambil menutup hidung dan mengibaskan tanganku.

Rumahnya dipenuhi asap. Satu-dua orang masih lalu lalang, mereka membawa barang yang bisa diambil dari rumah ini. Tapi, sebagian besar lantai, dinding, dan perabotannya menghitam. Kemudian bau aneh itu semakin menyengat.

"Ih, bapak!" seruku pada seorang pria yang lewat sambil menutup hidung, "Bau apa ini? Tiara mana?"

"Anu, dik, masih ada bakar-bakaran di kamar," kata bapak itu seraya menunjuk dinding hitam yang mungkin ada kamar dibaliknya. "Cewek jejadian itu dibakar saja, biar kita ndak ada yang mati ilang karena badai.. Biar kita gampang nyari ikan, hidup ndak susah, dan yang penting ndak hidup sama setan.."

Mendengar penjelasan pak tua itu, telingaku langsung panas. Ingin rasanya kutarik mulutnya sampai ia menelan ludah dan darahnya sendiri, tapi tidak aku lakukan. Aku malah berlari ke arah yang ditunjuk bapak itu.

Di kamar itu, sumber bau tersebut berasal. Masih ada seorang anak muda di dalam--mengambil harta--tapi, begitu melihatku dia segera keluar. Entah kenapa aku ingin menangis begitu melihat gunungan abu yang bersandar pada tembok. Abu itu membentuk bayangan orang yang sedang duduk, pinggirannya terkikis angin dan menjadi asap.

"Tiara tadi ndak mberontak pas kami seret-seret dan kami siram minyak tanah. Pas api nyala, dia cuma duduk dan menutup matanya dengan jilbab," kata bapak tua yang tadi itu.

Seketika itu, angin menghembuskan sebagian dari abu. Bagian atasnya terkikis, dan perlahan terlihat sesuatu yang putih. Aku tersentak dan segera menyingkirkan abu yang menyelimutinya. Begitu tahu itu tengkorak dan tulang belulang manusia, aku menangis dan menjerit keras.

***

"Abel, mau kemana tengah malam begini?"

Aku menoleh ke arah belakang. Bundaku menatap dengan wajah sendu. Di tangannya ada roncean kerang yang belum selesai dibuat.

"Ke pantai, Bunda," jawabku.

Bunda tidak marah, tersenyum, mengangguk, atau apapun mendengar jawabanku. Ia hanya melanjutkan meronce kalungnya yang mungkin akan dijual pada pedagang pasar esok pagi.

Aku menyukai suasana pantai di malam hari. Walaupun hanya memakai baju tanpa lengan berwarna putih dan rok kain bermotif bunga sebatas lutut, aku menikmati melawan dinginnya angin malam dan besarnya ombak yang menderu-deru.

Langit juga sangat cerah malam ini, bintang-bintang seperti membentuk jagat raya baru yang terbuat dari berlian. Kata orang, langit setelah badai itu selalu indah. Kupikir memang benar adanya.

"Sudah kuduga kau akan kesini."

Aku menatap seseorang yang duduk menghadap laut dan tersenyum padanya--senyum mengejek. Ia duduk sambil memeluk diri dan jilbab putihnya berkibar-kibar ke arah laut. Tampaknya ia tak menyadari kehadiranku yang hanya beberapa langkah darinya.

"Abel.."

Wanita itu menoleh padaku, tapi gerakannya sangat kaku.. dan berbunyi aneh. Kemudian dia membuat senyuman palsu yang sangat dibuat-buat. Dengan tangan yang terulur, perlahan ia melambai ke arahku.

"Tiara.."

Aku berjalan mendekatinya, dan kali ini aku tak ikut duduk bersamanya.

"Kenapa kau? Sudah tidak kuat hidup?" tanyaku sinis.

"Hehe.." suara Tiara lebih sumbang dari biasanya, bahkan pada saat dia tidak menyanyi.

"Siapa yang dibakar itu?" tanyaku lagi.

"Ibuku yang aku pakaikan jilbab," katanya. "Aku membunuhnya sebelum aku mencari tempat sembunyi dan melihatnya dibakar."

"Payah kau," seruku padanya, "Padahal dia yang sengaja mengambilmu dari laut dan merawatmu."

"Dan menyekolahkanku juga," tambahnya. "Wanita bodoh."

Aku tertawa mengejeknya, ia pun tersenyum sinis. Kami bertatap sebentar, mata birunya sudah tak seindah dan semengkilap dulu.

"Sekarang kau mau kemana?" tanyaku lagi.

"Ke laut," jawabnya. "Sebelum orang lain lihat, haha.."

Kini aku mulai menatapnya nista, "Lebih baik kau lepas saja jilbab dan baju panjangmu. Kau tidak lagi butuh."

Tiara kembali menatapku. Kini raut wajahnya tidak enak, sepertinya ia marah padaku.

"Kamu..."

"Aku tahu siapa kamu, Tiara.." cetusku dengan seulas senyum yang membuatnya makin jelek, "Aku tahu sejak kamu terbawa ombak dalam peti kayu itu. Aku tahu saat-saat kamu mulai membuat masalah di kapal itu. Kau hanyalah marionette tua yang dibuang dari kapal perompak. Dan kini kau mulai rusak."

Tiara terdiam mendengar kata-kataku. Sepertinya ia ingin mencekikku, tapi aku tetap melanjutkan perkataanku dengan senyuman.
"Kau yang membuat anak perempuan kapten kapal hampir mati tertimpa tubuhmu yang besar dan berat. Kau yang membuat gagal teater boneka sepuluh tahun lalu karena suara sumbangmu di tengah pertunjukkan," lanjutku. "Suaramu sumbang karena kau hanyalah kayu. Kau memang pintu berderit."

"Orang-orang di rumahku tidak mengizinkanku membawamu pulang. Aku yang memberimu kepada si perawan tua yang bodoh itu. Tapi Tiara sayang, kau masih bonekaku."

Tiara terdiam. Ia terpaku mendengar kata-kataku. Tapi, tak lama kemudian ia tertawa—tertawa sedih.

"Jadi, kau yang menyelamatkanku.. dan mencelakanku?" tanya Tiara dengan senyum tanpa makna.

"Sebenarnya kau yang membuat badai-badai itu kan? Kau, teman-temanmu, dan keluargamu! sejak awal kau ingin aku celaka, ya kan?!" tuding Tiara seraya menunjuk-nunjuk ke arahku. Kemudian, walau sempat hampir jatuh lagi, ia berdiri perlahan dengan suara-suara berdecit itu. Dan tanpa bisa ditahan lagi, ia menjerit ke arahku, "KAU JUGA YANG MEMBUATKU MEMBUNUH IBUKU, DASAR SETAN!!”

Aku memandangnya lama sampai ia puas. Tapi tak ada lagi yang bisa diteriakkan, dan gadis boneka itu jatuh dan duduk kembali. Sepertinya ia sangat ingin menangis, tapi setiap boneka tidak punya air mata.

"Kupikir boneka tidak punya hati," kataku datar. Tapi Tiara tetap tertunduk menatap laut.

"Ayo pulang," kataku lagi.

Tiara tersenyum manis. Walau tubuhnya kini penuh cacat, ia tampak cantik seperti dulu. Dia membuka dan menerbangkan jilbabnya, memperlihatkan rambut kuning emas yang selalu disembunyikannya—rambut yang pertama kali aku lihat ketika ia hanyut bersama kotak kayu. Dan tubuh yang terbuat juga dari kayu itu tidak perlu ditutupi kain panjang, karena tak ada lagi yang akan menyentuhnya selain deburan ombak.

Oui, maîtresse

Aku menatap laut timur yang seperti akan bersinar, kemudian berjalan perlahan membiarkan diriku terhempas ombak. Setelah setengah tubuhku tercelup dalam air, aku menyerahkan diriku sepenuhnya pada laut. Aku melepas semua kain yang melekat di tubuhku dan menghanyutkannya. Kain-kain buatan manusia itu menggangguku untuk berenang.

Setelah beberapa saat, sisik-sisikku mulai muncul, dan selaput di antara jariku mulai membentuk. Kedua kakiku mulai merekat dan menjadi ekor panjang dengan sirip-sirip berwarna perak. Sementara Tiara mulai mengambang dan tubuhnya terpisah-pisah, aku berenang menjauhi daratan sambil menyenandungkan nyanyian kematian.

Aku tebak malam ini akan ada badai.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ao-Chan
Ao-Chan at nyanyian putri duyung (5 years 38 weeks ago)
80

Benar-benar ga bisa diduga akhirnya,, twist banget

seru,
^^

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at nyanyian putri duyung (8 years 34 weeks ago)
100

endingnya unpredicaable!! (^^)b

Writer mimzhy
mimzhy at nyanyian putri duyung (9 years 18 weeks ago)

Aku tuh sbenarnya gak niat daftar di sini tapi berhubung, ada yang pen aku tau siapa asli pemilik cerpen ini... Makanya aku daftar (jadi curhat)...
Kamu pemilik asli cerpen ini, atau marriane yang di fanfiction.com? Ceritanya sama persis, hanya tokohnya yang berbeda. Nih linknya http://m.fanfiction.net/s/6379739/1/
mirip banget...

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at nyanyian putri duyung (9 years 16 weeks ago)

ASTAGAAAAA,, PLAGIATT !!! DDDDx

ini sumpah ide aku, dan aku jarang main ke ffn.. >_______<

makasih ya udah kasi tau mimzhy.. tu orang mesti dikutuk..

Writer cat
cat at nyanyian putri duyung (10 years 4 weeks ago)
70

Aku suka cerita mu. Ngemix he5.
Cm pada saat masuk bagian si abel memaparkan fakta terasa agak janggal. Harusnya ada 1 bagian lg yg memuluskan nya.

Lalu, bagaimana mungkin si Tiara menuduh abel dkk n family membuat badai?

Sapa seh abel itu?

Lalu penduduk desa tdk mengenalikah org yg mrk bakar?

Maaf kalo kesan e cerewet.

Practices makes perfect.
Ikut event september ceria yah.

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at nyanyian putri duyung (10 years 4 weeks ago)
90

Keren keren keren! Saya suka konsep putri duyung dan twistnya. Setahu saya, putri duyung yg menyebabkan kapal-kapal tenggelam memiliki suara yang indah dan merdu, makanya saya heran kalau diceritakan bahwa Tiara memiliki suara yg buruk, ternyata eh ternyata. Ciri khas kamu memakai tema boneka masih dipertahankan di sini, sangat bagus.

Kekurangannya, mungkin dari segi latar. Latar saya pikir ada di Indonesia wilayah pedalaman, dengan logat Jawa. Akan lebih baik kalau disebutkan nama tempat agar lebih menambah realisme cerita. Lalu tentang asal-usul Tiara, rasanya agak terlalu mendadak. Mungkin lebih baik kalau diberi sedikit prolog tentang legenda kapal yang karam atau pertunjukan boneka di kapal tsb.

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at nyanyian putri duyung (10 years 4 weeks ago)

asiik, dipuji sm master horor.. (_ _)
makasih y kak ipai, wkwk. XDD
.
yeah, kalo pake prolog kepanjangan nanti.. jdi sy masukin aja d percakapan. =="

Writer baru_aja_belajar
baru_aja_belajar at nyanyian putri duyung (10 years 5 weeks ago)
80

aq harap aq bisa menulis sebaik dan se kreatif kk. slam kenal

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at nyanyian putri duyung (10 years 5 weeks ago)

ahha, mdh2an km bisa lbh baik dr sy. slam knal juga. XD

Writer redscreen
redscreen at nyanyian putri duyung (10 years 5 weeks ago)

ouu, ku ngerti kak, Putri itu putri duyung, tiara itu boneka :D
kak Ann ikut fantasy fiesta? menurutku cerita ini bisa diikutkan di lomba itu C:

terus ada koreksi dikit kak, yg paragraf ini:
"Putri duyung itu tidak ada!" belaku dengan suara keras. "Badai itu dari alam, bukan dari nyanyian. Apalagi dari putri duyung! Kalian sekolah, kalian kepintaran dan ketuaan buat percaya takhayul itu."

sepertinya kata 'ketuaan' dan 'kepintaran' kurang baku kak, mungkin bisa pakai kalimat: "kalian sekolah, kalian sudah cukup pintar dan cukup dewasa untuk percaya takhayul itu"

itu menurutku lho kak, kalau tak diganti juga tak masalah
cerita kakak sudah bagus :D

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at nyanyian putri duyung (10 years 5 weeks ago)

ahha, makasih koreksix y red. >w<
ak emg krg pintar bikin percakapan.. =_=
.
yeah, kira2 ceritax gitu.. =w=
.
ahha, gk tau yg jelas ak gk ngkutin crita ini. XD
km ikut red ? o_o

Writer redscreen
redscreen at nyanyian putri duyung (10 years 5 weeks ago)

sama2 kak ^v^
ku juga g ikut >v<
tapi mau coba yg september ceria, kak ann ikut? :D

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at nyanyian putri duyung (10 years 4 weeks ago)

eh, ak gk tau yg bulan september..
temanya apa ? O_O

Writer redscreen
redscreen at nyanyian putri duyung (10 years 4 weeks ago)

ini kak: http://www.kners.com/showthread.php?t=762#15312
temanya tentang Cerita Anak, Pengantar tidur
ku mau buat yg tentang boneka :D

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at nyanyian putri duyung (10 years 4 weeks ago)

woh, mkasih yh. xDD
ahha, ada boneka saingan juga. =w=

Writer redscreen
redscreen at nyanyian putri duyung (10 years 4 weeks ago)

sudah jadi kak,
tapi masih lebih jelek dari cerita kak Ann xDD

Writer jasmine_lukhy
jasmine_lukhy at nyanyian putri duyung (10 years 6 weeks ago)

Kren bngeT, imajinasi y9 fantastik. WuiH,,, jdi miNder nHe.

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at nyanyian putri duyung (10 years 5 weeks ago)

hee hee.. imajinasi sy hanya sbatas boneka. XD

Writer redscreen
redscreen at nyanyian putri duyung (10 years 6 weeks ago)
100

wawawa, bagus kak xD
walaupun agak membingungkan di akhirnya, tiara itu boneka atau putri duyung? 0,o