KAERU...

Ini benar-benar terjadi. Aku berdiri di jalanan sepi ini lagi.

Aku masih ingat jalan ini. Ada lampu lalu lintas terpasang di sebelah tempatku berdiri sekarang. Di sebelah kiri jalan ada sebuah rumah makan yang selalu menyalakan lampu balihonya meski masih pagi. Di depannya, beberapa langkah dari tempatku berdiri, sebuah kantor pos berdiri dengan megahnya. Aku selalu kagum dengan cara mereka memilih warna yang berbeda. Jingga.

Semuanya masih sama bagiku. Bahkan lampu lalu lintas sedang menyala merah, tepat seperti pertama aku datang ke sini. Aku mencoba berjalan beberapa langkah. Lalu sedikit mempercepat langkah begitu berada di depan kantor pos. Takut kalau petugasnya masih mengenaliku yang pernah iseng mengolesi setiap tempat duduk pengunjung dengan lem.

Tapi tiba-tiba senyumanku terhenti saat melewati tikungan satu-satunya di jalan ini. Jika semua ini benar maka apa yang kulihat di depan mataku itu juga benar. Bangunan bertingkat tiga itu telah lebih dulu memenuhi mataku meskipun jaraknya masih seratus meter lagi. Sedikitpun tak aku pedulikan tumpukan buku-buku yang dijual di pasar buku bekas pagi yang berada beberapa meter di depannya. Bangunan biru itu begitu mempesona, masih kokoh. Aku masih bangga mengenalinya sebagai SMA keduaku.

Lalu ada desir ketakutan mendera diriku. Seperti orang bodoh kulihat bajuku yang sejak tadi menempel. Baju putih bercelana abu-abu dengan cap kelas dan nama sekolah itu di lengan kiriku. Kulirik lengan kiriku itu, sebuah jam tangan usang pemberian ibu masih menempel di sana. Jam yang seharusnya sudah rusak seingatku. Lalu sebagai puncaknya, aku merogoh ke dalam tasku. Dengan tergopoh akhirnya kutemukan kertas itu. Surat pemberitahuan beasiswa yang telah kuterima. Aku adalah pelajar SMA biru itu.

Dia benar-benar melakukannya. Dia membawaku ke tempat ini lagi. Entah ini sihir atau apa. Tapi bocah itu membuktikan keajaibannya. Keajaiban yang membawaku mundur lima tahun, ke saat dimana semua bermula.

Padahal mungkin baru sepuluh menit yang lalu, aku masih mengagumi tempat yang aku kunjungi. Sebuah kota dengan gedung-gedung menjulang. Aku berada di atas salah satu gedung itu, sangat luas dan datar. Tapi saat aku mencoba melihat ke bawah, hanya kegelapan yang ada di sana. Tak ada jalan ataupun sesuatu yang lain. Seolah-olah gedung-gedung ini mencuat dari dalam kegelapan. Sementara benang-benang asap warna-warni meliuk-liuk berseliweran memenuhi udara. Hal yang awalnya membuatku takut untuk bernafas.

”Jangan sampai kau terjatuh ke sana !”terdengar suara dari belakang.

Aku menengok. Seorang anak luar biasa tampan berdiri sambil tersenyum padaku. Usianya kira-kira 12 tahun. Rambut hitamnya panjang tergerai sampai pundaknya. Pakaiannya yang putih semakin mengingatkanku pada pemeran-pemeran peri di film-film epik.

”Kalau kau terjatuh ke sana kau akan benar-benar mati.” katanya lagi.

Mati? Tiba-tiba aku teringat dengan apa yang telah aku lakukan. Ya, aku pasti sudah mati. Dan dia? Dia pasti malaikat maut yang datang tadi mencabut nyawaku. Ah, cepat sekali dan tidak terasa sakit. Ini tidak seperti yang dikatakan oleh bapakku.

”Ini dimana? Akhirat? Atau kiamat sudah tiba dan semua sudah ditimbang? Jadi inilah surga.” kata-kataku tadi lebih terkesan sebagai suatu pembelaan dan penghiburan diri. Aku tahu dengan apa yang telah aku lakukan, aku harusnya dijebloskan ke neraka. Dijadikan bahan bakarnya.

Tapi tempat ini juga terlalu sederhana untuk dikatakan sebagai sebuah surga. Ini hanya dunia yang sama sekali tak jauh beda dengan duniaku. Kecuali asap-asap warna-warni itu atau kegelapan yang meliputi permukaan tanah, semuanya adalah dunia yang sama. Ada awan putih menggantung bebas di langit, bahkan bisa dikatakan kalau langit dunia ini adalah kumpulan awan itu sendiri. Aku bisa merasakan angin. Dan meskipun aku tak melihat matahari, di sini sama terangnya dengan suasana senja yang selama ini aku kenal.

Dia tertawa. Bocah itu tertawa sangat keras. Bahkan aku merasa seluruh dunia ini berguncang karena tawanya. Tapi anehnya aku seperti mengenali gaya tertawanya. Dia seperti sedang terkekeh.

”Hah, jangan bercanda! Kau belum mati. Dan kalaupun kau mati, kau harusnya tak akan berpikir kalau akan masuk surga, kan? Heh, meloncati gedung 10 lantai dan masih percaya diri mendapatkan surga. Kau bahkan lebih bodoh dari Newton.”

Bocah ini tahu apa yang telah aku lakukan. Terjun dari lantai 10 dan berharap akan kematian karena keputusasaan. Kehilangan orang yang sangat dicintai benar-benar membuatku buta. Dan dengan bangga aku mencontoh mentah-mentah praktek cinta Romeo-Juliet. Cinta sehidup semati.

”Romeo-Juliet adalah orang yang lebih bodoh dari Newton.”

Aku terkejut. Dia membaca pikiranku. Tapi segera aku buang jauh-jauh pikiran aneh itu. Ini mungkin dunia yang dibuatnya sendiri. Di dunia ini dia pasti bisa melakukan apa saja. Mungkin dia seperti tuhan di sini.

”Ayo! Jangan berdebat masalah tuhan denganku. Dia tak akan semurah hati ini. Sebaliknya, Dia pasti dengan senang hati membakarmu ke dalam neraka. Bunuh diri... Bagaimana kau bisa begitu bodoh?”

Dengan sedikit angkuh dia memberiku isyarat untuk mengikutinya. Aku menurut, sambil tentu saja berusaha menutup pikiranku agar tidak berpikir yang macam-macam. Aku berjalan dengan menjaga jarak darinya. Aku tak tahu dimana ini dan siapa dia. Sementara asap-asap berwarna semakin banyak dan pekat. Aku mulai menebak-nebak, mungkinkah dia mengajakku pergi ke tempat seluruh asap ini berkumpul.

Dia mengajakku menuju ke tepian gedung. Tempat dimana asap-asap berwarna berkumpul menuju sebuah menara. Menara itu tinggi dan hitam. Dindingnya terbuat dari batu bata merah seolah baru dibangun kemarin. Lantas di puncaknya, sebuah jam dinding besar terpasang dengan dua jarum. Alih-alih menunjukkan waktu, jam itu malah berputar ke kanan meskipun dengan sangat pelan. Ke dalam jam itulah, asap-asap berwarna terserap secara gaib.

”Apa kau punya orang yang kau cintai?” dia berkata dengan serius.

”Tak mungkin aku senekat itu jika bukan karena dia.”

”Apa kau pikir kalau kau juga mati, kalian akan benar-benar bertemu?”

Aku terdiam. Memang tak ada bukti kalau aku akan bertemu dirinya di akhirat. Tapi aku hanya merasa hampa. Hidup tanpa orang yang dicintai. Bukankah hidup seperti itu tak akan berarti?

”Tentu saja kalian akan bertemu.”nada bicaranya kembali mengejek.”Bukankah dia juga ada di neraka? Dia... juga bunuh diri kan?”

”Kau !” aku sudah tak tahan lagi. Berani-beraninya bocah ingusan ini mencerca orang yang paling aku cintai.

”Maukah kau kuberitahu sebuah cara agar kalian bisa bertemu lagi?” dia berkata dengan tenang. Padahal aku yakin dia pasti tahu kalau aku sudah berniat untuk memukulnya.

Bocah itu menghadap ke menara. Dia sepeti puas dengan jumlah asap yang masuk ke dalam jam dinding. Dia menggerakkan tangannya dan sebuah bola cahaya turun, menari-nari di tangannya.

Dia membawa cahaya itu ke padaku. Dia tersenyum. Lalu samar-samar aku bisa melihat bayangan sebuah wajah muncul dari cahaya itu. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya aku bisa melihat wajah yang tak asing bagiku. Wajah yang selama lima tahun ini selalu mengisi hatiku. Dia, gadis yang paling aku cintai. Yang mengorbankan hidupnya demi kami.

”Maukah kau kuberitahu cara untuk kembali ke awal?”

”Kembali... ke awal?”

Aku tergagap dan tak bisa berbicara lagi. Tapi aku yakin dia telah tahu apa yang aku maksud.

”Apa kau sudah yakin kalau ini adalah takdirmu?”

Dia mengubah posisi cahaya itu. Wajah gadisku menghilang tertelan dengan kuatnya cahaya yang semakin berpendar. Dia memegang cahaya itu dengan dua tangan dan dalam sekejab semuanya menjadi putih. Dalam terangnya cahaya itu, aku bisa melihat beberapa masa laluku yang melayang-layang di udara. Ada aku dengan rona merah saat pertama kali aku bergandeng tangan dengannya, di sisi lain aku melihat diriku sedang menyandarkan kepala di pangkuannya sembari menangis. Lalu akhirnya aku melihat diriku berbicara dengannya untuk pertama kalinya di depan SMA biru.

Terdengar suara jentikan dan semua kembali seperti semula. Tapi bocah itu kini melayang dekat dengan jam dinding. Asap-asap berwarna menyelimuti tubuhnya, nyaris membentuk benang-benang. Beberapa asap membias di sekitar punggungnya. Membentuk sebuah bentuk yang aku rasa mirip seperti sayap kupu-kupu.

”Maukah kau kuberitahu tentang takdir?”

Dia tersenyum. Tangannya mengibas-kibas udara. Asap-asap berwarna menyingkir karenanya dan semakin deras mengalir ke jam dinding. Efeknya ternyata baru aku sadari sekarang. Semakin banyak asap berwarna itu terhisap, semakin cepat putaran jarum jam itu. Namun tetap berputar ke belakang.

”Di dunia ini hanya ada satu takdir yang pasti.” dia menghela nafas panjang.”Mati.”

”Hanya itu suatu kepastian yang sudah ditetapkan. Yang lainnya punya kesempatan untuk diubah. Bahkan jika kau tak suka, takdir semacam itu bisa dihapus.”

Aku tak ingin bersusah payah menyembunyikan kerutan keningku sebagai tanda tak mengerti. ”Apa yang...”

”Maukah kau mendapatkan kesempatan untuk kembali lagi dan mengubah takdirmu?”

Keningku masih berkerut.

”Jika kau ingin melihat kejadian seribu tahun yang lalu.”katanya cepat sebelum aku bisa bertanya lagi.”Kau hanya perlu pergi ke sebuah planet yang jaraknya seribu tahun cahaya dari bumi dan melihat kemari. Tapi, hanya melihat. Apa kau cukup hanya melihat takdirmu berulang?”

Aku masih belum mengerti, tapi dengan spontan aku langsung menjawab,”Tentu saja tidak! Jika bisa ku ubah pasti akan kuubah! Takdir mengerikan yang telah mengutuk kami berdua!”

”Kutukan ya?”dia tersenyum.”Kalau begitu sudah diputuskan. Maka tidurlah di masa depan ini dan kau akan kembali ke tempat dimana semua berawal. Masa lalu.”

Aku mulai paham. Bocah ini mau mengirimku ke masa lalu. Entah ada kepentingan apa dia atas kehidupanku. Tapi dia terlihat begitu yakin. Sedangkan aku kini mulai terjebak di dalam kebingungan yang lain. Kembali ke masa lalu. Kembali? Kalau benar, mungkin aku akan memilih untuk tidak bertemu dengan gadis yang aku cintai.

”Bagaimana dengan masa sekarang? Bukankah aku harusnya mati?” tanyaku keras.

”Masa depan yang tidak kau pilih, bukankah masa depan yang seperti itu sama saja dengan tidak pernah ada? Saat kau kembali ke masa lalu, tidak hanya dirimu, semua orang dan kehidupan akan kembali bersamaan dengan menghilangnya masa depan. Semua akan memulai masa depannya lagi dari awal.

Jika orang berjalan sepuluh langkah dari masa lalu, maka dia akan kembali mengulang langkah-langkah itu. Tak akan ada yang ingat selain dirimu. Karena itu hanya kau bisa mengubah takdirmu dan orang-orang di sekitarmu. Meski begitu, beberapa orang dengan sedikit kemampuan mungkin masih bisa sedikit mengingatnya. Orang-orang itu biasanya berkata mempunyai kemampuan meramal atau telah mengalami de javu.”

Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang. Asap-asap berwarna semakin deras mengalir ke jam dinding. Lalu tiba-tiba tubuhku diselimuti benang-benang warna-warni seperti yang ada di tubuh bocah itu.

”Kita mulai !”kata-katanya seperti sebuah mantra. Bersamaan dengan itu dunia ini mulai menghilang dalam warna-warni. Warna-warna itu bersinar terang dari dasar gedung. Sepertinya kegelapan pun telah tertelan olehnya.

”Bukankah itu berarti aku menghindari kematian? Bukankah kau bilang mati adalah takdir yang pasti.” kataku tergesa-gesa.

”Apa kau pikir kau tak bisa mati di masa lalu?”

”Siapa kau?”tanyaku ketika tubuh bocah itu sedikit demi sedikit tertelan.

”Aku adalah sebuah mimpi.”

”Mimpi? Mimpiku?”

Dia tertawa, terkekeh.”Jangan bodoh! Kau adalah manusia tanpa mimpi. Aku adalah mimpinya.” Dia hampir hilang sempurna, ketika tiba-tiba dia berkata seperti sedang mengajukan permohonan.”Kali ini tolong selamatkan ibu.”

Dan semuanya menjadi putih.

Untuk beberapa saat aku masih bisa melihat warna putih itu, sebelum akhirnya aku bisa melihat mobil warna merah berdiri di depan gerbang. Aku mundur selangkah, hampir menabrak seorang siswa yang berlari-lari mengejar waktu. Sudah hampir bel masuk rupanya.

Sebelum mereka keluar dari mobil itu, aku sudah tahu siapa mereka. Orang yang paling aku cintai dan orang yang paling aku benci, gadisku dan ayahnya. Orang paling kolot yang memandang cinta hanya dari materi dan kesetaraan derajat. Orang yang menolakku mentah-mentah dan menghinaku. Orang yang sampai dibutuhkan pengorbanan dari putrinya sendiri untuk bisa sadar. Tapi jadi orang di masa depan yang pertama menangis dan meminta maaf padaku di depan pusara putrinya.

Harusnya aku membantu gadis itu sekarang. Membawakan kardus-kardus berat itu dan mulai berkenalan dengannya. Tapi aku membeku. Mungkin kalau aku tak bertemu dengannya, kami tidak akan saling jatuh cinta dan akhirnya kami harus mati. Aku bisa melihatnya. Masa depan kami pasti akan tetap sama. Jika kami bertemu, kami pasti akan tetap mati mengenaskan.

Saat mobil merah itu berbalik, aku juga mulai melangkah menjauh. Aku tak peduli dengan teriakan siswa lain yang lalumemperingatkanku untuk segera masuk. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku ingin mengubah takdirku dengan cara ini.

Tapi baru beberapa langkah berjalan, seseorang menyentuh pundakku lembut.

”Kau akan terlambat. Tenanglah! Pasti akan ada sesuatu yang baru.” katanya lembut. Dia meninggalkan kardus-kardus itu di gerbang dan berlari menyusulku.

”Naura? Tidak...” kataku sangat pelan.

Aku ingin berontak. Tapi aku tak bisa menolak. Lalu dia membawaku kembali menyusuri jalan ini.

_______________________________
cerita ini telah diikutsertakan dalam lomba fantasi fiesta 2010.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vadis
vadis at KAERU... (9 years 45 weeks ago)
100

sesama kontestan beri nilai pol

Writer musthaf9
musthaf9 at KAERU... (9 years 46 weeks ago)
100

emosinya lumayan kerasa nih, bagus lah
.
wordnya kurang tuh

Writer cat
cat at KAERU... (9 years 46 weeks ago)
70

nitip poin dulu

http://www.kners.com/showthread.php?p=15191#post15191 september ceria

Writer cat
cat at KAERU... (9 years 46 weeks ago)
70

nitip poin dulu

http://www.kners.com/showthread.php?p=15191#post15191 september ceria

Writer heinz
heinz at KAERU... (9 years 46 weeks ago)
100

Sesama kontestan memberi poin pol!

Tapi....

Total word-nya kurang bos!!!
2500 minimal. Ayo ditambah. Masih dua setengah jam lagi!