Pasar Malam

Tika, Mira, dan Edho memutuskan untuk berlibur ke Jogja. Kali ini mereka berangkat berlibur menaiki Jeep baru nya Edho. Tika yang doyan banget makan mendadak mengeluh lapar ditengah perjalanan. Persediaan kantong makanan mereka sudah habis seharian di makan Tika yang bertubuh gemuk. Akhirnya Edho memenuhi permintaan Tika untuk mencari tempat makan. Hari mulai beranjak malam dan jam sudah menunjukkan pukul 01:00 wib. Akhirnya mereka menemukan pusat keramaian di sudut kota.

Tika : "Huaaa...akhirnya, nemuin juga yang rame-rame. ayey, gue bisa makan."

Mira : "Ya ampun tik, dari tadi elo kan udah banyak ngemil, ni anak masih aja ngeromet minta makan.."

(terdengar suara perut Mira yang berbunyi)

Tika : "Halaaahh, elo juga laperkan??? tuh denger perut lo udah komat-kamit gitu..udah yuk cepetan turun!"

Edho : "Sabar, gue parkir dulu.."

Mira : "Eh, bentar deh, tapi kok aneh yaa, ditempat sepi gini, masih ada yang jual makanan, rame banget lagi."

Tika : "Udah deh Mir, elo gak usah parno gitu, lo gak pernah denger yang namanya pasar malem yaa??? nyokap gue tuh suka cerita, kalo didaerah jawa gini sering banyak bermunculan pasar malem dipinggir jalan.."

Edho : "Ah, udah ah gue juga laper nih, capek kan seharian gini nyetir mobil. Udah yuk..laper guee."

Mereka bertiga berjalan menelusuri pusat keramaian tersebut dan berhenti di depan tempat makanan di pinggir jalan yang bernama "Bebek Pak Momon"

Tika : "Asiikkkk, ada bebek goreng guys, disini aja yuk makannya."

Edho : " Wah iya tuh."

Mira : "Duh, kenapa musti bebek sih, gak ada ayam goreng apa? gue kan gak suka bebek."

Tika : "waelah say, bebek ama ayam tuh sejenis, udah sama aja, ini aja yuk, ada nasi uduknya lagi, pasti mantep banget tuh, rame banget lagi, pasti kalo rame makanannya enak."

Tiba-tiba dari dalam tempat makan, datang seorang ibu-ibu.

Ibu-ibu : "Waduh si mbak dan mas, ayo monggo silahkan masuk. Kok ribut-ribut didepan aja, mbak mau ayam? kami nyediain ayam juga kok.." (berbicara dengan nada dingin)

Tika : "Tuh kan apa gue bilang, adakan ayamnya, ya gak dho?"

Tika celingak-celinguk mencari Edho.

Tika : "Ya ampun edho, Ah lu curang lo, udah nge-tag-in tempat aja! huuu dasaarr botak!"

Mira terlihat heran, ia belum sempat menanyakan kepada ibu-ibu tersebut tentang ayam goreng, tetapi ibu-ibu itu seakan-akan bisa membaca pikirannya.

Mira : (apa segede itu suara gue ama Tika, kok ibu itu tau gue nyari ayam sih). Mira berkata dalam hati.

Edho, Tika, dan Mira makan dengan lahapnya sampai tidak menyadari bahwa mereka telah menghabiskan masing-masing dua piring kecuali Mira yang hanya menghabiskan setengah porsi.

Edho : "Ah, gilaaa ini bebek mantep bangeet ampe ketagihan gue."

Tika : "Yoi, malah gue niat mau nambah lagi."

Mira : "Waduh, waduh neng, udah deh perut lo sebesar apa sih? lagian elo dho, makan ampe 2 piring gitu, udah tau lo kan ntar nyetir, pasti abis ini ngantuk deh.."

Ibu-ibu : "Gimana mas mbak, enak kan makanan kami. Mau nambah lagi, kita masih nyediain makanan lain. Ada sup buntut, sup kaki, sup kepala, masih mau?"

Tika : "Wah wah boleh tuh bu, kayaknya agak seret juuga nih, sup kakinya satu deh.."

Mira : "OMG tikaaaaaaaaaaaaa, udah deh, ntar lo kekenyangan."

Tika : "Apa sih, udah deh gak apa-apa Mir, jarang-jarang makan enak dan murah lagi, bu, saya jadi pesen sup kakinya."

Ibu-ibu ; "iya mbak, tunggu sebentar yaa.."

Setelah lima menit, ibu-ibu kembali membawa nampan yang di atasnya terdapat mangkuk besar.

Edho : "Wah tik, besar banget mangkuknya, pas kayak badan lo! hahahahahaha."

Tika : "Bodo, awas lo minta!"

Tika sudah tak sabar menyantap sop kaki yang dipesannya, dia mulai membuka tutup mangkuk tersebut.

Tika : "humm yummy, humm baunya aj udha harum banget."

Tika mulai menyendokkan kuah sup tersebut.

Mira : "Eh eh eh tikaa, bentar deh bentar, stop!!!! jangan lo makan dulu!! eughh ,,very discusting, Edho plis deh, lo gak liat apa, liat deh liat.."

Mira menunjuk mangkuk sup tersebut dan bersembunyi dibelakang bahu Edho sambil meringis ketakutan.

Edho : "Apaa sih Mir?!!!"

Edho melihat isi mangkuk tersebut. Begitupun dengan Tika.

Edho : "Hoekkk,,, Oh God, tik, itu kaki, kaki manusia!!!!!!!! gilaa, jarinya yang panjang!!"

Edho mendorong sendok yang akan dipakai Tika untuk menyendok kuah sup kaki tersebut. Mereka bertiga langsung, menjauh dari sisi meja, Tika baru menyadari dan mencoba memuntahkan seluruh isi perutnya. Begitupun dengan Edo dan Mira yang sedari tadi perutnya berasa di kocok-kocok saking mualnya.

Ibu-ibu : "Ada apa??"

Edho : "Bu, ini apa sih? ini kaki manusia bu!!!!!"

Ibu-ibu : "Memang kaki manusia mas, saya kan tadi bilang, kami sedia sup kaki, buntut, dan kepala. Saya hanya menyebut itu bukan?" (berbicara dengan nada dingin)

Tanpa pikir panjang Edho, Mira, dan Tika bergegas meninggalkan tempat makan tersebut.Saat mereka berlari, mendadak orang-orang disekeliling mereka berubah menjadi hitam legam, dan menoleh ke arah mereka. Tempat ramai yang mereka temui tersebut mendadak berubah menjadi menyeramkan dan suasana menjadi semakin mencekam. Tika masih mencoba memuntahkan seluruh isi perutnya dengan memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut. Mira, Edho, dan Tika kehilangan arah, mereka tidak dapat menemukan mobil yang mereka parkir. Mereka sudah cukup lama berlari, namun Jeep itu tidak kunjung terlihat. Sementara mereka bertiga masih dikejar-kejar oleh manusia bertubuh legam dengan wajah-wajah mengerikan.

Mira : "Tuh kan apa gue bilang, anehkan tempat itu! semuanya aneh!" Mira berkata sambil terus berlaari mengejar Edho dan Tika yang berada di depan.

Hingga akhirnyaa gubraakkk............Semua mendadak menjadi gelap.......................................................

Bapak-bapak : "Mbak mbak bangun, bangun mbak..."

Mira : "Ah...dimana nih gue?!"
Mira terbangun karena tepukan seorang bapak-bapak.

Mira : "Bapak siapa? saya dimana pak?? Edho-Tika, Edho tika mana pak???????????????" Mira teringat dengan kedua sehabatnya.

Bapak-bapak : "Bangun dulu mbak, tenang, teman mbak sudah ditolong teman-teman bapak yang lain."

Mira di bawa ke sebuah gubuk di pinggir jalan, di sana ia bertemu dengan Edho dan Tika yang terlihat masih sangat shock dan lemas. Menurut cerita bapak-bapak yang menolong mereka. 10 Tahun yang lalu, di pinggir jalan tersebut terdapat pasar yang juga terdapat banyak tempat makan lesehan. Tiba-tiba pasar itu mengalami kebakaran hebat hingga memusnahkan seluruh tempat dan juga orang-orang yang berada di dalamnya.

Bapak-bapak : "Bukan cuma mbak-mbak dan mas aja, kadang, kami juga sering menemukan orang pingsan di pinggir jalan karena diganggu penunggu pasar itu. Arwah-arwah yang berada di pasar tersebut masih sering mengganggu orang-orang yang lewat di pinggir jalan tengah malam." (menggunakan logat jawa)

Mira, edho, dan Tika masih merinding dengan kejadian tersebut, dan mereka masih merasakan perut mereka mual luar biasa.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dee
dee at Pasar Malam (12 years 1 week ago)
70

Not bad, gw kasih 7

Writer NiNa
NiNa at Pasar Malam (12 years 4 weeks ago)
60

salam,

poin aja ya? cz aku g pinter komen.hehe..

Writer KD
KD at Pasar Malam (12 years 4 weeks ago)
100

hmmm

Writer Shinichi
Shinichi at Pasar Malam (12 years 4 weeks ago)
70

konsistensi :
berulang kali penulis lalai dengan penggunaan "di" sebagai imbuhan dan "di" sebagai kata depan. contohnya "di" akan disambung dengan kata dasar di depannya ketika ia berfungsi sebagai imbuhan. biasanya, kata dasar itu adalah kata kerja (dipukul, ditulis, dipantau, dimakan, dll) sedangkan "di" akan dipisahkan oleh spasi dengan kata dasar di depannya ketika hanya bertindak sebagai kata depan, atau penunjuk. biasanya kata dasar itu adalah kata benda. contoh (di pantai, di rumah, di sekolah)

lalu, tiap awal kalimat sejatinya menggunakan huruf kapital kan? saia rasa ini udah biasa banget. karena sejak SD udah diajarin.

lalu kata sapaan, baik dari nama tokoh atau sapaan tertentu (Pak, Bu, Kek, Om) selalu diawali oleh huruf kapital.

misal : "Ia yang harusnya berangkat ke pasar malam, Pak!" atau
"Ya, ampun, Tik!"

lalu, format dialog yg kamu gunakan ini adalah format tulisan pada naskah drama. khas banget karena setiap dialog diawali dengan tokoh yang mengucapkan dialognya. Masalahnya ini, buat saia pribadi, nggak terlalu nyaman. Karena bagian kalimat pengiring yg lazimnya terdapat pada kalimat langsung dengan sendirinya berkurang intensitasnya atau hilang sama sekali. (saia pikir tag drama di atas adalah berupa genre cerita lhoo).

ya, kira2 seperti itulah dari saia. mohon maaf jika nggak nyambung atau kurang berkenan. salam hangat

ahak hak hak

Writer puthasy_sailormoon
puthasy_sailormoon at Pasar Malam (12 years 4 weeks ago)

wah saya berterimakasih kaish banget bung sinichi, EYD saya memang belum bagus, saya maish haru banyak perbaikan...

mengenai naskah ini, saya sebenarnya sudah mengatahui kalo untuk dialog dalam cerita tidak seperti ini, tapi saya mengingkan sesuatu yang baru yang gak seperti dialog lainnya, emmang saalah banget seperti ini, karena saya kurang bisa menggambarkan situasi peran saat berdialog, tapi terimakasih banyak saran dan kritiknya membangun sekali untuk saya, sangat membangun...

Writer rajin baca ya...
rajin baca ya... at Pasar Malam (12 years 5 weeks ago)
70

serem ceritanya....