Homesick

“Tau nggak, setiap kali gue denger kata-kata ‘marry your best friend’ di film, gue selalu keingetan lo!”

Barry terdiam beberapa detik lalu menyembur tertawa.

“Sejak kapan lo jadi doyan nonton film-film najis model begitu?” ledeknya.

Gue cuma mengangkat bahu sembari memasukkan sekotak susu cair rasa cokelat ukuran satu setengah liter ke dalam troli. Menyadari bahwa memang belakangan ini gue jadi suka nonton ‘film-film najis’ a.k.a chick flick a.k.a drama cinta komedi a.k.a tontonan cewek-cewek hopeless bin desperate cari jodoh membuat gue agak ngeri juga. Tapi masalahnya itu kenyataan, dan kemarin malam gue baru saja melahap habis Valentine’s Day, film ‘najis’ yang dibintangi si seksi Ashton Kutcher, padahal sekarang adalah waktu yang nggak ada dekat-dekatnya dengan hari Valentine.

“Lo butuh spliffy…” Barry menyimpulkan sendiri selagi gue melempar beberapa bungkus mie instan lagi ke troli. Gue berusaha mengingat-ingat barang-barang apa lagi yang gue butuhkan sementara cowok jahil itu melingkarkan lengannya di leher gue dari belakang.

Let’s go home… Kita ngerokok spliffy sambil main wii,” bujuknya.

Oh yeah, right! Setelah gue nemu kopi dan sendal jepit,” sahut gue, berusaha melepaskan diri dari Barry,”sendal jepit gue putus dan gue nggak mau nyeker lagi ke kamar mandi di kos!”

Barry tertawa kecil. Ia berjalan di sisi troli, membantu gue mencari kopi susu instan yang biasa gue minum di antara jajaran rak. Nampak manis dan tidak berulah, mengingat sebenarnya dia tidak suka grocery shopping seperti ini. Walaupun apa boleh buat, hari ini gue terpaksa menyeretnya ke hypermarket ini gara-gara besok gue harus kembali ke Jakarta dan sama sekali belum berbelanja untuk keperluan beberapa minggu ke depan di kos. Sementara Barry merengek-rengek agar gue menemaninya seharian ini.

Sepertinya dia ingin agar kegiatan ini cepat berakhir agar kami bisa pulang segera. Duduk di atas atap rumah gue seperti biasa, sambil minum dan melinting daun-daun kering favorit kami untuk dihisap.

Mungkin Barry memang benar. Gue juga membutuhkannya. Setidaknya agar otak gue tidak semumet sekarang sampai-sampai mengingat line bodoh dari ‘film-film najis’.

Sayangnya, hujan deras turun begitu kami mencapai pintu utama pusat perbelanjaan. Barry langsung lesu. Dengan kantung-kantung plastik belanjaan di tangan, kami terduduk di sebuah bangku dekat lobi, menatap tetes-tetes air menghujam bumi dari balik dinding-dinding kaca.

Lama kami saling diam. Hormon gue memang barangkali sedang kacau, karena perasaan gue jadi aneh melihat hujan turun. Sementara Barry sendiri gue tidak tahu kenapa. Yang jelas, kami cuma duduk di sana, dengan sebelah tangan saling tertaut di atas bangku. Meskipun setelah Barry akhirnya bersuara, gue malah berharap dia diam saja terus.

“Tya, waktu tadi lo bilang keinget gue pas denger apaan tuh—“

Marry your best friend—

“—nah, itu lo serius?”

“Anehnya iya,” gue berkata sedatar mungkin.

“Jadi lo mikir kalo selama ini kita sahabatan?”

Gue menarik nafas. “Please, Bar, jangan ungkit-ungkit itu lagi deh.”

“Lo yang ngomong duluan.”

For heaven’s sake, gue kan cuma nyeletuk doang gara-gara keinget film sialan itu!”

Barry kelihatan belum puas, tapi ia terdiam lagi. Gue jadi sedikit merasa bersalah.

Tetapi gue memang tidak mau hubungan ini didefinisikan.
Terlalu sulit. Terlalu rumit. Dan selama ini gue merasa nyaman dengan Barry karena dia nggak pernah membuat segalanya rumit. Gue cuma tidak ingin itu berakhir.

Dia satu-satunya orang yang tidak pernah menuntut gue untuk jadi sempurna. Untuk jadi hebat, untuk jadi baik, untuk jadi apa yang diinginkan orang lain. Dengan Barry, semuanya jadi simpel.

Gue tahu gue nggak bisa memberikan semua yang dia inginkan—bahkan yang tidak dia katakan. Tapi gue tidak bisa meninggalkan dia.

Dengan Barry, bahkan lobi mall yang dingin dan menyebalkan saat hujan saja bisa terasa seperti rumah.

Pelan-pelan, gue mendekap lengan Barry. Kedua matanya yang sayu sebentar menatap gue, sebelum kembali terpaku pada hujan di luar sana.

“Gue nggak mau balik ke Jakarta,” gue mendadak bergumam. Satu kalimat paling jujur dari gue seharian ini.

“Gue bakal lebih sering dateng berkunjung.” Seakan membaca pikiran gue, Barry menanggapi.

“Gue berharap kita nggak usah bertambah tua. Nggak usah kuliah, nggak usah kerja, kayak dulu terus selamanya.”

Everybody wants that.

Sekarang gue mulai yakin bahwa sumber kegalauan gue selama ini adalah hormon yang kacau, karena gue mendadak ingin menangis. Membayangkan hari-hari gue yang sibuk tetapi datar, ramai tapi penuh kesepian di Jakarta, membuat gue bener-bener gamang.

Sumpah, gue tidak mau kembali ke sana bahkan ketika Barry sudah menjanjikan akan lebih sering berkunjung.

Gue mendekap Barry lebih erat. Kemudian dia mengucapkan sesuatu yang hampir selalu gue denger saat dia tahu gue sedang vulnerable.

“Inget aja. Gue sayang lo, Tya.”

Gue tersenyum singkat. Anehnya merasa sedikit lebih baik.

Dan gue pun sudah homesick, bahkan sebelum gue kembali ke Jakarta.

-end-

Read previous post:  
102
points
(621 words) posted by me_everywhere 11 years 33 weeks ago
85
Tags: Cerita | cinta | Barry & Atya | Matahari | terbenam
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer neko-man
neko-man at Homesick (10 years 28 weeks ago)
90

Oke. Percakapannya hidup. Bahasanya juga renyah.

Writer H.Lind
H.Lind at Homesick (10 years 41 weeks ago)
90

Awesome! Like your post. :)

Writer cheesecurls
cheesecurls at Homesick (10 years 51 weeks ago)
30

like this :)

Writer arydhamayanti
arydhamayanti at Homesick (11 years 12 weeks ago)
90

klop banget...

Writer baru_aja_belajar
baru_aja_belajar at Homesick (11 years 12 weeks ago)
80

aq bingung, pemeran utamanya cewe pa cowo yah? awal2 aku kira cowok tuh.

Writer panah hujan
panah hujan at Homesick (11 years 13 weeks ago)
90

Renyah banget. Enak diikutin.

Writer d757439
d757439 at Homesick (11 years 13 weeks ago)
100

.

Writer d757439
d757439 at Homesick (11 years 13 weeks ago)

awalnya tak kira gak menarik, tp seru juga, ampe akhir, enjoy bgt dah.*