das Marchen - Page 3

-02-

Satu-satunya alasan mengapa dulu Rena berusaha keras untuk menjadi seorang pustakawan adalah agar ia bisa menghabiskan sisa hidupnya ditemani tumpukan buku, di dalam Perpustakaan Semesta, di inti Prism World. Dan jika sekarang ia harus berkeliling dari satu kota ke kota lain, itu karena ia mesti mengumpulkan Marchen dari tiap perpustakaan yang ada di beberapa -- maksudnya puluhan kota yang tersebar di seluruh penjuru Prism World, untuk kemudian diamankan di Perpustakaan Semesta. Pekerjaan yang tidak terlalu menyenangkan sebenarnya, setidaknya dari sudut pandang Rena.

Dan yang lebih buruk lagi ialah, dalam proses pengumpulan itu ada kemungkinan dimana Marchen yang tersegel menjadi lepas kendali. Entah jampi-jampi macam apa yang dulu digunakan Master Lock ketika menyegel para Marchen dalam buku, tapi dalam beberapa kasus ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi kekuatan segel tersebut.

Itu artinya, kadang kala, segel sang Marchen akan terlepas ketika ia dipindahkan dari perpustakaan tempatnya berada selama ini.

Seperti yang seringkali terjadi...

***

Seratus empat puluh dua jam telah berlalu sejak terbakarnya perpustakaan kota Celadon. Suasana saat ini bisa dibilang sudah relatif damai. Atas desakan Balai Pustaka, Persekutuan Pemburu memperketat pengawasan mereka, setidaknya di kota-kota yang terletak di lingkar dalam Prism World.

Seratus tujuh jam lalu, Master Mouse secara resmi menunjuk Rena sebagai salah satu utusan Balai Pustaka yang bertugas mengumpulkan Marchen yang tersebar di perpustakaan-perpustakaan Prism World.

Sembilan Puluh satu jam yang lalu, untuk pertama kalinya Rena bertemu dengan Jack Spriggins.

***

Dari semua orang yang pernah Rena temui, Jack adalah yang paling manis. Bocah kurus itu hampir selalu murung dan jarang sekali berbicara. Sesekali, jika Rena menggodanya, bocah itu cuma akan tersipu malu, membenamkan kepalanya lebih dalam pada pakaiannya yang kebesaran sambil menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti hummm atau ummmmh.

Jack juga tak begitu terampil dalam mengurus dirinya sendiri, terutama dalam hal penampilan. Pada pertemuan pertama mereka, Jack cuma mengenakan sebuah setelan kumal yang sudah bertambal di sana-sini. Tubuhnya dekil sementara rambutnya yang merah gelap acak-acakan tak tersisir. Rena butuh hampir dua jam untuk membuat penampilan Jack jadi lebih beradab. Karena suatu hal Jack lebih memilih setelan yang dua nomor lebih besar dari yang semestinya pas untuknya.

Hasilnya lumayan. Sekarang, satu-satunya hal yang membuat Rena penasaran adalah bagaimana membuat Jack tertawa atau setidaknya tersenyum.

Dan saat ini, keduanya baru saja turun dari kereta yang telah membawa mereka berdua dari Vermilion ke Rosewood, sebuah kota kecil di lingkar luar Prism World.

Seperti kebanyakan kota lain di lingkar luar, bisa dibilang kewenangan kota Rosewood berada di tangan para peri. Maka tak heran jika yang menyambut Rena dan Jack di sana adalah seorang peri juga.

"Jova Mankov siap melayani anda," ujar sang peri memperkenalkan dirinya."Wali kota menugaskan saya menyediakan segala keperluan anda selama berada di sini."

Dan sebelum ada salah paham tentang peri, bisa dibilang satu-satunya perbedaan antara mereka dengan kebanyakan penghuni Prism World yang lain adalah beberapa sayap yang mereka miliki dan kemampuan mereka untuk melayang di udara tanpa menggunakan sayap-sayap tersebut errr ditambah sedikit fakta kecil bahwa para peri melahirkan telur-telur peri yang mesti dirawat baik-baik selama beberapa bulan sebelum akhirnya menetas menjadi bayi-bayi peri.

Pun demikian, sampai sekarang, dalam taraf tertentu, perbedaan itu sudah cukup untuk membuat hubungan antara kaum peri dan manusia tidak begitu akur. Dari sisi manusia terutama, karena itulah para peri dengan senang hati memilih bertempat tinggal di kota-kota di lingkar luar Prism World.

"Namaku Rena Alchord," Rena ganti memperkenalkan dirinya, "Dan ini rekanku. Nah Jack, jadilah anak baik, dan perkenalkan dirimu pada Tuan Jova."

"Jack," gumam Jack sambil tetap menundukkan wajahnya,"Jack Spriggin."

"Saya sudah mendengar tentang anda Nona Alchord, sebagai utusan resmi Balai Pustaka, walau saya tak yakin apa tujuan anda kemari" kata Jova, "Tapi saya belum mendengar tentang asisten anda ini."

"Dia anak baik dan dapat diandalkan, betul kan Jack?" jawab Rena, senang mendapat kesempatan menggoda Jack.

Dan Jack cuma mengangguk pelan. Wajahnya memerah.

"Yah, apapun kata anda," kata Jova sambil mengangkat bahu, meski dari nada bicaranya jelas-jelas ia meragukan hal itu. "Mari. Saya akan mengantarkan anda ke tempat penginapan yang telah disediakan."

Rena tak menyalahkannya. Bagaimanapun kebanyakan orang pasti curiga melihat belenggu di tangan kanan Jack. Lambang yang biasanya menunjukkan orang yang bersangkutan adalah tahanan, pelaku kriminal, atau setidaknya budak.

"Tak perlu repot-repot," kata Rena, "Saya hanya perlu mengambil sesuatu dari perpustakaan kota."

Jova balas mentapanya tajam, "Bagaimanapun anda perlu izin dari wali kota untuk melakukan hal itu, dan beliau baru akan menemui anda saat makan malam nanti."

"Baiklah, baiklah, walau bisa kukatakan, lebih cepat urusan kami selesai di sini, lebih baik bagi kalian," kata Rena lagi.

"Saya sependapat dengan hal itu," Jova menganggukkan kepalanya sambil tersenyum masam, "tapi ini adalah kehendak wali kota. Mari, silakan ikuti saya," lanjutnya sambil melayang pergi.

"Ein bilang dia tak suka peri itu," gumam Jack muram.

Rena tertawa kecil lalu mengelus kadal bersayap yang bertengger di kepala Jack, "Dia lucu sebenarnya, aku penasaran bagaimana reaksinya saat tahu resiko apa yang sebenarnya ia hadapi."

***

Di kota Rosewood, secara arsitektural, bangunan-bangunan yang ada, mendapatkan pengaruh paling besar dari kebudyaan Inca. Hal tersebut dapat terlihat dari bagaimana rumah-rumah penduduk sebagian besarnya berbentuk persegi atau persegi panjang dengan atap mendatar, sementara bangunan-bangunan lain dibangun dengan struktur menyerupai piramida berundak. Keduanya dibuat dari batu dan tanah liat.

Begitu juga dengan penginapan yang disediakan untuk Rena dan Jack.

Sambil menunggu panggilan dari wali kota, Rena menghabiskan waktunya
mencoba menguraikan simbol-simbol yang ada pada mural di dinding luar penginapan, sementara Jack, seperti biasa memilih duduk diam memperhatikan tak jauh dari tempat Rena berada. Sesekali perhatiannya teralih ketika Ein berjumpalitan di udara sebelum akhirnya kembali mendarat di atas kepalanya.

Setelah beberapa jam, dengan kesal Rena kembali ke kamarnya, diikuti Jack yang berjalan muram beberapa meter di belakangnya. Beberapa saat sebelumnya, seorang pegawai penginapan, dengan maksud baik, memberitahukan pada Rena bahwa, terlepas dari kemiripannya dengan simbol-simbol yang digunakan oleh bangsa Inca beberapa ribu tahun lalu, simbol-simbol yang ada pada dinding yang sedang diteliti Rena sebenarnya cuma sekedar hiasan belaka.

"Aku selalu heran," keluh Rena sambil membaringkan dirinya di atas kasur di kamarnya di penginapan, "tentang seni dan manfaatnya bagi kehidupan yang lebih baik. Maksudku, aku bukannya tidak tertarik pada keindahan, hanya saja, seringkali hal tersebut agak sedikit kelewatan. Kau paham maksudku Jack?"

Dengan ragu Jack menggelengkan kepalanya.

"Sejujurnya," lanjut Rena, "Aku sudah mulai agak bosan sekarang. Jack, carikan aku buku yang bisa dibaca!"

Maka dengan tergopoh-gopoh, Jack segera membuka tas ransel yang dibawanya lalu mengeluarkan setumpuk buku tebal dan kemudian menyerahkannya pada Rena.

"Hmm hmm," Rena mengamati buku-buku tersebut, lalu mengambil yang tertipis di antaranya. Ia mengulurkan buku itu pada Jack lalu sambil menyeringai berkata, "Bacakan untukku!"

Seketika wajah Jack jadi pucat pasi.

"A-Aku tak bisa membaca..." gumam Jack lirih. Dan Rena pun langsung tertawa.

"Kau tak bisa menjadi asisten pustakawan kalau kau tak bisa membaca," kata Rena. "Sini, kemarilah," Rena menunjuk tempat di sampingnya, "aku akan mengajarimu membaca. Kau juga Ein, yah siapa tahu hal ini suatu saat bisa berguna."

Dua jam kemudian Rena sudah tertidur pulas, sementara disampingnya Jack tersendat-sendat mengulangi apa yang baru saja ia pelajari.

Fee-fi-fo-fum,
I smell the blood of an Englishman,
Be he alive, or be he dead
I'll grind his bones to make my bread.

== To Next Page ==

Post Script:
-145 di sini, hmm Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

-Karena page 1 dan 2 bisa dibilang prolog, page 3 ini adalah bagian dari bab 1

-Rencananya sih bagian ini lebih pendek, tapi berhubung semalam ndak bisa mosting, akhirnya ditambahi beberapa kata.

Post PS:
-Karakter Jack sempat kupikirkan sebagai pemuda (meski Rena menyebutnya bocah, dari segi penampilan ia sedikit lebih tua dari Master Mouse) yang kasar dan judes, tapi kelihatannya bakal jadi ramai kalau dipasangkan dengan Rena, maka jadinya ya seperti ini.

-Yah bagian ini, adalah perkenalan karakter dan sedikit deskripsi tentang Prism World.

Post PPS:
-Aku tak bisa menemukan kata yang tepat untuk Shackle, jadi kupakai saja belenggu

-Puisi terakhir... hmm puisi lama di Inggris... cocok untuk karakter Jack

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer mira_hoshi
mira_hoshi at das Marchen - Page 3 (9 years 12 weeks ago)
90

OH NO! Mana lanjutannyaaa?
.
145-san, saya mohon banget lanjutin cerita ini. Saya beneran naksir sama gaya narasinya, karakternya, ceritanya, semuan deh. Please lanjutin.. >_<

Writer 145
145 at das Marchen - Page 3 (9 years 12 weeks ago)

Ck ck ck sayang sekali, dunianya masih direstrukturisasi

Writer elbintang
elbintang at das Marchen - Page 3 (11 years 1 week ago)
70

Ini part yang ikatannya terlalu longgar dgn pembaca -gw maksudnya-

entah sengaja atau tidak, hanya Rena yg berwujud manusia dalam benak gw :p

...

Writer 145
145 at das Marchen - Page 3 (11 years 1 week ago)

entah bagaimana caranya, tapi yang kau katakan memang benar...
dalam bagian ini memang Rena yang 'manusia' (dan pegawai penginapan sebenarnya).
-
Btw aku penasaran seperti apa si Jack dalam benakmu
-
... juga :D