Dangdut is The Music of My Canteen

“Tumpah.... Seisi kelas tumpah berhamburan....”

Dina nyaris menyeruduk Nyoman. Pemuda itu mendadak berhenti di tengah pintu dan merentangkan tangan bagai adegan terkenal di film Titanic. Dina hanya dapat menggeleng dan membetulkan kacamatanya yang melorot. Dasar Nyoman, hampir segala hal pasti didramatisir oleh bibirnya. Tak salah ia menjadi salah satu penghuni di kelas Bahasa. Untuk melewati Nyoman, Dina terpaksa menyelit dari sisi kiri, tepat di bawah ketiaknya. Beruntung, kali ini Nyoman memakai deodoran, sehingga nasib Dina tidak berakhir tragis seperti Yuyun kemarin. Berhasil menyalip, Dina bergegas ke perpustakaan.

Saat itu istirahat. Sudah menjadi tradisi, Dina selalu melarikan diri ke tempat penuh buku tersebut. Ia lebih menyukai tenggelam dalam dunia fiksi berbagai novel, ketimbang bercengkerama dengan teman seumuran di kantin.

Beda Dina, beda pula dengan Bagas. Anak IPS yang cuek itu mendadak mengemasi penampilannya. Sebuah jilatan sakti pada tangan, ia rapal untuk merapikan rambutnya yang jabrik. Sahabat kental Dina sejak kecil itu tidak sadar, Ibu Leni yang tak sengaja melihat polahnya dari jendela kantor mendadak mual-mual. Ibu guru yang hamil muda itu bergegas mencari toilet.

Monika dan dua sahabatnya terlihat mendekat. Dan Bagas semakin terlihat rapi. Tampangnya yang preman sontak berubah seculun-culunnya, lengkap dengan rambut lepek oleh liur dan kancing baju paling leher terkatup. Siswi yang diiringi Yoan dan Debby itu telah lama ia coba dekati, tapi terlalu sulit untuk ditaklukkan. Dan sekarang, ia ingin mencoba saran yang ia peroleh dari Dina.

“Pagi, Monika...,” sapa Bagas berbasa-basi begitu Monika sudah tepat di depannya.

“Pagi...,” balas Monika ramah. Tidak ada yang menandingi keramahan Monika di sekolah ini. Bahkan, keramahan Pak Yoyo yang menjaga pintu gerbang sekolah dibuat tidak ada apa-apanya.

“Ng..., apa aku boleh meminta bantuan?” Bagas mulai beraksi.

“Bantuan? Bantuan apa, ya?” Ketiga gadis yang hendak pulang ke kelas itu, akhirnya berhenti sejenak.

“Begini..., aku minta bantuan Monika untuk mengajariku Ekonomi dan Matematika. Boleh? Soalnya, nilaiku untuk kedua pelajaran tersebut sangat jelek.” Bagas tanpa sungkan menggelar dua lembar kertas dengan nilai bebek yang tersenyum. Kedua teman monika terpaksa menahan geli.

“Aduh..., tapi aku, kan, kelas IPA. Aku mungkin bisa membantu untuk Matematika. Tapi kalau Ekonomi....” Monika terlihat ragu. Diam-diam, Bagas tercenung menikmati keindahan bulan purnama di hadapannya.

“Monika tambah terlihat cantik jika sedang bingung...,” Bagas berdecak kagum di dalam hati. Seumur-umur, hanya dua hal yang membuatnya lunglai sebagai preman. Pertama adalah uang, kedua adalah Monika yang menurutnya lebih cantik ketimbang Arumi Bacshin.

“Maaf, ya? Kalau Ekonomi, aku sepertinya nyerah....”

Bagas tersadar, lalu bersorak semangat, “Monika pasti bisa. Monika, kan, jenius!” Monika menanggapinya dengan sedikit berpikir terlebih dulu. Bagas kembali terlena.

“Baiklah. Kebetulan, tiap sore ada teman-teman yang juga ingin belajar kelompok di rumahku. Kamu bisa ikut.”

“Yang benar?”

Monika mengangguk anggun.

“Terima kasih!”

“Kami pergi dulu....”

Siswi-siswi dengan nilai akademis yang cemerlang itu beranjak. Bagas dengan wajahnya yang berseri-seri telah membayangkan suasana belajar kelompok yang menyenangkan nanti sore. Lalu tiba-tiba, ia pun teringat akan seseorang yang telah berjasa baginya di hari ini.

“Dina!” Ia pun melejit ke perpustakaan.

***

Dina terduduk di salah satu sudut kantin dengan mata yang sembab. Ia baru saja menikmati seperempat bagian dari sebuah novel yang penuh tragedi. Sebelum akhirnya, Bagas datang dan menculiknya ke kantin, tempat yang dalam satu semester saja jarang ia kunjungi.

Bagas sudah berjanji akan mentraktir bakso apabila saran yang Dina berikan terbukti ampuh. Dan nyatanya tadi, memang benar-benar ampuh. Dengan alasan belajar kelompok, Bagas dapat lebih dekat dengan Monika. Makanya, kini Bagas memesan dua mangkuk bakso beserta minum berupa teh es pada Pak Amir.

Lain dari hari-hari sebelumnya, istirahat itu ada sesuatu yang berbeda dengan kantin tersebut. Suasana sedikit tenang karena ada lantunan musik yang mengisi ruang kantin.

“Ada kemajuan, nih, Pak,” komentar Bagas pada Pak Amir.

“Hehe. Ini ide Pak Kepsek. Katanya, biar siswa-siswi bisa rileks di kantin,” jelas pemilik kantin sekolah tersebut.

“Tapi, kok, lagunya instrumental? Jadi seperti di toko buku,” komentar siswa lain. “Coba putar lagu jazz.”

Mendengar kata “jazz”, telinga seorang siswa yang tengah menikmati mie goreng berdiri. “Jangan, Pak! Lebih baik lagu-lagu dari aliran SKA.”

“Enak saja.... Rock!” serobot sosok tubuh mungil di sudut kantin. “Bikin semangat!”

Debat terbuka tak terhindarkan. Bagas cuma menggeleng-geleng dan mendekati Dina yang telah lama menunggu. Tapi karena hingga ia duduk perseteruan itu belum usai, Bagas jadi ikut gerah dan kembali menghampiri Pak Amir. Ia sedikit menggebrak meja, sehingga semua menoleh ke arahnya.

“Sudah, Pak! Dari pada ribut, lebih baik putar lagu dangdut saja, biar lebih merakyat.”

“Huuuuu...!” sorak semua.

“Sudah! Sudah!” Pak Amir mencoba menenangkan. “Kok, jadi ribut begini? Ide musik ini sebenarnya dari Pak Kepsek. Pak Kepsek sendiri tidak melarang jenis musik apa saja yang hendak diputar, asal sesuai dengan jiwa sekolah dan mendapat persetujuan dari Pak Kepsek selaku supervisor.”

Semua mengangguk-angguk.

“Jadi, yang ingin lagu kesayangannya diputar, bisa meminjamkan lagunya. Nanti akan saya ajukan ke Pak Kepsek.”

Bagas terlihat senang. Ia merogoh sesuatu dari dalam bajunya. “Ini, Pak. Saya ada VCD dangdut. Keong Racun sama Cinta Satu Malam. Tolong di-approve oleh Pak Kepsek, ya?”

Benda itu tersodor di hadapan Pak Amir. Plastik pembungkus dan kovernya ronyok sana-sini, lengkap dengan tinta yang luntur. Pak Amir menjawab, “Maaf. Original only.”

“Kok, gitu...?” Bagas mengernyit.

“Pak Kepsek tidak mau nanti sekolah ini terjaring sweeping barang-barang nonorisinil.”

Bagas tertunduk lesu. “Padahal, lagu-lagu kesukaanku ada di sini semua....”

“Tenang.... Kebetulan saya punya koleksi dangdut yang original. Nanti saya minta persetujuan Pak Kepsek. Sementara itu, kita nikmati dulu lagu instrumental ini....”

Dan esoknya, Pak Amir telah memutar lagu baru setiap istirahat. Ada lagu Darah Muda dan Begadang dari Bang Haji, menyusul Dangdut is The Music of My Country-nya P-Project, yang mendapat sambutan semarak para pecinta dangdut di sekolah serta mampu membuat pecinta musik lain bergoyang lidah sembari menikmati hidangan di kantin. Dan selama lagu-lagu dangdut itu diputar, proses penyeleksian lagu-lagu dari jenis musik lain pun berlangsung, agar tidak terjadi kecemburuan musik. Toh, di dunia ini tidak hanya ada musik dangdut, kan? Pak Kepsek juga sempat menghimbau agar tidak mempeributkan hal ini, dikhawatirkan malah hanya akan merusak suasana tenang di sekolah. Mau tidak mau jika hasilnya negatif, Pak Kepsek akan melarang musik di sekolah. Gawat, tuh.

“Berbeda memang asyik. Tapi dapat bersatu karena berbeda itu jauh lebih asyik,” pidato Pak Kepsek di mading. Beliau juga maniak menjadi kolomnis.***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
50

judulnya menarik.
isinya terasa terlalu cair, mencar2. sepakat sama yang lain, apa hubungannya adegan yang satu dg adegan yang lain?
"sembab" itu keknya mestinya "sembap"...
eniwei terima kasih sudah berbagi :)

Writer dirgita
dirgita at Dangdut is The Music of My Canteen (6 years 20 weeks ago)

Lagi gaje-gajenya waktu itu. Hihi^^

Writer Zhang he
Zhang he at Dangdut is The Music of My Canteen (9 years 18 weeks ago)
90

Ngakak!
Biarpun ya ga jelas inti ceritanya.. tetep asik dibaca

Writer pancaputh
pancaputh at Dangdut is The Music of My Canteen (9 years 39 weeks ago)
80

Judulnya menarik perhatianku..
Dan memang semestinya kita membanggakan musik dangdut. hehehe, tapii saya tdk bgt suka akan musik ituu. Maap :D

makkie at Dangdut is The Music of My Canteen (9 years 44 weeks ago)
Writer redscreen
redscreen at Dangdut is The Music of My Canteen (10 years 6 weeks ago)
90

salam kenal kak dirgita :D
bagian awal dan endingnya kurang nyambung kak,
tapi ku suka endingnya xDD

Writer babychan
babychan at Dangdut is The Music of My Canteen (10 years 6 weeks ago)
100

wkwkwkwk kocak~ tapi swt banget suer -_-a

Writer d757439
d757439 at Dangdut is The Music of My Canteen (10 years 6 weeks ago)

gaje dah ini, namun asyik dibaca, ngebayangin masa smp....
Kak citra, mana lagi crpen yg gaje?
Lalu ada kata2 yg sepertinya familiar bgt

Writer Alfare
Alfare at Dangdut is The Music of My Canteen (10 years 6 weeks ago)
70

wuah, ini cerita gaje dir. komedi-nya kena sih. tapi inti ceritanya itu loh, yang ga jelas tentang apa. ^^

Writer musthaf9
musthaf9 at Dangdut is The Music of My Canteen (10 years 6 weeks ago)
80

agak bingung nih dengan inti ceritanya, idem ma komentator pendahulu
.
btw, yo instrumental ajah, wkwkwk XD

Writer dirgita
dirgita at Dangdut is The Music of My Canteen (10 years 6 weeks ago)

Intinya, ini cerita gaje. Hihihi^^

Writer cat
cat at Dangdut is The Music of My Canteen (10 years 6 weeks ago)
70

Bener katanya neng panah hujan.
Apa tujuan dr adegan pdkt, adegan di bwh ketek dan perpustakaan?

Wkwk, bayangin tuh kantin heboh dgn lagunya begadang bang haji.

Practices makes perfect

Writer dirgita
dirgita at Dangdut is The Music of My Canteen (10 years 6 weeks ago)

Udah dijawab di balasan komennya Bibi Panah^^

70

...
.
Heu. Alay juga ya, Ponakan. Heu. Tiba-tiba Bibi merasa muda lagi. :|
.
Hmmm, original only? o_O Ada, ya, kepribadian seperti itu di zaman sekarang?
.
Dan, demi Tuhan, jadi buat apa ada adegan Bagas pdkt sama Monika dgn minta bantuan diajarin mat sama eko? Dan buat apa ada figuran-figuran semacam Nyoman, Yuyun, dan Dina? =.=

Writer dirgita
dirgita at Dangdut is The Music of My Canteen (10 years 6 weeks ago)

Ah, Bibi ini....
.
Namanya juga cerita jadul dengan ending yang dipaksakan. Dari pada dimakan sendiri, lebih baik dibagi ke orang rame. Jadinya dipajang di Kemudian.com. Aku kalo nggak salah masih punya stok cerpen yang seperti ini^^