Sepatu Abah Kaji

Saya Tarno, orang-orang di sekitar rumah memanggil saya dengan Pak No, ada juga yang memanggil saya Pak Kupluk. Julukan Kupluk saya dapati karena saya memakai topi model kupluk saat saya bekerja. Topi kupluk yang sangat membantu saya dalam bekerja, melindungi dari terik dan cadas hawa kota Surabaya. Namun, diantara panggilan-panggilan itu tak ada yang sepopuler panggilan saya berikutnya. Pak Sol Sepatu.

Setiap hari saya berangkat dari rumah pukul delapan pagi dan pulang saat mentari sudah rambang mendekati ajal di ufuk barat. Sepeda kayuh kumbang saya sangat setia mengikuti perkembangan karier saya. Sudah seperti karyawan kantoran biasa, bukan? Boleh jadi begitu.

Ah… karier, kata-kata ini begitu akrab di telinga saya ketika saya memutuskan mangkal di depan kantor sebuah bank swasta. Kata-kata ini juga sekarang tidak asing lagi di telinga saya, semenjak saya dengarkan pertama kali dua puluh tahun yang lalu. Biasanya karyawan itu menyebut-nyebut kata-kata karier saat mereka akan naik pangkat, naik gaji, atau dipindahkan ke kantor yang lain.

Yah, tidak terasa memang. Saya sudah menjalani pekerjaan saya ini dua puluh tahun, yaitu semenjak anak pertama saya, laki-laki, mulai menetek ibunya. Tak ada yang menyangka bahwa saya dan istri saya bisa menyekolahkan anak pertama saya sampai ke Singapura. Anak saya pandai. Sejak SMP dia memang murid yang cemerlang. Dia juga mampu meringankan beban pendidikan yang seharusnya saya dan istri saya tanggung. Dia selalu mendapatkan program beasiswa dari pemerintah ataupun sekolah. Begitu pula dengan kepergian program sarjana nya di Singapura. Ia mendapatkan beasiswa karena kerja kerasnya di tempat kerjanya. Dia hanya anak lulusan STM namun karena prestasinya dan hasil memenangkan lomba rancang permesinan ia dapat bekerja di sebuah perusahaan perkapalan. Karena prestasinya yang bagus, perusahaan itulah yang menyekolahkannya.

Anak kedua saya perempuan masih sekolah di bangku SMP. Meski tidak sepandai kakaknya, namun ia pandai membuat kue. Ia juga yang mengusulkan memakai gaji kakaknya sebagai modal awal berjualan kue. Hasilnya lumayan, anak saya jarang merengek-rengek uang saku pada saya. Ia hanya minta uang untuk keperluan sekolahnya. Sementara untuk jajan dan keperluan kesukaannya ia bisa membeli dari uang hasil ia berjualan.

**

Hari itu panas seperti biasanya, saya duduk di bangku kecil yang selalu saya bawa saat saya mangkal di dekat tukang tambal ban di depan kantor bank swasta ibukota. Saya lepas kupluk yang cukup lama bertengger di kepala sambil mengipas-ngipaskan di sekujur tubuh saya. Peluh mengucur cukup deras dari dahi dan leher, kaos oblong sebagian sudah basah, namun baru sedikit pelanggan yang singgah di lapak saya.

Ah tumben hari ini sepi, pikir saya. Ah iya, hari ini bukan masa-masa orientasi pegawai baru. Sedari pagi saya berangkat baru dua pasang sepatu saja yang saya kerjakan. Satunya adalah sepasang sandal selop milik seorang nenek yang akan dipakai kondangan, dan yang satu lagi milik mahasiswa.

“Pokoknya Pak, hukumnya wajib. Setiap saya beli sepatu harus di sol kan sama Pak No.”

“La... kenapa tho, Mbak? Kok mesti begitu? Harus sama saya gitu?”

“La... ya jelas, Pak. Kalau Pak No yang mbenerin sepatu saya, biasanya sepatu-sepatu ini membawa keberuntungan buat saya kalau saya pakai. Dulu pernah saya beli sepatu, nggak langsung saya bawa ke Pak No, eh... pas saya makai sepatu itu, saya diputusin sama pacar saya. Trus pernah juga, pas Pak No libur mangkal sehabis lebaran, saya kebingungan cari tukang sol sepatu, mau saya sih sepatu baru itu nggak saya pakai dulu, tapi ternyata saya keburu-buru harus makai sepatu itu. Saya akhirnya benerin ke tukang sol yang lain, jadinya malah nggak karu-karuan. Kaki saya lecet, saya jadi ndak konsentrasi presentasi ke dosen saya. Nilai saya jeblok deh, hampir saja saya tidak lulus ujian. Untungnya pas saya menghadap dosen keesokannya saya pakai sepatu lama yang Pak No perbaiki, akhirnya selamat lah saya dari ancaman tidak lulus ujian.”

“Ah... ya masak begitu tho, Mbak? Mungkin cuma kebetulan saja, tukang sol yang lain mungkin belum hapal sama bentuk kakinya, Mbak. Atau mungkin saja dia masih orang baru, jadi ngerjainnya nggak pas sama kemauannya, Mbak”

Saya masih saja asyik membenarkan sol-sol sepatu milik gadis itu, sementara di samping gadis itu masih bercerita tentang keberuntungan-keberuntungan yang ia alami. Ah... rupanya sepatu gadis ini agak menggembung sol dalamnya. Sedikit saya jepit dengan beberapa jahitan bagian dalam pastilah sudah cukup enak gadis ini memakainya.

Saya sebenarnya tak cukup mengerti mengapa orang-orang pinter yang sekolahnya tinggi-tinggi macam gadis ini lebih percaya saya daripada do’a Abah Kaji misalnya, atau yang lebih parah lagi daripada Tuhan. Padahal saya ini ya cuma gini-gini saja. Tukang sol sepatu biasa, saya juga “ngenger madhep manthep nunut manut” Abah Kaji.

“Nah, Mbak sudah selesai.”

“Berapa Pak?”

“Delapan ribu, Mbak”

Dicobanya sejenak sepatu itu.

“Nah, kalau yang sekarang ini baru sreg saya makainya, Pak.”

Saya hanya tersenyum dan mengatakan terimakasih atas ongkos yang diulurkan gadis itu atas jasa saya mereparasi sepatunya. Ketika saya akan mengangsurkan uang kembalian dua ribu, ditolaknya uang tersebut. Tidak usah untuk anak saya saja, begitu katanya dan ia pun melenggang berlalu menenteng sepatunya.

Sudah jam tiga sore dan tidak ada orang lagi yang ingin memakai jasa saya. Saya pun mengemasi peralatan saya. Masih ada waktu sampai senja. Saya tahu kalau saya nongkrong di sini seharian saya tak akan bisa menghasilkan lebih banyak uang. Saya kayuh sepeda saya, tujuan saya berikutnya adalah berkeliling di sekitaran areal kompleks perumahan belakang kantor bank itu. Lumayan ada dua kompleks perumahan.

“SOL.. SEPATU..!!

Benar perkiraan saya, baru sebentar saya memasuki gerbang perumahan. Baru sekitar dua tiga teriakan “SOL.. SEPATU..!!”, sudah ada orang yang memanggil jasa saya.

“Aduh... untung banget, Pak No lewat, kalau ndak, bisa-bisa saya besok gagal ujian saringan masuk pegawai negerinya”

**

Saya kadang tak mengerti apa yang di pikiran istri saya, Cenil. Sudah berkali-kali saya katakan mempercayai selain Allah itu bid’ah, musyrik menjerumuskan pada hal-hal yang syirik. Tapi ya sudahlah, saya bisa apa? Setiap hari saya makan dari rejeki Allah lewat perantaraan dia.

“Bukannya gitu, Bah. Banyak ibu-ibu tetangga yang bilang kalau Pak No itu memang tokcer kerjaannya. Disamping jahitannya halus, tapi juga banyak yang ngebuktiin sehabis diutak-atik Pak No, bakalan bawa tuah sepatunya, bawa rejeki. La... coba tho, masak dari hasil sol sepatu, mereka punya usaha gorengan yang sukses, terus anaknya yang pertama bisa kerja di luar negeri, disekolahin di sana biaya gratisan pula.”

“Istighfar, Nil... Istighfar!!”

“Halah, Bah... Orang kerjaanmu tiap hari cuma njengkang-njengking di masjid tapi mana hasilnya? Bertahun-tahun aku jadi istrimu, ndak sekalipun kamu kasih aku hidup yang enak. Semua biaya rumah tangga, keluarga, juga banyakan dari aku. Kalau bukan karena haji yang ada di namamu, aku sudah minta cerai dari dulu. Orang kamu haji aja nunut, nunut hadiah lotre undian. Ya tho?”

Kalau sudah begini saya hanya mengelus dada. Memang benar, kepulangan setelah berhaji bukannya menjadi solusi atas permasalahan rumah tangga kami, tapi malah menambah agresi antara saya dan istri saya. Saya berhaji atas hadiah sebuah undian minuman gelas. Yah... karena itulah Cenil selalu menjuluki bahwa haji saya adalah “Haji Nunut” dalam artian “Haji Numpang”. Numpang undian.

Selepas berhaji, Cenil, istri saya punya kemauan yang aneh-aneh. Ia mengubah nama panggilan saya yang biasanya “Mas” berubah menjadi “Abah”. Biar seperti orang peranakan Arab itu, begitu katanya. Saya yang sekali lagi mengalah, demi keutuhan rumah tangga kami. Mungkin karena itu pulalah beberapa tetangga atau orang-orang yang mengenal saya akhirnya memanggil saya dengan nama “Abah Kaji” itu pelafalan masyarakat untuk mengabadikan gelar haji rupanya.

Saya meninggalkan istri dan anak pergi haji dengan nafkah pas-pasan. Berutanglah Cenil ke tetangga kanan kiri untuk biaya hidup. Namun itu tak seberapa, yang menjadi pos terbesar dari hutang itu adalah ketika ia mengundang semua teman-teman dan tetangga, juga keluarga kami dalam syukuran pelepasan dan penjemputan haji.

“Ini pemborosan, Nil”, begitu kata saya.

Dan Cenil hanya tertawa, biasanya ia akan ngomong panjang lebar tentang rasa malu yang ia dapatkan bila tidak menyelenggarakan acara-acara seperti itu.

Setelah berhaji, saya banyak mendapatkan pekerjaan ceramah disana-sini sebenarnya. Lumayan untuk sekedar biaya beras dan sabun, tapi Cenil beralasan semua itu tidak cukup menyokong hidup. Ia akhirnya bekerja jadi karyawati di sebuah bank swasta. Saya tidak boleh kembali ke pekerjaan lama. Dulu pekerjaan saya adalah agen kardus bekas. Bayangkan saja penyedianya adalah mall-mall dan pusat perbelanjaan di Surabaya. Setelah berhaji Cenil malah melarang bekerja lagi. Dan akhirnya hanya Cenil yang bekerja sementara hanya kadang-kadang saja saya bekerja memberi ceramah di masjid-masjid kecil atau bila ada momen-momen khusus Hari Besar dari kampung ke kampung.

“Ndak kajen, Bah... sama hajimu. Masak habis haji terus balik asal jadi pengepul kardus”, begitu alasannya.

Sementara lama kelamaan ia risih juga melihat saya lebih banyak menganggur di rumah. Tapi, mau bagaimana lagi, ia sendiri yang membatasi gerik saya dan melarang bekerja di tempat yang lama. Sekarangpun ia lebih banyak senewen atas sikap saya ini, menyalahkan hal-hal yang tak ada kaitannya dengan kehidupan rumah tangga kami.

“Oalah, Bah. Sorban apek gitu aja disayang-sayang. Sudah tho buang saja, kamu itu harusnya lebih banyak keluar rumah. Pakai sepatu yang sudah kusolkan dari Pak No, wes tha percaya nanti kan rejeki datang sendiri.”

**

Sore itu rumah kami didatangi, sesosok perempuan dengan masih berpakaian lengkap. Sepertinya perempuan itu baru pulang kerja, ia menenteng tas kerja di tangan kiri sementara di tangan kanannya terdapat bungkusan kresek yang sepertinya masih dilapis bungkusan kardus di dalamnya. Bentuk kardus itu timbul meski tertutup kresek warna merah di tangan perempuan itu.

“Permisi... permisi...”

Aku dengan tergopoh-gopoh keluar dari dapur, membenarkan dasterku yang kusut dan rambutku yang memburai. Aku baru selesai memasukkan gorengan terakhir lempang-lempung dalam wajan panas. Gendhuk, anak perempuanku sedang asyik menonton televisi. Tayangan debat calon walikota, rupanya. Suaranya sayup-sayup terdengar.

“Percaya, bersama kami. Masyarakat Surabaya akan hidup makmur. Tidak ada pengangguran. Masyarakat akan mempunyai harapan baru akan kehidupannya.”, suara orasi calon walikota itu.

“Walah... Bu Nyai Cenil, ada apa Bu? Monggo pinarak”

Kusuruh Gendhuk mengecilkan volume suara televisi, kemudian ia masuk ke dapur meneruskan menggoreng sisa adonan yang masih ada.

“Saya ndak lama kok Bu. Cuma mau nitipin sepatu buat disolkan Pak Tarno. Habis kalau saya nge-solkan ke tempat yang lain ndak akan jadi sepatu yang mendatangkan rejeki. Ndak bisa bikin beruntung kayak kalau dibenerin sama Pak Tarno”

Tangan Nyai Cenil kemudian melungsurkan bungkusan itu, kubuka sepasang sepatu pantofel lelaki warna hitam rupanya.

“Sepatunya, Abah.”, jawab Nyai Cenil.

Aku masih tak percaya dengan jalan pikiran Nyai Cenil. Bukankan suaminya adalah Haji. Bukannya setiap rejeki itu pemberian Tuhan? Tapi ya sudahlah aku terima saja sepatu itu, lumayan untuk tambah penghasilan suamiku.

**

Minggu pagi tumben suamiku tidak berniat untuk mendekam di masjid dekat rumah, hari ini aku lihat sepertinya ia akan pergi.

“Bah, mau kemana?”

“La..katanya disuruh cari pekerjaan lain.”

“Hu-uh, cari pekerjaan lain. Pokoknya jangan jadi pengepul kardus lagi lo, Bah.”

“Nggak, kok Nil. Ini ada teman haji yang minta dibantu bisnisannya”

Suamiku sudah akan berangkat, eh... tapi enak saja, masak dia cuma mau pakai selopnya. Aku buru-buru melungsurkan sepatu yang habis dibenarkan pak Tarno kemarin malam.

“Bah, pakai ini saja. Pakai sepatu yang disolkan Pak Tarno, biar rejekinya ngumpul.”

Semalam sepatu ini diam-diam sudah aku beri kembang dan dijamas minyak suci, beberapa teman malah menyarankan agar diusap-usap telur ayam Cemani. Tapi mencari telur ayam Cemani di Surabaya ini tidak gampang, temanku malahan khusus mencari sampai ke Blitar baru ketemu. Yah.. tapi tak mengapa, semoga aja rejekinya keluargaku lancar, biar dia nggak nganggur terus.

“Nil, baunya sepatunya kok wangi gini?”, tanya suamiku.

Tapi aku tak menjawab apa-apa.

**

“Saya nggak tahu apa-apa, Pak. Saya cuma diminta kulakan bahan-bahan kimia itu sama Wak Kaji Dullah. Saya cuma diminta ngambil kiriman untuk dibawa ke rumah Wak Dullah.”

“Ndak mungkin sampeyan nggak tahu, Bah. Masak kulakan kok nggak tahu gunanya apa. Sampeyan tahu bahan-bahan itu bisa buat nge-bom rumah satu komplek.”

Oalah, Gusti...suamiku sudah gemetaran di sudut sana. Ruang yang berukuran 4 x 5 meter ini sebenarnya cukup luas untuk berisi empat orang saja, aku, suamiku, dan dua orang polisi intel yang menanya-nanyai suamiku, tapi rasanya sudah terlampau sesak dengan tuduhan dan dakwaan yang mereka lontarkan.

Rasanya pengen nyumpah-nyumpahi teman-temanku, pak Tarno juga. Seharusnya sepatu itu bisa menurunkan keberuntungan buat kami, eh... malah ini membawa apes buat kami. Suamiku tertangkap saat penyergapan rumah yang disangka jadi markas teroris. Saat itu dia sedang mengantarkan kiriman bahan kimia pesanan Wak Dullah. Sementara aku dipanggil untuk menjadi saksi. Pas saat dia pakai sepatu yang dibenarkan oleh Pak Tarno.

“Pak, contrengannya sudah ketahuan siapa yang menang pak! Pasangan Pak Jemblung dan Bu Cebol. La... ini lagi pidato orangnya di tivi”

Suara anak buah intel itu memecah suasana menakutkan buat kami, yah hari ini hari pengumuman hasil perhitungan suara PILKADA Walikota Surabaya.

“InsyaAllah dalam masa pemerintahan kami, kami akan mewujudkan harapan-harapan masyarakat Surabaya. Menghapuskan pengangguran, mensejahterakan masyarakat, mendorong iklim kerja dan berkarya dalam situasi yang kondusif.”

Dan aku tahu janji itu kembali didengungkan oleh pejabat negara dan menjadi pembuka kehidupan lain suamiku dan aku sendiri tentunya. Penjara.

Sby, 28/9/2010

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer cat
cat at Sepatu Abah Kaji (11 years 38 weeks ago)
90

sudah lama tidak membaca tulisanmu.
seperti biasa selalu keren.

aku suka cara penceritaannya, dari tukang sol yg berakhir dengan penjara abah Kaji.

menyentil masyarakat yg masih percaya takhayul dsb.

keren Nisa ...

practices makes perfect