Little Demon’s Gift <finished>

Aku adalah wanita biasa. Aku juga punya nama seperti manusia biasa pada umumnya. Namaku Samantha Bellrook. Hidupku sangat normal dan wajar. Kalian pasti tidak akan suka mendengar cerita hidupku yang menurut kebanyakan orang sangat membosankan.

Aku lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana di kota kecil yang damai. Aku menjalani tahun-tahun pendidikanku tanpa meraih prestasi yang gemilang. Aku patuh hukum, tidak pernah melakukan pelanggaran dan selalu menghindari masalah. Aku menikah dengan seorang pegawai biasa yang ramah. Suamiku meninggal setahun yang lalu karena penyakit paru-paru yang dideritanya. Sekarang aku tinggal sendiri sambil menerima pesanan jahitan dari para tetanggaku untuk memenuhi kebutuhan hidupku.

Sungguh, yang paling kuinginkan sepanjang hidupku hanyalah kehidupan normal yang tenang dan tanpa masalah. Tapi rasanya itu mustahil karena anak-anak kecil di kota ini sangat berisik. Mereka selalu bermain sambil berteriak di depan rumahku saat seharusnya aku menikmati tidur siangku. Sudah berkali-kali aku menghalau mereka tapi mereka selalu kembali sambil mengejekku, sangat tidak sopan!

Aku bersyukur suamiku meninggalkanku tanpa sempat memberiku keturunan, aku tidak mau anakku terpengaruh oleh sikap nakal mereka. Aku sempat berpikir untuk pindah saja tapi kurasa di kota lain pun pasti akan ada anak-anak bengal seperti mereka. Apalagi ini rumahku sejak kecil, aku tidak mungkin meninggalkannya.

Hingga akhirnya tibalah salah satu hari perayaan yang kubenci seperti hari libur lainnya, hari Halloween. Aku tidak tahu apa untungnya orang menyisakan satu hari penting mereka untuk para iblis dan setan yang tidak nyata. Bukankah lebih baik mereka menggunakan satu hari biasa itu dengan bekerja atau berdoa pada Tuhan yang seharusnya mereka yakini? Kurasa ini hanyalah salah satu ide bodoh penjual permen yang mengajarkan anak-anak kecil untuk memeras orang dewasa. Sama seperti para penjual coklat yang menciptakan Valentine, atau seperti para Santa Claus palsu yang menjajakan hadiah di hari Natal, mereka menciptakan kebodohan ini demi keuntungan mereka sendiri.

Yah, setidaknya kuharap Halloween tahun ini sama dengan tahun lalu. Tahun lalu tidak ada satu anak pun yang datang, sepertinya mereka sudah bosan karena aku tidak pernah memberikan permen untuk mereka. Kuharap hari ini aku bisa menonton rekaman film kesayanganku sambil minum teh dengan santai walaupun di luar sana masih terdengar bunyi petasan, pekik dan tawa anak-anak nakal itu.

”Tok tok tok” bunyi pengetuk pintu terdengar sayup dari ruang depan. Aku jarang menerima tamu, jadi aku yakin ketukan lemah itu bukan berasal dari orang dewasa.

”Tok tok tok” bunyi ketukan terdengar makin keras hingga aku tak bisa menganggap itu hanya khayalanku saja. Sial, apakah anak-anak itu mau menggangguku lagi?

”Trick or Treat!” suara lengking mencicit itu segera menyambutku setelah aku membuka pintu. Ternyata benar, tamuku adalah anak kecil penganut Halloween.

Aku mengamati anak lelaki pendek itu dengan pandangan sinis. Umurnya sekitar 6 atau 7 tahun. Rambut coklat gelapnya disisir rapi di atas kepalanya yang bundar seperti labu. Pipinya kembung berwarna kemerahan, hidungnya kecil, mata coklatnya yang bulat memancarkan keceriaan. Dia memakai tirai panjang berwarna merah darah yang mungkin dimaksudkan sebagai jubah drakula. Di tangan kirinya ada lampion kuning mini sedangkan ditangan kanannya ada kantung kertas sebagai wadah penyimpanan permen.

”Apa kau anak baru?” aku baru menyadari bahwa aku belum pernah melihat bocah ini sebelumnya. Pantas saja dia berani mengunjungi rumahku sendirian.

Bocah kurus itu mengangguk penuh semangat. Aku bisa melihat satu gigi susunya hilang saat dia tersenyum lebar. Dia kembali menyodorkan kantung kertasnya yang sudah terisi separuh.

”Aku tidak punya permen untukmu” pandanganku tertuju pada gerakan samar dibalik semak tanaman hias di depan rumahku. Aku bisa melihat moncong berbulu serigala dan ujung kerucut topi penyihir. Rupanya anak-anak nakal itu yang menyuruh bocah ini menemuiku.

Aku tersenyum kecut pada bocah polos yang masih setia menunggu permen dariku. Dia mengingatkanku pada diriku sendiri di masa kecilku. Dulu teman-temanku yang jahil juga sering menggunakanku sebagai umpan untuk mengunjungi tempat-tempat menyeramkan seperti kuburan. Untungnya aku tidak pernah percaya pada hal-hal gaib di luar akal manusia sehingga aku selalu berhasil kembali dengan selamat tanpa rasa takut sedikitpun. Itulah sebabnya mereka tidak pernah mengerjaiku lagi. Sekarang aku akan melakukan hal yang sama pada anak-anak bengal itu.

”Tunggu di sini” aku menutup pintu di depannya dan beranjak ke dapur. Setelah kembali aku menyerahkan bungkusan berisi dua potong pai apel pada bocah kerdil itu.

”Terima kasih, nenek sihir yang baik” dia menunduk pamit kemudian berlari untuk menunjukkan keberhasilannya pada teman-temannya. Setiap malam Halloween aku memang selalu dianggap sebagai nenek sihir menyeramkan yang paling sulit ditaklukan. Pahlawan-pahlawan kecil yang nakal itu selalu gagal mendapatkan harta karun berupa permen dari kastilku, jadi mereka pasti akan heran mengapa aku bermurah hati pada anak baru itu.

Setelah melihat keberhasilan bocah labu itu, mereka mendesak satu bocah pendek lainnya untuk mencoba apakah aku telah berubah jadi ibu peri yang mau memberi mereka permen. Tapi aku memasang wajah seseram mungkin sambil melotot sehingga bocah itu lari ketakutan sebelum sempat mencapai pintuku. Lalu aku tertawa sekeras-kerasnya dan membanting pintu kemudian menguncinya rapat. Aku sengaja melakukan itu untuk menyadarkan mereka agar tidak menggangguku lagi.

Akhirnya malam itu aku bisa menikmati pai apel dengan teh herbal sambil menonton film romantis kesukaanku. Setelah itu aku bersiap tidur untuk menutup hari libur menyebalkan ini dan menyambut hari normal yang sangat kunantikan besok. Sebelum tidur aku teringat pada bocah labu itu. Kurasa aku tertarik pada kepolosannya. Seandainya aku punya anak, aku ingin punya anak seperti dia.

~_~_~_~_~

Hari yang biasa, hari yang normal, tanpa ritual aneh, tanpa dekorasi aneh, tanpa pakaian aneh, tanpa musik dan pesta aneh. Hari seperti inilah yang paling kusukai sepanjang hidupku. Aku memang wanita normal yang hidup diantara masyarakat yang kuanggap mulai tak normal. Apakah dengan menjadi normal aku malah tampak aneh di mata kalian? Aku tidak peduli, aku bahagia dengan menjalani kehidupan normal seperti ini.

Tapi rasanya ada yang tidak normal dengan warna langit pagi ini. Dari jendela aku bisa melihat warna langit yang kelabu dan menghitam. Tunggu, apakah aku tertidur sampai malam? Apakah aku telah melewatkan hari normal kesukaanku ini? Apakah aku telah membuang rejeki pagi dengan tidur panjang yang sia-sia? Arggghh!! Aku benar-benar bodoh! Untunglah aku tidak sedang mengerjakan jahitan apapun dan masih punya cukup uang untuk makan beberapa hari.

Sekarang jam tujuh malam. Kurasa aku akan jalan-jalan sebentar untuk mengusir kekesalanku. Namun ketika aku membuka pintu, sebuah percikan kembang api mengoyak kegelapan langit. Percikan itu disusul bunyi letusan petasan lain dan kemeriahan bunyi terompet perayaan. Sayup-sayup terdengar pekik dan tawa anak-anak kecil. Hey, bukankah hari Halloween telah lewat? Mengapa mereka masih merayakannya hari ini?

Dalam kebingungan aku kembali ke dalam rumah dan memeriksa kalender. Seharusnya hari ini tanggal satu november. Aku menyalakan televisi untuk memastikan tanggal lewat berita malam. Aku bisa melihat pembaca berita tampan yang sedang memberitakan kunjungan presiden ke negara lain. Lalu tiba-tiba siarannya menjadi kacau, terdengar bunyi gemerisik dan berdenging. Gambar di layar televisiku menjadi statis seperti kumpulan semut hitam putih, semut-semut itu berubah warna menjadi hijau, kemudian mendadak gambarnya pulih kembali.

”Selamat hari Halloween!! Kembali lagi bersama saya di acara kesayangan kita, Fear Fighter!! Malam ini kami khusus memilih tempat yang paling menyeramkan untuk menguji peserta kita yang sangat berani...” seorang pembawa acara genit berkostum kucing hitam dari acara reality konyol membuatku sangat muak. Ternyata hari ini memang hari Halloween. Lalu bagaimana dengan hari kemarin? Apakah kejadian malam itu hanya mimpiku saja?

”Tok tok tok” bunyi pengetuk pintu terdengar sayup dari ruang depan. Aku cukup terkejut, memang bukan hal aneh kalau anak-anak nakal itu datang lagi untuk menggangguku. Tapi apakah mungkin kejadian malam ini akan sama dengan mimpiku kemarin?

”Tok tok tok” bunyi ketukan terdengar makin keras. Entah kenapa aku merasa yakin bocah labu itulah yang mengetuk pintuku.

”Trick or Treat!” suara lengking mencicit itu segera menyambutku setelah aku membuka pintu. Ternyata benar, bocah labu itu datang lagi!

Aku mengamati anak lelaki pendek itu dengan takjub. Penampilannya benar-benar mirip seperti bocah labu dalam mimpiku. Rambut coklat gelapnya disisir rapi di atas kepalanya yang bulat seperti labu. Pipinya kembung berwarna kemerahan, hidungnya mungil, mata coklatnya yang bulat memancarkan kegembiraan. Dia memakai tirai panjang berwarna merah gelap sebagai jubah drakula. Di tangan kirinya ada lampion kuning kecil sedangkan ditangan kanannya ada kantung kertas tempat permen. Bahkan gigi serinya yang hilang juga sama.

”Apa kau anak baru?” aku mengulangi percakapan yang sama dalam mimpiku, rasanya seperti dejavu. Tanpa memperhatikan anggukan kepalanya, aku mengamati semak tanaman hias di depan rumahku. Aku bisa melihat moncong berbulu serigala dan ujung kerucut topi penyihir. Ternyata anak-anak nakal itu juga ada!

Ini sangat aneh! Mengapa kejadiannya bisa jadi semirip ini? Dalam gerakan samar aku menancapkan kuku jari tangan kananku ke telapak tangan kiriku. Sakit. Ternyata ini bukan mimpi, ini kenyataan, kejadian kemarin adalah mimpi.

”Tunggu di sini” aku melakukan hal yang sama dengan mimpiku. Setelah memberinya bungkusan berisi dua potong pai apel, aku segera menutup pintu sebelum mendengar bocah labu itu berterima kasih.

Masih dalam keadaan bingung aku memutuskan untuk segera tidur. Aku ingin segera mengakhiri hari libur yang aneh ini dan menyambut kenyataan hari esok yang lebih normal. Malam itu bayangan wajah polos bocah labu kembali mengisi tidurku.

~_~_~_~_~

Hari ini aku bangun dengan perasaan segar. Syukurlah hari Halloween yang aneh telah kulewati. Hanya dengan menjalani hari normal seperti ini saja aku bisa tenang. Namun aku kembali merasa waspada ketika kulihat langit masih menghitam. Dari kejauhan masih terdengar bunyi petasan, pekik dan tawa anak-anak. Rasanya aku akan menjadi gila. Hari Halloween aneh itu datang lagi!

Aku yakin ini bukan mimpi. Aku telah berkali-kali menampar pipiku dan menjambak rambutku sendiri untuk memastikan kejadian ini adalah kenyataan. Tayangan televisiku juga menampilkan pemandangan yang sama dengan kemarin. Gambar yang menjadi kacau, berubah menjadi statis hijau, lalu berubah lagi menjadi acara reality tentang adu nyali di tempat seram.

Dengan tak sabar aku menunggu bocah labu mengetuk pintu, maka ketika aku mendengar ketukan pertama aku langsung membuka pintu untuknya. Aku langsung menyerahkan bungkusan dua potong pai apel sebelum dia meneriakkan semboyan Halloween yang menyebalkan itu. Kemudian aku mengunci pintu dan melangkah pergi meninggalkan bocah labu dan teman-temannya yang kebingungan. Mungkin dengan melakukan kegiatan yang berbeda aku bisa keluar dari rangkaian kejadian aneh ini.

Keadaan di sepanjang jalan kota kecil ini tampak biasa saja. Setidaknya ini pemandangan perayaan yang biasa kulihat di saat hari libur. Seingatku sejak dulu di kota ini hari libur yang dirayakan paling meriah adalah hari Halloween, aku juga tak tahu kenapa. Rasanya dulu ibuku pernah menceritakan legenda Halloween padaku, tapi aku sudah lupa karena aku memang tak pernah percaya pada dongeng yang tak masuk akal seperti itu. Hey, apa kejadian aneh yang kualami ini ada hubungannya dengan legenda Halloween?

Ah, sial!! Aku tak bisa ingat apapun tentang dongeng Halloween itu. Orang tuaku sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Kebanyakan teman sebayaku sejak kecil juga telah pindah dari kota ini. Walikota dan sebagian besar penduduk kota ini juga adalah pendatang sehingga mereka pasti tak tahu apa-apa tentang dongeng itu. Oh ya, pak tua Greyson, dia adalah satu-satunya orang tertua di kota ini. Dia pasti tahu. Maka aku bergegas ke rumah pak tua Greyson untuk mendengar kembali cerita aneh itu.

Rumah pak tua Greyson cukup kecil tapi tampak hangat karena dibangun dari tumpukan bata merah yang kokoh. Aku mengetuk pintunya dan menunggu sampai lebih dari tiga menit sampai seorang wanita berwajah pucat muncul. Aku belum pernah melihat wanita bertampang lesu ini.

”Apa aku bisa bertemu dengan pak tua Greyson, maksudku tuan Rowan Greyson?” tanyaku canggung di depan wanita asing itu.

"Tuan Greyson tidak tinggal di sini lagi. Tiga hari yang lalu dia dijemput keluarganya untuk tinggal di luar kota. Mereka menyewakan rumah ini pada kami” jawabnya seolah berbisik.

”Oh, begitu” keluhku kecewa. ”Apa kau berasal dari sini? Apa kau tahu cerita rakyat atau dongeng dari kota ini?” wanita itu menggeleng lemah. Sebenarnya umurnya mungkin beberapa tahun lebih muda dariku, tapi karena penampilannya yang lusuh dia kelihatan seperti sudah hidup selama berabad-abad.

”Ibu! Ibu! Aku mendapatkan pai apel dari nenek sihir yang baik. Cuma aku yang berani ke rumahnya. Anak-anak yang lain...” bocah labu langsung berhenti berceloteh setelah melihatku. Ternyata wanita lesu ini adalah ibunya.

Wanita itu menyuruhnya masuk dengan pandangan matanya. Bocah labu itu cemberut tapi dia menuruti ibunya dan masuk ke dalam rumah dengan patuh. ”Terima kasih nenek sihir yang baik!” serunya sebelum menghilang di balik pintu.

”Maaf kami tak bisa membantumu” bisikan wanita itu hampir tak bisa kudengar. ”Oh, tak apa-apa. Terima kasih” wanita itu mengangguk dan menutup pintu di hadapanku.

Bagus, sekarang apa yang harus kulakukan? Sekarang tidak ada seorang pun lagi di kota ini yang bisa membantuku menjelaskan keanehan ini dan membantuku keluar darinya. Kurasa yang bisa kulakukan sekarang adalah segera pulang, tidur, dan berharap besok tak pernah ada hari Halloween lagi. Tapi aku ingin bertemu bocah labu itu lagi. Aku menyukainya, dia sangat manis dan sopan. Seandainya dia tak punya ibu aku pasti bersedia mengangkatnya jadi anakku.

~_~_~_~_~

Halloween yang aneh terulang lagi hari ini. Rasanya aku sudah mulai terbiasa, padahal aku yang dulu sangat membenci hari ini. Aku sempat berpikir mungkin ini sama sekali tak ada hubungannya dengan dongeng Halloween, mungkin aku hanya terjebak dalam lingkaran waktu yang berputar di tempat.

Menurutku ini tidak buruk juga, pengulangan seperti ini melahirkan rutinitas baru yang sangat kusukai. Aku suka saat bocah labu mengunjungiku setiap hari, aku suka saat memberinya pai apel setiap hari, aku suka saat dia berterima kasih padaku setiap hari, aku suka membuat anak-anak nakal itu kebingungan setiap hari. Aku tidak pernah bosan, aku bisa melakukan kegiatan yang berbeda-beda dalam satu hari raya yang kubenci ini.

Untuk hari Halloween saat ini aku berencana mengundang bocah labu minum teh bersamaku. Aku takut dia tidak akan menyukainya makanya aku menyiapkan lebih banyak pai apel dan coklat panas untuknya. Atau apakah dia lebih suka minum susu dengan kue kering? Ah, kenapa aku tak menanyakan dulu padanya kemarin?

”Tok tok tok” bocah labu sudah datang! Aku melepas celemekku dan bergegas membuka pintu untuknya.

“Trick or Treat!!” seruku bersamaan dengan seruannya. Dia sedikit terkejut, tapi dengan polos dia tersenyum lagi dan menyodorkan kantung kertasnya.

“Aku tidak punya permen untukmu” meskipun aku berkata begitu dia tetap menyodorkan kantung kertasnya seolah tahu aku akan memberinya sesuatu.

“Bagaimana kalau kau masuk dan makan kue bersamaku?” tawaranku itu membuatnya sedikit ragu. Dia memandang ke persembunyian teman-temannya di balik semak tanaman hias, mungkin dia takut akan disekap wanita yang mereka sebut nenek sihir ini. Tapi ketika dia memalingkan wajahnya lagi, aku bisa melihat kegembiraan dan keberanian dalam tatapan matanya. Dia mengangguk dan berkata, “Terima kasih nenek sihir yang baik”

“Silahkan masuk” untuk pertama kalinya aku mempersilahkan seorang bocah masuk dalam istanaku. Dia masuk dengan agak canggung tapi tampak terpesona pada interior rumahku yang menurutku biasa saja. Aku mengantarnya ke ruang tengah yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan.

“Apa kau suka hari Halloween?” aku membuka percakapan sambil menghidangkan pai apel hangat dan menuangkan coklat ke cangkirnya. Aku tersenyum padanya sebagai tanda dia boleh mengambil sepotong pai.

“Aku sangat suka Halloween!! Aku juga sangat suka apel!!” serunya setelah satu gigitan. Aku sangat gembira mendengarnya berkata seperti itu, berarti dia menyukai pai buatanku.

”Apa yang kau suka dari Halloween?” tanyaku berusaha mengerti kesukaan bocah labu yang manis ini.

”Ada banyak permen. Saat Halloween aku bisa makan permen sepuasnya. Lalu aku juga boleh keluar bersama teman-temanku sampai malam. Ibu selalu membuatkan pakaian yang bagus saat Halloween. Saat Halloween aku juga boleh membuat lelucon, kejahilan, dan menakuti anak-anak yang jahat padaku” dia mengunyah sambil bercerita penuh semangat sampai di sekeliling mulutnya dipenuhi sisa pai dan coklat.

”Tapi aku tak suka labu. Sayur labu buatan ibu rasanya tak enak. Aku juga takut pada lentera labu Halloween. Mengapa harus labu? Padahal apel lebih baik” aku cukup terkejut mendengar pengakuannya. Ternyata bocah berkepala bundar ini benci labu, syukurlah aku belum pernah menyebutnya bocah labu secara langsung.

”Nenek sihir suka Halloween?” dia bertanya padaku sambil menelan potongan pai kelimanya. Aku menggeleng sambil tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan.

”Mengapa tidak suka? Aku kira nenek membuat pai apel karena suka Halloween” perkiraannya membuatku sedikit heran. Benar juga, seingatku dulu ibu dan penduduk kota ini lebih suka mengolah apel saat Halloween daripada labu. Kurasa aku hanya mengikuti kebiasaan ibuku itu, maka aku menjawab, ”Aku membuat ini karena aku juga suka apel”

”Ternyata nenek sihir sama denganku!” sahutnya ceria. ”Nenek sihir suka mendengar cerita seram? Pernah mendengar cerita tentang anak iblis yang suka makan apel?” aku langsung mengerti dia akan menceritakan sebuah dongeng padaku. Aku tidak suka dongeng, tapi ternyata anak ini berhasil membawa keceriaan bagiku dan membuatku ingin terus mendengarnya bercerita.

”Aku belum pernah dengar. Tolong ceritakan padaku” aku tidak protes saat dia berdiri di atas kursi dan mulai bergaya seperti penyair terkenal. Aku siap mendengarnya seperti anak kecil yang ingin mendengar cerita pengantar tidur dari pendongeng.

”Pada jaman dulu kala, di kerajaan neraka, hiduplah seorang anak iblis yang nakal. Dia adalah anak iblis penjaga pintu neraka. Dia sangat suka apel. Suatu hari dia sangat kesal karena tidak ada satupun pohon apel yang berbuah di neraka. Lalu dia ingat ayahnya pernah bilang di dunia manusia juga ada apel, bahkan apel di sana lebih enak. Maka dia mencuri kunci gerbang neraka lalu pergi ke dunia manusia untuk meminta apel dari manusia.

”Tapi ternyata manusia sangat pelit, mereka tidak mau memberinya apel. Si anak iblis terus mengganggu, menjahili dan menakut-nakuti manusia tapi mereka tetap tidak mau memberinya apel. Akhirnya anak iblis itu pulang ke neraka lalu mengajak anak-anak iblis lain yang lebih nakal untuk mengganggu manusia. Rupanya iblis dewasa yang jahat juga tertarik dan mengikuti rombongan anak iblis itu ke dunia manusia. Akibatnya mereka malah mencuri barang manusia, menyiksa manusia, dan menghancurkan rumah mereka. Keadaan desa manusia itu jadi sangat kacau.

”Iblis penjaga pintu neraka mengetahui perbuatan anaknya dan segera turun ke desa manusia untuk menjemputnya bersama iblis-iblis jahat itu. Syukurlah iblis penjaga itu berhasil mengembalikan mereka semua dan menutup kembali gerbang neraka sehingga para manusia bisa bernapas lega. Namun iblis penjaga sangat mengenal sifat anaknya yang nakal, karena itu dia berpesan pada penduduk desa manusia untuk menyiapkan apel kalau anaknya datang lagi, tetapi kalau mereka tak punya apel mereka harus menaruh labu di jendela mereka karena anak iblis takut pada labu.

”Karena itulah saat Halloween penduduk desa manusia itu membagikan permen dan apel pada anak-anak iblis atau menaruh lentera labu agar tidak diganggu oleh mereka” kata bocah labu mengakhiri ceritanya sambil menunduk memberi hormat, lalu turun dari kursi dan meraih potongan pai yang tersisa di piring.

Tanpa sadar aku bertepuk tangan sebagai tanda penghormatan baginya. Aku seperti terhipnotis dan terpesona padanya. Terlebih lagi, ceritanya adalah dongeng Halloween yang dulu diceritakan oleh ibuku!!

”Cerita yang sangat bagus! Dari mana kau mendengar cerita ini?” tanyaku tak bisa mengenyahkan rasa penasaranku. Bukankah dia baru saja pindah ke kota ini? Bahkan kemarin ibunya bilang dia bukan penduduk asli kota ini, jadi bagaimana dia bisa tahu?

”Dulu ayahku bercerita padaku, waktu kami masih tinggal di gunung” jawabnya membuatku sedikit mengerti. Jarak gunung dengan kota ini memang tak jauh. Atau ayahnya adalah penduduk asli kota ini sehingga dia masih bisa meneruskan dongeng itu.

Aku masih ingin bertanya tentang ayah bocah labu ini, tapi dentang jam dindingku mengejutkan kami berdua. Tiba-tiba bocah labu berdiri lalu mengambil lampion mini dan kantung kertasnya dengan cepat. ”Sudah jam sepuluh, aku harus pulang” jelasnya.

”Terima kasih atas pai dan coklatnya, nenek sihir! Aku sangat senang. Apakah aku boleh datang ke sini lagi tahun depan?” dia tersenyum lebar menampakkan giginya yang tanggal.

”Tentu saja boleh. Kau bisa datang ke sini setiap hari. Kau juga bisa datang bersama ibumu” jawabku penuh keramahan. Aku mengantarnya ke pintu tapi merasa tak rela membiarkannya pergi.

”Tunggu sebentar, aku masih punya kue kering. Aku akan membungkusnya untukmu” kataku berusaha menahannya sejenak, tapi dia menjawabku dengan gelengan kepalanya.

”Terima kasih, nenek sihir. Aku hanya suka apel” bocah mungil itu menunduk pamit lalu melangkah riang ke jalan yang sepi. ”Tunggu! Siapa namamu?” aku hampir lupa menanyakan itu.

”Namaku Jack Heedkin! Selamat malam, selamat hari Halloween!!” dia melambai lalu berlari ke arah selatan. Aku terus mengawasinya sampai dia menghilang dalam kegelapan malam.

Akhirnya aku tahu namanya, Jack Heedkin. Hari Halloween ini adalah hari yang paling menyenangkan bagiku. Semuanya berkat kunjungan bocah labu yang menggemaskan itu. Aku tak sabar menunggu hari esok untuk mengulangi Halloween yang menyenangkan bersamanya lagi. Aku sangat bahagia, aku ingin selamanya seperti ini. Aku ingin setiap hari adalah hari Halloween!!

~_~_~_~_~

”Nyonya Bellrook, anda baik-baik saja? Nyonya Bellrook!!” suara berat seorang pria memaksaku untuk bangun. Tapi napasku terasa sangat sesak, asap pahit mencekik saluran pernapasanku. Lalu ada tangan yang menekan sebuah alat ke wajahku, alat itu mengalirkan udara segar ke dalam mulutku.

Semuanya berwarna kelabu. Sepertinya aku berada dalam gumpalan asap putih. Aku tak bisa melihat wajah pria yang bersamaku. Aku merasa pusing, pandanganku kabur. Pria itu membawaku ke sebuah tempat terbuka yang dipenuhi banyak orang bertampang cemas. Ada kumpulan orang yang mengerumuni sesuatu sambil menangis. Sesuatu itu... adalah mayat-mayat busuk berlumuran debu putih.

”Nyonya Bellrook, anda bisa mendengar saya?” pria penyelamatku itu mendudukkanku di atas rumput. Aku mengangguk lemah. ”Hey, ada satu orang yang selamat!! Di mana dokternya?” pria itu berteriak pada beberapa pria lain yang berkeliaran di sekitarnya.

”Syukurlah” pria itu melepas masker yang menutup hidung dan mulutnya sehingga aku bisa mengenali wajahnya. Dia adalah cucu pak tua Greyson.

”Semalam kakek sangat ribut, dia bersikeras ingin kembali ke sini padahal kondisinya sangat lemah. Dia terus berteriak, ’Anak iblis akan membakar kota!! Anak iblis akan membakar kota!!’ Akhirnya dia memaksaku datang ke sini untuk memperingatkan penduduk kota, tapi karena macet aku baru bisa sampai tadi pagi” katanya menjelaskan kedatangannya.

”Ternyata firasat kakek benar, gunung dekat kota kita meletus tadi malam dan memuntahkan asap panas yang menewaskan semua penduduk kota. Syukurlah anda selamat, Nyonya Bellrook” jelasnya membuatku terperanjat. Aku mengikuti pandangannya ke arah gunung. Daratan menjulang itu dipenuhi asap dan debu yang menggumpal menyeramkan. Dari kejauhan aku bisa melihat kotaku yang hancur berwarna putih seperti tertutup salju.

”Seperti dongeng Halloween saja. Berilah apel pada anak iblis berkepala labu, atau dia akan menghancurkan desamu” komentar Greyson junior menyusupkan sedikit ketakutan dalam dadaku. “Pada siapa?” tanyaku memastikan.

“Apakah anda sudah lupa cerita itu? Legenda Jack si kepala labu, dia adalah anak iblis penjaga gerbang neraka yang nakal. Dia akan mengetuk pintumu saat Halloween untuk meminta permen, padahal hadiah yang paling tepat untuknya adalah apel. Sebuah cerita tak masuk akal yang dikaitkan dengan bencana alam. Lucu sekali” Greyson junior tertawa hambar. Tentu saja aku tak bisa ikut tertawa setelah menyadari kenyataan ini.

”Dongeng itu benar. Kemarin Jack Heedkin datang ke rumahku, dan aku memberinya hadiah yang tepat, APEL”

~Little Demon’s Gift end~

Read previous post:  
52
points
(673 kata) dikirim redscreen 10 years 34 weeks yg lalu
65
Tags: Cerita | Cerita Pendek | horor | halloween
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis Shin Elqi
Shin Elqi at Little Demon’s Gift (9 years 16 weeks ago)
90

Horor barat keren... Horor timur serem...

Penulis harlockmail
harlockmail at Little Demon’s Gift (10 years 16 weeks ago)
90

bagus sekali ini...
cuma apa hubungannya kejadian berulang-ulang dengan little jack?
atau kejadian berulang ulang dengan wanita itu?
mungkinkah dari awalnya memang dia yang terpilih menjadi satu-satunya orang yang selamat dari wedus gembel sehingga dia mengalami kejadian spiritual?
hmm...overall bagus..
cara bertuturmu memukau

Penulis Ann Raruine
Ann Raruine at Little Demon’s Gift (10 years 24 weeks ago)
90

humm.. knapa jack nakal, udah dikasi apel masih aja ledakin gunung.. :p
hhe, km gak niat bikin novel red ? XD

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 24 weeks ago)

letusan gunung itu perwujudan nyata dari kunjungan anak2 iblis kak, semua penduduk kan sudah lupa tentang dongeng halloween, ny. bellrook juga lupa, untung saja dia tak sengaja memberi pai apel jadi bebas dari bencana itu ^v^

Penulis duniamimpigie
duniamimpigie at Little Demon’s Gift (10 years 30 weeks ago)
100

Cerita" Redscreen tu enak dbaca~ dan sederhana~
'Lam kenal!

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 30 weeks ago)

terima kasih kak :D

Penulis suararaa
suararaa at Little Demon’s Gift (10 years 30 weeks ago)
90

bagusssssssss....
:))
tapi aku masih bertanya2,, kenapa hari hallowen berulang2 terus pada si wanita itu???

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 30 weeks ago)

kenapa ya?
ku juga bingung kak -dijitak-
mungkin dia cuma bermimpi, atau mungkin karena cuma dia yg memberi apel pada jack, atau mungkin karena dia benci halloween @.@
terima kasih sudah bekunjung kak :D

Penulis zaphelyne
zaphelyne at Little Demon’s Gift (10 years 32 weeks ago)
90

aku baca yang terakhir sampe merinding2..wkwk..
hehe.. two thumbs up deh..d^^b

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 32 weeks ago)

terima kasih atas kunjungannya, salam kenal kak zaphelyne :D

Penulis salazar
salazar at Little Demon’s Gift (10 years 32 weeks ago)
60

seperti biasa
semua tulisan yg kamu bikin selalu buat org puas ngebacanya.
alur yg dipke sampe kosa kata yg kamu pake.
semuanya bagus.

klo baca tulisan" kamu, kaya baca novel" terjemahan dri luar.
;p

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 32 weeks ago)

terima kasih atas komentarnya kak salazar ^v^
ku memang lebih terpengaruh novel luar :p

Penulis Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Little Demon’s Gift (10 years 33 weeks ago)
100

speechless deh

mantap, walau telat tp ku ucapin met Halloween ya ^_^

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 32 weeks ago)

happy halloween ^v^
terima kasih atas kunjungannya kak kumiko :D
-bagi apel-

Penulis dede
dede at Little Demon’s Gift (10 years 33 weeks ago)
100

Wua redscreen... Manteb wes...
Serasa membaca tulisan orang2 yg udah professional gituh...

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 32 weeks ago)

terima kasih kak :D
kapan kak dede nulis cerita baru lagi? ^v^

Penulis serigalahitam
serigalahitam at Little Demon’s Gift (10 years 33 weeks ago)
2550

Happy Halloween Red :D

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 32 weeks ago)

trick or treat :D
-minta permen- xD

Penulis serigalahitam
serigalahitam at Little Demon’s Gift (10 years 32 weeks ago)

Aku hanya punya pie apel, mau ? :)

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 32 weeks ago)

okay kak, terima kasih :D

Penulis serigalahitam
serigalahitam at Little Demon’s Gift (10 years 32 weeks ago)

Sama-sama jack :D

Penulis cat
cat at Little Demon’s Gift (10 years 33 weeks ago)
70

aku baru tau cerita hallowen tuh kek ini wkwkwk ..
sip sip sip ...
keren deh.

tp ndak bisa di bacakan untuk kenz wkwkwk

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 33 weeks ago)

ini cuma buatan saja kak,
dulu ku pernah baca cerita labu halloween dipakai utk menakut2i apaa gitu tapi ku lupa xp
dibuat versi lucunya saja kak ^v^

Penulis IreneFaye
IreneFaye at Little Demon’s Gift (10 years 33 weeks ago)
100

Dongeng yang manis, dan akhir yang manis juga!!!
Like this!

_______________________

Read my story too, kay!;)

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 33 weeks ago)

terima kasih, salam kenal kak irenefaye :D
siap kak! ^v^

Penulis IreneFaye
IreneFaye at Little Demon’s Gift (10 years 33 weeks ago)

Salam kenal juga!

Penulis Ryuhei
Ryuhei at Little Demon’s Gift (10 years 33 weeks ago)
70

Wwkwk ciri horor barat ,jadi inget film treat or tric,.jack kcil mendatangi orang yg tdak suka halowen. Jujur aq gk ska horor barat,.tp yg q ska dri crita ini mengalir enak,..

Penulis redscreen
redscreen at Little Demon’s Gift (10 years 33 weeks ago)

eh? ada filmnya ya kak? 0,o
horor barat memang beda dari horor timur yg lebih mencekam ^v^
terima kasih atas komentarnya kak :D