Untuk hatiku

Aku masih tak percaya telah sampai di Bandung. Kota tempat kamu kuliah. Kota yang akan menjadi saksi pertemuan kita. Pertemuan pertama sejak 3 tahun lalu aku dan kamu berkenalan. Perkenalan yang kita mulai di dunia maya.

Aku mengabari kamu setelah sampai di tempat pemberhentian terakhir mobil yang ku tumpangi. Kamu pun membalas pesan yang ku kirim. Menyuruhku menunggu sebentar sampai kamu tiba disana.

Hatiku mulai deg-degan selama menunggu kamu. Selama ini aku hanya tau foto dan suaramu. Pun demikian dengan kamu.

Cukup lama aku menunggu. Sampai sebuah motor matic warna putih berhenti di pinggir jalan dekat tempatku. Pengendaranya membuka helm, lalu tersenyum. Tersenyum padaku.

Ternyata itu kamu. Kamu memakai sweater abu-abu dipadu jeans warna biru.

"Maaf ya menunggu lama" ucap kamu disertai uluran tangan.

"Iya gak apa-apa kok" jawabku agak canggung, sambil menjabat tangan kamu. Terasa dingin. Sama seperti udara kota ini. Dan aku menyukainya.

Lalu kamu mengajakku berkeliling kota Bandung. Layaknya pemandu wisata, kamu memperkenalkan beberapa tempat padaku.

Saat hari beranjak siang, kamu pun bertanya kepadaku.

"Mau makan apa nih?"

"Apa aja deh, terserah kamu" jawabku malu-malu.

"Sate kelinci mau?"

Aku pun berpikir sejenak. "Gak ah, aku gak tega"

Kamu pun tersenyum. "Kamu kan gak perlu liat pemotongannya"

"Makan yang lain aja deh" usulku. Karena aku tetap tidak tega membayangkan makan daging binatang lucu itu.

Sambil berpikir, kita pun melanjutkan perjalanan. Menuju perkebunan teh di daerah Lembang.

"Kalo makan bakso yang di pinggir jalan tadi mau gak?" tanya kamu setelah kita beristirahat sejenak sambil melaksanakan ibadah shalat dzuhur di sebuah mushola ditengah perkebunan teh.

"Yauda, boleh aja" jawabku. Walau sebenarnya aku sedang tidak ingin makan makanan itu.

Selesai makan, kita berusaha saling mendahului membayar. Namun kamu berhasil mengalahkanku.

Cuaca mendung membuat kita memutuskan kembali ke Bandung. Namun ternyata hujan lebih dulu turun, membuat kita harus berteduh di sebuah warung jagung bakar.

"Kamu mau jagung bakar gak?"

"Gak ah, aku gak terlalu suka" jawabku. Akhirnya kamu pun memesan satu. Untuk kamu. Jagung bakar yang sudah 'diseset' dan disuguhkan dengan piring dan sendok. Agak aneh menurutku.

"Biar gak nyangkut di gigi" jawab kamu saat aku bertanya kenapa harus 'diseset'.

Cuaca bertambah dingin, kabut pun mulai turun. Namun obrolan hangat kita tetap berlanjut. Menceritakan tentang kisahku dan juga kisahmu.

Dalam perjalanan kembali ke Bandung, kamu pun berhenti untuk membeli alpukat. Buah yang kamu sukai. Dan aku baru mengetahuinya. Dengan bahasa sunda yang tidak kumengerti kamu mulai menawar harga.

"Kamu mau juga gak? Buat oleh-oleh" tawar kamu padaku.

"Gak usah, berat bawanya"

"Yakin?"

"Iya" aku tersenyum. Begitupun kamu.

Beranjak sore kamu pun menemaniku membeli tiket.

"Masih ada setengah jam lagi nih, anter aku melihat toko-toko disini ya sebentar" pintaku pada kamu. Saat ini kita berada di cihampelas.

"Beli oleh-oleh aja sekalian. Buat orang rumah"

"Iya, nanti nyari yang gak ribet dibawanya" jawabku.

Tasku sudah penuh saat kita kembali ke kantor travel tempatku menunggu mobil yang akan mengantarku pulang. Kamu pun pamit padaku, karena hujan hendak turun lagi. Kita kembali berjabat tangan dan mengucapkan kata perpisahan. Tangan kamu tetap dingin seperti saat kamu menjemputku. Aku melambai saat motor yang kamu kendarai mulai beranjak pergi, kamu membalasnya. Dan akupun terharu.

Saat di perjalanan aku mengirimkan pesan ke ponselmu, mengucapkan terima kasih untuk kesekian kalinya padamu. Bersyukur bahwa aku mengenalmu, walau tidak bisa bersamamu. Setidaknya aku membawa oleh-oleh untuk keluargaku dan juga kenangan manis tentangmu. Untuk hatiku.

Cibubur, 2 september 2010

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dhesiptr
dhesiptr at Untuk hatiku (10 years 34 weeks ago)
70

ada lanjutannya? kisahnya manis ..

Writer Ryuhei
Ryuhei at Untuk hatiku (11 years 47 weeks ago)
80

kamu tahu,semuanya serba datar disini,,,sangatsangat datar buanget,,tapi ku beri nilai 8 karna ku mrasakan kesenduhan di crita ini..n kelihatanya ni pengalaman pribadi ya

Writer Shinichi
Shinichi at Untuk hatiku (11 years 47 weeks ago)
80

jiah!

seratus kata dong, mbak :p

ahak hak hak

saia mendapat kesan sendu yg diciptakan situasi dalam cerita ini. itu yg saia dapat. tentang pertemuan pertama setelah tiga tahun berkenalan di dumay, juga tentang jalan2, pada akhirnya hujan dan perpisahan.

itupun dialog belum termasuk. disini terdapat kecanggungan yg khas dan semakin membuat aroma sendu menjadi semerbak di pandangan saia.

ahak hak hak

cuman, deskripsinya kurang kental :D

Writer mylovelyluna
mylovelyluna at Untuk hatiku (11 years 47 weeks ago)

hehehe..sering2 nulis n baca buku ya..

Writer IreneFaye
IreneFaye at Untuk hatiku (11 years 47 weeks ago)
40

Kok kesannya cerita ini datar ya ... konfliknya pun gak gitu gereget ...

Writer lavender
lavender at Untuk hatiku (11 years 47 weeks ago)
80

rasanya seperti kisah nyata..

Writer herjuno
herjuno at Untuk hatiku (11 years 47 weeks ago)
60

Hm, meskipun konfliknya sudah muncul, tapi sepertinya alurnya masih terlalu lemah. I mean, apa cuma ketemu, jalan-jalan di Bandung, dan setelah itu pergi? Tapi kalo cuma itu, ya nggak pa-pa, hehe.
.
Kemudian, karakter. saya bisa bilang kalau karakterisasimu kurang bagus sekaligus bagus. Kurang bagus karena blur; bahkan jenis kelaminnya juga nggak diketahui, hehe. Namun, bagus karena meskipun kamu nggak menyebutkan jenis kelamin, tapi bisa membuat kesan kalau sang tokoh "aku" adalah wanita. :D
.
Oke, thanks!