V.A.M.P.I.R.E PROJECT-Mission 1.1

22 Maret 2010, 23:15, Amazon Forest, Dark Phoenix HQ _

Seorang gadis melangkahkan kakinya kearah gerbang baja raksasa yang terletak diantara kerimbunan hutan yang tak ramah. Satu-satunya jalan yang akan membawanya ke balik tembok tebal yang jelas sekali tak dapat ditembus secara paksa. Seorang yang cukup bodoh pernah mencobanya dan percayalah, tak ada lagi orang yang pernah mendengar kabar dari orang itu setelahnya.

Tembok tebal itu sangat tinggi. Gadis itu tak dapat melihat puncak tembok itu. Daun-daun dari pepohonan tertinggi di hutan menghalangi pandangannya. Tembok yang cukup menantang—jika kau seorang spiderman—tapi dari bangkai- bangkai binatang yang menempel di permukaan tembok, kau akan langsung tahu peringatan apa yang disampaikan kepadamu. Sentuh tembok itu sedikit, listrik bertegangan 10.000 Volt akan langsung melenyapkanmu.

Gadis itu menghampiri sebuah panel yang terletak di sisi terkiri gerbang dan menekankan telapak tangannya di atas panel itu. Layar diatas panel itu berdengung sebelum menampilkan sebaris teks kalimat digital.

WELLCOME, AGENT ALICE.
PLEASE CONFIRMED YOUR VOICE PASWORD _

Gadis itu menghela nafas. “B-L-O-O-D, I am a vampire” ujarnya datar. Layar itu kembali berdengung sebelum kemudian menyerukan suara kaku ala robot.

“Voice and Password confirmed. You may now enter!”

Gerbang baja tadi tiba-tiba terbuka kedalam secara otomatis dan gadis itu pun melangkah masuk. Menghiraukan gerbang yang langsung menutup di belakangnya.

Bagian dalam dari tembok tebal tadi jelas sekali berbeda dengan bagian luarnya. Tanah lembab, tanaman rambat, pepohonan tinggi dan sesak yang ditemukannya di luar tampak lenyap sama sekali digantikan oleh sebuah lapangan semen datar yang luas dengan beberapa bangunan berukuran sedang yang tampak tertata rapi ditatasnya. Langit yang dihalangi dedaunan lebat di luar, lenyap digantikan oleh atap baja dengan banyak lampu yang menerangi ruangan itu. Inilah markas utama organisasi Dark Phoenix. Organisasi pembunuh bayaran yang berada dalam urutan atas di dunia hitam.

Tak banyak orang yang dapat dijumpai hari ini. Hanya ada sedikit orang yang mengenakan jas lab putih yang tampak berlalu-lalang. Beberapa orang lainnya, yang tampaknya lebih menyukai kaus bernomor mereka dari pada mantel putih panjang, tampak betarung dengan satu sama lainnya. Berusaha meningkatkan kemampuan bertarung mereka.

Seorang peneliti muda membawa sebuah papan file tebal dan berjalan mendekati gadis yang di sebut Alice itu.

“Bisa saya meminta kode nama anda?” tanya peneliti itu.

Alice menatap pria itu tanpa ekspresi. “ALICE” ujarnya datar.

Pemuda itu hanya melirik sekilas kearahnya sebelum kemudian menuliskan sesuatu di atas filenya.

“Kau berada di markas utama, itu artinya kau telah menyelesaikan latihan terakhirmu ...” gumam peneliti itu sebelum kemudian benar-benar menatap gadis yang berdiri di depannya. “Keberatan jika aku memintamu menunjukkan buktinya?” tanya peneliti itu sopan.

Alice menggulung lengan bajunya yang tertutupi oleh darah dan menunjukkan kedua puluh lambang ‘X’ yang telah dikumpulkannya selama di hutan. Peneliti itu kembali menuliskan sesuatu di atas filenya dan kemudian berlalu meninggalkan Alice. Gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya.

Saat kakinya membawanya semakin dekat dengan dengan bangunan yang menjadi tujuannya, lelaki lain yang juga menggunakan jas laboratorium berjalan keluar dari bangunan itu dan berhenti beberapa langkah di depannya.

Kali ini pria yang menghampirinya adalah seseorang yang tampak jauh lebih tua. Rambut berantakannya tampak telah berwarna putih sempurna dan dipotong dengan model yang aneh. Kulitnya pucat. Hidungnya panjang dan bengkok. Sekalipun begitu, hal termencolok dari dirinya adalah matanya.

Pandangannya yang seolah ditutupi cairan perak, tampak seolah menusuk kulitmu, menjalar melalui setiap pembuluh, dan menembus langsung ke jantungmu. Hanya perlu melihat kearahnya sekilas dan kau akan segera teringat akan setiap penyihir jahat yang berada di buku cerita anak-anak, dan membuatmu berdiri terpaku ketakutan di tempatmu.

“Ah, ini dia kelinciku pulang dari perburuannya yang menyenangkan!” sambut pria itu ceria, namun keceriaan itu tak berlangsung lama. Ekspresi kecewa tergambar jelas di wajahnya.

“Kau benar-benar mengecewakanku” ujarnya dengan suara serak yang lebih sering Alice dengar dari seekor gagak.

“Menurut perhitunganku, kau seharusnya bisa kembali lebih cepat dari ini! Sangat disayangkan ...”

Ekspresi Alice seketika menegang. Dia jelas sekali tidak menyukai pria tua itu.

“Profesor Fujimoto ...” ujar Alice datar.

“Yah, paling tidak kau kembali ke tempat ini dalam keadaan utuh. Aku akan sangat sedih jika aku harus kehilangan sampel eksprimen sebaik dirimu ... Ah, asal kau tahu saja, aku sudah meletakkan harapan terbesarku kepadamu begitu aku menyuntikkan kehidupan baru kedalam nadimu, jadi kau sebaiknya tidak mengecewakan aku lagi, kelinci kecilku ... bertahanlah sampai akhir!”

Alice tidak menunggu sampai pria itu berlalu untuk kembali melangkahkan kakinya.

Tidak ingin menghadapi pertemuan yang tak diharapkan lagi, dia memperpanjang langkahanya dan kemudian menghilang di balik pintu gedung yang terletak di paling utara.

Dia tak membiarkan sesuatu apapun mengganggunya dalam mencapai kamarnya. Pakaian berdarahnya mulai terasa tak menyenangkan dan dia ingin segera mandi dan mengganti pakaiannya itu.

Alice tak pernah lengah dalam pertahanannya, tapi pikirannya tetap saja menelannya.

Hari ini adalah hari dimana dia menyelesaikan latihan terakhirnya. Latihan kejam yang benar-benar menguras tenaga dan batinnya.

Lebih dari tiga ratus sampel di lepaskan ke dalam ganasnya hutan amazon dengan mengemban satu perintah.

“Kalian tidak boleh kembali sebelum melenyapkan dua puluh sampel lainnya!”

Semua sampel di divisi ini adalah saudara, teman dan juga kekasih bagi satu sama lainnya. Perintah yang kejam, jika kau adalah manusia biasa, tapi para sampel bukanlah manusia biasa lagi sejak mereka tiba disini hampir enam tahun yang lalu.

Alice mengambil kain basah yang berada di dalam ember di kamarnya, memerasnya, dan mulai menghapus tanda ‘X’ yang melingkari lengan atasnya.

Yang pertama adalah sahabat yang telah dianggapnya saudara, berikutnya adalah partner berlatihnya, selanjutnya adalah teman sekamarnya, sampai yang paling akhir, kekasihnya sendiri.

Alice tidak sedih. Dia sudah memikirkan hal ini begitu dia mendengarkan perintahnya. Dia tidak ingin orang lain menyentuh teman-temannya. Dia ingin dirinya sendirilah yang akan melenyapkan mereka. Dia berhasil.

Alice memasuki kamarnya dan mengunci pintu di belakangnya.
Kamar Alice memang tidak besar, tapi bersih. Kamar itu tidak berubah sejak terakhir ia meninggalkannya. Tak ada benda yang bergeser dari tempatnya, dan itu bagus. Dia tidak suka ada orang lain memasuki kamarnya, selain tentu saja teman sekamarnya sendiri, tapi gadis malang itu sudah tak ada lagi sekarang. Tanda 'x' ketiga yang telah dihapus Alice membuktikan hal itu.

Alice membuka pintu lemarinya untuk mencari pakaian bersih.
Tak ada apa-apa di dalamnya.

Gadis itu mengerutkan dahinya. Seluruh pakaiannya lenyap. Tak ada sehelai pakaian pun tersisa di dalamnya.

Alice menatap sekelilingnya dengan waspada. Pembersih gedung ini tidak mungkin berani menyentuh barang-barangnya. Mereka pernah melakukannya dan mereka harus menghabiskan waktu mereka di ruang kesehatan setelahnya, jadi pasti bukan mereka.

Sesuatu yang kecil dan keras tiba-tiba menghantam bagian belakang kepalanya. Sakit. Alice yakin bagian belakang kepalanya pasti sudah memar sekarang.

Dengan cepat gadis itu berbalik dan menemukan sebuah peluru karet di dekat kakinya. Diameter peluru itu 12.95 mm. Senapan .50 BMG. Ada banyak senapan yang memiliki peluru berdiameter sekian, tapi entah mengapa .50 BMG lah yang terpikir di kepalanya.

Peluru lain melesat cepat dan menghantam bagian belakang kepalanya lagi. Kali ini Alice tak diam saja. Dia menatap sekelilingnya dengan waspada.

Tak ada celah di kamarnya. Kamar itu adalah ruangan tertutup dengan pintu sebagai satu-satunya jalan keluar dan masuk menuju tempat itu.

Alice langsung menatap langit-langit kamarnya. Peluru lain melesat kearahnya dan kali ini gadis itu berhasil menghindarinya.

Alice baru saja akan menerjang kerangkeng yang menutupi jalan udara di langit-langit kamarnya saat kerangkeng itu terjatuh ke bawah dan seorang pria meluncur begitu saja dari lubang anginnya. Jatuh tepat di atas Alice.
Alice langsung memlempar pemuda itu ke arah tembok, tapi dengan mudah pemuda itu bersalto di udara dan mendarat dengan selamat sebelum tubuhnya sempat menghantam dinding. Alice langsung menekan tubuh pemuda itu ke tembok dan mengarahkan pisaunya ke leher pemuda itu.

"Siapa kau?" desis gadis itu dengan nada membunuh.

Pemuda itu hanya memamerkan cengiran tololnya. Rambut pirang ikalnya tampak bergoyang mengikuti gerakannya dan yang paling aneh dari semua itu, pemuda itu menggenakan pakaian yang langsung mengingatkan Alice pada pemandu wisata yang sering menawarkan jasa mereka di Bali. Senapan .50 BMG bersandar kaku di sampingngnya.

Pemuda itu tampak tenang sekalipun Alice menekannya ke dinding. Cengirannya yang menyebalkan semakin lebar.

"Sayang sekali kau tak bisa menghindari dua peluru sebelumnya, tapi apa yang kau lakukan memang tidak mengecewakanku sama sekali, nona Agnes Indrajaja, atau haruskah kusebut sebagai Alice?"

Alice berjengit sejenak mendengar nama aslinya disebut, tapi hal itu sama sekali tak mengalihkan perhatiannya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku ..." desisnya lagi.
Pemuda itu langsung memutar bola matanya.

"Kau memintaku memberitahukan siapa aku, tapi kau menahanku dengan pisaumu itu ... Tak pernah dengar kata tata krama ya?" gerutunya. Alice sama sekali tak terpengaruh.

"Kau yang terlebih dahulu menembakku ... sekarang jawab pertanyaanku atau ..." geraman pelan terdengar dari tenggorokan Alice.

Pemuda itu tertawa. Tawa ringan yang renyah.

"Oh, ayolah, itu kan salam perkenalan!" gurau pemuda itu. Alice mengatupkan rahangnya.

"Aku tak butuh gurauan sampahmu. Cepat beritahu siapa dirimu!" bentak Alice kasar.

Pria itu kembali memutar bola matanya. "Oh, baiklah ... lagipula kita tak punya waktu bayak ..."

Pemuda itu menangkap tangan Alice yang menggenggam pisau, memutarnya sehingga pisau itu jatuh ke lantai, dan kemudian mendorong Alice menjauh darinya.

"Kode namaku Falcon, dan cobalah bayangkan seberapa keren nama itu di telingamu!" pemuda itu kembali tertawa tapi Alice sama sekali tak ikut tertawa.

Gadis itu hanya diam. Pemuda itu memiliki kode nama. Pemuda itu juga salah satu orang dari organisasi.

Senyum pemuda itu semakin lebar. "Kau benar!" serunya ceria. "Aku juga berasal dari Dark Phoenix!" serunya lagi.
Alice kembali berjengit. Pemuda itu menyebutkan nama organisasi mereka dengan terlalu enteng.

"Kau hanya manusia ..." ujar gadis itu kesal. Pemuda itu tidak memakai gelang berangka yang sama dengannya. Itu artinya pemuda itu bukan sampel.

Falcon kembali tertawa. "Apa kau mengira semua orang di organisasi adalah vampirv mutan sepertimu?!" serunya di sela tawanya. "Aku bukan dari divisi V.A.M.P.I.R.E PROJECT, nona ..., aku dari divisi Penembak Jitu!" ujar pemuda itu sambil memainkan .50 BMG-nya.

Alice menatap pemuda itu dengan tajam. "Apa maumu di tempat ini, kalau begitu?" tanyannya di sela geramannya.

Pemuda itu tetap tersenyum. "Tentu saja untuk membawamu pulang, dong! Apa lagi?" seru pemuda itu penuh semangat.
Alice kembali mengerutkan dahinya. "Untuk membawaku, apa?" tanyanya tak percaya.

Falcon mengacak-acak rambut gadis itu. "Membawamu pulang gadis bodoh! Indonesia! Bali! Pulau tropis! Pisang! Kau akan pulang ke Indonesia!!!" seru pemuda itu sambil mencoba menampilkan tarian kecak di depan Alice. Gadis itu hanya mematung.

Hanya sedikit memori tentang negara asalnya yang masih tersisa di kepalanya sekarang., tapi dia tahu, apapun masa lalunya, Alice tidak tertarik untuk kembali mengingatnya.

"Aku tidak akan pergi kemana-mana ..." ujar gadis itu dingin. Falcon langsung memutar bola matanya.

"Ini tugas, gadis bodoh, dan tugas harus dilaksanakan! Kau berada dalam timku dan kita berdua akan segera terbang ke Jakarta! Jet pribadi organisasi telah menunggumu di bandara ... Oh, haruskah aku mengingatkanmu kalau seluruh barang-barangmu telah dikirim terlebih dahulu ke sana?" seru pemuda itu polos. Alice tetap tak bergerak di tempatnya.

"Kau tak boleh meminta penggantian penempatan lho! Pos kita sudah ditetapkan, dan kau tak dapat menggantinya!" seru pemuda itu ceria.

Alice tetap bergeming. Falcon akhirnya menghela nafas panjang.

"Ayo kita pergi ..." dan dengan itu. Pemuda itu menyeret Alice keluar dari kamarnya dan kemudian menutup pintu di belakang mereka.

*To Be Continue*

Read previous post:  
101
points
(772 words) posted by di_immortales 9 years 46 weeks ago
84.1667
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | lain - lain | pembunuh bayaran | vampire
Read next post:  
Writer humerus
humerus at V.A.M.P.I.R.E PROJECT-Mission 1.1 (9 years 22 weeks ago)
90

eeee....... mau bikin lawak ya? kok dikirim ke indonesia sih? jadi inget nichijou yang ada kata "Selamat pagi" padahal itu anime jepang. masalah kalo kamu nulis indonesia adalah akan muncul kalimat besar dalam kepala orang yaitu "TIDAK KEREN!" kecuali kamu sejak dari awal tidak menarget keren2an (ya kalo mau action2an ya jangan indo deh) tapi mau bikin cerita yang menyentuh itu gampang soalnya indo itu ........ (ya kau tau lah).

Writer Riesling
Riesling at V.A.M.P.I.R.E PROJECT-Mission 1.1 (9 years 3 weeks ago)

Si Irene cinta Indonesia.
Saya juga sih.
SIapa bilang di Indo ga bisa bikin action? *WEG*
Sekarang lagi dalam tahap rombak total nih, kak.

70

Hmm, salah tikna buanyaaaaak tuh! Wehehehe... coba diliat lagi deh, rada mengganggu alna... trs beberapa kata tidak baku: dihisap=diisap, dari pada=daripada ^_^
Bbrp pertanyaan dr saya: bangkai hewanna tetep nempel di permukaan tembok? Dan dgn bukti HANYA tanda 'x' yg dibwt Alice di lenganna, ilmuwan yg ngecek percaya klo dy dah nyelesain tugas?

Saya ngerusuh lagi~ dan sepertina bakal terus ngerusuh di sekitar kalian~ khekhekhekhekhe

Hahaha ada yang mo bales dendam ...
Sayang status cerita ini In Hiatus, walopun plotnya ada tapi kami terlalu malas untuk melanjutkannya hehehe

Jawaban no 1.
Yup hewannya masi tetep nempel--kayak nyamuk nempel di raket listrik. Lagian siapa juga yang iseng mau ngebersiinnya, kayak yang ada waktu aja ...

Jawaban ke 2.
Tentu saja percaya, kenapa tidak. Hitung saja berapa sampel yang kembali, dan mereka bakal tau siapa yang ngebohongin mereka--tentu saja para ilmuan itu gak peduli kalau ada para sampelnya yang kerja sama, bagi mereka yang penting jumlah sampel itu berkurang drastis, apapun caranya

DMG: Huweeee... dibilang mo balas dendam tuh~ ><
MIU: *cuek* Kan latar duniana dah canggih tuh, kenapa ga pake alat yg bisa mendeteksi detak jantung az? Dipasang di pergelangan tangan atau leher, jadi klo da yg mati ketauan!
DMG: Eh, iya 'tul juga! Klo gitu ga bisa bo'ong ya!
MIU: Lagian yg namana penelitian jumlah itu PENTING! Terus peneliti kan biasana tipe yg ga bakal percaya sama hal yg ga dy buktikan sendiri, mana bisalah gitu *ngotot*
DMG: *narik" MIU* yaudahlah, MIU... Sbnrna saya jg masih aneh ma cara tandain-sendiri-pake-spidol itu~ tapi yaudahlah teserah pengarangna.
MIU: *masih ngotot* tapi kan!
DMG: MIU, UDAH DEH! DMG's CHOP! *pukulpingsanMIU*
MIU: *pingsan*
DMG: Maap ya, duo di_immortales, komenna jadi panjang gini~ MIU jg ngotot gitu~ maap ya... *jabattangan*
eniwei, ceritana menarik kok, lanjutkan saja! hehehehehe... saya (kami) akan nunggu dengan sabar!

Writer IreneFaye
IreneFaye at V.A.M.P.I.R.E PROJECT-Mission 1.1 (9 years 45 weeks ago)

Hahahaha ...
Oh iya ... ada yang luput dari pandangan kalian ...
Latar cerita ini sama sekali tidak semenakjubkan itu.
Saya hanya mengumpulkan data teknologi sampai tahun ini saja (setahuku yang buat memantau detak jantung jarak jauh itu belum ditemukan deh--ato aku yang kurang informasi(gatek ato kuper nih???))
.
Sekalipun ini fiksi, tapi tahun 2010 yang saya gunakan ini yah tahun ini hehehe (si pemilik ide utama yang menyeret Riesling dalam ceritanya).
Saya banyak meninjau perkembangan dunia bioteknologi zaman sekarang, dan meninjaunya, saya sudah menemukan adanya orang yang mampu membuat struktur dasar manusia yang jika dikembangkan terus, saya tidak kaget jika nantinya orang itu bisa menciptakan manusia buatan, jadi yah saya ciptakan saja tokoh ilmuan gila yang melanggar kode etik seenaknya hanya untuk mencapai tujuan penelitiannya. Saya tidak memasukkan unsur gadget-gadget canggih dalam cerita ini.
Panel pemeriksa sidik jari dan pendeteksi suara zaman sekarang sudah ditemukan (udah agak lama malah), jadi semua teknologi di dalam cerita saya ini tidak dapat dikatakan canggih bener.
.
Pertanyaannya adalah emangnya peneliti itu bakal pusing sendiri kalau para sampelnya kabur? Jawabannya Tidak hahaha. Peneliti itu sama sekali gak peduli, karena peneliti itu percaya bahwa kalau ada sampel yang mencoba kabur, anggota organisasi yang lainnya pasti akan memburunya dan kemudian melenyapkannya (Hukum Dunia Hitam. Jangan biarkan ada informasi yang terbawa keluar, apapun alasannya).
.
Oh iya, soal tanda X itu gak usah dipikirin. Itu hanya ide iseng yang terproduksi secara tiba-tiba aja di otak hehehe ...
DMG bener, suka-suka saya mo bikin caranya gimana. Tapi yang pasti saya membuahkan ide ini, sama sekali bukannnya tak berdasar. Hampir seluruhnya sudah dipikirkan masak-masak hahaha

.

Makasih udah mampir btw!!!

80

Ada salah ketik ("Apa kau mengira semua orang di organisasi adalah vampirv mutan sepertimu?!").

Roman-romannya konspirasi nih...

BTW kalau korban di chapter sebelumnya sama2 sampel, kenapa lemah dan lengah banget ya?

Writer IreneFaye
IreneFaye at V.A.M.P.I.R.E PROJECT-Mission 1.1 (9 years 45 weeks ago)

karena sampel ada yang sempurna dan ada yang gak sempurna hahaha ...
makanya sampelnya dilepas, biar yang kesisa hanya yang dianggap sempurna ...

Eh, iya, typo ya ... hmmm ... akan kami tinjau lagi!

Writer redscreen
redscreen at V.A.M.P.I.R.E PROJECT-Mission 1.1 (9 years 45 weeks ago)
60

ku bayangkan tempat itu sangat besar, dindingnya sangat tinggi?
kalau begitu seandainya di hutan amazon sekalipun tempat itu tak bisa disembunyikan kak,
lagipula hutan amazon itu tak begitu terpencil karena ku dengar sudah banyak ilmuwan kesana dan tentara melatih prajuritnya di sana
kukira para sampel itu sangat kaku dan tidak punya perasaan, ternyata mereka sempat bersahabat dan pacaran juga >v<
oya kak, pertarungan itu setelah alice mandi kan? dia telanjang? 0,o
lalu kalau ku jadi alice ku tak akan seenaknya ikut orang yg baru dikenal kecuali ada perintah dari atasan xp
maaf kalau komentarku kepanjangan kak ^v^

Justru karena banyak ilmuan dan tentara itulah tempat ini tersembunyi ...
Gimana pun juga dunia hitam itu tidak akan pernah benar2 terutupi dari dunia putih, justru anggota dunia putih itulah yang menutupi dunia hitam (paham maksud kami nggak???)

Alice belum sempet mandi. Masih bersimbah darah dan kucel banget. Dan Falcon itu adalah atasannya Alice tepat pada saat itu hehehe

Makasih dah dikomen ... (btw kamu yakin ngemanggil kami dengan sebutan kak?)

Writer redscreen
redscreen at V.A.M.P.I.R.E PROJECT-Mission 1.1 (9 years 45 weeks ago)

eeh, sedikit bingung kak 0,o
ooh, iya kak, karena ku masih kurang pengalaman dalam hal menulis ^v^

60

harus isi komen yaa baru bisa ngepost tulisan? wahaha *newbie

Writer dede
dede at V.A.M.P.I.R.E PROJECT-Mission 1.1 (9 years 45 weeks ago)
80

Terimakasih kembali....^^
umm... Ayo nulis yg banyak... Saia jd pembaca setia... Hehe

Writer cat
cat at V.A.M.P.I.R.E PROJECT-Mission 1.1 (9 years 46 weeks ago)
80

Ada beberapa kata yg terasa tdk pas.
Tp uda keren e.
Sip. Lanj t

100

Kami terharu T_T

Kami benar-benar tak menyangka kalau prolog cerita ini akan mendapatkan sambutan hangat dari para kemudianers ... (membungkuk dalam-dalam berdua).

Terima kasih kepada Kumiiko_chan, rain, peranita, duniamimpigie, dede, cyber_nana, Midori_Fukuro dan redscreen yang maun menyempatkan waktu untuk membaca dan meninggalkan komentar di prolog cerita kami.

Kami benar-benar berterima kasih!!!