Di Atas Atap, Di Bawah Langit (1)

HELP!

Januari 2008,

Entah sudah berapa ribu cerita yang dimulai dengan cuaca. Dan rasanya basi juga untuk menyebut bahwa di Bogor turun hujan tengah hari itu.

Namun jika ternyata memang sekarang turun hujan deras, Barry tidak bisa membantah. Lebih parah, ia terjebak di dalam mobil sedan tuanya di tengah antrian panjang kendaraan yang sudah jadi langganan jika hujan turun di kota itu.

Pasrah, Barry hanya bisa menunggu mobil-mobil di depannya berjalan sedikit-sedikit. Dalam hati bingung juga, kok mau-maunya diperbudak untuk jauh-jauh menyetir mobil di tengah badai model begini oleh seorang manusia tukang menyusahkan. Harusnya di hari libur yang dingin begini ia bisa tidur-tiduran di rumah sambil menonton televisi atau membaca. Ia pun jadi teringat buku Fisikanya yang tergeletak di ranjang. Besok ulangan dan ia sama sekali belum belajar.

Tetes-tetes air terus menghujam badan dan kaca-kaca mobil itu. Barry membesarkan volume CD playernya, membiarkan suara John Lennon dan kawan-kawan mengalahkan suara air di luar.

Help me if you can, I'm feeling down
And I do appreciate you being 'round.

Cowok itu mengetuk-ngetukkan jarinya mengikuti irama sembari membayangkan wajah orang yang akan ditemuinya tak berapa lama lagi, orang yang beberapa saat yang lalu merengek seakan minta diselamatkan. Barry sudah tidak bisa menghitung untuk yang keberapa kali.

Help me get my feet back on the ground,
Won't you please, please help me?

Barry menarik nafas lega ketika akhirnya antrian mobil itu mulai bergerak lebih cepat.

Yes, stupid, I’m gonna help you, ia membatin seraya menekan pedal gas.

---

Atya menguap. Udara hari ini agak lebih dingin dari biasanya dan ia menyesal sok-sokan menolak untuk tidak mengambil sweaternya dulu sebelum berangkat. Lagipula, siapa yang menyangka di hari yang agak menyebalkan ini ia akan ‘diculik’ paksa keluar rumah?

Resto di daerah Pangrango itu dipenuhi orang. Suara-suara ocehan, tawa, denting peralatan makan, dan musik bercampur aduk dalam kepalanya membuat Atya pusing. Daritadi pun ia hanya minum segelas teh madu dan tidak mau memesan makanan. Ia ingin cepat-cepat pulang.

Tetapi sepertinya Ronald, orang yang duduk tepat di hadapannya itu, tidak berminat sama sekali membiarkan Atya buru-buru pergi meski sejak pertama kali datang mereka nyaris tidak saling bicara. Ia cuma mengawasi cewek itu duduk, melempar pandang keluar, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, memainkan ponsel, hingga menghancurkan potongan jeruk lemon dalam gelasnya dengan sendok pengaduk.

“Kenapa sih kamu gak mau angkat telpon?” Ronald buka suara juga tepat setelah Atya membuat perahu dari kertas tisu saking bosannya.

“Apa?” sahut Atya tanpa menoleh.

“Dari kemarin-kemarin setiap aku telpon kamu nggak mau angkat. Sms juga nggak bales. Di sekolah lari-lari melulu tiap ketemu. Kamu lagi ngehindarin aku?”

“Hm…enggak juga.”

“Terus?” Cowok berkulit putih berpotongan rambut pendek agak ikal itu mengerutkan kening. Matanya menatap Atya penuh selidik.

“Nggak kenapa-kenapa kok,” Atya masih berkeras. Nadanya datar, menyiratkan agar pembicaraan itu segera disudahi.

“Kamu maunya apa sih?” Ronald sudah mulai kehilangan kesabaran.
Sebentar tak ada jawaban. Atya meletakkan perahu kertasnya di atas meja, di samping gelas tehnya yang sudah hampir kosong, lalu kembali melihat ke halaman parkir resto itu. Sekilas senyum muncul di bibirnya saat ia menangkap sosok di dalam mobil bercat abu-abu tua yang baru saja memasuki area rumah makan.

“Gua mau pulang, deh. Besok kan ulangan, gua belom belajar,” ucap Atya yang tanpa basi-basi lagi langsung meraih tasnya lalu bangkit, bersiap pergi.

Ronald menarik nafas kesal. Ia memandang Atya tajam, tetapi tidak beranjak sedikitpun dari kursinya. Ia juga sudah menangkap bayangan mobil barusan dan tiba-tiba merasa tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan.

“Kalo lu mau putus, kita putus ajalah!” kata Ronald dengan nada yang meninggi.

“Ya…oke.” Atya mengangguk-angguk sembari tersenyum tentatif sementara ekspresi Ronald sudah seperti mau minum Baygon. Walaupun kata ‘putus’ itu keluar dari mulutnya sendiri, entah kenapa justru Atya yang sepertinya sudah menjatuhkan semacam bom atom untuk dirinya. Baru kali ini ada cewek yang sepertinya tidak perlu pertimbangan lama-lama ketika kata itu terucap.

Tak jauh dari situ, Barry menunggu dengan kepala terkulai ke roda kemudi dengan mesin mobil masih menyala. Ia baru tersadar ketika akhirnya pintu sebelah kirinya terbuka dan seorang cewek dengan t-shirt Jimi Hendrix yang sudah agak belel menghempaskan diri ke kursi sampingnya.

“Yuk!” kata Atya, memukul dasbor seakan ingin cepat-cepat melarikan diri dari tempat itu.

“Jadi sekarang mau ke mana?”

“Pulang! Lu bakal gua traktir!”

“Indomie rebus?”

Iiiiii should have known better with a girl like you!” Sambil cengar-cengir, Atya malah ikut bernyanyi dengan The Beatles yang mengalun keras di dalam mobil itu. “That I would love everything that you do.. And I do, hey hey hey! And I dooo…

Barry menaikkan alis, melirik Atya dengan tatapan iblis dan baru tersenyum setelah kecupan singkat mendarat di sebelah pipinya. “Thank you for saving me, Bar,” kata Atya sembari nyengir lebih lebar, “Now let’s go, Spiderman!”

Whatever, Mary Jane...

Mereka pun segera meluncur di jalanan.

(to be continued)

Read previous post:  
Read next post:  
50

Enjoy. Saya membacanya sampe akhir, & cerpen ini menghipnotis untuk terus merampungkan paragraf demi paragraf hingga akhir. Pembukaan di suguhkan dengan kalimat 'basi' namun penuh kemasan daur ulang — jika di jual — penuh nilai jual. Ok. Kreatif,
Kalo nggk baca adegan jelous nya ronald, saya pikir ini pure bergenre romance. Ternyata begitu dia mengungkapkan tentang kejadian di sekolah; saling menghindar, telpon tak di angkat. Saya setuju sama Atya mungkin lagi nggk punya pulsa kalo sms nggk di bales, buktinya waktu cowoknya ngajak putus dia tersenyum tentatif.
Saya baru 'ngeh' kalo Cerpen ini Teen. Romance!

Writer Sagi_Tarius
Sagi_Tarius at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (1) (10 years 19 weeks ago)
100

COOL!!

hers at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (1) (10 years 20 weeks ago)
90

cerita menarik dengan penggalan lirik The Beatles nya.
Seperti yang mereka bilang "Word are flying out like endless rain into a papper cup ..." (Beatles-Accross a universe)

salloom!!

Mampir dan cacilah aku!

sementara crita msh berlanjut..

gue suka bgt dgn judulnya.....
roman bgt..

mampir yah ke halamanku juga

Writer elbintang
elbintang at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (1) (10 years 43 weeks ago)
80

Bakal make 2 sudut pandang utama? Smg novelnya bisa bikin twist seger di part akhirnya.

Gw suka gak baca sejenis Manolo dkk di sini^^

eh sebelumnya ada crita yg ngerokok di atap itu bukan, ya?

Enggk, versi novel cukup 1 POV orang ketiga.Hehehe.
Betul betul... tapi itu cuma cerita pelengkap aja.
Btw, cerita sejenis Manolo itu apa ya? hehe.

Writer suararaa
suararaa at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (1) (10 years 43 weeks ago)
70

jadi...
apakah atya itu selingkuh...?
(dtunggu lanjutannya ya)