Di Atas Atap, Di Bawah Langit (2)

Satu Barry, Satu Atya

Kata orang, hanya ada satu Barry untuk Atya, dan satu Atya untuk Barry. Karena buat mereka, sepertinya tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berdua. Setidaknya begitulah komentar kebanyakan orang ketika melihat mereka bersama.

Berdua, mereka seakan punya orbit sendiri. Tidak terlalu menonjol, tetapi tidak terlalu terasing. Cukup bagi orang lain untuk masuk dan melihat-lihat, meski tidak terlalu dalam.

Mereka seperti sepasang sahabat lama yang tidak pernah kesulitan untuk menikmati waktu bersama. Duduk di pojok kelas atau tangga sambil membuka buku-buku karangan Haruki Murami, menyumpal telinga dengan earphone iPod, mendiskusikan teori reinkarnasi, atau bahkan bermain halma. Menyelinap di sela-sela waktu kosong untuk tidur di klinik sampai kabur sejenak ke pasar loak di gang belakang sekolah.

Orang kadang tak menyangka jika mereka baru benar-benar saling mengenal ketika baru masuk SMA. Keduanya masih ingat betul hari itu. Satu hari di bulan Juli yang cerah dan berangin.

Barry duduk di deret paling belakang, sendirian, sementara Atya tepat di depannya. Waktu itu jam pelajaran pertama dan keduanya sama sekali belum pernah saling bicara. Hingga akhirnya Atya merasakan satu ketukan di bahunya.

“Punya isi pensil?” Itulah kalimat pertama yang diucapkan Barry ketika Atya menoleh ke belakang.

Atya tak langsung menyahut. Diamatinya sosok rekan sekelas barunya itu sejenak. Rambut cepak, kulit kecokelatan, nyengir sambil menunjukkan pensil mekaniknya yang sepertinya kosong.

“Eh…belom kenalan. Gua Barry,” cowok itu buru-buru mengulurkan tangan. Agak salah tingkah karena Atya masih memandanginya dengan tatapan aneh.

“Atya,” sahut Atya singkat. Ia menyambut tangan Barry sebentar, lalu kembali memalingkan wajahnya ke depan.

Soal pensil pun terlupakan. Mereka tidak bicara lagi sepanjang siang itu.

Keduanya sekan baru benar-benar bertemu siang menjelang sore di hari yang sama. Ketika Barry berada di lapangan parkir sekolah, bersiap pulang dengan mobilnya. Ia sedang membersihkan daun-daun kering yang menempel di kaca depan saat sosok berambut pendek sebahu, kurus, dengan ransel biru melintas. Ia berdiri tak jauh dari Barry dan mobilnya, mengawasi lekat-lekat.

“Itu DX kan?”

Barry spontan menoleh. “Ya…” jawabnya sambil tersenyum kecil.

“81?”

“82. Lampunya lebih lebar. Liat?” Barry menepuk kap sedan abu-abunya perlahan. Sosok itu mulai berjalan mendekat.

“Gua suka ini. Gua pernah pake yang taun 80. Cool car!”

Senyum Barry semakin lebar. Mendadak merasa kagum ada cewek yang tahu mobilnya.

Ia dan Atya berpandangan. Untuk pertama kalinya di dunia, keduanya tahu mereka akan menjadi teman—saat itu juga.

---

Juli 2006,

“Barito? Kayak nama apa ya?”

“Sungai!”

“Oh, bener, sungai! Di Sulawesi kan?”

Barry memicingkan matanya, menatap Atya yang entah kenapa serius sekali memeriksa halaman depan buku teksnya.

“Barito di Kalimantaaan!” ujar Barry gemas sementara Atya langsung meledak tertawa.

“Ah, iya!” Atya menepuk dahinya. “Alaaah, beda-beda dikit! Sulawesi sama Kalimantan kan dekeeet…”

Barry menggeleng-gelengkan kepala. Ia dan Atya sedang berada di sudut kafetaria sekolah. Menghabiskan waktu istirahat sembari iseng-iseng membaca buku teks untuk pelajaran berikutnya, meski sepertinya Atya malah lebih tertarik dengan nama panjang Barry yang terpampang pada bukunya.

“Hm… Barito Arnan. Lucu juga,” ucap Atya, menutup buku yang barusan dipegangnya di atas meja. Kontras dengan meja-meja di sekeliling mereka, meja Barry dan Atya nampak kosong selain oleh dua buku yang mereka bawa. Membuat keduanya sesekali dilirik keji oleh orang-orang yang melintas dengan piring-piring dan mangkuk penuh makanan tetapi tidak kebagian tempat di ruangan itu.

”Tapi kenapa harus Barito? Lu lahir di Kalimantan?” sambung Atya, tidak memperhatikan sama sekali keadaan kafetaria yang semakin penuh dan ramai.

“Pertanyaan bagus. Sayangnya enggak. Sebaiknya lu nanya bokap gua. Gua juga nggak ngerti,” jawab Barry jujur. Ia memang tidak pernah menanyakan asal-usul namanya kepada orangtuanya dan sepertinya tidak terlalu berminat. Ia meraih buku milik Atya yang bersisian dengan miliknya, lalu mulai membaca label nama yang tertempel di sampul depan. “Elu sendiri… Atyasa Dasha. Artinya apa?”

“Kuat…”

“Apa?”

“Atyasa artinya ‘kuat’..”

Barry menarik senyumnya perlahan. Sejak kejadian di lapangan parkir sore kemarin, ia jadi sangat penasaran pada orang satu ini. Jarang ada cewek yang tertarik pada mobilnya, Corolla DX keluaran tahun 82. Jangankan tertarik, ia hampir tidak pernah menemukan cewek yang bisa dengan benar menebak model mobil sampai ke tahunnya. Bahkan cewek paling tomboy yang pernah ia kenal sekalipun.

Sementara Atya, lebih mirip model cewek androgini yang tidak terlalu feminin, juga tidak terlalu berantakan. Tetapi cukup untuk membuat Barry tertarik—setidaknya sejauh ini.

“Lalu, apakah elu se'kuat' nama lu?” tanyanya kemudian.

“Apakah gua terlihat seperti Samson?”

“Kalo gendutan dikit, iya.”

Barry nyaris menjerit ketika cubitan nyelekit itu sekonyong-konyong menyerang lengannya. Sementara Atya malah cekakak-cekikik lagi, menyembunyikan wajah di balik buku Fisika untuk kelas X jilid A-nya.

“Argh…apaan tuh?!” Barry meringis. “Lu…oww…sakit banget, njrit.”

“Gua cuma ngetes. Ternyata lu gak kuat cubitan juga. Itu masih level satu loh!”

“Apaan level satu, hah?! Gua mending digigit domba daripada dicubit kayak tadi!”

“Mana ada domba ngigit?” Atya terus tertawa lepas.

I hate you…” Barry bergumam, memonyongkan bibirnya. Tidak menyangka dari tubuh cewek secungkring itu bisa keluar cubitan sedashyat tadi.

“Aneh. Padahal gua mulai suka sama lu…” Sambil melipat tangan di depan dada, Atya nyengir.

“Ah, gua udah tau.”

“Tau apanya?”

“Kalo lu pasti suka sama gua.” Gantian Barry yang nyengir kuda. “Orang-orang kan sering bilang gua ganteng. Jadi yah… Sebetulnya gua berharap supaya lu nggak suka sama gua.”

“Wah, telat dong. Gua udah kepalang suka sama lu.”

“Ya, iya…”

“Tapi kayaknya gua juga mau minta tolong…”

Barry menaikkan alis. “Apa?”

“Lu juga tolong jangan balik suka sama gua ya!” Atya berkata penuh percaya diri.

Keduanya langsung tergelak. Barry menggelengkan kepalanya lagi. Ia menopang dagu, memandangi kedua mata bulat dan besar milik figur yang sekilas mengingatkannya akan Zooey Deschanel—minus kulit putih dan rambut panjangnya—itu.

“Sayang, lu juga udah telat,” ucapnya kemudian.

“Kenapa?” Dengan kening berkerut antara ingin tahu dan menantang, Atya memajukan tubuhnya, menatap orang di hadapannya sedekat mungkin.

“Gua juga udah suka sama lu…” Barry menyunggingkan senyum tipis khasnya.

Sejak saat itu, keduanya tidak terpisahkan.

(To be continued)

Read previous post:  
39
points
(832 words) posted by me_everywhere 11 years 9 weeks ago
65
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | Barry & Atya | Cinta | me_everywhere | percobaan
Read next post:  
40

Lagi-lagi menciptakan kedekatan ketika saya membacanya. Seolah di setting 'cafetaria' justru saya yg celingukan bawa sepiring gado-gado menyapu pandangan. Ternyata di sekeliling penuh, sekalinya ada meja dan tempet duduk kosong justru terdapat dua insan yg sedang mengobrol intens. Apakah saya tidak mengganggu jika duduk ikut bergabung di sebelah mereka?
Pikiran itu membuat saya tak enak hati, sehingga melayangkan tatapan keji ke meja Barry & Atya. Hee.. Hee.. Hee..
Ceritanya catchy. Tapi judulnya terlalu berat, btw oke B.G.T.

Writer Sagi_Tarius
Sagi_Tarius at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (2) (10 years 37 weeks ago)
100

COOL!!

Writer naura
naura at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (2) (11 years 9 weeks ago)
80

Waaah sejauh ini seru ya, tak terasa sdh slsai mmbaca tulisannya... Sambungannya jgn pake lama ya...

80

wah~~
keren, keren, keren^^

Writer suararaa
suararaa at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (2) (11 years 9 weeks ago)
70

jdi mereka sobatan ya...
hmm apakah sobatan itu akan berujung pd cinta..? :)
(ditunggu lanjutanny)

asik juga cerita ini