SPW (Stop Pelecehan Wanita) Cerita Pertama : Mimpi buruk dalam sosok dia.

Cerita 1 : Mimpi buruk dalam sosok dia.

Pukul enam kurang lima menit, dan Nata belum selesai menyelesaikan riasan wajah kliennya. Mempelai wanita itu harus tampil sesempurna mungkin. Sebuah mahkota kecil diletakkan di atas sanggul, dan selesailah tugasnya. Nata menatap kliennya dengan senyum puas. Yup, mempelai wanita ini akan menjadi pusat perhatian, menjadi Ratu sehari dan semoga saja dia akan menjadi istri yang bahagia bersama pasangannya selamanya.

Nata menerima panggilan di telepon genggamnya, “mempelai prianya sudah siap?” Nata segera memerintahkan beberapa anggota keluarga besar mempelai wanita untuk segera bersiap-siap.

Ternyata mengurus pernikahan bukan perkerjaan yang mudah. Renata Tan sudah menjalani semua proses ini selama dua tahun ini, namun nyatanya dia masih sering merasa stres dengan kesibukan yang mengharuskan kesempurnaan dan ketelitian ini.

Nata, begitulah dia biasa dipanggil. Baru satu tahun ini dia memberanikan diri membuka usaha Bridal, wedding organizer setelah menyelesaikan pendidikan kecantikan dan tata rias wajah dan rambut di salah satu sekolah kecantikan di ibu kota. Selama masih menjalani pendidikan Nata juga bekerja di salah satu Wedding Organizer yang cukup terkenal. Dari sana dia memperoleh, atau lebih tepatnya mencuri ilmu yang sangat berguna dalam mengelola usahanya.

Usia Renata dua puluh lima tahun dan kehidupan menempa dia menjadi terlalu dewasa. Dia harus mengantikan posisi Mama-nya yang pergi untuk bekerja di luar negeri sebagai TKW yang berakhir sebagai istri dari seorang duda di negeri sana.

Sedangkan Papanya, juga bukan orang tua yang bisa diandalkan. Dia lebih memilih meninggalkan Nata dan Rosemarry, adiknya Renata pada adik perempuannya yang kebetulan tidak mau menikah. Tante Lisa tidak pernah memperlakukan mereka dengan jahat. Hanya saja dia tidak pernah menjadi seorang ibu, makanya dia tidak pernah mengerti caranya.

Dari Tante Lisa lah Nata belajar menata rambut selama membantu di salon milik Tante Lisa. Setelah tamat SMA Nata memutuskan untuk menekuninya dan mengunakan semua tabungannya untuk memperdalam ilmunya.

Nata tersadar dari lamunannya saat Tanya, asistennya meyerahkan berkas-berkas yang harus dia tanda tangani. Dia harus kembali menjadi Renata Tan yang ceria dan cerewet, bukan Rena kecil yang kadang menangis dikala sendiri.

Sepertinya semua acara pada hari ini telah selesai. Nata menyelesaikan semuanya dan segera menuju tempat parkir. Dia ingin pulang dan segera mandi air hangat.

Baru saja Nata hendak masuk ke dalam mobil tuanya, seorang pria yang sangat Nata kenal menghampirinya, “Renata, terima kasih atas kerja sama yang indah hari ini,” Nata membalas dengan senyuman professional yang manis.

“Pak John, saya yang harus berterima kasih karena telah mendapatkan diskon dari anda,” Nata masih berusaha menampilkan wajah yang manis saat pria tua itu mulai menyentuh tangannya.
Ingat dia adalah salah satu pemilik restoran dan hotel yang memberikan diskon besar untuk Bridalmu. Berulang kali Nata mengucapkan mantra kecil itu.

Namun saat tangan pria itu mulai meraba makin naik. Nata mulai merasakan emosinya semakin sulit ditahan. Nata menahan tangan itu dan memberikan sedikit cengkraman dengan kuku-kuku panjangnya. Pak John terkejut dan menarik telapak tangannya.

“Sepertinya sudah terlalu malam, saya harus segera pulang dan menyelesaikan berkas-berkas ini,” Nata menunjuk pada map kertas yang dibawanya. Dia segera masuk dan menutup pintu tanpa mendengar kata-kata manis nan memuakkan dari Pak John.

Badannya lelah dan benar-benar membutuhkan kasur kesayangannya. Namun bayangan tangan pak John yang menjijikan membuat dia berkeringat dingin. Dia pernah mengalami beberapa kali kasus pelecehan seperti itu. Dulu dia tidak akan segan-segan menghajar semua orang yang menganggunya. Namun saat ini reputasi dan jalinan relasi yang baik membuat Nata harus ekstra dalam menahan emosi serta kepalan tinjunya.

Nata tidak pernah menjadi anak manis. Dia kadang suka berulah, sesekali membuat tantenya berurusan dengan pihak sekoah. Nata selalu berusaha menjaga Rose, adiknya yang manis dan baik hati itu. Mungkin dia terlalu menjaga, sehingga membuat Rose sulit bergerak.

Saat ini Rose memilih kembali ke kota kelahiran mereka, Pontianak. Sedangkan Nata tetap di Jakarta untuk melanjutkan usahanya.

===

“Klien baru?” tanya Nata saat Tanya menyerahkan sebuah kertas berisi janji temu dengan pasangan muda yang akan menikah.
“Yup, sepertinya orang tua mempelai pria juga akan datang untuk merecoki mereka saat menentukan pilihan,” seperti biasa Tanya tidak terlalu suka jika orang tua mempelai ikut campur dalam pengambilan keputusan.

“Biarkan saja, siapa tahu kali ini kita tidak akan menghadapi orang tua super cerewet lagi,” aku tertawa dan melempar kertas itu ke arah Tanya.
“Kapan? Kapan kamu pernah menemukan orang tua yang tidak cerewet. Ah, diriku lupa. Kamu membela dirimu sendiri bukan?” Tanya tersenyum mengejek.
“Oh! Jadi bagimu aku orang tua nan cerewet?” segera saja aku mempraktekkan jurus karate yang kupelajari dulu, mengunci gerakan lawan. Tanya berteriak kesakitan dan memohon ampun. Dengan senyum penuh kemenangan aku meninggalkan dia yang sibuk mengelus lengannya.

“Silahkan masuk,” aku mempersilahkan masuk kedua mempelai. Calon mempelai pria memperkenalkan dirinya sebagai Severin seorang guru di salah satu sekolah swasta. Sedangkan calon mempelai wanita, bernama Melina. Mahasiswi jurusan kedokteran.

Otakku seakan disambar kilat saat orang tua mempelai pria yang baru saja tiba memasuki ruanganku. Tatapan mataku seakan ingin menghujam dengan ribuan pisau. Tanya segera berdehem beberapa kali sebelum akhirnya membuka mulut dan berbicara dengan keras. “Kenalkan ini Pak Badrul dan istrinya Ibu Liliana, itu lho pemilik Language Collage yang di pusat kota itu, Nata,”

Aku berusaha kembali menjadi Renata Tan yang professional, walau sesekali aku ingin menghujam pria itu dengan pisau buah yang berada hanya setengah meter dari tanganku. “Silahkan duduk,”
“Apakah kamu gila? Memilih bridal sekecil ini untuk menangani pesta pernikahanmu?” teriak Pak Badrul. Aku berusaha tersenyum, di kepalaku berkelebat berbagai rencana untuk membunuhnya, mulai dari membakar, memancung kepala bahkan menenggelamkan di dasar lautan.

“Walaupun WO dan bridal kami ini masih baru dan kecil, tapi kami bisa jamin kami melakukan pekerjaan dengan profesional dan efisien. Bahkan semua klien puas dengan hasil kerja kami. Anda dapat menghubungi beberapa klien kami untuk,”

Belum selesai aku menjelaskan. Pak tua brengsek itu kembali mengoceh, “Tentu saja mereka puas, mereka tidak membuat acara sebesar acara kami,”
“Sayang, cari WO lain saja,” Melina mulai membujuk calon suaminya.

“JIka anda mau memakai WO yang lain silahkan. Saya bisa memberikan beberapa referensi WO yang bagus,” Tanya menatapku dengan pandangan marah, matanya seakan mengatakan bahwa aku sudah gila, menolak klien sebesar ini.

Tapi terus terang aku tidak mampu menerima pria tua itu. Aku ingat dia adalah guru bahasa di SMP tempat ku pernah bersekolah dulu. Dia guru yang sangat hebat, itu menurut semua orang tua murid. Mereka bahkan tidak pernah tahu, atau tidak mau percaya bahwa Pak tua ini melakukan pelecehan terhadap murid-muridnya.

Aku adalah salah satu korbannya. Sikapku yang nakal sewaktu sekolah membuat aku dicap biang ribut. Sering kali aku membuat masalah dan mendapatkan hukuman. Mulai dari membersihkan WC sampai menulis seratus lembar kalimat penyesalan.

Namun hukuman darinya yang paling tidak dapat kuterima. Bayangkan saja karena aku menyobek kertas ulanganku yang mendapat nilai empat di depan mukanya. Dia memukuli pantatku dengan tangannya, di hadapan semua teman-teman sekelasku.Dan saat itu aku telah berusia empat belas tahun, sudah tidak seharusnya dihukum dengan pukulan seperti itu.

Tapi pernahkah mereka tahu bahwa bukan hanya pukulan yang kuterima, tapi remasan-remasan yang menjijikan juga dilakukannya. Tangannya juga semakin mengarah ke bagian terlarang.

Saat aku mengadukan kepada Guru BP, mereka tidak mempercayai biang ribut sepertiku. Bahkan aku dijatuhi hukuman skrosing selama satu minggu karena berusaha mencemarkan nama baik guruku.

Sebelumnya memang dia sering memberikan hukuman-hukuman yang aneh. Misalnya bila kami salah menjawab pertanyaan dia akan mencubiti bagian di bawah ketiak yang mendekati payudara atau paha bagian dalam. Namun, semua tidak berani berkata apapun.

Bagiku kehidupanku selama menjalani pendidikan di SMP itu bagaikan neraka. Berkali-kali aku meminta Tante Lisa untuk pindah sekolah, namun biaya menjadi kendalanya.

Dendamku masih terasa hingga saat ini. Aku tidak ingin berurusan dengan guru mesum ini lagi. Dari semua guru yang kutemui, hanya dia yang tidak layak disebut sebagai guru.

“Aku mau pakai WO dan Bridal ini atau tidak ada pesta sama sekali,” ucap calon mempelai pria tegas.
Aku tidak bermasalah dengannya, tapi Ayahnya yang membuat aku muak. Bagaimana mungkin aku bisa berdiri di dekatnya saat bertugas nanti. Mendengar suaranya saja aku muak.

Namun otakku berputar dengan cepat. Siapa tahu aku dapat mencari celah dan membalaskan dendamku. Setidaknya melayangkan satu buah bogem ke mukanya cukup membuatku senang. Segera saja aku kembali memasang tampang manis nan professional. Aku mulai memperlihatkan contoh-contoh gaun pengantin dan undangan.

Hari yang melelahkan kembali ku lewati. Malam ini aku tidak ingin tidur awal. Aku yakin saat menutup mata, mimpim buruk itu akan kembali datang. mimpi buruk itu datang dalam sosoknya, seorang yang seharusnya menjadi panutan.

Jadi kunyalakan laptop kesayangan dengan skin laptop dan mouse pad bergambar kucing animasi yang lucu.

Aku mulai mengupdate satus facebook-ku, “Dendamku pada penjahat mesum itu harus terbalaskan”
Tidak berapa lama, lima komentar telah masuk. Aku menatap salah satu komentar yang membuatku sangat terkesan.

Aku memutuskan untuk mengajaknya chat. Sepertinya aku lupa siapa gadis yang mengomentari statusku. Entah sejak kapan dia telah masuk dalam daftar temanku.

Ternyata kami memiliki satu kesamaan. Sama-sama menaruh dendam pada pelaku pelecehan dan ingin membalas perbuatan mereka.

Tsurayya, begitu namanya. Dan kami berjanji akan bertemu di café yang terletak di samping kantorku. Sepertinya aku tidak sabar untuk bertemu dengannya besok. Malam ini aku menutup laptopku, sebelumnya aku sempat menuliskan “Hope I can be a super woman”

====

cerita ini akan dilanjutkan oleh Aimie Keiko. So untuk Kumiko_Chan harap bersabar yah. Postingan kamu berikutnya setelah Ai posting.

nanti baru ditentukan bersama lagi jalan cerita berikutnya.

Read previous post:  
Read next post:  
80

iuhhhh ... temenku juga pernah ngalamin

80

Waktu SMP dulu saya jg pernah punya guru yang seperti itu. Memang menjengkelkan, bahkan bagi saya yg lelaki sekalipun. Untungnya si guru itu akhirnya dipecat juga. haha.

BTW ini pemilihan tema yang sangat menarik, dan bisa jadi cerita yg mampu menggiring emosi pembaca. Ada beberapa kesalahan ejaan, bisa cari sendiri, yang penting penceritaannya udah enak.

thx sudah singgah Vai. he5 .. tema ini emang da lama mau ku tulis, cuma baru dapat nemuin tim kolab yg pas he5 .. baru jalan deh

100

Tokoh Renata Tan-nya menarik, Kak.
Apa lagi pas tau dulu dia jagoan, hahaha.
.
Anyway, seperti biasa, ceritanya mengalir, Kak.
Temanya juga beda.
.
Tapi, saya agak bingung di sini

Quote:
“JIka anda mau memakai WO yang lain silahkan. Saya bisa memberikan beberapa referensi WO yang bagus,” Tanya menatapku dengan pandangan marah, matanya seakan mengatakan bahwa aku sudah gila, menolak klien sebesar ini.

Saya pikir tadinya Tanya yang bicara, rupanya Renata. Ada baiknya kalau kakak pisahkan jadi dua kalimat. :)
.
Segitu aja, Kak, saya mau baca lanjutannya dulu, ya. hehehe...

100

ahihihihi

Hihihi, virus baru wkwkwk

Hihihi, virus baru wkwkwk

mimpim buruk itu akan kembali datang tulisan pada bagian mimpi itu salah kok jadi mimpim sich jadi aneh sorry kalau mba Catz tersinggung ya.

bagian mananya sayang??

senangnya ada yg memperhatikan he5

diriku tidak akan tersinggung kok, kan aku yg meminta di caci maki wkwk *peace.

70

Ini WOW :)
Terima kasih sudah mau berbagi dan mengilhami
Menarik

100

ahahahahak....
.
Wah, gawats! Semoga tidak ada yang ampe sedendam itu padaku. Tetapi aku ndak pernah melakukan Pelecehan Seksual lhow. Kalo merobek-robek tirai hati wanita emang kerjaan. Ahahahaha.
.
Tapi sekarang udah berhenti siy.
.
Ah, mau lanjut.... Semoga ndak ketemu mimpi buruk. Ingat masalalu, kekna banyak yang nyumpahin.
.
Ada part yang njadiin cew sbg taruhan gak yak?
.
Ah, baca lagi....

80

keyeeennn deeehh..
aku tadi baca punyanya aimie dulu, ternyata sudah ada previous post nya..
aku suka.. ayo tunjukkan girl power.. hehe..

Show girls power , he5 tp diriku uda woman wkwkwk.
Mari bikin crt untk menghentikan pelecehan wanita.

80

mmmmm
menarik....
cerita kolaborasi yaK?
ditunggu lanjutan kolaborasi na....
pengen ikutan sih...
tp takut malah menghancurkan cerita aja
wkwkwkwkwk

90

uhuy..
boleh saia bantu bunuh Pak Badrul?
*siap2 mo ambil keris, rudal, bazoka, rautan pensil, bulu ayam, kapak, linggis, bensin, korek api, dll, dst, dsb, dkk*

Majnun, tuh rautan pensil ma bulu ayam senjata yg paling mematikan yak wkwkwk.
Mari2 . . .

100

Aih.. aihh, sudah posting aja... hebat lah :D :D
ai binun melanjutkannya bagaimana.. :hammer:

umm, Ka Catz..

--

“Klien baru?” tanya Nata saat Tanya menyerahkan sebuah kertas berisi janji temu dengan pasangan muda yang akan menikah.

“Yup, sepertinya orang tua mempelai pria juga akan datang untuk merecoki mereka saat menentukan pilihan,” seperti biasa Tanya tidak terlalu suka jika orang tua mempelai ikut campur dalam pengambilan keputusan.

“Biarkan saja, siapa tahu kali ini kita tidak akan menghadapi orang tua super cerewet lagi,” aku tertawa dan melempar kertas itu ke arah Tanya.

----
coba Ka Catz perhatikan lagi kalimatnya.. ada yang rancu ndak yah? apa Ai yang oneng... hmm

Ai rancunya dimana yak? Cat bingung . . . Hikz. . .

100

Kakakk... saya ga pede...:'(
tapi saya setuju kalo Renata mau hajar pak tua, saya bantu tembak headshot, hihihi

Ha5, hajar tinju banting wkwk.
Pasti bisa. Cia you!

90

mantabs...

membacanya jadi seru :D

SPW yak?

ahak hak hak

Hak hak hak, msh judul sementara. Mungkin sharingnya di ganti jd STOP. Wkwk.
Om chi yg cantix mau iktan estafet ini wkwk.

Ka Catz kereeeeeeeen

LOVE

Ai muach muach muach wkwkwk *jijik wuek wuekz wuekz ha5
Biang rusuh berkumpul

90

ow... Nana pikir smua pelaku PS-nya sama..
Oya, k Cat., knp POV-nya ga dikonsisten-in aja??

Masih di godok rame2.
Msh pembukaan. Mg2 pembukaan nya cukup membuat mata dan hati penasaran.

tenang,, sejauh yg Nana liat di sini kayaknya belom ada yang ngangkat tema begini.. hahaha..

tenang,, sejauh yg Nana liat di sini kayaknya belom ada yang ngangkat tema begini.. hahaha..

He5 tenang tenang tenang.

90

ow... Nana pikir smua pelaku PS-nya sama..
Oya, k Cat., knp POV-nya ga dikonsisten-in aja??

100

Hmmm... Begono.. :D

80

gurunya menjijikkan, tante,,
eh tante ....itu kan dia dihukum dipukuli pantat di depan kelas, masak sambil meremas2 pantat? apa nggak diliatin temen2 sekelasnya?
,
ngomong2 aku mau dong tante ikutan kolab cerita ini.. :D

aih .. lupa poin pentingnya. Tuh murid mukanya yg hadap depan. posisi bagian belakangnya menghadap ke belakang alias papan tulis. dan lagi tuh guru tidak meremas secara terang-terangan. Jadi tidak bisa langsung dituduh sebagai pelecehan.

Suaraaa, tunggu Ai ma Kumiko dulu yah.

Ai nya masih sibuk, jd dia masih berjuang menyelesaikan part 2.
thx sudah singgah