Di Atas Atap, Di Bawah Langit (3)

Pacar Sejati

Januari 2008,

Normalnya, hanya butuh sekitar 15 menit dari pusat kota untuk bisa sampai ke Bogor Lakeside, kompleks perumahan tempat Atya tinggal. Tetapi hujan malah semakin menggila, dan dua orang itu harus menghabiskan hampir 45 menit perjalanan gara-gara kepadatan lalu lintas yang merajalela. Atya bahkan nyaris tertidur di tempatnya sementara Barry masih harus tetap sadar untuk mengemudi.

“Woi, bangun!” Barry mengguncang bahu Atya perlahan. Mereka sudah tiba tepat di depan sebuah bangunan tinggal berlantai dua dengan pagar cokelat yang rasanya sudah lebih dari ratusan kali ia lihat—rumah Atya.

Gadis itu menguap lagi ketika terjaga. Setelah mengerjap-ngerjapkan mata, ia bangun, lalu melangkah keluar mobil. Nyaris berlari, ia buru-buru membuka gerbang rumahnya dan melompat ke teras agar tidak kehujanan. Di belakangnya, Barry menyusul.

“Halo, Oma!” sapa Atya pada wanita tua berumur 70 tahunan yang sedang duduk di teras. Di pangkuannya nampak jarum besar dan gulungan benang wol yang sedang dirajut. “Kok di luar, Oma? Kan dingin…”

Nenek Atya malah menatap dua anak muda yang ada di depannya itu dengan heran. “Bukannya kamu tadi pergi sama siapa tadi…Ronald?” tanyanya bingung.

Ditembak begitu, Atya dan Barry langsung tertawa.

“Yah, sama ajalah, Oma! Yuk masuk ke dalem. Hujan kali! Aku aja kedinginan gini nih!” ujar Atya yang langsung melipir masuk rumah sementara Barry memilih di luar, duduk di samping wanita berambut pendek yang sudah memutih itu.

Sembari mengelap bagian wajahnya yang sempat kecipratan air hujan barusan, ia tersenyum dan mulai berbicara. “Maklumlah Oma, kan saya udah sering bilang, pacarnya Atya yang beneran itu saya. Yang lain selingkuhan. Makanya mau sama siapapun, pasti saya yang bawa Atya pulang.”

“Ohh…gitu ya?” Oma tersenyum kecil.

“Kok Oma selalu keliatan gak percaya gitu sih?”

“Percaya kok percaya…,” Oma cekikikan,”Kamu kan anak paling ganteng yang pernah dateng ke sini…”

“Nah, itu Oma tauuu!” Barry ikut cekikikan. “Jadi Oma setuju kan kalo saya ngelamar cucu Oma yang itu?”

“Yah, Oma sih setuju-setuju aja. Terserah Atya. Tapi emangnya kamu rela beneran mau ngelamar dia?”

“Emang kenapa Oma? Kalo soal makan banyak saya sih masih bisa menangani kok!”

“Bukan…” Oma menggeleng-gelengkan kepala, menahan tawa. “Sini, sini, Oma bisikin…”

“Heeeh! Apa-apaan nih, lu mau ngedoktrin Oma gua lagi ya??”

Baru saja Oma dan Barry mulai berbisik-bisik, Atya tiba-tiba muncul dari balik pintu. Menatap curiga omanya dan Barry yang kini terkekeh-kekeh kompak.

Sambil menunjuk-nunjuk dengan panci yang dipegangnya, Atya berseru,”Hei, jangan kau rusak otak omaku lagi! Sudah cukup kemaren dia nagih main Wii gara-gara lu cekokin!”

“Siapa juga yang ngedoktrin? Gua cuma lagi ngobrol-ngobrol mesra sama Oma. Iya, kan Oma?” elak Barry sembari mengedipkan sebelah matanya, sok genit.

“Iya, kok, Tya!” timpal Oma yang masih terkekeh.

“Lagian ngapaiiin lu bawa-bawa panci keluar sih?! Kayak orang tolol!”

Menyadari panci yang memang entah kenapa dia bawa-bawa keluar, Atya jadi ikut menertawakan dirinya juga.“Oh, iya ya?” Ia tergelak sendiri. “Udah ah! Kan tadi gua bilang mau traktir indomi rebus! Ayo ayo kita masak dulu!”

Barry masih di luar ketika Atya kembali masuk ke dalam rumah. Sebentar, diamatinya cowok yang masih tertawa-tawa konyol dengan neneknya di teras itu.

Atya memang tidak pernah terang-terangan mengatakannya, tetapi ia harus mengakui, tidak pernah ia melihat orang lain yang bisa begitu dekat dan membuat omanya begitu ceria apalagi sampai tertawa bak orang tolol itu selain Barry. Bahkan sebagai cucunya sendiri pun, kadang Atya tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk membuat omanya senang. Namun anehnya, Barry tidak pernah terlalu kesulitan melakukan itu.

Ada saja hal atau ucapan yang bisa dilontarkannya untuk membuat oma tertawa. Bahkan sejak mereka pertama kali bertemu.

Sejak kira-kira empat atau lima tahun yang lalu, Atya memang tinggal berdua saja dengan omanya di Bogor. Sebenarnya, Atya lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Bandung. Namun entah mengapa, ketika kakeknya dari pihak ibu, suami omanya, meninggal, ia pun memilih untuk menemani oma di kota hujan itu. Terutama karena oma menolak ajakan pindah ke Bandung.

Atya sendiri sebetulnya tidak begitu memahami mengapa dulu ia ingin sekali tinggal dengan omanya. Yang ia tahu, dulu ia sempat menjadi cucu kesayangan neneknya itu waktu kecil.

Walaupun ternyata setelah ia sungguhan pindah dan tinggal bersama oma favoritnya tersebut, semuanya tidak sesederhana yang ia pikirkan. Oma telah sedikit banyak berubah sejak kepergian suaminya dan Atya tidak tahu harus bersikap bagaimana. Meski setelah dua tahun mereka tinggal bersama—hanya ditambah supir dan seorang pembantu, ia jadi tidak pernah tega meninggalkan omanya sendirian lagi.

Mungkin sama seperti omanya, diam-diam Atya memang lebih menyukai kesepian. Dan bersama wanita tua itu, ia dapat merasakannya. Setidaknya sebelum Barry muncul dan membuat huru-hara.

“Jadi…apa kabar lu sama Ronald?”

Atya sedang menunggu mie instannya matang saat Barry mendadak sudah berdiri di sampingnya. Jaketnya sudah dibuka, menampilkan sosoknya yang hanya mengenakan kaus biru tipis dan baggy short krem. Terlihat santai dan mengekspos posturnya yang lumayan kokoh dan berisi dibandingkan Atya yang sering dibilang kelewat kerempeng.

“Yah, begitulah…,” jawab Atya, melipat tangan di depan dada,“We broke up.”

“Ah, sudah gua duga,” Barry menyandarkan tubuhnya ke meja kabinet,”Kenapa lagi sekarang?”

“Dia freak.”

Freak?”

Atya menarik nafas panjang. Lalu sambil berkacak pinggang, ia menatap Barry. “Masa dia ngasih gua cincin?!”

Barry butuh beberapa detik untuk mencerna informasi itu.

“Ya…terus?”

“Cincin, Bar!”

“Memangnya kenapa? Lu kan matre! Bagus kali!”

“Ya, kalo dia rajin bayarin gua ini itu, beliin apapun, atau apaan kek, gua sih nggak keberatan. Tapi hello, kita masih kelas 2 SMA dan dia beliin gua cin-cin, Barry! Serem gak lu?”

Kali ini Barry tidak bisa tidak terbahak. Bukan karena apa-apa, tetapi karena lucu melihat ekpresi ngeri Atya yang agak berlebihan sebenarnya. “Tapi emangnya nggak boleh?”

“Ya enggak gitu juga, sih. Tapi nggak tau kenapa ya… Gua agak phobia deh sama cowok-cowok yang suka ngasih barang-barang begituan,” kata Atya sembari mengaduk-aduk isi pancinya dengan sumpit,”mikir apaan sih tu orang?”

“Lu macem-macem aja sih, Tya!” Barry mengacak rambut cewek itu sekilas, agak menoyor.

Perlu dicatat, Ronald hanyalah satu dari beberapa—kalau tidak mau dibilang sekian—makhluk berjenis kelamin laki-laki yang pernah menjadi pacar Atya. Salah satu juga yang mengaku disakiti cewek itu, meski yang bersangkutan menolak dengan keras. Barry sih mengamini saja.

“Udahlah, Tya, makanya pacaran sama gua aja,” goda Barry kemudian.

“Akan gua pertimbangkan kalo Miley Cyrus jadi presiden Amerika.”

“Berarti kemungkinannya besar!” Barry malah menjentikkan jari bersemangat.

Atya menatap lurus ke mata Barry. Cowok itu menyunggingkan senyum ala Barrynya. Senyum bernuansa menantang dan menggoda. Tetapi tentu saja, lebih karena ingin memancing manusia yang berdiri dengan jarak kurang dari 30 senti di depannya itu.

Sulit memang bagi keduanya untuk membaca emosi masing-masing pada saat seperti ini. Emosi yang tersembunyi pada lengkungan di wajah Barry dan sorot mata Atya.

“Gua tau kok, ujung-ujungnya lu pasti akan balik ke gua,” Barry berujar mantap,”Lu kan tergila-gila sama gua.”

Atya tertawa kecil. “Iya deeeh, mister Barry… terserah mau bilang apa. Asal lu seneng, asal lu bahagia,” sahutnya santai.

“Makasih, Nona Atya. Oh, iya satu lagi…”

“Apa?”

“Itu kayaknya mienya udah kematengan deh.”

---

Sudah hampir gelap ketika Atya menggamit lengan Barry, mengantarkannya sampai ke gerbang depan. Sebelum Barry beranjak masuk ke dalam mobilnya yang masih basah gara-gara hujan tadi, mereka berdiri sejenak di carport yang kosong.

“Jangan lupa bilangin oma ya gua pamit,” pesan Barry. Oma memang barusan ketiduran di sofa ruang tamu dan mereka tidak ingin membangunkannya.

“Oke.”

Sejenak, Atya memeluk Barry. Samar-samar, tercium wangi eau de cologne maskulin yang menempel pada jaket Adidas hijau khas bendera Brazil cowok itu.

“Jangan nakal, ya!” kata Barry iseng. Atya yang sudah melepas pelukannya pun langsung mencibir. “Makasih mie rebusnya. Tapi kayaknya tadi kok porsinya agak sedikit ya daripada biasa? Lu ngambil punya gua ya?”

“Lu aja yang makannya kalap!”

Barry menyeringai. Diciumnya kening Atya beberapa saat. Kecupan singkat yang selalu diberikannya setiap kali mereka akan berpisah seolah telah menjadi ritual tak resmi di antara mereka. Ritual yang bahkan tidak pernah mereka lakukan kepada kekasih masing-masing.

“Oh ya, ngomong-ngomong …” Barry berbalik lagi ketika ia baru saja hendak membuka pintu mobilnya.

“Hm?”

“Gua serius kok mau jadi pacar lu.”

Kemudian tanpa menunggu tanggapan dari yang bersangkutan, Barry pun masuk ke dalam mobil dan berlalu. Sementara Atya tetap berdiri di tempatnya hingga mobil itu menghilang di tikungan.

(to be continued)

Read previous post:  
37
points
(1009 words) posted by me_everywhere 11 years 9 weeks ago
61.6667
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | Barry & Atya | Cinta | Novel | percobaan
Read next post:  
Writer Sagi_Tarius
Sagi_Tarius at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (3) (10 years 37 weeks ago)
100

COOL!!

cium kening? sama seperti kaka saya dan sahabatnya haha, nice story. ditunggu lanjutannya :)

Writer suararaa
suararaa at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (3) (11 years 9 weeks ago)
70

bagus ...
tapi aneh gak sih kalo misalnya peluk2 dan cium2 tapi statusnya cm sahabat...?

Writer ZooQ
ZooQ at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (3) (11 years 9 weeks ago)
100

mantap... aku dah baca dari awal. hehehehe maaf gag bisa ninggalin jejak dari awal.
ditunggu kelanjutannya, mba.