Di Atas Atap, Di Bawah Langit (4)

Hello, Sunshine!

“Eh Tya, bener lu putus sama Ronald?”

Atya mendongak dari buku yang sedang dibacanya, Angels And Demons karangan Dan Brown. Sungguh, nama Ronald bukanlah hal pertama yang ingin didengar Atya pagi itu. Tetapi ia tidak bisa menghindar ketika seorang cewek berambut ikal panjang dengan tubuh agak berisi datang menghampiri dan tanpa basa-basi lagi berdiri di hadapannya dan melontarkan pertanyaan barusan.

“Ehm…iya,” jawab Atya sekenanya.

“Ya, ampun. Gua kira bohongan. Taunya bener.”

Atya tersenyum ragu, tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Cewek di hadapannya itu bernama Agnes. Tidak terlalu cantik, tidak terlalu beken, tapi paling maju soal kabar termutakhir. Entah darimana ia mendapatkannya Atya sendiri sering bingung.

“Aduh, sayang banget tau, Tya. Kalian kan jadian belom lama,” sambung Agnes, menampakkan wajah penuh penyesalan.

“Ya abis gimana lagi, dong?” Atya menanggapi sembari sesekali melirik bukunya. Berharap agar Agnes menangkap sinyal ketidakpeduliannya dan segera menyingkir. Membahas hubungan percintaannya—apalagi yang baru berakhir—dengan orang yang notabene cuma teman sekelas dan kebetulan biang gosip super heboh bukan kegiatan pagi hari yang menyehatkan menurut Atya.

“Pantes kayaknya si Ronald keliatan sedih gitu tadi…”

Atya berusaha menahan diri agar tidak terang-terangan kelihatan memutar bola mata. Kalau Ronald beneran sedih ia bersumpah akan memblender buku Harry Potter ke tujuh dan minum jusnya, deh! Ia tahu Ronald—dan juga beberapa mantannya yang lain—tidak akan pernah bersedih putus dengannya. Dendam sih iya barangkali.

“Tapi kok keliatannya lu santai-santai aja sih, Tya?” Agnes masih belum puas.

“Hah?” Kali ini Atya benar-benar tidak bisa tidak menatap Agnes dengan tatapan siapa-deh-lo miliknya. “Maksud lu?”

“Yaaa, seharusnya lu keliatan sedih gitu kayak si Ronald. Kalian kan abis putus. Lagian gua juga tau banget si Ronald suka banget sama lu. Tau nggak, pas dia nembak lu waktu itu, sehari sebelumnya dia ditembak sama anak SMA 3!” ujar Agnes berapi-api. ”Tapi si Ronald nolak gitu. Dia bilang dia lagi suka cewek lain. Duh, so sweet banget gak sih, Tya?”

“Siapa yang so sweet?”

Atya benar-benar menarik nafas lega ketika sosok Barry muncul menyeruak di tengah mereka. Sambil tersenyum jahil ia menatap Agnes yang entah kenapa nampak salting gara-gara interupsi kecil itu.

“Hai, Bar!” sapa Agnes akhirnya, tersenyum sok ramah. “Ya udah deh, Tya, gua mau fotokopi diktat kimia dulu, nih! Cheer up, ya! Daaah!”

Barry langsung duduk di bangku samping Atya yang penghuninya belum datang setelah Agnes berlalu. Di kelas XI ia dan Atya memang tidak satu kelas lagi walaupun masih satu jurusan. Fakta kecil yang membuat Atya sedikit kecewa. Jujur, ia tidak punya banyak teman di sekolah—apalagi teman cewek, dan ia akan sangat senang jika Barry bisa terus berada dalam pandangannya selama di berada di sana.

“Siapa yang so sweet tadi?” Barry malah mengulang pertanyaannya.

“Alah, si Agnes ngebacot soal si Ronald lu dengerin lagi!” sahut Atya, masih agak teriritasi oleh kehadiran si bigos barusan. “Sekarang yakin deh gua dia bakalan ngomongin gua lagi—oh, sama elu juga.”

“Apaan? Gua mau dijadiin kambing item lagi gara-gara lu putus?” Barry terkekeh geli. “Ryan, David, Ronald—semua aja salahin gua!”

“Tapi iya sih, lu emang yang harus disalahin.” Atya menepuk pipi Barry pelan.

“Dan kenapa harus begitu?”

“Karena malem ini lu harus jemput gua! Kita pergi bareng ke sweet seventeennya Rachel!” Atya menepuk pipi Barry sekali lagi, agak keras, membuatnya mengernyit.

“Bukannya minggu lalu lu bilang nggak mau pergi?”

“Yah, setelah gua pikir-pikir lagi kayaknya kalo dateng juga nggak rugi-rugi amat. Gua mendadak pengen makan enak. Mudah-mudahan ntar malem kateringnya oke.”

“Cih, kalo nggak ada pacar aja baru deh ajak-ajak gua!” Barry berlagak ngambek.

“Yeee… bukannya elu mau jadi pacar gua, ya?” bujuk Atya sembari nyengir. Diletakkannya daguya di bahu Barry.

Belum sempat Barry menjawab, bel tanda masuk tiba-tiba berdering. Murid-murid langsung menghambur masuk ke dalam kelas. Begitu pula teman sebangku Atya yang tergopoh-gopoh datang sambil masih menggendong tasnya. Barry buru-buru bangkit ketika ia tiba.

“Ya, ya, ya. Nanti omongin lagi pas istirahat, ya?” Barry akhirnya menyanggupi. Atya memang sudah tahu ia tak akan menolak.

Sementara Barry berjalan kembali ke kelasnya yang tepat bersebelahan dengan ruangan itu, dari sudut matanya Atya menangkap tatapan ingin tahu Agnes yang baru saja masuk kelas juga. Sudah pasti bibir itu akan mengoceh lagi.

Tapi toh Atya tak begitu peduli. Barry adalah bagian dari kehidupannya yang tak bisa diganggu gugat.

---

Barry baru saja menyalakan sebatang Marlboro lights ketika Atya masuk ke dalam mobil.

Hello, cowboy!” sapa Atya. Setelah mendaratkan ciuman sekilas di pipi Barry, ia meraih sebatang rokok dari kotak yang tergeletak di dasbor dan ikut menyalakannya.

Hello, sunshine…” Barry menimpali seraya tersenyum kecil, memperhatikan penampilan rekannya malam itu. Dengan rambut diikat setengah ke belakang, terusan berwarna cokelat muda dan flats merah, Atya terlihat segar sekaligus santai.

“Tapi ngomong-ngomong kenapa harus manggil ‘sunshine’ sih?” Atya mendadak protes. “Ini kan udah malem tau! Mana ada matahari malem-malem begini?!”

“Yah, kan maksudnya biarpun udah gelap begini lu tetep keliatan cerah gitu…”

“Kalo gitu kenapa nggak ‘hello, moonlight!’ atau ‘hello, starlight!’ aja?”

“Justru maksudnya buat gua lu tuh adalah matahari yang tetap bersinar meskipun hari udah gelap!” ujar Barry asal. “Gila, romantis banget nggak sih gua?!”

Atya langsung terpingkal. “Maksaaa!” serunya sambil memukul lengan cowok itu.

“Lagian gituan ditanyain! Suka-suka gua dong mau manggil apa. Emang lu sendiri ngapain manggil-manggil gua ‘cowboy’?! Emang gua lagi naik sapi?”

“Itu matador, gobloook!” Atya terpingkal makin keras.

Barry menghembuskan kepulan asap tipis. Walaupun ia agak sangsi kalau matador itu sebutan untuk pengendara sapi, ia mengabaikan Atya dan mulai menekan pedal gas.

Seperti biasa, lagu-lagu lawas dari The Beatles menemani setengah jam perjalanan mereka menuju Hotel Salak, tempat pesta ulang tahun Rachel akan diselenggarakan. Ketika Barry dan Atya tiba, function hall yang digunakan untuk pesta itu sudah dijejali manusia. Setahu mereka jumlah undangan untuk hajatan malam itu memang sangat banyak. Di sekolah saja, hampir semua anak seangkatan mereka diundang. Maklumlah, sebagai anak gaul, Rachel mungkin merasa kurang afdol kalau cuma bikin pesta kecil-kecilan.

Tapi yang membuat Barry dan Atya takjub adalah dekorasi ruangan yang betul-betul meriah. Nuansanya persis kerajaan dongeng dengan tiruan rumah-rumah salju, patung es, cupid, dan replika tokoh-tokoh kartun Disney.

“Kita nggak salah masuk?” celetuk Barry begitu menginjakkan kaki di dalam hall.

“Kayaknya enggak, cuma saltum aja,” sahut Atya, sama begonya.

”Gimana kalo kita pulang dulu terus ganti baju kayak Peter Pan dan Tinker Bell?”

Namun mereka memang tidak salah. Dengan cepat keduanya dapat menangkap sosok-sosok teman sekolah mereka di sana, termasuk Rachel, si host pesta yang merupakan mantan teman sekelas Barry dan Atya waktu kelas sepuluh dulu. Cewek manis bertubuh bongsor itu sedang berada di atas panggung, terlihat mencolok dengan gaun putih panjang yang malah memancing Barry nyeletuk lagi,”Mana mempelai prianya?”

Akhirnya setelah menyapu pandang keadaan sekeliling, Barry dan Atya pun menepi ke salah satu pojok ruangan yang tidak terlalu ramai. Tidak terlalu dekat ke kerumunan, tetapi tidak terlalu jauh hingga mereka bisa menonton dengan jelas permainan-permainan kecil yang sedang dibawakan master of ceremony di atas panggung. Di dekat keduanya ada beberapa orang yang sedang duduk sembari curi-curi start makan. Akhirnya Atya dan Barry pun ikut curi-curi kesempatan mencicip puding dan kue-kue kecil. Mereka sedang sibuk mengunyah ketika seseorang tiba-tiba datang dan ikut nimbrung.

“Hai, baru dateng ya lu pada?” Orang itu menyapa seraya memukul punggung Barry keras-keras, nyaris membuatnya tersedak.

“Nanya sih nanya! Tapi nggak usah pake pukul-pukul juga, sih!” keluh Barry, memicingkan mata.

Sosok berkacamata yang kini berada di sebelah Barry itu tertawa tanpa penyesalan. Namanya Alex, salah satu dari sedikit manusia di sekolah yang bisa Barry dan Atya sebut ‘teman’, sekaligus yang paling bisa mentolerir hubungan abnormal mereka.

“Aduh, puding gua abis! Bentar ambil kue-kue yang lain dulu, ya!” kata Barry kemudian. Alex dan Atya hanya mengangguk pelan ketika cowok itu menepuk bahu mereka.

So, Atya… Gua denger lu udah putus sama Ronald,” kata Alex begitu Barry sudah beranjak pergi. Ia menyilangkan kaki, membetulkan letak kacamata, kemudian menatap Atya lekat-lekat.

“Oh, yeah…” Atya menanggapi ogah-ogahan.

“Nggak usah jelek gitu kali mukanya! Gua juga baru tau dari anak-anak sepak bola. Geng macho tukang gosip itu tuh! Salah sendiri mau sama si Ronald. Dia kan rebek banget kali—”

“Udah deh, gak usah dibahas! Ntar makin nggak napsu makan nih gua,” kata Atya agak sewot. Sekilas ia menangkap bayangan Ronald dan geng macho tukang gosipnya yang tadi disinggung Alex di sudut lain ruangan. Ia langsung membuang muka begitu salah satu anggota gerombolan cowok itu melihat ke arahnya.

“Emang segitu parahnya?”

“Pleaseee deh, Lex…”

“Oke, oke, nggak akan gua bahas lagi,” Alex cekikikan. “Tapi ada satu hal yang lu harus tau sekarang. This should be good.

“Apaan?”

“Ada yang mau kenalan sama lu!”

“Hah? Siapa?”

”Samuel, temen gua di SMA satu. Waktu itu lu juga pernah ketemu dia kok di pensi. Waktu kita makan di foodcourt itu loh! Yang rambutnya agak gondrong, rada putih, dan pake kawat gigi,” terang Alex,”tapi sayangnya waktu itu dia cuma nyapa gua, nggak sempet kenalan sama lu.”

“Terus?” Atya mengerutkan dahi.

“Sejak itu dia suka nanyain lu! Dan hari ini dia juga diundang. Nanti pasti ketemu, deh! Pokoknya kalian harus kenalan! Lumayan, Tya. Siapa tau lu suka. Buat gantiin Ronald deh tuh!”

“Ya, ampun. Nggak, deh nggak.”

“Yah, kenapa? Tapi, Tya, kenalan aja dulu nggak ada salahnya kan? Santai aja lagi. Dia anaknya baik, kok!”

“Lu dibayar berapa sih sebenernya?” Atya melirik dengan tatapan iblis.

“Ya ampun, jahat bangeet. Gua udah kenal lama sama si Sam, dan kayaknya dia suka banget sama lu. Mumpung lu juga lagi single kan?” Alex nyengir, menunjuk ke arah meja prasmanan di mana Barry berdiri lalu buru-buru menambahkan,”Dia nggak diitung!”

“Duh, please deh—”

“Coba aja deh, Tya! Siapa tau kan? Cowok-cowok yang belakangan sama elu kan rada sinting—nah, sekarang gua kasih yang rada bener dikit!”

“Tapi gua beneran lagi males—”

“Nah, tuh si Sam!”

Atya belum sempat mengelak ketika Alex dengan bersemangat berseru sambil melambaikan tangan pada dua sosok yang nampak datang mendekat. Spontan, cewek itu langsung berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Sungguhan, ia sebetulnya tidak sedang mood untuk ikut-ikutan proyek matchmaking bodoh ini. Sialnya, si Alex malah sepertinya sedang bersemangat jadi mak comblang. Ia buru-buru bangkit, lalu menyapa dua orang yang sepertinya adalah Sam dan seorang temannya. Sementara Atya tidak berani mendongak untuk memandang mereka, berharap semoga Barry cepat-cepat kembali. Menurut pengalaman, cowok-cowok biasanya tidak akan ‘tengil-tengil’ amat kalau orang itu ada di sampingnya.

“Hai, Sam! Telat amat datengnya!” sambut Alex ceria.

“Tadi agak macet di jalan. Lu udah lama?” sahut Sam. Atya memang tak menatapnya langsung, tapi ia merasa sepertinya Sam terus-terusan melirik ke arahnya.

“Lumayan. Eh, nih kenalin temen gua yang sering gua ceritain itu, Atya!”

“Hai, Atya!”

Atya menarik nafas panjang-panjang sebelum akhirnya bangkit seraya memaksakan sedikit senyum. Ia menyambut tangan Sam kemudian berkata sopan,”Hai juga!”

Namun baru saja Atya menyentuh tangan Sam, isi perutnya seakan melorot. Hatinya mencelos. Matanya terpaku pada sosok lain tepat di belakang Sam, termasuk kedua mata yang menatap balik dirinya dengan senyum yang menyiratkan rasa senang sekaligus keterkejutan.

“Oh, iya lupa gua belom ngenalin. Ini—,”

“Nael kan?” potong Atya saat Sam menunjuk orang di belakangnya itu.

“Lu masih inget gua?” Orang yang disebut Nael itu tersenyum makin lebar.

Tentu saja.

(to be continued)

Read previous post:  
35
points
(1421 words) posted by me_everywhere 10 years 42 weeks ago
87.5
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | Barry & Atya | Cinta | Novel | percobaan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
20

hai...ceritaNya Bagus...Mampir donk ke post ku,truz kasih comment karena aku belum bisa menulis & merangkai cerita dengan bagus seperti kamu....

Writer Sagi_Tarius
Sagi_Tarius at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (4) (10 years 19 weeks ago)
100

LANJUT =)

Writer langit
langit at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (4) (10 years 38 weeks ago)
80

suka,suka,suka!!saya suka cerita ini>entahlah... sejak dulu saya suka genre seperi ini... temenan, lawan jenis, tapi ga pacaran...sedikit godaan2 nakal buat jadi menggelitik.ditunggu yang selanjutnya! keep writting!

90

saya simpan, ya..
untuk dipelajari
terimakasih ^_^

Writer ZooQ
ZooQ at Di Atas Atap, Di Bawah Langit (4) (10 years 42 weeks ago)
90

wah, udah mulai meramai rupanya. :)