SSUS - Menjaga Durian

cerita ini sudah pernah diposting sebelumnya di kemudian.com dengan judul yang sama. lalu saya revisi untuk berpartisipasi dalam Segenggam Semangat untuk Sahabat
untuk info kegiatan online ini, silahkan dilihat ke link berikut http://www.kemudian.com/node/249918



Kau tahu, hal yang paling mengasyikkan di musim buah adalah menjualnya dan mendapatkan uang dari hasil penjualan. Apalagi jika uang itu sepenuhnya milikmu sendiri. Percayalah, buah apapun itu. Dan suatu kali musim buah di kampungku diramaikan dengan langsat, manggis, durian dan rambutan secara bersamaan. Ini belum pernah terjadi—sepanjang dua belas tahun usiaku.

Aku begitu bersemangat karena dua dari nama buah itu—durian dan manggis—ada pohonnya di ladang. Memang hanya beberapa pohon, tetapi sedang berbuah lebat. Jadi dengan kata lain, aku akan punya penghasilan dari menjual buah dan punya uang untuk membeli jajanan. Ya, aku suka snack kentang yang dijual di warung Darma yang harganya cukup mahal. Entahlah, bagiku buah manggis atau durian tidak terlalu enak rasanya. Apalagi kalau terlalu banyak. Bisa membuatku muak. Tapi snack kentang itu sangat kusukai.

Bapakku menanam beberapa pohon di satu tempat : ladang kami yang di berdekatan dengan kampung Jawa. Tepatnya ada lima pohon dan berbuah semuanya. Satu malam saja aku bisa mendapatkan puluhan buah durian yang jatuh secara alami di malam hari. Entah kenapa, durian memang jatuh paling banyak ketika malam. Suaranya khas, berdebum menghantam tanah berumput. Jika itu terjadi aku akan segera berlari mencari arah jatuhnya.

Biasanya aku menunggu dari sebuah gubuk yang posisinya strategis. Gubuk kecil yang dindingnya terbuat dari bambu yang dianyam, atau sering disebut tepas. Atapnya dari daun rumbia yang berisik sekali jika kena air hujan. Tetapi, hujan adalah sahabat-terbaik-penjaga-durian. Jika hujan datang, yang jatuh bukan hanya air, tetapi juga hujan bola berduri. Buah durian akan gampang jatuh, karena angin saat hujan biasanya cukup kencang. Suara-suara berdebum akan bersahutan, apalagi kalau buah durian di atas pohonnya sudah masa jatuh.

Saat seperti itu, aku takkan berani berlari ke bawah pohon durian untuk mengambil buahnya. Nelson, teman sepermainanku, masuk rumah sakit selama tiga minggu karena punggungnya dihantam durian jatuh. Dan ia absen sekolah selama dirawat, orang tuanya mengantarkan surat dari dokter. Bahkan biaya perobatannya lebih besar dari hasil penjualan durian satu malam.

Nah, biasanya aku menjaga durian ditemani beberapa orang. Aku selalu mengajak Gia, “Gia! Nanti malam ke ladangku, yok!” Ia anak pamanku. Gia sangat gesit walaupun banyak sekali permintaannya.

“Berapa untukku?” tanyanya. Tuh kan? Ini seringkali terjadi kalau aku mengajaknya. Pernah juga ia minta kue sagon sebagai upahnya menemani aku menjaga durian. Terpaksa aku membelikannya.

Lain halnya dengan Gia, Iwan malah anaknya asyik-asyik saja. Ia mau diajak kemana saja asal menyenangkan. Mungkin baginya berada di rumah itu adalah hal yang paling membosankan. Dan seringkali ia tidak berada di rumah atau halaman bermain. Ia lebih suka pergi ke ladang, ladang siapapun itu. Hasilnya, ia sangat berpengalaman dengan berbagai jenis kondisi ladang. Iwan tahu ini ladang siapa atau itu ladang siapa. Ia tahu ladang A bersebelahan dengan ladang B, atau ladang C.

Dan dua orang ini adalah teman terbaikku sedunia.

“Senternya mana?” tanya Iwan saat kami masih di rumahku, kira-kira pukul lima sore hari. Aku mengambil senter dan memeriksa baterainya. Aku juga sudah mempersiapkan sarung untuk selimut tidur kami nanti.

“Cuma ada satu. Gia punya satu lagi katanya. Mana dia?” tanyaku sambil membereskan keranjang besar. Di dalamnya sudah aku masukkan tiga buah sarung, parang besar, botol minuman kosong, senter, potongan sandal jepit bekas dan korek api. Malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan karena pohon durianku sudah memasuki masa jatuh atau sering jatuh.

“Woii! Senterku dibawa bapakku! Gimana ini?” Gia datang sambil berlari-lari dari rumahnya yang tak jauh dari rumahku.

“Yah! Cuma satulah berarti. Ya udah. Kalian udah makan kan?” kataku. Mereka mengangguk. Aku pamit pada Bapak dan Ibu lalu kami pun berangkat.

Kami harus melalui sungai berair jernih sebelum mencapai ladangku. Sementara Gia dan Iwan mandi, aku mengambil persediaan minuman. Iya, kami terbiasa minum dari mata air. Artinya perut kami sudah tahan dengan air mentah. Semua anak laki-laki di kampungku memang suka minum air mentah. Kami tak pernah mengalami perut sakit, lho.

Yang paling tidak menyenangkan adalah melalui jalanan menanjak. Tapi, kampung halamanku dikelilingi sungai. Tidak ada tempat yang bisa dilalui tanpa melewati sungai. Hal itu berarti harus juga melalui turunan dan tanjakan.

Beberapa menit kemudian kami tiba di ladangku. Iwan dan Gia langsung bergerilya mencari buah durian yang jatuh. Sementara aku ke gubuk dan menyalakan api. Aku mengambil potongan sandal jepit bekas dan membakarnya dengan korek api yang kubawa. Karet itu terbakar dan meleleh. Lalu aku letakkan sedemikian rupa di antara ranting-ranting kecil dan besar. Kuambil daun-daun pohon rambung yang kering. Lalu kuletakkan di atas nyala api. Dalam sekejap asap memenuhi gubuk. Dengan begitu nyamuk takkan berani masuk.

Gia kembali dengan dua durian yang besar. Sementara Iwan hanya mendapatkan sebuah. Itupun tak terlalu besar. “Kita makan aja ini?” usulnya sambil melirik ke arahku.

“Nah!” kuberikan parang padanya. Iwan mengayunkan parang itu tepat ke ujung durian. Ia membuat celah dan membelah durian dengan tarikan berlawanan pada kulitnya. Buah durian mempunyai pangsa yang memudahkan membukanya. Dengan membelah sesuai pangsa itu, durian akan terbuka tanpa merusak isinya. Kami menyantap durian sebagai makan malam.

Tiba-tiba.

“Bubb!!” Iwan dan Gia berlari secara bersamaan meskipun tangan mereka masih belepotan buah durian. Mereka menuju asal bunyi itu dengan naluri masing-masing. Sementara aku hanya berdiri di depan gubuk.

Mata mereka masih bisa beradaptasi dengan cahaya remang-remang dari langit. Dan senter belum dibutuhkan sampai keadaan cukup gelap. Lalu Iwan kembali dengan senyum kemenangan. Sebuah durian dengan tangkai baru tergantung di sela jemarinya.

“Kupikir Si Abu,” kata Gia sambil melanjutkan makan durian yang tadi belum habis.

Kami biasa menamai pohon durian dengan ciri-ciri buahnya. Jika kulit buahnya berwarna keabu-abuan, namanya Si Abu. Dan sebelah kiri gubuk adalah pohonnya yang tidak terlalu tinggi. Pohon durian yang paling tinggi dan paling jauh dari gubuk namanya Si Ratah. Asal kata dari meratah yang artinya Hijau. Kulit luar buahnya berwarna hijau yang jika pertama dilihat, orang akan menyangka buahnya masih mentah. Sebelah kiri belakang gubuk adalah buah Si Gedang Tangke, artinya Si Panjang Tangkai. Tangkai buahnya panjang-panjang dan berbeda dari buah pohon yang lain. Sementara dua pohon lainnya tidak punya nama karena buahnya tidak punya ciri-ciri khusus.

“Berarti ilmumu belum jago, Gia. Suara jatuhnya saja keras tadi! Itu berarti pohonnya tinggi. Si Abu kan nggak tinggi pohonnya! Kau pun bisa jolok buahnya dari bawah pakai galah!” ledek Iwan sambil tertawa terkekeh-kekeh. Ia membersihkan durian tadi dengan lidi. Rumput-rumput yang menempel pada durinya karena jatuh terlepas sedikit demi sedikit. Lalu ia meletakkan durian itu di samping gubuk. Sudah terkumpul tiga buah. Tiga dikali tiga ribu, sembilan ribu!

Lalu kami bertiga duduk di atas lantai gubuk yang terbuat dari papan sambil menunggu durian jatuh. Asap dari api yang kubuat tadi tidak lagi tebal. Api sudah cukup menjadi penerang di sekeliling gubuk sekalipun di atas langit sedang terang bulan.

Untuk menghilangkan kebosanan kami bercerita tentang apa saja. Mulai dari Wina siswi kelas V yang cantik sampai Iwan yang menang kelereng tadi pagi di sekolah. Ia malah dapat uang hasil penjualan kelerengnya sebanyak dua ribu rupiah. Itu adalah jumlah yang besar! Aku bisa membeli kerupuk, permen atau bahkan dua mie instan serta sebutir telur untuk makan siang dengan uang sebanyak itu. Apalagi uang itu didapatkan dari menjual kelereng hasil bermain Bom dan Kes.

“Tadi kulihat kau sama Wina di ruang kelas tiga! Pacaran kalian kan?” kata Iwan meledek Gia. Gia tersenyum malu-malu.

“Mana ada!” tapi kemudian ia menyanggahnya.

“Kau kan kelas tiga, Gia. Kok suka sama anak kelas lima?” tanyaku tapi Gia tak menjawab.

“Tadi udah mau diciumnya Si Wina!” teriak Iwan. Gia melemparkan biji durian langsung dari mulutnya. Iwan mengelak sambil terus tertawa.

“Wina itu anak hantu, Gia! Cuma hantu yang mau sama anak hantu!” balas Iwan lagi.

“Hah? Bapaknya yang agak gila!” Gia membela diri. Aku jadi serius mendengarkan cerita mereka.

“Kapan itu ya?” Iwan mencoba mengingat-ingat, “Bapaknya Wina ngamuk-ngamuk di rumahnya. Katanya 'aku Begu Ganjang, aku Begu Ganjang!' Gia pacaran sama anak Begu Ganjang! Hahaha!”

Dia kampung tempatku tinggal, nama Begu Ganjang itu menjadi ketakutan tersendiri. Begu artinya hantu dan Ganjang artinya panjang atau tinggi. Begu Ganjang adalah hantu yang ukurannya badannya tinggi sekali. Lebih tinggi dari gedung sekolah kami meskipun aku belum pernah melihatnya. Yang kutahu, Begu Ganjang suka memangsa manusia untuk bertahan hidup. Begu Ganjang ini dipelihara oleh sebagian orang untuk melindungi diri. Tapi lebih banyak yang memeliharanya untuk membalaskan dendam atau iri hati pada orang lain. Jika ada orang yang meninggal dengan tak wajar, seringkali dikaitkan dengan Begu Ganjang.

Tetapi anggapan kami yang masih kecil ini, Begu Ganjang tinggalnya di goa-goa gelap atau di atas pohon besar. Begu Ganjang tak akan diizinkan pemiliknya tinggal bersamanya. Karena saat Begu Ganjang tidak diberi makan oleh empunya, maka Begu Ganjang itu akan memakan tuannya sendiri.

“Di ladangmu ini ada Begu Ganjangnya?” tanya Gia padaku. Mendengar pertanyaannya aku malah menakut-nakuti dengan melirik ke pohon Si Ratah.

“Waaa! Serius kau?” katanya bergidik dan mendekat ke arahku. Iwan juga.

“Ahakhakhak. Ngga ada kok! Ngga ada Begu Ganjang disini!” kataku sambil tertawa.

“Tapi Si Ratah kan pohonnya besar! Kalau buahnya jatuh aku ngga mau ngambilnya,” kata Gia lagi.

Tiba-tiba terdengar suara durian jatuh, "KRASSHH BUMM!!”

“Mampus! Kau aja yang ambil, Wan!” suruh Gia melonjak semakin mendekatiku.

“Ah, nggak mau aku! Kau aja!” tolak Iwan. Ia memandangku. Aku membesarkan bola mataku, membuatnya lebih takut lagi.

“Woy! Jadi kita biarin aja itu? Nanti diambil penupung,” kata Gia lagi.

Gia benar! Penupung adalah julukan untuk pencuri durian. Pencuri ini berkeliaran tak jauh dari pohon durian dan bersiap-siap mendahului pemiliknya di malam hari. Yang paling parah adalah mereka malah menjual durian hasil curian itu dan bukan hanya memakannya.

Kami masih mendekam di dalam gubuk. Tak ada yang berani keluar dan mencari durian yang jatuh tadi.

“Udahlah. Nanti aja kita ambil sama-sama. Kau pun entah kenapa cerita Begu Ganjang tadi?” kataku pada Gia.

“Iwan yang mulai!” Gia menuding Iwan yang malah tertawa cekikikan. Mungkin lucu juga karena kami jadi ketakutan bersama-sama.

Akhirnya kami berdiam diri saja di gubuk. Beberapa jam kemudian kami sudah terkantuk-kantuk. Sesekali hanya terdengar bunyi kulit ditampar. Banyak sekali nyamuknya. Aku terbangun dan mendapati Iwan dan Gia terlelap di sampingku. Lalu kuperhatikan api di depan gubuk. Tidak ada asap lagi. Pantas saja nyamuknya merajalela. Sementara sekeliling gubuk cukup gelap. Sepi. Hanya ada bunyi jangkrik dan nyamuk.

Aku bangkit dan menghidupkan api lagi. Sambil meletakkan ranting dan dedaunan yang agak lembab agar asapnya banyak. Lalu kudengar bunyi durian jatuh. Aku berdiri mencari-cari arah jatuhnya. Si Ratah! Begu Ganjang!

“Wan! Gia! Bangun!” kataku dengan suara agak tertahan.

“Apa?” Iwan bangun dengan susah payah. Ia menguap lebar sekali. Lalu Gia pun bangkit.

“Si Ratah jatuh. Kayaknya udah ada lima buahnya jatuh dari tadi. Ayo kita lihat!” ajakku.

“Ah, nggak mau aku!” tolak Gia. Ia masih ingat cerita sebelum tidur tadi.

“Ayok, Gia! Kan sama-sama lihatnya! Lagian kau kan pacaran sama anak Begu Ganjang, nggak kan dimakannya kau!” kata Iwan pula.

“Ayo cepat! Nanti diambil penupung!” kataku berseru. Aku mengambil senter dan menyalakannya. Cahayanya agak redup. Mungkin karena bukan baterai baru.

Aku berjalan paling depan diikuti Gia dan Iwan. Kami mengendap-endap seperti pencuri. Beberapa meter dari pohon Si Ratah aku berhenti. Gia menubrukku dan hampir terjatuh.

“Kenapa pula kau berhenti? Bikin kaget aja!” tanyanya.

“Kau dengar itu?” tanyaku sambil memperdengarkan dengan seksama bunyi-bunyian yang aneh. Seperti bunyi hembusan angin menampar daun. Tapi angin tak berhembus sama sekali.

“Apa?” bisik Iwan dari belakang. Ia mendekat ke arahku.

“Suara itu,” kataku sepelan mungkin.

“Angin?” tebak Gia. Aku mengarahkan sinar senter ke semak-semak. Tapi sinarnya tak mampu menembus kegelapan.

“Sentermu pun mau mati,” ucap Iwan, “Eh, apa itu tadi?”

“Mana?” kataku tiba-tiba gugup.

“Senteri lagi ke pohon manggis itu!” katanya. Senteri lagi? Aku tak mau mengarahkan sinar senter ke sembarang tempat. Kata orang, nanti bisa terlihat yang mengerikan. Seperti hantu misalnya.

“Ngga mau ah! Nanti ada putih-putih disana!” tolakku. Lalu terdengar suara seperti isak tangis perempuan.

“Mampus! Kuntilanak pasti!” tebak Gia. Ia memegangi bajuku dan membuatku jadi tak leluasa bergerak.

“Bajuku, Gia! Jangan pegang-pegang!” kataku berusaha melepaskan diri. Iwan mendatangiku dan mencoba merebut senter. “Jangan senter, Wan! Nanti dikejarnya kau!” larangku. Tapi Iwan berhasil mengambil senter itu dan mengarahkannya ke pohon manggis dekat perbatasan ladangku dengan ladang Pak Herman. Tapi seketika sinarnya redup dan mati.

“Bah! Mati pulak!” katanya sambil menokok-nokok senter itu. Ia berusaha menghidupkannya lagi.

“Udah. Kita balik aja ke gubuk. Besok pagi aja kita lihat lagi duriannya!” usul Gia.

“Nanti diambil penupung waktu kita tidur gimana?” kataku pula. Kami masih berdiri di tempat tadi. Sekeliling gelap tapi masih ada cahaya bulan dan api dari depan gubuk. Setidaknya kami bisa tahu kemana harus berlari jika terjadi sesuatu yang menakutkan.

“Tuhan... Lindungi kami...” rintih Gia.

“Kau baru ingat Tuhan kalau takut aja. Ke gereja pun kau malasnya minta ampun!” ledek Iwan.

“Daripada kau? Ingat pun nggak!” balas Gia tak mau kalah.

“Sssttt! Ada putih-putih,” suaraku tertahan. Tak jauh dari pohon Si Ratah aku melihat sesuatu yang mungkin berwarna putih menyelinap.

“Jangan main-main kau, Chris. Takut aku,” Gia makin mempererat cengkeramannya pada bajuku.

“Lepaskan...”

“Hantuuuu!!!” Iwan berteriak tiba-tiba. Aku tersentak dan berlari lebih dulu. Kudengar suara jatuh. Tapi aku tak tahu itu apa. Suara kaki Iwan mengikutiku. Kupikir hantunya mengejar. Aku semakin ketakutan dan bahkan menutup mata dan berlari secepatnya ke gubuk. Iwan tertinggal karena kakinya pendek. Jantungku berdegub tak karuan. Kakiku terasa ringan, kudengar tawa mengerikan pelan-pelan. Itu kuntilanak pasti!

“Hihihihihi...” Lalu angin berhembus dingin.

“Maaakkk!!!” kudengar teriakan Gia. Aku berhenti dan Iwan menabrakku hingga terjatuh ke belakang. Kepalaku terkena kulit durian yang cukup lembek karena sudah busuk. Aku sempat meringis kesakitan. Lalu aku bangkit dan berlari menjemput Gia. Tapi tersandung lagi dan terjerembab di hadapannya. Puehh! Rumput masuk ke dalam mulutku. Aku menyadari kalau Gia menangis ketakutan.

“Ayo lari!” kataku. Kutarik tangannya hingga ia berdiri. Lalu ia berlari di depanku. Aku berpikir untuk melihat ke belakang. Bayangan putih itu mengejar.

“Cepat Gia! Hantunya ngejar!” teriakku. Jauh sekali gubuk tadi. Kulihat Iwan sudah meringkuk dalam gubuk tak berpintu itu. Gia melompati kayu besar yang kujadikan sebagai kayu bakar. Langkahku tak beraturan dan terjatuh sekali lagi. Kepalaku membentur tiang gubuk. Tapi aku tak merasakan sakit lagi. Lalu aku menutupi kepalaku dengan sarung. Kami seperti anak anjing yang berebutan susu di sudut gubuk.

Sayup-sayup kudengar derap langkah menjauh. Seperti langkah kaki!

“Maaakkk...” erang Gia menangis ketakutan. Kubelai kepalanya tanpa sadar.

Iwan malah kesal dengan rengekan Gia. “Diam kau Gia! Nanti didengar hantu itu, datang dia kesini!” bentaknya. Gia jadi terdiam beberapa detik. Lalu ia mulai menyebut nama Tuhan entah berapa kali. Tuhan, lindungi kami. Tuhan lindungi kami… Dalam hati, aku juga mengikuti kata-katanya itu. Semoga tidak terjadi hal-hal yang jahat pada kami.

Kami berkumpul dalam sarung masing-masing. Saling peluk dan berpegangan tangan. Mungkin dengan begitu kami tidak terlalu takut. Tetapi entah apa yang membuat kami akhirnya tertidur. Mungkin dengan tidur kami merasa selamat dari ketakutan. Tidur dan bermimpi. Lelap. Dan aku memimpikan suara durian jatuh. Berkali-kali.

Pagi harinya kami menyusuri pohon durian. Tidak ada buah durian yang kami dapat. Padahal seingatku, aku mendengar suara durian jatuh puluhan kali. Tetapi tak satupun yang ada di bawah pohonnya. Sepertinya ada yang mencuri. Impianku untuk makan snack kentang buyar seketika.

“Yang tadi malam pasti penupung, Chris!” duga Iwan.

“Mampuslah aku! Ngga jadi punya duit!” umpatku kesal.

Lalu kami kembali ke gubuk dan menatap tiga buah durian yang ada. Kami saling berpandangan lalu kuambil parang dan membelah ketiga durian itu. Kami makan bersama-sama sambil tertawa mengingat kejadian tadi malam. Iwan tak henti-hentinya mengejek Gia karena menangis ketakutan. Sementara Gia tak memedulikan ledekan itu. Ia makan durian dengan lahap. Sementara aku hanya sedikit karena tak begitu suka.

Meski kehilangan, mungkin puluhan durian, kami tetap menunggu sampai siang hari. Hasilnya, kami membawa beberapa buah yang jatuh selama setengah hari. Kami menjualnya ketika sampai di kampung. Uangnya kuberikan pada Bapak. Semuanya. Lalu Bapak memberikan beberapa ribu rupiah untukku. Aku belikan jajanan—meski bukan snack kentang—dan memakannya bersama-sama dengan Gia dan Iwan. Mereka adalah sahabat terbaikku sedunia.




Chris
07.041109.21.00

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at SSUS - Menjaga Durian (8 years 3 weeks ago)
100

keren! seru! bagus, bang, hahaha... (komentar standar banget tapi mohon jangan digampar, bang, ini jujur dari hatiku terdalam :P). saya mesem2 selama membacanya dan jadi teringat juga sama pengalaman menggelikan di masa lalu (waktu dikejar2 anjing pas jurit malam, lagi bertiga juga, di tengah perkampungan yang banyak semak bambunya gitu hihihi), dan mengingat2 pas waktu kecil saya punya pengalaman seru apa ya di tempat tinggal saya. terus pesannya, waha, bener suatu niat itu acapkali digagalkan oleh ketakutan, tapi dl cerita ini akhirnya si "aku" bisa juga dapat snack kentang :)

Writer lii_nya christ
lii_nya christ at SSUS - Menjaga Durian (11 years 4 weeks ago)
100

saia suka durian. (emang ada yg nanya? :D)

bagus, lucu, tegangnya jg dpt.
gaya bertuturnya jg ga ribet,anak2 bgd.

jd kangen nungguin durian jatoh drmh nenek qu. sayang musim durian masih lama. :D

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 4 weeks ago)

lii jelek :p

ahak hak hak

Writer benhoer
benhoer at SSUS - Menjaga Durian (11 years 5 weeks ago)
90

ceritanya hebat...

kalau berkenan mampir, ya http://kemudian.com/node/250712

Writer Whieldy_mirza
Whieldy_mirza at SSUS - Menjaga Durian (11 years 5 weeks ago)
100

entah kenapa, mirza suka banget ama kata 'tiba-tiba' yang muncul secara tiba2 d bwah paragraf. ada kesan gimana gitu.. *atau mungkin ini cuman perasaanku?

Writer lestari jingga
lestari jingga at SSUS - Menjaga Durian (11 years 5 weeks ago)
90

suka, aku juga punya sahabat seperti mereka k, haghag mampir yah k http://www.kemudian.com/node/250620

Writer Kika
Kika at SSUS - Menjaga Durian (11 years 6 weeks ago)
80

Kika datang...
Wkwkwkwk... Ga tau kenapa tp kika malah ngakak baca cerita ini :p
keren kak.. Cerita asli nih??

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 6 weeks ago)

nah... itu dia, efek fisik yang diharapkan muncul setelah membaca cerita ini, kika :p
meski, nggak sampai tertawa, yg penting udah bisa senyum2, alias terhibur.

toh tujuannya adalah menghibur sahabat-sahabat kita yang sedang kena musibah (bencana alam), melalui event SSUS (Segenggam Semangat Untuk Sahabat)

tapi klo dirimu bertanya ini cerita asli. yap! ini adalah cerita asli. maksudnya asli tulisan saia :p tapi ini bukan kisah nyata, hanya fiksi alias rekaan.

jadi, jangan dianggap serius. yg penting pembaca terhibur :p

ahak hak hak

Writer Kika
Kika at SSUS - Menjaga Durian (11 years 6 weeks ago)

selamat ulang tahun kak shinichi senoga makin sukses dan cita2 jadi penyanyinya terkenal :p

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at SSUS - Menjaga Durian (11 years 5 weeks ago)

wah.. ultah ya? happie bday kak Shin.. wish u all de best.. sukses selalu .. hehehehe :)

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 5 weeks ago)

hari Minggu yg lalu :D

ahak hak hak

thanks, sun :p

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at SSUS - Menjaga Durian (11 years 5 weeks ago)

jiakakkakaka.. telad banget ya..
*gapapa lah.. yg ptg niat
(ngmg sndiri, jwb sndiri)

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 5 weeks ago)

ahak hak hak

gpp

thanks ya

yg penting emang niatna

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 6 weeks ago)

lho? kok tau siy?

Writer Kika
Kika at SSUS - Menjaga Durian (11 years 6 weeks ago)

Dari forum kners ^^

maaf salah nulis harus nya moga2 jadi penyanyi terkenalnya tercapai (yg diatas ga bisa di edit :( )

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 6 weeks ago)

gpp kok :p

kirain tau darimana

ahak hak hak

Writer ZooQ
ZooQ at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)
90

ada beberapa kata yang maknanya beda di tempat asalku, misal gedang = pisang dan begu = orang yang ngga bisa bicara; bisu.
terus cara nyalain apinya keren, inget waktu di gunung. pakai sendal jepit sendiri hehehe

Writer ZooQ
ZooQ at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

om, chi. mau tanya, kalo ceritanya tentang anak SMA boleh diikutin di event SSUS gag?

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

boleh2. buatlah cerita yg bisa memberikan semangat kepada korban2 bencana alam yg terjadi belakangan ini, khususna Yogya. ada tim penilaina kok :D

ahak hak hak

Writer ZooQ
ZooQ at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

kalau ceritanya tentang kehidupan sehari-hari gimana? takut ngga masuk kategori euy...

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

kembali ke reply saia, buatlah cerita yang bisa memberikan semangat kepada orang yg kesusahan. di dalamnya ada nilai2 kemanusiaan. kalau cerita sehari-hari bisa memuat hal-hal tsb, yg bisa membuat pembaca terhibur dalam arti, korban bencana terhibur, saia harap tim penilai pasti mempertimbangkanna :p

Writer ZooQ
ZooQ at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

makasih, om chi. maaf ganggu :D

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

ini emang udah jadi tugas saia kok :p
hajar saja kapan kamu ada pertanyaan seputar situs dan event2na

ahak hak hak

kip nulis :p

Writer ZooQ
ZooQ at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

ngga berani menghajar. cukup hajaran dari temen medanku yang satu itu saja masih kerasa ampe sekarang. apalagi ditambah dari om chi, ngga mau...
cabut aja ah...

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

si putihkah? :D

Writer ZooQ
ZooQ at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

hah?!
bukan, om...

Writer cat
cat at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)
80

ah ... aku ndak doyan durian .....

tp ceritamu keren e om chi

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

:D

ahak hak hak

Writer adipatikarna
adipatikarna at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)
80

gw dapet tegangnya... heheh. great!

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

makasiy udah mampir :D

kip nulis

ahak hak hak

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)
100

perfect senpai! aku dapet ilmu durian :D
adegan diburu hantunya lucu ^__^

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Menjaga Durian (11 years 7 weeks ago)

terhibur gak? :D