4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu

Menurutku, dokter gigi adalah perayu paling handal kedua setelah penyair ataupun pujangga. Tentu saja kau boleh tidak setuju, ini hanya pendapatku jika kuingat-ingat lagi betapa bengkak kenanganku bersama dokter gigi, jarum suntik, dan bau obatnya. Ah.. bahkan saat itu aku merasa menyesal pernah memiliki gigi susu.

“Adek sudah besar, kan? Kalau gigi susu yang goyang dicabut, nanti tumbuh gigi tetap yang rapi. Adek makin ganteng sama gigi barunya,” Begitulah sedikit rayuan yang dihatur dengan lancar oleh dokter gigi cantik—kata ibuku—itu. Namun kupikir-pikir memang cantik, sebab ia masih muda sekali.

Aku takkan ragu mengakui kecantikannya, andai saat itu aku tak terperangkap dalam tubuh dan jiwa anak kecil. Atau tipe perempuanku bukanlah semacam Tiana, teman sekelasku sewaktu kelas empat SD yang selalu tampil dengan rambut rapi, lengkung bandana hijau, serta ransel merah muda bermotif beruang. Ia anak perempuan yang paling kusukai di kelas. Karena itu, aku sering mengolok-olok atau menyingkap roknya. Biasanya, setelah itu ia akan mencakar, melempariku dengan benda di dekatnya, atau menangis. Luka yang kuperoleh darinya justru kusayang-sayang. Aku yakin, ia akan terus mengingatku—sebagai laki-laki kurang ajar, mungkin.

Lupakan rok Tiana, selayak anak-anak yang mengimani “balasan yang setimpal”, lima gigi depanku goyang, tepat sehari setelah aku dinasehati guru karena menyingkap rok Tiana (lagi) dengan penggaris. Padahal, aku tidak merasa gigiku bermasalah kecuali taring kanan atas yang bisa kucabut sendiri. Karena itu, gigiku harus disuntik agar giginya lemah (yang bertahun kemudian aku baru sadar, itu hanya bius agar aku tidak kesakitan sewaktu gigiku dicabut paksa). Singkat cerita, dalam satu teriakan, dipastikan aku mendadak jadi pendiam.

***

Sekarang, lupakan dokter gigi dan keompongan yang kudapat setelah itu. Barusan hanya sekilas kenangku di depan cermin sekarang. Ya, sekarang ini. Cermin tempat aku memandangi wajah dua puluh empat tahunku ini, dengan penampilan baru, gigi depan yang hilang satu!

Rambutku masih basah dan handuk melingkar di leher. Sudah dua hari sejak bola futsal yang ditendang salah satu temanku menghantam wajahku tanpa ampun. Katanya, aku pingsan dan tergelepar seperti orang berpenyakit ayan. Dan ketika sadar, wajahku sudah penuh obat luka dan sebuah gigiku berkelana entah ke mana. Aku selalu ingin menertawakan diriku sendiri setiap menggosok gigi atau bercermin sekaligus merasa satu kepercayaan diriku bolong. Seperti deret gigiku kini.

“Woy! Lawasnya mandi! Ngapain di dalam?” Seseorang berteriak dari luar.

“Iya.. sudah selesai ini…”

Baru saja kubuka pintu, Soni menyeruduk masuk sambil memegangi celananya. Mungkin aku juga harus segera bergegas, perjalanan menuju Palangkaraya akan terasa panjang sekaligus kunantikan. Hari ini ulang tahun Nalia, perempuan yang menjadi kekasihku sejak dua tahun lalu. Dan hari inilah aku bisa mendapat kesempatan untuk merayakannya bersama di Palangkaraya, setelah hampir tujuh bulan terkekang oleh pekerjaanku di Banjarmasin ini.

“Jam berapa berangkatnya,Yang?” sapa lembut Nalia di handphoneku yang beberapa menit lalu berbunyi.

“Bentar lagi, kok. Tinggal naik mobil aja kok,” jawabku seraya mengancingkan baju kemejaku di depan cermin.

“Oh, ya udah. Jangan lupa lho, Bakso Lapangan Tembak di Palma jam setengah tujuh. Aku tunggu kamu di situ. Jangan telat lho..”

“Iya.. ini mau berangkat. Bakal tepat waktu kok. Udah ya, dah..”

Aku menyudahi telepon sambil melepas kembali kemejaku dan menggantinya dengan kaos oblong biasa. Pukul sepuluh pagi, Banjarmasin sudah terik dan keringat mulai berebutan keluar, kepanasan juga mungkin. Untunglah perjalanan nanti aku tidak perlu menyetir, banyak tenaga bisa kusimpan untuk acara Nalia malam nanti. Ah, berselieweran bayang bagaimana ia akan memelukku, kukecup ubun-ubunnya yang sudah berdetak kencang karena rindu. Menyuapinya kue ulang tahun dan menyodorkan hadiah kecil yang sudah kusiapkan. Lalu ia menyuapiku dan…. ah, aku jadi ingat gigiku.

***

Sawah-sawah kuning, atap jerami, dan pepohonan seperti slide yang berlalu sepersekian detiknya di mataku. Pukul sebelas kami sudah meluncur untuk meninggalkan Banjarmasin, setelah sehari sebelumnya kami merencanakan berangkat pukul delapan pagi. Entah jam karet merek apa yang kami pakai ini.

Melewati Jembatan Barito sepanjang satu kilometer lebih, kami melaju ke Kabupaten Kuala Kapuas. Pemandangan khas, rawa-rawa, hutan, dan aliran sungai kecil yang memantulkan terik siang hari. Dengan letak duduk di bangku sebelah sopir, aku bebas menggerakkan lubang tempat keluarnya sejuk AC dan mengarahkannya ke tubuhku sendiri. Dibanding tidur, aku lebih suka melihat pemandangan di luar jendela, menatap langit yang kebetulan sedang cerah. Awan-awan seperti bergerak lambat dan konstan, tiba-tiba ada yang saling berdekatan lalu menyatu, terus menyatu dan membentuk wajah. Wajah Nalia!

Kata Robert Hass, rindu dikatakan karena keinginan penuh dengan jarak yang tak berujung. Agak rumit memang, namun rindu memang rumit terlebih untuk yang menjalani hubungan jarak jauh macam aku dan Nalia. Tujuh bulan dipisahkan jarak, bukan berarti tak pernah bertemu sama sekali. Sesekali Nalia datang ke Banjarmasin bersama teman-temannya, saat itulah kusempatkan diri untuk bertemu.

Bosan dengan pemandangan di luar jendela, aku bersandar dan memejam mata. Rileks. Membayang wajah kekasihku itu lagi, membayang rambutnya, dan wanginya yang begitu khas kukenal. Aku mulai makin merasa wangi Nalia di hidungku, namun perlahan hilang, mulai berbau aneh, semakin bau… busuk!

“Siapa kentut?” mataku membelalak. Seperti dikomando, Soni yang menyetir dan kedua temanku di bangku belakang mengendus-enduskan hidungnya.

“Aseemm..!! Buka jendela!” Soni mengaba-aba dan serentak membuka jendela, kecuali Tommy yang justru terbahak. Kurasa pelakunya sudah ketahuan. Sialnya, baunya seperti sudah melekat di hidung, sulit hilang. Tommy semakin kencang tawanya, ia buang angin lagi, makin kencang pula suaranya. Jendelaku tidak mau terbuka penuh, macet di tengah-tengah, kurasa jendelaku sudah pingsan lebih dulu. Oh Nalia, kuharap bau aneh tak kaucium saat kuberi pelukan ulang tahun untukmu.

Dari jendela yang terbuka, aku melihat senyumku yang ganjil di kaca spion. Mungkin karena jumlah gigi di mulutku yang seharusnya 32 buah sudah berpulang sebuah. Untunglah kekasihku Nalia, aku yakin dia akan menerima keadaanku apa adanya meski dia akan terus tertawa setiap aku tersenyum untuknya.

***

“Banguni?”

“Iya, kasih bangun aja.”

“Yan! Bangun, Yanda!”

Tubuhku berguncang, tepatnya diguncangkan setelah sayup percakapan tadi. Rupanya aku tertidur (mungkin juga pingsan). Pandanganku masih kabur.

“Di mana nih?” tanyaku.

“Pulang Pisau, sebentar lagi Jembatan Tumbang Nusa,” jawab Soni.

“Hah? Cepatnya?”

“Cepat? Kamu keenakan tidur! Hapemu bunyi-bunyi dari tadi.”

Aku langsung mengecek ponselku. Tiga SMS dan 5 panggilan tak terjawab. Pasti dari Nalia. Benar!

“Kenapa aku nggak dibangunin?” Protesku sambil mencoba menelepon Nalia.

“Siapa yang nggak bangunin? Kami kira nyawamu sudah kaya gigimu, hilang entah ke mana.”

“Jangan singgung gigiku!” Ponselku masih melekati telinga. Handphone Nalia tidak aktif, aku hubungi lagi. Berulang-ulang.

“Nah am.. bini Yanda kecewa....” Sindir Tommy dengan logat Banjar yang khas.

Aku tak menghiraukan sindiran Tommy, SMS-ku tidak ada satupun yang Nalia balas, bahkan tidak terkirim. Meneleponnya apalagi, tidak ada tanda-tanda aktif. Aku melirik jam, pukul empat sore!

“Kenapa baru di Tumbang Nusa?”

“Jangan protes, kami setengah mati perbaiki mogok di Kapuas tadi. Kamu tidur terus.”

Menurut perhitungan, seharusnya kami sudah hampir keluar dari Kabupaten Pulang Pisau ini. Namun jangankan keluar, Jembatan Tumbang Nusa saja belum dilewati. Perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh selama empat jam justru akan lebih lama tiba. Acara ulang tahun Nalia jam setengah tujuh, ini gawat!

***

Matahari terik, mulai menjadi oranye meski panasnya masih cukup terasa. Sehampar pandang hanya rawa-rawa dan sejauh lihatan hanya jalan layang yang panjang. Kami menyusur jalan yang juga disebut Jembatan Tumbang Nusa ini. Aku ingat, sebelum jembatan tujuh kilometer ini bisa diresmikan tahun 2006, untuk saling kunjung antar-ibukota provinsi yang berdekatan saja perlu waktu lima hingga enam jam. Terlebih musim hujan, sungai meluap dan jalanan yang sangat rusak membuat perjalanan makin lamban. Mobil dan motor harus mengantri menaiki dua kelotok yang digandengkan agar bisa berfungsi sebagai kapal feri untuk bisa ke seberang. Seperti memotong jarak, jembatan inipun dilalui tanpa hambatan meski masih membuatku pesimis tiba di Palangkaraya tepat waktu.

Aku sama sekali belum mengucap selamat ulang tahun untuk Nalia, rencana mengucapkan pertama menanti pukul 00.00 gagal total. Ada kantuk tak terdefinisi menyerangku hingga tertidur lebih dulu.

“Son, bisa cepetan nggak?”

“Sabar.. Kita kan sama-sama juga ke ultahnya Nalia. Masih jam setengah lima..”

“Setengah lima apanya? Ini magrib, mau jam enam!”

“Buang ja jam tangan Banjar ikam tu..” Tommy menyambung.

Benar juga, aku lupa perbedaan waktu Banjarmasin yang lebih cepat satu jam dari Palangkaraya. Setidaknya waktu yang “berkurang” seperti ini sedikit melegakanku. Tersisa satu jam untuk sampai ke Palangkaraya. Dengan demikian, aku juga masih punya waktu untuk berdandan, lalu menuju ulang tahun Nalia. Semoga sempat!

***

Salah satu simbol kota Palangkaraya, adalah Bundaran Burung dimana terdapat patung burung Enggang (katanya melambangkan kekuasaan di atas) dan naga (melambangkan kekuatan di bawah), perlambangan yang umum dijumpai pada masyarakat Dayak. Senyumku merekah, kami melintasi bundaran itu sekarang. Ibarat patung selamat datang di Jakarta, Bundaran Burung ini juga seperti menanda bahwa kami tiba! Palangkaraya! Nalia!

Kami langsung rebah di rumah Soni. Aku langsung mandi dengan cepat tak memikir lelah sepanjang perjalanan tadi.

“Gila.. semangatnya kamu, Yan.. hebat banar kekuatan cinta itu,” Tommy menyindirku.

“Lain cinta, tapi rindu!”

Seolah tak mau memperpanjang urusan, Tommy diam dan meninggalkanku yang sedang mengancingkan baju. Sudah jam setengah tujuh, tapi kupikir terlambat sepuluh-lima belas menit masih ada toleransi—seperti aturan para dosen sewaktu kuliah dulu.

Lagi-lagi jam karet, kami baru memastikan siap pukul tujuh kurang lima. Nalia masih belum bisa kuhubungi, bahkan Ina, teman dekatnya pun ikut-ikutan tidak membalas dan mengangkat teleponku. Jujur saja, aku sedikit cemas. Apa ia membatalkan acaranya karena aku membuatnya kesal? Kenapa dia sulit kuhubungi? Yang jelas, ia tak mungkin meminta putus hanya gara-gara hal ini.

Entah kenapa, Palma atau Palangkaraya Mall yang merupakan satu-satuya mal di kota ini sudah menunjukkan suasana ulang tahun sejak aku melewati pintu gerbangnya. Acara ulang tahun Naila di lantai tiga, di mataku, eskalator sudah begitu tinggi seperti perjalanan terakhir pangeran lalu melawan penyihir di puncak kastil, menyelamatkan tuan puteri.

Ruangan dingin, akupun berkeringat dingin. Baru memasuki pintu, orang-orang yang dominan remaja perempuan menatapku dengan tatapan heran dan curiga. Sekilas aku bisa menebak, mereka teman-teman yang Nalia undang dalam pesta ulang tahunnya. Sebiasa mungkin aku bersikap, seraya menengok ke seisi ruangan mencari di mana kekasihku yang tengah berulang tahun hari ini. Ada!

***

“Kamu di mana aja? Teleponku nggak kamu angkat,” Ketus Nalia padaku tanpa membalikkan badannya, membiarkan aku berbicara dengan punggungnya. Padahal baru saja ia kuhampiri, belum sempat kusentuh pundaknya untuk menunjukkan kehadiranku. Ia duduk di meja dekat jendela sehingga kupastikan pandangannya akan ke luar, melihat kendaraan yang berlalu lalang. Tanpa melihatku sedikitpun.

“Aku ketiduran di jalan, Yang. Aku sudah telepon balik, tapi handphone kamu..”

“Jawab yang aku tanya aja!” Nalia memotong. Oh, apakah aku baru saja memberi ulang tahun terburuk untuknya? Aku semakin gugup seiring sunyinya ruangan ini. Orang-orang serentak menyaksikan aku dimarah-marahi dengan khusyuk.

“Ingkar janji, katanya tepat waktu,” lanjut Nalia.

“Di jalan tadi mobilnya mogok, Nalia. Aku udah nyoba telepon…”

“Kubilang jangan jawab selain yang aku tanya!”

Habislah aku! ia bahkan tak mempersilakan aku bicara. Mendadak Nalia berdiri dan langsung memutar tubuhnya hingga kami berhadapan. Raut wajahnya begitu kesal, ia meraih tanganku dan menarikku ke tengah ruangan, ada meja yang tempat duduknya sudah diisi oleh sobat Nalia sambil menjaga kue ulang tahun di atas meja tersebut, kecuali satu kursi. Nalia duduk di kursi kosong tersebut, posisinya tepat membelakangiku.

“Kamu diam di situ, Yan. Masih banyak yang mau kutanya.”

Astaga.. untuk apa Nalia pindah tempat jika untuk menginterogasiku lagi. Sulit sekali ia ditebak.

“Oke, sekarang…”

Belum sempat ia memulai, aku menariknya—lembut—dari kursinya tersebut. Aku memutar tubuhnya hingga kami kini berhadapan. Bertatapan. Aku tak tahan, kutarik napasku dalam-dalam, begitupun matanya yang kutatap.

“Cukup, Nalia. Kamu bisa tanya dan marahi aku nanti. Sekarang, kita lanjutkan acaramu. Ini ulang tahunmu, Nalia! Ulang tahunmu! Aku mau sekali malam yang sudah kamu siapkan ini nggak rusak cuma karena aku. Tolong, Nalia.”

Wajah cemberut Nalia pelan-pelan berubah polos, seperti ekspresi tak percaya. “Nalia.. selamat ulang tahun, ya,” Hiburku masih sambil menatapnya. Aku tersenyum, memberikan senyuman terindah yang semakin lama semakin lebar. Seiring itu pula, ekspresi wajah Nalia makin aneh, seolah menahan tawa, pipinya gembung dan perlahan ia tutup dengan mulutnya. Seolah meniru Nalia, orang-orang di depanku berekspresi sama. Senyumku masih terbuka seperti mulutku. Mendadak aku teringat sesuatu.

Terlambat, seantero ruangan terlanjur terbahak.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Voodka
Voodka at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 41 weeks ago)
80

:D

Writer rysal
rysal at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 41 weeks ago)
80

waach kada disangka ternyata pangarangnya urang banjar

Writer La Chelsea
La Chelsea at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 45 weeks ago)
100

mantap.. :)

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 50 weeks ago)
90

ahha, cerpen yg buat senyam senyum sendiri. XD

Writer rey_khazama
rey_khazama at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 50 weeks ago)
80

satu kata = Mengalir.

Writer majnun
majnun at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 50 weeks ago)
100

waaaaah..
kalo ini si tulisannya seorang maestro..
rapi, runtut, cerdas, dll, dsbg, dst, dkk..
hehe..
mantabz..
b^_^d

Kak Ikan, tolong wejangannya di 'ketikan' saya
terimakasih...

Writer cyber_nana
cyber_nana at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 50 weeks ago)
90

bagian akhirnya ngena,, Nana jadi pengen ketawa jg.. wkwkwkwkwk...

Writer tatsuya
tatsuya at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 50 weeks ago)
100

waahhh, ndag jadi deh upload cerpen tatsu, jagi ga' pede... heheheheheeeeee:)
Saya juga turut meramaikan ini Kak, http://www.kemudian.com/node/250439 .

Writer MelZhi
MelZhi at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 50 weeks ago)
100

Endingnya itu lho... epik sekali.
Sekaligus bikin saya ketawa-ketiwi.
Deskripsi dan narasinya kental. Pokoknya asik deh ngebacanya. Alur ceritanya rapi pula. Bagus, kak biroe. *acung jempol*
.
Gak ada keluhan deh dari saya buat cerita ini.
.
Oh ya, saya paling suka bagian pembukaannya, dimana kak biroe mengait-ngaitkan, dari dokter gigi, Tiana, terus berujung pada satu gigi yang berpulang itu. XD XD

Writer angel16
angel16 at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 50 weeks ago)
80

alurnya satu satu dan mantap. Deskrip dan narasinya juga bagus XD
tema yg diangkat juga manis~ saya suka

Writer climacus
climacus at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 50 weeks ago)
20

mantap

Writer redscreen
redscreen at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
100

baru habis baca cerita berat, cerita ini jadi ringan dan sangat ceria kak
kereeeeen! semoga menang kak ikan :D
tolong kritik ceritaku juga ya
http://www.kemudian.com/node/250420
terima kasih

Writer wacau
wacau at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
100

hahahahaha .. mantaps brooo, biasanya aku ga sabar baca cerpen. tapi caramu menyajikan dan kelucuan di dalamnya membuat ga bosan untuk diteruskan membacanya.
btw gigimu memang sudah berpulang satu, atau itu hanya sebatas cerpen? hehe :D

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
80

waww.. pendeskripsian tentang palangkaraya dll, serasa memberi informasi baru.. endingnya juga simple tapi lucuuu....

Writer naura
naura at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
20

Wah saya nyerah kalau soal baca cerita.. sekilas saya lihat sptnya bagus.. Hehe...

Writer wellight
wellight at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
80

awesome!
jd inget pas ke dokter gigi, hehe

sudikah mampir kerumahku?^^

100

sepertinya, saya butuh 1000 tahun untuk menulis seperti ini..
Ya, Allah...tolonglah. *sedang berdoa dan berusaha*

Writer KD
KD at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
100

wkwkwk

Writer cloudiath
cloudiath at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
90

hebat !!!
tambahkan jempol kakiku agar genap empat jempol untukmu.
ha...99X
aku sampai heran...
dengan alur dan dialog yang sangat 'bercerita', kamu bisa menyelesaikannya kurang dari tiga ribu kata ???
berhadapan dengan seorang master rupanya diriku...
ayo tetap belajar sama-sama
silakan mampir juga
http://kemudian.com/node/250395

dadun at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
80

rapi, ndi. dan kamu cukup sabar dalam bercerita. kupikir awalnya, kenapa sih harus memakai kata "lawasnya" mandi. dan setelah bacabacabaca, hoh kental sekali terasa kalau si aku memang seakan bukan seseorang yg berasal dari pulau jawa yg kalau berbahasa tdk se_"lokal" itu.
aku suka deskripsinya. ini adalah cerpen dg konflik yg ngga begitu kuat, kecuali ledakan2 kecil kekhawatiran keterlambatan yunda. pas, menurutku. soal ending, rasanya terlalu egois kalo aku bilang, "udah ketebak". well, di awal memang petunjuk tentang gigi itu sudah sedemikian memadai diungkap.

Writer ikan biroe
ikan biroe at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)

trimss bang dadun :D

Writer cat
cat at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
80

ikan kamu membuat aku ikan dengan banjarmasin, Samarinda .. he5 Apa kabarnya saudara sepupuku di sana yak?? (*sok melow wkwkwk).

Ikam memang keren ...iya kalok (uda agak lupa bahasanya)

endingnya tuh yang ndak nahan, bikin aku berekspresi seperti Nalia humph ...

Writer ikan biroe
ikan biroe at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)

wkwkwk...masak yang tinggalnya di tanah kalimantan lupa lawan bahasa banjar? haha..

makasih lah mbak catz handak mampir...
haha..

Writer cat
cat at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)

Ikan diriku di kalimantan barat, lbh ke bhs melayu.

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
100

blue fishy, salut :)
ceritanya mengalir rapi, ah.. gigi gigi xD

Writer ikan biroe
ikan biroe at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)

hahaa.... ada apa dengan gigi?

trims mba kumii....

Writer dewisun
dewisun at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
100

ceritamu membuatku tersenyum biroe, mengalir dengan apik....ah, jadi ingat sama pengalamanku dgn gigi. ^_^

Writer ikan biroe
ikan biroe at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)

hahaha.... semoga pengalaman yang menyenangkan ya.. (biarpun aku sendiri jarang punya pengalaman bagus berkenaan dengan GIGI)
haha...

trims :)

Writer dewisun
dewisun at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)

yang pasti pengalaman yang bikin aku males ke dokter gigi ^_^
kunjungi linkku ya
http://www.kemudian.com/node/250390

Writer ijazah_sd
ijazah_sd at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)
100

berat

Writer ikan biroe
ikan biroe at 4 Tahun Kemudian - Setempuh Rindu (10 years 51 weeks ago)

trims sudah mampir :)