4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya

Dengan bodohnya aku masih melirik jam tangan yang terpasang di lengan kiriku. Sementara jam digital di system tray yang dengan jelas juga telah menampilkan waktu yang tepat, seperti tidak terlihat di mataku. Kupasang kembali headphone nirkabel yang sejak beberapa menit yang lalu menggantung di leher. Lagu yang sama masih terdengar. Kebosanan ini juga masih sama.

Sebuah jendela messenger terbuka. Tapi ini bukan dari dia. Sebuah akun bernama Xfrozguy muncul dengan avatar berwarna putih. Mulutnya bergerak naik turun, dan muncul sebuah balon berisi kata-kata persis seperti yang digunakan karakter komik uuntuk berbicara.

“Bisa kau kirimkan beberapa foto hewan Afrika yang kau punya?”

Aku kenal akun ini, bahkan secara pribadi. Nama aslinya Aria.

Aku mengirim avatarku, si kepala mendung, menemui miliknya. Aku mengetik dan sebuah balon kata-kata muncul. Pesan terkirim dengan cepat. Tak akan ada jeda jika berbicara dengannya.

“Untuk apa?”

“Seseorang dari koloni Libra ingin melihat gambar-gambar itu. Dia bilang ingin melihat gambar gajah.” balasnya.

“Lalu apa yang kau dapatkan darinya?”

Avatar Aria berguncang tertawa. Aku mengirim buzz untuk mendapatkan perhatiannya. Lalu mulai mengetik lagi.

“Ayolah! Kau tak pernah memberikan foto-foto itu secara gratis.”

Balasannya datang tepat saat balasan yang kutunggu-tunggu datang. Jeda 10 menit itu telah terlewati. Tapi aku tak mengalihkan pandangan dari perbincangan dengan Aria. Aku sudah menunggu sepuluh menit, tidak akan jadi masalah kalau menunggu sedikit lebih lama lagi.

“Dia berjanji akan memberikan algoritma keamanan Mirror di koloninya.”

Balasan dari Aria tak membuatku kaget. Dia peretas yang sangat hebat. Dia pernah membobol kode keamanan Mirror, sebuah situs social network multi semesta, yang berada di bumi dan membuat informasi serta avatar setiap akun betukar. Akibatnya Mirror harus me-reset sistem dan mengambil back-up data. Hebatnya lagi dia tidak terlacak dan hanya berkata kalau menukar avatar hanya kerusakan minimal yang bisa dibuatnya.

Aku meninggalkan Aria dan avatar saljunya. Beralih ke messenger yang lain. Sebuah avatar berbentuk kupu-kupu dengan konyol menggoyang-goyang kepalanya. Butterheart, tertulis di sisi kiri messenger. Balasannya hanya satu baris saja, namun membuatku terkejut.

“24 Februari…”

Kali ini aku menggeser pointer ke system tray, ke atas jam digital. Sebuah pop-up muncul, bertuliskan tanggal hari ini, 17 Februari. Itu berarti ulang tahunnya tinggal seminggu lagi. Yang lebih membuatku terkejut, hari lahirnya sama denganku. Awalnya aku berpikir kalau dia menggodaku, tapi segera aku buang pikiran itu. Seingatku aku tak pernah memberitahunya tanggal kelahiranku. Di akun Mirror-ku pun tak kucantumkan tanggal lahir.

Aku menghembuskan nafas panjang. Jika mengirimkan kado sekarang pun tidak akan sampai tepat waktu. Bukan masalah jarak yang aku persoalkan, tapi lebih karena proses yang berbelit-belit dan panjang. Lalu dengan keragu-raguan, aku hanya bisa menulis.

“Tunggu kado dariku, Mi”

Pesan itu baru akan tersampaikan 10 menit kemudian.

©©©©©©©©©©©©©©©©©©©©©©©©©©

Ini sudah empat hari setelah pesan terakhir dari Mi, si Butterheart. Sekarang aku bingung mencari hadiah apa yang tepat untuknya. Dengan jarak koloninya yang mencapai 4 tahun cahaya, tidak mungkin mengirim sebuah benda sekarang.

Akhirnya aku putuskan untuk memberinya sebuah hadiah yang dapat aku kirimkan melalui Mirror atau e-mail. Aku membuka laptop. Aku buka beberapa file yang aku anggap menarik. Beberapa diantaranya adalah gambar-gambar pemandangan bumi atau hewan-hewan yang tidak boleh dibawa ke koloni.

Aku tarik beberapa file itu ke sebuah folder baru, lalu mulai memilih lagi. Pointer-ku berhenti di sebuah file gambar. Saat aku buka file itu berisi gambar sepasang anak-anak laki-laki dan perempuan sedang berpose di depan sebuah tiang bendera. Baju mereka menunjukkan kalau mereka masih SMP. Ini adalah satu-satunya fotoku bersama Mi.

Aku bertemu dengannya saat masuk SMP. Aku yang pendiam tidak bisa mencari teman. Ya, aku masih bisa merasakannya sampai saai ini. Perasaan tidak dihiraukan dan dilupakan itu benar-benar menyakitkan, bahkan olehku yang kala itu masih kecil. Saat itu, aku akan bersedia melakukan apapun, bahkan agar mereka mau mengejekku. Bagiku sebuah hinaan mungkin adalah sebuah bukti eksistensi.

Lalu saat itulah Mi muncul. Dia seorang yang periang dan aktif. Berawal saat dia melihatku memotret lingkungan sekolah, kami berteman. Dia membantuku membuka diri. Menyuruhku ikut klub fotografi dan memberiku nasehat-nasehat pertemanan. Hal yang menurutku terlalu dewasa dilakukan saat seusianya.

“ Kau tak akan mendapatkan teman jika hanya memasang wajah membosankan. Tersenyumlah ! Kau tak akan tahu jika tidak mencoba” katanya.

Tapi kebersamaanku dengan Mi hanya berlangsung selama 4 bulan. Sebelum semester pertama berakhir, Mi bersama beberapa orang di kota terpilih untuk ikut dalam sebuah koloni baru yang akan pergi mengorbit ke Proxima Centauri. Aku kehilangan dia sebelum tahu apa-apa. Bahkan untuk tahu hari ulang tahunnya.

Saat Mirror diluncurkan, aku langsung mendaftar. Berharap menemukannya. Dan tepat 6 bulan yang lalu, aku menemukan Mi. Meski resminya baru 3 bulan yang lalu, karena awalnya aku tidak tahu siapa pemilik akun Butterheart.

Aku memutuskan untuk mengikutkan foto ini ke dalam folder hadiah. Aku tidak akan mengeditnya. Aku ingin Mi mengingat kenangannya denganku dulu.

Tiba-tiba avatar salju milik Aria masuk ke jangkauan penglihatanku. Dia muncul dan berkali-kali melakukan buzz. Aku kirim si kepala mendung.

“Aku menemukan hal yang luar biasa. Kau bisa ke tempatku?” sebuah balon kata-kata muncul.

“Apa?”

“Cepatlah !!! Ini ada hubungannya denganmu.”

Begitu tulisan itu muncul, Aria menarik avatar-nya. Terakhir kali dia berkata kalau ada hal yang luar biasa dan menyuruhku ke tempatnya, dia menunjukkan cara meretas gedung pemerintah. Dia ingin memberiku bukti kalau beberapa pegawainya menyimpan file-file tidak senonoh di komputer kerjanya.

Aku membereskan laptopku dan memasukkannya ke ransel. Aku akan pergi. Paling tidak aku akan bisa melihat kelincahan Aria meretas dan sedikit mempelajarinya.

Aria tinggal di sebuah apartemen di kota sebelah. Ada kereta yang menghubungkan kedua kota. Jarak dari apartemenku ke stasiun juga tidak begitu jauh. Aku bahkan biasa menempuhnya dengan berjalan kaki.

Aku keluar dari apartemen dengan senang. Udara di luar sedang bagus. Kekhawatiran orang-orang dulu mengenai pemanasan global tidak terbukti. Pemanasan global memang masih terjadi. Tapi tidak ada permukaan air laut yang naik drastis atau kebocoran ozon yang berlebihan. Kota ini penuh dengan gedung-gedung sangat tinggi yang dibangun dengan model-model sama. Meski dengan alasan bahwa model-model itu adalah yang paling aman, namun itu membuat pemandangan kota menjadi membosankan.

Dengan menggunakan kereta, hanya butuh setengah jam bagiku untuk sampai di kota Aria. Kota ini hampir sama dengan kotaku. Hanya saja gedung di sini tidak terlalu tinggi dan punya beragam model. Sesuatu yang menurutku lebih baik. Meskipun sesuatu yang lain sangat menganggu pemandangan. Adanya papan-papan iklan berkelap-kelip berukuran besar membuatku tidak nyaman. Aku ingat saat Aria meretasnya, mengubah tulisannya menjadi ‘Kalian Orang Paling Bodoh Sealam semesta’.

Aku tiba di sebuah apartemen dan segera naik ke lantai tiga. Tidak butuh waktu lama bagiku menekan bel sampai akhirnya pintu terbuka. Seorang pria kurus jangkung muncul di depanku. Rambutnya panjang dan terurai, beberapa helainya menutupi mata dan anting yang dipakainya di telinga kiri. Saat dia membuka mulut, tercium bau tidak sedap seperti bau kerang.

“Aha, saudaraku ! Lama sekali dirimu.” berbeda dengan penampilannya yang mengerikan, suara Aria sangat lembut.

Apartemen Aria tepat sama seperti terakhir kali aku ke sini. Ruangannya diberi cat hijau kumal, dengan beberapa grafiti yang tidak selesai. Aria sendiri yang menggambarnya. Hanya ada dua kamar, kamar tidur dan kamar mandi. Tapi aku tahu kalau Aria selalu tidur di ruangan tengah yang menghubungkan ruangan depan dan dapur. Ruangan itu sekarang sangat berantakan dan penuh kabel. Semuanya terhubung ke salah satu sisi ruangan. Tempat dimana beberapa kumpulan CPU dan monitor dirangkai jadi satu. CPU yang terbesar seukuran kulkas dua pintu.

“Kau tahu kan kalau aku punya beberapa algoritma Mirror dari koloni?” tanya Aria sambil menyuruhku duduk di depan komputernya. Ada tiga keyboard di mejanya sesuai dengan jumlah monitornya.

“Seperti yang kau dapat dari Libra?” kataku, mengambil tempat duduk dan mengawasi salah satu monitor yang menampilkan situs Mirror.

“Ya, tadi pagi aku mencoba masuk ke sistem Mirror dan mengecek ke-valid-an algoritma tersebut dengan Mirror dari bumi.” Aria mulai mengetik dan monitor tengah memberikan hasilnya. Aku merasa kalau dia hanya mengetik beberapa huruf tapi monitor itu menampilkan beberapa jendela program yang dengan cepat tertutup dan terbuka.

“Tapi aku menemukan sesuatu yang lain.” sambungnya. Monitor kini menampilkan sebuah diagram lingkaran warna-warni yang berputar. “Mirror telah menambah sebuah kode baru yang aneh.”

“Aneh?”

Aria menyeret bagian diagram yang berkelap-kelip merah dan mulai mengetik lagi.

“Protocol Valentine?” aku membaca apa yang tertera di layar. Sebuah tulisan tebal berwarna merah tertulis di bagian diagam tersebut. Lalu dari diagram itu muncul sebuah jendela program baru. Anehnya jendela itu hanya berisi angka serta huruf yang sangat banyak dan terus bergerak turun.

“Ya, ini kode yang tidak pernah ditulis sebelumnya. Tapi setelah aku bandingkan ternyata kode ini sangat mirip dengan algoritma dari koloni. Kau tahu apa artinya?”

“Heh…Artinya?” sangat tidak mungkin bagiku mengerti kode-kode ini.

Aria tersenyum mengejek, “Aku berani bertaruh kalau kode ini adalah algoritma yang digunakan jika Mirror di suatu server tertentu ingin berhubungan dengan server lain. Maksudku hampir semua koloni punya server Mirror-nya sendiri, jadi mungkin ini yang dilakukan kalau mereka ingin mengubah sesuatu yang berhubungan dengan beberapa jaringan sekaligus.”

“Lalu apa maksudnya dengan semua kode ini?”

“Ini belum semua. Masih sangat panjang kode yang aku temukan. Aku hanya memotong di beberapa bagian. Lihat ini !”

Aria mulai mengetik lagi. Sebuah jendela baru muncul, juga dengan kode-kode yang menurun. Lalu entah bagaimana caranya tiba-tiba sebuah kotak merah muncul dengan tulisan yang tidak kalah mencoloknya.

SHUT DOWN

“Apa yang mau mereka matikan?” ada nada cemas dari pertanyaanku. Aku sedang memikirkan kemungkinan terburuk dari apa yang aku lihat.

“Ini!” Aria menunjukkan padaku sebuah diagram radial di layar lain. Kata Mirror ada di puncaknya dan tersebar ke beberapa penjuru nama-nama yang harusnya tidak terlalu asing bagiku. Namun tetap saja aku bertanya maksud gambar itu pada Aria.

“Ini adalah nama-nama server Mirror yang ada di alam semesta. Setiap server memiliki 7 sampai 12 sistem percepatan cahaya yang memungkinkan setiap Mirror berhubungan dalam jeda yang singkat. Paling tidak dibawah setengah jam. Nah, setelah aku mencari bagian tengah kode itu. Ternyata perintah itu ditujukan ke sini.”

Dengan satu klik salah satu cabang diagram membuka.
“G Nebula.” sambungnya. “Mereka justru mematikan server yang paling dekat dengan bumi. Tak akan ada hubungan lagi dengan koloni yang mengorbit di sekitar Alpha Centauri dan Proxima Centauri.”

Perutku tiba-tiba panas mendengar nama Proxima Centauri disebut. Aku mengalihkan pandangan dan mulai bekerja di monitor dan keyboard yang tersisa. Begitu tersambung dengan internet, aku mencari tahu nama-nama koloni yang mengorbit Proxima Centauri. Rasa panas semakin menjalar hingga mataku ketika melihat nama koloni Mi terpampang di urutan paling atas.

“A-A-Apa?” aku gagap. “K-Kenapa mereka mematikan server itu? Di situ… Ini adalah satu-satunya cara aku dapat…”

“Mungkin ini ada hubungannya dengan serangan peretas beberapa waktu lalu. Seseorang dari koloni dua bintang itu terus-menerus meneror Mirror dan jaringan bumi. Mungkin mereka tidak punya pilihan. Kukira mematikan server cara yang wajar untuk mencegah mereka masuk ke jaringan internet bumi. Kau adalah peretas yang benar-benar keterlaluan jika sampai mengancam menembakkan nuklir ke bulan, Kawan.”

“Tapi tetap sama saja kan? Meski Mirror dimatikan, mereka masih dapat menggunakan internet !” aku bahkan hampir berteriak di beberapa kata terakhir.

Aria mendengus, mungkin mencoba bersabar. “Berapa kali harus kubilang? Mirror adalah internet itu sendiri. Server internet di luar sana adalah milik Mirror. Jadi kalau mereka mematikannya, tak akan ada lagi internet antara kita dengan mereka.”

Mataku benar-benar pedih sekarang. Sampai aku berpikir kalau sebentar lagi aku akan menangis. Aku menatap Aria. Dia pasti tahu alasan sikapku ini. Aku pernah bercerita mengenai Mi padanya.

“Paling tidak butuh waktu sepuluh hari bagi kode ini untuk bekerja.” Tiba-tiba Aria berkata sambil mengetik sesuatu. “Besarnya mungkin beberapa ratus giga. Selain jarak, kode ini menunjukkan proses yang panjang untuk menghentikan sebuah sistem. Tidak akan ada tenaga manusia untuk menghentikan server ini. Jadi mereka akan menghentikannya pelan-pelan dan bertahap. Itu juga sebagai upaya agar server itu dapat dengan mudah diaktifkan kembali suatu saat nanti.”

“Sepuluh hari?” aku masih terheran-heran dengan penjelasan dari Aria. “Jika mereka memulainya saat valentine…”

“Anggap saja ini hadiah ulang tahunku untukmu.” Aria memotong. “Aku akan melakukan sesuatu dengan server menyebalkan itu. Tapi aku bersumpah kalau kau pulang sekarang dan tidur-tiduran menunggu kabar dariku, sementara aku mengetik mati-matian di sini. Maka akan aku retas seluruh jaringan di bumi dan menjadikanmu sebagai pelakunya.”

Karena gembiranya mendengar kata-kata Aria, aku bahkan sama sekali tidak mendengar ancamannya. Namun aku mengerti, dia tidak bisa melakukannya sendiri. Jika mereka memulainya saat valentine, kami hanya punya waktu tiga hari untuk melakukan sesuatu.

Aria menepati ancamannya dengan tidak membiarkan aku pulang. Dia menyuruhku tinggal di apartemennya, menemaninya mengetik kode-kode panjang. Sesekali kami bergantian, dengan petunjuknya aku mengetik kode-kode sangat panjang itu dan secara periodik menekan tombol enter. Rasanya tanganku ini kebas, mati rasa karena berjam-jam beradu dengan keyboard.

“Hentikan! Hentikan itu!” kata Aria tiba-tiba, di hari kedua kami bekerja. Dia baru saja keluar membeli makanan.

“Kita tidak akan sampai kawan. Ini tidak akan berhasil.” tambahnya sambil menhempaskan diri di kursi, sementara aku terus mengetik berdasarkan kode darinya.

“Apa maksudmu?” aku berteriak. “Kau sendiri yang bilang akan membantuku. Kenapa sekarang kau yang mau menyerah.”

Aria mengetik sesuatu. “Aku baru saja berpikir di jalan kalau ini semua sia-sia. Lihat! Kodenya telah bekerja. Satu persatu sistem percepatan dimatikan.”

Aku terpaksa berhenti bekerja dan melihat layar yang lain. Sebuah jendela dengan tulisan G Nebula terpampang. Di dalamnya berisi sebuah bentuk segi enam berisikan sepuluh titik cahaya. Satu diantara titik itu padam.

Aria mengambil beberapa lembar kertas yang berserakan di lantai. Selama aku tinggal di sini, Aria menulis semua itu. Beberapa di antaranya berisi kode-kode dan algoritma yang harus aku ketik. Sisanya aku tidak terlalu mengerti. Namun dari pemikiranku, itu adalah semacam pola yang dia buat untuk menghentikan Protocol Valentine.

“Ini!” dia menyerahkan kertas-kertas itu. “Ini adalah bagian akhir untuk menutup kode-kode itu. Meski kau mengetik 24 jam tidak akan selesai bahkan dalam satu minggu. Aku akan berusaha memisahkan sistem otomatisasi Mirror-internet. Aku harap internet yang tersambung dapat berdiri sendiri. Tugasmu sekarang adalah mengirimkan kode-kode itu. Kita akan cukup beruntung kalau dapat menyelamatkan beberapa percepatan. Lihat !”

Aria menunjuk ke bentuk segi enam itu dengan tangan kiri. Sementara dia mengetik dengan tangan yang lain. Sebuah jendela muncul. Beberapa angka nol berderet di depan huruf-huruf Y, M, Min, dan S. Sementara angka 7 dan 3 masing-masing tertera di depan huruf D dan H. Tiba-tiba aku ingin memukul monitor itu. Hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tanganku yang hampir mati rasa.

“Ini adalah waktu yang digunakan bagi e-mail atau Mirror untuk mencapai tujuan. Semakin banyak sistem percepatan yang mati, semakin panjang waktu yang dibutuhkan.”

Aku tidak mendengar Aria lagi. Aku sudah tahu maksud angka-angka itu. Sekarang aku hanya fokus untuk menyelesaikan kode-kode menyebalkan ini. Maka aku mengetik dengan kecepatan yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Aria sendiri tak kalah kerasnya berusaha. Hentakan jarinya terdengar lebih keras dariku. Sesekali dia mengumpat dengan keras.

Kami memakan sarapan dan makan siang kami sambil bekerja. Cukup mudah kalau kau hanya makan roti dan susu. Tapi kami melewatkan makan malam. Sampai hampir tengah malam tinggal beberapa baris kode yang harus aku ketik, ketika tiba-tiba Aria berkata.

“Selesai ! Dan apa yang kita dapat sekarang.” Aria melihat bentuk segi enam itu. Aku tidak tahu berapa titik yang telah mati. “Dua tahun !” katanya terkejut.

Aku berhenti bekerja. Dengan jeda dua tahun, tidak akan ada gunanya aku mengirimkan sesuatu pada Mi. Ulang tahunnya dan ulang tahunku akan telah terlewati jauh. Aku mulai menangis.

Seperti tidak memperdulikan aku, Aria menyelesaikan kodeku dan menekan tombol enter. Membuat kode-kode itu terbang menuju sasarannya. Dia mengambil tasku dan menarik keluar laptop. Kemudian dia mengambil dua buah kabel dan menancapkan ke bagian-bagian tertentu komputer lipat itu.

“Kalau kau menyerah sekarang, bagiku itu seperti tak ada gunanya kau hidup.” Aria menunjukkan layar komputerku yang telah menyala, menantiku memasukkan password. “Kau tak akan tahu kalau tidak mencoba.”

Aku seperti terbangun dari mimpi. Rasanya seperti ditampar dengan keras oleh seseorang. Dan yang menampar adalah Mi. Aku menjangkau komputerku seperti tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Dengan cepat aku masuk dan melakukan koneksi ke internet.

“Tidak bisa! Mirror tidak bisa menjangkaunya.” Aku berteriak cemas.
“Tentu tidak bisa, bodoh!” Sebuah sentilan menerpa telingaku, tapi aku tidak merasa sakit. Suara Aria tiba-tiba membesar dan terdengar kejam. Tapi aku tidak peduli. “Mereka menutup Mirror lewat G Nebula. Tapi kau bisa menggunakan internet. Aku sudah memisahkan jaringan mereka.”

Aku tidak pernah bernafas secepat ini sebelumnya. Udara terasa sesak dan memaksaku mengungkapkannya dalam kata-kata yang ingin aku tulis dalam surat ini. Tapi aku tidak bisa. Jari-jariku memintaku berbohong tentang semua yang aku alami sekarang. Kecepatan mengetikku menurun drastis mungkin sampai hanya beberapa kata dalam satu menit. Dunia seperti bergerak sangat pelan.

Perasaan itu usai saat aku akhirnya mengirimkan e-mail. Bersamanya terbang penyesalanku, tentang kata-kata yang tidak tersampaikan atau folder hadiah yang gagal aku kirimkan. Total aku hanya menulis satu paragraf, yang berpuncak pada ucapan selamat ulang tahun. Meski begitu aku masih sempat melampirinya dengan satu buah foto. Foto aku dan Mi di depan tiang bendera.

Dengan takut aku melirik ke sebelah kanan. Aria sedang mendongakkan kepala, tangannya menutupi wajahnya. Sedikit demi sedikit ketakutanku meningkat, saat aku perlahan menggerakkan kepala menatap monitor. Rasa kesal yang tidak ada hubungannya dengan suratku yang tak sempurna tiba-tiba datang. Tak satupun titik percepatan yang masih bercahaya. Semua tinggal berupa segi enam gelap. Satu-satunya yang masih terpampang jelas hanya angka-angka yang menunjukkan jeda waktu itu. Ada rasa asin di lidahku saat membacanya.

“Empat tahun dua bulan dua belas hari?”

“Ya, untuk sebuah ulang tahun ini semua sepadan.” Aria berkata pelan. Suara lembutnya kembali. Dia gagal dan entah untuk yang keberapa.

Aku menggigit bibirku. Ingin sekali rasanya berteriak kalau semua ini tidak berguna. Tapi aku tidak bisa. Aria benar. Tidak ada yang harus disesali. Meski berbuat sesuatu atau hanya berdiam akan menghasilkan sesuatu yang sama, namun sebenarnya ada sebuah perbedaan di sana. Suratku yang sekarang tersimpan di berita terkirim seperti menjadi bukti perbedaan itu.

Dan pesan itu mungkin baru akan tersampaikan 4 tahun kemudian.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Suka idenya saja.

Writer MelZhi
MelZhi at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)
100

One word : Sophisticated.
*nail-biting*

Writer majnun
majnun at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)
100

WOOOOOWWW!!!!
sangat keren sekali..!
b^_^d
~
mampir jua om
Koloni Mimpi

80

Wooowww, Undus Mundus Network (UMN) ??? (yang ga ngerti silakan maen Xenosaga).
==
Saya mo kritik ah, boleh ya?
Gini.. setting cerita ini, yang pasti ga deket2 sekarang toh, udah ada koloni di Alpha Centauri segala.
... tapiiiiiiii, untuk masa depan yang advance, teknologinya masih ga berbeda jauh dengan sekarang. masih ngetik di kibord, masih ada monitor, masih ada mouse, masih pake messenger, hueheheheheh.
===
teknologi softwarenya mesti di eksplor lagi tuh, kalo bisa juga teknologi jaringannya. gimana caranya bisa tersambung ke galaksi lain secara realtime. (refer UMN diatas ^^ ).
===
Tapi saya salut idenya, mantab brooo

Writer redscreen
redscreen at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)
90

waaah, kasihan kak >v<
untung mereka masih muda, kalau mereka sudah tua terkirimnya setelah mati donk
scifi yg keren kak :D
tolong kritik ceritaku juga
http://www.kemudian.com/node/250420
terima kasih

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)
80

cerita ini terlalu bagus sehingga saya nggak "nyandak" untuk mengerti.. hehehe.. kayak nonton film2 sci-fi..

80

ummm, idem sm kak Cat deh komennya.. hahahhaa
sy nggak begitu ngeh sm ceritany.. tp sy yakin ini bgs..
*maapkan kelemotan sy*
suxes yah..

Writer herjuno
herjuno at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)
70

Ho jujur saja, dalam pandanganku, semua yang ada di cerita ini mengawang-awang
.
- Setting tempat dan waktunya: kapan/tahun berapa dan di mana kejadian ini berlangsung? Apakah di bumi atau planet lain? Seperti yang Shafira bilang, aku mengalami disorientasi apakah kamu mengambil tempat di bumi ataukah tidak.
- Background karakter utama: siapa sebenarnya si aku? Apa cuma hacker atau ada yang lain?
- Backgorund karakter sampingan: apa hubungan aku dengan Mi? Apakah sepasang kekasih atau bagaimana? Mengapa Mi sangat penting bagi aku?
- Konflik: kenapa dan untuk apa aku dan Aria mau meng-hack Mirror? Apa itu Protocol Valentine? Bagaimana implikasinya terhadap proses peretasan?
.
Maaf kalo banyak tanya, soalnya jujur, saya meraba-raba waktu baca ini. Tapi btw, untuk penjabaran proses peretasannya bagus dan dapat diacungi jempol. :D

Writer ikan biroe
ikan biroe at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)
90

waw!.. cerita yg bikin mikir..

Writer cloudiath
cloudiath at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)

ya, terima kasih telah mampir...

Writer cat
cat at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)
70

Aku yakin cerita ini bagus, tp saya tdk terlalu mengemari perputaran yang rumit he5.
Untk pengemar genre ini, pasti angkat jempol d.

Writer cloudiath
cloudiath at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)

kalau sudah bicara kegemaran, memang tergantung terserah pribadi.
tapi trima kasih sudah baca.

Writer KD
KD at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)
100

dua juri akan sangat suka dengan karya ini; tapi tidak dengan yang satu... semoga beruntung

Writer cloudiath
cloudiath at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)

trima kasih. satu suntikan semangat bagi saya...

Writer shafira
shafira at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)
80

Kuliah jurusan IT ya?
hayyyaaah, terus terang, aku kurang begitu 'ngeh' dengan cerita ini, yang aku 'ngeh' cuma tentang hubungan aku dengan Mi, dan tentang surat yang akan sampai 4 tahun lagi itu..
-
kadang aku merasa kau mendeskripsikan sebuah dunia yang asing, aku merasa tidak di bumi, namun ketika bagian foto waktu SMP itu kau kembali menghempasku ke bumi..
deskripsiku meloncat-loncat, *mungkin karena pada dasarnya aku kurang mudeng dengan cerita berat spt ini, hehehhee..
maafkanlah kebodohan saya, saya kurang bisa menikmati isinya..
>_<
hiks..

Writer cloudiath
cloudiath at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)

aku gak kuliah, lepas sma saya langsung kerja.
wah, gitu ya, ku kira waktu aria minta foto hewan afrika bisa cerita jadi pertanda ke'bumi'an setting tempatnya.
ternyata tidak berjalan mulus ya?
hak...99X

deskripsiku meloncat-loncat

boleh dijelaskan ?

Writer abc
abc at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)
100

i vote this story to be the winner in k.com birthday party...
you know, it's really awsome...

well, ada beberapa kekurang...
* Tokoh si aku kurang mendapat peran lebih, dalam cerita ini, sehingga karakterisasinya agak minim.
.
* beberapa penulisan EYD masih salah...
.
.
selebihnya, sy suka sekali idenya, apalagi semua logika terususun dengan baik di cerita ini, namun sedikit saran sy, untuk cerita sci-fi yg kamu tulis ini, setidaknya, penggunaan istilah internet sendiri seharusnya bisa diganti dengan istilah yang lainnya. untuk menghubungkan 1 bintang ke bintang lain, mungkin km bisa menjelaskan sedikit mengenai satelit penghubung bintang tersebut dimana miror berada di dalamnya.
.
klo nggak salah, mirror ini semacam ftp atau sebuah server berbeda yang akan mengarahkan ke sumber yang sama kan?
.
anyway, i like aria character. i hope, one day i'll be like him.

Writer cloudiath
cloudiath at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)

kak, andai andalah jurinya... (ngarep puol)
pertama, saya juga merasa begitu. kayaknya Aria tampil lebih dominan ya?
tapi gimana lagi... dengan latar belakang yang tidak bisa bergaul, mungkin akan aneh kalau 'aku' yang meretas mirror sendiri. apa benar begitu?
tentang EYD, saya tidak bisa bilang apa-apa. saya sudah cek berkali-kali, jadi ini batas penglihatan 'baku' saya. bisa kasih contoh?
he...99X, saya bahkan berpikir kalau mirror itu semacam facebook. tapi bagus juga kan kalau facebook punya beberapa server?
uhm... jadi seperti Aria, mungkin ini yang paling menakutkan..
ha...99X. terima kasih...

100

bener2 kereeen

emosinya dapet banget! bener2 dapet!

*usep mata* saya jadi sampe mo nangis

love it!

Writer cloudiath
cloudiath at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)

wouh, sang pain mau singgah ke sini.
terima kasih...
tetap belajar sama-sama.

80

puyeng.. helep, mau jatuh xD
kayak komik Q.E.D ya, banyak kode-kode dan nama-nama ilmiahnya^^
jujur.. ini berat bagi saya (U_U)..

Writer cloudiath
cloudiath at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)

ups, sini pegangan sama aku.
hak...99X
gini, anggap saja mirror itu semacam facebook.
lainnya... ayo tetap belajar sama-sama

80

nice..benar tak ada yang harus disesali.yang ada adalah bagaimana membuatnya jadi lbih baik lagi.

Writer cloudiath
cloudiath at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)

trims udah mau baca
ayo tetap belajar sama-sama.

Writer cloudiath
cloudiath at 4 Tahun Kemudian-Empat Tahun Cahaya (10 years 51 weeks ago)
100

akhirnya bisa posting juga.
sebelumnya minta maaf kalau tidak bisa aktif berkomentar.
saya bukan orang yang rutin terhubung ke dunia maya.
jadi, pesan anda mungkin baru akan tersampaikan beberapa saat kemudian.
insya Allah saya baca...