4 Tahun Kemudian - Time capsule untukmu, Dian ஜ.●•·❤

Alhamdulillah, berkali-kali aku lantunkan dalam hati saat pesawat yang kutumpangi mendarat. Dari jendela aku lihat pesawat bergerak menuju hangar. Narita… ya, aku sudah tiba di Jepang!

Subhanallah, itulah yang kemudian terlafaz dari bibirku. Narita, Tokyo, setelah empat tahun berlalu, aku kembali lagi ke negeri dingin ini. Nggak berlebihan kalau aku bilang negeri ini dingin, karena memang begitulah faktanya. Saat mendarat jam 7 pagi tadi, pilot bilang cuaca sekitar -2 derajat. Wow bayangkan, dari Jakarta yang 29-30 derajat celcius terjun bebas ke suhu minus! Ya Allah, semoga aku nggak masuk angin selama di sini. Sungguh nggak enak sakit di negeri orang, sendirian, nggak ada teman apalagi ibu yang biasanya langsung sigap mengurusku.

Keluar dari bandara jam 9 pagi, suhu mulai menghangat. Dari penanda suhu yang terpasang di depan lobby tertera suhunya 4.9 derajat, jauh lebih hangat dari -2, tapi tentunya masih teramat sangat dingin buat manusia tropis seperti aku. Seakan melengkapi penyambutanku di negeri dingin ini, hujan turun, hujan yang indah. Aku sangat suka hujan di Jepang, yang kuingat butirannya lembut, ringan tertiup angin. Kali inipun sama, meski dingin, aku nikmati hujan yang menyambutku hari ini dan angin musim dingin menampar-nampar pipiku, pipiku jadi merah, hidungku juga merah…

Bus yang mengantarku menuju hotelpun tiba. Aku duduk paling depan, sengaja supaya bisa melihat pemandangan, begitu pikirku. Ternyata nggak banyak yang berubah. Sepanjang jalan, aku lihat pohon-pohon tanpa daun, gedung-gedung tinggi, kotak-kotak, kelihatan kokoh, kaku dan dingin. Aku terus meyakinkan diri telah tiba di Tokyo. Sejujurnya aku masih susah percaya, ini seperti mimpi dan nggak pernah terbayang olehku bisa ke sini lagi. Empat tahun lalu, aku dan sahabatku berjanji akan reuni di Tokyo tepat di tahun 2010 ini. Dan Subhanallah, aku memang ke sini lagi.

Euhm, empat tahun lalu… pikiranku lalu berlari ke masa itu, dan “hehehehe” aku ingat sesuatu.
Kalau kamu pikir, meneriakkan namamu di balik hujan adalah perbuatan konyol dan norak, aku pernah melakukan yang lebih konyol dari itu. Mendaki gunung Fuji! Yap, aku nekat mendaki gunung dengan ketinggian lebih dari 3700 m itu demi satu tujuan, “meneriakkan nama seseorang dari puncaknya.” Aku pernah dengar, jika kita meneriakkan nama seseorang dari puncak Fuji, maka angin dewa akan membawa teriakan hati kita ke orang itu, so I did it.

Hari-hari aku lewati dengan sangat sibuk, sangat lelah. Suhu yang dingin, orang-orang yang dingin. Manusia Tokyo bergerak sangat cepat, bergegas seperti tergesa-gesa. Kenapa, ya? Warna pakaian mereka senada, gelap. Hanya ada satu, dua orang yang terlihat berani tampil beda memakai warna terang. Waktu kuliah, aku pernah belajar tentang ini, tapi tetap saja hatiku bertanya-tanya. Sambil mencari jawabnya, kakiku mulai bergerak seperti mereka, cepat, bergegas, nggak lagi sempat tengok kanan-kiri. Selama di sana, berkali-kali aku diguyur hujan, dingin tentunya tapi aku suka hujan.

Pagi yang agak mendung di langit kota Tokyo. Dalam perjalananku, tiba-tiba hujan pun turun. Terasa begitu dingin! Seketika mataku terpaku melihat seorang gadis Jepang dengan rambut lurus sebahu, berdagu lancip dengan bibir tipis yang sedikit memucat metatapku dengan begitu tajam. Akupun berusaha menyapanya tetapi dia malah mempercepat langkahnya dan berlari meninggalkanku. Segera aku mencari tempat berteduh di sisi sudut taman. “Siapa yah gadis itu?” gumanku sekejap.

Oh iya hampir lupa, Perkenalkan nama aku Tatsuya. Jangan heran ketika mendengar nama itu. Asal mula nama ini sebenarnya berasal dari nenek buyutku. Meskipun aku orang Indonesia, tetapi nenek buyutku dulu nge-fans sama orang Jepang. Tanggal 9 Mei 1989 aku terlahir kedunia ini dengan mata sipit, dan berujung dengan nama Farid Tatsuya. Farid yang artinya Permata dan Tatsuya berarti Naga.

Aku salah satu mahasiswa yang mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia untuk pertukaran kebudayaan ke Jepang tahun 2007 kemarin. Teman-teman di Jepang sering memanggilku Tatsu. Tapi menurutku, panggilan yang paling cocok untukku adalah Lelaki pecundang!!! Makna rangkain seri dari kedua kata inilah yang menggambarkan siapa Tatsu yang sebenarnya. Sempat aku berpikir membenci diriku sendiri, saat sadar bahwa kisah-kisah kehidupanku hanya berakhir dengan kegagalan. Kegagalan yang membuatku hanya terdiam seribu bahasa. Begitu juga dengan kisah-kisah cinta yang ku jalani sampai saat ini. Penuh ketidakpastian seperti pecundang yang tak bisa berbuat apa-apa.

Hujan sudah sedikit reda, aku pun melanjutkan perjalananku. Ketika tetesan hujan masih bernaung di batang pohon sakura, akhirnya aku sampai juga di apartemenku. Tapi dalam pikiranku, gadis itu selalu terbayang. Dalam benakku masih selalu bertanya-tanya “Sepertinya aku mengenal gadis itu, siapa gadis itu sebenarnya?, Oh My God, aku ingat! Gadis itu adalah Dian”. Dian Yamamoto, seorang panitia petukaran pelajarku waktu ke Jepang empat tahun lalu. Dian adalah satu-satunya panitia yang mahir menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Aku sempat naksir sama dia. Tetapi, saat itu status Dian, sedang berpacaran dengan sahabatku.

Aku tahu Dian pasti mengerti perasaanku, perasaan yang membuatku ingin selalu bersamanya. Tetapi ternyata semua sama saja, cinta bertepuk sebelah tangan. Dian lebih memilih sahabatku, “Dimas”.
Sering aku berpikir, Kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. “Yah begitulah, Dian terlalu sempurna untuk ku miliki”. Rasa yang tumbuh sejak pertama kali ku mengenalnya. Awalnya hanya rasa simpatik yang terlintas. Tetapi pada akhirnya ada perasaan aneh yang selalu membayangiku. Dian, Sosok cewek idaman yang selalu ku impikan. “Owwwhhh God, izinkan aku memilikinya??” gumamku dalam hati.

“Kenapa harus sahabatku???”. Pertanyaan ini yang selalu menghantui pikiranku. Padahal perhatian yang kuberikan untuk Dian menurutku sudah lebih dari seorang teman. Tiap hari aku selalu membawa bunga di depan pintu rumahnya. Meskipun secara diam-diam tapi suatu saat, aku yakin Dian akan tahu tentang semuanya. Tapi, Kenapa harus Dimas, itu yang ku sesalkan. Semenjak Dian kenal dengan Dimas, mereka selalu bersama. Padahal aku tahu bahwa ada sebuah rahasia yang disembunyikan Dimas dari Dian. Aku selalu berusaha untuk jujur, tapi rasa takut setelah dia tahu tentang kebenaran ini, Dian pasti akan membenciku. . Dian terlanjur sayang sama Dimas dan aku hanya bisa bertanya dalam hati “Untuk apa aku ikut campur dalam masalah mereka???”. Sebenarnya beberapa kali Aku sudah coba menjelaskan kepada Dian tentang Dimas, tetapi semua sia-sia saja. Dia malah mulai menjauh dariku. Sampai saat Aku dan Dimas akan kembali ke Indonesia, dia sama sekali tidak datang melihat kepergian kami walaupun hanya memberikan ucapan selamat tinggal.

Sebagai sahabat yang baik Aku selalu menyarankan kepada Dimas untuk jujur tentang tunangannya yang ada di Indonesia. Tetapi Dimas terlanjur memberikan harapan yang terlalu besar untuk Dian. Dia takut kalau Dian akan bertindak bodoh dan melukai dirinya sendiri setelah tahu yang sebenarnya. Ternyata, Empat Tahun lalu saat Dimas kembali ke Indonesia, dia melangsungkan pernikahannya dengan tunangannya. Mulai saat itu, Dimas tidak pernah lagi memberi kabar kepada Dian bahkan mencari tahu tentang keberadaannya. Dimas benar-benar telah mengabaikan Dian. Akupun mengambil inisiatif untuk mencari tahu tentang kebaradaan Dian, tapi tetap saja hasilnya sia-sia.

Keesokan harinya aku berjalan-jalan ke taman itu. Seketika gadis itu muncul lagi di hadapanku dan setelah aku perhatikan baik-baik, ternyata gadis itu adalah Dian, Dian Yamamoto. Seorang gadis yang dulunya sangat periang, sekarang terlihat sangat pendiam dan tak bersemangat. Kali ini dia yang menghampiriku dan memberikan sebuah botol yang berisi kertas di dalamnya.
“Tolong kamu berikan pesan ini untuk Dimas”.
“Dian, maafkan aku! Aku tak pernah jujur mengatakan tentang tunangan Dimas padamu”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu kamu akan sakit setelah mengetahuinya”
“Tatsu ...”
“Sebenarnya, Aku tak bisa melihatmu terus dipermainkan seperti ini, aku memang lelaki pecundang, aku tak bisa berbuat apa-apa Dian”
“Tatsu, jangan salahkan dirimu. Andai kamu tahu tentang perasaanku. Kamu pasti akan mengerti”
Seketika Dian menatapku aneh, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.

Dian pun bercerita bahwa empat tahun lalu, Dimas berjanji menemuinya di taman ini. Saat itu dia berjanji akan memberikan sebuah pesan sebelum dia kembali ke Indonesia. Dian menunggunya dalam sebuah hujan yang seakan menangis melihatnya terus menunggu. Menunggu dengan harapan kosong yang penuh dengan kepalsuan. Dimas sama sekali tidak pernah datang. Dian hanya bisa menunggu dengan air mata yang tak pernah kering penuh pengharapan.

Aku menemui Dimas di apartemennya. Aku menuju ke kamarnya dan segera memberikan botol titipan dari Dian. Wajah Dimas seketika tampak gugup melihat botol itu. Saat membuka dan mengambil pesan dalam botol itu, Dimas pun tersenyum memandangku.

Dimas
Maafkan aku
Hati Dian hanya untuk Tatsuya
Selamanya
Tokyo, 14 desember 2010

“Apa maksud semua ini Dim, aku tidak mengerti”
“Tatsu, maafkan aku. Aku tahu bahwa semua yang ku lakukan ini salah. Mengaku sebagai orang yang selalu mengirimkan bunga untuknya setiap hari membuatnya percaya bahwa akulah orang yang selama ini membuatnya menunggu”.

Tak lama setelah aku membaca pesan dari Dian, aku segera berlari menuju ke taman itu lagi. Seketika hujanpun turun. Aku menyusulnya dan berharap dia masih berada di sana. Saat aku mempercepat langkahku, tiba-tiba aku tergelincir dan terjatuh. Segera kuterikakkan namamu dalam rinai hujan “Dian”. Aku berusaha bangkit dan akhirnya sampai di taman itu. Dian masih tetap di sana dengan wajah murung tanpa harapan.
“Dian?
“Tatsu..”
Aku menghampirinya, tetapi tetap saja Dian langsung menghindar.
“Kamu mau kemana Dian?”
“Pulang”
“Bolehkah aku mengantarmu pulang? Tapi kamu harus bersiap-siap untuk berlari yah”
Aku segera membuka jaketku kemudian ku jadikan sebagai payung untuk kami berdua. Dian hanya menatapku heran.
“Satu, dua, tiga ...” kami berdua pun berlari dalam hujan. Terasa langkah kami berdua sejalan dengan tetesan hujan yang berinai. Sesekali Dian masih menatapku heran. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Hujanpun semakin deras, kami pun singgah untuk berteduh. Kali ini Dian menatapku lagi, tetapi sepertinya dia tampak malu. Kuhempaskan jaketku menghilangkan sisa-sisa tetesan hujan. Kamipun melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampainya di depan rumah Dian.
“Terima kasih Tatsu telah mengantarku pulang”
“Terima kasih kembali” sambil tersenyum. Dian,...”
“Iya,”
“Maaf telah membuatmu lama menunggu”
“Tatsu”
“Dian, apa betul pesan yang kau tulis dalam botol itu?”
“Mmmmmm!” Dian tampak malu-malu.
“Maafkan aku tidak mengenali cintamu Dian. Sekarang aku tahu bahwa akulah orang yang selama ini membuatmu menunggu”
“Tidak apa-apa Tatsu. Aku memang terbiasa menunggu seperti ini”

Aku memberikan sebuah botol yang berisi pesan yang ku tuliskan untuk Dian
Cintaku hanya sebuah mimpi
Semua itu terasa dekat denganku
Tapi semua itu aku lakukan,
Hanya melihatmu tanpa bicara
Di kota orang asing ini
Aku hidup hari demi hari
Melukis senyum
Menunggu dan berharap
Kau akan berada di sini
Dengan aroma bunga sakura
Bersamaku
Dian,
Mau kah kamu menikah denganku ....

Dia menghampiriku dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Dia menatapku dengan tulus seperti ingin mengatakan sesuatu. Seketika Dian mengangguk dan aku yakin itu pertanda bahwa Dian setuju.

Untuk pertama kalinya di tahun keempat langit kota Tokyo aku baru melihat senyum terindah Dian yang selama ini terpendam dalam kesedihan.

Tiba-tiba angin timur berhembus dengan pelan. Kupandangi pohon sakura berjajar sepanjang jalan bermekaran dengan sangat indah.

--------------------------------------------------------------
di upload Pukul 23:50 WITA
Makassar, 14 Desember 2010
Selamat ulang tahun Kemudian
Terima Kasih

Moga saya tidak terlambat mengucapkan selamat ulang tahun untukmu situsku http://kemudian.com/node/250439

Read previous post:  
189
points
(103 words) posted by cat 11 years 36 weeks ago
82.1739
Tags: Puisi | kehidupan | 4 tahun kemudian | cat | kapsul waktu
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

seperti sedang baca diary orang yg lagi jatuh cinta. ini ceritanya kisah nyata kk? wawawawawawa... :D

Dian.. yang pertama terlintas dalam otakku adalah Dian Sastrowardoyo. ternyata Dian Yamamoto, mata sipit dan badan sedikit buntal seperti wanita jepang kebanyakan. apa kabarmu Dian? hehe..

70

Gambarnya bikin sendiri kk?

90

setting jepang, manis kak :)

say berusaha untuk menghyalkan suasana di jepang ....

dan sebenar na ini terispirasi dari film na chibi maruko chan .... (setting jepang na)

hehehehheeeeeee

30

uh...saya suka sekali ceritanya.ajarin ya...ya..ya...oce..oce

80

oh...Tatsuya-san
anata no story wa totemo oishii desu *saya lihat google translate*

hanya satu pintaku: Liukan cerita, agar tidak terkesan mendatar, hehehe

lihat punyaku yang berakhir 'tragis' Sayang, Dirimu tanpa Pusara

80

Well, cerita yang lumayan bagus, dengan sekuensi alur yang mengalir. Meski begitu, tetap ada kritik:
1. Kayaknya saya mendeteksi adanya inkonsistensi karakter. I mean, si Tatsu sepertinya terkesan religius (mengucap kalimat Islami), tapi kenapa dia percaya dengan "angin dewa" dan semacamnya?
.
2. Setuju sama abc, terlalu aneh kalau kamu memberikan dua orang dg nama campuran Indonesia-Jepang dalam satu cerita. Dan ya, kakek buyut ngefans sama orang Jepang? -.-' Kenapa nggak kamu buat si Tatsu itu keturunan Jepang aja? Misal ayah Jepang ibu Indonesia atau sebaliknya. Terus buat Dian, akan lebih baik kalau seluruh namanya Indonesia atau Jepang aja, jadi gak nyampur.

tatsu melakukan kesyrikan <---(hal yang lumrah dan berdosa dalam dunia islam) >>>lari

Negeri dingin, sebenarnya agak berlebihan sih km bilang seperti itu meski fakta yg km berikan itu mendukung tapi tetap saja tak bisa sy terima, soalnya kalau km menyebut jepang sebagai negeri dingin pastinya menjurus kpd hal yang selalu dingin, seperti es. Tapi kan di jepang juga ada musim yang lain, bukan cuma musim dingin.
.
“Meskipun aku orang Indonesia, tetapi nenek buyutku dulu nge-fans sama orang Jepang.” Wah benar-benar, kok bisa ya nenek buyut nge-fans sama orang Jepang? Entahlah, apa mungkin pada zamannya, orang Jepang sudah ada, atau kalau memang sudah ada, nenekmu pasti pro dengan Jepang pada saat itu. Kamu tahu kan, bagaimana kelakuan jepang pada zaman dulu di Indonesia. Para wanita kebanyakan dijadikan “jugun ianfu” (kalau tidak salah), semacam wanita penghibur bagi tentara Jepang. Dan bukan cukup lagi, tapi sangat heran kalau ada orang yg nge-fans sama orang jepang waktu itu. Bener deh, saya ketawa pas baca kalimat itu. :p
.
Mungkin maslah lain dalam ceritamu ini adalah plot atau alur yang nggak tersusun dengan rapih, jadi terkesan membingungkan. Di mana seharusnya memberikan perkenalan, di mana seharusnya fokus ke inti cerita, di mana seharusnya fokus ke flash back.
.
Jujur lagi deh, ceritamu datar dari awal sampai akhir. Nggak ada emosi yang buat sy terpesona dengan cerita. Soalnya deskripsi yang sebenarnya nggak penting pun km masukkan dalam ceritamu dan membuat ceritamu ini seperti “karangan bebas”.
.
Karakternya nggak jelas. Nggak ada yg membuat karaktermu spesial, bukan seperti manusia pada umumnya yang punya ciri khas. Sarannya adalah, km sebaiknya melihat karakter orang-orang di sekitar km. bagaimana mereka bersikap, reaksi mereka ketika menghadapi sesuatu, atau lain-lain. Sebab selain plot, karakter juga berperan penting dalam keseluruhan cerita. Malah karakter seperti Dian dan Dimas terkesan hanya tempelan untuk memaksakan kelangsungan ceritamu.
.
Nama-nama karaktermu terkesan dipaksakan banget, tempelan, dalam artian, tidak ada alasan yang jelas pemberian nama tersebut. Seolah-olah karena settingnya Jepang, jadi dengan seenaknya saja kamu menempelkan nama berbau Jepang ke tokoh-tokohmu itu. Kenapa nama tokoh-tokohmu nggak nama Indonesia saja? Menurut sy itu malah lebih bagus dan bisa diterima.
.
Pengunaan tanda baca seperti “?” kayaknya nggak usah berlebihan deh. Makin mengurangi kenyamanan membaca ceritamu. Sebagai penulis, km sebijak mungkin menggunakan tanda baca tersebut dan tak berlebihan, tentunya.
.
Baiknya dari ceritamu adalah rangkaian kalimatnya sudah tersusun lumayan rapih, namun masih harus dilatih lagi supaya menjadi rangkaian kalimat yg lebih apik.

90

cerita dan settingnya bagus, Jepang, whahaha.. menungu waktu kapan saya bisa kesana juga :D
botol pesan Tatsu untuk Dian itu manis^^ tapi saya tidak nangkap unsur ulang tahunnya, seperti perayaan pertemuan tahun ke-4 yang berakhir manis (menurut saya) dan kesannya terburu-buru, typo beberapa dan idem dengan majnun :)
semangat (^^)

tunggu saya ke sana, bersamamu, senpai *>>>>>kabur sebelum dicemplungin ke dalam H2SO4*

90

hmmm..
agak kurang menggigit..
padahal settingnya udah mantap itu..
yepun..
i wanna go there sumday..
*mimpi*
hyahahahaha..
~
letak2 tanda baca agaknya kurang diperhatikan om..
~
eh, mo tanya..
*coz beneran gak tau..*
beneran ka ada nama "dian" di yepun?
~
udah panjang kayaknya ni kumen..
kabur ah..
>>> chlink *ngilang*

70

critanya bagus.. tapiiii rasanya kok..... biasa yah.....*garuk2*
saranku, mgkin pendeskripsiannya yg dibagusin supaya 'rasa' ceritanya lain dripd yg lain
*maaf ini subjektif saya*

trima kasih udah mampir sauraraa >>> sy masih butuh bimbingannya ....

100

'Subhanallah'
itu kata paling manis dari kisah ini

thanks dah mampir benhoer ....