4 Tahun Kemudian - Gorila

Adalah suatu kehormatan yang jumawa ketika Kebun Binatang Kota dipercaya oleh Tuhan untuk menyimpan empat spesies Gorila gunung yang telah dinyatakan hampir punah oleh dunia. Tiga diantaranya adalah pejantan, ditempatkan di kandang yang luas dengan pembatas berupa kaca dalam sebuah lorong khusus yang dirancang oleh seorang arsitek, lengkap dengan pepohonan hijau dan rumah kayu serta hiasan lampu yang menyala warna-warni saat malam.

Yang betina adalah seorang ibu, dan bila ia paham, mungkin ia akan membuat kue tart pisang seberat 20 kg untuk anaknya yang hari ini genap berusia empat tahun. Para Gorila itu tidak menyadari betapa kelangsungan hidup ras mereka berada di setiap tarikan napas sang Gorila muda, tiap detiknya, gerak-geriknya. Bahkan bisa jadi keempatnya tidak mengenal nama atau sebutan masing-masing walaupun mereka sepanjang tahun tinggal bersama. Dan kalaupun tiba saatnya seseorang memberitahu mereka bahwa keempatnya adalah satu-satunya yang tersisa di muka bumi ini, mereka akan tetap bertingkah layaknya Gorila. Buang angin sesekali.

Tapi merayakan ulang tahun adalah kebiasaan manusia dan itulah yang dilakukan oleh Kebun Binatang ini saat ini. Sebuah pemborosan yang merendahkan kodrat manusia, begitu pikir Benwar karena sepanjang hidup belum pernah ia mendapat perayaan ulang tahun yang membuatnya merasakan hari ulang tahun. Dikalahkan oleh Gorila tak berotak, begitu pikirnya lagi. Penghinaan.

“Hei, topengnya dipakai!” teriak Mahesha mulai kesal.

“Cerewet! Nanti saja kalau sudah pengunjung yang ke-100 datang. Memangnya tidak gerah memakai kostum ini seharian? Seperti orang gila. Benar-benar sinting!” keluh Benwar.

Keduanya bekerja di kebun binatang. Lebih tepatnya dari kandang ke kandang di dalam kebun binatang. Mahesha sudah bekerja sekitar 2,5 tahun menangani keluarga kucing karnivora; singa, macan tutul, harimau, macan kumbang, harimau putih; masing-masing dua ekor di tiap kandangnya yang dihiasi jeruji besi layaknya sel di penjara. Tugasnya adalah membersihkan kandang dari kotoran dan sisa makanan serta benda-benda yang dilemparkan pengunjung, lalu memberi makan di waktu malam, memeriksa kondisi tubuh secara berkala, dan yang paling menyenangkan, memandikan mereka.

Benwar melakukan rutinitas kerja yang mirip dengan Mahesha hanya saja ia bertugas di bagian primata dan itu berarti pekerjaannya dua kali lebih menyebalkan ─yang membuat karakternya sebagai penggerutu terasah dengan baik─ karena bangsa monyet itu gemar membuat suara-suara gaduh, tertawa-tawa tidak karuan, bergelayutan dan terutama mereka menyambut Benwar dengan riuh-rendah saat ia berada di dalam kandang seolah-olah dirinya adalah bagian dari keluarga mereka juga. Tak jarang saat sedang membersihkan kandang Benwar malah bertengkar dengan para penghuninya. Dan jangan tanya bagaimana cara ia memandikan kera-kera itu karena ia sangat benci untuk melakukannya.

Tapi para Gorila itu berbeda. Selain dari tempat mereka yang spesial, mereka juga memiliki tempat khusus di mata para pengunjung, sebagai primadona lampu blitz kamera di samping singa jantan sang raja hutan. Untuk kota ini, Gorila adalah maskotnya yang tak resmi yang kehadirannya dibaptis langsung oleh walikota sendiri dan diresmikan di halaman muka surat kabar harian lokal. Pesonanya telah mengundang banyak orang dari berbagai tempat untuk membayar karcis masuk. Bagi Benwar Gorila itu juga memiliki tempat yang berbeda di hatinya dalam hal perlakuan yang ia berikan saat berada di dalam kandang bersama-sama. Kedua kakinya gemetar, jantungnya berlari-lari, keringat muncul di mana-mana teriring dengan doa yang gugup diucapkan di dalam hati. Padahal sudah hampir setahun ia menjalani tugas tersebut. Dalam tingkatan tertentu, itu sama menyebalkannya dengan primata yang lain.

Satu hal lagi yang terdapat di dalam kamus ‘Hidupku yang Menyebalkan’ milik Benwar adalah tanggal ulang tahunnya yang bertepatan dengan si Gorila kecil di mana pada hari itu tidak ada orang yang akan membuatkan pesta untuknya melainkan justru dirinya yang mau tidak mau harus menjadi bagian dari perayaan hari lahir si Gorila ─atas nama pekerjaannya dan dedikasi yang menyertainya─ dengan mengenakan kostum serta topeng, tentu saja, Gorila.

Lalu tugasnya adalah menunggu di lorong kandang Gorila untuk menyambut pengunjung yang datang. Sepanjang hari.

“Lihat Gorila itu,” ia menunjuk dari balik kaca, “mereka itu mahluk tolol. Mereka tidak mengerti ulang tahun tapi lihat ini semua, hiasan-hiasan, balon-balon, pisang-pisang plastik, bingkisan-bingkisan, kostum binatang, meriah sekali, ajaib! Apa artinya buat mereka? Jelek sekali wajahnya, lihat!”

“Saya tidak bersalah dan tidak terlibat. Saya mengerti yang kamu rasakan, andai saja 25 tahun yang lalu ibumu bersedia menahan batok kepalamu untuk keluar selama satu hari saja, mungkin tidak begini jadinya,” Mahesha menatap langit di balik kostum singanya mencoba melihat jejak-jejak takdir di sana dengan gestur yang memancing Benwar untuk menendangnya dengan keras.

“Jangan menghina atau kutendang,” dia benar-benar menginginkannya. “Ah percuma lah, orang seperti kamu memang tidak mengerti maksudnya. Yang kubicarakan adalah tentang bagaimana Gorila diperlakukan seperti manusia dan aku,” Benwar menunjuk topeng Gorila di dekapannya, “menjadi seekor Gorila.”

“Tragis.”

“Dan itu semua terjadi di hari ulang tahunku. Kamu dengar kan.”

“Maksudnya suara orang yang sedang merengek? Ya, saya dengar dari sejak tadi,” di balik kostum dan topeng singanya tidak ada yang tahu bagaimana ekspresi muka Mahesha tapi Benwar yakin apapun yang ada di balik sana adalah siratan olok-olok yang pahit. “Pakai topengnya.”

“Oh iya, pasti, akan kulakukan, aku tahu kamu sudah lama menunggu ini terjadi. Setelah kamu tahu bagaimana hubunganku dengan para monyet itu, pasti menyenangkan melihatku akhirnya menjadi seperti mereka, ya kan? Brengsek! Hari yang indah untuk berulangtahun. Oh ya, benar sekali, aku bahkan bisa mendengar Tuhan sedang tertawa ngakak di langit. Hebat! Dia pasti sangat mencintai aku. Hebat sekali!”

Mahesha bereaksi dengan terkikih. Ia menikmati hiburan seperti ini, seperti biasanya. Ekspresi kekesalan Benwar memiliki persentase energi positif yang besar bagi Mahesha lewat kemampuannya dalam memancing otot-otot di area bibirnya untuk tertawa serta dorongan yang menggugah mata batinnya untuk melihat bahwa beberapa orang memang ditakdirkan untuk berteman dengan kesialan; dan perasaan ini adalah bahan dasar utama dari segala bentuk optimisme. “Memangnya seburuk itu? Lagipula apa yang kamu harapkan? Kamu ingin Gorila-Gorila itu yang memakai seragam kebun binatang lalu menyelinap ke kamarmu di tengah malam?”

“Jenius sekali! Kenapa tidak pernah terpikir hal yang seperti itu ya,” Benwar mengucapkannya dengan seratus persen sinis.

“Waktu saya ulang tahun dua bulan kemarin, sesuatu datang ke tempat saya tengah malam, mengetuk jendela kamar sekitar jan 12. Saya belum tidur dan ketika melongok keluar jendela, saya hampir-hampir terjengkang ke belakang saking kagetnya─”

Benwar menghembuskan napas panjang, mengangkat topeng Gorila dengan kedua tangannya lalu mengamatinya dengan mimik serius seolah-olah yang di hadapannya adalah semacam mukjizat. Bahasa tubuh ini mengisyaratkan sikap masa-bodoh yang absolut.

“Apa yang ada di balik sana adalah penampakan. Tidak hanya satu tapi banyak. Mahluk-mahluk seukuran manusia dengan wujud yang horor─”

“Wujud yang horor brengsek,” Benwar tetap tidak mengalihkan pandangannya.

“Saya hampir berteriak karena ketakutan. Hampir mati. Mereka semua seperti monster, ada yang berbulu, ada yang bertaring, jelek sekali. Dan ketika mereka mendekat, mendekat untuk masuk, saat itulah, tiba-tiba, tiba-tiba─”

“Ya, menegangkan sekali sampai-sampai aku ingin kencing di celana.”

“Tiba-tiba,” Mahesha menaikkan frekuensi suaranya, “kamu tahu dengan tiba-tiba? Tiba-tiba saja! Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun serempak disertai sodoran kue ulang tahun lengkap dengan lilin-lilin kecil di atasnya memohon-mohon pada bibir saya untuk meniupnya dengan khidmat tepat di hari ketika dulu saya dilahirkan sebagai bayi mungil yang lucu. Hah. Ternyata mereka adalah teman-teman saya yang memberi kejutan dengan menggunakan kostum dan topeng aneh. Perpaduan yang sangat menakjubkan. Ulang tahun dan topeng. Manis sekali.”

“Wow! Aku membayangkan bahwa suasana akan sangat menakjubkan bila saat ini kamu tidak hanya berada di dalam kostum singa, tapi benar-benar ada di dalam perut singa!” Benwar tampak jengkel. Ia sudah hapal dengan cerita Mahesha barusan karena Mahesha selalu menceritakannya akhir-akhir ini, terhitung sejak Benwar diperintahkan untuk memakai kostum Gorila di hari ulang tahunnya sekarang.

Mahesha kembali terkikik.

Hari sedang terik. Mahesha dan Benwar menunggu pengunjung kandang Gorila yang ke-100 untuk mendapatkan paket hadiah spesial. Hari selasa memang bukan hari yang ramai di kebun binatang dan fakta ini sedikitnya disukai oleh Benwar. Dia tidak suka ketika pengunjung padat dan terutama bila sebagian besar diantaranya adalah anak-anak. Mereka selalu berisik, berlari-lari, dan kadang-kadang menangis dengan keras. Hal-hal tersebut adalah motif utama yang memancing para monyet hiperaktif untuk berteriak, mendengking, lompat-lompat, dan histeris. Tak terbayangkan betapa dirinya membutuhkan gading gajah untuk menyumpal lubang telinganya.

“Sudah berapa pengunjung?” tanya Mahesha.

“Tak tahu dan tak peduli,” Benwar bersikap acuh tak acuh sambil sibuk merogoh sesuatu di dalam kostum hitamnya.

“Saya rasa sebentar lagi datang yang ke-100, ayo pakai topengnya.”

“Ah! Orang-orang sudah tidak tertarik lagi pergi ke kebun binatang. Apalagi untuk mengingat ulang tahun bocah Gorila itu. Siapa yang peduli? Ini cuma akal-akalan konyol pimpinan buat menaikkan pamor tempat ini. Dan sepertinya,” kedua mata Benwar menunjuk pada kupon berhadiah bagi pengunjung ke-100 yang bertumpuk di dekat tembok kaca, “dalam paket hadiah itu juga ada bagian dari gajiku untuk bulan ini.”

Ide dari kupon berhadiah itu adalah untuk diberikan kepada pengunjung kandang Gorila yang ke-100 serta kelipatannya dalam sehari. Bagi siapapun yang mendapatkannya, berhak untuk menukarkannya dengan hadiah spesial di kantor pusat yang bentuk serta jumlahnya dirahasiakan bahkan kepada para pegawai kebun binatang. Program berhadiah itu sendiri berlangsung selama satu minggu penuh.

“Kamu memang selalu curiga,” Mahesha melambai kepada pasangan manula yang datang untuk melihat-lihat Gorila dengan mengenakan topi yang sewarna. Mereka hampir tidak pernah bicara kepada para pengunjung, hanya bergerak-gerak dan berjoget-joget dengan gestur yang lucu.

“Si bos sepertinya tidak suka padaku, dia memperlakukan aku seperti anak tiri tak tahu diuntung. Setiap kali bertemu, dia selalu menatapku seolah-olah aku ini setan. Bengis sekali. Penuh kebencian. Dia pasti sedang ketawa sampai rahangnya copot karena mendandaniku seperti keluarganya. Menurutku dia ini mirip kuda nil, perutnya, pipinya, aku sering memimpikannya menggelinding dari atas bukit lalu masuk ke dalam mulut buaya di sungai Nil.”

Mahesha terpingkal.

Benwar mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kostumnya. Ia menaruhnya di bibir tanpa mengindahkan tangan Mahesha yang mengisyaratkan “Jangan merokok! Dilarang!” sementara beberapa pengunjung mulai datang menghampiri.

“Apa? Aku selalu merokok.”

“Tapi tidak sekarang!” Mahesha setengah berbisik, setengah berteriak, setengah menggeram.

“Kamu berhitung saja lah. Aku punya masalah kesehatan yang harus diurus yang bila tidak kulakukan, badanku akan menggigil dan aku akan mulai meraung-raung seperti simpanse gila. Kamu bersedia mengurus hal-hal seperti itu?,” Benwar melakukan tarikan pertama lalu menghembuskannya dengan lepas dan tenteram seolah-olah yang ia lakukan adalah gerakan yoga.

“Aduh. Bisa tidak sehari saja kamu jadi anak Gorila yang manis dan penurut. Membangkang terus. Yang harus kamu lakukan adalah bergoyang-goyang dan melambaikan tangan menyambut pengunjung, bukan malah─”

“Hei, hari ini aku juga berulangtahun. Lihat para Gorila itu dikasih pisang sampai menumpuk begitu kenapa aku dilarang hanya untuk merokok saja? Sebaiknya kamu jangan banyak protes dan jadilah teman yang baik dan jangan lupa untuk terus menghitung. Aku sudah benci dengan pekerjaan ini.”

Mahesha menghela napasnya, kali ini suaranya terdengar seperti ia baru saja menyemburkan api. Kedua tangan dan kakinya dijalari oleh urat-urat kesal namun beruntung kepalanya masih cukup dingin untuk membungkam amarahnya.

“Saya tidak suka kalau begini, tidak profesional. Kamu tidak menghormati para pengunjung yang datang selain itu kamu juga tampak konyol. Bagaimana kalau salah satu dari pengunjung mengadu ke pimpinan? Atau ke petugas yang lain dan mereka menyampaikannya ke pimpinan? Apa─”

“Aku bisa cari pekerjaan lain seandainya dia memecatku besok, atau hari ini.”

“Oh ya? Jadi apa? Kamu adalah yang terbaik dalam mengurus monyet.”

“Sialan, kamu ini minta ditendang ya? Aku memang belum memikirkannya tapi seandainya terjadi seperti yang kamu bilang tadi, si kuda nil itu lalu menyuruhku untuk angkat kaki, aku tidak akan berkomat-kamit meminta maaf atau memohon-mohon agar dia menarik keputusannya. Sekalian saja aku tarik lidahku ini sampai putus biar dia tahu aku tidak akan menyesal.”

“Kadang-kadang sikap kamu ini memang sombong,” Mahesha dengan tekun beraksi menyambut orang-orang yang mulai berdatangan. Ia tidak ingin luput dalam menghitung jumlah pengunjung. “Kamu kan punya banyak teman di sini. Dan jangan lupa, di sini juga tempat kamu pertama kali bertemu Niza. Jadi kamu harus tarik ucapanmu itu.”

Benwar tidak langsung menimpali. Ia menghisap rokoknya dan menghembuskan asap yang lebih banyak. Tersirat sesuatu di wajahnya, semacam ketegangan yang muncul tiba-tiba. Bukan sebuah pertanda kepanikan maupun penyesalan namun lebih dalam lagi adalah sebuah semburat yang melukiskan perenungan.
Mahesha melihat pemandangan tersebut tapi ia belum dapat memecahkan kode dari kalimat yang telah diucapkannya mengenai dari mana reaksi Benwar bermula. Dia menunggu suara temannya.

“Enak saja, temanku tidak hanya ada di sini. Lagipula di tempat ini suasananya datar. Orang-orang pengecut semua, penjilat pantat si kuda nil, dan mereka juga tidak terlalu lucu. Tanganku selalu gatal untuk membuka kurunga harimau tiap kali mendengar seseorang yang berusaha melucu.”

“Bagus sekali, sekarang kamu menghina kita semua,” ujar Mahesha. Di sela-sela suaranya dia membatin bahwa sepertinya dia tidak melukai perasaan Benwar dengan menyebut nama Niza. Dia sendiri tidak begitu paham dengan hubungan keduanya walaupun dirinya dapat menebak bahwa akhir-akhir ini memang ada sedikit perselisihan. “Tapi sekarang di mana teman-temanmu yang lain itu hah?”

“Bukan salahku kalau mereka tidak tertarik pergi ke kebun binatang rombeng ini.”

“Coba lihat si anak Gorila ini. Tuh di sana,” Mahesha menunjuk pada jendela dan dinding kandang Gorila tersebut di mana di sana tertempel beberapa kertas dan kartu ucapan selamat ulang tahun dari para pengunjung. Hal ini luput diketahui oleh Benwar. “Setidak-tidaknya ada orang yang memberi mereka ucapan selamat ulang tahun walaupun katamu tadi tidak ada yang peduli dengan ini semua. Sedangkan kamu, coba saya tanya, siapa yang mengucapkan selamat ulang tahun padamu hari ini?”

“Ah (bergumam tidak jelas) ulang tahun bocah Gorila ini terlalu dibesar-besarkan, maksudku, mereka ini diperlakukan seperti manusia saja padahal mereka buang air seenaknya. Jadi, pantas saja kalau orang-orang menanggapi.”

“Kamu mengelak, tidak menjawab pertanyaanku. Apa kakakmu menelepon?”

“Untuk apa? Aku ini sudah besar, tidak perlu yang seperti itu.”

“Keponakanmu?”

“Tentu saja dia di sekolahnya.”

“Teman main judimu si Gogol?”

“Kamu ini memang tidak mengerti. Mana mungkin orang seumurku merengek dan memohon kado pada orang-orang?”

“Saya tidak bertanya tentang kado. Bagaimana dengan Niza?”

“Dia─ kenapa kamu jadi membicarakan aku sih? Oke, aku mengerti maksudmu. Begini, aku tidak menjelekkan orang-orang yang bekerja di sini. Tapi kamu tahu sendiri kan bagaiamana suasananya di tempat ini. Membosankan. Bergaul dengan binatang-binatang dungu setiap hari ditambah dengan aroma badannya yang bisa membunuh otak manusia. Belum lagi dengan kotorannya yang berseliweran tanpa ampun. Terus terang saja ini membuatku gila. Coba saja kamu menangani para monyet-monyet di sini. Aku sudah membencinya dari sejak melihat mereka nyengir ke arahku pertama kali. Aku memang belum pernah mendengar kamu mengeluh tapi aku yakin kalau kita sepakat bahwa pekerjaan di sini memuakkan.”

Mahesha masih menghitung dan bergoyang. “Ah, sudahlah. Saya bisa merasakan bahwa kamu bertingkah seperti ini karena kamu sebenarnya merasa kesepian, ya kan?”

“Kalau aku butuh seorang psikolog atau orang yang pintar, aku akan meminta. Jadi, tolong jangan sok tahu seperti itu karena kamu terdengar konyol.”

Dari balik kostum singanya, Mahesha menerka Benwar. Pernyataannya tadi agaknya menyiratkan emosi Benwar yang mulai tersulut. Dan itu artinya apa yang dikatakan Mahesha benar adanya.

“Waktu saya ulang tahun dua bulan kemarin, awalnya saya terkejut ketika melihat mahluk-mahluk aneh datang ke tempatku─”

“Oh iya, aku suka sekali dengan cerita yang satu ini, teruskan saja, ” Benwar jengkel.

“Tapi akhirnya saya tahu bahwa mereka tidak seperti kelihatannya. Mereka adalah manusia biasa. Teman-teman saya yang sengaja datang ke sana. Kamu tahu Roni dari bagian reptil? Dia juga ada di sana─”

“Sudah periksa lemari pakaian? Siapa tahu dia menyimpan ular kobra di dalam celanamu dan kuharap kamu memakainya suatu saat.”

“Mereka datang membawakan kue ulang tahun lengkap dengan lilin dan kami bernyanyi bersama-sama di larut malam. Meriah sekali dan ramai. Saya lupa berapa orang yang datang tapi bisa jadi belasan atau mungkin dua puluh lebih. Beberapa di antaranya keluargaku dan temanku dulu waktu masih sekolah─”

“Aku muak dengan cerita ini,” Benwar mulai tampak tidak nyaman.

“Ada juga tetanggaku. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa merencanakannya tapi acara tersebut memang benar-benar menyenangkan dan tak terlupakan─”

“Ya, ya, rasanya aku ingin menendang bibirmu agar kamu berhenti membual.”

“Tapi kamu tahu apa yang paling spesial? Tentu saja kehadiran pacar saya, Lina. Dia datang mengenakan kostum drakula. Memang tidak pantas dan terlihat jelek, tapi begitu melihat wajahnya saya merasa senang karena bagi saya dia terlihat cantik. Bahagia sekali bisa berbagi di hari seperti itu dengannya. Kamu mungkin ingin tahu bagaimana aku menggambarkan perasaan─”

Benwar berjalan mendekati Mahesha dengan sigap. Ia melempar puntung rokok ke arah badan kawannya itu. “Aku bilang diam,” dia berkata seraya menghempaskan topeng Gorila di tangannya ke arah kepala singa Mahesha.

Seketika Mahesha terhempas ke belakang. Lalu Benwar melompat seperti hendak menerkam Mahesha dan mendorong tubuhnya ke tanah. Keduanya berbaring di bumi, Mahesha di bawah, Benwar di atasnya. Dengan paksa Benwar melepaskan topeng Mahesha dan menemukan wajahnya yang sudah bresimbah keringat. Kekesalan di ubun-ubunnya memberi kepalan tangan kanannya kekuatan untuk menghantam wajah Mahesha.

Bercak darah terlontar dari wajah Mahesha sementara ia meronta-ronta dan berusaha untuk menghentikan rasa sakit di pipi kanan dan kirinya. Para pengunjung tidak ada yang bereaksi cepat, mereka hanya diam terpaku dan menonton. Seorang diantaranya sibuk menjepretka kamera. Pertarungan singa dan gorila, dua bintang dari kebun binatang ini, terjadi tanpa pemberitahuan dan cuma-cuma.

Tiba-tiba di tengah perkelahian itu, suara anak kecil bergaung di telinga Benwar. “Om Benwar?”

Benwar melirik ke arah sumber suara itu. Dan di sanalah keponakannya berdiri. Mengenakan baju seragam sekolah dasar. Menatap dengan wajah heran.

“Rahib?”

Anak itu tidak sendirian. Di belakangnya adalah kakak perempuan Benwar yang tidak lain adalah ibu dari anak tersebut. Kemudian di sebelahnya lagi berdiri Gogol, dengan janggutnya yang berantakan dan sebatang rokok terjepit di sela-sela jari kanannya, menatap dengan penuh tanda tanya.

Dan Niza, ia berdiri tidak jauh dari mereka dengan arah pandangan yang sama. Menatap Benwar.

“Kenapa kalian di sini?” Benwar bertanya.

Tidak ada yang menjawab karena mereka semua terperanjat.

“Saya!” teriak Mahesha. Ia memberontak lalu melepaskan diri dan berhasil berdiri. “Saya yang mengundang mereka. Saya bilang hari ini ada pertunjukan bagus di kandang Gorila dan itu adalah kamu dengan kostum Gorila. Mereka berencana untuk merayakan hari ulang tahunmu di sini. Mereka bahkan tidak tahu kalau gorila itu ulang tahun juga. Tapi yah, kamu menghancurkannya, dasar bodoh!” ia meludah.

“Semua baik-baik saja?” tanya Niza.

Benwar tidak menjawab, ia bingung dan linglung.

“Mmm, aku punya kado untukmu, tapi sepertinya waktunya tidak tepat.”

Mahesha bergerak merentangkan tangannya, “Bapak-bapak, Ibu-ibu, tak perlu risau, ini hanya bagian dari atraksi. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Semuanya baik-baik saja dan terkendali, maaf atas ketidaknyamanan ini,” ia berteriak.

Benwar masih terpaku. Perasaannya bercampur aduk. Ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi di dalam hati, ia mengerti dengan cerita Mahesha tentang bagaimana perasaan ketika orang-orang terdekat datang merayakan ulang tahun bersama. Ia limbung. “Terima kasih,” ujarnya pada orang-orang yang mendatanginya.

Sementara Mahesha beranjak pergi.

“Sekarang kamu yang menghitung. Jumlahnya sudah 97 orang. Sepertinya ini hari terakhir kamu bekerja,” dan ia berlalu menuju lorong. Meninggalkan gema suaranya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Rieka Yankdi at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 11 weeks ago)

ceritanya bagus,kenapa gx dijadiin novel?

Writer arki atsema
arki atsema at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 9 weeks ago)

asal kamu mau beli yaa??

Writer redscreen
redscreen at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 35 weeks ago)
100

wowowow, bagus banget kak
ku memang sangat suka karakter menyebalkan spt squidward, snape, benwar, dll, selalu bikin ku ketawa xDD

Writer arki atsema
arki atsema at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 28 weeks ago)

wah terima kasih, orang-orang yang menyebalkan memang kadang-kadang selalu ketiban sial

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 35 weeks ago)
80

karakternya kuat sekali masing-masing tokohnya..
sangat detail..

Writer arki atsema
arki atsema at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 28 weeks ago)

thank you

Writer rey_khazama
rey_khazama at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 35 weeks ago)
90

nice idea, nice technique, amd nice ending. Perfecto.

Writer arki atsema
arki atsema at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 28 weeks ago)

thanks for being nice to me

Writer kemalbarca
kemalbarca at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 35 weeks ago)
70

aku suka ceritanya, dan percakapan mereka yang saling ejek-ejekan, bagus
endingnya juga mengejutkan

Writer arki atsema
arki atsema at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 28 weeks ago)

appreciate it much

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 35 weeks ago)
90

wah! ceritanya manis :)
ada beberapa typo sedikit^^

Writer arki atsema
arki atsema at 4 Tahun Kemudian - Gorila (11 years 28 weeks ago)

thanks for the editing