Humanless (scene 01)

Scene 01

Cahaya lampu-lampu jalan yang berjejer seakan membentuk garis lurus saat bus malam ini melaju kencang melewati mereka. Titik-titik air sisa hujan deras yang turun sejak keberangkatan masih menempel di permukaan kaca jendela. Di dalam kabin yang gelap ini tak lagi terdengar alunan lagu band populer, suara obrolan penumpang lain, ataupun dering ponsel. Yang terdengar saat ini hanyalah deru mesin yang berusaha diredam dinding kabin. Waktu telah melewati pukul dua belas malam ketika aku melihat jam tanganku tetapi mata belum cukup mengantuk.

Aku adalah seorang mahasiswa rantau yang menjalani hidup membosankan di ibukota. Hari-hari biasa kujalani dengan lempeng, tanpa masalah atau lika-liku berarti. Aku tak terlalu pandai dalam akademis dan pergaulan. Setiap pulang kuliah, aku selalu langsung pulang ke tempat kost. Di sana telah terpasang fasilitas-fasilitas hiburan yang cukup memadai seperti komputer multimedia canggih, internet berkecepatan tinggi, dan DVD player sehingga aku tak perlu lagi keluar kamar kecuali jika terpaksa. Sebagai akibatnya, aku hampir “tak terlihat” oleh teman-teman kampusku. Mereka seakan mengabaikan keberadaanku. Tak peduli kehadiranku, tak mempertanyakan kabarku, bahkan tak membutuhkanku. Aku bohong jika aku tak merasa kesepian, tapi itu tidak terlalu menjadi masalah bagiku selama diriku masih bisa memperoleh hiburanku sendiri.

Ini adalah akhir pekan terakhir masa libur panjangku. Hari Senin lusa aku harus kembali masuk kuliah dan saat ini sedang dalam perjalanan dari kota kelahiranku. Tak banyak yang bisa kuceritakan pada ayah, ibu, dan Ranti. Kadang aku bisa melihat kekecewaan mereka atas sikapku yang dingin tetapi mau bagaimana lagi? Benar-benar tidak ada pengalaman yang bisa kuceritakan dan aku tak pandai dalam berkomunikasi bahkan dengan keluargaku sendiri. Meskipun begitu, mereka tetap menyambut putra sulung yang sudah berbulan-bulan tak pulang ini. Di hati kecilku, aku merindukan mereka dan aku merasa jijik dengan sikapku ini tetapi pada akhirnya aku tak bisa berbuat apa-apa.

Bus terus berjalan menyusuri jalan antar kota yang gelap dan sepi. Tak ada lagi cahaya lampu-lampu jalan kecuali kegelapan semak belukar. Suara deru mesin yang teredam ini seakan beresonansi dalam kepalaku dan entah bagaimana membuatku tenang. Aku pun tertidur lelap.
***

Aku tak ingat apa yang terjadi di akhir kesadaranku tetapi saat aku terbangun, aku terhempas ke depan. Kepalaku menubruk sandaran kursi depan. Tak terlalu sakit tapi sedikit pusing akibat guncangan kuat menerpa otak. Suasana kini riuh oleh penumpang yang gundah. Bus mengerem mendadak.

Aku mendapati posisi kami masih berada di luar kota saat menengok ke kaca jendela dan waktu masih dini hari. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang membuat bus ini berhenti. Aku berdiri untuk melihat haluan. Meskipun terhalang oleh tubuh penumpang di depan, aku bisa melihat cipratan cairan gelap yang mengotori kaca depan. Mungkinkah itu darah? Jika benar, berarti bus ini telah menabrak sesuatu.

Suasana di dalam kabin semakin gaduh oleh ocehan penumpang yang membicarakan kejadian ini. Di saat yang sama, aku melihat kernet bus keluar sementara supir menenangkan penumpang. Dia mengatakan situasi masih dalam kendali dan meminta agar kami tetap berada di dalam bus dan duduk di kursi masing-masing. Aku memutuskan untuk menahan rasa penasaranku dan menuruti keinginan sang supir bersama penumpang lain namun sebagian dari kami justru menuju ke bagian depan untuk melihat situasi.

Kesenyapan menyelimuti kabin sejak si kernet turun dari bus dan belum juga kembali. Hal ini membuatku cemas dan gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana sampai hingga butuh waktu lama untuk melanjutkan kembali perjalanan? Tentunya bukan hanya diriku yang merasakannya. Beberapa penumpang bahkan memprotes kepada supir tentang hal ini yang akhirnya membuat ia turut keluar untuk mencari si kernet bersama dua orang penumpang dewasa.

Tak berselang lama suasana menjadi tegang. Mereka yang keluar bus kembali masuk dengan tergesa-gesa dan panik sambil membopong tubuh si kernet yang bersimbah darah. Rupanya ia diserang oleh orang-orang tak dikenal. Mereka lalu mengepung bus menggebrak-gebraknya. Telapak tangan mereka membekas di kaca jendela samping. Para penumpang yang ketakutan menjerit-jerit dan menambah suasana menjadi semakin mencekam. Sang supir bergegas tancap gas dan melarikan bus secepat mungkin dari kepungan ini. Kabin berguncang-guncang menjatuhkan beberapa penumpang. Sepertinya kami menyenggol bahkan menggilas beberapa dari mereka tetapi sang supir seakan tidak peduli.

Tak memakan waktu lama untuk lepas dari para penyerang misterius itu. Sosok mereka tak lagi terlihat di jendela belakang. Merasa aman, kami bernapas lega. Perhatian kami beralih pada dua awak bus dan kedua penumpang yang turun bersama mereka. Sang kernet terluka cukup parah di bagian bahunya dan terus mengeluarkan darah. Ia meringis kesakitan saat seorang penumpang wanita yang tampak memiliki pengetahuan medis merawat lukanya dengan perlengkapan P3K seadanya. Salah satu dari dua penumpang yang turun itu juga terluka cakar di lengannya namun tak separah si kernet. Sementara itu penumpang yang lain mengaku tak tahu pasti apa yang terjadi. Ia hanya bisa menduga orang-orang yang menyerang itu adalah warga sekitar. Mereka sepertinya marah karena teman mereka ditabrak bus ini. Pria itu tak menyangka reaksi mereka akan sebrutal ini. Bahkan mereka langsung menyerangnya tanpa kompromi seperti kesetanan. Beruntung para awak dan penumpang itu berhasil menyelamatkan diri dari amukan mereka hanya saja harus mendapat luka seperti itu.

Mendengar ceritanya aku jadi bergidik. Aku tak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti itu dalam perjalanan ini. Mengingat kembali saja sudah membuat bulu kudukku berdiri. Namun keadaan kembali aman sekarang, supir pun telah memastikannya. Untuk saat ini kami kembali ke tempat duduk masing-masing untuk menjalani sisa perjalanan.
***

Aku hampir tidak bisa tidur. Setelah semua peristiwa yang baru saja kualami selama perjalanan ini, ternyata aku masih bisa terlelap walau sekejap. Sepertinya aku sangat kelelahan. Yang kuinginkan adalah segera tiba di tujuan dan istirahat dengan nyaman. Namun sepertinya tujuanku masih jauh dan semakin jauh karena peristiwa demi peristiwa ganjil terus terjadi.

Kali ini aku terjaga kembali oleh suara gaduh dari arah depan. Selain itu kurasakan bus kembali berhenti. Saat aku membuka mata dan melongok ke arah depan, tampak beberapa orang penumpang berkerumun di depan kursi paling depan di mana sang kernet duduk. Dari apa yang kudengar, sepertinya kernet itu telah menghembuskan napas terakhirnya beberapa saat yang lalu. Mungkin karena pendarahan lukanya yang tak kunjung berhenti. Aku melihat wajahnya ditutup kain putih. Sang supir menatapnya murung di belakang setir. Ini benar-benar rentetan peristiwa tragis yang datang bertubi-tubi dan kami tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya bisa turut berduka cita untuknya.

Setelah berkabung singkat, supir memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan. Sebelumnya ia berkata pada penumpang bahwa hal ini akan menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa transportasi ini dan tak akan melibatkan mereka dalam urusan ini. Maka dari itu ia menghimbau untuk tidak usah memikirkannya dan meminta kesediaannya untuk membawa serta jenazah kernet ini sampai ke tujuan. Beberapa penumpang protes. Mereka keberatan bepergian dengan mayat dan memintanya untuk mengeluarkan tubuhnya tetapi sang supir tak bersedia. Ia malah mempersilahkan penumpang itu untuk turun daripada mengeluarkan tubuh rekan kerjanya itu. Mendengar respon demikian, penumpang yang protes itu akhirnya enggan mempertahankan pendapatnya dan menuruti keinginan si supir sambil menggerutu. Kupikir mereka sudah kelelahan untuk beradu argumen apalagi berjalan sendiri sampai di tujuan. Setelah tak ada lagi protes, bus pun berjalan kembali.

Terus terang bepergian dengan orang mati membuat perasaanku tidak enak. Akhirnya aku bisa merasakan apa yang dirasakan penumpang yang protes itu. Sangat tidak nyaman dan membuatku gelisah. Rasanya seperti berada di mobil jenazah. Meski demikian tak ada yang bisa kulakukan kecuali menerima saja keadaan ini. Aku memutuskan untuk menenangkan diri dengan mendengarkan musik. Kukeluarkan Ipod dari tasku, memasang earphone, dan memutar lagu-lagu favoritku. Setidaknya bisa mengurangi stres yang bertumpuk di kepalaku selama perjalanan ini.
***

Aku menyadari hari semakin terang dan bus kini melaju di atas jalan tol ekspres menuju ibukota. Artinya perjalanan kami semakin dekat dengan tujuan. Aku merasa sedikit lega. Harapanku adalah tak ada lagi kejadian dan aku tiba dengan selamat namun harapan itu buyar ketika melihat penumpang yang duduk di seberangku menahan napasnya dalam keterkejutan. Ia seperti melihat hantu di arah ia memandang. Saat aku menoleh ke arah yang sama, napasku pun turut tertahan. Sang kernet yang sebelumnya dinyatakan meninggal, dengan wajah yang tertutup kain putih bangkit dari kursinya. Ia berdiri terhuyung-huyung di hadapan para penumpang yang tercengang melihatnya. Bukankah ia sudah mati? Atau ia sebenarnya masih hidup? Dua pertanyaan ini yang langsung muncul saat menatapnya tapi napas kami seakan tercekat tak bisa bersuara. Di saat yang sama, sang supir tampak belum menyadarinya.

Kain penutup wajah pun jatuh. Tersibaklah wajah kernet yang pucat dengan mulut menganga. Ia menggerakkan kepalanya mengamati penumpang satu per satu seperti sedang mencari seseorang. Matanya tidak fokus tetapi aku merasakan ia sempat menatapku tajam seperti binatang buas. Saat sang supir akhirnya menyadari sesuatu yang ganjil di belakangnya, saat itulah sang kernet memilih mangsanya.

Tanpa memberi peringatan, ia langsung lompat menerjang sang supir yang sedang mengendalikan bus. Jeritan histeris seketika membahana mengisi udara seluruh kabin. Kernet itu mencengkram tubuh supir dan menancapkan gigi di lehernya. Pria gemuk itu mengerang kesakitan. Beberapa penumpang pria bergegas memisahkan si kernet tetapi si supir sudah kehilangan kendali busnya. Mobil berjalan oleng ke kanan dan ke kiri, sebelum akhirnya terbanting ke jalan. Aku dan penumpang lain terlempar dari tempat duduk.

Aku terhempas, terbanting-banting, bertubrukan, berbenturan, dan bertindihan dengan sesama penumpang, barang, kursi, dan objek lain yang bahkan aku tak sempat mengetahuinya ketika kabin berputar-putar, berayun-ayun, jungkir balik, dan terbentur-bentur. Aku merasakan tubuhku terkocok-kocok, terguncang-guncang, dan saling beradu seperti bahan-bahan makanan yang di-blender. Suara benturan, kaca yang pecah, gemerincing, serta jeritan seseorang bercampur aduk dan berputar-putar dalam kepalaku.

...dan semua berakhir dalam kegelapan yang pekat. Aku tak melihat apapun, tak merasakan apapun, dan tak mengingat apapun setelah itu. Aku pun tak mendengar apapun kecuali suara mendesir seperti ombak di pantai. Aku kehilangan kesadaran.

>>bersambung

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Sang Terpilih
Sang Terpilih at Humanless (scene 01) (11 years 4 weeks ago)

dulu sebelum gabung di k.com aku pernah baca cerita zombi mu yg multiple karakter salah duanya ada anak sekolahan dan pemadam kebakaran. Ketika aku bandingkan dgn ini, ternyata lebih tegang dan horor yg dulu. Yah mungkin sih krn ini baru scene 1.

Tentang ketiadaan dialog, menurutku itu cukup tepat, krn :
1. Memberi kesan pendalaman. Karena pembaca seolah mjd tkoh utama.
2. Memberi kesan sintrum.

Ya itu sajalah dariku. Akhirul kata, semboyan k.com : Keep writing!

Writer AkangYamato
AkangYamato at Humanless (scene 01) (11 years 19 weeks ago)
90

Huah!.. Udah lama nggak ngikutin cerita zombie-nya VQ!.. As usual ceritanya selalu menarik buat diikuti.
.
.
Tapi, ngomong2, kok paragrafnya kok ditumpuk2, yah,saya jadi merasa kelelahan untuk membaca paragraf yang nggak selesai2 dibacanya.
.
.
Hmm, andai ada narasi dialog antar penumpang kayaknya lebih ciamik lagi! ;)

Writer heinz
heinz at Humanless (scene 01) (11 years 31 weeks ago)
100

Numpang belajar bikin cerita horror

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Humanless (scene 01) (11 years 35 weeks ago)
70

Waw, bisa jadi adegan opening game Resident Evil nih. hehe. Keputusan untuk membuat carita tanpa dialog mungkin mengisyaratkan kepribadian si tokoh utama yang tertutup dan self-centered. Tapi saya pikir akan sedikit lebih nyaman kalau ucapan tokoh-tokoh lain diceritakan seolah si tokoh utama menirukan ucapa tokoh itu (bukan kalimat langsung). Untuk unsur ketegangan, saya merasa deskripsinya masih kurang, atau mungkin ceritanya terlalu singkat. Ide tentang kernet yg udah jadi zombi dan berada satu bus itu bener-bener keren lho.

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at Humanless (scene 01) (11 years 34 weeks ago)

makasih bang sky. Sebenarnya aku nggak merecanakan nulis ini full narasi atau tanpa dialog sama sekali. Tapi sejak aku memutuskan untuk membuat cerita ini dalam 1st person, semua ini tertulis begitu saja. Sepertinya aku merasa nyaman nulis full narasi seperti ini. Aku mulai tumpul dalam menghadirkan adegan tensi

Writer Chie_chan
Chie_chan at Humanless (scene 01) (11 years 39 weeks ago)
90

hoooo ini cerita jombi yg kaubilang itu? rasanya dulu aku pernah baca cerbung jombi jadulmu yang lain deh... dirimu ga bosen-bosen juga ya bikin yg kayak gini --"

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at Humanless (scene 01) (11 years 40 weeks ago)

@musthaf: ga ada alasan khusus sih gw ga pake kalimat langsung (dialog) secara karakter utamanya memang belum ngomong.

@chaca: ya udah istirahat aja

@too much: thankyu

@alcyon: jawabannya sama kayak musthaf

@irma: hahaha, memang sengaja aku belum nyebutin kotanya. ikuti sajalah ceritanya

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Humanless (scene 01) (11 years 40 weeks ago)

eer, kak vq, kakak panggil aku irma ya?
E..hehe, maaf, saya nggak ngeh. Tadinya saya pikir, oke, ga jadi. iya, sip, saya ikuti aja. Maaf ya kalo saya banyak nanya. (diem mode: on)

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Humanless (scene 01) (11 years 40 weeks ago)
80

Reaksi pertama waktu liat ada postingan ini:

Whoaa, kak vq posting cerita lagi (klik)

reaksi berikutnya waktu baca postingan komen:

Hee? Ga ada dialognya?

Reaksi selanjutnya?

Gyaahaha, narasi semua ^^;;.

Reaksi setelah membaca:

Tanpa sadar, di bagian pertengahan menuju terakhir dahi saya berkerut dan menahan napas. Whoaaaaa, kereeeeeeen!!!!>.<
Meskipun isinya narasi semua, tapi detail sekali sehingga ketegangannya terasa dan bisa memuncak. Salute!
Tapi, karena narasi semua, saya jadi perlu beberapa berhenti agak lama di beberapa tempat untuk lebih mencerna.
Kak, kok pake narasi semua? Jadi inget nadia series, hehe.

Jadi penasaran nih kak. Kalo boleh tau, ini pulkamnya kemana si aku? Soalnya belum dijelaskan tujuannya kemana.

Sip deh. Ditunggu kelanjutannya.

Writer alcyon
alcyon at Humanless (scene 01) (11 years 40 weeks ago)
80

Kenapa ya? rasanya gak nyaman kalo baca gak ada kalimat langsungnya...bener kata mumus, syepi...

Writer too much idea
too much idea at Humanless (scene 01) (11 years 40 weeks ago)
100

Zombie kah? Yang pasti, horror.
Baca sampai membatu depan komputer. hehehe

Writer Chaca Marfecc
Chaca Marfecc at Humanless (scene 01) (11 years 40 weeks ago)
80

ceritanya bagus..cukup penasaran...hanya saja aku agak capek ngebacanya :D
Lanjut....

Writer musthaf9
musthaf9 at Humanless (scene 01) (11 years 40 weeks ago)
100

jika saja aku tak pernah membaca cerita zombie, mungkin ga akan merinding sedemikian awal.
.
narasinya nyaman, dan untungnya ga sengeri Kisah Nadia yg pernah kubaca. Beberapa orang mungkin suka cerita seram, tapi untukku, jangan seram-seram deh :D
.
Dan kayaknya aku agak paham mengapa kak vq ga pake kalimat langsung, suasananya terkesan hening, syepi.