Humanless (scene 02)


Dalam kegelapan, suara desir yang kudengar tanpa henti berangsur-angsur menghilang dan berganti menjadi denging yang menusuk otak seperti jarum. Di saat yang sama, aku melihat setitik cahaya yang semakin lama semakin terang dan membesar. Akhirnya aku menyadari kesadaran telah kembali pada diriku dan cahaya itu adalah penglihatanku. Aku belum mati.

Pandanganku masih kabur. Kepalaku berdenyut-denyut dan seluruh tubuhku terasa sakit tetapi aku telah sadar sepenuhnya. Aku mendapati diriku berada dalam posisi berbaring di atas matras yang tak terlalu empuk. Saat penglihatanku berangsur-angsur membaik, aku melihat langit-langit berwarna abu-abu.

“Di mana ini?” aku bertanya pada diriku sendiri.

Masih berbaring, aku melihat sekelilingku. Aku berada di dalam ruangan sempit dengan satu jendela di arah kakiku. Di sekitar berserakan botol-botol kecil serta alat-alat yang mengingatkanku pada rumah sakit. Sebuah masker terpasang di mulutku dan dihubungkan selang plastik ke sebuah tabung. Saat itu aku menyadari diriku berada di dalam ambulan.

Aku mencoba memanggil ingatanku tentang mengapa diriku berada di sini. Hal yang berhasil kuingat adalah berada di bus malam. Bus itu lalu berhenti, sesuatu telah terjadi. Seseorang keluar dan kembali masuk bersimbah darah. Bus kembali berjalan dan orang itu tiba-tiba menyerang supir. Bus berguncang hebat dan setalahnya aku tak ingat lagi. Itu pasti kecelakaan. Aku mengalami kecelakaan dan dimasukkan ke ambulan. Akhirnya aku paham atas semua ini.

Namun aku merasakan ambulan ini tidak bergerak. Tidak ada siapapun dan semuanya berantakan. Semuanya hening. Apa yang terjadi di sini? Untuk mencari tahu, aku mencoba bangkit. Tubuhku terasa berat dan rasa sakit menusuk di beberapa bagiannya. Aku memeriksa kondisi seluruh tubuhku dan menemukan tak ada luka yang berarti. Aku masih bisa menggerakkan tangan dan kaki. Tak ada robek di perut dan di punggung. Hanya ada sedikit goresan dan memar di beberapa bagian. Aku tak tahu seperti apa yang kualami sebelumnya tetapi kurasa ini adalah keajaiban dan aku tak lupa bersyukur untuk itu.

Selanjutnya aku harus mencari tahu situasi yang terjadi di sekitar. Kulepas masker yang terpasang di mulutku. Pakaianku kotor oleh ceceran darah kering yang entah itu darahku atau orang lain. Kecuali ransel, semua yang ada di dalam kantong celana tidak hilang seperti dompet dan uang di dalamnya yang jumlahnya tak berkurang. Hanya saja ponselku rusak. Layarnya yang retak tidak merespon saat kucoba menyalakannya. Aku tak bisa menghubungi siapapun untuk saat ini.

Aku menurunkan kedua kaki dari matras beroda. Beruntung sepatuku masih terpasang jadi aku bisa lebih mudah menyingkirkan beling dan pecahan botol di lantai. Berantakan sekali di sini. Obat-obatan P3K berceceran di mana-mana dan baunya cukup menyengat. Aku harus keluar dari sini.

“Maaf, permisi! Ada orang di sini!?”

Aku mencoba memanggil siapapun tetapi tak ada yang menyahut, bahkan tidak ada dokter atau perawat yang menghampiriku. Aku melongok ke kursi depan dan terkejut. Kaca depan pecah, dasbornya hancur. Aku menemukan supir ambulan terkulai di atas setir. Kepalanya pecah dan otaknya berceceran di panel instrumen. Aku tak bisa berteriak kecuali menahan napas. Ambulan ini juga mengalami kecelakaan.

Aku kembali duduk di matras menenangkan diri. Aku butuh udara segar namun tak menemukan jendela kecuali di pintu bagasi, itu pun tertutup oleh stiker putih. Rupanya ambulan ini adalah Blind Van, minibus khusus untuk pengantaran barang dan komersil. Jadi tak perlu jendela untuk melihat apapun di dalamnya.

Aku ingin keluar dari sini. Aku mencoba membuka pintu geser samping tapi macet. Sepertinya alur relnya rusak. Sejak akses ke pintu depan terlalu sempit untuk kulewati maka pilihan hanya tinggal pintu bagasi tetapi pintu itu terlihat tertutup rapat. Aku tak yakin dapat membukanya namun tak ada salahnya mencoba.

Maka, aku merangkak menuju akses di buritan mobil ini. Pintu itu ternyata tak tertutup rapat. Aku bisa melihat celahnya.

“Cih!”

Ternyata pintu itu tak dapat kubuka cukup lebar untuk bisa kulewati. Ada sesuatu yang menahannya. Sial, haruskah aku terkurung di sini? Tapi aku tak mau, harus keluar.

“Oii!! Tolong!! Yang di luar tolong aku! Aku nggak bisa keluar!!”

Aku berteriak sekeras mungkin agar suaraku terdengar ke luar mobil namun berkali-kali kucoba masih tetap tak ada yang datang, bahkan merespon pun tidak. Apa ada orang di luar? Sejak awal tak ada suara motor pun yang lewat. Apa yang terjadi di luar sana? Apakah aku sendirian di sini? Ini menguatkan tekadku untuk keluar.

Setelah beberapa saat aku berpikir sambil mengamati sekitar, terlintas sebuah cara untuk keluar, yaitu memecahkan jendela belakang dengan tabung oksigen besi yang sebelumnya terhubung dengan masker di mulutku. Tak ada waktu untuk ragu-ragu, aku melaksanakan rencanaku. Tabung oksigen itu terletak di sudut kabin. Berat yang tertulis di labelnya adalah lima kilogram, tak seberat yang kukira namun tetap tak ringan bagi ototku yang jarang olah raga ini. Aku memanggulnya di atas bahu dan menabrakkannya ke kaca jendela sekuat mungkin seperti mendobrak pintu. Aku harus melakukannya tiga kali untuk membuat pecah seluruhnya. Lapisan film yang terpasang di permukaannya cukup kuat, bahkan saat benturan yang ketiga masih membentuk retakkan jaring laba-laba. Aku menambah satu dobrakan terakhir yang membuat ia pecah berhamburan keluar.

Sekarang ada jalan keluar baru dan udara segar pun masuk. Aku membersihkan bingkainya dari serpihan kaca lalu naik melewatinya. Rupanya pintu bagasi tertahan oleh bemper sebuah sedan. Namun kap mesinnya kujadikan pijakan untuk turun.

Aku berada di ruang terbuka sekarang dan yang kulihat selanjutnya adalah pemandangan luar biasa yang sulit untuk kupercaya. Di bawah langit yang mendung ini aku melihat kehancuran. Gedung-gedung terbakar, rusak, dan terlantar. Kendaraan-kendaraan yang ditinggalkan pemiliknya teronggok begitu saja di jalan. Beberapa di antaranya ringsek akibat tabrakan dan terbalik. Motor-motor berserakan di atas aspal. Mereka saling bertumpuk menutup ruas jalan. Pemandangan seperti ini mengingatkanku pada film-film perang dimana kota dilanda pertempuran berubah menjadi kota mati.

Seperti yang di film itu juga, hal yang paling membuatku merinding adalah diriku tak menemukan siapapun yang masih hidup di sini. Aku melihat banyak mayat bergelimpangan di atas jalan. Beberapa dari mereka kehilangan anggota tubuhnya, sisanya yang masih utuh berada dalam kondisi yang mengenaskan seperti dikoyak-koyak oleh binatang buas. Bekas-bekas genangan darah berceceran di mana-mana. Aku hampir tak tahan melihat mereka. Desakkan timbul dari dalam perutku hingga membuatku muntah. Mereka sedang dalam proses pembusukkan. Aku bisa melihatnya dari kondisi luka borok yang digerumuti lalat dan bau yang menyengat. Berapa lama mereka mati? Apa yang terjadi di sini?
***

Aku berjalan menyusuri jalanan yang kacau balau ini. Hembusan angin menerbangkan debu, kertas, serta serpihan-serpihan puing. Membuatku merinding saat menerpa. Aku terus berjalan melewati bangunan yang terbakar. Walau sebuah truk pemadam parkir di depannya tetapi api masih menyala. Tak ada semburan air yang keluar dari selangnya. Faktanya mereka teronggok di atas aspal bersama helm-helm petugas yang tergeletak begitu saja. Bangunan-bangunan lain sebagian besar pecah kaca jendelanya. Banyak sekali cipratan dan jejak darah membekas di dinding-dinding. Negara ini terkenal dengan kepadatan penduduknya yang tinggi namun yang kulihat saat ini adalah kota mati yang tak satupun (yang hidup) kutemui. Ke mana mereka pergi? Mungkinkah mereka lenyap ditelan bumi?

Ada banyak sampah berserakan di setiap langkahku berjalan. Sesekali aku mampir melongok ke dalam toko dan kios yang kulewati. Benar-benar tidak ada orang. Walaupun aku memanggil pemiliknya tak ada seorangpun yang keluar melayani. Mereka seperti meminta dagangannya dijarah dan aku baru menyadarinya.

Aku melangkah menuju sebuah mini market 24 jam yang berjarak beberapa meter dari toko yang terakhir kukunjungi. Seperti toko lainnya, tak ada seorangpun pramuniaga yang menyambut. Tidak seorang kasir pun tetapi barang yang berada di rak masih utuh meski beberapa hilang atau tergeletak di lantai.

“Oii! Halo!?”

Aku setengah mengharap ada yang merespon dan setengah lagi tidak. Ketika yang kudengar hanya gema suaraku sendiri, aku segera mengambil apapun yang kuinginkan. Rasanya seperti mimpi mendapatkan segala yang kuinginkan dengan gratis.

Listrik di mini market ini padam. Tak ada lampu yang menyala begitu pun dengan kulkas. Minuman yang seharusnya dingin terasa hangat saat kupegang. Aku meminumnya sebotol.

Beberapa makanan ringan berserakan di lantai. Salah satu isinya berhamburan tetapi aku mengambil yang masih tersimpan di rak. Belum kadaluwarsa. Masih aman dimakan dan aku menikmatinya.

Perasaanku mulai tidak enak saat tiba di seksi mie instan di bagian belakang ruangan. Aku mendengar suara samar-samar yang kurang jelas kukenali. Tensi pun meninggi bersamaan dengan bangkitnya rasa penasaran. Aku mengikuti suara itu berasal dan menemukan pintu di samping rak. Sepertinya pintu khusus karyawan. Apa ada orang di dalam?

Semakin aku mendekati pintu, suara itu semakin jelas terdengar. Suaranya seperti rintihan, atau orang yang menangis. Sangat mencurigakan hingga membuat bulu kudukku berdiri. Rasanya mengingatkanku pada film-film horor hantu. Aku ingin segera pergi dari sini namun rasa penasaranku mencegahnya. Kurasakan tanganku gemetar hebat saat menggapai daun pintu. Ia tidak tertutup rapat.

Jantungku berdebar kencang, keringat dingin menetes di dagu ketika membuka pintu itu perlahan. Satu kejutan saja mungkin akan menghentikan denyut jantungku untuk selamanya tetapi aku masih tetap membukanya. Suara derit engsel hampir membuat celanaku basah.

Ada hembusan angin dari balik pintu membawa serta bau yang menyengat. Ruangan yang baru kubuka ini tak terlalu gelap meski lampu tak menyala. Ada sinar yang masuk melalui jendela langit-langit. Aku melongok ke dalam dan melihat ruang dengan beberapa kardus yang ditumpuk. Ini adalah gudang. Seseorang berdiri di tengah ruangan.

Aku menelan ludah. Entah mengapa rasanya sedikit lega menemukan orang yang masih hidup. Aku masuk ke ruangan untuk melihat lebih jelas. Dinilai dari seragamnya, tampak ia adalah seorang SPG (Sales Promotion Girl) produk susu. Ia berdiri terhuyung-huyung membelakangiku sambil merintih. Rupanya dialah yang menimbulkan suara itu sebelumnya.

Aku tak terlalu berpikir bagaimana reaksinya jika ia mengetahui aku mengkonsumsi barang tanpa bayar dan jika ia menagih, uangku tak cukup membayarnya tapi hal itu bisa datang belakangan. Yang kuinginkan adalah informasi tentang apa yang terjadi dan jalan pulang. Jadi kuhampiri ia dengan sedikit waspada.

“Maaf, mbak.” Aku menepuk bahunya. “Numpang tanya, kalau....hah!?”

Aku tak bisa melanjutkan pertanyaanku, malah mengakhirinya dengan ekpresi kaget. Saat menolehkan kepala, ia memperlihatkan wajah yang sangat mengerikan. Ia kehilangan hidung dan bibir. Pipinya robek cukup dalam hingga memperlihatkan serat otot rahangnya. Salah satu biji matanya tenggelam di kelopak bawah sedangkan mata yang satunya tak bersisa apapun kecuali kabut putih. Apa yang kulihat benar-benar seperti kuntilanak yang keluar dari poster film horor akhir-akhir ini.

Napasku cepat dan pendek karena jantungku berdegup tak karuan. Ia membalikkan badan seluruhnya hingga memperlihatkan pakaiannya yang koyak dan beberapa bagian tubuhnya kehilangan daging. Tak mungkin aku bertanya normal dengan orang yang keadaannya seperti ini.

“...uhh..nggak jadi, mbak..”

Aku melangkah mundur dan ia melangkah maju dengan terseok-seok, menyeret kaki dengan betis yang robek. Aku semakin ketakutan. Saat ia menjulurkan tangan ke arahku sambil menggeram, aku lari keluar ruangan. Kubanting pintu hingga tertutup rapat dan mengamatinya sejenak. Terdengar bunyi berdebam-debam keras disertai raungan binatang. SPG itu menggebrak-gebrak pintu. Menyadari situasi yang tidak aman, aku bergegas keluar dari mini market. Dalam pikiranku, aku bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dirinya tetapi aku tak mau mencari jawabannya untuk saat ini.

>>bersambung

Read previous post:  
79
points
(1596 words) posted by hikikomori-vq 11 years 40 weeks ago
79
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | Humanless | zombie apocalypse
Read next post:  
Writer hHilda_njyo
hHilda_njyo at Humanless (scene 02) (11 years 25 weeks ago)
80

huaaa, jadi ngingetin aku sama film i'm a legend (benar kan judulnya itu?). tapi bedanya di film itu tokoh utamanya ditemenin anjing, yang ini sendirian.
keren. tokoh utamanya kayaknya orang yang cuek ya? ga terlalu panik (atau benar2 ga panik).
ditunggu lanjutannya.

Writer heinz
heinz at Humanless (scene 02) (11 years 31 weeks ago)
100

Kusimpulkan dari karya bang VQ, aku lebih suka cerita hantu daripada jombi

Writer dhalion
dhalion at Humanless (scene 02) (11 years 32 weeks ago)

Keren, saya juga baru pengen memposting cerita bertemakan zombie saya ke sini. Based on RE sih :p hehe. . .

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Humanless (scene 02) (11 years 34 weeks ago)
100

Yang ini juga mantep! Suka deh sama si aku pas ngomong "... uuh ngga jadi deh mba" *ngakak gulingguling*
Saya tunggu lanjutanna dengan sabar! *pelototin dengan tatapan cepetan-bikinna-saya-penasaran*

Writer lii_nya christ
lii_nya christ at Humanless (scene 02) (11 years 39 weeks ago)

setuju sama chie, ngga kerasa kaget2nya si 'aku'.

selebihnya, aku suka cerita ka2.

lanjut... :)

Writer lii_nya christ
lii_nya christ at Humanless (scene 02) (11 years 39 weeks ago)
90

setuju sama chie, ngga kerasa kaget2nya si 'aku'.

selebihnya, aku suka cerita ka2.

lanjut... :)

Writer Chie_chan
Chie_chan at Humanless (scene 02) (11 years 39 weeks ago)
80

hadeh, kau emang jago banget deh ngebangun suasana macam gini (apa sih namanya? suspense? hamba speechless... hamba speechless...! *sembah*). --" kali ini ada dialognya ya? tapi kayaknya justru itu yang bikin part ini jadi agak ganjil. reaksi si 'aku' ini lho, kok kesannya dia ga logis ya? yang kutangkap cuma jijiknya doang (pas muntah), kurang panik (atau ga panik sama sekali?). pertama doi tenang-tenang aja nemuin darah di bajunya, ga ada stres-stresnya lihat mayat si supir ambulans yang dalam keadaan mengenaskan dan masih bisa dengan kepala dingin mendobrak jalan keluar, lihat mayat berserakan dan situasi-kayak-kiamat aja dia cuma merinding dan bertanya-tanya dalam hati doang (kalau aku sih udah lari-lari ga karuan sambil nangis-nangis manggilin ibuku. boro-boro mikir kenapa begini kenapa begitu).
pas di mini market jadinya lebih aneh lagi. kok tuh orang masih bisa-bisanya nyantai ngambil makanan dan minuman? terus, masa iya sih dia ngga bisa ngehubungin: suasana kehancuran di depan + di dalam ga ada orang + listrik mati + suara samar-samar menyeramkan = DANGER?? hebat banget dah, masih berani cari tahu asal suara-seramnya! nah teruuuusss yang paling-paling bikin aku bengong, pas dia udah ngelihat penampilan aduhainya si jombi SPG itu, kok kalimatnya malah "uh nggak jadi mbak"??? bukannya harusnya itu "aaaaa" "kyaaa" atau "gyaaa", atau LANGSUNG PINGSAN DI TEMPAT???
*jedukin pala ke tembok*
ya ngerti sih, kalau si aku ini pingsan di tempat ceritanya bakal langsung tamat (karena abis itu dimakan si jombi SPG). -___-
.
.
errr... aku sih ga masalah sama kecepatan alurnya. itu aja kayaknya.

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at Humanless (scene 02) (11 years 39 weeks ago)

oooo ya gitu? Kan seharusnya kayak yg lu jelasin di atas tapi kenyataan bisa berbeda. Logika tiap orang juga berbeda seiring bertambahnya usia. Tapi gpp nanti kumunculin karakter chie di dalamnya

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at Humanless (scene 02) (11 years 40 weeks ago)

@musthaf: terlalu cepat? itu sih kamu aja yg terlalu cepat menyimpulkan. Ini cerita masih awal, masih banyak hal yg belum diekspos

@irma: belum kepikiran chapter brp semuanya dapat terungkap tapi kalopun sudah ada, ga akan kukasih tahu, ntar kamu ga baca lagi...ikutin aja deh.


mengenai penyebaran yg terlalu cepat, sekali lagi ga usah buru2 menyimpulkan. Ini baru awal cerita. ikuti saja.

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Humanless (scene 02) (11 years 40 weeks ago)

iya kak, manut deh saya. Yang jelas, saya bakal terus ikutin kok,

Writer musthaf9
musthaf9 at Humanless (scene 02) (11 years 40 weeks ago)

hehehe, begitulah kalo data kurang XD

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Humanless (scene 02) (11 years 40 weeks ago)

oke, maaf klo saya agak sok tau, hehe.
ditunggu kelanjutannya.

Writer stilldaydreaming
stilldaydreaming at Humanless (scene 02) (11 years 40 weeks ago)
80

untuk tau jawabannya masih berapa chapter lagi kak?xD
Waduh, ini ada..kiamat ya? kiamat kecil tapi heboh juga, soalnya itu satu kota sampe jadi kota mati gitu. Kayaknya kejadiannya benar-benar heboh, tapi terjadi dalam waktu yang cukup singkat, secara yang hancur satu kota gitu. Masih belum jelas ini kotanya di mana. Ini di Indonesia kan? (bukan di Depok kan ya ? haha)
Mmm, kejadian kehancuran kota itu terjadi cukup cepat, tapi entah kenapa terasa agak lambat juga. Kenapa ya? Tapi tetep ok lah. Masih penasaran saya, haha. Lanjut, kak.

Writer Chaca Marfecc
Chaca Marfecc at Humanless (scene 02) (11 years 40 weeks ago)
80

nih poinx

Writer Chaca Marfecc
Chaca Marfecc at Humanless (scene 02) (11 years 40 weeks ago)

lol

Writer musthaf9
musthaf9 at Humanless (scene 02) (11 years 40 weeks ago)
100

Quote:
Perasaanku mulai tidak enak saat tiba di seksi mie instan di bagian belakang ruangan.

Ketenangan membacaku juga mulai tidak enak....
.
btw, kok kayaknya nyebarna cepet banget, padahal ampir semuanya mati

Writer too much idea
too much idea at Humanless (scene 02) (11 years 40 weeks ago)
100

DX