Kucing-kucing Bu Inong

wise-cat

“Venuuuss! Veeenuus…!”

Seorang wanita setengah baya masuk ke garasi rumahku dengan wajah kebingunan. Diulanginya panggilan tadi beberapa kali. Wajahnya sumringah ketika melihat kucing majikannya sedang asyik tidur-tiduran di atas dinding batu yang dibuat sedikit menjorok keluar mirip aksen tebing. Garasi itu memang terhubung langsung dengan kolam ikan di samping kamarku. Kolam ikan itu sudah lama tak terpakai. Dulu, waktu kakekku masih hidup, beliau rajin merawatnya. Bermacam ikan hias berenang-renang dengan begitu anggun, suara percikan air terjun buatan menambah keanggunan, seperti alunan musik yang mengiringi lenggak-lenggok ekor-ekor lentik mereka. Namun, sekarang kolam itu ibarat kota mati bagi ikan-ikan. Dingin. Suram. Berlumut. Penuh rumput liar. Tak terawat. Mungkin sangat menyeramkan bagi species seperti mereka, tapi tidak untuk Venus.

Kucing itu menoleh dengan mata terpejam namun telinganya bergerak-gerak mencari arah suara, kemudian membalikkan wajahnya dengan malas dan menyandarkannya kembali di atas kedua tangan berbulunya yang menjulur.

“Venus, ayo masuk! Hey, hey! Masuk! Ayo masuk!” Wanita setengah baya itu semakin mendekati tempat kucing majikannya itu bermalas-malasan.

Kucing itu terlalu malas untuk beranjak dari tempatnya. Wanita setengah baya itu dengan mudah menangkap, menggendong dan langsung membawanya pergi. Aku masih bisa mendengar sayup-sayup suaranya.

“Makan dulu, habis tu ke dokter.”

Mereka berdua pun membelok pulang ke rumah majikannya yang tepat di sebelah kanan rumahku. Bayangan mereka menghilang, namun aku masih bisa mendengar suara jeritan Venus yang sepertinya tak rela acara santainya diganggu oleh kitten sitter-nya.
Begitulah tugas Poti, wanita setengah baya tadi, tak hanya mengurus urusan rumah tangga seperti mengepel, mencuci, memasak, tapi dia juga ditugaskan oleh majikannya-yang akrab dipanggil Inong, untuk mencari kucing-kucingnya jika tiba saat makan ataupun saat malam tiba. Sebenarnya Poti tak begitu suka dengan pekerjaan ini karena pada dasarnya ia tak suka dengan kucing, namun karena telah merawat mereka dari kecil, Poti sedikit bisa menikmati tugas ini.

Hmmm… Kucing yang rutin ke dokter?

Aku tak heran dengan ucapan itu. Begitulah perlakuan Bu Inong kepada kucing-kucingnya. Kata jamak itu aku gunakan karena kucingnya memang bukan satu, tapi mungkin ada enam. Semuanya peranakan Persia dengan kucing kampong, kecuali Venus. Hanya Venus yang mengaliri darah kucing Persia asli.

Bu inong merawat kucing-kucingnya tak tanggung-tanggung. Makan tiga kali sehari dengan lauk dari Royal Canin. Terkadang diselingi dengan ayam atau ikan gembung yang khusus dibeli di pasar langganannya lalu direbus dengan sedikit garam. Setelah itu disuir-suir, terkadang dihaluskan dengan blender. Jika kucingnya sakit dan tak mau makan, Bu Inong akan menyulangi kucing-kucingnya dengan cara mengisi makanan halus tadi ke dalam sebuah alat suntik yang telah dibuang bagian jarumnya kemudian menyemprotkannya ke dalam mulut kucingnya yang sakit. Begitulah yang pernah diceritakannya kepadaku sewaktu aku berbasa-basi menanyakan perihal kucing-kucingnya yang terawat.

“Tapi menurut yang Pia dengar dari orang-orang, kucing ga boleh dikasi garam Tante Nong. Nanti bulunya rontok.” Aku membelai Venus, ingin membuktikan kebenaran perkataanku tadi, kemudian kubalikkan telapak tanganku. Tak ada sehelai bulu pun yang menempel.

Bu Inong tersenyum, seolah senyumannya mewakili kalimat yang akan dikatakannya selanjutnya.

Kalo gak diberi garam, nanti makannya gak berasa. Gak selera nanti mereka. Kalo masalah rontok bisa diatasi dengan shampoo anti rontok dan suntik vitamin sebulan sekali”.

Wah, jika kucing saja mendapat perawatan begitu detail, bagaimana dengan Tuannya?

“Pasti mahal ya Tante Nong?” Aku menanyakan pertanyaan yang sudah bisa kutebak jawabannya. Bu Inong tersenyum sekali lagi. Kali ini seolah berkata, Tentu saja, masih bertanya. Aku sudah bersiap-siap menelan ludah untuk mendengarkan jawabannya.

“Sekitar seratus delapan puluh ribu untuk suntik vitamin dan vitamin bulu tambahan. Kalau shampoo anti rontoknya seharga seratus lima puluh ribu. Kadang dia juga mandi jamur, buat ngilangin jamur di kulitnya. Perawatan kucing itu cukup mahal. Bu Inong juga pakai pasir khusus di tempat mereka buang kotoran biar kotorannya gampang dibersihkan, harga satu sak pasirnya bisa lapan puluh ribu, terus juga setahun sekali mereka divaksin, biayanya ratusan ribu. Yang paling mahal itu makanan kalengnya harganya tujuh ratus ribu untuk 3 bulan. Jadi Bu Inong mesti ngeluarin biaya sekitar lima ratus ribu lebih sebulan untuk satu ekor kucing.”

GLEK! Uhuk.. Uhuk.. Kali ini aku bukan hanya menelan ludah, tapi tersedak oleh ludahku sendiri.

What??! Lima ratus ribu perbulan untuk seekor kucing? Tapi tunggu, kucingnya kan enam ekor, berarti… TIGA JUTA!! Gilaa!! Ah, ga waras..!! Edan! Itu dua kali lipat jumlah uang pensiun Ayahku! Orang kaya memang suka bingung ingin membuang uangnya kemana. HAAH!

Entah mengapa aku sedikit kesal mendengar kenyataan itu. Menghabiskan uang dengan jumlah yang sangat besar menurut isi kantong keluargaku, untuk merawat seekor kucing yang nyatanya bisa merawat sendiri tubuhnya, yang nyatanya bisa mencari makan sendiri. Kucing kampungku saja dulu mengurus dirinya sendiri, dan nyatanya lagi dia tumbuh sehat dan gemuk.

Entah mengapa aku jadi segan untuk mengusili Venus yang sering bertandang ke rumahku. Sebelumnya aku sering memukulnya dengan sapu karena kucing itu sebenarnya sangat nakal. Dia sering berkelahi dengan kucing kampung yang sering berkeliaran di sekitar rumahku, entah apa yang mereka ributkan. Mungkin rumahku ini menjadi area rebutan. Ingin dijadikan daerah jajahan. Terserah, jika mereka ingin memperebutkan rumah ini, tapi tolong, jangan meninggalkan jejak kencing dan taik yang berceceran tiap kali kalian berkelahi di rumahku. Venus, bukankah tempat berakmu lebih nyaman ketimbang berak di ruang tamu rumahku?
----------------==========================------------------

Malam hampir larut. Mobil mini bus hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Melintasi kerikil-kerikil mungil yang malang, hancur seketika, terlindas bannya yang terlihat masih kekar. Angin yang baik hati menghembus kepingan tubuh kerikil ke atas, mengajaknya bergabung bersama debu-debu yang pendiam namun ramah. Ah.., betapa sepinya malam ini. Angin seakan dikejar-kejar oleh mendung lalu mencari celah untuk bersembunyi.

Ssssshhhhh.. Sssshhhhahh…

Rumput yang akarnya mengering menerima pesan angin, lalu sedikit bersorak, Kita beruntung, sebentar lagi hujan turun. Rupanya langit ingin meramaikan malam yang sepi ini dengan lantunan lagu alam yang cukup sendu, terkadang terdengar seperti lagu rock yang hingar-bingar ketika petir menggelegar.

Sssssrrrr… Sssrrrrr… Rrrrrrr...

Hujan turun, cukup deras. Inong menyalakan windscreen wiper-nya. Windscreen wiper bergerak ke kanan dan ke kiri bergantian. Menciptakan alat music baru bagi orchestra alam. Tuk.. tuk.. tuk.. Irama yang sungguh beraturan. Betapa perpaduan irama ini menambah kesyahduan sepi.

Wanita bertubuh gemuk itu teringat sesuatu, kucing-kucingnya. Ia lalu merogoh tasnya yang diletakkan disamping kursi kemudi, berusaha mengaduk-aduk isinya sambil meraba-raba keberadaan handphone mungilnya. Ketemu. Sambil memegang stir hanya dengan mengandalkan tangan kanan, tangan kiri Inong membuka kunci pengaman handphone, lalu memencet nomor tujuan yang sudah sangat dihapalnya.

Tut, tit, tut, tat, tit, tut, tat, tit, tut, tut.

Nada panggil terdengar seketika setelah speaker di dekatkan tepat di lubang telinga kirinya.

“Poti, kucing udah dikasih makan? Inong lupa bilang ke Poti. Inong tadi buru-buru, baru ingat tadi.”

Hening sejenak..

“Iya, ini Inong baru di Ring Road. Bentar lagi Inong sampek. Si Venus udah masuk Poti?”

Hening kembali..

“Iya, baguslah. Udah dulu ya Poti, ni lagi ujan deras, ga bisa lama-lama, Inong gugup.”

Hening kesekian kali.

“Iya.”

Tut. Inong mengakhiri pembicaraan. Kemudian kembali berkonsentrasi mengemudi. Hujan tiba-tiba bertambah deras. Inong menambah kekuatan hembusan Air Conditioner ke level empat agar kaca mobilnya tidak berembun dan mengganggu penglihatan. Suasana jalanan sepi, mungkin orang-orang enggan menembus dinginnya hujan, mereka mungkin lebih memilih berdiam di dalam rumah menikmati hangatnya segelas teh atau kopi sambil memanjakan mata melihat acara-acara yang disajikan televisi.

Kesunyian itu tiba-tiba membuat jantung Inong berdegup kencang. Ada semacam kecemasan menyusup ke dalam hatinya. Ia menekan pedal gas semakin dalam. Speedometer menuju angka tujuh puluh km per jam. Lalu tiba-tiba….

Brak!

Ciiiiiiiittttttttttttttttttttttttttt… Inong menekan pedal rem mendadak, membuat mobilnya hampir tergelincir di jalan basah yang licin, beruntung dia masih bisa mengendalikan mobilnya meski sempat oleng beberapa kali. Untung di jalan ini tidak ada kendaraan lain. Begitu sunyi. Hanya ada beberapa sepeda motor yang melintas.

Inong berhenti sejenak. Mengingat apa yang telah ia tabrak tadi. Rasa takut semakin mencekam, seolah-olah mencekik lehernya, menekan dadanya perlahan-lahan. Keringat dingin mulai muncul di sela pori-pori hampir di seluruh badannya. Huuh.. huuuhh.. huuuuh.. Inong menarik napas berkali-kali. Terasa berat. Jantungnya masih berdegup kencang.

Inong menoleh ke belakang, ingin melihat sosok yang ia tabrak. Ia masih ingat bagaimana sosok tadi tergilas oleh ban mobil sebelah kirinya diikuti suara mengerang. Ujung-ujung kakinya seolah bisa merasakan retakan tulang-belulang tubuh yang ditabraknya ketika tertindih oleh ban mobilnya. Ia mempertajam penglihatannya. Sosok yang ditabraknya tadi terlihat terkapar di tengah jalan, tak bergerak, mungkin sudah mati. Tapi matanya tetap tidak bisa menangkap jelas sosok itu karena mobilnya berjarak sekitar 100 meter dari tempat tubuh itu terkapar, ditambah rinai-rinai hujan yang menghalangi penglihatan. Inong sedikit panik.

Apa jadinya jika yang kutabrak itu seorang anak kecil? Ah, tapi nggak mungkin, tubuhnya itu lebih kecil daripada anak kecil.

Inong ingin sedikit membesarkan hati. Ia seakan tidak siap menerima hal terburuk yang akan terjadi. Jantungnya masih belum cukup kuat setelah aksinya mengimbangi mobilnya yang hampir terbalik tadi. Inong menginjak pedal clos lalu menarik porsneling ke belakang, mobilnya mundur perlahan setelah ia menginjak pedal gas. Sorotan lampu belakang perlahan mendekati tubuh yang terkapar tanpa gerakan sedikit pun itu. Inong melebarkan matanya, melihat dari kaca spion kirinya.

“Astaga, seekor kucing! Astaga, astaga..”

Inong melihat seekor kucing terkapar di jalanan, tanpa gerakan, tanpa suara. Kucing itu kelihatan sudah mati, badannya terlihat kaku, pekatnya darah telah bercampur bersama curahan air hujan.

“Astaga, kucing hitam! Astaga, astaga! Ya ampuun..” Inong gelisah, berkali-kali dia ingin membuka pintu mobilnya namun berkali-kali juga dia mengurungkan niatnya. Ia begitu takut untuk melihat bangkai kucing itu, apalagi harus mengangkatnya dari jalan dan menguburkannya. Ia mengusap keringat yang membanjiri keningnya dengan sehelai tissue yang memang selalu tersedia di atas dashboard. Hatinya bimbang, sisi kemanusiaannya tak membiarkan ia untuk mengacuhkan bangkai kucing hitam itu begitu saja. Namun, rasa takut semakin menjalari tubuhnya yang mulai dingin, membuat bulu kuduknya berdiri. Akhirnya, ia memutuskan untuk melupakan kejadian ini, dan pergi melaju, meninggalkan tubuh kucing yang malang itu semakin membeku oleh dinginnya air hujan dan kematian yang telah mencapai ubun-ubun.
--------------==================-----------------------

“Kok banyak garam, Ma?”

Aku memandangi berbungkus-bungkus garam di atas meja dapur dengan heran. Hal yang tak biasa. Biasanya ibuku membeli garam hanya secukupnya, paling banyak juga tiga bungkus kecil seharga seribu rupiah, namun kali ini terlihat satu kantong plastik besar berisi berpuluh bungkus garam.

“Tadi Bu Inong yang ngasih…” Mama sengaja menggantung kalimatnya, entah apa maksudnya, mungkin ingin menguji sejauh mana tingkat rasa penasaranku terhadap sesuatu. Mama memang selalu begitu. Tapi apakah dalam hal ini, itu semua perlu?

“Buat..?”

“Katanya untuk sedekah, tadi malam dia nabrak kucing.” Mama menoleh kepadaku sambil terus mengaduk sayur lodeh yang hampir menggelegak di atas kompor gas.

Trus, kenapa sedekah garam?” Aku mengernyitkan alisku. Sungguh mengherankan.

“Ya, ga tau. Mungkin buat buang sial.” Terlihat Mama sekilas mengangkat bahu. Berjalan mendekatiku, kemudian mengambil sebungkus garam pemberian Bu Inong, mengoyakkan bungkusnya, lalu menaburi sayur lodeh dengan garam yang diambil sebanyak seujung jari.

“Ah, takhayul!” Aku paling anti dengan hal-hal yang berbau takhayul.

Tetanggaku itu memang suka bertakhayul. Dulu, ketika kucingnya menjilati ekornya, Bu Inong lari tunggang langgang ke rumahku, sambil berteriak memanggil Mama.

‘Nuuum.. Numm.. Bakal ada badai, bakal ada badai!’, sontak membuat seisi rumah terkejut.

Wajahku waktu itu pucat pasi, begitu juga ibuku. Namun, sebelum ibuku bertanya lebih lanjut, Bu Inong berlari kembali ke tetangga lain sambil meneriakkan hal yang sama,

‘Badai.. Badai.. Segera akan datang badai, cepat semuanya masuk rumah!’

Banyak orang yang terkejut dan kelimpungan. Bapak-bapak yang sedang main catur segera meninggalkan papan catur mereka dan masuk ke dalam rumah sambil berteriak hal yang sama kepada anggota keluarga masing-masing. Pintu-pintu ditutup rapat, kemudian dikunci. Orang-orang mungkin sedang meringkuk sambil memeluk lutut mereka karena takut. Begitu pun dengan aku dan keluargaku. Aku dan adikku bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, itulah tempat yang kurasa paling aman. Mama dan Ayah bersembunyi di bawah meja makan. Kami semua ketakutan, padahal kami tak tau darimana Bu Inong mendapatkan kabar buruk itu. Saat itu kami hanya ingin mengikuti insting kami saat alaram berbunyi.

Satu jam..

Dua jam..

Tiga jam..

……………………….

Sembilan jam…

Selama sembilan jam kami tidak mengubah posisi kami sedikit pun. Badanku mulai pegal dan perut kami pun mulai lapar. Ayah memberanikan diri untuk membuka pintu dan melihat keluar. Ditengadahkannya wajahnya ke langit. Langit cerah, seperti sembilan jam yang lalu. Angin semilir berhembus ramah. Tak ada tanda-tanda akan ada badai besar. Ayah lalu berteriak kepada warga untuk tenang, dan menyatakan bahwa situasi sudah aman, tidak ada badai. Tidak ada.

Warga membuka pintu mereka. Ada yang membuka sedikit pintu lalu mengintip dari celah-celahnya. Ada pula yang hanya berani mengintip dari balik jendela. Setelah mereka yakin bahwa yang dikatakan Ayah benar, mereka pun keluar, kebanyakan sambil menggerutu. Mereka sungguh kesal dengan kepanikan yang diciptakan Bu Inong tanpa pasal. Lalu mereka berbondong-bondong mendatangi rumah megah Bu Inong dan menanyakan perihal kabar tidak jelas yang membuat semua warga panik itu.

Bu Inong dengan entengnya menjawab, ‘Aku percaya, jika kucing menjilat ekornya, akan segera terjadi badai besar! Kalian harus percaya, mungkin sebentar lagi badainya datang.’

Wajah-wajah itu terlihat marah bercampur gusar. Warga bubar seketika menuju rumah masing-masing, mereka sebelumnya tak tau, kalau Bu Inong senang bertakhayul. Bu Inong waktu itu adalah penghuni baru di daerah kami, mungkin baru sebulan. Nama lengkapnya Cut Nazli, Ia pindahan dari kota Langsa, bekas sebagian wilayah Aceh Timur, kurang lebih 400 km dari kota Banda Aceh. Mungkin itu sebabnya ia dipanggi Inong. Entah apa motivasinya pindah ke Medan, melihat kebiasaannya bertakhayul, kemungkinan besar karena dia merasa daerah Aceh telah sial, banyak roh bergentayangan, ia pernah bercerita jika ia bisa melihat ruh ratusan ribu orang-orang yang telah mati semenjak bencana Tsunami sekitar 6 tahun yang lalu. Tapi aku rasa, itu mengada-ada. Aku percaya, ruh-ruh yang telah lepas dari jasadnya akan kembali ke Tuhannya.
Saat kejadian badai panik itu, warga belum hapal betul bagaimana sifat dan perilakunya. Mereka merasa bodoh bisa percaya begitu saja dengan perkataan orang yang baru mereka kenal. Mereka beranggapan orang kaya yang punya ilmu tinggi perkataannya selalu dapat dipercaya dan tak pernah bertingkah macam-macam, tak seperti Bu Inong.

Mereka meninggalkan Bu Inong yang memerah mukanya, entah malu, entah marah. Matanya kelihatan memerah, mungkin bercampur rasa sedih karena merasa dialah satu-satunya warga yang akan selamat jika badai besar melanda. Bu Inong membalikkan badannya, lalu masuk ke dalam sambil mengecup-ngecup hidung salah satu kucing yang sedang meringkuk manja di gendongannya.
-------------===============-----------------------------

Inong menambah laju mobilnya. Kesunyian terasa mencengkram dadanya, menciptakan semacam desiran di aliran darahnya. Ada semacam kecemasan menyusup ke dalam hatinya. Ia menekan pedal gas semakin dalam. Lalu tiba-tiba….

Brak!

Ciiiiiiiittttttttttttttttttttttttttt…

Inong menginjak pedal rem mendadak, mobilnya oleng ke kiri dan ke kanan, ia berusaha mengimbanginya, namun malang, mobilnya tak kuasa menahan licinnya jalan yang telah dibasahi hujan. Mobilnya terbalik. Inong terjepit, kepalanya berdarah. Ia berusaha sekuat tenaga keluar dari mobil itu, tapi kelihatannya sangat sulit. Sekilas Inong bisa melihat sosok yang ditabraknya tadi, bergeming, tak bergerak, tak bersuara. Inong lalu berteriak minta tolong karena kakinya terasa sangat sakit karena terhimpit, ia tak kuat lagi menggerakkan anggota badannya.

“Toloooong… Toloooooong!”, Inong berteriak sekuat tenaga. Urat lehernya terlihat menonjol karena teriakannya bercampur erang kesakitan.

Namun, hening. Tak ada seorang pun. Hanya bisikan angin yang menyahut, Ssssshhhhh.. Sssshhhhahh…

Inong terlihat sedikit putus asa, ia menjerit kembali di sisa tenaga. Badannya terasa lemas, lalu ia memejamkan matanya karena kini rasa sakit itu menjalar ke kepala.
Tiba-tiba, wajahnya terasa basah. Ada sesuatu yang lembut namun kasar sedang menjilat-jilati wajahnya. Inong berusaha membuka matanya.

DEG!

Wajahnya pias, seputih kapas. Kucing hitam yang ditabraknya sedang menjilat-jilat darah yang mengucur dari kepalanya yang koyak. Kucing itu, wajahnya sudah tidak berbentuk. Kepalanya peyot. Bola mata kanannya menonjol keluar dari tulang matanya. Darah mengucur dari hidung, mata dan kepalanya. Dengan gerakan lambat, lidahnya menjilati wajah Inong. Inong terbelalak, badannya kaku dan mendingin. Keringatnya mulai mengucur deras, jantungnya berdegup kencang. Kucing itu tak henti-hentinya menjilat wajah Inong hingga bersih. Kemudian kucing itu menyeringai. Inong bergidik, seluruh bulunya merinding. Kucing itu kelihatan mulai tidak ramah dan menyeramkan. Diendus-endusnya wajah Inong yang semakin memucat. Inong menahan napasnya. Lalu kucing itu melebarkan mulutnya. Lebar. Semakin lebar. Melebar sebesar kepala Inong. Terlihat taring-taringnya yang runcing, mata kucing itu memerah, lalu..

AAAARRRMMM!!

Inong tersentak dari tempat tidurnya. Ia terduduk dengan napas terengah. Mimpi itu begitu menyeramkan. Kucing hitam itu telah mengganggu kehidupannya, terutama ketenangannya. Ini mimpi yang kelima kalinya sejak kejadian tabrakan dua bulan yang lalu. Ia sudah tidak kuat menanggung rasa takut ini. Sungguh, ia sangat menyesal, mengapa ia pergi begitu saja dan tidak menguburkan jasad kucing hitam itu. Ia percaya, itu penyebab ia terus-terusan mengalami mimpi buruk ini. Arwah kucing hitam itu sedang bergentayangan. Inong memandang langit-langit kamarnya yang putih bersih, matanya menerawang.

“Kucing hitam, aku minta maaf, tolong jangan mengusikku terus, aku minta maaf.”

Lalu Inong mengambil sebungkus garam di atas meja di samping tempat tidurnya. Ditungkannya garam itu ke telapak tangannya, kemudian ia mencampakkannya ke sudut-sudut kamar. Lalu ia membuat sebuah lingkaran dengan garam mengelilingi tempat tidurnya, berharap setan kucing hitam tidak bisa menembus lingkaran itu dan tidak mengusik tidur nyenyaknya lagi. Bu Inong memejamkan mata, tidur meringkuk, namun jantungnya terus berdegup kencang, tak karuan.
---------------========================---------------------

Bunuh dia, bunuh!

Inong tiba-tiba meloncat. Venus yang dari tadi dielus-elusnya dilemparnya begitu saja. Suara itu begitu jelas berbisik di telinganya.

Suara siapa? Suara siapa itu?

Inong ketakutan, wajahnya pucat pasi. Ia melirik Venus, diperhatikannya Venus dengan seksama. Venus menjilati kakinya yang terasa sakit karena dilemparkan begitu saja oleh majikannya.

Bunuh dia, Bunuh!!

Inong menggeser tubuhnya. Venus menatapnya, lalu mendekat, ingin melendot di kaki Inong. Tapi Inong menghindar.

Bunuh! BUNUH!

Suara itu memang dari Venus, begitu jelas. Inong spontan menendang Venus hingga terpelanting beberapa meter dari tempatnya berdiri. Venus me-ngeong kesakitan, lalu kabur menuju ke dapur. Inong mematung.

Suara itu, suara itu..

Suara sama yang terdengar setiap ia memberi makan atau ketika dia sedang mengelus-elus kucingnya. Tadinya, ia tidak begitu jelas mendengar suara itu, namun semakin hari, suara itu semakin jelas, seolah-olah sedang berbisik tepat di telinganya.

“Kucing hitam! Kucing hitam!! KUCING HITAAAM!!” Inong berteriak sambil menutup kedua telinganya, sesaat ia menggeleng-geleng keras.
Suara itu menghilang. Ia sedikit lega. Tapi tangannya tak lepas dari kedua cuping telinganya.
Sesaat dia membuka telinga, suara itu terdengar kembali, kali ini seperti suara berpuluh-puluh serdadu tentara.

Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh!

Suara itu menggaung di setiap sudut rumahnya. Ia menutup lagi telinganya sambil menggeser tubuhnya kebelakang perlahan-lahan. Kini, tepat di depannya, kucing-kucing kesayangannya yang berjumlah tujuh ekor berjalan mendekatinya dengan wajah garang dan menyeramkan. Mulut mereka bergerak, mengucapkan kata yang sungguh menakutkan itu.

Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh!

Mereka berjalan perlahan mendekati Inong. Wanita malang itu tidak tau lagi harus berbuat apa. Ia begitu takut melihat perubahan tingkah laku kucing-kucingnya. Mereka menatap Inong, seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup. Inong terpelanting karena kakinya tersandung oleh kaki meja besi ukirnya, Ia terduduk di lantai tak mampu lagi bergerak karena kaki-kakinya terasa lemah. Kucing-kucing itu semakin mendekat, lalu mereka membuka mulut mereka lebar-lebar, memperlihatkan taring-taringnya. Inong mengambil vas bunga yang ada di meja lalu melemparkannya sambil menutup mata. Ia berteriak kencang sambil menangis.

“TOLOOOOOOONG!
-----------------===================-----------------

“Tapi Suster, tolong, saya tidak ingin Ibu saya berada di sini.” Miranti memelas, merengkuh bahu seorang wanita yang telah lama bekerja di tempat ini.

“Tidak bisa, Bu, ini sudah berbahaya, dia dapat membahayakan dirinya dan orang lain.” Wanita itu mencoba menenangkan wanita di depannya dengan mengelus-elus bahunya.

“Tapi, Sus, kenapa tidak di rumah saja? Saya akan jamin keamanannya. Saya janji. Mohon, saya mohon, saya tidak bisa melihat Ibu saya disini.” Kali ini suara Miranti tercekat, mata beningnya terasa panas.

“Ibu Anda sudah berkali-kali mencoba menyakiti dirinya, bahkan menyakiti hewan-hewan di rumah Anda. Kami tidak bisa ambil resiko Bu, bisa jadi suatu saat dia akan menyakiti Anda dan anggota keluarga lainnya.” Suster itu berusah meyakinkan Miranti, seorang anak yang tak percaya bahwa Ibunya telah menderita gangguan jiwa.

“Tapi Sus, beberapa bulan yang lalu Ibu saya sudah normal, depresinya sudah sembuh, Sus. Dokter yang bilang sendiri. Dia tidak mungkin melakukan hal itu, apalagi terhadap kucing-kucingnya. Percayalah, Sus.”

Suster kelihatan mulai jengah. “Ibu bisa tanyakan kepada Ibu ini, Ibu ini yang menjadi saksi bagaimana Ibu Anda berusaha menyakiti kucing-kucingnya dengan memukuli mereka menggunakan tongkat hingga sebagian mati. Lalu beberapa kali Ibu ini juga menemukan Ibu Anda menggenggam pisau sambil melihat pergelangan tangannya. Terkadang juga menjedut-jedutkan kepalanya sendiri ke tembok. Ibu Anda juga sering berteriak, merasa cemas jika melihat kucing-kucingnya, menjerit-jerit ketika melihat benda berwarna hitam. Menurut diagnosis dokter Hanif, Ibu Anda mengalami gangguan kembali, dan kali ini bertambah parah, Skizoafektif tipe Depresif*. Ini harus mendapat penanganan lanjut Bu, dan kami merasa jalan yang terbaik adalah dengan membawa Ibu Anda untuk rawat inap, agar penanganannya lebih intensif. Kami akan menerapi Beliau, kami akan melakukan yang terbaik, Ibu tenang saja,” suster itu lalu pergi meninggalkan Miranti dan Poti karena ada pekerjaan lain yang harus dikerjakannya.

Miranti lemas, dia tak yakin ini semua bisa menimpa Ibunya lagi. Dia pikir kejadian kemarin adalah yang terparah.
Lima tahun yang lalu ibunya divonis mengalami depresi. Miranti sendiri tak tau penyebab pastinya, ia menyimpulkan kemungkin besar karena kehilangan suami, Mursyid, dan anak semata wayangnya yang bernama sama dengannya, Miranti Lavina. Mereka bertiga mengalami kecelakaan sewaktu pergi berlibur ke Parapat untuk menikmati keindahan Danau Toba. Mobil mereka terguling sebab suaminya mengantuk waktu mengemudi. Pak Mur tidak bisa mengendalikan lagi mobilnya sehingga mobil mereka menabrak pagar pembatas antara jurang dan jalan, kemudian jatuh ke dalamnya. Mobilnya rusak parah. Kepala Inong terbentur keras, sedangkan suaminya dan Miranti kecil tewas seketika karena terjepit dashboard. Sungguh memilukan.

Semenjak itu Inong suka melamun dan bertingkah aneh. Venus, kucing kesayangannya, ia anggap sebagai titisan Miranti kecil, anak kandungnya yang telah mati. Tak ada yang mengetahui ini, kecuali Poti, dan Poti telah menceritakannya kepada Miranti; gadis kecil yang dititipkan ibunya-yang masih punya hubungan darah dengan suaminya ketika berusia 10 tahun- yang kemudian diberi nama yang sama dengan nama anaknya yang telah mati. Namun begitu, ternyata Miranti tidak bisa sepenuhnya menggantikan posisi anak kandungnya yang begitu disayanginya itu di hatinya. Inong lebih memilih Venus, kucing persia berbulu putih lebat itu sebagai pengobat hati. Poti membuka semua lembaran kelam itu ketika Miranti mendapat kabar bahwa Ibunya mengalami depresi, lima tahun yang lalu.

Miranti sungguh tak percaya, ia selalu beranggapan bahwa ibunya baik-baik saja meski terkadang ia memergoki ibunya suka bertingkah tak lazim ketika bercengkrama bersama kucing-kucingnya. Terkadang Inong suka mengajak kucing-kucingnya bicara, sesekali menangis meraung-raung ketika memeluk Venus. Miranti menganggap itu hanya sebagian cara untuk mengungkapkan dan mengusir rasa kesepiannya, dan dia berusaha mengganggap semua itu masih wajar.
Sebenarnya, Miranti ingin merawat wanita malang itu dengan sepenuh hati, dan tinggal kembali di Indonesia, namun pekerjaannya, dan keluarganya, tidak bisa diabaikannya begitu saja. Hanya Poti, wanita yang telah lama mengurusnya dan ibunya, harapan satu-satunya.

Miranti memandangi Ibunya yang sedang tidur dengan posisi duduk menyandar ke tembok putih yang dingin itu. Ruangan itu cuma 4x4 meter. Tak bisa dibayangkannya, Ibunya akan mendiami kamar sempit dan kosong ini.

“Ibuuu..” Miranti menangis sambil memegang terali besi yang memisahkannya dan Ibunya. Terali ini begitu dingin, lantai ini juga. Sungguh malang Ibuku.

Inong menatap Miranti dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang. Lalu tiba-tiba ia menjerit kembali. Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Poti merengkuh bahu Miranti dan mengangkatnya ke atas, agar Miranti segera berdiri. Dokter hanya memberi mereka waktu sedikit untuk menjenguk Inong. Miranti mengusap air matanya, kemudian menjauh pergi, namun matanya tetap menyoroti wajah Ibunya, hingga mereka menghilang di balik pintu bercat biru.

Inong mendengar suara itu lagi. Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Ia menjerit-jerit histeris.

“Pergi kauuuu!!”

Suara itu pun menghilang. Inong mengatur napasnya, berusaha menenangkan debar jantungnya. Ia melap keringat di dahinya dengan ujung bajunya. Kemudian membaringkan tubuhnya ke samping. Lantai itu begitu dingin, Inong merapatkan tubuhnya. Meringkuk dengan mata tetap terbuka. Menerawang. Matanya berair, ia menangis, ia sungguh rindu dengan kucing-kucing imutnya, terutama Venus, kesayangannya.

Lalu, seekor kucing putih, berwajah imut menggemaskan dengan bulu lebat melintas di luar selnya. Kucing itu mempermainkan sebuah bola yang terbuat dari kertas. Digelinding-gelindingkannya bola itu ke sana kemari. Kadang dia terdiam memperhatikan bola kertas itu, mengangkat sedikit pantatnya sambil menggerak-gerakkan ekornya. Lalu tiba-tiba menerkam bola kertas itu kembali. Diopernya ke kanan dan ke kiri, sungguh menggemaskan. Inong memperhatikan kucing itu dengan mata berbinar, mirip Venus, menggemaskan seperti Venus. Kemudian ia mendekatkan tubuhnya ke jeruji, tangannya keluar dari kisi-kisi ingin meraih kucing gemuk itu.

“Venuuus…! Sayangku, Venuus..!”

Kucing itu terkejut mendengar suara Inong, lalu tiba-tiba berlari menjauh. Bu Inong terlihat sangat sedih, dia memanggil-manggil nama kucing kesayangannya itu berkali-kali dengan suara yang sungguh parau dan menyayat hati. Ia lalu menangis kencang sambil meneriakkan nama Venus.

“Venuuuus.. Venuuuss..”

Bola kertas yang dipermainkan kucing putih itu ternyata menyentuh tangan Inong. Inong langsung mengambilnya lalu menciuminya. Ia benar-benar rindu pada Venus. Ia memeluk bola kertas itu, ikut menggelinding-gelindingkannya, seperti yang dilakukan kucing tadi. Inong menangkap sesuatu pada kertas itu, ternyata terdapat tulisan di dalamnya. Inong membukanya dengan cepat. Ia berharap Venus mengirimkan pesan untuknya, pesan yang mungkin bisa menguatkannya. Inong membacanya.

M-A-T-I

M-A-T-I

M-A-T-I

Inong mengulanginya beberapa kali kemudian Inong berteriak kencang, kali ini teriakannya memekik hingga membuat beberapa pasien lain menutup telinga dan ikut berteriak-teriak.
Gaduh. Sungguh gaduh.

----------------------------END-----------------------------

* Gangguan Skizoakfektif adalah kelainan mental yang rancu ditandai dengan adanya gejala kombinasi antara gejala skizofrenia dan gejala gangguna afektif. Untuk tipe Depresif, pada episode yang sama terdapat gejala skizofrenia (merasa pikirannya sedang disiarkan atau diganggu, ada kekuatan yang sedang mengendalikan pikirannya, merasa yakin sedang dimata-matai, sedang diincar; mendengar suara-suara yang menghina dan mengutuk, atau akan membunuh dirinya) maupun depresif (perilaku yang retardasi, insomnia, hilangnya enersi, perubahan nafsu makan, kurang minat, gangguan konsentrasi, perasaan bersalah, keputusasaan, ide-ide bunuh diri) yang sama-sama menonjol.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ewakartins
ewakartins at Kucing-kucing Bu Inong (10 years 49 weeks ago)
100

ck. tak bisa komen apa2 selain "bagus".

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 6 days ago)
80

kucing, hewan yang menakjubkan...
meuoooong....

Writer untukpendidikan
untukpendidikan at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 4 weeks ago)
90

barusan mampir ke forum dan cerpen ini direkomendasikan untuk didiskusikan,

salam kenal

Writer shafira
shafira at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 4 weeks ago)

hgehehehehhee...
ngeri-ngeri sedap nih, dengernya..
hehehe, minta link nya dong, apa pembahasan yang udah lama itu ya? yang di post oleh just hamman?

Writer umi
umi at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 20 weeks ago)
100

Sempurna, kau makin pandai saja sayang.
Dan kau semakin jauh meninggalkanku, aku masih disini-sini saja semetara kau sudah naik beberapa tangga.
Aku suka sekali karya yang ini, paduan katanya cantik sekali

Writer shafira
shafira at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 20 weeks ago)

Aih, lily.. terimakasih atas pujiannya, aku jadi bersemangat!
AKu juga tidak merasa meninggalkanmu, cuma mungkin kau kurang punya waktu utk menulis mgkn karena banyak pekerjaan..
hehehe...
Makasih ya sayang... ^_^

Writer umi
umi at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 19 weeks ago)

iya, terlalu banyak angka sampai lupa bagaimana caranya menulis huruf :D

Writer sheiLa
sheiLa at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 21 weeks ago)
70

bgs critanya fr.
tp emang itu kisah nyata bu inong ya?

Writer shafira
shafira at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 20 weeks ago)

makasih..
ya ga lah shel, hahahha..
bu inong yang sebelah masih waras dong, cuma paragraf awal aja yang ngambil inspirasi dari bu inong..
=P

Writer Monox D. I-Fly
Monox D. I-Fly at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 24 weeks ago)
80

Narasi & deskripsinya keren banget... Pertama2 bener2 kerasa horor, jangan2 cerpen yg penuh takhayul & khurafat kayak biasanya, tapi ternyata ada penjelasan ilmiahnya to?
Oya, sebenernya kucingnya Bu Inong tu enam apa tujuh sih? Koq ada bagian si aku ngomong dlm hati, "Sementara kucing Bu Inong ada 6...", tapi waktu Bu Inong "diserbu" kucing2 dalam rumahnya tertulis tujuh ekor. Ini murni error, plothole, atau emang ada seekor kucing milik Bu Inong yg belum pernah dilihat oleh tokoh aq?

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 25 weeks ago)
100

deskripsi dan narasinya mantap mbak!
saya tak terlalu ribet dengan suara batinnya, tebakan saya sejak lama ibu Inong sudah menderita schizo dan semenjak menabrak kucing akhirnya semakin memuncak menjadi paranoid, hoah! menegangkan, dan sungguh suka banget^^

Writer Ferrynanda M
Ferrynanda M at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 26 weeks ago)
80

hebat!!

Writer nusantara
nusantara at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 26 weeks ago)
80

bagus siy tp ad beberapa alur yang kurang mengalir
salam kenal..
teruss semangat!!

Writer just_hammam
just_hammam at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
70

Cerita yang keren...
Pergantian Bu Inong dengan Inong lumayan mengganggu, kupikir kalau tetap di paggil Bu Inong lebih bagus...hehehe

izin dijadikan pembahasan bulanan ya... :D di http://kners.com/showthread.php?p=18356#post18356

Writer damnkiss
damnkiss at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
80

pucing bacanya 8o

tapi good kok :)

Writer neko-man
neko-man at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
100

Bagus, kakak, mau komentar apa ya? Tapi coba sok tahu saja deh.. hehe maaf..
..
Rasanya tidak langsung menangkapku di bagian awal. Misalnya memang kucing-kucing itu dipelihara dengan biaya tiga juta. Tapi toh orang biasa mengeluarkan biaya yang lebih banyak. Bahkan hanya untuk tanaman hias.
..
Pada bagian dua diceritakan keadaan alam dan hujan yang menarik.Tapi rasanya malah kontras dengan kejadian menabrak kucing hitam. Juga tak dengan sengaja dikontraskan.
..
Bagian tiga flashback bagus. Tapi rasanya agak kejauhan.
..
Bagian selanjutnya bagus. Bagian yang rasanya agak panjang lebar malah memberi rasa tambahan pada bagian akhir. Tapi memang tidak langsung dan menjurus. Tapi efeknya menarik dan memberikan rasa yang halus dan gurih. Mungkin ini menceritakan masyarakat Indonesia yang masih percaya sama takhayul, yang tak lain tak bukan penyakit jiwa. Cuma sotoy. Kalau kurang setuju silahkan diprotes.

Writer blueyes
blueyes at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)

salut !!!
blueyes suka bnget...
fira brhsil nge_mix beberapa hal jadi cerita yg sangat ciamik,
(*ngelantur ych? maklum ja msih awam, hhee..)

salam,

Writer blueyes
blueyes at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
100

salut !!!
blueyes suka bnget...
fira brhsil nge_mix beberapa hal jadi cerita yg sangat ciamik,
(*ngelantur ych? maklum ja msih awam, hhee..)

salam,

Writer arydhamayanti
arydhamayanti at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
100

kamu selalu kesukaanku fir.. ga ada kata2 lagi deh.. keren abis...

Writer _aR_
_aR_ at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
100

keren banget!
saya belum mampu bikin cerpen psiko ky gini... <3

Writer arsyan
arsyan at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
80

Ok..

Sepertinya, Shafira adalah seorang dokter yang juga hobi bikin cerita. Dan kombinasinya adalah, pengenalan "Skizoakfektif" dengan cara yang paling mudah di mengerti dan enak dibaca..
Hehehe.. mantap..

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
100

Wah... Narasi deskripsinya luar biasa, detailnya juga.

Menggunakan POV orang pertama tapi pindah2, saya belajar banyak dari sini.

Permainan POV Inong sangat bagus, bikin pembaca jadi ragu mana yang benar. Gangguan jiwakah? Atau si kucing hitam benar-benar balas dendam? (saya pilih gangguan jiwa)

Saya suka cerita ini... ^^

Writer suararaa
suararaa at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
80

ah, bener deh bagian miranti itu bikin pusing.
mending dihilangkan aja mengenai masa lalu dan bla-bla-bla itu... kalau masih mau diceritakan masa lalu tentang kecelakaan itu, cukup sampai kecelakaan itu, nggak perlu diceritakan tentang miranti (anak kandung) yang mati, anak angkat yg dikasi nama miranti, venus sebagai titisan miranti.
*mohon maaf klo tidak berkenan, hnya sekedar saran....*

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
100

keren, keren !! b>. tpi pas si kucing item ke mimpinya it kurang serem nurutku, hha.. :D

Writer Ciel
Ciel at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
80

agak2 horor, tapi bagus kk ^^
karena itu yg bikin seru!!

tp sy agak bingung dengan pelaku utamanya, sebenernya si 'Aku' ini, atau bu inong? karena pada saat akhir, kk lebih menitikberatkan pada bu inongnya..

maaf ya k klo newbie komen nga penting,
tapi sy suka idenya dan pembawaan crtnya, hehehe ;D

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
90

Pergantian POV, mantep Ka... padahal susah kan? Saya tepuk tangan bwt pergantian POV-na yang sukses... ^^
Istilah asing macem handphone, air conditioner, orchestra kan ada padanan katana dalam bahasa Indonesia, kenapa ga pake versi bahasa Indonesia-na az?
Saya suka kalimat terahirna. Entah napa kalimat penutup cerita Ka Shafira selalu mantap. Saya tipe yang liat cerita dari pembuka dan penutup sih X)
Bagian Miranti itu mang bikin pusing Ka, kasih tau az dong rahasiana~ hehehehe

Writer shafira
shafira at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)

masa sih gie? hehehhee..
makasih ya, alhamdulillah kalau gie suka.. komen gie daritadi dinantikan, padahal tadi udah mau singgah buat promosi, eh rupanya gie udah nongol, hehehhehee...

masalah miranti itu emang mengurangi keasyikan membaca ya gie? apa memang sulit bgt dan bikin pusing ya?

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)

Hahaha... Menurut sy si, masalah Miranti itu memang mbwt binun dan takutna fokus pembaca pd ahirna malah ke si Miranti.
Tp teserah Mba Shafira sbg pengarang kalo pgn tetap mempertahankan misteri itu ;)

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)

Promosi~~ XD
Kolab pertama saya di Kcom!!! Kelanjutan Cheryl dan Peter versi dewasa!
Le Conte d'amour á Neverland #1
.
Saya pengen Mba Shafira ikutan kolab ini juga~ *ngerayu* :)

Writer lavender
lavender at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
80

saya suka miaaawww..
miawwa adalah binatang paling lucuuuu di duniaa..

Writer shafira
shafira at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)

ketauan ga baca sampe abis, hehehehe.. =P
miauw yang ini jauh dari lucu soalnya, hahahahha.. ^_^

Writer Chaca Marfecc
Chaca Marfecc at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
80

lupa kasi poin.hhehe

Writer Chaca Marfecc
Chaca Marfecc at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)

bagus ceritanya

Writer hadzmoe91@gmail.com
hadzmoe91@gmail.com at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
70

gmbr kucingnya lucu...
dari judulnya kirain bukan horor.... tapi ceritanya bagus....

Writer H.Lind
H.Lind at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)
100

Saya agak kaget waktu pertama kali lihat jumlah word countnya, tapi ternyata saya malah ketagihan baca sampai selesai. Hehe. :D

**

Aku agak bingung dengan sudut pandangnya. Kenapa mesti pakai tokoh 'aku', padahal peranannya hanya sedikit? Kenapa semuanya tidak pakai sudut pandang orang ketiga saja?

**

Bunuh dia, bunuh!

Bu Inong tiba-tiba meloncat. Venus yang dari tadi dielus-elusnya dilemparnya begitu saja. Suara itu begitu jelas berbisik di telinganya.

Suara siapa? Suara siapa itu?

Bu Inong ketakutan, wajahnya pucat pasi.

Waktu bagian ini, jujur aku bingung, karena di sini ada dua suara yang berperan : suara mistis si kucing dan suara batin Bu Inong sendiri, tapi dua-duanya sama-sama ditulis dengan huruf miring, sehingga ga bisa dibedain mana yang lagi bicara. Memang sih bisa dibedain dari isi kalimatnya, tapi aku tetep ngerasa aneh.

**

Yang terakhir aku masih bingung siapa si Miranti itu. Sepenangkapanku, Bu Inong punya anak kandung yang namanya Miranti, tapi dia terbunuh bersama suami Bu Inong waktu kecelakaan mobil. Lalu si Bu Inong adopsi anak lain yang namanya juga Miranti. Bener, gak? XD

**

Maaf ya banyak komen yang mungkin ga penting. Hehe.
Tapi saya benar-benar suka karya kamu ini. Alurnya bagus, idenya menarik, dan emosinya dapet. Salut. :D

Writer shafira
shafira at Kucing-kucing Bu Inong (11 years 27 weeks ago)

makasih masukannya..
iya, mungkin di bagian suara batin itu bisa diperbaiki, ataukan memang itu semua suara batin ibu inong sendiri? hehehhee...
soal miranti, bisa diinterpretasi masing-masing, hehehe.. sengaja gak terlalu dijelaskan biar memberi pembaca ruang untuk berimaji, hehehe..
makasih sudi mampiiir.. ^_^