Sahabat

"Juliiiiii...!!"

Juli yang lagi asyik nonton infoteiment langsung beranjak dari duduknya dan pergi keluar.
Juli membuka pintu pagar rumahnya karena sahabatnya Ira sudah menunggunya.

"Yuk, masuk", ajak Juli kepada Ira. Mereka berdua masuk kedalam rumah.

"Ada apa ,Ra? Kok murung gitu?" tanya Juli.
"Hmmm, gak ada apa-apa seh", jawab Ira gak yakin.
"Apa kamu berantem lagi sama Farid?"
Ira menggelengkan kepalanya,"Enggak", jawabnya lirih.
"Terus kamu kenapa? Dah sebulan aku merhatiin kamu kayaknya makin aneh aja", jelas Juli.

"Oh ya..? Perasaan aku baik-baik aja. Eh, besok jalan-jalan yuk?" ajak Ira.
"Kemana?"tanya Juli.
"Ke Pantai dekat dengan rumah paman dan bibiku kira-kira 3,5 jam perjalanan. Mau ya, aku dah ajak Lina dan Dewi. Aku suruh Ridho bawa mobil sedannya. Bagaimana?"
"Loh, Farid gak ikut?" tanya juli
Ira menggelengkan kepalanya.
"Oh. ya udah jam berapa berangkatnya?" tanya Juli.
"Pagilah jam 6, aku dah didepan rumahmu ya Jul. Kita langsung berangkat. Deal?"
"Deal", jawab Juli.
"Ya udah, aku balik dulu ya. Jangan lupa bawa makanan. Eh, bawain aku mangga muda depan rumahmu ya. Aku kepingin banget. Thanx ya. Gak usah dianterin. Sampai besok", kata Ira pamitan.
"Oke, hati-hati ya. Besok aku petikkin mangga mudanya", kata Juli.

Juli masih berfikir sejak kapan Ira suka mangga muda. Pikiran Juli melayang-layang, "Apa Ira..? Ah gak mungkin".
Juli langsung menghilangkan pikirannya yang enggak-enggak.

juli segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk besok. Tidak lupa memetik mangga muda untuk sahabatnya Ira.

*****

Jam 6 pagi Juli sudah siap didepan rumahnya menunggu Ira datang menjemputnya. Lima menit kemudian terdengar suara klakson mobil dari sebelah kirinya. Juli menoleh dan dengan senyum mengembang Juli menghampiri mobilnya Ridho.

Juli membuka pintu mobil sedan accordnya Ridho yang berwarna biru tua. Juli masuk dan Dewi bergeser ketengah dekat dengan Lina.

"Jul, disuruh ikut juga ya sama si Ira? Kita berdua juga diculik neh", cerocos Dewi.
"Iya plus disuruh metik mangga muda. Ira jangan-jangan loe lagi ngidam neh", sahut Juli.
Ira menoleh dan mencibirkan bibirnya yang menurut dia seksi padahal mirip bibirnya omaswati.

"Semua siap? Petualangan akan segera dimulai. Kita berangkat", kata ridho.
"Siap. Lets go..!!" jawab para penumpang yang cantik-cantik. Kaya film jaman jebot "Perjaka disarang Perawan". Satu pria diantara 4 gadis-gadis cantik, kaya raja minyak si Ridho.

Kami berlima bernyanyi riang mengikuti suara alunan musik yang diputar oleh Ridho. Lagu kesukaannya Ira apalagi kalo bukan dungdat alias dangdut. Suara lembut Ike Nurjanah mengalun lembut dan Ira begitu bersemangat bernyanyi.

"Dho, kamu kok bisa tahan sama Ira kalo lagi nyanyi sih?" tanya Lina.
"Iya, ngomong aja fals apalagi nyanyi", kata Dewi menimpali ucapan Lina.
"Ridhokan sayang Ira, iya Dho?" rajuk Ira bergelayutan di pundak Ridho.
Ridho tersenyum,"Iya Ira sayang".

Ira bersorak senang. Semuanya hanya tertawa. Mereka berlima adalah sahabat sejak SD sampai sekarang. Mereka sangat menikmatai persahabatan ini.
Ternyata sudah setengah jam perjalanan sudah menjauhi kota. Terlihat rumah-rumah sudah sangat tidak rapat satu sama lain.

"Siap semuanya, kita akan memasuki daerah bergoyang", kata ridho.
Ketiga penumpang dibelakang hanya melongo tidak mengerti.
"Maksudnya?" tanya Dewi.
Ridho dan Ira tersenyum.
"Sebentar lagi kalian akan mengetahuinya", jawab Ridho.
"Pegangan semuanya ya", kata Ira menambahkan.

Juli dan Lina langsung memegang pegangan diatas pintu. Dewi yang ditenga memegang tangan Lina dan Juli. Tak berapa lama benar saja mereka memasuki kawasan bergoyang.

"Au..." teriak ketiga penumpang dibelakang saat mobil menabrak lobang di jalanan.
"Oi... kagak ada jalan lain apa?" tanya Lina.
"Aduh..", Dewi mengaduh.
"Ahhhh..!" semua berteriak saat Ridho tanpa sengaja menerjang jalan berlubang.

"Ridhoooooooooooo..! Pelan-pelan napa..!" protes para penumpang dibelakang sambil memegangi kepala mereka yang dengan mulus membentur atap mobil.

"Ira..! Kok malah ketawa-ketawa seh? Jalannya ancur bener. Aduh....! Au..", protes Juli.
"Habis mo gimana? Dinikmati aja", jawab Ira sambil menikmati gonjangan yang membuat perut serasa di kocok-kocok. Rasanya permainan didufan kalah dengan goncangan di jalanan ini yang benar-benar ancur.

Tiada detik tanpa suara mengaduh dari penumpang.
"Au.."
"Wadaw.."
"Setan..loncat..loncat setan" teriak Dewi yang memang agak latah.
"Maaff..!" teriak Ridho
Semuanya tertawa sambil menahan perut mereka yang dikocok seperti blender.

"Dho, jalan begini sampai berapa lama?"tanya Dewi.
"Paling enggak masih lama , Dew. Tuh Ira yang milih jalan ini", jawab Ridho.
"Ira...!!" ketiga sahabat Ira berteriak. Dengan wajah polosnya Ira memberikan senyuman terindah.

"Aduh, aku dah gak tahan neh. Perut aku kayak diblender. Au....!Ridho pelan-pelan..Njritt..!!" teriak Lina sambil menahan goncangan.
"Waduhhhhh..Dewi jangan injek kaki akuuuu..!! Ah...!" teriak Juli.
"A.. maaf. Duh.. au..gak sengaja. Wadaw", jawab Dewi.

Jeduk...!
Ketiga penumpang dibelakang terbang dari tempat duduknya dan dengan sukses terantuk atap mobil.
"Aduh sakit kepalaku", kata Juli sambil mengelus-elus kepalanya. Begitu juga dengan Dewi dan Lina.
"Brentiiiiiiiii..!"teriak Lina.

Rdho memberhentikan mobilnya.

"Waaaaaaaaaaaaaaa...!" semua penumpang berteriak.
"Oi.. dasar supir Lur Agung gak punya otak!!!" teriak Dewi.

"Siapa suruh berenti mendadak. Mang ada apaan sih?" tanya Ridho.

"Brakkk..!!" pintu mobil dibanting. Lina dan Juli keluar mobil.
Lina muntah-muntah dan Juli memijat-mijat tengkuk Lina.

"Howeeeeeeee..!"
"Howe.......!"

Lina terus memuntahkan lahar dari dalam perutnya.
"Dewi ambilin tissue didalam tasku", pinta Juli.
Dengan sigap Dewi mengambil tisue dari dalam tas.

Brakk! Suara pintu dibanting, Dewi keluar dari mobil dan menyerahkan tisue serta minyak gosok kepada Lina.
"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Dewi.
"Aduh, perut aku rasanya seperti dikocok-kocok neh. Makasih ya", kata Lina kepada kedua sahabatnya.

Sementara itu didalam mobil,
"Gimana Ra? Kamu gak apa-apakan?" tanya Ridho.
"aku gak apa-apa. Kenapa aku gak merasa mual ya? kok aku gak merasa seperti mereka bertiga?"
"Kita balik lagi aja ya, lewat jalan satunya lagi."
"Enggak, Dho. Terus aja", kata Ira.
"Kamu gak kasihan sama mereka bertiga?" tanya Ridho.
"Udahlah. Kita kan mesti usaha, Dho. Kalau kedokter aku gak mau", jawab Ira.
"Ra, aku mau kok ber.."
"Diem", kata Ira membungkam mulut Ridho.

Dewi, Juli dan Lina kembali masuk kedalam mobil.
"Kalian gak apa-apakan? Ayo, Dho lanjut lagi" tanya Ira.

"Ira loe kenapa sih? Aku gak habis pikir sama kamu. Gak kesihan apa sama kita-kita?" protes Dewi.
"Ada apa sih? Kenapa harus lewat jalan ini? Perut kita dah sakit neh, Ra", rayu Juli.
"bentar lagi kita sampai kok. Tahan ya teman. Demi aku", jawab Ira.
"Terserah loe Ra!!!" sahut Dewi kesal.

Perjuangan dimulai lagi. Teriakkan makin kencang dan bercampur sumpah serapah dari ketiga penumpang.
"Au....!"
"Wadau.."
"Njrit.."
"Maaf....!1"teriak ridho
"Aaa..!!!"
"Setan.. loncat..kodok.. loncat..!"
"Aduh...!"
"Maaf lagiiiiii..!"
"Sialan...sakit tahu..!"
"Kutu... waduhhhh.."
"Mampus..setan..loncat....!"
"Maafffffff...!"

"Aku gak tahannnnnnnnnnn.." teriak Dewi yang menahan perutnya.
Ridho memberhentikan mobilnya. Lina dan Dewi keluar sekarang gantian Dewi yang muntah-muntah. Wajahnya pucat. Sebenarnya ketiga sahabat Ira wajahnya sudah pusat. Mereka tidak tahan dengan goncangan didalam mobil. Jalannya benar-benar hancur lobang dimana-mana apalagi mobil yang dipakai sedan makin berasa tekanannya.

Juli yang sudah tidak tahan keluar dan membuka pintu depan. Ira ditarik kelaur dari mobil dengan paksa.
"Auu..! Pelan-pelan Jul!" teriak Ira sambil keluar dari mobil.
Ridho ikut keluar dari mobil dan mengikuti Ira yang ditarik keluar oleh Juli.

Dihadapan kedua sahabatnya yang sedang muntah-muntah.

"Liat! Liat Ra, jangan nunduk. Liat tuh Dewi dan Lina muka mereka dah pucat. Kamu masih mau nerusin jalan?" tanya Juli kesal.
"Sahabat macam apa kamu?" lanjut Juli lagi.
"Bilang sama kita-kita ada apa? Aku dah perhatiin kamu selama satu bulan belakangan ini. Tingkah kamu tuh aneh Ra. Cerita dong Ra? Mana Ira yang kita kenal dulu? Mana?"

Ira terdiam dan mulai menangis.
"Udah, Jul. Udah jangan tambah beban dia lagi", kata Ridho sambil memeluk kekasihnya.
"tapi, Dho. Ada apa..?" tanya Juli.

"Maaf", kata Ira lirih sambil menghapus airmatanya.
"Ra, jujur saja sama mereka. Kita kan sahabat. Bukankah dulu kita pernah berjanji susah senang kita akan bersama-sama", kata Ridho mengingatkan Ira.
Ira makin terisak, ketiga sahabatnya makin tidak mengerti ada apa sebenarnya.

"Wi, Jul, Na aku...aku..positif hamil", kata Ira sambil menahan tangisnya.
"A..apa?" kata Juli
"Beneran Ra?"tanya Lina.
"Iya. 1 bulan lewat seminggu", jawab Ira lemas.

Dewi langsung memeluk Ira.
"Aku takut Wi. Aku takut".
Lina dan Juli menghampiri Ira dan saling berpelukkan.
"Farid kemana?"tanya Juli.
"Dia bajingan!"teriak Ridho "Dia pergi begitu saja setelah tahu kalau Ira hamil".
"Tapi Ra, kamu kan masih punya kita berempat. Kenapa gak cerita", kata Dewi.
"Aku malu, malu sama kalian. Kalian sudah mengingatkanku dulu tentang Farid tapi aku mengacuhkan nasehat kalian. Maafkan aku", kata Ira.
"Udah dimaafkan kok. Kita semua sudah maafin kamu, Ra. Kita semua sayang kamu", jelas Lina.
Juli menghapus air mata Ira.

"Ra, jadi ini alasannya kamu nekat melewati jalan ini?"tanya Juli.

Ira mengangguk lemah.
"Kamu itu ada-ada aja. Emang dengan begini kamu bisa keguguran?"lanjut Juli.
Ira tersenyum dan keempat temannya tersenyum.
"Tapi kata dokter perutku tidak boleh terkena goncangan. aku harus hati-hati", kata Ira.
"Inget Ra, dia hanya dokter ada yang lebih berkuasa dari seorang dokter, Ra yaitu Allah. Kalau Allah tidak menghendaki keguguranmu bagaimana?" tanya Lina.

"Ira..Ira... kamu itu aneh-aneh aja sih", kata Dewi.
"Aku gak mau aborsi. aku kan hanya mencoba saja", kata Ira.
"Tapi kamu hampir membunuh kita, Ra. Sekarang apa yang kamu rasakan?" tanya Juli.
"Aku gak ngerasa apa-apa. Perutku tidak sakit seperti kalian".

Lina dan Dewi mencoba menahan tawanya.
"Percumakan Ra? Malah kita yang gak tahu apa-apa jadi korbannya. Masih tega Ra? Kita pulang nanti kita pikirkan bagaimana. Kamu gak sendiri Ra. Itukan gunanya sahabat saling berbagi susah atau senang dan mencoba mengatasi masalah bersama-sama", jelas Juli.

"Itu benar Ra. Kamu tahu gak sih Ra, aku tuh sayang kamu dan aku mau bertanggung jawab walau itu bukan anakku", kata Ridho.
"Ya sudah sekarang kita balik. Oke..!" kata Dewi mencoba bersemangat.

Ira menganggukkan kepalanya.
Semua kembali masuk kemobil.
"Tenang disana ada gang semoga jalan tembusan dan tidak serusak jalan ini. Tahan dikit ya", kata Ridho.

"Siip..Bos..!" teriak para penumpang.

Ira termenung dan dalam hatinya bersyukur dia masih memilik sahabat yang mengerti dirinya.

"Trimakasih sahabat"

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Littleayas
Littleayas at Sahabat (12 years 25 weeks ago)
80

friendship never end yaw ^^

Writer PoEzZ
PoEzZ at Sahabat (14 years 6 weeks ago)
90

o..M...G...
KapN bisa PuNya sahabat kayk Mereka..
terharu pisan euy...

Writer athadarmawan
athadarmawan at Sahabat (14 years 19 weeks ago)
80

emang sahabat paling top da..hihi
hidup sahabat!!!^^

Writer miaa
miaa at Sahabat (14 years 23 weeks ago)
80

ceritanya cukup sederhana tapi cukup menggigit...,halah...
bagus !!

Writer w1tch
w1tch at Sahabat (14 years 24 weeks ago)
70

ide-ide sederhana yang, subjektif nih, aku suka sekali. dengan sedikit pengembangan kosakata lagi cerita ini bisa jadi sangat menarik lho, rien...

Writer ArSeLa
ArSeLa at Sahabat (14 years 24 weeks ago)
100

nice,i'm ok don't worry about me hun

Writer arien arda
arien arda at Sahabat (14 years 24 weeks ago)
70

thanx again for the comments fomr all of u my friend,

for my hun, i hope u will fine.. i really miss u

Writer azura7
azura7 at Sahabat (14 years 24 weeks ago)
90

ceritanya kebaca. tapi uniknya gak habis nee

Writer chau
chau at Sahabat (14 years 24 weeks ago)
100

lucu tapi unik juga terharu
that's what friends are for

(cerita perjalanan 3;1nya,,,, bikin chau mau ke bandung)

Writer batokelapa
batokelapa at Sahabat (14 years 24 weeks ago)
60

sahabat memang diatas segalanya!

tapi aku setuju dengan bayangkari...! kedekatan antar satu sama lain masih kurang mengena....!

tapi udah bagus kok!

Writer Bayangkari
Bayangkari at Sahabat (14 years 24 weeks ago)
50

Shabat dalam cerpen ini belum menjadi tokoh yang akrab dalam dunia berkabut yang terkesan samar tapi tampak nyata. cerita ini belum bisa menjaga jarak antara peristiwa nyata dan khayali

Writer bluer
bluer at Sahabat (14 years 24 weeks ago)
70

memang paling yahud ya, sadar gak sadar hanya sahabat yang bisa begitu. pacar pun bisa jadi musuh no satu. hihihi

nice story rin, tapi gue mau ikutan muntah ngabayangin jalanan nya yang rusak.

Writer dhankari
dhankari at Sahabat (14 years 24 weeks ago)
50

Ira atau Ria, ya?....kayaknya ada yang kelupaan diedit tuh...he...he... Nice story. Ringan dan menghibur, trus ada nilainya juga.

Writer brown
brown at Sahabat (14 years 24 weeks ago)
70

kukira ceritanya bakal kocak. ternyata....but that's what friends are for, rien.

Writer redshox
redshox at Sahabat (14 years 24 weeks ago)
100

Bagus Rien...