RUMAH DUNIA TAHUN TIGA RIBU

Garuda lalu lalang di langit, tidak biasanya banyak Garuda berkeliaran siang ini. Biasanya mereka hanya berkeliaran di malam hari. Setelah UUD NW diresmikan, semua mesin perang tipe Garuda, Poseidon, MetGen dan Gaka hampir tidak pernah ditemukan pada keadaan langit sedang terang. Terkadang dia dibuat bingung dengan fungsi mesin perang ini, apalagi dengan kata “perang”nya, perbendaharaan kata “perang” hanya ada di buku sejarah, dan seingatnya “perang” terakhir di buku yang dia baca adalah tahun 2050. Hampir seribu tahun yang lalu. Tapi tidak mudah baginya percaya begitu saja dengan Buku Sejarah. Dia lebih setuju dengan guru filsafat kelas 3 SDku yang mengatakan bahwa perang hanyalah sebuah mitos. Sebuah pemikiran paranoid yang diciptakan oleh orang tua kita untuk menakuti anak-anaknya.
Nusantara, begitu orang tuanya menamainya, sebuah nama yang tampak aneh di Millenium ke-tiga. Dia tetap memandangi langit yang Orange, meski para Garuda sudah lama melintas. Dia tiba-tiba teringat akan cerita Kakeknya, konon kata Kakeknya, dulu warna langit Biru namun karena dimakan usia warna langit berubah menjadi Orange, seperti warna Apel semesta. Tiba-tiba dia pun jadi rindu dengan kakeknya, Mezty Rhyter yang meninggal di usia ke -21. Dulu sebelum meninggal, kakeknya selalu bercerita tentang Indonesia, tentang kejahatannya, tentang korupsinya, tentang perangnya, tentang ketidakadilannya. Sebuah cerita panjang yang membuat kagum Nusantara akan sebuah Negeri antahberantah bernama Indonesia. “sepertinya tempat bernama Indonesia itu seru ya Whom”, ucapnya sambil mengelus Kelinci cybernya. “perang, pembunuhan, kebohongan, kejahatan seperti cerita fantasi di komik-komik. Pasti kehidupan akan lebih menarik jika tinggal disana”. Dia sulit membayangkan bagaimana kejahatan bisa tercipta, bagaimana bisa ada manusia yang mencuri sementara makanan melimpah ruah seperti hujan, bagaimana bisa ada manusia yang membunuh sementara tanpa dibunuh pun manusia secepatnya akan mati, bagaimana bisa ada dendam, ada kekerasan, ada perang.
Mungkin tanpa melakukan kejahatan, kita tidak akan tahu kenapa bisa timbul kejahatan. Pemikiran itu yang terlintas di otaknya. “Mungkin aku harus mencuri, tapi apa yang harus aku curi ?” . “menurut kamus, mencuri adalah mengambil hak yang bukan miliknya. Lalu apa yang harus aku ambil kalo semua sudah tersedia melimpah ruah seperti hujan ?”.
“kakek, kenapa di jaman dulu manusia saling membunuh ?”, ucapnya suatu waktu ketika dia selesai membaca sejarah jaman purba. Kakeknya terdiam sesaat, menatap dalam-dalam mata cucunya, sambil menghirup nafas, dia berkata lirih “itulah rumah manusia sebenarnya. Rumah dimana kejahatan dan peperangan timbul dimana-mana. Hanya dengan itulah manusia belajar. Penderitaan akibat perang adalah stimulus terbaik bagi manusia belajar dari kesalahannya.”. Nusantara belum bisa mencerna ucapan kakeknya, “kalo begitu sebab belajar dari kesalahannya, manusia jaman ini melakukan gencatan senjata untuk tidak berperang. Benar begitu Kek ?”. Kakeknya tidak langsung menjawab, dia menghirup rokok portabelnya, “salah besar, justru dengan melakukan gencatan senjata, keseimbangan dunia runtuh seketika. Pemuda sepertimu tidak pantas hidup di jaman ini. Kamu harus merubah dunia, di pundak pemuda segala kegelisahan jaman bersarang. Dan tugas pemuda di jamanmu adalah mengembalikan keseimbangan dunia”.
Whuuuuuusssss, lamunan tentang kakeknya dibuyarkan oleh suara berisik di luar. Dia menengok keluar kamar lewat jendela. Ternyata ada kecelakaan. Mobil hijau type Freedom menabrak motor antishake type Shadow. Terlihat di sana pengemudi mobil Freedom bersimbah darah, tampak pula pengemudi motor Shadow bersama warga di sekitar tempat kejadian berusaha menolong korban. 15 menit kemudian, kejadian tabrakan itu ditutup dengan saling memaafkan, seperti yang Nusantara duga. Pengadilan dan penjara sudah 10 tahun lalu ditutup, Pemerintah menjelaskan kalau kita tidak membutuhkan penjara dan pengadilan lagi, selain itu memang pengadilan dan penjara sudah tidak berfungsi sama sekali semenjak 3 abad terakhir. Semenjak itu semua perkara ditutup dengan ucapan saling memaafkan, tidak ada uang denda, tidak ada tuntutan. Dendam juga akan hilang bersamaan dengan dihilangkannya fungsi pengadilan dan penjara, tambah Pemerintahan dunia.
Inilah wujud rumah dunia tahun tiga ribu masehi. Semua berjalan dengan baik. Para orang tua tidak perlu bingung menyekolahkan anak-anaknya, bank-bank ditutup, manusia di jaman ini tidak perlu bingung menyimpan uang, tidak ada pencuri di jaman ini. Manusia di jaman ini tidak pernah takut kekurangan uang, Pemerintahan dunia menjamin kemakmuran hidup rakyatnya. Dunia yang dulu diimpikan oleh Karl Marx akhirnya terwujud. Ideologi Pancasila menyebar ke seluruh Dunia, menguasai dunia dengan 5 silanya. Para penduduk dunia menjelma menjadi Pancasilais, mereka rajin ke tempat ibadah, toleransi antar umat beragama begitu terasa, gotong royong dimana-mana, nyaris tidak ada individualisme di jaman ini.
Dulu di tahun 2015, seperti yang tertulis di buku-buku sejarah, perang telah menghancurkan segalanya. Banyak korban berjatuhan, kematian akibat perang seperti hal yang wajar, daratan menjelma jadi lautan darah. Perang baru berhenti pada tahun 2050 dengan meninggalkan sepertiga bagian bumi yang rusak dan setengah penduduk dunia meninggal sia-sia. Para pemimpin masing-masing Negara sepakat membuat perjanjian damai dan menyatukan semua Negara dalam satu pemerintahan. Semenjak itu Pemerintahan dunia berdiri.
“tidak adil….”, Nusantara uring-uringan, whom yang melihat tingkah laku majikannya hanya terbengong-bengong, Artificial Intelligencenya belum mampu menerjemahkan perilaku kemarahan manusia. “kenapa segala masalah harus diselesaikan lewat kata damai. Manusia tidak akan pernah belajar dari kesalahan kalau begini”, Nusantara berbicara pada dirinya di depan cermin. “kalau begini, aku bisa membunuh orang dengan seenaknya tanpa takut dihukum. Toh semua pasti akan diakhiri oleh kata maaf”. Nusantara mencibir pada dirinya sendiri di depan cermin. “hahahahahahaha”, mimik muka Nusantara tiba-tiba berubah menakutkan. “kalo begitu aku akan membunuh presiden pemerintahan dunia. Toh pasti mereka juga akan memaafkanku”. “aku akan mengembalikan keseimbangan dunia”.
Manusia yang trauma dengan kekejaman perang mulai hidup dengan penuh perdamaian, tidak ada lagi dendam dan keegoan, manusia mulai belajar memahami satu sama lain. Kehidupan manusia pun perlahan-lahan berubah. Kosakata “kejahatan” seolah dihapus dari kamus dunia.
Kini, di jaman ini, saat manusia mengarungi hidupnya dengan singkat, paling lama 30 tahun, perang dan kebencian hilang total dari kehidupan ini. Manusia bebas menyimpan uangnya dimanapun tampak takut kecurian, perempuan bebas berbikini dimanapun tanpa takut diperkosa, gedung-gedung lembaga pemasyarakatan berubah menjadi swalayan dan mall, begitupun dengan gedung-gedung lembaga yudikatif lainnya juga bernasib sama.
“rumah manusia bukan rumah yang penuh kedamaian, bukan rumah yang penuh kebaikan. Rumah manusia adalah rumah yang penuh darah, penuh air mata dan kebencian”. Jantung Nusantara berdetak cepat, jika rencananya berjalan, ini akan menjadi yang pertama semenjak berabad-abad silam darah tertumpah di bumi akibat pembunuhan. “rumah manusia bukan surga yang penuh kedamaian. Rumah manusia adalah neraka, manusia perlu dikembalikan pada fitrahnya, manusia adalah serigala bagi sesamanya. Peluru ini akan mengantarkan kita menuju rumah kita yang sebenarnya”. Entah bagaimana caranya dia mendapatkan pistol. Senjata dan segala aksesorisnya adalah barang langka, hanya para prajurit tingkat “S” saja yang bisa memilikinya.
Albert Kosyx, pria berusia 20 tahun, berjalan memasuki altar dunia sekembalinya dari planet Mars. Dia sangat merindukan kantornya ini setelah 1 minggu mengunjungi planet Mars untuk melihat perkembangan pembangunan peradaban manusia di planet itu. Para pelayan Pemerintahan dunia tampak sibuk mempersiapkan segalanya, karena hampir sejam lagi Presiden Pemerintahan dunia, Albert Kosyx, akan mengadakan konferensi pers.
Tidakkah kau jenuh dengan kehidupan yang datar seperti ini ?, bangun pagi, mandi, pergi sekolah, bermain game, kemudian tidur. Acara TV hanya seputar perkembangan teknologi dan berita terbaru pembangunan di Mars, film-film di bioskop hanya bertema cinta dan teknologi, internet kebanyakkan hanya berisi tutorial mengoperasikan hewan cyber. Game di emulator hanya berisikan permainan olahraga seperti sepakbola dan basket, memang dulu sempat ada game bertemakan perang, namun langsung ditarik dari pasaran. Alasannya klasik, game seperti itu terlalu mengawang-awang dan tidak ilmiah. hey pemerintah, justru alasan seperti itu yang tidak ilmiah. Dunia ini membosankan dan tidak menarik. Nusantara berdo’a dalam hati, pistolnya sudah menyala dan siap diledakkan.
“bodoh”, Nusantara mengutuki pengawasan tentara Pemerintahan dunia yang lemah. Mungkin akibat berabad-abad tidak menjalankan tugas, membuat mereka lengah. Berdiri di atap sebuah bangunan. Nusantara membidik tempat itu. Sebuah tempat bercat putih tempat sang Presiden mengadakan konferensi pers. Dia kembali berdo’a, mulutnya mengepulkan asap rokok. Dan di atap gedung inilah masa depan dunia berubah, lewat satu peluru, lewat mimpi-mimpi seorang remaja.

“aku ingin mewujudkan dunia yang menggetarkan. Dunia yang penuh peperangan dan dendam, dunia yang dibanjiri darah. Satu peluru ini akan merubah masa depan dunia. Satu peluru ini akan mengulangi sejarah kelam dunia yang ditutupi orang tua kita”

“dhuuuuaaaaarr”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer fendyhape
fendyhape at RUMAH DUNIA TAHUN TIGA RIBU (10 years 23 weeks ago)
30

Jadi pengen perang nih

Writer antonsuryadi
antonsuryadi at RUMAH DUNIA TAHUN TIGA RIBU (10 years 24 weeks ago)
90

sungguh crita yg mantap dn pintar! Ad lanjutanny tida??