Jalur Hitam Penebusan -Insanity-

Hei,

Boleh minta waktumu sebentar?

Sungguh, ini takkan makan waktu lama

Kau cukup mendengar ceritaku tanpa komentar apa-apa

Mudah… ya kan?

. . .

Eh?

“Membosankan kah” katamu?

Hm.. mungkin iya, mungkin pula tidak

Bukankah itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh sang penanya?

Dengan kata lain, sebuah retorikal.

Aku sebagai seorang pemberi berita tak bisa menilai begitu saja.

Ah maaf, bukannya aku tak mau memberi jawaban..

Tapi memang kenyataannya diriku sendiri tak tahu menahu

Jadi…

Maukah

kau

mendengar

ceritaku?

~~~

Malam itu, aku melewati jembatan sungai yang baru saja dibangun. Jembatan itu belum sepenuhnya jadi, terbukti dengan banyaknya tumpukan karung-karung pasir dan bilahan besi berjejer di sepanjang sungai. Pagar pembatas dan segel pencegah membentang besar di hadapanku. Orang awan pasti sadar, jembatan itu masih terlalu bahaya untuk dilalui. Tapi, apakah aku termasuk dari golongan-golongan orang awam itu? Rasanya tidak.

Jadi, dengan tekad dan nekat, aku melangkahkan diriku kepada insecurity.

Mudah sekali untuk menerobos masuk. Cukup dengan satu lompatan kecil, dan hop, kakiku kembali ke aspal basah di seberang pagar dan segel-segel tadi.

Aku tersenyum sinis tipis sebelum meneruskan lagi perjalananku menyeberangi jembatan itu. Disana semuanya terasa sepi dan sunyi. Meski di tiap jarak pandang mataku kerlap kerlip lampu kota marak menonjolkan warnanya, tak ada satu bulir pun keinginan mata untuk menoleh. Bahkan suara derasnya hujan yang membentur tanah dan dahsyatnya suara air sungai menabrak tiang pondasi jembatan enggan aku pedulikan. Aku hanya merunduk, berjalan, dan menyembunyikan wajah dan tanganku ke dalam jas hujan. Sibuk dalam pikiran kosongku.

Berjalan di jembatan itu serasa berjalan di atas threadmill tanpa akhir. Aku yakin, jarak yang kutempuh di jembatan itu sudah jauh. Seberapa panjang kah sebenarnya jembatan ini?, begitulah pikirku. Tapi tetap saja mataku enggan mencari tahu. Wajahku pun turut malas untuk menatap ke depan.

Hingga akhirnya, langkahku terpaksa terhenti.

Dress warna putih gading sekilas berkibas dan menari tepat di depan mataku. Aku tercengang, dress itu dengan cepat membuyarkan lamunanku.

Seketika itulah aku sadar, bahwa di dalam jembatan tanpa ujung ini, aku tidaklah sendiri.

~~~

Hei,

Kenapa kau menjerit?

Jangan khawatir, ini sama sekali bukan cerita hantu

Biasanya, setiap kali manusia menggabungkan latar tempat suram dan kain putih mereka pasti berpikir bahwa itu makhluk halus dan sebangsanya.

Memang apa salahnya warna putih?

Kalau aku sebut itu hitam atau merah, bukan kah efeknya masih sama?

Kecuali kalau aku bilang “dia” memakai baju corak pelangi atau emas berkilauan atau bahkan tak berpakaian sama sekali di tubuhnya, pasti kalian mengecap “dia” sebagai “orang gila”. Ya kan?

Bukannya itu tak adil?

??

Hm… Benar juga katamu..

Yang membuat cerita ini mengerikan bukanlah hanya karena pakaian “dia”

Sebuah kenyataan bahwa ada orang selain aku disana lah alasannya.

Kenyataan yang awalnya aku percaya dan pegang teguh ternyata dikhianati oleh kenyataan yang lain.

Tapi memang ada orang lain disana, dan dengan cepat pula aku beralih untuk percaya pada fakta itu.

Karena dengan begitu, aku tidak perlu dipenuhi rasa takut dan ngeri.

Aku jadi bisa melihat semuanya dengan jelas tanpa perlu dikaluti rasa takut.

Jadi sekarang tenanglah, aku masih ingin kau mendengar ceritaku.

Ini bukan cerita horror.

~~~

Gadis itu memakai dress putih panjang, di dadanya sebuah mawar merah tertancap dalam. Rambut halusnya jatuh basah menuju bahunya. Kulitnya amat pucat dan dingin. Kedua tangan gadis itu terlihat lemas dan menjuntai tanpa energi layaknya hendak putus dari pergelangan pundaknya. Jelas tampak dari satu ujung ke ujung lainnya, tubuh gadis itu menderita ditebas terjaman air dan tebasan badai hujan. Tampaknya dress putih itu tak sanggup membantunya melawan siksaan alam.

Ia diam..

mematung..
dan merunduk..

Entah sudah berapa lama ia berdiri disana…?

Sama seperti yang dilakukan gadis itu, aku pun hanya terdiam memandangnya. Pikiranku terkabuti oleh tanda tanya. Sekali lagi, aku menghabiskan waktu yang lama tanpa bertindak apa-apa. Kami berdua sama-sama terjebak dalam konstanitas.

Faktanya…
Gadis itu berdiri satu meter di atasku.

Kedua kakinya ia pijakkan di atas pagar jembatan, tepat di hadapanku. Tiap ujung jari kakinya tepat bersentuhan dengan ujung dari pagar jembatan itu. Gadis itu sama sekali tidak gentar menatap deras arus sungai yang beriak kasar bagaikan api. Sadarkah gadis itu bahwa dirinya amat dekat dengan kematian?

Tapi.. apa mau dikata…?

Kematian memang lah yang dicari oleh gadis itu.

Kematian itu solusi.

Tak ada alasan lain selain itu. So simple.

Berjam-jam dia berdiri di ambang batas menuju kematian.
Di benaknya, cukup dengan satu langkah, dan ia berhasil lenyap dari dunia.

Mungkin akan ada seseorang atau sekumpulan orang yang akan menangisinya. Ada pula orang yang mencibir tindakannya. Tapi kemudian, setelah semuanya usai, dirinya akan benar-benar hilang dari ingatan dunia. Gadis itu sadar dirinya bukanlah politikus, selebriti atau pahlawan yang akan dikenang dunia selamanya. Dia hanyalah satu di antara triliun. Suatu saat, dunia bahkan takkan sadar bahwa dia pernah ada. Itulah doa yang selama ini ia panjatkan. Vanishment.Penghapusan eksistensi.

Sebaliknya pula aku sadar, meski jarak di antara kami kini hanyalah beberapa meter belaka, bila waktunya tiba, jarak itu bisa berubah menjadi infinity,undefined. Then, it will be a nice show, isn’t it?

Kemudian hatiku tertawa. Tawa. Tawa. Tawa. Sinis. Sinis. Sinis.

Selagi aku termakan euphoria, aku memandang gadis itu. Berusaha tahu apa yang dipikirkannya. Ingin sekali aku melihat wajahnya dan menerka ekspresi apa yang dipasangnya kini. Kalau saja bukan karena rambut basahnya itu, pasti sudah tampaklah wajahnya dengan segala penampakannya.
Tiba-tiba, ia mengangkat wajahnya satu derajat : pertanda bahwa ia sadar akan keberadaanku.

Perlahan, di dalam waktu dan tindakan konstan kami, ia menoleh kepadaku. Menampakkan sebagian besar wajahnya padaku.

… Ah… aku tahu wajah itu…

~~~

Hei,

Sekarang ekspresi yang kau pasang di wajah itu semakin suram saja

Bukannya aku sudah bilang kalau ini bukan kisah horror?

Hei, lihatlah…

Pandangan matamu kini lebih tajam daripada jarum

Dengan mata seperti itu kau bisa membunuh seseorang, percayakah?

Haha

Hahahahahaha

HAHAHAHAHAHAHAHAHA

Berarti aku lah korban pembunuhan pertamamu?! Heheheh

Sungguh aku berharap itu sungguh terjadi,

Sebelum tanganmu itu terlumuri warna red rose orang lain selain aku!

kehehehehehehehehehe

!!!

…Ugh.

Sakit…

Iya maafkan aku.Itu sama sekali tidak lucu.

Diriku lepas kendali.Maaf.

Jadi sekarang, ucapkanlah apa yang ada di benakmu

Mengapa kau pasang wajah menusuk begitu?

Oh.

“Kenapa aku bisa tega melihat orang hendak bunuh diri?”

Jawabannya ada di lanjutan kisahku.

~~~

Aku tahu gadis itu. Aku tahu siapa dia. Namanya. Tanggal lahirnya. Umurnya. Alamatnya. Golongan darahnya. Keluarganya. Sekolahnya. Hobinya. Benda dan warna favoritnya. Idolanya. Bakatnya. Pacarnya. Mimpinya. Kisah hidupnya. Segalanya.
Aku tahu gadis itu lebih baik daripada orang lain. Dan yang terpenting, aku tahu aku seorang stalker.

Gadis itu sempat menjadi tempat aku menitipkan rasa bernama “cinta”. Aku sadar bentuk dari cintaku memang tidak biasa. Tapi aku cinta gadis itu.

Meski dengan takdir yang menghalangi, aku tetap menaruh cinta kepadanya.

Tapi percuma, dia takkan pernah sadar seumur hidupnya. Ah… tragis sekali.

Gadis tercinta itu kini berada di hadapanku sebelum masa-masa akhirnya. Entah mengapa, sekilas aku merasa amat termat spesial. Manusia terakhir yang akan ia temui adalah aku. Manusia yang akan mengantar dia ke batas pertemuan dua dunia adalah aku. Ya, aku. Dan wajah terakhir yang akan terekam dalam matanya adalah wajahku ini. Hanya aku. Myself as the last memory. Romantic, would you say? Or tragic?

Aku merasa terbang sesaat dalam kegelapan. Sampai akhirnya aku menatap kembali wajahnya.

Dia menatapku. Tubuhnya sama sekali tak berubah arah, -tetap menghadap kematian-, tapi kepalanya menoleh sekian derajat sampai posisi dimana aku bisa melihat wajahnya. Matanya menatapku tanpa ekspresi sama sekali. Seakan berucap “aku lelah sekali bahkan hanya untuk sekedar berekspresi”.

Dia terus menatap tepat ke tengah lubang pupil mataku. Di mataku, dia yang amat kusayangi ini, amatlah cantik. Terutama saat kerlipan lampu kota menjadi latar belakang wajah menawannya. Rintik-rintik air hujan bagaikan kristal yang menghiasi figurnya. Air hujan membasahi rambut dan wajahnya, membuat fenomena ajaib seakan itu semua adalah tangis air mata. Atau mungkin sebagian besar daripada itu memanglah air matanya.

Waktu bagi kami berjalan tanpa disadari. Di waktu yang tanpa henti berlalu itu, kami berdua berkomunikasi cukup dengan tatapan mata. Tak ada suara keluar dari bibir kami berdua. Suara hujan sudah lebih dari cukup menjadi media pengganti apa yang seharusnya telinga kami dengar dan apa yang seharusnya bibir kami ucap. Orang mungkin senang menyebut ini sebagai telepathy.

Jadi… inikah yang terakhir?

Aku mengangkat wajahku dan menatap dalam matanya.
Gadis itu tersenyum kecil. Kedua matanya menyipit tertarik oleh senyuman itu.

Hidup penuh penderitaan. Kita tahu betul tentang itu.
Senyum kecil masih menempel dalam wajahnya. Walau kini tatapan matanya lepas ke arah lain.

Aku tahu semua yang terjadi.
Jadi, inikah keputusanmu?

Kini mata indahnya kembali menatapku. Sedikit rasa tak percaya terpancar dari dalam, namun mata itu cepat kembali pada realitas. Ia perlahan mengedipkan matanya sebagai pertanda “ya”.

Kalau begitu aku tak bisa berbuat apa-apa.
Pandangan mataku beralih ke tanah. Gadis itu memang sudah amat tekad dengan keputusannya. Kalau memang ini hal yang ia inginkan, aku pun akan turut berharap keinginannya terkabul. Ini kan yang dimaksud dengan ingin membahagiakan orang yang dicintai?

Sungguh kau tahu yang sebenarnya terjadi?
Tentang dosaku?

Kini akhirnya dialah yang membuka percakapan. Tentu saja bukan percakapan mulut ke mulut, kami cukup berbicara dengan mata dan hati kami. Aku tahu itu sungguhlah tak logis, percaya ataupun tidak, itulah yang terjadi.

Aku kembali mengangkat wajahku, hanya untuk melihat wajahnya yang kembali ke arah kematian. Aku tak tahu wajah seperti apa yang ia pasang sekarang.

Sedih?

Bahagia?
Kecewa?

Aku tersiksa ingin tahu semua itu.

Perlahan aku hampiri tembok yang memisahkan diri kami.

Tepat di bawah tembok itu, air yang sangat deras mengalir. Bagaikan badai petir yang menggemuruh, suara aliran air membentur tiang-tiang pondasi begitu mengerikan.

Ya.
Dosamu yang telah merubah kue busuk menjadi mawar merah.

Aku tak bisa lagi menahan diriku untuk tertawa.

If this is your last wish, then it will be.
Hehe

Cukup begitu saja jawaban yang ingin aku berikan padanya.

Lalu kami berdua tersenyum bersama.

Senyuman teramat tulus.

Tiap tetes hujan di antara senyuman kami berjatuhan secara lambat tanpa kami sadari.

Itulah waktu hanya untuk kami.

Terima kasih,
Sampai jumpa.

Berakhir.

Berakhirlah waktu di antara kami.

Namun, senyum kami masih ada disana. Di kedua buah bibir yang terpasang di masing-masing wajah kami.

Aku saksikan sendiri, bagaimana ia mengolengkan tubuhnya ke arah kematian. Dengan langkah kecil, ia membiarkan kakinya terlepas dari bumi. Kusaksikan ia terbang lepas ke udara. Gaun putihnya berkamuflase menjadi sayap. Di mataku, ia berubah menjadi bidadari. Ia terus terbang jauh dan perlahan tubuhnya menghilang dari pandanganku. Wajah dan rambutnya adalah yang terakhir bisa aku pandang. Dan dalam waktu sekejap pula, semuanya hilang dari tiap sudut pandang mataku yang terhalang oleh pagar itu.

Tapi bagaimanapun juga, hasrat besar muncul untuk melihat lagi senyum cintaku itu. Kutengoklah ia ke bawah sungai itu.

Bahagia. Teramat bahagia.

Begitulah ekspresi terakhir yang ia lekatkan di wajahnya. Hingga akhirnya air membenamkan wajah dan seluruh tubuhnya. Terseret arus sungai.

See you, my love.

Tubuhku enggan bergerak. Masih saja aku menatap arus air yang membawa cintaku pergi. Senyumku masih terpasang disana. Berusaha saling membagi senyum bahagianya. Berusaha untuk menutup tangis yang hendak meledak. Aku bahagia penderitaannya berakhir. Aku bahagia dirinya berhasil lepas dari insanity akibat dosa yang ia perbuat. Namun, aku sedih begitu sadar ini yang terakhir. Aku sedih, bahwa aku tak sanggup memberinya solusi yang lain.

I'm sorry my love, aku bukanlah seorang motivator bagimu untuk tetap hidup.
Maafkan aku tidak bisa membawamu kabur dan lepas dari kegilaan takdir yang menimpamu.
Maafkan aku.
Aku selama ini tak pernah lulus kualifikasi sebagai seorang manusia.
Aku terlalu rendah untuk bisa membawamu bangkit.
Aku rendah, dan aku nista. Kau juga tahu itu kan?

Sebaliknya… Hujan, petir, arus air, dan suara kehidupan kota masih sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka takkan pernah peduli dengan apa yang terjadi pada kami.

EGOIS.

Itulah dunia.

See you until then.
I will love you forever.

~~~

Sekian kisahku

Sebagai tanda terima kasih sudah bersedia mendengarkan,

Biarkanlah aku ini membungkukkan tubuhku di hadapanmu.

Bagaikan tokoh pertunjukkan yang menganggap penontonnya dewa.

Kisah ini mungkin nyata, mungkin pula tidak.

Bahkan aku sendiri bingung, manakah dunia yang merupakan mimpi dan nyata.

Pada dasarnya, keduanya adalah sama.

Baik di kedua dunia itu kita harus berusaha sebaik mungkin.

Karena nasib adalah kita yang menentukan.

Sama seperti apa yang gadis itu pilih.

Ia ingin berakhir.

Kalau begitu, boleh kan kita menghormati keinginannya?

Dia pasti sudah memikirkan keputusan itu dengan keras.

Dia memilih akhir bukan karena dia tahu rasanya untuk mati.

Ia memilih itu karena ia tahu rasanya untuk hidup.

Namun sayang sekali hidup yang ia alami bukanlah hidup yang mudah…

Sungguh naïf orang-orang yang mencibir keputusannya.

Mereka tidak tahu sama sekali bagaimana hidup yang ia alami.

Keputusan itu ia buat setelah berulang kali terpojok di jalan buntu

Selama ini pun sang gadis telah berulang kali berusaha.

Tapi nampaknya jalan buntu amat mencintainya, selalu mengiringinya.

Sungguh malang.

Meskipun aku amat mencintainya...

Ah, sudah berapa lamakah aku berbicara sendiri?

Sang pendengar kisahku telah tiada disini.

Kemanakah kau?

Padahal kisah ini spesial untukmu.

Hmm... Sayang sekali…..

Kisah ini sungguh akan menjadi pelajaran bagimu

Supaya kau tak melakukan hal yang sama di kemudian hari

Supaya kau tak perlu terpuruk dalam dosa dan depresi

Supaya aku bisa merubah jalur hitam ini

. . .

Yah… suatu saat nanti kita kelak bertemu lagi.

Di suatu tempat tanpa siapapun…

Dimana hujan dan suara arus sungai menjadi konser akbar bagi kita…

Dimana waktu terasa berhenti dan air menjadi kristal dari langit…

Disana, kita akan bertemu lagi…

Dan aku akan berusaha ikut mengabulkan apapun permintaan terakhirmu.

Ya kan?

My love.

~~~

Read previous post:  
58
points
(1106 words) posted by Chloevr 11 years 39 weeks ago
72.5
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | bilingual | Cinta | khianat | psikologikal | tragedi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Riesling
Riesling at Jalur Hitam Penebusan -Insanity- (11 years 7 weeks ago)
90

Ada beberapa pemakaian kata bahasa Inggris yang kurang pas dan tidak perlu seperti 'telepathy' dan 'dress'. Tapi tetep enak.
.
Lebih suka yang kue sih xDD

Writer kasurterakhir
kasurterakhir at Jalur Hitam Penebusan -Insanity- (11 years 34 weeks ago)
70

wah wah,,ceritanya panjang dan melelahkan,,,tapi membuat saya terkagum...salam kenal.

Writer Chloevr
Chloevr at Jalur Hitam Penebusan -Insanity- (11 years 34 weeks ago)

makasih banyak Kak buat komennya~! =D

Iya Kak, setelah baca beberapa komen, aku jadi sadar kalau cerita ini masih banyak yang mesti dikoreksi hehe
Bisa jadi pelajaran yang baik ini ^^

Tapi untunglah masih ada yang bisa nikmatin kisah ini seperti Kak Kasur :P

dan juga salam kenal balik~

80

Epic. Jarang2 lho aq bisa betah baca kisah tentang cinta. Tapi baguslah cerita ini fokusnya bukan di cinta itu sendiri. Baca pengantar terakhirnya aq jadi ingat manga yg judulnya Alive - The Final Evolution. Pernah baca?

Writer Chloevr
Chloevr at Jalur Hitam Penebusan -Insanity- (11 years 34 weeks ago)

xixixi, Makasih banyak MonoxD-san~~ =D

Whoaa Alive!! XD tauuuuuuu bangeeeeet~ hehehe
Salah satu manga terbaik yg pernah aku baca! plot sama art nya top notch abis :3

Tapi.. belum sempet baca yang terakhir2 ini. Ada yang serupa yaa? wooow
Pikiranku sama pikirannya authornya Alive nyambug dong? *getok kepala pake sendal* wkwk

itu mirip di bagian mananya ya? :>

Writer Alfare
Alfare at Jalur Hitam Penebusan -Insanity- (11 years 38 weeks ago)
60

Entah ya. Kupikir pemaparan cerita yang abstrak tanpa terlebih dahulu ngasi acuan (baik dalam bentuk sebab, awal kejadian, akibat, dsb.) justru membuat orang menjadi agak ilfil untuk baca. Di sini misalnya, intinya ada orang dateng, ngeliat, merenung sebentar, lalu jadi saksi akan seorang cewek mati. APA yang ngebuat orang itu ngerasa perlu jadi saksi itu sama sekali enggak keungkap secara jelas.
.
Aku ngerti bahwa ada sesuatu di dalamnya yang pengen disampein sih. Cuma sayangnya, makna itu pada akhirnya sulit ditangkap dan sebagian orang ujung-ujungnya mikir bahwa apa yang disampaikan di sini sama sekali enggak penting.
.
Tapi aku beneran suka permainan kata-katanya. Maksudku, ini jenis pengungkapan kejadian yang aku suka.
.
Secara pribadi kupikir ceritanya lebih enak diikuti bila alur narasinya lebih diperhatikan. Sedkit pemaparan soal urban legend juga kupikir bakal menarik.
.
Oya, di dalamnya juga ada beberapa penulisan kata yang salah. Yah, berjuanglah.

Writer Chloevr
Chloevr at Jalur Hitam Penebusan -Insanity- (11 years 34 weeks ago)

hm hm... *nod*

komen Kak Alfara bner2 bisa membuat aku membuka mata nih Kak =D Bisa jadi refleksi diri kalau plot sebab-akibat juga mesti diikutsertakan.

Kalau begitu mulai sekarang, aku akan coba perbaiki alu cerita seperti yang Kak Alfare sampaikan ^^ Untunglah bahasa yang aku pakai sudah bisa dinikmati sama Kakak ^^

Kalau nggak keberatan nih Kak, tengok kisah yang aku buat ya kak. Aku ingin terus memperbaiki apa yang salah dari skill menulis aku ^__^

Makasih banyak atas komennya! \(^__^)/
*langsung jadi pengagum Kak Alfare* xixixi

Writer Chloevr
Chloevr at Jalur Hitam Penebusan -Insanity- (11 years 34 weeks ago)

maaf reply nya telat (-_-")

cerita ini dibuat waktu lagi down, jadi ada kesan mendikte sekali.

Sebelum membuat cerita ini juga aku sempat membaca buku tentang kasus suicide jepang, dan ternyata banyak fakta yang masih belum kita ketahui tentang kenapa mereka seringkali melakukan demikian

Nggak sotoy kok Canon Bender-san, aku selalu menghargai komen yang dikasih =)

but well, berjuanglah dalam hidup!

Writer lukisanlangit
lukisanlangit at Jalur Hitam Penebusan -Insanity- (11 years 38 weeks ago)

ha-hai, salam kenal. A-aku baru membuat akun di sini dan senang sewaktu membaca ada begitu banyak orang-orang yang senang menulis di sini :D

Aku suka cerita ini, tapi aku juga ingin tahu mengenai alasan gadis itu bunuh diri, lalu tentang tokoh utama yang Kamu mainkan. :D hhe,. Jangan-jangan ada di cerita yang sebelumnya, ya :D

Writer Chloevr
Chloevr at Jalur Hitam Penebusan -Insanity- (11 years 38 weeks ago)

halo jugaa, salam kenal balik!
sama kok, ini juga baru hari kedua qw aktif di Kemudian.com :P
semoga kamu betah di kemudian.com, disini banyak karya yg bagus2 :D

yup, alasan gadis itu bunuh diri ada di cerita sebelumnya: "Kasih tentang Kue yang Membusuk -Rotten Cake of Ours-"
dibaca yaa! hehe

makasih udah mau mampir dan juga buat komennya :) ditunggu juga lo hasil karya lukisanlangit-san sendiri ^^